
Melihat sekelompok preman lain yang membawa batang besi keluar dari mobil van, Lina menjadi pucat karena ketakutan, dan berlari ke sisi Erwin.
"Erwin, yuk kita pulang aja, mereka terlalu ramai, kita takkan sanggup menghadapi!"
“Gapapa, yang datang ini orang sendiri.” Erwin tersenyum sedikit, karena orang-orang hukum tidak peduli, maka hanya bisa mengandalkan diri sendiri.
“Orang sendiri?” Lina tidak mengerti apa yang dikatakan Erwin, orang-orang yang baru datang ini jelas-jelas preman bermuka galak, bahkan ada yang tatoan, terutama pemimpin yang gemuk itu, dilihat saja sudah tahu bukan pria yang baik.
"Tuan Erwin, maaf, kami terlambat, bawahanku susah dibangunin," kata Boy dengan senyum di wajahnya ketika menghampiri Erwin.
Melihat pria gemuk yang begitu ganas, Lina takut sampai bersembunyi di belakang Erwin. Untungnya, pria gemuk ini tampaknya sangat menghormati Erwin.
"Baguslah kalau udah datang, suruh bawahanmu kepung semua pencuri yang berani mencuri bahan bangunan ini, jangan biarkan satupun kabur dari sini," kata Erwin dengan nada dingin sambil menunjuk pencuri di seberangnya.
"Baik Tuan Erwin." Boy tidak berani nunda dan segera melambai tangannya, bawahan yang berjumlah hampir seratus orang langsung mengepung empat sampai lima puluh perampok di sisi yang berlawanan, yang membuat para perampok itu mulai merasa gelisah.
Lucas dan Mary juga melihat ini, berpikir kalau 100 orang yang datang ini tampaknya tidak sepihak dengan para perampok itu, dan melihat sikap yang begitu akrab dengan Erwin, mereka berdua mendekat dengan gugup dan bertanya,
"Erwin, kamu yang manggil orang-orang ini datang ya?"
“Mm, karena pihak hukum tidak mau urus, jadi kita hanya bisa mengandalkan diri kita sendiri.” Erwin berhenti sejenak, lalu berkata, "Tante, serahkan saja masalah ini padaku, aku janji bakal selesaikan dengan benar, sedangkan untuk dalang dibalik semua ini, akan kubantu selidiki."
Mary tidak menyangka Erwin akan menyelesaikan masalah ini sesuai perkataannya, dia justru menghinanya tak guna tadi! Ini membuatnya salah memandang Erwin sekali lagi!
“Kalau gitu, akan Tante serahkan padamu.” Nada suara Mary sudah jauh lebih lembut kali ini, karena dia tidak punya pilihan selain mempercayai Erwin. Dalam hal ini, bahkan kepala departemen kepolisian berpura-pura tidak terjadi apa-apa, sehingga sekarang yang bisa dilakukan hanyalah melawan kekerasan dengan kekerasan itu sendiri.
Pada saat yang sama, Mary semakin merasa bahwa Erwin ini bukan orang biasa, karena bahkan mengenal Boy yang dari barat kota, kuncinya adalah Boy tampak hormat kepada Erwin, yang menunjukkan bahwa Erwin merupakan orang yang tidak boleh sembarang disinggung.
"Jangan khawatir." Erwin mengangguk, lalu berbalik dan berjalan menuju para perampok itu, menunjuk ke arah pemimpin mereka dan berkata dengan ringan,
__ADS_1
"Bukannya mau beri aku pelajaran? Aku nunggu di sini sekarang, selama kau bisa menang melawanku, aku bakal melepaskan bawahanmu, tentu saja, kalau kalah, mungkin akan berakhir sengsara."
Pemimpin perampok itu memegang tongkat besi di tangan, jelas dia gugup, karena dikepung oleh lebih dari 100 orang, walau sedikit takut, tapi pemuda yang memprovokasinya ini tidak terlihat kuat sama sekali, karena mau sok kuat satu lawan satu, maka dia akan layani sampai sepuasnya.
"Kalau gitu aku nggak akan sungkan lagi," kata pemimpin perampok yang memegang batang besi sambil menyerbu ke arah Erwin dan berteriak kuat.
"Baguslah." Erwin tersenyum, begitu pemimpin itu mendekat, Erwin dengan mudah menghindari serangan batang besinya, kemudian meninju perutnya, tenaga yang besar langsung mendorong tubuhnya mundur beberapa langkah.
Pemimpin itu terhuyung beberapa langkah sebelum menstabilkan tubuhnya, setelah sadar Erwin bisa bela diri, ekspresinya menjadi serius.
