
Usia Nathan dan Nayla kini sudah memasuki 4 bulan. Kalista dan Arka sudah semakin mahir dalam mengurus buah hati mereka, 4 bulan benar-benar sudah menjadi rutinitasnya, dan bahkan Kalista semakin terbiasa dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga sekaligus bunda dari anak-anaknya itu.
Repot?
Itu sudah pasti, tetapi Kalista tidak mengambil pusing. Kalista lebih memilih menikmati semua momen. Kalista juga merupakan bunda yang cerdas, dia memperhatikan dengan benar tumbuh kembang Nathan dan Nayla. Bukan hanya memperhatikan saja, Kalista menuliskannya di laptop. Mungkin beberapa file itu nantinya bisa di cetak, atau mungkin di jadikan novel.
Di samping mengurus Nathan dan Nayla, Kalista juga aktif melakukan olahraga pembentukan tubuh agar kembali ramping seperti waktu gadis. Tetapi, Kalista juga tetap memperhatikan asupan makanan untuknya, karena apapun yang di makanan olehnya sangat berpengaruh untuk gizi anaknya.
4 bulan ini juga, Arka telah menjadi suami sekaligus ayah yang baik. Ketika malam hari Nathan ataupun Nayla menangis karena ingin mimi, Arka selalu ikutan bangun. Arka menemani Kalista, karena menurut Arka ini juga merupakan tanggung jawabnya.
Yang mengurus Nathan dan Nayla bukan hanya Kalista dan Arka saja, Oma dan pak Anggara juga ikut andil. Loh kok cuma mereka saja? Nggak ada baby sitter? Baik Arka, Oma maupun pak Anggara sebenarnya menyuruh Kalista menggunakan jasa baby sitter, namun Kalista menolak, Kalista ingin dirinya sendiri yang merawat Nathan dan Nayla, Kalista ingin dirinya sendiri pula yang menyaksikan bagaimana tumbuh kembangnya Nathan dan Nayla.
Walaupun cukup sibuk dan repot mengurus bayi, Kalista juga tetap merawat tubuhnya. Bahkan pagi-pagi sekali dia sudah wangi, sudah dandan pula. Katanya sih biar Arka nggak kegoda wanita di luaran sana. Tidak sampai di situ saja, Kalista juga kerap kali membuatkan Arka sarapan dan membawakan kopi di termos kecil. Arka bilang kopi di kantin kantor tidak seenak kopi buatan Kalista.
"Bangun! Udah pagi loh ini." Tangan Kalista menepuk-nepuk punggung Arka. Arka masih tertidur nyenyak dan malah semakin menyusupkan kepalanya di tengah-tengah bantal.
Sudah menjadi kebiasaan, Arka sangat susah di bangunkan di pagi hari. Wajar saja sih, seharian di kantor membuatnya lelah, di tambah lagi malamnya Arka menemani Kalista bergadang. Maka dari itu Arka susah untuk di bangunkan.
"Ayah, sudah pagi." Teriak Kalista di balik pintu. Sekarang Kalista mengecek kedua anaknya, apakah masih tertidur atau sudah bangun?
Nathan dan Nayla masih meringkuk di boxnya masing-masing. Tidurnya sangat pulas dengan napas teratur.
"Ayah! Nanti telat ngantor." Kalista menepuk punggung Arka cukup keras, lama kelamaan Kalista malah merasa kesal dan jengkel pada Arka.
"Aww.. sakit bun, biarin aja lah telat dikit, siapa yang berani marahin CEO di kantor Anggara?" Ujar Arka dengan suara rendah, bola matanya masih tertutup, sekarang Arka malah menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut itu.
Kalista lebih memilih untuk pergi ke dapur, menyiapkan sarapan untuk suaminya yang masih tertidur pulas. Selepas kepergian Kalista, Arka juga berusaha bangun dan melawan rasa kantuknya.
Arka bergegas pergi ke kamar mandi untuk menyelesaikan ritual bersih-bersihnya. Tidak lama, bahkan sangat singkat. Air dan badan Arka sama sekali tidak sinkron dan bahkan saling menolak, rasa dingin itu sangat menyiksa bahkan sampai menembus tulang.
Arka tersenyum melihat stelan kerjanya yang menggantung di samping meja rias. Walaupun Kalista disibukkan oleh kedua bocah kembar, tetapi dia tetap menjalankan perannya sebagai seorang istri. Stelan kerja itu telah disediakannya, sudah di setrika dengan sangat rapi.
"Good morning bunda." Arka yang baru saja sampai di meja makan, langsung saja mengecup puncak kepala istrinya yang sedang mengoleskan selai cokelat pada roti untuk Arka sarapan.
