
Pagi-pagi buta Arka sudah kembali di sibukkan. Arka memang belum memejamkan matanya dari tadi malam, rasa bahagianya mengalahkan rasa kantuk di matanya.
Kedua bocah kembarnya sudah bangun, sedangkan Kalista masih terlelap tidur. Arka berusaha mengajak main kedua bayinya, walaupun bayinya juga pasti tidak mengerti dengan gerak-gerik yang Arka tunjukan.
"Sayangnya Oma, sudah bangun." Suara Oma sangat lembut, Oma mengajak cicitnya untuk berinteraksi.
"Arka emang belum tidur loh ma." Ujar Arka.
"Oma nanya cicit Oma, bukan cucu Oma." Ujar Oma sambil mendelikkan matanya jengah.
"Ya ampun Oma, giliran si bocah kembar sudah lahir, Arka langsung jadi tersisihkan." Arka mendengus kesal. Dengusannya manja sih sebenarnya, karena Arka juga sangat bahagia begitu darah lahirnya lahir semua orang langsung menyayanginya.
Suster telah memandikan bocah kembar itu. Sekarang Arka sedang berada di dekat jendela, menjemur kedua bayinya.
Kalista juga sudah bangun, kini dirinya sedang sarapan. Seperti biasa, Kalista akan menolak menu makanan dari rumah sakit, maka dari itu Arka pagi-pagi buta segera mencarikan Kalista makanan untuk sarapan. Karena sekarang Kalista sedang menyusui, Arka tidak memberikan sarapan roti. Arka membelikan menu sarapan bubur ayam yang ada sayurannya, lengkap dengan jus dan buah.
Hari pertama menjadi seorang ayah, Arka sangat antusias sekali. Telinga selalu peka ketika mendengar si bocah menangis rewel.
Untuk saat ini Arka tidak mengizinkan siapapun untuk mengunjungi istri dan anaknya. Termasuk para sahabatnya juga tidak di izinkan, Arka sangat mewanti-wanti sekali, bahkan pada Oma dan pak Anggara pun Arka sangat selektif sekali. Boleh menyentuh si kembar dengan syarat tangan harus bersih atau steril, minimal menggunakan hand sanitizer.
"Bun, cepat sarapannya! Si cantik mulai rewel nih, katanya pengen asi, laper." Arka menggendong si bayi cantik, sedangkan di bayi ganteng di gendong oleh Oma.
Kalista tersenyum sumringah, tadi malam Arka masih memanggilnya sayang, sekarang sudah manggil bunda. Begitu cepat sekali statusnya berubah menjadi seorang ibu dari dua anak.
Nikmat sekali menjadi seorang ibu, Kalista bahkan baru menghabiskan setengah dari sarapannya. Tapi karena bayinya sudah mulai rewel, ia pun langsung menunda aktifitas mengunyahnya. Mendahulukan anaknya yang menangis ingin asi.
"Begini ya rasanya menjadi seorang ibu, menunda kegiatan apapun demi mendahulukan anak. Seorang ibu juga tidak boleh egois, anak adalah segalanya." Kalista mengambil si bayi cantik di tangan Arka, menggendongny dan menyusuinya.
"Betul, perjuangan melahirkan aja masyaAllah banget. Arka juga tahu kan gimana Kalista berjuang untuk melahirkan si bocah kembar, perjuangannya tidak mudah, bahkan bertaruh nyawa. Sayangi istrimu dalam kondisi apapun, jangan pernah berpaling sedikitpun." Oma berusaha memberikan petuah pada Arka.
"Iya Oma, nggak bakalan Arka berpaling sedikitpun. Arka saja sampai panas dingin menyaksikannya, bahkan Arka sempat merasa bersalah melihat Kalista begitu berjuang melawan rasa sakit. Sampai kapanpun Arka akan selalu menyangi Kalista dan anak-anak, akan selalu berusaha mencukupi semua kebutuhannya. Istri dan anak adalah prioritas utama untuk Arka." Arka mengecup puncak kepala Kalista.
Pak Anggara menyaksikannya dengan haru, Arka begitu beruntung mendapatkan Kalista. Berbeda dengan dirinya yang gagal dalam membina rumah tangga. Gagal mensejahterakan ekonominya, makanya dirinya di tinggalkan oleh Lisa.
