Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Membuatnya Memohon Padaku


__ADS_3

Mengenai upah para pekerja, Etan secara pribadi memandu mereka ka departemen keuangan, agar masa konstruksi bisa dilanjutkan terlebih dahulu.


Pembangunan hotel semacam ini akan menghabiskan banyak uang walau hanya ditunda selama sehari, jadi akan lebih baik tidak menunda kecuali terpaksa.


Selain itu, Etan juga membantu Erwin membuat janji dengan William. Malam harinya, di sebuah hotel dekat lokasi konstruksi, Erwin duduk di dalam kamar pribadi VIP untuk menunggu kedatangan William sambil membaca informasi yang disiapkan Anita tentang keluarga George di timur kota.


William muncul di hotel sesuai janji, mendorong pintu dengan arogan. Melihat Erwin sedang menunggunya, dia menyapa dengan nada tidak ramah.


"Tuan Erwin, maaf membuatmu menunggu lama! Kenapa tiba-tiba mengajakku ke sini?"


“Kau yang menyuruh Ernest, si mandor itu kabur membawa dananya, kan?!” Erwin tidak basa-basi lagi dan bertanya langsung.


“Apa hubungannya denganku?” William tertawa, lalu menuang segelas anggur untuk dirinya sendiri dengan dan meneguk habis sekaligus.


"Ernest sudah jadi buronan, dan tak lama lagi dia pasti akan tertangkap, saat itu kau juga takkan bisa lolos," kata Erwin dengan ringan.


"Serius? Tapi memangnya apa hubungannya denganku?" William masih terus mengabaikan situasinya, dia ingin melihat ekspresi cemas Erwin yang membuatnya sangat bahagia, sahamnya ditipu oleh Erwin, jadi tentu dia menaruh dendam.


“Tentu saja itu berhubungan denganmu! Kalau kau tak mau keluarga George-mu  bangkrut di timur kota, kusaran serahkan dia sekarang juga.” Nada Erwin tenang tapi mengandung ancaman.


“Kamu? Mau berurusan dengan keluarga George kami di timur kota?? Tahu tidak keluarga George kami itu keluarga kaya kelas atas di timur kota? Jangan pikir cuma jadi pemegang saham Hotel Aleda saja sudah boleh merajalela seperti ini, kau masih terlalu dini kalau mau melawanku."


Wajah William tiba-tiba berubah menjadi mengerikan, dan setelah menyesap anggur, dia melanjutkan,


"Aku menang mau buat Hotel Aleda bangkrut, karena kalian membuat hidupku jadi tidak damai, maka aku juga akan melakukan hal yang sama pada kalian."


Melihat penampilan William, Ernest pasti disembunyikan oleh ini, tentu Erwin memiliki cara untuk membuat orang  ini menyerahkannya.


"William, kau pasti akan membayarnya!"


“Apa? Memangnya resiko apa yang harus kutanggung? Memangnya apa yang bisa dilakukan pria yang dinafkahi wanita sepertimu? Biar kuperjelas! Aku tak hanya bakal menghancurkan Hotel Aleda, tapi juga dirimu, berani menipu sahamku? Akan kuberi kau pelajaran hari ini!"


Setelah William selesai mengatakan itu, dia langsung menepuk meja, begitu suara tepukan meja berbunyi, dua orang preman masuk dari luar, dan mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


“Kak William, anak ini yang ingin kamu beri pelajaran?" Setelah kedua preman itu masuk, mereka menunjuk ke arah Erwin sambil bertanya.


“Ya, hajar dia, aku yang tanggung jawab kalau terjadi apa-apa.” William berkata dengan tatapan muram, sahamnya yang bernilai beberapa ratus miliar ditipu oleh Erwin, tentu dia tidak puas kalau tidak balas dendam!


Begitu kata-kata itu keluar, kedua preman itu langsung bergegas menuju Erwin dengan ganas, mata Erwin menjadi dingin seketika, dia tidak menyangka William ingin menghancurkannya, jadi Erwin harus menyerang balik.


Dia mengambil sebotol anggur di atas meja dan menghantam ke arah preman yang dekat dengannya.


Botol meledak langsung di kepala preman itu, cairan anggur dan darah terus mengalir, preman itu berhenti dan berteriak kesakitan. Erwin langsung menendang lagi, sehingga preman itu terpental beberapa meter jauhnya, hingga akhirnya menabrak dinding, dan jatuh ke lantai.


Hanya dalam sekejap, Erwin mengalahkan satu preman, preman yang satunya lagi mengambil kesempatan ini menyerang Erwin dengan tinjunya.


