SUN FLOWER

SUN FLOWER
Episode 3


__ADS_3

Lantana terus menjerit karena sekarang tangannya terasa nyeri dan mulai gatal. Air matanya sudah membasahi jas tuan es. dilihatnya wajah Ana sudah sangat sembab dan badannya gemetar, dengan tangan yang masih dijauhkan dari badannya.


"buang tangannyaa.. gak mau pake tangan ini lagi.." isaknya semakin melemah


tuan es beringsut menuju ke arah mejanya dan berusaha meraih tombol telpon demi memanggil sekretarisnya "ke ruangan saya sekarang..!!" kata tuan es


tak lama seorang perempuan masuk menghampiri bosnya. ia sedikit terkejut dengan posisi bosnya saat ini. hmmm.. sedikit awkward. dengan posisi setengah tiduran dan ada seorang gadis yang bersembunyi di dadanya sambil menangis. dilihatnya wajah bos terkikik menahan tawa.


"em.. ekhemm.. permisi tuan.. ada yang bisa saya bantu??" tanya sang sekretaris kikuk


"eh..!? Steva.. tolong periksakan tangan dia.." tuan es menunjukkan tangan Lantana


steva langsung berjongkok memeriksa tangan kanan lantana. tak lama Steva memasang wajah kagat


"ya tuhan..!! tuan, ini banyak durinya.. kulitnya pun mulai iritasi dan bengkak" jelas Steva


"cepat obati.." perintah sang bos


Steva bergegas pergi mengambil kotak p3k yang ada di ruangan bossnya. kemudian ia kembali kepada bosnya dan Lantana. Lantana masih saja terisak dengan tubuh gemetar sambil terus merengek minta di buang tangannya.


"kalo tangan kamu beneran di buang, nanti kedepannya gimana kalo ada ulat nempel di kepala kamu?? masa kepalamu juga nanti harus dibuang??" Kata bosnya sambil terkekeh


"gak peduli...!! pokonya buaaang...!!" Lantana mulai histeris lagi


"emangnya badan kamu ini kayak badan boneka barbie?? yang bisa bongkar pasang se enaknya?? kan gak ada suku cadangnya.."


Steva mulai mencabuti duri-duri di tangan Lantana menggunakan pinset. ia terkekeh melihat kelakuan Lantana, dia sempat syok juga karena melihat bosnya yang biasanya super dingin kini tertawa hangat gara-gara Lantana. setelah duri-durinya bersih, Steva mengoleskan salep anti iritasi di tangan Lantana, sesekali tertawa kecil melihat kelakuan bosnya yang terus saja menggoda Lantana yang membuat Lantana semakin histeris dibuatnya. Steva membungkus tangan Lantana dengan perban, setelah itu ia membereskan kembali kotak P3K nya.


"sudah selesai, tuan" Steva berdiri dan mengangguk kepada bosnya.


"iya iya terimakasih.. kau bisa kembali.. oh sebentar lagi jam pulang.. lakukan apa yang harus kau lakukan, Steva!"


"Baik, tuan Stevenson" Steva keluar dari ruangan itu. alangkah kagetnya ia ketika melihat semua staff adminiatrasi berkumpul dan menguping di depan pintu.

__ADS_1


"sedang apa kalian?? apa kalian sudah menyelesaikan pekerjaan kalian?" tanya Steva kesal melihat bawahannya


mereka yang tadi berkumpul seketika bubar barisan ke kursinya masing-masing. Steva pun pergi ke mejanya yang berada tidak jauh dari pintu ruangan bosnya.


Sementara di dalam ruangan, Lantana belum juga diam dari nangisnya. sementara tuan es sudah merasa keram.


"hei.. cup cup udah dong nangisnya.." Tuan es menopang tubuhnya dengan sikut dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit. "ini tangannya udah diperban gini loh.. udah yaa.. ulatnya juga udah gak ada.." Tuan es baru paham kalo ternyata phobia bisa sampai seperti ini.


Lantana bergerak melihat tangannya yang mulai terasa sejuk pengaruh dari salep yang tadi dioleskan Steva. Perlahan ia menyadari posisinya saat ini, yang emm.. awkward.. Lantana duduk perlahan sambil memperhatikan tangannya yang terbungkus perban dengan sesekali hidungnya bergerak mengisap ingus yang hendak keluar.


Tuan es sangat gemas melihat wajah Lantana saat ini. hidung merah, mata sembab, rambut kusut, pipi basah oleh air mata, dan bibir manyun sambil sesegukan. sebenarnya ia tak tahan ingin mencubit pipi tembam Lantana, tapi ia tahan karena kakinya saat ini keram. Tuan es pun membenarkan duduknya dan menghadap Lantana.


