Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 242 Jangan Bandingkan Aku


__ADS_3

Vila Gardeners adalah tempat tinggal yang diatur Darius untuk Erwin, tepatnya di Kota Santa. Vila Gardeners bisa dianggap sebagai vila kalangan menengah. Erwin memang menginginkan tempat tinggal yang sederhana, hal itu atas permintaannya.


Matahari pagi menyinari melalui jendela dan masuk ke tempat tidur yang besar dan lebar, tempat tidur tersebut terbaring seorang wanita dingin dan cantik, yang masih tampak sangat pucat dan lemah karena terluka.


Tangannya bahkan sedang diinfus karena menderita luka serius.


Di samping tempat tidur, terdapat Erwin yang tertidur. Tadi malam, dia menjaga wanita aneh ini sepanjang waktu, sehingga pada akhirnya mengantuk dan tertidur.


Kaila perlahan bangun, ketika membuka mata, yang terlihat adalah sebuah ruangan yang cukup indah dengan jendela dan gorden Prancis yang merupakan gaya favoritnya. Dia samar-samar teringat akan jendela bergaya Prancis di rumahnya yang dulu. Namun, semua itu hilang setelah kematian ayahnya.


Setelah melihat sekeliling dengan mata lemah, pandangannya tertuju pada seorang pria yang setengah baring di samping tempat tidur, pria ini mengenakan pakaian murah dan terlihat seperti anak miskin dari pedesaan, tetapi Kaila tahu justru anak miskin inilah yang memaksa mundur seratus lebih musuh sendirian.


“Bagaimana pria ini melakukannya?” Kaila sangat penasaran dan ingin menggerakkan tubuhnya, tetapi ternyata tubuhnya terbalut banyak kain kasa putih, baju dan celana kulit di badannya juga sudah hilang, sekarang adalah piyama rumahan yang longgar.


"Apa pria ini yang mengganti pakaianku tadi malam? Bahkan celana dalam juga?" Memikirkan hal ini, Kaila merasa malu sekaligus marah sekali. Walau adalah gadis dunia persilatan, ini masih pertama kali seluruh tubuhnya dilihat oleh seorang pria.


Merasa malu dan marah, dia menendang Erwin melalui selimut. Erwin yang ditendang tiba-tiba terbangun dalam keadaan linglung, sedangkan Kaila buru-buru menutup kembali mata untuk berpura-pura tidur.


"Siapa yang menendangku?" Erwin tampak mengantuk, menggosok mata dan melihat sekeliling, tapi tidak ada orang sama sekali dan Kaila yang sedang baring di tempat tidur tidak dicurigainya.


"Tidur sebentar lagilah." Erwin mengira itu hanya mimpi, lalu lanjut tidur sambil setengah baring di samping tempat tidur.


Melihat Erwin tertidur lagi, tanpa sadar Kaila menendangnya lagi karena marah akan Erwin yang berani melihat tubuhnya untuk melampiaskan amarah.


Setelah ditendang bangun lagi, kali ini Erwin sepertinya menyadari sesuatu.


"Tak perlu pura-pura tidur lagi, aku yang baik hati menyelamatkanmu malah ditendang, di mana letak rasa terima kasihmu? Percaya tidak kulempar kamu keluar sekarang," kata Erwin dengan marah.


Mendengar ini, Kaila tidak berpura-pura tidur lagi dan menatapnya.


"Tadi malam apa yang kau lakukan padaku, ketika aku terluka dan tak sadarkan diri? Siapa yang mengganti pakaianku?"


Erwin sedikit kaget, ternyata wanita ini marah padanya karena hal tersebut, tak heran dia terus menendangnya.


"Jangan khawatir, aku tidak melakukan apa-apa padamu, kedua gadis semalam yang mengoles obat dan perban tadi malam, sedangkan ganti pakaian dan menyeka tubuh itu dilakukan oleh seorang perawat, bentuk tubuhmu itu bahkan bukan seleraku dan tak mau kulihat," kata Erwin dengan marah.


"Apa maksudmu? Bentuk tubuhku jelas sangat bagus." Kaila semakin marah karena anak miskin ini tidak pandai memilih kata-kata saat berbicara.


"Baiklah, aku tak punya waktu untuk berdebat denganmu di sini, aku mau mandi dan makan dulu, gara-gara menjagamu sepanjang malam aku jadi belum melakukan apa pun. Bukannya dihargai, tetapi malah ditendang. Kalau tahu aku pasti akan membiarkanmu mati di Klub Emgrand tadi malam."


