SUN FLOWER

SUN FLOWER
TEMA MATERNITY


__ADS_3

"Aduh nyonya biarkan bibi saja yang potong-potong buahnya." Bibi pelayan itu menghampiri Kalista, dan kaget juga melihat Kalista yang sedang sibuk mengupas berbagai macam buah lalu memotongnya.


Semua buah Kalista letakkan di meja dapur, mencuci, mengupas lalu memotongnya. Kalista ingin makan salad buah buatannya sendiri. Arka sudah melarangnya, dan menawarkannya untuk membeli saja daripada repot-repot buat. Tapi tahu lah ya, Kalista si keras kepala tidak bakalan bisa di larang.


"Nggak apa-apa bi, bibi kalau mau bantu ya bantu saja! Berarti kita kupas buah sama-sama." Kalista tersenyum simpul, di tangannya terdapat satu buah kiwi yang sedang di pisahkan dari cangkangnya.


"Tapi nyonya hati-hati ya, jangan sampai tangannya terluka." Bibi pelayan masih saja mengkhatirkan Kalista.


Kalista menoleh, lagi-lagi tersenyum simpul. "Iya bibi bawel, jangan sampai malah tangan bibi yang teriris pisau dan terluka." Kalista terkekeh karena tatapan bibi malah tertuju pada Kalista, bukan pada buah di tangannya.


Asyik mengupas buah di dapur. Sesekali di selingi canda tawa. Kalista ini memang selalu baik terhadap pelayan, mau pelayan di rumahnya atau pun pelayan di villa ini. Bagi Kalista semua manusia itu sama, jadi untuk apa membeda-bedakan hanya karena kasta? Selain baik dari segi tingkah laku, Kalista juga sering memberikan bonus lebih pada para pelayan di rumahnya. Semakin sering berbagai, berarti semakin lancar pula rezeki kita. Kalimat itu lah yang selalu di pegang teguh oleh Kalista.


Berperang di dapur membuat salad, lumayan memakan waktu. Karena Kalista membuat salad buahnya dalam jumlah banyak. Setelah selesai Kalista memasukan semua salad buah ke dalam kulkas. Bibi pelayan membersihkan dapur hingga kembali bersih seperti sedia kala.


Menjelang sore sebelum pulang, Kalista memberikan beberapa cup salad buah berukuran besar pada bibi pelayan.


"Eh ini untuk bibi?" Tanya nya bingung sekaligus senang.


"Iya untuk bibi, kan kita bikinnya sama-sama, bibi juga harus makan dong. Lagian kan bikinnya banyak, nanti bibi makan dirumah sama bapak. Tapi maaf ya bi kalau nggak enak, soalnya resepnya aja masih nyontek di YouTube." Cengir Kalista, lalu terkekeh pelan.


"Terimakasih banyak nyonya, saya pamit pulang." Ucapnya. Guratan wajah nya sudah sangat terlihat, rasa lelah terdapat di sana. Wanita yang usianya mungkin sudah melewati setengah abad ini masih harus bekerja untuk sesuap nasi dengan menyambung hidupnya.


"Padahal cuma salad buah." Gumam Kalista. Kalista melihat dengan jelas ekspresi bibi pelayan ketika Kalista memberinya salad buah, ada rasa bahagia di wajahnya. "Tidak semua orang bisa menikmati makanan enak, maka dari itu harus sering-sering berbagi! Tentunya merasa bersyukur juga." Ujar Kalista. Mungkin bagi Kalista salad buah tidak ada apa-apanya, bahkan jika dia mau di bisa membuat pabrik salad buah dalam waktu singkat, atau bahkan membeli beberapa pabrik yang memproduksi salad buah. Namun begitulah kehidupan, selalu ada yang diatas dan yang di bawah. Yang diatas jangan sombong dan tetap harus rendah hati, sedangkan yang di bawah jangan banyak ngeluh dan merana. Karena semesta tahu kapan kita akan bahagia, dan rezeki tidak akan tertukar.


Tiara lagi tidur di kamarnya, mungkin kelelahan. Arka dan Evan lagi duduk santai di teras depan. Kalista mengambil satu cup salad buah, lalu memakannya sambil menonton televisi.