"maaf kan saya.. saya tidak tau kalo bunga itu ada ulatnya. dan saya juga tidak tau kalo kamu phobia sama ulat" kata tuan es ramah sambil mengusap air mata lantana dengan tangannya


"gak apa-apa tuan es.. saya juga refleks karena syok. dan saya juga minta maaf karena saya membasahi jas tuan es.." kata Lantana sambil menunduk malu


"kamu panggil saya apa??"


orang yang Lantana sebut sebagai tuan es itu tertawa terpingkal sampai memegangi perutnya. "tau dari mana kamu memanggil saya seperti itu?" tanyanya lagi seraya mengusap matanya yang terasa berair.


"teman-teman di departemen administrasi memanggil tuan dengan 'tuan es' makanya saya panggil tuan es juga" jelas Lantana


"apa kamu tau siapa nama asli saya??" lelaki itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Lantana dan menatap mata Coklat tua Lantana.


Lantana menggeleng pelan dan menatap balik lelaki di depannya. Lelaki itu terkesima dengan mata bening Lantana. Iris berwana coklat tua sama dengan warna rambutnya, dengan bulu mata panjang dan basah bekas air mata. mata itu bulat dengan lipatan mata yang kecil, sehingga ketika diguanakan menatap polos seperti ini justru terlihat sangat menggemaskan.


entah mengapa lelaki itu merasa jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. tak lama ia tersadar dan mengerjapkan matanya.


"sudah waktunya pulang, mari saya antar kamu pulang" lelaki itu berdiri dan menarik tangan kiri Lantana agar ia ikut berdiri dengannya


perempuan di depannya menunduk dengan pandangan tidak lepas dari tangan kanannya. tanpa sadar lelaki itu menariknya ke dalam pelukannya. "maafkan saya.." gumamnya yang tentunya kedengaran oleh Lantana.


"ini bukan salah tuan es...." belum sempat Lantana menyelesaikan kalimatnya, mulutnya sudah di tekan oleh jari telunjuk tuannya

__ADS_1


"nama saya Vino Stevenson, bukan tuan es.." kini sang tuan menatap Lantana lagi


"i.. iya tuan Vino Stevenson.." Lantana menunduk


"hmmmm..." Vino menghembuskan nafasnya kesal "panggil Vino aja bisa??"


"oh..? baik tuan Vino" jawab Lantana mengangkat wajahnya karena tadi Vino mengguncang bahunya


"hmm.. beter lah.. mari kita pulang.." Vino merarik tangan Lantana dan mengambil kunci mobil dan tas kerjanya, lalu mereka keluar ruangan.


dihembuskannya nafas Vino dengan lega, karena staff-staffnya sudah pulang semua.


"Tuan Vino, tunggu! saya harus mengambil tas dan Handphone saya dulu.." kata Lantana ketika melewati meja kerjanya.


Lantana melepaskan tangannya dari genggaman Vino. entah kenapa Vino merasa kehilangan di tangannya. perhatian Vino tidak terlepas dari gadis yang sedang membereskan meja kerjanya dengan satu tangannya. sampai ketika Lantana selesai dan menghampiri Vino lagi, Vino langsung meraih tangan kiri Lantana dan menggenggamnya erat. Lantana hanya memperhatikan tangannya yang di genggam itu dan berjalan di belakang Vino.


"apa kamu lapar??" tanya Vino ketika mereka baru saja keluar dari elevator.


Lantana mengangguk. Vino semakin gemas, karena dia memikirkan Lantana pasti lelah setelah menangis ber jam jam hingga akhirnya dia lapar.


"baiklah, sebelum pulang kita cari makan dulu" Vino tidak melepaskan genggamannya dari tangan Lantana, sehingga lantana harus berjalan sedikit berlari karena langkah Vino yang besar tidak mampu Lantana imbangi dengan kakinya yang pendek


tingkah bos dan karyawati satu itu menjadi pemandangan yang indah bagi setiap yang melihatnya. tentu saja Vino tida perduli bahwa ternyata dia menjadi bahan tontonan gratis karyawannya yang belum pulang. Vino terus berjalan menuju pintu keluar sampai suara lantang Lantana menghentikan Langkahnya


"Tuan Vino..!! pelan-pelan melangkahnya..!! saya capek lari-lari.." teriak Lantana kesal


Vino pun berhenti melangkah dan berbalik menatap Lantana. Ia tersenyum setelah dia menyadari kekonyolannya. tentu saja, Lantana adalah gadis dengan tinggi 155 cm dan dia adalah pria dengan tinggi 183 cm, dan dia berjalan seperti biasa ia berjalan. langkah besar dan cepat. tentu saja gadis yang berada di genggamannya ini kelelahan.


Tbc


***


You're Good Reader 👍😊

__ADS_1


__ADS_2