SUN FLOWER

SUN FLOWER
THE WEDDING RIAN & FANI


__ADS_3

MUA professional sedang sibuk mendandani Kalista. Arka sengaja mendatangkan MUA professional, padahal sebenarnya Kalista juga mahir dalam make up.


Waktu menunjukan pukul 18:00 sore menjelang malam. Acara wedding party di gelar pukul 19:00, masih ada waktu satu jam lagi untuk pengantin ataupun para tamu bersiap-siap.


Akad nikah di adakan di kediaman mempelai wanita, pada pagi hari tadi pukul 08:00 sampai dengan selesai. Acara akad berjalan dengan sangat khidmat. Khusus acara akad hanya di hadiri oleh keluarga dan kerabat dekat saja.


Arka sangat setia menemani Kalista diacara akad dokter Rian dan dokter Fani. Seperti biasa kapan pun dan dimana pun Arka dan Kalista selalu romantis. Dokter Fani yang menikah, tetapi malah Kalista yang meneteskan air mata kebahagiaan, bahkan Kalista katanya sampai gemetaran dan dag dig dug.


"Apa sih ngeliatin?" Sewot Kalista, karena Arka dengan setia nya malah duduk di dekat Kalista yang sedang di make up.


"Mau lihat bidadari!" Arka menampilkan senyum terbaiknya seraya menggoda istrinya.


"Ih apaan sih, sana ganti baju! Aku nggak mau telat menghadiri resepsinya dokter Rian dan Fani." Ujar Kalista.


"Iya." Jawab Arka, kemudian bersiap melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


"Mbak, jangan menor-menor ya! Saya maunya natural!" Kalista menghapus blush on yang terlalu merah di pipinya.


"Hati-hati mbak istri saya galak, turutin aja maunya!" Kata Arka sambil berlalu menutup pintu.


Arka sedang menatap dirinya sendiri melalui pantulan cermin. Celana bahan berwarna hitam, jas hitam, dan kemeja marun sangat pas di tubuhnya. Dasi kupu-kupu bertengger di bagian kerahnya. Tubuh tinggi tegap atletis dengan bahu lebar itu sangat sempurna mengenakan stelan keluaran terbaru karya desainer ternama.


"Sudah belum?" Arka membuka pintu ruangan Kalista.


Manik mata Arka membulat sempurna, kini di hadapannya berdiri seorang wanita yang perutnya buncit, memakai dress warna merah marun, rambutnya hanya di curly biasa saja, ada jepitan mutiara kecil menjepit rambut bagian pinggirnya.


Dress itu sangat cantik di kenakan oleh wanita yang memang cantik. Justru perut buncit Kalista membuat kesan seksi dirinya di mata Arka.


"Pengantinnya bakalan kalah cantik dari kamu sayang!" Arka menghampiri Kalista, kemudian melingkarkan tangannya ke perut Kalista. Arka memeluk Kalista dari belakang. Mereka berdua pun kini memperhatikan diri mereka sendiri melalui pantulan cermin.


"Sudah selesai tuan, saya pamit undur diri!"


Suara MUA itu cukup mengagetkan Kalista. Semenjak Arka masuk dan memeluk dirinya Kalista sudah tidak ingat bahwa di ruangan ini masih ada MUA.


"Sudah saya transfer!"


"Baik terimakasih."


MUA itu pun pamit undur diri, Arka masih saja memeluk Kalista, bahkan semakin erat.


Tiba-tiba Arka melepaskan pelukannya, matanya menyipit seraya mengangkat dress Kalista. "Ya ampun sayang kamu kan lagi hamil, kamu nggak boleh pakai hells!" Arka berjongkok lalu melepaskan hells dengan hak tinggi dan sangat runcing dari kaki Kalista.


"Sekali aja please! Hells ini cantik banget dan sangat cocok di padu padankan dengan dress ini." Kalista mengiba, namun Arka masih kekeuh bahwa istrinya tidak boleh memakai hells.


Arka sama sekali tidak memperdulikan keinginan Kalista, wajah memohon dari istrinya saja sama sekali tidak di liriknya. Arka keluar dari ruangan itu, Kalista mengira mungkin Arka marah padanya.