Arka (POV)
Kemarin siang berkunjung ke rumah mama, ada perlu sama Dino, tapi emang pengen ketemu mama juga sih. Kalista ikut serta, mama sangat bahagia aku memilih istri secantik dan sebaik Kalista.
Keadaan mama dan Dino cukup sulit, karena semua aset di sita bahkan seharusnya rumah juga di sita menjadi milik gue. Tapi, gue nggak setega itu lah, walau bagaimanapun juga itu adalah mama gue, mama yang telah melahirkan gue ke dunia.
Kita makan sederhana, tapi karena itu merupakan masakan mama rasanya terasa sangat lezat. Selepas makan kami berkumpul dan mengobrol.
Tujuh belas tahun telah berlalu, namun diri ini tak kunjung dewasa, diri ini masih tetap Arka yang membutuhkan kasih sayang orang tua. Terutama kasih sayang seorang mama, dulu memang sempat benci sama mama. Tapi, Kalista dengan sangat sabar selalu menasehatu gue, hingga pada akhirnya gue mengalah dan memang gue juga membutuhkan mama.
Selepas dari rumah mama, ada notif WhatsApp dari Andy. Mengajak kumpul di Coffee shop, sudah lama tidak nongkrong dan menikmati'secangkir kopi di Coffee shop milik Riko. Namun kalau sudah menikah tidak boleh egois, tidak boleh memutuskan sendiri. Maka dari itu gue harus izin dulu sama istri, tapi sebenarnya gue nggak tega karena sepertinya Kalista sudah lumayan cukup lelah dengan hari ini.
Akhirnya Arka meminta izin pada Kalista, Kalista mengizinkannya. Padahal Arka tahu, sebenarnya Kalista sudah sangat lelah dengan kegiatan hari ini.
Sampai lah di Coffee shop, sudah ada dua sahabat gue lengkap dengan kekasih hatinya. Tetapi sang empunya coffee shop tidak ikut bergabung.
Nomornya sih aktif, tetapi tidak di angkat. Nggak biasanya Riko seperti ini. Awalnya kita mengira mungkin Riko masih ada kerjaan yang tidak bisa di ganggu, tapi setelah kita bertanya pada salah satu karyawan Coffee shop katanya Riko ada di ruangannya.
Kita samperin lah ke ruangannya, dan ternyata jreng jreng... Ada adegan mesum di sana. Speechless, bingung juga harus bereaksi seperti apa? Di ruangan itu seorang wanita dan pria dewasa sedang bergumal mencoba mencari pelepasan masing-masing.
Kita semua panik, bukan cuma gue doang. Riko yang selama ini gue kira bakal, ternyata dia bejat. Kita juga tidak bisa menyalahkan si wanita manager coffee shop ini. Pasti ada alasan besar dibalik kejadian ini.
Ternyata memang benar, ada perjanjian dan persyaratan di balik adegan yang mereka lakukan. Manager coffee shop itu bernama Risa. Dia nekat melakukan hal itu karena kondisi yang tidak memungkinkan, dunia yang kejam tidak memberikannya pilihan lain.
Oke kita paham, keadaan sulit membuatnya salah jalan. Tapi Riko? Dia secara sadar melakukan itu semua, bahkan dia yang membuat persyaratan itu. Padahal apa susahnya sih menolong orang yang lagi kesusahan? Lah dia malah memanfaatkan gadis yang bernama Risa itu.
Diantara persahabatan kita berempat memang tidak ada yang suci. Semuanya juga pernah mengalami masa-masa salah jalan. Hanya saja, salah jalan diantara kita hanya sebatas pacaran yang ada mesum-mesumnya, sama-sama pernah mempermainkan hati wanita, sama-sama pernah clubbing, sama-sama pernah mengetuk wine. Tapi tidak pernah sampai merusak anak gadis orang.
Kita berusaha menyadarkan Riko bahwa jalan yang dia pilih itu salah. Kita bukannya so benar, kita hanya ingin Riko kembali menjadi Riko yang dulu. Jika memang dia ingin begitu, kan masih banyak jalan halal lainnya. Misalnya, menikah. Kegiatan mesum tersebut telah berlangsung selama 4 bulan, namun Riko masih kekeuh berbicara mengenai tidak punya perasaan sedikitpun.
