Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Kalau Begitu Aku Tidak Segan-segan Lagi


__ADS_3

 Semua orang sangat ingin tahu tentang lukisan seperti apa yang dibawa Erwin, dan terfokus pada pada Erwin untuk sementara waktu.


    Setelah bangkit dari tempat duduknya, dia membuka lukisan secara perlahan, dan segera memperlihatkan isi lukisan tersebut.


    Lukisan detail yang rinci, ketika semua orang melihat isi lukisan tersebut, yang ada di ekspresi mereka hanyalah terkejut.


    "Bukannya ini "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" yang sama persis dengan yang dibawa Vincent?"


    Tak lama kemudian seseorang menyadari sesuatu di lukisan yang Erwin bawa, yaitu tanda tangan dan stempel yang terdapat di "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" karya Hendra Gunawan yang sama seperti punya Vincent juga.


    "Kenapa ada dua "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan”?"


    Banyak orang bertanya-tanya akan hal ini, tetapi mereka dengan cepat mengerti bahwa salah satu dari dua lukisan itu pasti hasil replika, namun, mengenai lukisan mana yang asli, setiap orang memiliki tebakan sendiri di dalam benak mereka.


    "Erwin, tak kusangka hadiah yang mau kau berikan pada Profesor Aleda itu produk replika, apa kau tak merasa malu?" Wajah Vincent berubah total, dan langsung menuduh lukisan yang dibawa Erwin itu produk replika, karena dirinya membeli lukisan antik ini seharga 76 miliar.


    “Kenapa kau tak bilang punyamu itu yang produk replika?” Mulut Erwin tersenyum sedikit. Lukisan "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan” yang dipegangnya ini telah dipastikan keasliannya oleh seorang penilai barang antik terbaik di Kota Bandung, sedangkan lukisan yang ada di tangan Vincent itu masih tidak diketahui.


    “Mana mungkin pecundang miskin seperti sanggup membeli lukisan yang seharga 76 miliar?” Vincent mengejek tanpa ampun.


    Bahkan, sebagian besar orang yang hadir tidak percaya bahwa lukisan Erwin itu asli, bagaimana mungkin seorang anak miskin seharusnya tidak sanggup untuk membeli lukisan asli karya Hendra Gunawan bukan?


    "Mengenai asli atau tidak, kenapa tidak biarkan Kakek Aleda yang menilainya?” Erwin tidak ingin basa-basi dengannya, jadi dia langsung meminta David untuk menilainya. Selain itu, masih ada beberapa teman David dari industri barang antik di perjamuan ini, jadi membiarkan mereka semua yang mengidentifikasinya akan jauh lebih berguna daripada beradu mulut dengan Vincent.


    “Benar, biarkan Ayahku saja yang menilainya, lagipula masih ada beberapa teman Ayahku yang tahu barang antik juga.” Simon setuju dengan ide ini, bukankah akan ketahuan yang mana asli dan yang mana palsu setelah diamati?


    Banyak orang di tempat kejadian juga mengangguk, berpikir bahwa ide ini adalah yang paling sederhana dan efektif.


    "Lakukan saja, aku justru khawatir kau yang akan dipermalukan nanti.” Vincent mencibir, dia percaya diri karena membeli lukisan ini seharga 76 miliar, dan sama sekali tidak mungkin palsu.


    “Lebih baik khawatirkan dirimu sendiri saja.” Erwin menggelengkan kepalanya, sedikit kehabisan kata-kata terhadap kepercayaan diri Vincent!

__ADS_1


    Setelah berbicara, Erwin juga menyerahkan lukisan "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" yang ada di tangannya pada David, dan David juga mengambil lukisan tersebut dengan hati-hati.


    Kemudian, dengan beberapa teman dari industri barang antik, David mulai memeriksa kedua lukisan ini dengan cermat, mata semua orang di tempat kejadian tertuju pada beberapa orang yang memeriksa ini dengan tatapan seolah-olah sedang menonton tontonan bagus sambil berbisik satu sama lain,


    "Coba tebak lukisan mana yang asli?"


    "Tentu saja punya Vincent, dia lukisan itu seharga 76 miliar, jadi mana mungkin palsu?"


    "Aku juga berpikir begitu, walau Erwin berteman dengan Tuan Damon, tapi bagaimanapun juga dia hanyalah anak miskin dari pedesaan, jadi mana mungkin sanggup membeli lukisan terkenal seperti itu?"


    "Sepertinya tak lama lagi anak itu akan dipermalukan, sudah tau tak punya uang, tapi kenapa memberi hadiah lukisan replika? Mau pamer juga tak sejauh ini."


 


 


    …


 


 


    Namun, Lucas percaya dengan Erwin, yang merupakan orang kaya misterius, pasti tidak akan mempermalukan dirinya sendiri dengan lukisan palsu.


