
Lelang sore akan segera dimulai, mereka yang bisa datang untuk berpartisipasi dalam lelang ini semuanya adalah orang kaya di Kota Bandung, dan terkenal.
Ada juga beberapa anak yang yang seperti Vincent.
Vincent bersama Kay dan yang lainnya dengan cepat muncul di lantai dua Pameran Sun Galery, lelang ini menggunakan sistem keanggotaan dan undangan, jadi bagi mereka yang tidak memiliki kartu anggota atau kartu undangan tidak diizinkan untuk berpartisipasi, tapi bagi orang yang memiliki kartu emas keanggotaan dapat berpartisipasi bersama teman yang dibawanya.
Erwin dan Lina datang terlambat, oleh karena itu, Kay dan yang lainnya mengejek lagi,
"Hanya orang biasa tapi buat kami nunggu begitu lama, sopankah begitu?"
“Kay, berhenti bicara omong kosong!” Lina sangat marah, karena mulut sepupunya ini benar-benar tidak sopan sekali.
"Tidak apa-apa." Erwin diam-diam menahan amarah, dan tiba-tiba berubah pikiran. Dia tidak hanya ingin mempermalukan mereka di pintu masuk, tapi juga akan memberi mereka sedikit pelajaran setelah masuk nanti.
"Oke, karena semuanya sudah tiba, ikuti aku saja, aku adalah anggota kartu emas di sini. Sejak berdirinya Pameran Sun Galery ini, hanya ada 58 orang yang mendapatkan kartu emas, dan aku adalah salah satunya," kata Vincent sambil mengeluarkan kartu emas mengkilap dari sakunya, dengan ekspresi sombong di wajahnya.
Kay buru-buru melangkah maju untuk menyanjung,
"Kak Vincent memang hebat seperti biasanya, tidak seperti orang pedesaan berjuang seumur hidup pun belum tentu bisa dapat kartu anggota biasa."
“Kay, kurangi omongan faktanya!” Kata Daisy dengan senyum dan tatapan dingin.
Vincent yang mendengar itu merasa sangat nyaman dan diam-diam bangga. 'Erwin, kau tak akan bisa mencapai titik awal kekayaanku walau berjuang seumur hidup sekalipun.
Tidak peduli seberapa baiknya emosi Erwin, tapi Dia tetap saja tidak bisa tahan dengan sarkasme yang tertuju padanya secara berulang kali, jadi dia membuka mulut dan menjawab,
"Kartu emas itu asli atau tidak aja belum tau, tapi sudah sok pamer di sini, lagi pula, kau aja pernah menipu dengan lukisan replika."
Pernyataan ini membuat Vincent marah lagi.
"Siapa yang pamer? Kartu emasku ini asli, dengan kekayaan yang kupunya, untuk apa aku masih aku sok kaya? Lucu sekali."
“Kita lihat saja nanti, akan kutunjukkan hak istimewa dari anggota kartu emasku ini.” Untuk mempermalukan Erwin di tempat, Vincent berjalan menuju pintu masuk pelelangan sambil memegang kartu emasnya.
“Yuk kita pergi lihat! Mana tau kartunya itu palsu!” Erwin berkata dengan sedikit senyuman di sudut mulutnya.
Kay, Daisy, dan Rosa juga ikut ke sana, tapi mereka tidak percaya bahwa kartu emas itu palsu.
Di pintu masuk lelang, ada dua penjaga keamanan dan seorang anggota staf yang memverifikasi identitas pembeli yang masuk.
__ADS_1
Setelah Vincent lewat, dia dengan sombong menunjukkan kartu emas, dan melirik Erwin dengan mata provokatif.
"Ini kartu emasku, tolong bantu diverifikasi, aku ingin bawa teman-temanku ikut masuk juga."
Sambil berbicara, Vincent menyerahkan kartu emasnya kepada seorang wanita muda yang memverifikasi identitasnya di pintu masuk. Bahasa tubuhnya cukup bagus, sehingga Kay dan yang lainnya terkagum-kagum. Inilah yang disebut orang sukses, tidak seperti Erwin, seorang anak miskin dari pedesaan yang tidak lebih dari seekor semut di tanah.
Erwin sangat tenang, jika kartu emas Vincent berfungsi hari ini, dia pasti akan bongkar Pameran Sun Galery ini saat pulang nanti.
“Maaf tuan, kartu emas ini palsu, jadi tidak bisa masuk.” Wanita muda yang memverifikasi identitasnya dengan sopan mengembalikan kartu emas itu kepada Vincent.
Begitu kata-kata ini keluar, yang lainnya benar-benar terkejut dan bingung.
"K-kenapa bisa palsu? Aku sudah pernah ke sini beberapa kali, coba sekali lagi." Vincent terkejut dan gelisah di dalam hatinya, kalau kartu ini sekali lagi dipastikan palsu, maka ini sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri.
Kay, Daisy, dan Rosa juga terkejut saat mendengar bahwa kartu Vincent itu palsu, yang benar-benar di luar dugaan mereka.
"Seriusan kartu emas Kak Vincent palsu?"
"Mustahil, Kak Vincent itu sangat kaya, jadi seharusnya tidak perlu berbohong seperti ini!"
"Seharusnya wanita muda itu yang salah verifikasi."
Mereka bertiga sangat percaya bahwa kartu emas Vincent itu asli. Bagaimanapun, Vincent memiliki kekayaan bersih sebesar 2 triliun, jadi seharusnya tidak perlu menipu mereka.
