
"Long time not see, mr. Stevenson.." lelaki berwajah eropa itu menyapa Vino dengan nada mengejek.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vino sarkas
"Ini negara bebas, bro.. Bukan milikmu juga kan? Bebas dong saya mau ngapain aja di sini" lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya
"Yah.. Negara ini bebas.. Tapi yang saya tanyakan, sedang apa kamu berdiri di hadapan saya?" tatapan Vino setajam pedang katana
Pemuda bule itu terkekeh dengan kelakuan Vino. Ia duduk di kursi yang tadi ditempati Lantana. "Kau masih saja tidak berubah.. Wah.. Nampaknya kau tidak sedang makan malam sendirian.." pemuda itu melirik tas Lantana di atas meja
"Urus saja urusanmu.. Tidak perlu kau repot-repot mengurusi hidup saya.." Vino menghempaskan tubuhnya di kursi
"Santai saja, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.." lelaki itu tertawa dengan duduk santai. "Kecuali wanita yang ini lebih cantik dari Rosse.. Lagi pula, kami sudah hidup bahagia.. Yah.. Itu semua karena bantuan kamu juga yang mempertemukan aku dengan Rosse. Anak kami sudah usia 3 tahun, dia tampan dan sangat mirip denganku.." pamer lelaki itu
Vino mendengus kesal dan memalingkan wajahnya asal. "Berharap saja aku akan pedulindengan kehidupanmu.." ketus Vino
"Aku dengar, kau belum juga mengubah kebiasaanmu membeli mawar merah setiap hari. Yah, karena Rosse sibuk syuting setiap hari, jadi dia tidak bisa ikut aku ke sini.. Aku yakin, kau masih merindukannya kan?" lelaki itu tersenyum puas
"Hmm.." Vino memiringkan senyumnya. "Kau dan dia memang sangat cocok satu sama lain.. Sama-sama gak tau malu.. Tapi aku tidak menyesal telah menolongmu beberapa tahun lalu meski kau menghianatiku pada akhirnya.. Setidaknya, kau tidak bisa merubah kenyataan bahwa akulah di balik kesuksesanmu dan wanita belahan jiwamu itu.." Vino tersenyum sarkas.
"Well, itu memang fakta yang sayang sekali tidak bisa aku pungkiri.. Tapi terima kasih atas bantuannya.. berkatmu, aku hidup dengan serba kecukupan beserta istri yang sangat cantik.. Baiklah, karena saya masih ada acara lain, saya harus bergegas.. Lain kali kenalkan wanitamu padaku LAGI yaa.." lelaki itu menepuk bahu Vino dan berbisik di telinganya. Setelah itu dia berlalu ke luar dari restoran.
Vino mengepalkan tinjunya demi meredam emosinya. Tiba-tiba "apa yang dia bisikin? Serius banget??" suara Lantana mengagetkan Vino dari belakang. Sontak Vino langsung memutar badannya 360 derajat.
"Kamu!!? Ngapain duduk di situ?" tanya Vino pada gadis yang duduk di kursi tepat di belakangnya sembari menatap pintu keluar.
"Tadinya mau balik ke kursi aku, eh ada bule duduk di sana, dan kayaknya pembicaraannya serius banget, jadi aku duduk di sini deh.. Niatnya nguping, tapi gak ngerti yang dibicarakan apa??" jelas Lantana polos
"Sejak kapan kamu di sini?" Vino mematikan
"Sejak bule itu duduk di kursiku.. Ngobrolin apa sih? Atau... Dia ngatain kamu jomblo yaa... Keliatan kamu marah banget.." Lantana tertawa cekikikan
"Giliran ngecengin aja ngerti.." Vino menjitak kepala Lantana pelan "Lagian blak-blakan banget lagi.. pake ngaku niatnya nguping.. sini balik lagi, keburu dingin tuh makanannya.." perintah Vino yang langsung dituruti oleh Lantana
"Dia tadi itu siapa?" tanya Lantana penasaran sembari menyuapkan makanannya.
"Nanti saja ceritanya, sekarang makan aja dulu" perintah Vino lagi. Lantana tidak punya kesempatan untuk komentar lagi. Ia makan dengan seksama.
