Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 239 Kubilang Tidak Ada Berarti Tidak Ada


__ADS_3

Penampilan pria botak tersebut sangat menakutkan, ditambah tubuh setinggi 1,9 meter penuh aura membunuh itu yang semakin membuat Zesven, Williamson dan yang lainnya merasa takut, para gadis bahkan sudah memucat dan saling berpelukan.


"Akan kutanya sekali lagi, tadi ada wanita berpakaian serba hitam yang baru saja masuk ke sini, 'kan? Dia terluka dan mengeluarkan banyak berdarah ..." Pria botak itu melihat Erwin dan yang lainnya masih diam saja, jadi tidak bisa menahan diri dan berteriak lagi.


Erwin sangat tenang, tapi dia tidak ingin mencolok untuk saat ini, masih ada banyak anak dari keluarga kaya di tempat ini, jadi biarkan saja mereka yang maju duluan.


Namun, Henny tidak tahan dengan suasana mengerikan ini, jadi mendorong Zesven dengan tangan  dan berbisik dengan gemetar.


"Zesven, di sini keluargamu yang paling berkuasa, maju dan beritahu mereka!!! Hidup Divia ada di tanganmu."


Williamson dan yang lainnya juga memandangnya, tampaknya di antara anak-anak kaya ini, keluarga Zesven memang  memiliki latar belakang yang paling berkuasa.


Zesven benar-benar kesal dengan Henny, jika dia maju begitu saja, bukankah itu sama seperti saja cari mati? Semua orang tidak punya pilihan selain menahan diri.


"Tuan, aku tuan muda dari Keluarga Caprico di timur kota dan ayahku itu Hengky Caprico, jadi bisa tolong beri sedikit rasa hormat..." Sebelum Zesven selesai berbicara, pria botak itu langsung menamparnya dengan tidak sabar, yang membuat kepala Zesven terasa berdengung.


"Kutanya ada seorang wanita terluka berpakaian hitam yang masuk ke sini, 'kan? Aku bahkan tak menganggap penting Hengky Caprico, berani-beraninya menyuruhku memberi rasa hormat." Pria botak itu sama sekali tidak takut pada Zesven dan langsung mempermalukannya.


Zesven kehilangan muka saat dimarahi, tapi masih tak berani berani melawan karena takut menyinggung pria botak itu, jadi hanya bisa menjawab dengan patuh.


"Tidak, aku tak melihat wanita berpakaian serba hitam, kami sudah berada di ruangan ini sepanjang waktu, tapi tak pernah melihatnya."


Setelah mengatakan itu, para anak kaya itu tidak berani menatap pria botak itu karena takut dicurigai.


“Begitu ya?" Pria botak itu melirik jejak darah di  lantai yang membuktikan wanita berpakaian hitam itu bersembunyi di ruangan ini dan orang-orang di depannya ini jelas berbohong padanya, itu membuatnya marah dan menendang perut Zesven.


Zesven terpental dan jatuh ke lantai tanah sambil berteriak kesakitan.


Ketika Williamson, Henny dan yang lainnya melihat ini, mereka terkejut hingga terdiam.

__ADS_1


Pria botak itu mengayunkan pisau panjang di tangan di depan mereka semua sambil mengancam.


"Aku tahu wanita berbaju hitam itu bersembunyi di sini, aku bisa membiarkan kalian pergi kalau memberitahu dengan jujur, atau kalian akan mati di sini dan mayat kalian akan ditemukan membusuk di sungai nanti, pilih sendiri!!!”


Sebenarnya pria botak itu tidak berani macam-macam kepada para anak orang kaya ini, karena bisa memesan ruangan tingkat mahkota berarti menandakan bahwa identitas yang tidak biasa.


Oleh karena itu, di antara anak-anak muda ini pasti ada yang punya latar belakang keluarga yang berkuasa, jadi dia hanya bisa menggunakan ancaman untuk memaksa mereka membeberkan tempat persembunyian wanita berbaju hitam itu dan pada saat yang sama bisa membiarkan mereka pergi, itu bagaikan menyelam sambil minum air.


Ternyata berhasil. Zesven, Williamson, Henny dan yang lainnya panik begitu tahu akan dibacok sampai mati kalau tidak jujur.


Dalam menghadapi pilihan hidup dan mati, mereka tidak lagi peduli dengan pertemanan, Zesven adalah orang pertama yang membuka mulut,


"Aku tahu, aku tahu, wanita itu sembunyi di kamar rahasia ruangan ini."


"Benar, dia di sana, kami sudah jujur, tolong biarkan kami pergi sekarang." Henny sudah hampir meneteskan air mata karena takut.


"Bagus, pergilah." Mata pria botak itu tertuju pada kamar rahasia di belakang ruangan dan memang ada bekas darah di dinding sana, yang membuktikan bahwa apa yang mereka katakan tidak berbohong sama sekali.