“Maaf Tuan, kartu emas ini memang palsu, Anda tidak bisa masuk.” Vincent benar-benar kaget dengan kata-kata wanita muda itu, dan setelah beberapa detik, dia menjadi marah.
"Aku pernah ke sini beberapa kali, kau berani bilang kartu emasku palsu? Suruh manajer kalian keluar."
Vincent sangat marah saat ini dan tidak merasa tidak puas, karena Erwin sedang melihat ini, jika kartu ini terbukti palsu, maka dia benar-benar tidak ingin dipermalukan oleh pecundang miskin itu.
Terlebih lagi, ada Lina juga, jika kesan kejadian sombongnya yang ingin pamer terjadi berulang kali, maka kesan dirinya dalam pandangan Lina pasti akan merosot.
Kay, Daisy dan Rosa juga berjalan mendekat ke sana pada saat ini untuk memarahi wanita muda itu.
"Kau itu seriusan bisa periksa, kan? Buka matamu dan lihat baik-baik, ini kartu emas, anggota tertinggi, kau pasti belum pernah melihat kartu emas, jadi tolong cepat panggil manajer kalian ke sini."
Ketika mereka memarahi wanita muda itu, Calvin yang merupakan penanggung jawab pelelangan, berjalan keluar dengan ekspresi dingin.
“Siapa yang membuat masalah di luar? Mana satpamnya!” teriak Calvin.
__ADS_1
Delapan satpam tiba-tiba muncul di pintu masuk, kemudian mengepung Vincent, Daisy, Kay dan Rosa.
Karena dikelilingi, mereka menjadi sedikit lebih tenang.
“Kamu manajer di sini, kan? Tolong periksa kartu emasku ini, aku pernah masuk dengan emas ini beberapa kali, jadi tidak mungkin palsu.” Vincent menekan amarah di hatinya, kemudian menyerahkan kartu emas itu kepada Calvin, dan bersikeras ingin Calvin periksa sekali lagi.
Calvin melirik Vincent, dan setelah mengambil kartu emas itu, dia memeriksa dengan santai, dan langsung melemparkan kembali padanya.
"Kartu emas ini palsu, jadi tak perlu diperiksa ulang lagi, kalau kalian membuat masalah lagi di sini, aku akan membiarkan satpam mengusir kalian."
Kata-kata Calvin bagaikan bom yang meledak di dalam kepala Vincent, Kay dan yang lainnya.
“M-mana mungkin kartu emas ini palsu!” Vincent benar-benar terkejut hingga terpana di tempat, tapi pada saat yang sama, suasana hatinya lebih merasa seperti dihina karena kebohongannya terungkap.
Karena manajer sudah berkata demikian, Kay, Daisy, dan Rosa juga tidak bisa membantu Vincent lagi, mereka bahkan mulai curiga, apakah Vincent itu benar-benar hanya ingin sombong dan pamer di depan mereka.
“Berakhir sudah, masuk aja tidak bisa, apalagi lihat-lihat di dalam.” Kay sedikit kecewa, bahkan sekarang tidak ingin melihat Vincent lagi, karena Vincent sudah membuatnya malu di depan Erwin.
Meskipun Daisy dan Rosa tidak mengatakan apa-apa, tapi mereka berdua juga sedikit kecewa dengan Vincent.
Melihat ini, hati Erwin merasa senang, dia berjalan mendekat dan menaburkan garam pada luka mereka.
“Sudah kubilang, dan ternyata memang benar itu palsu, jangan maksa pamer di sini kalau tak punya status sosial, sampai-sampai bertingkah seolah kau itu orang hebat, memangnya siapa yang mau kau tipu?"
Kata-kata ini serasa menaburkan garam pada luka Vincent, membuatnya ingin marah besar tapi tidak bisa.
Kay dan yang lainnya juga tidak bisa mengatakan apa-apa, karena faktanya mereka ingin pamer di depan Erwin, tapi sekarang justru dipermalukan.
"Memangnya orang miskin sepertimu bisa apa? Aku aja tak bisa masuk, memangnya kau bisa? Kuberitahu kau, kalau aku aja tak bisa masuk, jangan harap kau bisa masuk seumur hidupmu, beraninya membandingkanku denganmu." Vincent berteriak marah, beraninya seorang anak miskin pedesaan begitu meremehkannya, mimpi! Jangan harap bisa begitu!
“Itu belum tentu, mungkin mereka memberiku wajah, jadi membiarkanku masuk, kan?” Erwin berkata sambil tersenyum.
“Memangnya kau itu siapa? Raja ya? Di mana-mana diberi muka,” kata Vincent berpikir bahwa anak miskin ini terlalu tidak sadar diri dan bahkan ingin membiarkan manajer lelang memberinya wajah, sungguh lelucon yang lucu sekali.
“Kalau dia beneran memberiku muka gimana?” Erwin memancing dengan sengaja.
“Kalau kau bisa masuk, aku akan berlutut dan memanggilmu Ayah.” Vincent berkata karena emosi. Kesampingkan dulu syarat masuk yang setidaknya punya 20 miliar, 200 juta saja belum tentu dimiliki anak miskin ini.
“Gimana kalau kau tak bisa masuk?” Vincent tidak bodoh, jadi dia bertanya balik.
__ADS_1
“Kalau aku tak bisa masuk, aku yang akan berlutut dan memanggilmu Ayah, apa itu memuaskan?” Kata Erwin dengan tenang.
“Oke, akan kutunggu kau bersujud dan memanggilku Ayah.” Vincent tersenyum percaya diri, karena dia berpikir kalau Erwin itu tidak mungkin bisa masuk.