
Gara-gara Tiara menghilang. Sekarang semuanya malah kecapean gara-gara jalan terlalu jauh. Untuk sampai ke villa semakin terlambat karena Arka mengeluh capek. Sebenarnya Arka mengambil banyak jeda dan istirahat ketika berjalan bukan karena dirinya merasa lelah, tetapi dia takut istrinya kecapean dan takut berefek juga pada kandungan istrinya.
Begitu sampai di villa Kalista langsung merebahkan dirinya di sofa. AC langsung di nyalakan, Arka dengan telaten mengelap sisa-sisa keringat di dahi Kalista, dan memberikannya minum.
Evan dan Tiara malah pergi ke supermarket, nyari cemilan buat isi kulkas, sekalian beli berbagai macam minuman kemasan. Memang manusia dua itu seperti tidak ada capeknya, setelah berjalan cukup melelahkan kaki, sampai villa bukannya istirahat, mereka langsung otw begitu saja.
Awalnya Kalista hanya rebahan saja, namun lama kelamaan malah ke tiduran. Arka duduk di sofa di sampingnya sambil memainkan ponselnya. Pas buka WhatsApp ternyata Andy mengunggah salah satu foto dirinya ketika sedang bersama Gina.
"Gerak cepat juga nih bocah! Udah bisa foto bareng di ruangan dengan pose sok imut." Arka terkekeh memperhatikan foto itu, Andy yang biasanya cool dan lebih berwibawa kini malah bertingkah konyol di dekat wanita yang di cintainya.
Karena merasa bosan akhirnya Arka bermain game online. Namun tetap saja game online pun tidak bisa mengusir rasa bosannya. Kemudian Arka menjelajahi salah satu situs belanja online. Iseng lihat-lihat baju bayi. Bahkan ada sekitaran 25 baju bayi yang Arka masukkan ke troli.
Untuk saat ini Arka memang belum mengetahui jenis kelamin bayinya. Karena Arka dan Kalista sepakat untuk USG pada saat usia kandungan Kalista menginjak 7 bulan. Dan mereka pun berjanji akan belanja baju bayi ketika sudah USG.
Dari arah luar terdengar bunyi klakson mobil, mungkin Evan dan Tiara sudah kembali. Benar saja dua manusia itu sedang berjalan masuk, tangannya menenteng banyak sekali kantung belanjaan, yang tidak lain isinya pasti cemilan.
Tiara melirik Kalista yang tertidur di sofa. "Duh sorry banget gara-gara gue kalian jadi kerepotan, Kalista juga jadi kecapean." Ucap Tiara yang semakin merasa bersalah.
"Oke!" Jawab Arka singkat.
"Udah! Yang penting jangan kaya gitu lagi!" Kata Evan. Evan berusaha membuat Tiara agar tidak merasa bersalah.
Lalu dua manusia itu pun sibuk menata Snack dan berbagai minuman kemasan ke dalam kulkas. Kulkas yang di dapur, di ruang makan, dan yang kulkas-kulkas yang di kamar mereka isi semua. Karena memang mereka belanja sangat banyak.
Rasa lelah itu menjadikan Kalista tidur sangat lelap, bersatu dengan mimpinya di waktu yang masih tergolong pagi.
Setelah tertidur dua jam, Kalista pun terbangun karena perutnya keroncongan. Janin di perutnya seolah berontak meminta asupan gizi.
Karena kapasitas mobil hanya menampung 4 orang, akhirnya Arka menyuruh pak sopir untuk berisitirahat saja di villa. Evan yang menyetir, Tiara di sampingnya. Di kursi belakang di duduki oleh Kalista dan Arka.
Mobil melaju dengan perlahan, Evan menggunakan google map untuk sampai ke restoran Laci Bali. Karena jarak dari villa untuk sampai ke restoran itu lumayan jauh. Dan jika tidak menggunakan google map Evan takut nyasar.
Perjalanan yang lumayan memakan waktu itu pun akhirnya sampai. Selama dalam perjalanan Arka sibuk menyetel musik klasik dari ponselnya, ponselnya itu di dekatkan ke perut Kalista. Kata Arka biar dede bayi'nya nggak bosan selama di perjalanan.
Setelah memarkirkan mobil, mereka semua pun masuk ke dalam restoran Laci Bali itu. Suasana di restoran ini sangat nyaman, view yang sangat indah, dan restoran ini pun sangat menjaga kebersihan.
Kalista memilih tempat duduk yang outdoor, tujuannya adalah simple. Karena outdoor mempunya view yang nyata dan indah. Lagi pula kursi dan meja ini di kelilingi oleh sebuah pohon, jadi sangat sejuk.