"Jam berapa ini? Susah banget deh di banguninnya." Bibir Kalista mencebik tatkala mengucapkan kalimat itu.
"Aku kecapean bun." Ujar Arka membela diri, kemudian duduk di salah satu kursi di meja makan.
"Padahal kan aku udah bilang, biar aku aja yang bergadang. Aku tuh bukannya ngelarang kamu nemenin aku dan bantu jagain si kecil, tapi aku tahu pagi sampai sore suamiku sibuk di kantor. Aku lebih khawatir terhadap fisik kamu." Ujar Kalista sembari menjelaskan, tangannya meletakkan roti selai cokelat itu ke piring Arka.
"Loh nggak bisa gitu dong! Di pikir itu anak kamu doang apa? Aku ini ayahnya." Ujar Arka sedikit sewot, nada suaranya meninggi tanpa kompromi.
Kalista mematung di tempatnya. Kok Arka tiba-tiba berubah sewot?
"Iya itu anak aku dan anak kamu. Sekarang suamiku sarapan dengan tenang ya! Ini bekal untuk makan siang di kantor, dan ini kopinya sudah bunda siapkan. Jangan lupa di bawa ya." Setelah beberapa detik Kalista berdiam diri, kini Kalista telah menguasai dirinya kembali.
"Semangat kerja untuk hari ini." Kalista mengecup pipi Arka, "Aku ke atas dulu, takutnya Nathan dan Nayla sudah bangun."
Kalista meninggalkan meja makan, punggungnya kini semakin menjauh seiring dengan langkah kakinya yang menapaki satu demi satu anak tangga menuju kamar Nathan dan Nayla.
Seketika Arka terdiam, Kalista begitu lembut memperlakukannya. Kalista setelah melahirkan jadi banyak berubah, sikap keras kepala dan tidak mau mengalahnya telah menghilang. Bahkan daripada berdebat dengan Arka, kini Kalista malah memilih untuk mengalah.
__ADS_1
"Istri kamu itu usianya 23 tahun, seharusnya dia lagi senang-senangnya berkarir, senang-senang ngemall, main kesana-kemari. Istri kamu itu hebat, di usianya yang masih sangat muda, Kalista memilih untuk menikah, menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan sekarang dia udah sibuk mengurus Nathan dan Nayla. Hari ini ayah melihat satu perubahan lagi dari sikap istri kamu, Kalista yang keras kepala dan selalu berambisi telah tiada, sekarang Kalista rela mengalah daripada harus berdebat dengan suaminya. Kamu itu beruntung, perempuan seperti Kalista mungkin hanya ada satu di dunia ini. Lain kali kalau ngomong sama istri, intonasinya di perhatikan, jangan sampai sewot dan berbicara dengan nada tinggi." Pak Anggara memberikan nasehat kepada Arka, pak Anggara menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sikap Kalista dalam memperlakukan Arka.
"Benar tuh apa yang di katakan ayahmu. Justeru mulai sekarang kamu harus sering memperhatikan dan memanjakan istri kamu. Kamu tahu sendiri kan bagaimana reportnya mengurus Nathan dan Nayla. Selain itu dia juga masih tetap melayani kamu dengan sebagaimana mestinya, stelan kerja masih di siapkan, sarapan, bahkan bekal makan siang dan kopipun di persilahkan. Padahal istri kamu sangat repot, tapi dia tetap memperhatikan perannya sebagai istrinya. Oma tahu, cucu Oma itu anak yang baik. Makan dari itu, Oma minta kamu untuk memperhatikan istri kamu dengan lebih lagi, sering-sering memanjakannya, bila perlu sering-sering beri kejutan deh, biar dia nggak bosan ataupun merasa capek ngurusin Nathan dan Nayla." Oma juga memberikan petuah terbaiknya untuk Arka, Oma sangat bahagia Arka mendapatkan Kalista sebagai pendamping hidupnya, tetapi Oma agak takut dengan sikap Arka, Oma takut Kalista pergi meninggalkan Arka karena sikap Arka sendiri.
Semua yang dikatakan oleh pak Anggara dan Oma, masuk dan terserap kedalam pikiran Arka. Arka merenung sekilas, semuanya benar. Bahkan Arka juga merasakan perubahan siap Kalista yang signifikan.
"Iya." Ujar Arka sambil tersenyum pada Oma dan pak Anggara.
Semuanya kembali lagi melanjutkan sarapannya, mengunyah rotinya masing-masing dan meneguk segelas susu.
Setelah selesai sarapan, Arka menyempatkan naik dulu ke kamar Nathan dan Nayla.