Lima menit berlalu, Arka kembali lagi keruangan itu. Ditangannya terdapat satu kardus sepatu.


"Nah ini juga cantik kok, lagi pula cocok dengan dressnya." Arka memakaikan flatshoes berwarna putih, flatshoes itu di lapisi oleh puring dengan Payet bunga, dan mutiara putih bertaburan di pinggirannya.


Kalista melihat ke bawah, ternyata benar flatshoes itu sangat cantik, sangat cocok dengan dressnya.


Kemudian Arka menuntun Kalista keluar dari kamarnya, Oma dan pak Anggara telah rapi dengan pakaiannya yang senada dengan Arka dan Kalista.


Mobil melaju menuju hotel bintang lima, tempat dimana pesta pernikahan itu di gelar. Tidak lupa para pengawal pun ikut mengiringi kepergian keluarga Anggara, karena Marcelino masih berkeliaran bebas, maka Arka masih perlu waspada.


Suasana hotel masih belum ramai, dan belum banyak tamu undangan. Ketika Arka melirik arlojinya, ternyata waktu menunjukan pukul 18:50.


Hotel telah di sulap menjadi pelaminan yang sangat indah, bunga-bunga mawar merah dan mawar putih terlihat sangat mendominasi seluruh ruangan ini. Benar-benar hebat orang-orang WO bisa menyulap hotel dengan sedemikian rupa. Lampu-lampu bulat bergelantungan, semua dekor bernuansa merah dan putih.


Dokter Rian dan dokter Fani sedang duduk di kursi pelaminan. Dress berwarna gold dengan manik-manik bertebaran di seluruh dress itu menambah kesan mewah dan elegan, MUA professional pun telah mengubah wajah dokter Fani dari yang tadinya cantik menjadi sangat-sangat cantik seperti Barbie.


Jas yang senada dengan warna dress dokter Fani sangat indah melekat di tubuh dokter Rian. Pasangan yang tadi pagi telah resmi menyandang gelar suami istri pun tampak tersenyum bahagia.


Aura kebahagiaan terpancar dari wajah kedua mempelai, mereka tidak henti-hentinya tersenyum ramah pada semua tamu undangan yang datang.


Waktu terus berjalan, para tamu undangan pun semakin banyak yang berdatangan. Kalista bisa menembak kebanyakan tamu undangan adalah dokter.


Setelah satu jam berada di wedding party ini, akhirnya Oma dan pak Anggara pun pamit undur diri. Mungkin karena mereka sudah cukup berumur, sehingga mereka merasa kurang nyaman berada di acara ini.


Arka celingak-celinguk memperhatikan semua tamu undangan, sesekali mata Arka tertuju pada pintu masuk.


"Nyariin siapa sih?" Ujar Kalista, karena Kalista cukup paham dengan sorot mata suaminya.


"Andy, Evan, Riko."


"Emang mereka di undang?" Tanya Kalista lagi.


"Di undang kok."


"Kejebak macet kali."


Hingar bingar keramaian dan kemeriahan wedding party masih terus berjalan, para tamu undangan semakin banyak berdatangan memenuhi hotel ini. Para tamu wanita memakai dress dengan berbagai macam model, ada yang seksi dan ada pula yang tertutup dan sangat sopan.


"Aku ke toilet bentar ya, kebelet pipis."


Kalista mengangguk, Arka langsung saja pergi ke toilet. Kalista masih setia duduk di kursi tamu, sudah 2 jam Kalista berada di hotel ini namun dirinya belum makan atau pun minum.


Karena Kalista merasa haus, Kalista pun berjalan ke arah meja prasmanan yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman. Kalista cukup kesulitan untuk menjangkau jus kiwi..


"Hati-hati." Seorang pria berjas hitam membantu Kalista sekaligus menyodorkan segelas jus kiwi.


"Terimakasih." Ucap Kalista dengan sangat ramah, tangannya langsung mengambil jus kiwi yang diambilkan oleh pria itu.


"Boleh kenalan nggak sih? Cakep banget dah, tapi sayang lagi bunting, berarti__"


"Ya ampun sayang kaget aku, kamu nggak ada di kursi, kamu haus? Kenapa nggak nungguin aku coba? Kan nanti aku ambilin." Arka memegang bahu Kalista.