Erwin sedikit memiringkan kepalanya, menghindari pukulan yang berbahaya itu, lalu berjongkok dan memukul mengenai perut preman itu, tenaga yang besar membuat tubuh preman itu mundur beberapa langkah.


Sebelum sempat berdiri stabil, Erwin maju dan menendangnya lagi, hingga tubuh preman itu terpental dan menabrak dinding.


Kurang dari lima menit, Erwin langsung merobohkan kedua preman itu, William yang melihat ini, ketakutan hingga keringat dingin.


"Sejak kapan anak ini bisa bela diri? Kalau tau aku pasti bakal bawa lebih banyak orang."


“Masih mau lanjut?” Erwin tersenyum ringan, diam-diam senang telah belajar bela diri dari Lisa, kalau tidak, mungkin dia sudah diberi pelajaran oleh William hari ini.


“Erwin, anggap kau menang kali ini, kita lihat saja nanti.” William sudah ketakutan, jadi dia ingin berbalik untuk membuka pintu untuk melarikan diri, tetapi Erwin bergegas menyusul, menendangnya hingga jatuh ke lantai.


“Kau pikir bisa kabur semudah itu? Cepat bilang! Di mana Ernest?” Erwin berkata dengan dingin.


“Aku beneran tak tahu, bukan aku yang suruh.” William masih keras kepala.


"Gitu ya." kata Erwin sambil mengeluarkan belati dan menyeringai.


“??” Melihat Erwin mengeluarkan belati, William ketakutan.


"Menurutmu?” Erwin menggerakkan belati tersebut tepat di bawah ************ William, yang membuat wajah William memucat, dan segera memohon belas kasihan. "Akan kuberitahu, akan kuberitahu..."

__ADS_1


Tampaknya trik ini sangat efektif melawan pria mana pun, Erwin sangat puas.


William menyerah sementara ini, tapi masih tidak puas di dalam hati.


“Cepat bilang! Di mana dia?” Erwin mengancam dengan keras.


“D-di sebuah pabrik terbengkalai timur kota.” William menjawab dengan gemetar, keringat dingin keluar dari dahinya.


"Kalau kau berani berbohong, akan kupotong punyamu..." Erwin mengeluarkan ponselnya, menelepon Damon, dan memberitahu alamat pabrik tersebut, Damon yang menerima telepon dari Erwin langsung mengirim orang ke pabrik untuk menangkap Ernest.


Di dalam kamar VIP hotel, Erwin terus mengawasi William dan tak membiarkannya melarikan diri.


Dia juga sekalian makan sesuatu untuk mengisi perut, setelah menunggu sekitar dua sampai tiga jam, akhirnya dia menerima pesan dari Damon.


"Orangnya berhasil ditangkap."


Setelah menerima pesan ini, Erwin diam-diam menghela nafas lega, tetapi William jelas tidak puas.


"William, aku tau kau tak puas, tapi kau akan berlutut sambil mohon padaku nanti."


"Apa? Berlutut sambil mohon padamu? Jangan pikir jago tinju aja udah cukup, akan kutunjukkan kekuatan keluarga George kami." William memang sangat tidak puas, karena terus dipermalukan lagi dan lagi.


Terlebih lagi, William tahu banyak rahasia Hotel Aleda, dia bisa saja dengan mudah menyebabkan masalah pada perusahaan Hotel Aleda.


"Aku justru mau liat seberapa hebatnya keluarga George.” Erwin tersenyum dingin, kemudian meninggalkan nomor ponselnya kepada William.


“Ini nomorku, tolong diingat baik-baik, biar lebih mudah kalau mau cari dan mohon padaku.” Setelah Erwin tersenyum sedikit, dia segera membuka pintu dan berjalan keluar.


Dia bermaksud untuk memberi pelajaran mendalam kepada William ini, sehingga William tidak akan berani menyinggung Erwin dan Hotel Aleda lagi, jika tidak, masalah akan tidak ada habisnya.


“Mau aku mohon padamu? Mimpi!” William melihat punggung Erwin yang semakin jauh dan berkata dengan jijik.


Setelah Erwin keluar dari hotel, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Damon lagi.

__ADS_1


“Bantu aku singkirkan keluarga George di timur kota, bilang sama mereka kalau tidak mau bangkrut, suruh William berlutut dan memohon padaku.” Erwin berkata dengan nada dingin.


“Baik Tuan muda, akan segera saya tangani.” Damon tahu bahwa masalah ini penting, jadi setelah menutup telepon, dia langsung pergi mengatur orang untuk menangani masalah ini.


__ADS_2