SUN FLOWER

SUN FLOWER
RAMBUT BARU 2


__ADS_3

"Elu tuh cakep ta! Cakep banget deh." Ujar Bimo yang sedari tadi memperhatikan Kalista, tangan Kalista terus menerus mempermainkan rambutnya. Sesekali berkaca melalui layar ponselnya.


"Nggak tahu nih si bidadari, mentang-mentang rambut baru hobinya ngaca terus." Saut Bima sambil terkekeh memperhatikan Kalista.


"Cocok nggak sih?" Tanya Kalista, matanya masih sibuk memperhatikan wajah dengan rambut barunya di pantulan layar ponsel.


"Cocok, cakep banget malah." Tiara menepuk pundak Kalista.


"Ah jangan-jangan karena lu lu pada kasian sama gue, jadi bilang cocok. Aslinya emang nggak cocok ya?" Kalista bertanya pada Tiara Bima dan Bimo. Bahkan manik matanya menatap mereka bergantian.


"Nggak cocok gimana sih? Emang dasarnya paras lu udah cakep dari lahir, jadi mau ganti model rambut kaya gimana pun tetap saja cocok." Bima berkata dengan tegas dan sangat serius.


"Nah setuju gue, mau rambut lu di gimbalin juga kayanya cocok-cocok aja tuh selama paras lu cakep!" Ujar Bimo dengan tersenyum, bagaimana mungkin rambut Kalista berubah menjadi gimbal.


"Apaan sih lu bim, gila kali rambut gue gimbal. Jijik ya gue nggak suka! Lagian juga susah cuy di sisirnya." Manik mata itu melotot pada Bimo.


"Emang si Bimo itu otaknya agak-agak gesrek gimana gitu ta, intinya sih rambut ini cocok banget di elu. Lagian kan elu juga lagi hamil, ribet dah punya rambut panjang." Ujar Tiara.


"Lagian nih ya rambut pendek itu lumayan menghemat shampo, dan menghemat waktu. Apalagi kan kalau udah nikah kaya lu mah sering banget mandi subuh, jadi lu keramasnya cepat kan rambutnya pendek. Kebayang dong mandi subuh gimana dinginnya? Maunya mandi pakai kekuatan super ya kan?" Celetuk Bima dengan senyum genit menggoda.


Tiara memicingkan matanya pada Bima, manik mata itu menangkap sebuah kecurigaan. "Jadi, lu juga sering mandi subuh?" Tanya Tiara dengan mata yang masih menatap intens.


"Nah loh, abis ngapain lu mandi subuh?" Kini Kalista pun ikut-ikutan bertanya.


"Jangan-jangan lu juga mandi wajib? Wah parah sama siapa lu?" Bimo juga malah ikut-ikutan memojokkan Bima.


Bima menatap Bimo tajam, menjitak kepala Bimo. "Kaya nggak tahu aja lu! Kan main solo juga perlu mandi, nggak usah sok polos deh bro! Jijik gue." Bola mata itu berputar sangat jengah.


"Main solo itu kaya apa sih?"


Ciyeilah si Kalista pake nanya sesuatu hal yang ambigu seperti itu. Dia sih enak udah nikah, lah apa kabar dengan Tiara Bima dan Bimo? Apalagi laki - laki kan kalau sudah membahas hal - hal seperti ini tidak akan berhenti begitu saja. Pembahasan sensitif seperti itu, memang maunya laki-laki.


"Elu tanyain suami lu aja! Biar sekalian diajarin gimana caranya? Kasian juga kan kalau lu pms berarti suami lu nggak dapat jatah, kasian loh dia main solo. Berhubung lu udah sah, bantuin dong jangan diam aja!" Ujar Bima sambil tersenyum genit.


"Bantuain kaya gimana sih? Apa yang harus gue lakuin gitu?" Bukannya mengakhiri percakapan sensitif ini, Kalista malah semakin mengatakan sesuatu hal yang sangat ambigu ini.


"Hadeuh udah deh! Ini tuh percakapan kelewat intim. Nggak kasian apa sama gue yang belum nikah ini." Tiara berusaha mencoba mengakhiri percakapan ini.


"Ngomongin hal-hal kaya gini tuh seru banget, jadi pengen nikah." Celetuk Bimo sambil cengir cengengesan.


"Ini nih si ibu yang sudah nikah, yang sudah punya pengalaman, cerita-cerita kek, kaya gimana sih rasanya?" Bima menarik turunkan alisnya, menatap dan menggoda Kalista.


"Rasanya campur aduk!" Ucap Kalista dengan mata berbinar. Saat ini Kalista seperti sedang mengingat malam pertamanya dengan Arka, bagaimana dirinya menyerahkan sesuatu hal yang sangat berharga di dirinya.


"Dih malah senyum-senyum sendiri nih si bumil." Tiara menyikut pelan lengan Kalista.