Setelah makan malam, Vino mengajak Lantana ke taman hiburan untuk jalan-jalan. Malam minggu yang ramai dipenuhi remaja yang sedang asik bercengkrama. Vino mengajak Lantana duduk di gazebo dekat danau yang dihiasi bunga lotus dan teratai.
"Kenapa tuan ngajak saya ke sini?" tanya lantana heran seraya menikmati es krim di tangannya
"Ck... Tuan lagi.." Vino kesal
"Terus saya harus panggil apa? Nama? Kan usianya jelas aku lebih muda.. Mas? Gak ada tampang jawa nya tuh.! Bule yang ada.. Pak le apa?? Atau abang!! Mas bro!! Halo mas bro.." lantana meninju lengan Vino "atau, Akang.. Akang kendang!!? Muter.." Lantana malah memutarkan badannya.
Vino menggelengkan kepala melihat tingkah Lantana. "Kamu orang sunda kan?" tanya Vino balik
"Gak sepenuhnya.. Bunda orang sunda, ayah orang makssar, turunan cina generasi ke tiga.. Jadi aku generasi ke empatnya. Sedari kecil aku sudah tinggal di city J. Jadi gak bisa bahasa adat mereka sama sekali.." jawab Lantana seraya menjilat es krim cone nya lagi.
__ADS_1
"Panggilan sayang di sunda itu apa?" tanya Vino lagi
"Hmm..? Apa yaa?? Kalo gak salah.." Lantana berpikir keras. "Aa..!!! Iya Aa deh kalo gak salah.." Ahirnya Lantana mendapatkan jawaban setelah berpikir keras
"Kalo gitu, panggil saya Aa aja.." Vino bersandar pada sandaran kursi yang terdapat di gazebo
"Ih.. Apaan kali.. Aa katanya.. Aa bule.." Lantana tertawa meski tidak ada yang lucu
"Iya,, panggilan yang manis.. Panggil saya Aa aja ya.." Vino mengacak rambut Lantana yang tadi dikepang
"Apaan sih? Kaya orang pacaran aja.. So so-an romantis.." Lantana menyingkirkan tangan Vino dari kepalanya
"Emang kita lagi pacaran kan?? Kan aku tadi udah nembak kamu.." Jelas Vino
"Apaan kali.." Lantana menatap bunga teratai yang terapung di atas air, demi menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah merah banget
"Serius.. Tatap mata saya.. Apa saya berbohong??" Vino memaksa tubuh Lantana mengarah kepadanya
"Udah ah.. Ayo pulang aja,, udah malem.. Nanti ayah nyariin.. Kan tadi perginya gak pamit.." Lantana bersiap pergi namun ditahan oleh Vino
"Saya gak akan nganterin kamu pulang sebelum kamu menjawab pertanyaan saya.." Tegas Vino seraya menatap mata Lantana
"Apa yang membuat tuan yakin ingin menjalin hubungan dengan saya?" tanya Lantana dengan tatapan polos
"Tuan tuan..! Saya cium kamu sekali lagi manggil saya tuan.." Vino mencengkram lengan Lantana kesal
"Iihh.. Ngancem lagi.. Iya iya.. Apa yang membuat kamu yakin, ingin menjalin hubungan dengan saya??" ulang Lantana
"Hm..?" Lanyana mengangkat kedua bahunya. "Mungkin perasaan iba saja"
"Apa kamu tidak mau memerima saya karena kamu sudah punya pacar?" tanya Vino ragu
Lantana menatap mata abu-abu Vino, sampai pertanyaan itu sampai padanya dia menundukkan kepala. "Saya tidak pernah pacaran.." jawabnya pelan
"Kenapa??" ada harapan namun putus asa bercampur pada suara Vino
"Saya takut patah hati.. Teman-teman bilang, putus cinta itu sakit.. Dan lagi teman-temanku yang tadinya saling dekat satu sama lain, setelah putus malah jadi musuhan.. Sekarang malah saling pamer karir, pamer keluarga, dan pokonya saling benci gitu.. Saya gak mau punya pacar, karena saya takut putus dan nanti malah jadi musuhan.. Saya kan gak tega kalo harus musuhin orang lain.." jelas Lantana polos "Lagian, ayah sudah menyayangi Ana kok.. Meski harus ribut sama bunda.. Ana gak yakin ada orang lain yang mau menerima Ana apa adanya seperti ayah.. Ana kan manja, ana gak pinter dandan.. Ana gak bisa masak.. Ana cengeng, Ana juga cerewet.. Ana gak mau nyusahin siapapun.. Ana belum bisa mandiri.." Lantana cemberut