Beberapa waitres menghampiri, dan menanyakan apa yang akan di pesan? Kalista memilih menu Baramundi, Coconut espuma, dan jus alpukat, Arka meminta menu untuknya di samakan dengan istrinya. Sedangkan Tiara dan Evan memilih menu Baramundi, Lemon Basil, dan jus jeruk.
Selama menunggu waiters membawakan pesanan mereka. Kalista sibuk sekali dengan ponselnya, mengabadikan keberadaannya di tempat ini. Mulai dari ber-selfie, hingga foto berdua dengan Arka. Semuanya Kalista unggah di insta storynya.
Semua makanan yang dipesan telah tersedia di atas meja. Makanan yang dibuat oleh chef terkenal itu sangat cantik dan menggugah selera. Selera makan Kalista tiba-tiba meningkat berkali-kali lipat. Namun sebelum sendok dan garpu merusaknya, Kalista memotretnya terlebih dahulu, "Untuk Feed Instagram." Katanya dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
Kalista sangat menikmati Baramundi pesanannya "Mantap bsnget, enak empuk rempah-rempahnya terasa sangat nikmat di lidah." Mulutnya sibuk mengunyah, baru mulai makan saja Kalista sudah mengatakan pada Arka ingin menambah lagi Baramundinya.
Ya memang benar Baramundi ini sangat nikmat, Arka, Tiara, dan Evan pun merasakan hal yang sama. Setelah habisa Kalista langsung memanggil waiters, memesan lagi. Lalu memulai makan lagi sampai habis. Makannya sangat lahap sekali.
Arka?
Sama sekali tidak masalah jika istrinya pengen nambah. Asalkan istrinya bahagia dan tidak kelaparan, maka dirinya akan selalu menurutinya. Bahkan Arka sebenarnya lebih sibuk memperhatikan istrinya, Arka takut istrinya tersedak karena makan sangat cepat.
"Wah ini juga enak banget." Sesendok coconut espuma telah masuk kedalam mulutnya, bahkan Kalista sampai memejamkan matanya merasakan kenikmatan lelehan coconut espuma di lidahnya.
Arka yang berada di sebelahnya langsung menoleh, senyum simpul ia berikan pada istrinya. Tangannya mengusak rambut istrinya. Dirinya telah lebih dulu mencoba coconut espuma itu, namun reaksi dan antusias yang di berikan istrinya itu benar-benar lucu dan menggemaskan.
"Ini juga enak loh, mau coba?" Tawar Tiara yang baru saja memasukan sesendok lemon basil.
Kalista langsung saja mencicipi lemon basil yang di pesan oleh Tiara. Dan.. "Segar banget, ummmm yummy!" Suaranya terdengar nyari dan sangat lucu seperti anak kecil.
"Makanan di sini enak-enak banget sih! Jadi punya pikiran pengen nyuri resepnya." Sambungnya lagi yang langsung di sambut gelak tawa oleh Arka, Tiara dan Evan.
"Jangan di curi resepnya! Nanti restoran ini bangkrut, soalnya istriku juga masakannya nggak kalah enak." Arka mencibit gemas pipi Kalista.
"Ngaco deh! Masakan chef Arnold mana bisa di samaratakan dengan masakan ku yang masih berantakan, kurang ini dan kurang itu." Bantah Kalista.
Lalu Kalista menyeruput jus alpukat, sebenarnya bukan menyeruput tapi lebih ke meneguknya sampai habis. "Wah parah ini mah masa jus alpukat aja bisa beda gini rasanya? Empat kali lipat lebih enak daripada yang di jual di restoran-restoran lain." Ucapnya sambil menyenderkan punggungnya di senderan kursi yang di duduknya.
"Ya ampun bro bini lu! Nyari cewe kaya gini di mana sih? Gemas amat pengen gue bungkus." Evan terkekeh mentertawakan tingkah Kalista.
"Bungkus tuh yang di sebelah! Culik bawa ke KUA!" Arka berkata sambil menunjuk Tiara.
"Oke siap!" Jawab Evan.
__ADS_1
Lalu Evan pergi ke kasir untuk membayar semua makanan. Tiba-tiba seorang wanita bule (mungkin turis) berjalan sambil berbincang-bincang via telpon. "Bruuuuuuuughh aawww." Kalista meringis karena tertabrak oleh wanita bule itu, tangan Kalista sampai gemetaran karena bertumpu pada kursi di sebelahnya.
"Kalau jalan yang benar dong! Perhatiin jalan! Jangan sambil teleponan!" Bentak Arka dengan emosi yang sudah meluap.