Kalista tidak begitu suka sinetron Indonesia, karena sinetron Indonesia terlalu banyak drama. Jika menonton televisi Kalista lebih suka menonton berita.


Matanya tertuju pada layar televisi, tapi mulutnya sibuk mengunyah. Salad buah di cup pertama itu sudah habis, kini Kalista sedang memakan salad buah di cup ke dua.


"Bagi-bagi dong!" Arka tiba-tiba muncul dan langsung duduk di sebelah Kalista.


Akhirnya Arka memakan salad buah di suapi oleh Kalista, bercanda mesra di depan televisi. Evan memilih meninggalkan ruangan itu, kemesraan Arka dan Kalista kadang membuat sakit mata, dan menimbulkan penyakit iri.


Setelah selesai menonton dan memakan salad buah, Kalista bergegas membersihkan dirinya. Hari semakin sore, angin sepoi-sepoi terasa begitu dingin. Sebelum kalista masuk ke kamar mandi, Arka berpesan agar Kalista mandi air hangat.


Kalista keluar dari kamar mandi, handuk itu tidak bisa menyembunyikan perut buncitnya. Handuk yang harusnya sebatas betis kini hanya berada jauh diatas lutut. Kalista segera berpakaian, awalnya Kalista memakai piyama atas bawah, namun karet celananya terasa sakit di perutnya. Piyama dress lah yang akhirnya di kenakan Kalista.


Kini giliran Arka yang membersihkan dirinya. Kali ini Arka mandi dengan kecepatan super, entah kenapa hari ini cuacanya begitu dingin menusuk tulang. Arka keluar dari kamar mandi, tubuhnya menggigil, dan wajahnya sedikit pucat karena kedinginan.


Jari-jari lentik Kalista sedang aktif mencari meraba-raba di dalam laci kecil. Tangan itu masih terus bergerak, karena benda yang di carinya belum ketemu.


"Nyari apa?" Arka mengerutkan dahinya, istrinya seperti kebingungan mencari sesuatu.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Kalista, tangannya malah semakin aktif. Lalu akhirnya di jari itu terdapat satu botol kecil minyak kayu putih.


Kalista bergerak maju menghampiri Arka yang belum berpakaian. Menuangkan beberapa tetes minyak kayu putih di punggung Arka, kemudian menggosoknya secara perlahan. Sekarang tangan itu telah berpindah ke perut Arka.


"Biar kamu nggak menggigil." Kata Kalista.


"Itu yang bawah nggak?" Celetuk Arka.


"Apaan?" Tanya Kalista dengan tatapan galaknya.


"Ya itu....," Kalimatnya menggantung, senyum seringai itu muncul. Sekarang Arka menginginkan sesuatu hal yang lebih.


"Biar jadi pijat plus-plus!" Imbuhnya lagi dengan cengir kuda!


Kalista melotot lalu menginjak pelan kaki Arka. "Otak kamu tuh isinya mesum terus! Heran deh aku, untung aja sayang!" Kalista memajukan bibirnya beberapa centimeter, kemudian matanya mendelik kesal.


"Mesum sama istri sendiri itu nggak apa-apa! Permainan ranjangnya di hitung ibadah, berbakti sama suami tuh gampang loh sayang layani aku terus di ranjang." Arka mengedipkan sebelah matanya, kemudian menghembuskan napasnya perlahan di telinga Kalista.


Ada rasa aneh yang menjalar di sekujur tubuh Kalista ketika Arka meniup telinganya. Jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya.


Arka merasa nyaman dan hangat setelah tubuhnya di baluri minyak kayu putih. Sekarang dia sudah memakai piyamanya yang senada dengan yang di kenakan Kalista.


Arka menarik pelan tangan Kalista. Membawanya ke hadapan cermin. Kalista diam dan bingung menatap Arka melalui pantulan cermin.


"Couple goals banget nggak sih kita? Kamu adalah wanita beruntung yang bisa bersanding dengan aku." Arka memeluk Kalista dari belakang. Tangan itu tidak bisa menangkup sepenuhnya karena perut Kalista buncit.


