
Sebelum berangkat kerja, Erwin bersiap untuk menjemput Lucy di toko penjualan mobil mewah kota Bandung, dia telah berjanji pada Lucy sebelumnya untuk membawanya bekerja sebagai penulis skenario. Kebetulan departemen produksi sedang ditata ulang, jadi saat ini sepertinya merupakan saat yang ini sepertinya merupakan saat yang tepat untuk membawa Lucy ke sana.
“Lucy, apa kamu sudah menyelesaikan serah terima pekerjaanmu?” Tanya Erwin sambil melangkah maju ketika melihat Lucy berjalan keluar dari toko.
“Sudah selesai, manajer kami juga sudah memberiku semua hasil dan bonus untuk bulan ini.” Lucy dalam suasana hati yang baik hari ini, karena tidak hanya mendapat banyak uang, dia juga akan melakukan apa yang dia suka, dan semua ini berkat Erwin.
"Manajer kalian baik sekali, bahkan sudah memberi bonus begitu awal," kata Erwin sambil tersenyum.
"Ini semua berkat dirimu, manajer kami juga mengatakan bahwa jika kamu ingin membeli mobil mewah lagi kedepannya, maka akan membiarkanku membawamu ke toko." Kata Lucy sambil tersenyum cerah.
"Baik, tidak masalah." Erwin setuju, kemudian mereka berdua masuk ke mobil sambil mengobrol ringan.
Di sisi lain jalan, terdapat sebuah mobil BMW yang berhenti, Leticia dan Adam sedang duduk di dalam mobil tersebut sambil menyaksikan Erwin yang duduk di dalam mobil Ferrari bersama Lucy.
Mereka hanya lewat di sini, dan kebetulan melihat Erwin yang bersama Lucy di depan toko penjualan mobil mewah.
“Aku kenal wanita ini, bagaimana dia bisa berada di toko penjualan mobil mewah?” Leticia sedikit terkejut ketika melihat Lucy keluar dari toko dengan seragam.
"Kamu mengenalnya?" Tanya Adam dengan heran.
"Iya, namanya Lucy, dia itu satu klub sastra dengan Erwin sewaktu masih di kampus, mereka berdua itu saling percaya dan memiliki hubungan yang sangat baik." Leticia menjelaskan.
__ADS_1
Mendengar ini, Adam tiba-tiba teringat ketika perkumpulan reuni sebelumnya, tentang seorang layanan pelanggan yang mengatakan bahwa Erwin telah membeli mobil Ferrari dan Rolls-Royce adalah suara seorang wanita muda.
"Apa jangan-jangan wanita itu yang menjawab telepon kita ketika reuni saat itu?"
Begitu kata-kata ini keluar, mereka berdua langsung memiliki sebuah pemikiran yang sama di hati mereka.
"Ternyata begitu, aku tidak menyangka Erwin bahkan sudah menebak kalau kita akan menelepon layanan pelanggan toko itu, sungguh licik!"
“Dan saat di bar juga, Erwin pasti sudah meminta uang dari Lina sejak awal, kalau tidak, uang hadiah lotrenya tidak mungkin cukup.” Kata Leticia ketika teringat sesuatu.
“Benar, sepertinya Erwin telah mengatur dan merencanakan semuanya sejak awal.” Adam ingin memukul setir dengan marah, dan karena gerakan yang secara tiba-tiba tersebut, cedera lengan kirinya mulai terasa sakit lagi.
“Hehe, tidak hanya dia saja, aku juga punya rencanaku sendiri.” Rasa ingin balas dendam muncul di mata Adam.
"Aku sudah menulis surat tentang identitas Erwin kepada ayah Lina kemarin, aku yakin ayah Lina pasti sudah mempermalukan Erwin tadi malam. Erwin yang hanya seorang pecundang miskin itu benar-benar tidak tahu diri jika ingin berpacaran dengan wanita kelas atas seperti Lina."
Adam mencibir, pada saat yang sama membayangkan bagaimana dia akan menghibur Lina setelah Lina putus dengan Erwin, dan mencari peluang untuk mendekati Lina.
Memikirkan itu, Adam bahkan ngiler, namun ketika dia mengingat Leticia yang masih ada di sampingnya, dia diam-diam menyeka air liur dengan cepat.
"Lagipula Kak Dragon juga sedang mencari keberadaannya baru-baru ini, sepertinya hari-hari damai pecundang itu sudah berakhir. Diputusin pacar ditambah pengejaran Kak Dragon, tampaknya pecundang itu tidak lama lagi akan segera diusir dari kota Bandung ini." Adam mengeluarkan ponselnya saat mengatakan itu, kemudian menelepon nomor Erwin yang ditemukan di kontak ponsel Leticia dengan ekspresi puas di wajahnya.
__ADS_1
Pada saat ini, Erwin sedang mengemudi dan melihat nomor yang tidak dikenal masuk, Erwin ragu sejenak, kemudian memakai headset Bluetooth untuk menjawab panggilan.
"Dasar Erwin sialan, kau pasti tidak menyangka aku akan meneleponmu, kan?"
Mendengar suara yang familiar ini, Erwin tentu saja tahu.
"Adam, apa menurutmu patah satu lengan itu belum cukup, jadi ingin tambah lagi?"
"Silahkan, datang cari aku jika kau berani, apa ayah Lina pergi mencarimu tadi malam? Sepertinya kau dicampakkan lagi ya? Alasan aku meneleponmu itu untuk mengucapkan selamat atas berakhirnya hubungan asramamu." Alis Erwin sedikit berkerut karena bingung, bagaimana Adam bisa tahu bahwa ayah Lina mencarinya tadi malam?
Apa jangan-jangan ini adalah trik licik yang dilakukan oleh Adam? Tidak heran ayah Lina tiba-tiba datang mencarinya.
"Adam, sepertinya kau lupa apa yang kukatakan padamu sebelumnya, jika kau berani memprovokasiku lagi, kau seharusnya tahu kalau konsekuensinya tidak sesederhana patah tulang," kata Erwin dengan dingin.
"Jangan senang dulu, sepupumu melukai empat anak buah Kak Dragon, jadi Kak Dragon sedang mencarimu untuk membayar biaya pengobatannya, tamat sudah riwayatmu! Kuberitahu sekali lagi padamu, tamat sudah riwayatmu kali ini." Kata Adam melalui telepon terdengar arogan dan sombong.
“Oke, kirimkan alamat serta waktu pertemuannya, kebetulan aku ingin bertemu dengan Kak Dragon ini.” Erwin benar-benar tidak takut pada Kak Dragon ini, karena dengan adanya Damon, tidak ada yang bisa menyakiti Erwin.
“Jangan khawatir tentang itu, aku ingin lihat bagaimana kau berlutut di tanah dan memohon padaku! Haha!” Setelah Adam mengatakan ini, dia menutup telepon dengan gembira, kemudian mengirim alamat serta waktu pertemuan di Klub Dragon pada Erwin.
Setelah melakukan semua ini, Adam tidak bisa menahan tawa.
__ADS_1
Erwin juga tersenyum dingin ketika menerima alamatnya.
"Ingin membuatku berlutut dan memohon padamu? Sungguh arogan sekali, kita lihat saja siapa yang akan memohon sambil berlutut nanti."