Gue berinisiatif untuk mengeluarkan Risa dalam situasi yang terus menerus merusak dirinya, jika terus-terusan melakukan hal itu, justru dirinya akan semakin merasa kotor dan hina. Gue minta Risa berhenti bekerja di Coffee shop dan memberikan pekerjaan di kantor gue, gue juga berjanji akan membayar semua biaya pengobatan ayahnya.
Semua orang pernah salah, semua orang pernah khilaf. Kita sebagai teman terdekatnya tidak boleh mencela dan mengolok-oloknya, apalagi sampai meninggalkannya. Kita sebagai orang waras harus bisa menyadarkan mereka, harus bisa membawa mereka ke jalan yang lurus dari jalan yang menyimpang.
Bukan hanya untuk memisahkan mereka gue melakukan ini semua, tapi tujuan utama gue sebanarnya adalah agar Riko menyadari perasaannya. Bohong banget kalau Riko berkata tidak memiliki perasaan sedikitpun. Gue berharap masing-masing dari mereka menyadari perasaannya, dan melanjutkan hubungannya dalam ikatan suci pernikahan.
Hari semakin sore, gue sebenarnya masih ingin nongkrong di Coffee shop, namun gue nggak enak sama istri. Seharian dia telah menemani gue, dari mulai di rumah mama sampai ke coffee shop pun di temenin. Gurat kelelahan terlihat jelas di wajahnya, kaki bengkaknya semakin membuat gue tidak enak hati mengajaknya terus beraktivitas di luar rumah. Kita memutuskan untuk pulang lebih awal.
Gara-gara Marcelino gue jadi di sibukkan sama tugas kantor. Banyak sekali hal-hal yang harus gue urus. Selepas isya gue pergi ke kamar sebelah, kamar yang gue jadikan sebagai ruang kerja. Biasanya gue bekerja di kamar, namun sudah sebulan ini gue memilih kamar sebelah. Gue nggak tega, soalnya kalau gue lagi banyak kerjaan gitu tuh istri gue selalu setia menemani.
Setelah semuanya beres, gue kembali masuk ke kamar. Ternyata istri gue belum tidur, entah memang tidak bisa tidur atau kenapa? Karena mata gue semakin berat dan terasa sangat di serang ngantuk. Tidak lama setelah membaringkan tubuh, mata ini smekain tertutup dan tertidur lelap menuju alam mimpi.
Baru juga tertidur dua jam, tiba-tiba adalah tangan yang menepuk-nepuk badan ini.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya gue yang masih mengusak kedua bola mata ini. Tidak seperti biasanya istri gue mengganggu jam tidur gue.
"Perut aku sakit hiks hiks hiks." Jawabnya dengan berderai air mata, rasa sakit itu terlihat jelas di wajahnya. Tangannya sibuk memegang perutnya.
Rasa ngantuk ini seketika menghilang di gantkan oleh rasa panik luar biasa. Insting gue mengatakan istri gue akan lahiran. Gue banget dari posisi tiduran, dan langsung membangunkan semua orang yang ada di rumah. Semuanya pun sama paniknya kaya gue.
Oma bahkan sampai menyuruh beberapa sopir untuk menyesap kopi, minimal Seguguk dua teguk deh, yang penting mereka terlihat segar. Oma takut mereka masih ngantuk, lalu menyetir tidak beraturan. Lebih takutnya lagi, takut terjadi apa-apa di jalan.
Ayah pergi lebih dulu ke rumah sakit, mengurus administrasi terlebih dahulu agar nanti ketika gue sampai di rumah sakit, istri gue langsung di tangani.
Gue membopong tubuh istri gue kedalam mobil. Kakinya basah, terdapat air bening yang terus mengalir dari sana. Gue sebabnya nggak mau panik dan kalut, namun lagi-lagi instring gue mengatakan ada yang tidak beres. Cairan bening apa itu? Sepanjang perjalanan ke rumah sakit saja, gue mencoba untuk Googling mengenai cairan itu. Tapi gue nggak mau baca deh, gue mau mendengar langsung penjelasan dokter.