"Rasanya banyak! Intinya sih surganya dunia deh." Kalista tersenyum simpul, namun di mata Tiara, Bima dan Bimo senyum Kalista itu adalah senyum ketika sedang membayangkan sesuatu.


"Bisa di ceritain nggak rasanya?"

__ADS_1


Ya ampun si Bimo ini malah semakin penasaran saja, wajar sih dia jomblo. Apalagi belum menikah, mana tahu rasanya tidur bareng pasangan.


"Ceritain nggak ya?" Kalista sempat berpikir sebentar, telunjuknya mengetuk-ngetuk pelan dahi bagian samping.


"Jangan di ceritain, kasian mereka semua jomblo. Di ceritain juga percuma kan mereka nggak bakalan paham." Arka tiba-tiba datang lalu merangkul pundak Kalista lalu duduk di samping kalista.


"Ceritain aja nggak apa-apa kali, buat pengetahuan dan referensi loh ini. Jadi nanti kalau udah punya istri minimal sudah tahu dan paham lah gitu." Bima sangat antusias ingin mengetahui pengalaman Arka dan Kalista.


"Mau ceritain yang mana nih? Yang waktu malam pertama atau tadi yang sebelum kamu berangkat ke spa dan potong rambut." Arka tersenyum menyeringai, sambil mempermainkan rambut Kalista.


Tiara melebarkan matanya, melotot dan tersenyum menatap Kalista. Begitu pula dengan Bima dan Bimo.


"Siang-siang gitu enak kayanya ya." Goda Tiara dengan kekehan kecilnya sambil meledek Kalista.


"Jangan-jangan tadi ya pas lagi ujan, duh dingin-dingin anget nih." Bimo juga mengedipkan sebelah matanya, menggoda Kalista.


"Di tandai nggak pak? Merah di leher atau dimana nih?" Bima juga tak mau kalah dari Tiara dan Bima.


"Hmmmmm... Tadi aku gigit di mana sayang?" Dengan tersenyum lebar Arka bertanya pada Kalista.


"Di sini! Soalnya kalau di leher kata kamu kurang enak. Soalnya nggak mpuk." Kalista tersenyum lebar.


Oh my God, pasangan suami istri ini malah asyik membicarakan urusan ranjang. Abisnya mereka semua kepo banget sih, Arka kan semangat kalau membahas persoalan ini.


"Oh jadi cewe sukanya di kissmark di dada, bukan leher." Ujar Bima sambil mengetikkan beberapa kata di ponselnya.


"Ngapain lu?" Tanya Tiara yang melihat tangan Bima mengetikkan beberapa kata.


"Beg*! Yang ada nantinya lu malah di putusin. Nikah aja belum udah mau kissmark aja di dadanya." Bimo memukul pelan kepala Bima.


"Ya maksud gue tuh nanti kalau udah nikah, udah sah. Mau gue telanjangin tuh perempuan!" Ucapnya sambil terkekeh.


"Emang ada yang mau sama lu? Mesumnya aja astagfirullah, kegatelan banget kayanya lu!" Tiara melempar sedotan kearah Bima.


"Nanti istrinya kewalahan! Abisnya gatel banget dia." Arka pun memberikan argumennya.


"Iya gatel, kaya kamu!" Kalista menjawil pelan hidung Arka.


"Aku sih memang gatel." Arka mengakui sisi mesum yang ada pada dirinya, "Aku tuh nggak tahan kalau dekat-dekat sama kamu, apalagi kalau malam kamu sukanya pakai dress piyama yang tipis. Aku kan tergoda." Arka mengecup pelan bibir Kalista, kemudian mengecup pipi Kalista.


"Emang dasarnya aja kamu mesum! Suka ndusel-ndusel punggung aku kalau lagi tidur, kamu pikir aku nggak tahu gitu ya?" Tanya Kalista.


"Jadi kamu tahu? Kalau aku ndusel-ndusel bangun dong jangan tidur terus! Itu tuh aku lagi mau banget, tapi nggak tega bangunin istri aku yang lagi tidur." Arka mencomot bibir manyun Kalista.


"Malas! Dosa bangunin istri lagi tidur."


"Dosa? Masa iya? Lebih dosa lagi istri yang tidak mau melayani suaminya."


"Tadi aku udah melayani kamu, padahal ya sebenarnya aku tuh malas kalau siang-siang kaya gitu teh. Enaknya kan malam." Kalista mengedipkan sebelah matanya, menatap Arka dengan tatapan manja penuh cinta.

__ADS_1


"Yaudah nanti malam aku minta lagi ya." Arka juga ikut-ikutan mengedipkan sebelah matanya.


"No no no! Jatah malam kamu kan sudah di ambil tadi." Bibir mungil itu mencebik, wajahnya cemberut tidak terima kalau nanti malam suaminya minta lagi.