"Halah-halah kamu tuh yang beruntung bisa dapatin wanita cantik seperti aku." Kalista mencubit Arka pelan.


"Intinya sama-sama beruntung deh kita! Bersatu dengan orang yang tepat dan saling mencintai." Arka mencium kening Kalista.


Tok..tok..tok..


"Bro!" Evan mengetuk pintu. Mengganggu moment Arka dan Kalista.


Arka mendengus kesal, melepaskan tangannya yang masih melingkar di perut Kalista. Berjalan dengan malas ke arah pintu.

__ADS_1


"Apa?" Tanyanya ketus dengan suara tinggi.


"Wes santai bro! Gue ganggu ya?" Evan menatap Arka dan Kalista bergantian. Melihat ekspresi kesal yang Arka tunjukan, Evan semakin yakin bahwa dirinya memang cukup menggangu.


"Pakai nanya lagi! Ganggu banget! Sumpah ya gue tuh pengen banget pulangin lu ke Jakarta!" Arka mendelikkan matanya.


"Haduh seram banget! Gue sama Tiara mau makan di luar, lu sama bini lu mau makan apa? Nanti gue bawain!" Tanya Evan langsung pada intinya.


Sebelum menjawab Arka menatap istrinya terlebih dahulu sambil menautkan kedua alisnya. "Mau apa yang?" Tanyanya.


Kalista juga mikir dulu nggak langsung menjawab, tangannya memijit-mijit pelan dahinya. "Nasi pedas Bali dan bebek betutu Bali." Ujarnya setelah berpikir beberapa detik.


"Gue samain kaya istri gue!" Ucap Arka.


"Oke." Evan langsung pergi dari depan kamar Arka.


Arka dan Kalista diam-diam mengintip Evan dan Tiara yang akan berangkat makan di luar. Tiara sangat berbeda malam ini, mengenakan dress merah dengan tali bahu kecil, panjangnya hanya sebatas lutut. Rambutnya di ikat berantakan. Wajahnya di poles make up sedikit.


"Wadaw bisa modus juga tuh sahabat gue." Arka melihat Evan yang kini sedang membukakan pintu mobil untuk Tiara. Sebelum membukakan pintu mobil Evan sudah menggenggam jari jemari Tiara.


"Biarin aja! Do'akan biar dia cepat nikah! Biar nggak nyamukin kita terus."


"Amin."


Tiba-tiba Kalista mendengar suara "kruuuuuuuyuk." Lebih tepatnya suara perut keroncongan. Kalista menatap Arka, tatapan yang penuh selidik.


"Laper?"


Arka pun menganggukan kepalanya dengan senyum yang memamerkan deretan giginya.


Kalista mengambil satu cup salad buah, memberikannya pada Arka. Kemudian Kalista pergi ke dapur dengan membawa fiesta chicken nugget, sosis, dan bakso. Rencananya Kalista akan membuat cemilan saja, untuk ganjal perut. Kalau menunggu makanan yang di pesan pada Evan, pasti datangnya larut malam. Soalnya mereka baru saja berangkat, dan Kalista yakin mereka bukan hanya sekedar makan malam. Mereka berdua tuh pasti sekalian kencan.


Kalista mengambil apron, kemudian memakainya. Menuangkan minyak diatas wajan. Setelah minyak panas, barulah Kalista menggoreng fiesta chicken nugget. Kemudian membakar sosis dan bakso, sosis dan bakso yang telah di bakar Kalista berikan bumbu balado dengan wangi daun jeruk yang sangat menggoda merasuki sukma.


Kebiasaan Kalista ketika sewaktu di apartment adalah setelah memasak Kalista kan membereskan dapur dan membersihkannya terlebih dahulu. Jika telah selesai barulah menikmati makanannya.


"Katanya cemilan doang? Kok ini wangi banget sih." Arka berjalan ke arah meja makan. Di meja tahun tertata masakan Kalista.


"Dingin-dingin gini enak banget makan ini pas masih anget." Arka mencomot satu nugget dan mencolokkan saos.


"Tapi lebih enak lagi kalau di angetin kamu sih." Imbuhnya lagi, suaranya parau tidak terdengar jelas karena mulutnya sibuk mengunyah.


