
Lina berjalan di depan, menghadap lima anggota dewan direksi yang lebih tua, dia sedikit gugup, tetapi untungnya, dengan adanya Erwin, Lina menjadi tenang.
Tetapi tidak satupun dari lima anggota dewan ini yang boleh sembarang disinggung, terutama William yang bahkan tidak memandang CEO Lucas, apalagi putrinya Lucas.
“Nona Aleda, apa ada hal yang penting untuk diumumkan sehingga kamu seburu-buru itu memanggil kami ke sini?” William duduk di kursi sambil menyilangkan kaki, dia bahkan tidak melihat ke arah Lina, jelas dia sangat meremehkan Lina.
"Benar, Nona Aleda, cepat katakan saja, kami masih punya banyak urusan yang harus ditangani, bukan seperti pacarmu, yang bisa main-main kapan saja denganmu."
“Benar, langsung katakan saja kalau ada hal penting, kami ini sangat sibuk!” Anggota dewan jelas tidak menghormati Lina.
Wajah cantik Lina menjadi marah, kenapa orang-orang ini tidak bisa bicara baik-baik? Tetapi karena mereka lebih tua, jadi Lina menahan amarahnya dan segera berkata,
"Hari ini, atas nama ayahku, aku mengadakan rapat dewan direksi, karena punya hal yang sangat penting untuk diumumkan! Ini adalah tentang transfer saham William dan tindakan korupsi William terhadap potongan harga dari pemasok."
"Omong kosong!" Ketika William mendengar bahwa Lina berani mengatakan hal seperti itu padanya, dia langsung marah besar, menepuk meja dengan kuat, dan berdiri dengan wajah marah sambil berteriak pada Lina.
"Kenapa menuduhku korupsi potongan harga dari pemasok, dan apa-apaan tentang transfer sahamku? Tolong jelaskan secara rinci, jika tidak, walau kamu itu putri Lucas, jangan berpikir untuk pergi dari sini!"
Lina ketakutan karena diteriaki William, dan wajahnya yang cantik menjadi pucat, dia belum pernah menghadapi hal seperti ini sebelumnya, jadi terkejut sekaligus takut.
Empat anggota dewan lainnya juga menanyai Lina lagi,
“Nona Aleda, kamu bilang Pak William korupsi, dan menyogok tanpa izin, apa ada bukti? Kalau tidak ada bukti, ini namanya fitnah dan merusak nama baik, hukum ringan akan didenda, kalau serius akan dipenjara loh!"
"Benar, Nona Aleda, apa ada bukti? Tanpa bukti, bagaimana kami bisa percaya!"
…
Beberapa anggota dewan direksi memihak pada William, yang menunjukkan bahwa mereka sering menerima banyak keuntungan dari William.
"Tentu saja ada bukti." Lina sedikit bingung menghadapi pertanyaan mereka yang terus datang, dia wanita lemah yang tidak pernah menangani situasi seperti ini.
Biasanya dia itu berurusan dengan masalah kosmetik, tas, pakaian, dan makanan enak, dia tidak pernah menghadapi konfrontasi bisnis pusat perbelanjaan yang begitu menakutkan.
Lina memandang Erwin tanpa daya, Erwin juga tahu bahwa akan sangat sulit bagi Lina untuk menghadapi orang-orang tua berpengalaman yang tak mau kalah, jadi dia berdiri dan berkata,
__ADS_1
"Tentu saja ada bukti, mana mungkin kami asal omong."
Erwin tersenyum sedikit dan menatap William dengan dingin, tapi William tidak takut melainkan menyeringai terhadap tatapan Erwin.
"Kamu itu siapa? Kami sebagai anggota dewan sedang berdiskusi di sini, kamu tidak berhak ikut campur di sini!"
“Dia pacarku, sejak kapan tak berhak untuk berbicara.” Kali ini Lina berdiri dan menjawab.
“Maaf, Nona Aleda, ini adalah rapat pemegang saham, meskipun dia itu pacarmu, tapi dia tetap bukan pemegang saham, jadi seharusnya tidak berhak berada di sini, apalagi berbicara dan berpendapat.” William tersenyum bangga, kedua anak muda ini berani melawannya? Maka akan dia permainkan sepuasnya!
"Benar, Nona Aleda, kita sedang rapat pemegang saham, walau dia itu pacarmu, tidak ada yang berhak berada di sini jika bukan pemegang saham."
"Nona Aleda, tolong suruh pacarmu keluar."
…
Para anggota dewan ini benar-benar licik, mereka langsung ingin mengusir Erwin. Ini membuat Lina cemas, apa yang harus dia lakukan? Tanpa Erwin, dia bahkan tidak tahu harus bilang apa selanjutnya?
Tepat ketika Lina sedang panik, Erwin masih berkata dengan tenang.
Ketika kata-kata ini keluar, mereka mengejutkan semua orang yang hadir, termasuk Lina, sejak kapan Erwin menjadi salah satu anggota dewan perusahaan ayahnya?
Tentu anggota dewan lainnya sepenuhnya tidak percaya.