"Keluar sebelum aku berubah pikiran," pria botak itu berteriak, itu membuat Zesven, Williamson, Henny dan yang lainnya tidak berani tinggal diam lagi dan kabur secepat mungkin, semua anak-anak kaya tadi sudah melarikan diri.


Hanya Erwin dan Lina yang tersisa di dalam ruangan.


Erwin diam-diam mengerutkan kening karena ini, bukankah tindakan Zesven dan yang lainnya barusan tidak berbeda dengan memaksa wanita berbaju hitam itu untuk membunuh Divia?


Memang demikian, reaksi wanita berbaju hitam yang bersembunyi di kamar rahasia saat mendengar anak-anak kaya itu membeberkan semuanya demi nyawa sendiri adalah mengencangkan pisau di tangan.


"Tak kusangka teman-temanmu tidak memikirkanmu sama sekali, bahkan tidak peduli dengan hidupmu demi nyawa mereka sendiri," kata wanita berbaju hitam itu dengan nada dingin.


Divia juga merasa sangat putus asa, suara-suara dari luar dapat terdengar, jadi dia sudah mendengar apa yang dikatakan Zesven, Henny dan yang lainnya barusan.

__ADS_1


"Dasar sekelompok bajingan yang tak ada rasa pertemanan sama sekali." Divia akhirnya tahu sifat asli dari sekelompok orang ini, yang hanyalah sekelompok teman bertopeng palsu.


"Kalau begitu, jangan salahkan aku karena membunuhmu." Wanita berbaju hitam itu berdarah dingin, jadi akan melakukan apa yang dia katakan, lagi pula teman-teman Divia sudah merusak perjanjian duluan, jadi jangan salahkan dia melakukan hal yang sama.


Namun, tepat hendak membunuh Divia dan keluar untuk melawan dengan sekuat tenaga, sebuah suara yang sangat tenang tiba-tiba terdengar di luar kamar rahasia.


Suara inilah yang tiba-tiba membangkitkan harapan kedua wanita di kamar rahasia.


"Maaf, wanita berpakaian hitam yang kamu cari tidak ada di dalam kamar itu." Erwin berjalan maju di saat kritis, dia merasa jika masih tinggal diam, Divia benar-benar akan dibunuh oleh wanita berbaju hitam itu.


Dia sebenarnya bisa tidak peduli dan menghindari masalah dengan mengikuti Zesven dan yang lainnya, lagi pula dia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Divia dan juga tak terlalu mengenalnya, bahkan hari ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengannya, jadi tidak ada rasa pertemanan sama sekali.


Tapi berbeda dengan Lina berbeda, Lina khawatir pada Divia dan tatapannya meluluhkan hati nurani Erwin.


"Kau cukup berani juga bocah." Pria botak itu melirik Erwin yang menolak untuk pergi. Menghadapi lawan yang sebanyak mereka, anak ini tidak takut sama sekali dan ekspresinya juga luar biasa tenang, itu membuat pria botak tersebut sedikit terkejut


Mereka baru saja membunuh orang dan penuh dengan aura membunuh, jadi orang biasa pasti tidak akan berani menatap mereka, tapi anak di depannya ini justru terlihat tenang, keberanian ini jelas tidak mungkin dimiliki oleh orang biasa.


"Aku punya dendam dengan wanita berbaju hitam itu, cepat minggir, aku bisa membiarkanmu pergi, tapi jika kau berani menghentikanku, maka jangan salahkan aku bersikap kasar." Pria botak itu mengayunkan di depan Erwin.


Lina tanpa sadar bersembunyi di belakang Erwin dengan wajah pucat dan suasana hati yang panik, sedangkan Erwin masih sangat tenang seperti biasa.


"Kubilang tidak ada berarti tidak ada, maju sini kalau mau menerobos."


Erwin berkata dengan tenang, seolah-olah tidak menganggap serius belasan orang yang membawa pisau di hadapannya.


Mendengar ini, pria botak itu mengerutkan kening dengan ekspresinya tidak senang.


Tapi wanita berbaju hitam di kamar rahasia mau tanpa sadar menunjukkan apresiasi setelah mendengar ini.

__ADS_1


"Cukup bagus, tak kusangka kau punya teman yang begitu setia, dengan kata-katanya itu, aku tidak akan membunuhmu walau nantinya aku mati sekalipun."


"Itu Erwin, bagaimana mungkin." Divia bisa mengenali suara Erwin hanya dengan mendengarnya, tapi yang tidak dia sangka adalah anak miskin tidak berguna yang dia benci dan jijik, akan membelanya pada saat kritis seperti ini. Divia sangat tersentuh oleh tindakan dan ucapan Erwin dan tanpa sadar merasa kagum.


__ADS_2