Kalista menuangkan jus jeruk pada gelas, memberikannya pada Arka. Kemudian duduk di sebelahnya, menikmati hasil masakannya.


Arka bahkan sampai berpikir bahwa Kalista punya resep rahasia untuk mengolah sosis dan bakso menjadi seenak ini.


"Mas nya nggak makan berapa lama? Makannya lebih ke rakus daripada lahap." Kalista menggelengkan kepalanya melihat suaminya makan bagaikan manusia tidak nemu makanan selama seminggu. Bibirnya terus menerus mengunyah.


Bukannya menjawab Arka malah mengangkat ibu jarinya. Mengisyaratkan masakan Kalista sangat enak. Piring-piring kini sangat bersih tiada tersisa sedikitpun. Bahkan bumbunya pun Arka jilatin sampai bersih.


"Kenyang. Enak banget masakan istriku." Arka langsung menyambar segelas jus yang ada di hadapannya, meneguknya sampai habis.


Kalista semakin menggelengkan kepalanya ketika mendengar suaminya bersendawa sangat kencang.


Sudah satu jam berlalu, Evan dan Tiara sama sekali tidak menampakan batang hidungnya. Untung saja Kalista membuatkan makanan, kalau tidak mungkin Arka akan kelaparan.


Kalista sudah meringkuk di ranjang. Usia kandungannya baru 5 bulan saja Kalista sudah kesulitan menentukan posisi tidur. Baring sana baring sini, telentang, meringkuk ke arah kiri, meringkuk ke arah kanan sampai menemukan posisi nyaman.


Arka sebenarnya kasihan melihat istrinya seperti itu, tapi apa yang bisa di bantu? Kalista bahkan menyadari apa yang ada di benak Arka, Kalista selalu mengatakan "Tidak apa-apa semua ibu hamil memang mengalami ini."


"Ngantuk! Tapi belum dapat posisi tidur yang nyaman." Kalista terduduk di kasur dengan kaki berselonjor.


"Sabar ya, istriku pasti kuat." Arka mengecup kening Kalista. "Sayang menurut dong, jangan siksa mama. Kasian kan mama pengen istirahat, jangan nyusahin ya anak ayah." Arka berbicara sambil mengusap perut Kalista, kemudian mencium perut buncit itu.


"Oh iya, maternity tema nya mau gimana? Biar aku hubungi desainer profesional di kota Bali."


"Aku nggak mau satu tema! Aku maunya berbagai macam tema." Ucapnya sambil menyenderkan punggungnya pada tumpukan bantal.


"Boleh! Tema apa saja?" Arka tahu keinginan ibu hamil itu harus di turuti, jika tidak kemungkinannya Kalista akan marah, bayinya akan ngeces, dan mungkin mood Kalista bakal berubah.


"Tema taman bunga, jadi ngambil tempat pemotretannya tuh di taman gitu, aku pakai gaun yang di penuhi bunga-bunga, sambil duduk di ayunan, kamu mendorong ayunan dari belakang, kita tatap-tatapan sambil tersenyum bahagia." Ucapannya terjeda sejenak, Kalista tersenyum membayangkan tema taman bunga yang di impikannya.


"Aku juga mau pakai tema princess bagaikan di negeri dongeng, tema pakaian serba putih, tema kantoran gitu pasti seru deh, tema piyama tidur! Jadi konsepnya kaya di kamar gitu. Dan lain-lain!" Jawab Kalista antusias.


Arka hanya tersenyum menanggapi keinginan istrinya yang ingin melakukan maternity photoshoot dengan berbagai macam tema. Sangat-sangat di luar dugaan, Arka mengira mungkin Kalista hanya ingin menggunakan 5 tema, namun ternyata lebih.


Jemari Arka sangat lincah memainkan ponselnya, membuka media sosialnya. Mencari data-data desainer profesional yang tinggal di kota Bali. Arka menghubunginya dan segera memintanya untuk datang ke villanya saat ini juga.


Tidak hanya itu Arka juga langsung mencari MUA yang profesional yang mempunyai jam terbang tinggi. Arka ingin Kalista tampil sempurna pada saat maternity photoshoot.