Erwin berkata dengan sedikit ketidaksenangan, setelah meninggalkan kata-kata itu, dia langsung bersiap untuk mandi, tetapi dihentikan suara Kaila ketika hendak mencapai pintu. Kaila berkata dengan ekspresi yang tidak seperti biasanya,

__ADS_1


"Namaku Kaila, terima kasih," ujar Kaila dengan cukup canggung.


“Terima kasih untuk apa?” Sudut mulut Erwin terangkat, dia tidak menyangka wanita ini ternyata bisa mengucapkan terima kasih juga.


"Terima kasih sudah menyelamatkanku," kata Kaila dengan ragu.


"Namaku Erwin, ingatlah kamu berhutang nyawa padaku. Dokter menyuruhmu baring dan istirahat selama seminggu, jadi sebaiknya kamu tetap di tempat tidur selama seminggu. Sedangkan untuk balas dendamnya, jangan dipikirkan dulu untuk saat ini." Erwin berkata dengan ringan.


"Bagaimana kau bisa tahu aku mau balas dendam?" Ekspresi Kaila tiba-tiba berubah.


"Ketika demam tadi malam kamu banyak mengigau, aku sudah mendengar semuanya, tapi terputus-putus. Lain kali ceritakan saja padaku, aku cukup tertarik tentang itu." Erwin mengangkat mulutnya.


Kemudian berbalik dan pergi mandi. Setelah ini dia akan pergi ke rumah Divia untuk makan siang bersama. Ketika menghidupkan ponsel dia melihat ada banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari Divia dan Lina, bahkan ada pesan Whatsapp yang mengundangnya makan siang bersama ke rumah Divia juga.


Tetapi sebelum pergi, Erwin harus mandi dan berganti pakaian.


Setelah Erwin pergi, masih ada seorang perawat bernama Nana yang diutuskan oleh Darius di vila ini, selain menjadi perawat, dia juga bisa melakukan banyak hal lain, termasuk pekerjaan rumah, memasak, dan seterusnya, lebih tepatnya seperti seorang pengasuh.


Erwin merasa lega menyerahkan Kaila untuk dirawat oleh Nana.


Di area Heaven Villa Park, ketika Erwin tiba dengan taksi, Divia dan Lina sudah menunggu di depan pintu.


"Erwin, akhirnya kamu datang juga, gimana kabar wanita berbaju hitam tadi malam?" Lina tidak bisa menahan diri dan bertanya dengan khawatir begitu bertemu.


"Syukurlah, tapi wanita berbaju hitam itu terlalu dingin dan berbahaya, Erwin, kamu harus menjauh darinya," kata Lina dengan cemas.


"Iya Erwin, dia beneran berniat membunuhku kemarin, itu membuatku takut setengah mati." Divia juga membujuk, memikirkan adegan tadi malam, ketakutannya masih tersisa dan berpikir wanita pakaian hitam ini pasti orang yang sangat kejam.


"Jangan khawatir, aku bisa bela diri dan terlebih lagi dia terluka, jadi tidak akan bisa mengancamku." Kata Erwin dengan ringan.


Ketiganya mengobrol sejenak dan mereka segera tiba di rumah Divia.


Vila tersebut bernilai lebih dari 20 miliar rupiah, dekorasi interiornya cukup mewah, dapat terlihat bahwa keluarga Divia termasuk cukup kaya juga.


Ketika Erwin berjalan masuk, orang tua Divia sudah mengadakan jamuan keluarga yang ditemani oleh dua pemuda, mungkin orang tua Divia merasa bahwa kedua pemuda yang seumuran dengan tamu bisa lebih memiliki topik yang cocok, jadi sengaja ingin memperkenalkan mereka satu sama lain.


Orang tua Divia saling berkenalan dengan Erwin, mereka cukup antusias pada awalnya, lagi pula, Erwin yang menyelamatkan putri mereka. Tetapi, ketika Erwin bilang asal dirinya dari pedesaan, mereka langsung tidak bisa menyembunyikan tatapan jijik.


"Erwin, cepat duduk. Tante masih punya dua hidangan lagi." Ibu Divia, Nailah, hendak menyiapkan beberapa hidangan lagi di dapur, tapi dihentikan oleh ayah Divia, Abbas Danendra. "Tak perlu tambah hidangan lagi, yang di atas meja sudah lebih dari cukup untuk menjamu tamu, untuk apa tambah lagi?"


Untuk apa melayani hidangan sebanyak dan semewah itu pada anak miskin dari pedesaan?

__ADS_1


Erwin juga melihat rasa jijik di mata mereka, tapi tidak terlalu memperdulikannya, setelah Divia menarik kursi dan duduk, dia mulai dengan antusias memperkenalkan Erwin kepada kedua pemuda lainnya.


