
Hans sangat tertekan baru-baru ini, semenjak diberi pelajaran oleh Erwin, semangat serta energinya tidak meluap seperti dulu lagi, dia tidak hanya memberi kompensasi sebanyak 4 miliar, tetapi lukisan "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" karya Hendra Gunawan favoritnya dan juga gelang giok ungu diambil paksa oleh Erwin, yang lebih menyedihkan lagi adalah setengah dari anak buahnya terluka karena sepupu Erwin, jadi sekarang masih dalam proses pemulihan.
Dari sekitar pukul delapan malam, Hans sedang menilai sekumpulan barang antik yang baru saja dia bawa di dalam Klub Dragon dengan penuh minat.
Namun, begitu dia mengambil sebuah lukisan untuk melihatnya, ponselnya tiba-tiba berdering, dan setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya, dia tersenyum,
"Sepertinya bisnis akan datang lagi!"
Yang meneleponnya adalah Vincent yang sedang berada di Klub Hiburan Gold saat ini.
“Vincent, ada apa?” Ucap Hans sambil memainkan sebuah batu giok kuno di tangannya.
“Aku ada sedikit masalah di sini, jadi perlu bantuanmu.” Vincent menjawab dengan suara rendah.
“Bantuan apa?” Hans mengingat Adam, anak kaya yang meminta bantuan sebelumnya, tapi pada akhirnya justru membuat dirinya ini begitu sengsara.
“Targetnya siapa?” Hans bertanya dengan waspada setelah mengalami kejadian sebelumnya.
“Hanya seorang anak miskin dari pedesaan, yang tak punya uang tapi masih besar mulut di depanku.” Suara Vincent sangat rendah, seolah-olah berusaha agar orang lain tidak mendengarnya.
“Anak miskin dari pedesaan? Apa dia punya sepupu di sampingnya?” Hans mengingat gadis kuat yang bersama Erwin sebelumnya, dia masih takut sampai saat ini, karena gadis tersebut bisa mengalahkan setengah dari dua puluh orang sendirian, dan ini sedikit terlalu kuat baginya untuk dihadapi.
“Tidak ada sepupu, hanya dia seorang, untuk gaji seperti biasanya.” Vincent ingin menggunakan kekuatan Kak Dragon untuk memberi tahu Erwin betapa hebatnya dia, dan ingin melihat apa Erwin masih berani merebut Lina darinya.
“Tidak ada sepupu, anak pedesaan yang miskin tanpa uang dan kekuasaan, oke, aku terima pekerjaan ini.” Hans langsung setuju setelah memastikan bahwa targetnya bukan Erwin.
“Kalau sudah datang nanti, bilang saja kau itu temanku yang mau datang untuk bermain bersama.” Vincent yang mendengar Hans setuju menjadi bersemangat, tapi untuk lebih berhati-hati, dia ingin Hans berpura-pura menjadi temannya. Bagaimanapun, tempat ini adalah Klub Hiburan Gold, dia pasti akan mendapat masalah kalau terlalu mencolok.
Seperti biasa, Vincent pertama-tama memberi Hans 200 juta, dan pada saat yang sama juga mengirim alamatnya.
Setelah menerima uang, Hans tersenyum, namun saat melihat bahwa alamatnya adalah Klub Hiburan Gold, dia menjadi sedikit ragu, tapi karena dia sudah menerima kerjaan ini, tidak ada alasan lain baginya untuk tidak pergi.
Hans langsung memanggil empat anak buah, naik mobil van dan langsung pergi ke Klub Hiburan Gold.
Pada saat ini, di kamar pribadi, Vincent sangat bangga setelah menutup telepon.
__ADS_1
"Erwin, kau yang hanya pecundang miskin mau lawan aku dengan apa?"
Dengan adanya janji Hans, Vincent menjadi semakin berani, dan langsung mendekati Erwin sambil kata dengan nada dingin,
"Erwin, kemarilah, ada yang ingin kukatakan padamu."
“Ada apa?” Erwin melirik Vincent.
“Aku harap kau bisa meninggalkan Lina, kau itu tak cocok dengannya dan juga tak bisa membantunya.” Kata Vincent secara terus terang.
"Aku tak cocok, jadi maksudmu itu kau yang cocok??" Kata Erwin dengan kesal.
"Biar kuberitahu kau secara langsung, rantai modal perusahaan ayahnya Lina tak lama lagi akan putus, kalah tak ada sejumlah modal besar yang membantu mereka, keluarga mereka akan bangkrut, dan akulah orang yang dapat membantu mereka keluar dari situasi itu." Vincent berkata dengan bangga dan arogan.
"Aku juga bisa membantu mereka," Kata Erwin dengan ringan.
Mengenai masalah rantai modal perusahaan Lucas, sudah diselesaikan Erwin sejak awal, bahkan masalah tanah di timur kota saja sudah ditangani oleh Damon, jadi seharusnya Hotel Lucas sudah kembali beroperasi normal, hanya saja Vincent masih tidak tahu akan hal itu.
"Dengan dirimu itu? Sejauh mana seorang anak pedesaan miskin bisa bantu? 20 juta? Atau 40 juta? Uang yang mereka butuhkan itu setidaknya 200 miliar, kau punya uangnya? Kau itu tak mungkin bisa menghasilkan uang sebanyak itu seumur hidupmu." Vincent meremehkan sambil mencemooh.