"Bawel!" Ketus Kalista.


"Bro thanks ya udah bantuin istri gue!" Arka mengucapkan rasa terimakasihnya pada pria itu, lalu dirinya menggandeng Kalista untuk kembali duduk di kursi tamu.


Wajah Arka sedikit kusut, kecut, dan masam. Sorotan matanya tajam menatap pria itu.


"Aku istri kamu! Aku nggak akan berpaling loh!" Kalista menepuk pelan pipi Arka, karena Arka terlihat melamun.


"Udah tau wlee." Arka menjulurkan lidahnya. "Lagian kamu juga nggak bakalan selingkuh kan? Secara gitu di dunia ini nggak ada yang lebih tampan dari aku." Imbuhnya lagi.

__ADS_1


"Percaya diri'mu tinggi banget." Kalista menoyor pelan kepala Arka.


"Biarin!"


Dari arah pintu masuk terlihat 3 orang pria baru saja datang dengan style formal tapi terlihat sangat elegan. Andy, Riko, dan Evan semuanya memakai jas hitam, dengan kemeja merah marun, hampir sama dengan Arka. Ya memang sih dari undangannya dress code nya hitam dan merah.


"Weh cakep juga lu bro pakai dasi kupu-kupu." Ucap Evan sambil menepuk bahu Arka.


Mereka pun duduk satu meja dengan Arka dan Kalista.


"Dari dulu juga gue emang cakep bro!" Sahut Arka dengan sombongnya.


"Ini tamu kebanyakan dokter ya? Ada cewe cakep nggak sih, gue keundangan sekalian nyari jodoh." Riko celingak-celinguk memperhatikan para tamu wanita, kebanyakan dari mereka memang berprofesi sebagai dokter.


"Tuh cewe cakep!" Arka menunjuk salah satu tamu wanita yang sedang menuntun seorang bocah kecil. Memang sih wanita itu cantik, tetapi tubuhnya sedikit besar dari wanita pada umumnya.


"Gila gila! Yakali gue pebikor!" Riko menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Widih apaan tuh pebikor?" Andy penasaran, karena kalimat itu lumayan asing di telinganya.


"Perebut bini orang!" Celetuk Evan.


"Wah parah lu!" Andy menoyor pelan kepala Riko.


"Apaan sih? Gue juga ogah, yakali gue nikahin bini orang." Sahut Riko.


"Siapa tahu dia janda!"


"Gue nggak mau!"


"Enak loh beli satu gratis satu." Celetuk Kalista.


Lalu mereka semua pun tertawa sambil menikmati semua hidangan yang tersaji di meja prasmanan. Hingar bingar pesta masih terus berlanjut, acara demi acara pun telah di suguhkan kepada semua tamu undangan.


"Tadinya gue mau ngajak Tiara, tapi takut dia nggak mau." Tiba-tiba Evan membuka suara.


"Lah si beg* di coba aja belum, malah nyerah sebelum berperang." Andy terkekeh mentertawakan kebodohan Evan.


"Eh iya Tiara kan di undang, tapi ko belum datang ya." Kini manik mata Kalista menjelajahi setiap sudut ruangan hotel ini. Sahabatnya itu masih belum datang juga.


"Kok nggak bilang sih Tiara di undang, tahu gitu gue jemput aja." Evan mengeluarkan ponselnya, kemudian mengetikkan beberapa pesan yang ia kirim pada Tiara.


Waktu terus berjalan, wedding party ini pun semakin ramai. Bahkan Arka, Kalista, dan kawan-kawan belum sempat bersalaman dengan kedua mempelai. Antrian tamu undangan sangat panjang, karena itu Arka menahan Kalista terlebih dahulu agar tidak bersalaman sekarang.


Wanita cantik dengan napas ngos-ngosan, terlihat celingak-celinguk menatap kanan kiri setiap sudut ruangan. Dress merah dengan punggung terbuka, panjangnya hanya sampai betis, rambut di kepang melingkar bak gaya rambut pengantin kekinian, ditangannya terdapat tas kecil.