Oma dan beberapa pelayan di ruang pun ikut ke rumah sakit. Mereka membawa beberapa barang yang di butuhkan. Beruntung sekali Kalista sudah packing dari jauh-jauh hari, jadi ketika di butuhkan barang-barang itu tinggal di bawa saja.
Sampai di rumah sakit ternyata beberapa suster telah menunggu. Kalista langsung di bawa ke ruang bersalin, dan suster itu juga memberikan baju berwarna hijau agar gue mengganti baju sebelum ikut masuk ke ruang bersalin itu.
Alhamdulilah semua dokternya perempuan, dari jauh-jauh hari gue sudah bilang sama pihak rumah sakit, nanti ketika istri gue lahiran, gue nggak mau ada dokter laki-laki yang ikut serta membantu persalinan istri gue. Bayangin dong, tubuh aduhay milik istri gue di lihat laki-laki lain.
Salah satu dokter bertanya mengenai ketuban yang pecah.
Pecah?
Apanya yang pecah?
Ketuban itu apa?
Saat ini gue tidak bisa berpikir jernih, gue takut ada yang janggal pada persalinan istri gue. Gue takut bayi kembar gue nggak bisa di selamatkan, sorry gue insecure.
"Selama masa kehamilan, bayi tumbuh di dalam kantung yang berisi cairan di dalam rahim. Kantung itu di sebut kantung ketuban, yang isinya cairan berwarna bening."
Salah satu dokter itu menjelaskan mengenai air ketuban, ada segelenyar rasa hangat dan tenang. Itu artinya air ketuban itu normal, dan semua ibu hamil yang akan melahirkan pasti ketubannya pecah.
"Air ketuban biasanya pecah ketika ibu hamil mulai mengalami kontraksi rahim untuk melahirkan sang bayi. Umumnya setelah 24 jam pecah ketuban, bayi akan segera lahir. Namun apabila selepas itu bayi belum juga lahir, maka kondisi seperti itu bisa di katakan ketuban pecah dini, yang dapat mengakibatkan komplikasi serius."
Bagaikan di sambar petir di malam hari, dengan suara yang sangat menggelegar dan menakutkan. Insecure itu datang lagi, gue takut ketuban istri gue pecah dini. Istri gue terus menerus mengerang kesakitan, bahkan air matanya telah berjatuhan. Diri ini tidak sanggup melihatnya kesakitan, ingin sekali keluar dari ruangan bersalin ini. Namun, sebagai suami yang baik hendaknya gue tetap mendampinginya selama proses persalinan ini berlangsung.
Dokter semuanya telah siap siaga, bukaan demi bukaan sudah di lewati. Mengejan sekuat tenaga, bahkan istri gue hampir kehabisan tenaga.
Kalista, istriku yang cantik. Dia memilih melahirkan secara normal, dia memilih merusak salah satu bagian tubuhnya hanya untuk mengeluarkan suara buah hati. Umunya, kebanyakan wanita meminta persalinan secara sesar agar salah satu organ intimnya tetap terjaga.
"Sakit.. nggak kuat." Ujarnya. Suaranya melemah, sembahnya sudah menurun. Raut wajahnya terlihat sangat lelah, bulir-bulir keringat terus membasahi dahi dan pelipisnya.
"Kamu bisa sayang, kamu kuat. Ayo semangat untuk aku, Oma, ayah dan demi bayi kita. Aku tahu kamu adalah sosok wanita tangguh, semangat sayang."
Aku berusaha menyemangatinya, berusaha menjadi support system untuknya. Seketika hati ini menciut, rasa takut itu kembali hadir. Tiba-tiba ada satu pemikiran, jika yang maha kuasa mengizinkan tolong selamatkan ibu dan anaknya. Tetapi jika tidak diizinkan, tolong selamatkan ibunya saja. Bukannya gue tidak menginginkan kehadiran si buah hati, tapi jika ibunya tidak bisa di selamatkan apakah daya? Mengurus dua bocah tanpa seorang ibu justru itu akan sangat menyiksa, menyiksa batin dan jiwa raga. Tetapi jika ibunya bisa di selamatkan, kita bisa memulai program hamil kembali, atau minimal kita mengadopsi satu atau dua anak dari panti asuhan.