"Ya Tuhan, Lantana...!!?" Vino bersandar lagi duduknya "kamu memang benar, Ana..!! Putus cinta itu sakit.. Sangat sakit... Saya pun perlu waktu tiga tahun untuk sembuh dari luka itu.. Meski sampai sekarang masih terus terbayang.." Vino menerawang jauh. Lantana mengikuti arah pandang Vino yang hanya tertuju pada hamparan bunga teratai. "Kamu tidak ingin mencoba pacaran karena takut putus dan sakit hati.. Saya justru tidak percaya kalau saya akan putus justru merasakan sakitnya ditinggalin.." Vino mengalihkan pandangannya lagi ke arah Lantana
"Kamu tadi bertanya, siapa lelaki bule yang menghampiri saya tadi kan? Dia Jeorge.. Teman dekat saya.." Lanjutnya
"Lalu? Kenapa tadi tuan eh aa, kok aa sih..? Kamu tadi sinis banget sama dia..? Kan dia teman dekat kamu?" Lantana antusias memasang mode kepo setelah mendengarkan pengakuan Vino
Vino tertawa melihat tingkah Lantana dan mengusap kepalanya pelan. "Mau denger ceritanya??" tanya Vino yang di jawab anggukan cepat oleh Lantana. "Begini.." Vino menjelaskan dengan sabar
Flash back
Sekistar Tujuh tahun lalu, Vino masuk universitas tinggi ternama di Amerika tepatnya Canada. Di sana ia tinggal bersama orang tuanya, meski lama tinggal di Indonesia, ia masih memiliki paspor Amerika. Dia mempelajari bisnis dan keuangan demi meneruskan usaha ayahnya di Amerika. Sejak usia muda, ia memang sudah dididik untuk menjadi pengusaha.
__ADS_1
Selama ia kuliah, ia bertemu dengan Rosse anak jurusan Modeling. Mereka saling kenal dan saling akrab. Setahun kuliah di Canada, mereka bertemu dengan Jeorge mahasiswa jurusan perfilman. Mereka akrab seiring berjalannya waktu.
Rosse adalah tipe perempuan elegan dan disiplin. Keluarganya hampir seluruhnya berkarir sebagai model. Vino jatuh hati dengan ketegasan Rosse dan kelembutan hatinya juga optimismenya mengejar impian. Mereka menjalin hubungan asmara bahkan sebelum ada Jeorge di antara mereka. Vino yang berprofesi sebagai pengusaha, terus mensuport Rosse baik pinansial maupun moral. Ia mendanai setiap stasiun televisi yang mau menerima Rosse sebagai aktris mereka. Meski kuliah di jurusan Model, Rosse bercita-cita menjadi atris hollywood.
Dengan kerjasama Vino, Rosse dan Jeorge, ahirnya Rosse keterima membintangi sebuah film keluarga di hollywood tepat di tahun ke tiga perkuliahan mereka. Setelah itu, tentu banyak tawaran syuting dan reality show untuk Rosse. Jadwal Rosse menjadi sangat padat dan mereka jadi jarang berkumpul.
Jeorge yang kuliah di bidang perfilman, dia juga ikut magang di beberapa atasiun televisi swasta. Vino senang, karena mereka bisa sukses sebelum usia 25. Karena jadwal masing-masing yang sibuk, Vino jadi jarang menghubungi Rosse maupun Jeorge. Ditambah Vino mendapatkan teman baru dari kalangan bisnis juga, jadilah mereka semakin jauh. Kendati demikian, Vino masih sering mengunjungi Rosse setiap ahir pekan. Dengan sebucket bunga mawar merah tanda cinta mereka.