"Loh ayah belum berangkat?" Tanya Kalista ketika melihat Arka membuka pintu kamar Nathan dan Nayla.
"Belum dong! Kan ayah belum cium bunda, Nathan dan Nayla. Kalau belum cium kalian tuh ayah nggak semangat kerja." Garis bibir Arka terangkat sempurna membuat sebuah lengkungan indah.
"Maaf ya bun." Arka mengecup puncak kepala Kalista, mengucap dahinya dan kedua pipinya. Sebenarnya Kalista cukup bingung dengan kata maaf yang keluar dari mulut Arka.
"Anak ayah yang cantik dan ganteng jangan nakal, jangan rewel, nurut sama bunda ya. Jangan biarkan bunda kecapean!" Arka mengecup puncak pipi Nathan dan Nayla.
"Ayah berangkat kerja dulu, daaaaaah." Arka melambai-lambaikan tangannya pada Kalista dan kedua bocah kembarnya.
Setelah Arka berangkat kerja, lalu Kalista kembali sibuk mengurusi kedua bocah kembarnya, memandikannya, menggantikan baju dan popoknya, untuk urusan menjemur bayi alhamdulilah itu tidak terlalu ribet, cahaya matahari selalu singgah di balkon kamar Nathan dan Nayla, sehingga Kalista tidak perlu repot-repot membawa Nathan dan Nayla ke taman di halaman depan.
Sekarang Nathan dan Nayla kembali full ASI, mereka menolak di berikan susu formula. Akhirnya mau tidak mau Kalista harus memakan semua makanan yang bergizi dan membuat air susunya subur dan banyak.
Karena air susunya yang subur dan melimpah ruah, terkadang baju yang Kalista kenakan sampai basah, karena remasan air susunya sendiri. Setelah berkonsultasi dengan dokter, Kalista memutuskan untuk memompanya dan menyimpannya di botol susu bayi, lalu di simpan kembali di lemari pendingin agar tidak basi.
*****
Arka baru saja kembali dari pertemuannya dengan salah satu rekan bisnis. Rekan bisnisnya kali ini cukup membuat Arka pusing tujuh keliling, seorang wanita yang berusia sama dengan isinya, sangat keras kepala dan banyak maunya, bahkan sampai ada beberapa hal yang di komplain olehnya, parahnya menuntut Arka setuju dengan pemikirannya.
Arka tentu saja menolak, Arka memutus hubungan bisnis ini, mungkin orang lain menyayangkannya, tetapi apa boleh buat? Baru saja membahas planning, atitude dan tabitanya sudah terlihat jelas. Bagaimana nanti kedepannya? Seharusnya kerja sama bisnis di setujui oleh kedua belah pihak! Lah ini? Satu pihak cenderung lebih dominan.
"Ngapain lu di sini?" Sarkas Andy ketika membuka pintu ruangan kerjanya, di sofa ada Riko yang sedang rebahan.
"Nyari Risa, tapi dia malah asyik makan siang dengan pacar lu." Ujar Riko yang langsung merubah posisinya dari rebahan menjadi terduduk.
"Mantan kali. Kan Gina udah mutusin gue di hadapan lu malah." Celetuk Andy, dan langsung mendaratkan bokongnya di sofa sebelah Riko.
"Masih mantan aja? Gue kira elu udah baikan dan balikan. Gina kurang apa sih? Balikan sana!" Ujar Riko.
"Gina tidak ada kurangnya, justeru yang kurang itu gue! Gue kurang dalam segi materi, elu juga dengarkan pas mutusin gue Gina bilang apa? Gue juga yakin tuh telinga elu nggak tuli dan masih berfungsi sebagai mana mestinya."
"Ya ampun bro baperan amat sih, dia bilang gitu karena lagi emosi doang. Itu namanya emosi sesaat, please deh!" Riko menepuk bahu Andy.
"Emosi sesaat? Tetapi secara tidak langsung dia merendahkan harkat martabat gue! Bukan merendahkan sih, ini lebih ke fakta! Karena gue sendiri saja mengakui, apa sih yang gue punya? Materi? Nggak sebanyak kalian." Andy mendelikkan matanya, kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Arka tidak menghiraukan Andy dan Riko sedang mengobrol dan berdebat, Arka segera membuka kotak makannya dan segera langsung melahapnya sampai habis, tanpa tersisa satu butir nasi pun.
"Bapak CEO? Bete banget mukanya." Ledek Riko yang merasa jengkel dan kesal karena Arka sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya.