"Oeeeek.. Oeeeek... Oeeeek."
Suara si bayi yang sangat menggemaskan. Tiba-tiba dunia ini terasa sangat indah, di langit bagikan ada pelangi yang cantik, bunga-bunga di taman bermekaran dengan sempurna. Rasa haru dengan rasa syukur bercampur aduk menjadi satu, alhamdulilah malam ini gue resmi menyandang jadi seorang ayah. Seorang ayah dari bocah kembar, perempuan dan laki-laki. Penantian selama sembilan bulan ini berjalan sangat manis, bayi terlahir dengan sehat, sempurna tanpa kurang suatu apapun.
Setelah itu dokter kembali sibuk pada tugasnya masing-masing. Ada yang memotong ari-ari dan sibuk mengurus Kalista, ada yang menyuntikkan obat pada si bayi kembar, ada yang membersihkan ini dan itu.
"Ibu jangan tertidur, ibu harus tetap hidup."
Gue terlalu sibuk dengan si buah hati, sehingga gue melupakan istri gue. Gue langsung menghampiri istri gue, menggenggam erat tangannya, dan terus menerus mengajaknya berbicara. Berharap agar sinergi dan sokongan semangat ini tersalurkan padanya. Kondisi Kalista sangat lemah, mata yang sayu, wajah lelah, tetapi bibirnya terus menerus tersungging senyum.
Gue memperlihatkan si kecil yang baru saja selesai di bersihkan, bagaimanapun caranya istri gue harus tetap hidup dan sehat. Tugas dia masih banyak, yaitu harus mengurus gue dan si bayi. Gue tidak akan rela sampai kapanpun jika Kalista pergi meninggalkan gue dan anak-anak.
Sedikit demi sedikit semangat di diri istri gue mulai bangkit kembali, beberapa perawat memindahkan istri gue ke ruang rawat inap. Gue sengaja memesan ruangan VVIP, karena ruangan VVIP itu luas, dan semua fasilitasnya sangat lengkap, gue berharap Kalista merasa nyaman.
Sebenarnya istri gue ingin pulang, tetapi melihat kondisinya yang melemah gue langsung berkonsultasi dengan dokter, dan dokter menyarankan agar di rawat terlebih dahulu selama beberapa hari.
Oma dan ayah masuk ke dalam ruangan, mereka sibuk melihat dan menatap dua bocah kecil. Cucu dan cicit mereka sangat cantik dan tampan, mereka bahkan tidak henti-hentinya memotret. Hati ini kembali terasa bahagia, lagi-lagi Kalista telah membawa kebahagiaan baru ke keluarga ini.
Ternyata sebegitu peliknya melihat perjuangan seorang istri yang melahirkan, bagian tubuh bawahnya robek karena di terobos oleh bocah kecil itu. Mengejan dan suara erangan tanda kesakitan itu sangat terdengar jelas dan masih terngiang-ngiang di telinga gue. Istri gue telah berjuang sekuat tenaga, dan gue berjanji pada istri gue, gue tidak akan membuatnya hamil lagi. Tetapi, dia malah berbicara akan hamil lagi, dia masih ingin mempunyai anak lagi. Benar-benar seorang istri yang luar biasa.
Malam ini telah menjadi saksi bagimana Kalista bertaruh nyawa untuk melahirkan kedua bocah yang selalu meringkuk di rahimnya.
Wahai kedua bocah kembar, darah dagingku. Semoga kalian menjadi putra putri yang Sholeh dan Sholehah, semoga selalu menjadi terang untuk ayah dan bunda. Semoga kalian selalu menuruti terhadap apa yang ayah dan bunda ajarkan. Sayangku, ketahuilah nak, untuk melahirkanmu keduniaan itu sangat susah, bunda sampai kehabisan tenaga dan hampir menyerah. Kalian harus selalu menghormati dan menyayangi bunda kalian. Ayah dan bunda sangat bahagia melihat kalian berdua terlahir ke dunia.
*****
"Permisi, ruangan ibu Gina di lantai berapa ya?" Tanya Risa ada resepsionis.