Arka segera mendudukkan Kalista, para pengunjung restoran itu pun sempat memperhatikannya. Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian? Suara Arka sangat menggelegar, sehingga semua pengunjung tertarik untuk menyaksikannya.
"Sorry, I don’t intentionally." Ucapnya menggunakan bahasa Inggris.
Arka sangat sibuk memeriksa kondisi Kalista. Emang dasarnya aja Arka terlalu panik. Kalista baik-baik saja, kandungannya juga baik-baik saja. Kalista mengiris karena kaget tubuhnya terlimpung hampir jatuh.
"Whether to be in bring to the doctor?" Tanya nya lagi, sepertinya di wanita bule itu cukup bertanggung jawab atas kesalahannya.
"Don’t need. I just fine." Kalista tersenyum ramah. Kemudian pergi keluar dari restoran itu. Tiara membuntutinya dari belakang.
Tidak lama kemudian Evan keluar, berlari ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Semuanya langsung masuk ke dalam mobil.
"Langsung pulang? Atau kemana dulu?" Evan menoleh ke belakang, meminta jawaban Arka.
"Kira-kira mau kemana?" Arka menatap Kalista.
Kalista terdiam, dirinya seperti sedang berpikir sesuatu. "Hmmmmm." Hanya gumaman itu yang keluar dari mulutnya. Padahal Arka, Evan dan Tiara sedang menunggu sebuah jawaban.
"Nggak tahu! Terserah kalian aja!" Ucapnya datar.
"Muter-muter aja! Kemana kek gitu? Abis-abisin bensin aja!" Perintah Arka.
Namanya muter-muter tanpa tujuan ya begitu, benar-benar real cuma muter-muter aja. Semuanya malah bingung harus kemana.
"Eh btw, kalian tadi beli apa aja?" Tanya Kalista.
Evan yang sedang mengemudi langsung menoleh pada Kalista, kemudian dia kembali fokus mengemudi.
"Snack sama minuman kemasan." Jawab Tiara.
"Nggak beli buah?" Tanya Kalista, dahinya sampai berkerut.
"Nggak! Lupa gue!"
"Sekarang ke supermarket dulu, mau beli buah!" Pinta Kalista yang langsung menyenderkan kepalanya di bahu Arka.
Mobil pun melaju menuju super market, jalanan macet padat merayap. Bahkan Kalista sampai merasa bosan. Duduk lama di dalam mobil membuat kaki Kalista keram. Kalista ingin mengeram tapi ia tahan, Kalista tahu reaksi Arka pasti bakalan berlebihan. Semenjak Kalista hamil Arka mempunyai penyakit panik.
"Kenapa? Sakit atau gimana?" Arka melihat Kalista memejamkan kedua matanya, raut wajahnya memperlihatkan aura kesakitan.
"Nggak apa-apa." Ujar Kalista senormal mungkin, senyum simpul menghiasai wajahnya.
"Really?" Arka mengerutkan dahinya, sebenarnya Arka cukup paham dengan mimik wajah istrinya.
"Iya nggak apa-apa."
Kalista langsung saja ******* bibir Arka, Kalista tidak mau Arka terus bertanya, sedangkan kakinya sangat terasa nyeri karena kram. Otot-otot kakinya menegang, jika kaki itu tersenggol sudah bisa di pastikan Kalista bakalan meringis dan teriak.
Mendapat serangan dari istrinya Arka tentu saja sangat antusias. Tengah hari di dalam mobil dalam keadaan macet mereka malah menciptakan suasana menjadi sangat panas. Keduanya terlarut dalam cumbuan yang memabukkan, sehingga melupakan keberadaan Evan dan Tiara.
Dua orang di belakang yang dari tadi sibuk mengobrol tiba-tiba suaranya tidak kedengaran, suaranya menghilang bagai di telan bumi. Yang terdengar hanya bunyi klakson dari mobil yang berada di sebelah yang sedang berderetan sangat panjang karena macet.
Tiara menoleh ke belakang, matanya melotot sempurna, susah payah ia menelan saliva nya. Tangannya langsung hinggap di dahinya, memijit-mijitnya pelan. "Kak jangan lihat ke belakang!" Perintah Tiara yang kini mengalihkan pandangannya ke jendela mobil.
"Kenapa?" Evan menautkan sebelah alisnya, Evan merasa bingung dengan ucapan Tiara.
"Jangan lihat aja!" Kata Tiara datar.
Karena rasa penasaran yang sangat besar, akhirnya Evan pun menoleh ke belakang. Betapa kagetnya ia melihat Arka dan Kalista sedang bercumbu mesra dengan sangat asyik dan menggairahkan.