"Kau bisa? Hehe, lelucon macam apa itu? Kudengar kau itu seorang manajer departemen, dengan gaji 20 juta perbulan, apa yang bisa kau lakukan untuk mereka? Walaupun kau menjual semua rumah dan tanah di rumah pedesaan sekalipun, uangnya tetap tak akan mencukupi sepeserpun dari modal yang dibutuhkan."
Ketika Vincent mengatakan ini, nadanya menjadi sangat serius, dan mengejek.
"Penting untuk tau pacar seperti apa yang cocok dengan statusmu yang sekarang, pulang dan cari gadis desa yang cocok denganmu sana."
"Begitu ya? Kupikir Lina lumayan cocok denganku, kalau tak ada masalah lain, aku pergi dulu, Lina masih menungguku untuk nyanyi bersamanya." Erwin langsung mengabaikan Vincent, seorang anak kaya biasa yang bahkan berani memberinya pelajaran.
Ketika Vincent melihat bahwa Erwin menolak untuk menyerahkan Lina, wajahnya tiba-tiba berubah cemberut, dan segera memperingatkannya dengan tajam.
"Erwin, jangan salahkan aku kalau bertindak kasar, aku ini bisa membangun perusahaan real estate yang menjadi sepuluh besar di perusahaan Kota Bandung ini, tentu punya cara licik yang tidak sedikit, sebaiknya kau tidak memaksaku."
"Oke, kuterima tantanganmu, aku tak akan kalah, mau itu adu pengetahuan atau adu tinju sekalipun." Erwin tersenyum sedikit, anak kaya bernama Vincent ini sepertinya sedikit lebih kuat dari Adam, tapi keseluruhannya hampir sama saja.
“Oke, kita lihat saja nanti.” Setelah Vincent mendengus dingin, dia segera berbalik dan berjalan pergi dengan marah.
__ADS_1
Sambil minum anggur, Vincent diam-diam menelepon Kak Dragon untuk menyuruhnya cepat datang kemari, setelah mendapat kabar bahwa mereka sudah tiba, wajah Vincent tiba-tiba menunjukkan ekspresi kemenangan.
Setelah Lina sudah puas bernyanyi, dia turun dari panggung sambil memegang lengan Erwin dengan penuh kasih sayang, dan berjalan ke sofa untuk duduk sambil mengobrol dengan Erwin.
Vincent semakin marah saat melihat ini.
Setengah jam kemudian, pintu kamar pribadi mewah tiba-tiba didorong terbuka, kemudian seorang pria paruh baya yang familiar dan gemuk berjalan masuk, diikuti oleh empat pria muda dan tangguh.
Ketika Vincent melihat bahwa Hans akhirnya tiba, hatinya tiba-tiba menjadi bersemangat, dan langsung meletakkan gelas anggurnya untuk pergi menyapa,
“Kakak Dragon, kau akhirnya datang juga.” Vincent sangat gembira saat melihat kedatangan Kakak Dragon.
"Vincent, tak kusangka baru beberapa bulan tak bertemu, kau bahkan sudah berkembang sampai bisa memesan kamar pribadi kelas atas di Klub Hiburan Gold ini, kita semua tau kalau kamar pribadi ini bukan sembarang kamar yang bisa dipesan oleh orang biasa." Hans juga pertama kali datang ke kamar pribadi semewah ini, jadi dia tidak bisa menahan diri dan terus melihat sekeliling dengan penasaran.
“Mana mungkin aku bisa dibandingkan dengan Kak Dragon!” Vincent tersenyum dan menyanjung Hans, lalu melirik Erwin yang sedang mengobrol dengan Lina dengan dingin. Erwin, kaulah yang memaksaku.
“Kak Dragon, kau lihat pemuda berpakaian biasa-biasa saja itu? Aku mau minta bantuanmu untuk membujuknya meninggalkan wanita cantik yang ada di sampingnya.” Vincent berkata dengan sangat bijaksana, tetapi arti dari kata-kata itu sudah jelas.
Hans tidak bodoh, terhadap anak orang kaya yang cemburu seperti itu, ini bukanlah pertama kalinya dia melakukan pekerjaan semacam ini.
“Oke, serahkan saja pada Kak Dragonmu ini.” Hans menggerakkan matanya, dan melirik pemuda berpakaian sederhana itu, tapi pemuda itu membelakanginya, jadi Hans tidak bisa melihat wajah pemuda itu dengan jelas.
Tapi sosok punggung ini memberi Hans perasaan yang familiar, tapi dia tetap berjalan mendekat dan menghampirinya,
"Bro, yuk ikut kami rokok di luar sebentar!"
Sambil berbicara, Hans juga mengeluarkan sebatang rokok dari saku dan meletakkannya di mulut sendiri dengan ekspresi arogan.
Setelah Erwin mendengar suara yang familiar itu, dia menoleh tanpa sadar, tapi wajah pemuda itu benar-benar membuat Hans ketakutan.
“T-Tuan Erwin.” Wajah Hans langsung pucat, rokok di mulutnya jatuh ke lantai, dan kakinya gemetar ketakutan. Empat anak buah di belakangnya juga merasa ketakutan yang tak dapat dijelaskan saat melihat Erwin.
__ADS_1