Ketika menginjakkan kaki di depan kantor ini, Risa terperangah ternyata kantor yang di maksud oleh sahabatnya Riko itu adalah kantor perusahaan Anggara. Sebuah gedung perusahaan yang menjulang tinggi hampir mencakar langit, dengan bangunan dan arsitektur sangat kekinian, karyawannya banyak dan bahkan hampir semua karyawan yang bisa bekerja di sini adalah mereka yang mempunyai IQ diatas rata-rata.
Risa saja nyalinya hampir ciut, gara-gara shock dan takut tidak bisa bekerja dengan baik di kantor ini.
__ADS_1
"Ada perlu apa? Apakah sudah ada janji? Ibu ini sekretaris dari perusahaan apa ya?" Tanya resepsionis itu sambil memperhatikan tampilan Risa dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Risa yang di tatap seperti itu malah menjadi gugup, tangannya sibuk memilin ujung roknya. Hari ini Risa hanya memakai kemeja putih polos biasa, di padukan dengan rok span hitam yang biasa saja, bahkan kakinya hanya di balut oleh flatshoes hitam polos.
"Saya di suruh kerja di sini oleh..." Risa terdiam sejenak, dia tidak tahu siapa nama laki-laki yang kemarin menyuruhnya untuk datang ke sini. "Oleh laki-laki yang saya tidak tahu namanya, kata beliau saya di suruh bertemu dengan ibu Gina dan bapak apa gitu? Saya tidak tahu namanya." Ucap Risa malu-malu.
"Jangan berkilah! Silahkan keluar. Anda sangat tidak jelas." Resepsionis itu sangat judes, dia bahkan mengusir Risa dengan terang-terangan.
"Bu, saya mohon pertemukan dulu saya dengan ibu Gina." Risa memohon.
Tidak berselang lama, masuklah Andy yang memang baru datang. Stelan kerjanya sangat rapi, rambutnya terlihat mengkilat pakai Pomade tetapi tidak mengikat lebay.
"Sudah datang? Ayo ikut saya keruangan saya." Ajak Andy, Andy bersikap ramah. Bagaimana mungkin Andy memperlakukan Risa dengan tidak baik, Kalista dan Arka saja sangat baik pada Risa.
"Ini orang baru yang di rekrut oleh bapak Arka kemarin, bapak Arka langsung yang merekrutnya! Jadi, tolong hargai wanita ini." Ucap Andy dengan ketus. Andy juga paham, kadang-kadang mbak resepsionis ini bersikap semena-mena pada orang baru.
Risa mencoba mengikuti langkah Andy, dari mulai masuk lift sampai berada di ruangan Andy pun Risa sama sekali tidak berbicara. Bagaikan anak ayam yang patuh pada induknya.
"Eh sudah datang? Kok nggak cari gue?" Tanya Gina sambil tersenyum ramah.
"Hari ini kerjaan numpuk banget, apalagi Arka mengambil cuti selama seminggu karena kalista lahiran. Untuk sementara Risa bantuin kerjaan kamu dulu ya gin, aku masih belum tahu mau menempatkan Gina di departemen mana? Tahu sendiri kan ya kalau bukan perintah Arka, karyawan lain suka semena-mena." Ujar Andy.
"Lagipula, siang ini aku harus menggantikan Arka bertemu dengan klien, belum lagi nanti sore masih ada meeting." Imbuhnya lagi, Andy sudah berfokus pada komputer di depannya.
"Iya! Semangat dong! Masa lesu?" Ujar Gina.
"Iya semangat, soalnya penyemangat aku cantik." Andy menghentikan aktifitasnya sejenak, kemduain menatap Gina sebentar sambil memanyunkan bibirnya.
"Dih gombal." Kemudian Andy dan Gina tertawa cekikikan.
Pemandangan itu cukup membuat Risa terasa sesak, pasnagan yang sangat serasi dan romantis. Mereka berdua juga sangat baik pada Risa, hal itu semakin membuat Risa merasa nyaman berada di kantor ini.
Gina mengajarkan Risa beberapa hal, tugas Risa hari ini cukup menjadi partner Gina. Bahkan ke kantin pun mereka pergi bersamaan, banyak karyawan lain yang memperhatikannya. Biasalah ya mereka menatap anak baru yang selau berada di dekat Gina tetapi pakaiannya sangat biasa saja, sederhana sangat sederhana.