"Enak banget ya siang-siang gini." Evan tersenyum menyeringai pada Tiara.
"Enak kalau udah sah kak, kalau belum mah dosa." Lirih Tiara.
Jalanan pun telah kembali ke mode normal. Macet tahun berlalu, dan Evan sekarang sudah melajukan mobilnya menuju supermarket.
Kalista menyadari bahwa mobil telah melaju, ia mendorong pelan kepala Arka. Cumbuan itu pun terlepas, deruan napas mereka saling bersahutan.
"Sempat-sempatnya hot kiss di dalam mobil, mana macet parah." Celetuk Evan yang sedang menyetir.
__ADS_1
"Jarang-jarang di serang duluan, jadi kalau lagi di serang ya harus serang balik, rezeki nggak boleh di tolak." Ujar Arka yang sedang berkaca melalui ponselnya Arka melihat bibirnya bengkak, karena di gigit Kalista.
Kalista sibuk mengatur deru napasnya, punggungnya ia senderan ke kursi mobil
Matanya terpejam.
Begitu sampai di depan supermarket, Arka langsung mengambil troli dan mendorongnya. Tangan sebelahnya sibuk menggenggam tangan Kalista.
Ketika Arka masuk banyak sekali yang memperhatikan Arka mulai dari karyawan supermarket hingga orang-orang yang sedang berbelanja.
Walaupun Arka hanya memakai celana pendek hoddie berwarna putih dan sendal jepit. Sungguh jauh dari kesan rapi CEO ketika di kantor. Namun memang tidak bisa di pungkiri, walaupun hanya memakai pakaian sederhana, ketampanan Arka sama sekali tidak pudar. Laki-laki jangkung ini terlihat sangat mempesona.
Kalista?
Tentu saja merasa bangga mempunyai suami yang tampan dan tajir melintir. Kalista tahu sekarang sedang banyak mata yang memperhatikan suaminya, maka dari itu ia malah semakin menempel. Seolah-olah ia ingin memberitahukan pada semua wanita yang melirik Arka bahwa ia lah sang pemilik hati dan tubuhnya. Pemilik laki-laki tampan seutuhnya.
Arka sibuk memilih buah-buahan. Kalista bilang ia ingin membuat salad buah. Tangan Arka aktif memilih buah kiwi yang kualitasnya bagus, Kalista melangkah menjauh dari Arka. Kalista mencari nugget, bakso, dan sebagainya. Karena Kalista sangat suka ngemil di malam hari.
"Hi, nice to meet you." Seorang wanita cantik dengan postur tinggi, tubuhnya ramping apalagi perutnya sangat rata. Senyum sumringah menghiasai wajahnya, lesung pipit muncul begitu saja di pipinya, semakin menambah kesan manisnya. Celana pendek 25cm dari atas lutut, atasnya menggunakan kembem yang hanya menutupi dadanya. Bahunya terbuka lebar, dan perutnya terekpose tanpa sehelai benang pun.
Mungkin dulu ketika Arka masih lajang, Arka akan merasa senang jika di ajak kenalan oleh wanita. Apalagi wanita ini sangat cantik, plusnya body bagus dan sangat seksi. Umumnya laki-laki normal tidak akan mampu menolak pesonanya.
Namun kini Arka berbeda, Arka telah berubah. Status pernikahan di pegang teguh olehnya, di hatinya hanya ada satu wanita yang teramat sangat di cintainya. Yaitu Kalista.
Arka hanya menoleh sekilas, kemudian ia kembali sibuk memilih anggur merah dan anggur hijau. Yang ada di benak Arka saat ini adalah "Apaan sih nih cewek, kenal aja kagak kenapa so akrab banget."
"Gue Jennifer! Boleh tahu siapa nama lu?" Ternyata wanita itu lancar berbahasa Indonesia, tadinya Arka pikir dia turis.
Bukannya menjawab Arka malah mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin pernikahan itu selalu tersemat di jari manis, tidak pernah lepas dan tidak akan Arka lepaskan sampai kapanpun, kecuali ketika maut menjemput.
Wanita yang menyebutkan namanya Jennifer ini langsung terkekeh sambil memperhatikan wajah Arka. "Ya ampun terikat pernikahan maksudnya? Ayolah itu kuno, bersenang-senang itu lebih baik." Katanya, ekspresi wajah meledek masih ia perlihatkan.
Arka?