__ADS_1
"Diam deh! Gue sedang menikmati bekal makan siang yang di masak langsung oleh istri gue tercinta, bahkan ini sangat enak karena memakai bumbu-bumbu cinta." Ujar Arka dengan antusias.
Ponsel Arka berbunyi, terdapat beberapa notif pesan dari Kalista. Kalista mengirimkan banyak foto, foto dirinya bersama Nathan dan Nayla. Lucu dan menggemaskan, kata-kata itulah yang sekarang muncul di benak Arka.
Nathan dan Nayla juga sangat photogenic sekali, bayi dengan usia tiga bulan sudah tahu dimana letak kamera, bahkan mereka berdua pun berpose dengan tersenyum.
Kiriman foto dari Kalista cukup membangkitkan semangat Arka, Arka yang tadinya merasa basmod dan kesal gara-gara kelakuan rekan bisnisnya tadi, sekarang Arka malah semakin semangat hanya melihat foto Kalista dan dua bayi kembarnya.
Arka juga bergantung mengobrol dengan Andy dan Riko. Riko mencurahkan segala isi hatinya, Riko yang katanya kesepian karena tidak adanya Risa, bahkan Riko yang merana dan hatinya merasa sepi dan hampa. Riko mengatakan bahwa dirinya telah jatuh hati pada Risa, dan Riko juga mengatakan jika Risa menerimanya insyaAllah dalam waktu satu bulan ini, Riko akan menggelar dan melangsungkan akad nikah sekaligus resepsi.
Arka dan Andy juga tidak bisa percaya begitu saja pada mulut Riko, mereka berdua mengamati raut wajah Riko terlebih dahulu. Tetapi memang benar, di raut wajah itu sama sekali tidak terlihat gurat ke bohongan. Malahan Riko terlihat sedang galau.
"Kalau memang apa yang lu ucapkan itu sesuai dengan apa yang hati lu rasakan, gue dukung sepenuhnya. Gue dukung sahabat gue ini berubah untuk kebaikan. Tapi gue nggak bisa pastiin Risa bisa nerima lu atau nggak, jadi intinya lu harus kembali berjuang." Ucap Arka, tidak hanya itu saja, Arka juga memberikan beberapa nasihat dan petuah pada Riko.
"Gue juga dukung! Yakali kan gue nggak bahagia lihat sahabat gue sudah nggak brengsek kaya dulu lagi! Gue ikut bahagia atas perubahan pada diri lu." Andy juga mendukung rencana Riko.
Jam istirahat telah usai, Arka dan Andy kembali lagi sibuk pada rutinitasnya. Sementara Riko duduk santai di sofa sembari bermain game.
Tok..tok..
Suara pintu di ketuk dari luar ruangan.
"Ya, masuk." Teriak Andy dengan lantang.
Pintu terbuka, munculah sosok Risa. Kemeja putih, rok span selutut, rambutnya di ikat cepol, dan memakai heels dengan tinggi 5cm. Penampilannya terlihat sempurna walaupun dengan pakaian seadanya, make up di wajahnya terlihat natural, badan ramping dan kaki jenjangnya terlihat sangat indah.
"Laporan keuangan bulan ini pak." Risa meletakkan beberapa berkas di meja Arka.
"Terimakasih." Ujar Arka, tetapi manik matanya masih terfokus pada layar laptopnya.
"Saya pamit undur diri pak." Ujar Risa sambil membalikkan badannya.
Riko dengan sangat cekatan langsung mencekal pergelangan tangan Risa.
"Gue mau ngomong sa, bentar doang! Please!" Riko mengehentikan langkah Risa dengan wajah memelas.
"Ini masih di jam kerja, kamu nggak malu gangguin aku di jam kerja. Seharusnya kamu malu dong sama pak boss, lagian kamu ini laki-laki, ngapain jam segini ada di sini? Tidak ada kepentingan juga kan? Sebagai laki-laki yang nantinya akan berumah tangga, seharusnya kamu giat bekerja, jangan cuma main-main." Sarkas Risa, dengan tatapan mata tajam, lalu mata itu mendelik seraya menghempaskan tangan Riko yang mencengkalnya sangat kuat.
Risa berlalu dan sama sekali tidak menghiraukan panggilan Riko, bahkan Risa memasang raut wajah sangat judes dan jutek.
Riko memandang punggung Risa yang kian menghilang. Tiga bulan sudah berlalu, Risa malah terlihat semakin cantik. Tentu saja Riko sangat berambisi untuk mendapatkan hati Risa, mungkin dulu Risa bersamanya hanya karena keterikatan sebuah perjanjian, tetapi kini Riko ingin menjadikan Risa sebagai pendamping hidupnya.
Bersambung..
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1