Kelahiran Kalista cukup memikat media televisi Indonesia, dari lagi tadi sampai sudah sesiang ini semuanya menampilkan berita yang sama, berita kelahiran Kalista.
Bahkan postingan Instagram Arka pun menjadi perhatian publik, bagaimana tidak menjadi perhatian publik? Arka terus-terusan memposting kedua bocah kembarnya, ada Kalista juga di postingan itu. Mulai dari si kembar yang hanya berdua, si kembar yang sedang merangkak di atas tubuh Kalista, si kembar yang sedang di jemur oleh Arka. Bahkan postingan yang sangat menuai banyak komentar dan pujian adalah salah satu postingan terbarunya, Arka sedang menggendong si bayi tampan, dan kalista sedang menggendong si bayi cantik. Mereka berpose sederhana, namun caption-nya sangat luar biasa "Tadi malam aku menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan istriku untuk melahirkan si bocah kembar, saat itu aku sadar, bahwa wanita itu tidak lemah, mereka kuat, dan bahkan sangat tangguh. Istriku tercinta, engkau telah menjadi bunda, dan aku sudah menjadi ayah. Kebahagiaan kita telah lengkap sayang. Terimakasih sudah hadir di hidupku, dan memberikan keceriaan untuk Oma dan ayah. Nanti kita rawat dan bimbing dua bocah ini sehingga menjadi kuat dan tangguh sepertimu. I Will always love you❤"
"Ibu baik itu sudah lahiran?" Tanya Risa yang baru saja melihat berita di televisi yang terpasang di dinding ruangan ini.
"Namanya Kalista, iya dia sudah lahiran." Ucap Gina.
"Ibu Kalista istrinya bapak Arka, bapak Arka adalah pemilik perusahaan ini. Sedangkan ibu Kalista dulunya adalah Sekretaris di perusahaan ini. Hubungan mereka sangat unik dan ciamik, bukan semata-mata jatuh cinta karena hubungan sekretaris dan CEO. Mereka adalah teman kecil yang ketemu besar, lalu berjodoh dan menikah." Gina menjelaskan kronologi hubungan Arka dan Kalista.
"MasyaAllah tabarakallah. Semoga rumah tangganya selalu senantiasa di warnai kebahagiaan." Risa yang baru saja mendengar kisah Arka dan Kalista, langsung bisa menyimpulkan bahwa mereka orang yang baik.
"Iya dia menang baik, ramah, dan suka menolong. Dulunya bapak Arka sikapnya dingin dan jutek, bahkan terkesan judes. Bapak Arka bersikap seperti itu karena mempunyai masa lalu yang buruk mengenai mamanya, tetapi alhamdulilah kehadiran Kalista di hidupnya cukup membuatnya berubah drastis, baik dari sikap dan sifat. Mereka selalu romantis." Ujar Gina.
Walaupun mereka mengobrol, tetapi tangan dan mata mereka tetap masih berfokus pada kerjaan.
Karyawan di kantor Anggara sangat ricuh, mereka masing-masing berdiskusi akan membeli kado apa untuk anak boss mereka.
"Permisi." Tiba-tiba Tiara masuk ke ruangan Gina.
Gina dan Risa mendongakkan kepalanya, mereka berdua tersenyum menatap Tiara.
"Eh ada Risa." Tiara tersenyum ramah.
"Ibu Gina nanti kalau mau nyari kado barengan ya." Pinta Tiara, karena Evan juga lagi ada kesibukan makanya Tiara nggak ada teman untuk mencari kado.
"Oke." Jawab Gina singkat.
"Risa juga ikut yuk?" Ajak Tiara.
"Aku nggak deh, tapi sebelumnya terimakasih ya sudah mengajak." Ucap Risa.
Risa benar-benar merasa nyaman bekerja di sini. Baik Gina maupun Tiara sama sekali tidak memandang rendah dirinya, padahal mereka berdua tahu dengan jelas dan menyaksikan secara langsung bagaimana kotornya Risa kemarin sore.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-teman🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1