"Ini sepupuku, Elvano, lulusan dari Institut Teknologi Massachusetts, setelah pulang ke Indonesia, dia membuka perusahaan di bidang keuangan Internet dan hanya dalam satu tahun, nilai pasar perusahaannya sudah mencapai 6 triliun, banyak mendapat pengakuan oleh banyak perusahaan investasi yang siap berinvestasi secara besar-besaran.”


Pandangan Erwin mengikuti arah tangan Divia dan dapat terlihat sepupunya memiliki penampilan yang lembut dan berdedikasi, tapi matanya terus menatap Lina tanpa henti.


Setelah Divia memperkenalkan Evano, dia memperkenalkan pemuda yang satunya lagi.


"Ini sepupuku juga, Darren, lulusan dari Universitas Cambridge dan baru pulang dari sana, dia telah mengabdikan dirinya di industri e-commerce. Perusahaan e-commerce sosialnya saat ini sudah bernilai lebih dari 10 triliun, banyak perusahaan investasi yang ingin tertarik, kudengar Perusahaan Investasi Erlin yang sedang populer di Kota Santa saat ini juga berniat untuk berinvestasi di sana."


Erwin menoleh ke sana, penampilan Darren ini sangat gemuk dan tidak terlalu enak dipandang.


"Senang bertemu denganmu, merupakan suatu kehormatan bagiku untuk bertemu dengan kalian berdua, aku bersulang untuk kalian." Erwin tidak malu-malu dan menuangkan segelas anggur untuk dirinya sendiri dan memberi hormat kepada mereka.


Keduanya tidak menyentuh gelas anggur, mereka sepertinya memandang rendah Erwin, yang datang dari pedesaan dan bertanya lagi,


"Apa boleh tahu karir Erwin ini bergerak di bidang apa? Dan berapa nilai pasarnya?"


"Aku? Di bidang produksi program film!" Erwin menjawab dengan ringan, dia tidak ingin adanya perbanding-bandingan yang tidak diperlukan, prestasi kedua pemuda ini saka sekali bukan apa-apa bagi Erwin.


"Produksi program film? Artinya bekerja untuk orang lain?" Darren menggelengkan kepala dan tampak menghina.


Erwin tidak marah, justru Lina di sebelahnya yang tidak bisa tinggal diam,


"Memangnya kenapa kalau bekerja untuk orang lain? Wilderness Life yang diproduksi Erwin menempati peringkat pertama di negeri ini."


Lina masih sedikit marah karena pacarnya dipandang rendah orang lain.


"Apa gunanya peringkat pertama? Tetap saja bekerja untuk orang lain." Elvano menggelengkan kepala dengan jijik karena dia tidak jarang menonton program film yang tidak berfaedah seperti itu.


"Lina, kamu juga punya kekayaan bersih lebih triliunan sekarang, kenapa cari seorang pacar yang dinafkahi perempuan seperti ini." Darren di sampingnya tidak bisa menahan diri dan mulai membuka mulut.


Lina marah besar, apa maksud dari dinafkahi perempuan!


Dia mencoba untuk melawan balik, tapi dihentikan oleh Erwin. Erwin tahu niat kedua pemuda ini adalah menunjukkan diri mereka itu lebih baik darinya di depan Lina untuk mengejeknya.


Kemudian Erwin berkata dengan ringan. "Menarik investor untuk sebuah proyek itu gampang. Beberapa hari yang lalu, ada sebuah perusahaan bernama Perusahaan Investasi Erlin yang CEO mereka meneleponku secara pribadi karena tertarik dengan profesionalismeku di bidang produksi program film, ingin menginvestasikan 100 triliun untuk membangun perusahaan produksi konten berbasis Internet, tapi kutolak."


Mendengar ini, beberapa orang yang hadir terkejut, namun Evano dengan cepat bereaksi kembali dan tertawa,


"Kamu sedang bercanda, 'kan? Perusahaan Investasi Erlin itu perusahaan investasi milik Tuan Muda Smith sendiri. Setelah pendirian cabang di Kota Santa, banyak sekali orang yang berebutan untuk mendapat investasi darinya, kamu berani bilang CEO mereka yang meneleponmu secara pribadi dan kamu tolak? Tolong omong kosong itu juga ada batasnya."

__ADS_1


Darren di sebelah berkata sambil tersenyum,


"Bro, sombong itu ada batasnya, kami tidak menyalahkanmu karena dinafkahi perempuan dan miskin, tapi omong kosongmu itu sudah berlebihan, menolak investasi 100 triliun? Tolong jangan membuatku tertawa, kebetulan aku punya nomor telepon Damon, CEO Perusahaan Investasi Erlin yang secara pribadi pernah melihat proyekku sebelumnya, bagaimana? Berani menelepon dan buktikan?"


__ADS_2