Di ujung masa pendidikan, tahun keempat masa kuliah akan berakhir. Tepat di malam setelah acara kelulusan, maka hubungan Vino dan Rosse menginjak usia yang ke Empat. Karena Vino berniat akan kembali ke Indonesia, dan dia sudah terlanjur sayang pada Rosse, dia memituskan untuk melamar Rosse. Ia menyiapkan seribu tangkai bunga mawar merah di hari lamaran. Sesuai dengan impian Rosse.
"Aku ingin dilamar dengan seribu tangkai bunga mawar merah yang sangat indah.." ucap Rosse di suatu hari saat ia kencan dengan Vino.
Hati Vino jelas dag dig dug deg dor saat detik-detik akan melamar Rosse. Namun, tatkala tawaran suci itu terucap...
"Rosse,, maukah kau menikah denganku??" Ucap Vino seraya membuka kotak cincin beludru yang bertengger di dalamnya cincin berlian yang sangat cantik
"Vino..! Apaan sih..?? Malu tau!!" jawab Rosse
"Malu? Kenapa malu??" Vino heran
"Di sini banyak orang.." bisik Rosse
"Yaah.. Aku tau.. Justru aku sengaja melakukannya di sini. Agar dunia tau kalau kamu adalah wanita yang paling aku cintai di dunia ini.." ucap Vino yakin dan sorak sorai penonton menambah meriah suasana.
"Tapi Vino.. Aku hamil.." Bisiknya di telinga Vino.
"Benarkah?? Aku akan tanggung jawab dengan bayi itu.. Itu anakku kan?? Justru dengan hadirnya dia, cinta kita menjadi semakin erat kan.." Vino sumringah bahagia
Rosse menggelengkan kepala "ini bukan anakmu.." ucapnya lesu
Kerumunan penoton semakin antusias dengan gosip yang siap mereka dengar. Vino menarik tangan Rosse ke tempat yang lebih sepi. Dia tau, Rosse adalah pemain film terkenal saat ini. Gak bagus kalau ada skandal yang terungkap di hadapan publik.
"Anak itu anak aku kan?? Aku ayah dari bayi di perutmu kan??" desak Vino
Rosse meneteskan air mata tanda mengakui kesalahan. "Bukan Vino...!!" isaknya
"Kamu jangan becanda Rosse,, kamu pacar aku.. Dan kita ngelakuin itu gak sekali dua kali. Hampir setiap kita ketemu kan??" Vino meyakinkan
"Tapi kamu selalu main aman.. Dan aku pun selalu minum obat setiap melakukan dengan kamu.. Ini benar-benar bukan milik kamu.." isak Rosse semakin kencang.
"Lalu.. Anak siapa?" tanya Vino pasrah
"Ini anak Jeorge.." jawab Rosse
"Jeorge?? Kenapa bisa??" tanya Vino tidak percaya
"Tentu saja bisa.." suara lelaki yang sangat di kenal Vino menyahut dari belakang. Ya, dia adalah Jeorge. "Waktu itu, kami syuting ke daerah pedalaman di pinggiran hutan amazon. Udara dingin dan kami terbius alkohol yang kami minum terlalu banyak. Aku gak bawa pengaman, begitupun Rosse. Aku meyukai Rosse sejak pertama ketemu, sayangnya dia malah pacarnya kamu. Di hutan itu, karena kami semua mabuk, jadi kami tidak sengaja melakukan itu. Setelah satu bulan, Rosse dinyatakan hamil. Dan itu jelas anak saya.. Saya minta maaf Vino. Saya juga mencintai Rosse.." jelas Jeorge yang tak lama langsung mendapat pukulan keras dari Vino.
"Ber*ngs*k..!!" 'Bugh...!!!' satu pukulan mendarat di pipi kiri Jeorge. "Baj*ng*n..!!!! Gak tau diri..!!!" teriak Vino di depan muka Jeorge seraya mencengkram kuat kerah Jeorge. Vino yang dipenuhi amarah terlihat siap membunuh Jeorge di tempat itu juga.
__ADS_1
to be Continue