"Nggak boleh nolak sayang! Dosa loh! Lagian kan tadi mah kamunya nggak ikhlas, kepaksa kan?" Tanya Arka.


"Iya kepaksa banget! Karena kamunya maksa banget!"


"Eh kamu lupa sayang, aku tadi nggak ada niatan buat bercinta, kan kamu sendiri yang ngegoda aku. Jangan lupa loh!" Ya ampun Arka si suami terbaik itu malah semakin memojokkan Kalista.


"Kamu yang berinisiatif membangunkan sesuatu di balik celanaku, membuka kancing kemeja ku dengan gerakan yang sangat menggoda, tangan kamu pula tuh yang meraba-raba dada bidang aku. Aku juga tahu kamu nggak tahan kan kalau lihat perut aku yang berkotak-kotak itu?" Arka berusaha mengingatkan Kalista perihal tadi setelah hujan reda, memang benar apa yang telah di katakan Arka. Tapi pada mulanya Kalista hanya ingin mengerjainya saja.


"Iya! Habisnya suami ku cakep sih! Badan atletisnya sangat menggoda. Uluh roti sobek ku." Kalista meraba-raba perut Arka.


Pasangan suami istri ini lupa bahwa sekarang dirinya sedang berada di kantin. Dan bahkan masih ada Tiara, Bima, dan Bimo yang sedang duduk bergabung dengan mereka. Saking asyiknya berdebat soal bercinta, sehingga keberadaan mereka terlupakan.


"Akhmmmm... Ruangan CEO kan ada kamar pribadinya, bisa kali raba-rabaannya di kamar pribadi aja!" Ucap Bimo.


Satu kalimat yang keluar dari mulut Bimo langsung membuyarkan percakapan Arka dan Kalista. Kalista langsung melepaskan tangannya dari perut Arka, kemudian celingak-celinguk menatap sekeliling kantin. Ternyata selain di saksikan oleh Bima, Bimo dan Tiara, para karyawan lain pun memperhatikannya. Namun ketika Kalista menatap mereka, mereka malah memberikan senyuman tanda menghormati istri dari CEO.


"Seru banget ya ngomongin soal bercinta yang tadi siang setelah hujan reda, duh bapak CEO dan istrinya ini bikin ngiri aja! Kalau boleh kasih saran sih ya bercinta nya ketika hujan aja. Kan enak tuh lagi kedinginan jadi kehangatan." Saut Bima sambil nyengir.


"Udah bell nih! Yo masuk kerja lagi!" Ajak Tiara pada Bima dan Bimo. "Kalau urusan ranjang dunia serasa milik berdua ya pak bu." Tiara meledek Kalista, sebelum akhirnya ia angkat kaki dari kantin.


Sebenarnya waktu istirahat di kantor ini tuh jam 12:00-13:00 siang, namun karena hari ini agak sedikit sibuk akhirnya jam istirahat pun menjadi jam 14:00-15:00.


"Memang benar ya sayang, kalau urusan ranjang dan percintaan dunia serasa milik berdua." Arka mendusel pipi Kalista, menggigitnya pelan lalu mengecupnya.


Arka membawa Kalista kembali ke ruangannya. Masih banyak berkas dan dokumen yang harus di tandatangani olehnya. Arka menyuruh Kalista duduk di sofa untuk menunggunya. Sekitar satu jam lagi pekerjaannya ini akan kelar.


Kalista duduk di sofa, menunggu Arka yang sedang bekerja. Kalau hanya berdiam saja tentunya Kalista akan bosan, Kalista sudah menonton drakor dua episode, namun akhirnya Kalista memilih untuk bermain ponsel.


Membuka kamera di ponselnya, bukannya ingin mengambil gambar wajahnya. Namun Kalista hanya ingin berkaca, dan memperhatikan wajah dengan rambut barunya.


"Nggak usah ngaca terus bu, cantiknya nggak pernah luntur kok." Ujar Andy yang melihat Kalista terus menerus berkaca di ponselnya.


"Iya emang cakep bini gue, makin cantik macam ABG. Jadi kaya simpanannya sugar Dady." Arka terkekeh geli ketika menyebut sugar Dady.


"Elu jadi sugar Dady gitu?" Andy mentertawakan Arka.


"Iya jadi sugar Dady! Abisnya muka dia imut banget sih, keliatannya muda terus."


"Ya kan aku emang masih muda, 22 tahun loh! Kamunya aja yang sudah berumur." Kalista meledek Arka yang sedang bekerja.


"Tega sekali di katakan berumur oleh istriku yang masih ABG, it's oke lah sudah berumur. Yang penting tuh punya istri masih muda, cantik pula. Eh bentar lagi malah mau jadi mama muda." Arka tersenyum sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2