Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 243 Menghancurkan Kalian


__ADS_3

Damon tidak menganggur begitu tiba di Kota Santa.


Dia segera membuka cabang Perusahaan Investasi Erlin dan mengumumkannya kepada publik bahwa itu adalah perusahaan milik keluarga Smith, jadi para individual maupun perusahaan berlomba-lomba untuk mencari investasi dari sana.


Ditambah dengan promosi dari Darius, Perusahaan Investasi Erlin dalam sekejap langsung menjadi perusahaan investasi terpopuler di Kota Santa, terutama para CEO dari keluarga besar, yang bahkan menganggap Damon sebagai Dewa Kekayaan.


Setelah mengobrol dengan Evano dan Darren, Erwin juga menyadari akan popularitas Perusahaan Investasi Erlin di Kota Santa, yang sedikit mengejutkannya, sepertinya Damon memang sangat cakap dalam hal-hal seperti ini.


Tetapi menghadapi keraguan Darren, Erwin berkata sambil tersenyum.


"Tak perlu dipastikan secara langsung dengan Tuan Damon."


"Kenapa tak perlu? Atau kau hanya bual dan omong kosong saja?" Darren bertanya seperti ingin membongkar kebohongan Erwin apapun yang terjadi, hanya untuk membuat Erwin mempermalukan dirinya sendiri.


"Betul, sepertinya Darren benar, telan sendiri omong kosongmu sendiri, sungguh konyol sekali menolak investasi 100 triliun, lelucon macam apa itu? Aku tak percaya anak miskin sepertimu bisa dapatkan investasi dari Tuan Damon."


Evano yang duduk di sebelahnya juga menambahkan, mereka berdua adalah tipe orang yang beruntung sejak lahir, bukan hanya disekolahkan di sekolah yang luar biasa bagus, tapi setelah bekerja juga menjadi bos.


Tapi sayangnya mereka bertemu dengan orang yang tidak sulit ditebak seperti Erwin.


"Bukan tak mau pastikan, tetapi takut kalian malu dan suasana jadi canggung nanti." Erwin dengan ramah mengingatkan mereka, bekerja sama dengan Damon untuk sebuah sandiwara tidaklah sulit sama sekali, tapi rasa malu yang akan menimpa kedua pemuda itu, pasti akan sangat merusak harga diri mereka yang sombong dan bangga diri itu.


"Tak masalah, kami tak takut malu, jangan sampai kau sendiri yang malu nantinya," kata Darren sambil tersenyum, semakin Erwin membuat alasan untuk mengelak, semakin dia percaya tebakan mereka benar, bahwa Erwin ini hanya membual omong kosong belaka.


Evano di sebelah bahkan melibatkan ayah Divia, Abbas.


"Paman, menurut paman, Erwin perlu menelepon Tuan Damon untuk pastikan kebenaran omongannya?"


Abbas mengangguk dan berkata dengan agak bijaksana,


"Erwin, kamu cukup telepon untuk nyapa Tuan Damon, kita tidak perlu terlalu serius, agar suasana hati semua orang bisa makan dengan tenang bersama."


Maksud kata-kata Abbas sangat jelas, yaitu ingin Erwin memastikan kebenaran bualannya.


Pada saat ini, Divia tidak tahan lagi, dia bahkan merasa Erwin sedang membual omong kosong, tapi setidaknya Erwin pernah menyelamatkannya, jadi dia buru-buru berbicara untuk menyudahi masalah ini.

__ADS_1


"Lupakan, lupakan saja, ayo kita makan, untuk apa membandingkan satu sama lain. Erwin, ayo dimakan dulu, aku yang goreng paha ayam ini."


Sambil berbicara, Divia bahkan secara pribadi mengambilkan paha ayam goreng untuk Erwin.


"Ini bukan membanding-bandingkan, tapi untuk mengajari seseorang kalau tidak ada kemampuan itu jangan membual sejauh itu, atau dia sendiri yang akan menderita ke depannya, kami melakukan ini untuk kebaikannya juga." Darren berkata dengan cibiran mulut.


"Darren benar, tolong jadi orang yang realistis, bual itu ada batasnya." Evano juga membuka mulut.


Mendengar ini, Erwin juga diam-diam mencibir dan sepertinya harus memberi pelajaran pada kedua orang ini.


"Karena semuanya berpikir aku hanya membual, akan ku telepon Tuan Damon nanti, tapi aku mau ke kamar mandi dulu."


Erwin berdiri dan pergi ke kamar mandi di bawah pemberitahuan Divia, lalu menelepon Damon  dan memberitahunya dengan suara rendah. Dia menyuruh Damon bekerja sama untuk bersandiwara nanti dan juga menjelaskan detail sandiwara kepadanya.