“Lumayan juga kau ternyata, bisa bela diri ya, aku tak akan kalah!” Pemimpin itu mengangkat tongkat besi dan melakukan serangan lagi. Mata Erwin fokus, begitu jaraknya sudah dekat, Erwin tidak hanya dengan mudah menghindari serangan itu lagi, tetapi juga menendangnya hingga jatuh ke tanah.
Tapi kali ini, Erwin tidak memberinya kesempatan, memanfaatkan momen pemimpin itu jatuh ke tanah, dia menginjak tangan kanannya yang memegang tongkat besi sampai patah dan melepaskan tongkat besi tersebut.
Pemimpin itu berteriak kesakitan dengan mengerikan.
“Bilang, siapa yang menyuruhmu melakukan ini?” Erwin berkata sambil menatap dengan dingin, bisa membuat kepala departemen kepolisian tidak ingin terlibat, dalang yang menginstruksikan mereka dibalik layar seharusnya punya identitas yang tinggi.
Melihat pemimpin dibuat cacat, para bawahan ingin maju untuk menyelamatkannya, tetapi Boy tiba-tiba melangkah maju dengan tongkat besi dan berteriak kuat,
"Kalau ada yang berani maju selangkah saja, akan kubuat cacat juga."
Penampilan Boy yang gendut dan ganas masih membuat mereka takut. Selain itu, Boy juga membawa lebih dari 100 orang bersamanya, dari auranya saja sudah dapat menakuti mereka.
Begitu ditakuti oleh Boy, para perampok itu tidak berani maju lagi, hanya bisa melihat pemimpin mereka diinjak-injak oleh Erwin sambil berteriak kesakitan.
“Akan kukasih satu kesempatan lagi, kalau masih nggak bilang, tak bisa kujamin tanganmu yang satu lagi.” Erwin mengancam dengan ringan, dia tidak percaya bahwa tidak ada seorangpun dibalik para perampok ini.
"Sungguh nggak ada, memang nggak ada!" Pemimpin itu masih bersikeras.
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu." Erwin melakukan sesuai yang dia katakan, yaitu menginjak tangan lain pemimpin itu sampai patah.
Pemimpin itu berteriak lagi. Karena tidak berhasil mengancam, Erwin mengerutkan kening.
Jika pemimpin ini menolak untuk membocorkan apa-apa, apa yang harus dia lakukan?
Erwin tiba-tiba mengalihkan perhatiannya ke arah Boy, lebih baik menyerahkan pekerjaan profesional semacam ini padanya! Selain itu, dia tidak ingin membuang waktu terlalu banyak di sini sekarang, kepala Lucas sedang cedera, akan gawat kalau terus menunda seperti ini.
Segera, Boy dipanggil dan Erwin berkata dengan ekspresi serius.
"Boy, kuserahkan masalah ini padamu, pastikan buat paksa mereka memberitahu siapa dalangnya."
“Jangan khawatir Tuan Erwin, hal seperti ini cukup mudah, serahkan saja pada saya!” Boy tertawa, organisasi kejahatan tentu punya banyak cara serta alih dalam hal ini, dan akan membuat mereka memberitahu dalang di balik layar.
“Baiklah, kalau gitu aku serahkan padamu! Aku pergi dulu!” Setelah Erwin mengatakan ini, dia berbalik dan berjalan menuju Lucas dan yang lainnya.
"Paman, Tante, serahkan aja pada Boy, mereka pasti akan berhasil interogasi, kita bawa paman ke rumah sakit dulu, cedera di kepalanya tidak boleh ditunda lebih lama lagi." Erwin berkata dengan khawatir.
“Itu benar, ayo kita ke rumah sakit dulu, kepala ayah masih berdarah.” Lina juga berkata dengan cemas.
Melihat apa yang dikatakan Erwin, Mary tidak punya alasan untuk tinggal di sini lagi.
"Kalau gitu kita ke rumah sakit dulu! Erwin, ingat beritahu Boy buat selesaikan masalah ini sepenuhnya."
Mary masih dengan cemas mengingatkan, karena dia sudah berurusan dengan masalah ini selama sebulan terakhir, dan benar-benar tidak ingin menunda lebih lama lagi.
Erwin mengangguk.
Setelah masuk mobil, mereka langsung pergi ke rumah sakit, di lokasi konstruksi, Boy langsung menyuruh bawahannya untuk mulai menyerang para perampok.
__ADS_1
Tempat lokasi konstruksi langsung menjadi kacau karena perkelahian, sedangkan pemimpin perampok dilayani oleh Boy sendiri.