Masih kekeuh sama pendiriannya. Arka sama sekali tidak tergoda oleh Jennifer, suaranya yang dibuat serak, tubuh indah dan seksinya masih belum bisa mengalihkan perhatian Arka. Tembok pertahanan dengan sikap dingin diatas rata-rata itu sama sekali tidak mencair. Gunung es itu hanya akan mencair dan meleleh jika bersama Kalista.
"Kiwi, anggur merah dan anggur hijaunya banyakin! Aku mau buat salad buah yang banyak." Ucap Kalista tiba-tiba menghampiri dan langsung memasukan nugget, bakso, dan otak-otak kedalam trolli.
"Oh iya apel merah mana? Belum ngambil ya! Pokonya aku mau makan apel merah yang banyak!" Sambungnya lagi.
Arka mengusak puncak kepala Kalista, sehingga beberapa helai rambut Kalista jatuh ke bagian depan. Arka menyelipkan rambut itu ke belakang telinga Kalista. Mencium pipi Kalista sekilas. "Bawel banget bumil, tenang saja apapun maumu semuanya akan kuturutin!" Arka berjongkok mengusap perut buncit itu lalu menciumnya.
Jennifer masih ada di sebelah Arka. Dia memperhatikan sikap Arka pada Kalista. Bahkan dirinya sampai mengerutkan dahinya dalam, bagaimana mungkin laki-laki ini tidak tergoda padanya, sedangkan sama wanita yang berperut buncit itu sangat memanjakannya. Padahal jika di lihat dari fisik Kalista kalah jauh dari Jennifer. Jennifer dengan tubuh sempurnanya terlihat seperti model internasional.
Arka mengangkat tangan Kalista dan tangannya. Cincin yang tersemat di jari manis Kalista modelnya sama dengan yang tersemat di jari manisnya. "Istri gue!" Kata Arka. Kemudian Arka mendorong trollinya menuju kasir, tidak lupa jari jemari Kalista selalu berada dalam genggamannya.
Jennifer merasa geram, baru kali ini ada laki-laki yang menolaknya mentah-mentah, bahkan untuk menatap matanya pun tidak mau.
Kalista menoleh sekilas. "Cakep banget padahal tuh cewek!" Ujarnya sambil menatap Arka.
"Nggak ada yang lebih cakep daripada kamu! Wanita yang bersedia menua bersamaku dan mau melahirkan anakku. Kamu adalah istri terbaik dan tidak akan pernah tergantikan posisinya." Arka mencium puncak kepala Kalista.
Semua orang yang sedang berbelanja, baik muda ataupun tua, para karyawan dan bahkan turis pun memperhatikannya. Semuanya menatap penuh iri, mereka ingin sekali seperti Kalista, di perlakukan dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Gila gila parah! Ini bapak CEO dan istrinya udah kaya artis aja! Mengundang banyak perhatian." Evan menggelengkan kepalanya, dirinya kagum pada sosok sahabat yang berada di hadapannya ini. Evan melihat dan menyaksikan semuanya, dari awal wanita yang bernama Jennifer itu meminta berkenalan, namun Arka enggan untuk menanggapinya. Dirinya malah semakin dingin seperti puncak musim salju.
"Weh jelas dong!" Arka menyombongkan dirinya.
"Nggak kegoda pak? Padahal cewe tadi bodynya kaya gitar spanyol, berasa kaya model internasional deh." Ucap Tiara.
Sebenarnya Kalista merasa sebal, karena secara tidak langsung Tiara sedang membandingkan wanita tadi dengan dirinya.
"No! Prinsip gue, the one and only my wife! Always beautiful, pintar masak, penyayang, sabar, perhatian, dan bisa memanjakan suami. Semua yang gue butuhkan ada di Kalista, buat apa sih body cakep, atau tinggi kaya egrang!" Arka merangkul Kalista, mengecup keningnya lalu memeluknya.
"Tuh jadi cowok tuh gitu kak! Setia! Ini mah cakep dikit di lirik, bening dikit lirik! Glowing shimmering lirik! Mulus lirik! Sono aja dah pacaran sama bihun! Putih, langsing, glowing, muluuuuuuuus!" Tiara memutar bola matanya jengah. Wajahnya di tekuk.
Evan menatap Tiara, senyum menyeringai muncul. Sepertinya Tiara merasa cemburu karena Evan memuji keindahan tubuh Jennifer. "Mbaknya jealous nih?" Evan terkekeh sembari menyentil hidung Tiara. "Jangan cemberut mbak! Jelek tahu!" Evan terkekeh melihat tekukan wajah Tiara.
Mereka berempat asyik mengobrol, padahal lagi ngantri di kasir. Tatapan orang-orang sama sekali di hiraukannya. Supermarket ini berada milik mereka.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