Erwin itu bekerja di bidang produser program film, jadi secara alami sangat ahli dalam berakting.


Sementara Erwin pergi ke kamar mandi untuk mengatur naskah dengan Damon. Evano dan Darren sedang mengobrol dengan Lina di meja makan.


"Lina, kupikir seseorang seperti Erwin yang miskin dan tak berkuasa, tapi suka membual, kurang cocok untukmu." Darren mengambil kesempatan untuk memulai percakapan dengan Lina.


"Benar Lina, lihatlah Darren dan Evano, mereka berdua ini jauh lebih baik daripada Erwin, kenapa tidak kamu pertimbangkan lagi?"


Lina sedikit mengernyit, dia tahu bahwa Bibi Nailah ini jelas diinstruksikan oleh ibunya untuk cari cara memisahkan dia dan Erwin. Sedangkan dua talenta muda ini juga orang yang sengaja dicari oleh Bibi Nailah, itu membuatnya merasa sangat tidak senang.


Tepat pada saat ini, Erwin keluar dari kamar mandi dan kembali ke meja makan. Evano, Darren dan yang lainnya sudah sangat menantikan pembongkaran kebohongan Erwin.


"Darren, 'kan? Telepon saja Tuan Damon dari Perusahaan Investasi Erlin, aku yang akan angkat nanti."


Erwin merasa akan lebih baik menelepon dengan ponsel Darren untuk hasil yang maksimal, sekaligus agar mereka lebih mudah percaya.


"Hehehehe, oke, akan kutelepon Tuan Damon sekarang." Darren mengeluarkan ponsel dan dengan cepat menelepon nomor Damon, dia masih ingin lihat bagaimana Erwin dipermalukan nanti.


Semua orang yang ada di sini juga sangat menantikan jawabannya.


Telepon berdering beberapa kali sebelum terhubung, setelah Erwin menerima telepon Darren, dia memulai sandiwaranya.

__ADS_1


"Halo, Tuan Damon, ini Erwin."


"Oh Tuan Erwin, kenapa meneleponku?" Suara Damon terdengar melalui telepon dan semua orang di tempat kejadian menajamkan telinga mereka untuk mendengarkan segalanya dengan cermat, terutama Evano dan Darren.


“Hanya ingin menanyakan kabarmu, Tuan Damon sudah makan?” Erwin melirik mata Evano dan Darren yang mendesak dan mencibir diam-diam.


"Belum makan karena terlalu sibuk, kamu sudah makan?" Kata Damon di telepon sambil membaca kalimat yang telah diberikan oleh Erwin sebelumnya.


"Ngomong-ngomong, Tuan Erwin, mengenai investasi 100 triliun sebelumnya, agar kamu bisa mendirikan perusahaan produksi internet independen, bagaimana pertimbangannya?"


Mendengar ini, Evano, Darren, Abbas, dan yang lainnya memasang ekspresi terkejut yang sama, Erwin yang merupakan seorang anak miskin pedesaan tidak membual omong kosong sama sekali, itu membuat wajah mereka terpana.


Tetapi apa yang membuat mereka malu masih belum tiba, terlihat Erwin sedang kesulitan sambil berkata,


"Tuan Damon, mau 20% sahamnya dengan 100 triliun itu membuatku kesulitan, biarkan aku pertimbangkan lagi!"


Kemudian terdengar suara menyanjung Damon dari telepon,


"Tuan Erwin, tolong dipertimbangkan lagi, 15% saja juga tidak masalah."


Sebelum Damon selesai berbicara, Erwin langsung menutup telepon dan mengeluh.


"Tuan Damon ini sedikit berlebihan, bisa-bisanya mau 20% saham perusahaan baru nanti dengan 100 triliun saja."


Kata-kata Erwin bergema di telinga Evano dan Darren, itu bagaikan tamparan tak terlihat yang tepat mengenai wajah mereka, hati mereka sangat terkejut karena apa yang dikatakan Erwin ternyata benar adanya.


"Ba … bagaimana mungkin," ujarnya dengan terbata-bata.


Evano dan Darren merasa seperti membadut, berpikir hanya dengan prestasi kecil yang mereka miliki sudah ingin pamer di depan Erwin, tetapi mereka tidak menyangka kekayaan Erwin bisa langsung melampaui mereka hanya dengan modal setuju dengan investasi yang ditawarkan Tuan Damon saja.


Untuk sementara, ekspresi wajah mereka sangat jelek.


Abbas juga memasang ekspresi kaget di wajah karena masih sulit percaya Erwin punya kemampuan sehebat itu, jadi segera memanggil istrinya, Nailah.


"Nailah tambah dua hidangan lagi."

__ADS_1


__ADS_2