“Haha, anak muda, menyombongkan diri itu ada batasnya, kamu itu bukan pemegang saham perusahaan kami loh, silakan pergi dari sini,” kata William dengan nada bercanda, dia tidak percaya anak ini adalah salah satu pemegang saham di perusahaan ini, karena dia tidak pernah dengar tentang hal ini sama sekali.
“Betul itu, anak muda, bukan pemegang saham itu ga boleh di sini loh.” Pemegang saham lainnya juga mulai bercanda, benar-benar sepenuhnya membuat Erwin menjadi candaan mereka.
"Seperti yang kalian bilang, kalau bukan aku akan angkat kaki dari sini." Erwin tersenyum kecil, ekspresinya masih tenang.
Erwin diam-diam senang sudah membeli 20% saham Lucas dengan harga 400 miliar saat di pesta ulang tahun ulang tahun Lina, yang awalnya cuman 200 miliar untuk 8% saham, tetapi Erwin berpikir itu terlalu rendah saat itu dan membayar 400 miliar untuk 20% saham.
Sekarang tampaknya investasi asal-asalan pada waktu itu justru menjadi hak untuk berpendapat hari ini, jika tidak, dia mungkin sudah dikeluarkan dari sini, apalagi ingin menjatuhkan William.
“Oke, panggil Darius si staf hukum perusahaan ke sini!” William langsung menyuruh seseorang untuk memanggil staf hukum perusahaan, beberapa anggota dewan lainnya juga menggelengkan kepala pada Erwin. Pemuda ini ingin sok pahlawan di depan pacar bisa dimaklumin, tapi juga tergantung situasi.
__ADS_1
“Erwin, apa yang harus kulakukan?” Lina juga sedikit khawatir, kalau tahu dari awal, dia pasti meminta ayahnya memindahkan sedikit saham kepada Erwin, sehingga Erwin memiliki hak untuk berpendapat.
“Jangan khawatir, biar kutangani” Erwin berbisik dengan lembut di telinga Lina.
Meskipun Erwin berkata demikian, tapi Lina tetap saja khawatir, kalau Erwin tidak di ada sisinya, dia tidak tahu bagaimana menghadapi para pemegang saham ini.
Darius yang merupakan staf hukum perusahaan, datang ke ruang konferensi dengan tas arsip, setelah melihat kedatangan Darius, William langsung bertanya dengan tidak sabar,
"Darius, beritahu kita semua, apakah Erwin ini pemegang saham perusahaan kita?"
Ketika William berbicara, dia tampak sangat percaya diri, termasuk pemegang saham lainnya, mereka belum pernah mendengar tentang pemegang saham bernama Erwin Smith ini.
Darius adalah pria yang berusia sekitar empat puluhan, memakai kacamata bingkai emas, dan terlihat sangat berdedikasi.
Setelah mendorong kacamata, dia melihat ke arah Erwin lagi, kemudian berkata kepada William,
"Sebulan yang lalu, CEO diam-diam memindahkan 20% sahamnya kepada seorang pemuda bernama Erwin Smith, ini adalah tanda tangannya dan kontrak transfer saham pada waktu itu, bisa kita lihat di sini."
Sambil berbicara, Darius mengeluarkan kontrak transfer saham dari dokumen dan menyerahkannya kepada William, hal ini mengejutkan para pemegang saham.
"Bagaimana mungkin? Kenapa aku tidak pernah dengar Lucas menyebut tentang ini." William sangat kaget, ternyata Lucas ini diam-diam menarik seseorang menjadi pemegang saham, ini jelas merupakan rencana rahasia di perusahaan.
William melihat kontrak transfer saham dengan penuh tidak percaya, waktu yang tertulis adalah sebulan yang lalu Lucas awalnya memiliki 35% saham, tetapi diam-diam memindahkan 20% kepada Erwin Smith dengan harga 400 miliar rupiah beserta adanya tanda tangan resmi.
“Ini mustahil, bisa-bisanya aku tak tahu pak tua itu merencanakan ini di perusahaan.” William terkaget, rencana sempurna Lucas membuatnya takut.
"Sini coba kulihat." Pemegang saham lainnya juga penuh tidak percaya Erwin ini adalah pemegang saham perusahaan. Namun, begitu mereka melihat kontraknya, mereka semua terkejut.
"I-ini beneran, Lucas memindahkan 20% sahamnya." Semua pemegang saham terkaget saat ini.
Bahkan Lina juga, Erwin ternyata sudah menjadi pemegang saham perusahaan ayahnya sebulan yang lalu, terlebih lagi sebanyak 20%.
Ini adalah rencana Lucas, dia sudah tahu bahwa William tidak puas dengannya, dan sebagian besar anggota dewan juga mendukung William, jadi untuk menyelamatkan dirinya sendiri pada saat kritis nanti, dia dengan sengaja memindahkan saham kepada Erwin, sehingga jika suatu hari nanti William ingin merebut posisi CEO, dia akan punya dewan direksi yang membantu mencegah itu terjadi!
“Sekarang, aku udah punya hak berpendapat, kan?" Erwin berkata dengan ringan dan percaya diri.
__ADS_1