__ADS_1


Dalam sekejap saja Arka langsung mempunyai kesibukan, setalah menghubungi desainer dan MUA professional. Kini Arka segera membooking tempat-tempat yang akan di jadikan lokasi maternity photoshoot. Tempat-tempat itu sebenarnya tidak sedang kosong, tapi you know lah Arka si tajir melintir banyak uang ini, apa sih yang nggak bisa di lakukannya? Apalagi demi keinginan istrinya tercinta, apapun akan di lakukan! Tidak peduli jika ia harus merogoh kocek lebih banyak. Arka sama sekali tidak keberatan untuk membayar harga tinggi! Yang penting semuanya berjalan sesuai dengan apa yang Kalista inginkan.


Ah iya hampir saja terlupakan oleh Arka. Photographer! Arka langsung mencari photographer yang profesional, punya jam terbang tinggi, dan hasil jepretannya bagus.


Tiba-tiba terdengar suara bel. "Pasti Tiara dan Evan sudah kembalinya." Kalista bangkit dari kasur, bergegas membukakan pintu. Arka membuntutinya dari belakang.


"Selamat malam, villa bapak Arka?" Dua orang wanita yang kira-kira usianya sekitar 30 tahunan, dan satu pria yang bicaranya agak cempreng, usianya sekitar 25tahunan, gerak geriknya menunjukan bahwa ia sangat gemulai dan lentur, bukan seperti laki-laki pada umumnya.


Kalista bengong, bingung dengan kedatangan orang-orang ini, Kalista pun sama sekali tidak kenal dengan orang-orang yang sedang berdiri di depan pintu ini.


"Iya ini saya Arka! Dan ini istri saya Kalista! Kalian silahkan masuk!" Arka mempersilahkan masuk.


Ketiga orang ini pun langsung duduk di ruang tamu, kemudian semuanya membuka tasnya. Mengeluarkan pensil dan buku, dan ada juga yang mengeluarkan semacam alat untuk mengukur tubuh.


"Kasih minum dulu ya." Kalista akan bangkit, namun ketiga tamu itu pun langsung menyela.


"Tidak usah bu, waktunya mepet dan kami pun tidak akan sempat untuk minum."


Kalista semakin dibuat bingung. Arka terkekeh pelan kemudian menyentuh dahi Kalista. "Mereka desainer, besok kita maternity photoshoot."


"Waktu sudah semakin mepet, bisa ibu jelaskan keinginan ibu untuk baju maternity nya."


Kalista kemudian menjelaskan tema ini ingin memakai baju yang seperti ini, mulai dari warna, bahan, bahkan aksen manik-manikpun Kalista sebutkan. Para desainer dengan cekatan langsung menggambar apa yang Kalista sebutkan, upaya untuk merancang baju sesuai dengan keinginan istrinya sang miliarder ini.


"Bagaimana?" Desainer itu menunjukan satu buah gaun yang barusan di gambarnya.


"Wow keren." Reaksi Kalista benar-benar di luar dugaan, sangat antusias dan bahagia.


Para desainer itu pun sempat membelalakan matanya ketika mendengar Kalista menggunakan berbagai macam tema untuk photoshoot nya. Itu berarti mereka harus merancang banyak baju, dan mereka seperti mendengar kata lembur untuk malam ini.


Bagaimana tidak lembur? Ketika di hubungi Arka, masing-masing dari mereka sedang mempunyai tugasnya masing-masing, namun Arka dengan segala ancaman, bujuk rayu, dan tentunya bayaran mahal. Mereka pun akhirnya menyetujuinya, namun mereka tidak tahu bahwa temanya akan sangat banyak.


Belum lagi bahan untuk baju, Kalista sendiri mempunyai keinginan tersendiri untuk bahan bajunya. Arka benar-benar menyiksa para desainer itu, semua baju harus selesai besok pagi. Karena Arka akan mengajak Kalista maternity photoshoot hari esok.


"Eh ada apa ini?" Evan kaget begitu masuk rumah ada 3 orang tamu tidak kenal sedang duduk di sofa dan sibuk menggambar baju.