    Lina merasa sedikit khawatir dan gugup, karena bukan peduli dengan lukisan siapa yang asli. Sedangkan Mary memasang ekspresi wajah yang kesal, dan menyalahkan dirinya sendiri.


    "Sudah tau tak punya uang tapi mau sok kaya dan pamer sana sini, kenapa harus memakai lukisan palsu? Apa itu perlu?"


    David dan beberapa temannya mengamati kedua lukisan itu dengan cermat untuk waktu yang lama, namun masih tidak berhasil melihat perbedaan antara kedua lukisan, karena bahkan kerapatan tinta dalam seluk-beluknya pada dasarnya sama, yang membuat mereka benar-benar tidak berdaya.


    “Kedua lukisan ini sama persis, dengan kemampuan penilaian kami, mustahil untuk cari tau mana yang asli.” Seorang teman David berkata dengan kening yang mengerut rapat.

__ADS_1


    Lagi pula, beberapa dari mereka bukanlah seorang penilai profesional, mereka hanya sebatas hobi dengan barang antik, jadi wajar kalau mereka tidak dapat mengidentifikasi lukisan terkenal seperti itu.


    “Betul, standar lukisan dari kedua lukisan ini sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi, walau salah satu dari lukisan ini memang produk replika, tapi tetap saja produk replika ini tidak murah juga.” David juga mengangguk setuju.


    “Kalau memang mau tau mana yang asli, mungkin di Kota Bandung ini, hanya Brian, seorang penilai barang antik terbaik yang bisa melakukannya.” Pria tua lainnya menjelaskan.


    Setelah mendiskusikannya, mereka dengan cepat membuat keputusan, dan David langsung mengumumkan,


    "Kedua lukisan ini memiliki standar yang sangat tinggi, kemampuan penilaian kami juga terbatas, jadi tidak dapat memverifikasi keasliannya, kami akan meminta seorang penilai barang antik terbaik bernama Brian untuk masalah ini."


    “Sekarang, kita lanjutkan makan bersamanya.” Sebaliknya, David berpikir bahwa memilih untuk tidak mengidentifikasi secara langsung adalah pilihan terbaik, karena dengan demikian baik Erwin maupun Vincent akan tetap aman, karena jika mana yang asli dan yang replika ketahuan hari ini, pasti salah satu dari mereka akan dipermalukan.


    “Makan, kita lanjut makan.” Melihat hasilnya masih tidak dapat ditentukan, para kerabat dan teman yang hadir hanya bisa kembali ke tempat duduk mereka masing-masing dengan kecewa.


    Namun, Vincent merasa tidak puas karena tidak dapat mengekspos lukisan replika Erwin di tempat, ditambah Lina yang terus menambahkan lauk untuk Erwin yang membuat amarahnya semakin melonjak.


    "Profesor Aleda, kudengar tiga hari lagi kamu akan mengadakan pameran koleksi pribadi, kan?"


    “Iya, aku memang sedang mempersiapkannya, kamu tertarik untuk datang melihat-lihat ya?” David sangat mementingkan pameran koleksi pribadinya ini, karena pameran ini adalah pameran koleksi pertama yang akan diadakannya setelah pensiun.


    "Profesor Aleda, begini saja, saat pameran koleksi dibuka, pajang saja kedua lukisan kami ini pada saat yang sama dan tempat yang bersebelahan, jadi semua orang yang datang berkunjung bisa menilai, kemudian pada akhirnya barulah kita undang Brian, penilai barang antik terbaik di Kota Bandung untuk menilai. Selain bisa menarik popularitas, orang-orang yang berkunjung juga memiliki kesempatan untuk membedakan mana produk aslinya."


    Vincent ingin mempermalukan Erwin secara langsung di depan semua orang, dan pada saat yang sama ingin membiarkan Lina sadar akan kenyataan bahwa Erwin ini hanya besar mulut.


    “Bagus, Ayah, ide Vincent pasti akan menarik banyak perhatian orang-orang, saya setuju dengan idenya.” Simon menyarankan dengan suara yang keras.


    "Saya juga berpikir ide Vincent itu bagus, tidak hanya menarik perhatian, tapi juga secara profesional bisa mengidentifikasi lukisan mana yang asli." Para hadirin juga setuju dengan ide ini, karena mereka juga penasaran dengan lukisan mana yang asli.


    David ragu sejenak, karena dia tidak ingin mengidentifikasi kedua lukisan ini di depan semua orang, dan berencana untuk mengundang Brian secara pribadi untuk identifikasi secara diam-diam, yang bisa menjaga citra dari mereka berdua, tetapi Vincent ini sangat pemaksa, dan itu membuatnya tidak suka.


    “Kakek Aleda, ikuti saja saran Vincent.” Erwin tersenyum kecil, karena Brian sudah mengidentifikasi lukisannya ini sebelumnya, jadi apa yang perlu dia takutkan? Karena Vincent ini begitu ingin mempermalukan diri sendiri, masa dia hanya bisa ikut alur saja.

__ADS_1


__ADS_2