Tiara langsung menatap Kalista, tatapan yang sangat memperhatikan. Ditatapnya Kalista dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Ngerancang baju buat maternity." Jawab Arka datar.


Evan hanya ber-oh saja. "Ini pesanan kalian!" Evan menyerahkan bungkusan makanan pada Arka.


Tiara langsung berjalan ke arah kamarnya. Mulutnya bagaikan terkunci, sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Bahkan untuk bertanya pada Kalista saja ia tidak mampu.


Kalista langsung melayangkan tatapan penuh tanya pada Evan, Kalista ingin Evan menjelaskan sesuatu.


"Nggak tahu! Kecapean kali!" Evan mengedikkan bahunya, kemudian dirinya pun pergi ke kamarnya.


"Biarkan saya mengukur perut ibu, agar pas kami membuat lubangan untuk perut itu." Desainer pria berdiri sambil memegang alat ukur yang seperti kain itu.


"Saya ingin yang elegan, mewah, tampil cantik. Tapi perut saya tidak terlihat alias tertutup, atau dalam kata lain tidak ter-ekpose. Saya hanya ingin memamerkan perut bulat saya dalam balutan baju, saya kurang suka memamerkan perut tanpa sehelai benang pun." Ucap Kalista. Arka langsung merasa lega, karena jika Kalista ingin menggunakan baju dengan perut terlihat berarti Arka harus mencari para photographer wanita. Arka tidak mau kalau sampai ada laki-laki lain yang melihat perut istrinya.


Para desainer itu pun kembali melanjutkan rancangan gaunnya. Mereka mencatat hal-hal yang Kalista inginkan, seperti bahan, manik-manik, bahkan benang yang akan di gunakan pun atas permintaan Kalista.


Setelah mengukur tubuh Kalista, mulai dari perut, lengan, tangan, bahu, pinggang dan lain semacamnya. Arka juga di ukur. Udah model baju Arka sama sekali tidak ribet, Arka menyerhakan pada desainer asalkan harus senada dengan yang Kalista gunakan. Para desainer itu pun pamit pulang. Arka meminta mereka untuk datang kembali besok pagi.


"Kenapa dadakan sih? Kasian loh mereka jadi harus kerja keras." Manik mata Kalista menatap Arka tajam, meminta penjelasan yang masuk akal.


"Biar cepat kelar! Nanti kan kalau sudah maternity photoshoot kita jadi tenang, dan punya lebih banyak waktu untuk kencan dan berduaan."


"Oh gitu!" Kalista langsung berjalan masuk ke kamarnya.


Ketiak akan terpejam kemudian Arka mengingat bahwa dia belum menghubungi MO (Maternity Organizer) Arka langsung menghubunginya, sebebarnya banyak yang menolak karena dadakan. Namun lagi-lagi Arka bisa menyuapnya dengan bayaran yang fantastis. Sehingga mereka menyetujuinya, Arka menjelaskan semua tema, dan mengirimkan beberapa alamat lokasi yang akan di gunakannya untuk maternity besok.


"Nasi pedas, bebek betutu Bali nggak dimakan?" Tanya Arka yang berbaring sambil memperhatikan istrinya yang ingin memejamkan matanya, namun maat itu tidak kunjung terpejam juga.


"Hmmm." Hanya ada gumaman lirih yang keluar dari mulut Kalista.


Arka membuka bungkusan itu. Sesuai dengan namanya "Nasi Pedas Bali" nasi itu benar-benar pedas, dan beda dengan nasi pada umumnya. Arka memakannya dengan sangat lahap.


"Bebek betutunya asli nikmat banget." Arka berbicara sedikit lebih kencang agar Kalista mendengarnya.


Namun rasa kantuknya lebih dahsyat, dengan perlahan Kalista pun tertidur. Arka menghampirinya sebentar, menyelimutinya agar Kalista tidak kedinginan.


Kemudian Arka kembali memakan nasi pedas ayam betutu itu. Karena memang saat ini Arka butuh asupan nasi. Bahkan Arka memakannya pun di kamar bukan di ruang makan. Setelah selesai Arka langsung membersihkan bungkus makanan itu, dan membuangnya pada tempat sampah.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2