Setelah mengetahui dimana tempat yang akan ia duduki, gadis cantik itu berlari-lari kecil, hellsnya mengeluarkan suara tak..tak..tak..


Tiara duduk tepat di si sebelah Evan, deru pasnya masih terdengar sangat jelas. Dahinya berkeringat.


"Telat banget woy, lu lari dari rumah?" Kalista memperhatikan Tiara, penampilannya sedikit acak-acakan.


Tiara belum menjawab pertanyaan Kalista, tangannya langsung meraih gelas jus yang ada di meja, lalu ia meneguknya sampai habis.


Evan yang berada di sampingnya, kini mengambil tissue, di usapnya dahi Tiara yang basah karena keringat. Hingar bingar keramaian pesta sama sekali tidak terdengar oleh Tiara, kini dirinya merasa terhipnotis oleh perlakuan Evan.


"Habis ngapain? Keringatan banget." Kini tangan Evan telah berpindah ke punggung Tiara. Dress yang di pakai Tiara menampilkan punggung indahnya, dan punggung itu terlihat basah oleh keringat.


"Ah sorry." Evan langsung menjauhkan tangannya dari punggung Tiara.


"Gitu aja geli, Kalista aja gue ndusel punggungnya malah ketagihan, bahkan bukan cuma punggung." Arka tersenyum menyeringai, Kalista melayangkan tatapan tajam menusuk.


"Loh wajar dong pak, pak Arka kan sudah menikah, dan sudah melakukan itu pada Kalista, karena terbiasa mungkin Kalista jadi ketagihan. Beda sama saya, saya belum ada pengalaman, lagian saya cukup sensitif kalau punggung saya di sentuh oleh laki-laki." Ujar Tiara.


"Tenang saja, semua pengalaman pertama kamu bakalan dilakukan bareng gue." Celetuk Evan dengan santainya.


"Woyy sadar diri lu, anak orang mau di ajak mantap-mantap, halalin dulu lah." Andy menjotos lengan Arka.


"Iya tahu, emang mau gue lamar." Evan.


"Tapi kita nggak pacaran kak." Tiara.


"Kode bro! Minta di tembak dia." Riko.


"Jangan mau di tembak, kalau di tembak nanti mati malah nggak bisa di ajak mantap-mantap." Arka.


"Nah betul tuh!" Celetuk Evan.


"Gue udah ada Tiara nih, kalian berdua apa kabar? Masih betah menjomblo?" Imbuhnya lagi.


"Gue jomblo? Walaupun gue nggak ada pacar, tapi gue punya Gina." Andy menyombongkan dirinya.


"Widih bro, pergerakan lu cepat juga. Btw sudah sejauh mana sama Gina." Tanya Arka.


"Sejauh mata memandang! Ya pokonya udah jauh banget dah sampai nyokapnya udah bilang oke ke gue!" Andy mengedipkan sebelah matanya, ada rasa hangat di hatinya ketika menyebut nama Gina.


"Wadaw, congrats bro!" Evan langsung merangkul bahu Andy.


"Parah banget tinggal gue sendiri yang jomblo, nyari ah di club malam." Celetuk Riko.


"Perihal jodoh dan maut kan semuanya telah di tetapkan oleh yang maha kuasa, kita nggak bisa mengaturnya sendiri. Misalkan gini ya, pak Riko ngebet pengen nikah di usia 25 tahun, tapi yang maha kuasa menuliskan takdir untuk pak Riko menikah di usia 27 tahun, lah kita sebagai manusia bisa apa? Protes pada takdir juga nggak bisa." Kalista yang sedari tadi hanya menjadi pendengar pun kita berusaha mengeluarkan pendapatnya.


"Tenang aja, nggak usah buru-buru. Semesta tahu kapan pak Riko akan di persatuan dengan kekasih hati. Yang maha kuasa mempunyai rencana indah untuk pak Riko." Imbuhnya lagi.


"Setuju banget, thanks nyonya Arka atas kalimat yang lumayan menyejukkan jiwa." Ucap Riko.


Wedding party ini di penuhi oleh acara-acara hiburan, mulai dari modern dance, tari-tarian tradisional, live music, hingga kini hampir berada di puncak acara, semua orang bersiap akan melakukan dansa bersama pasangan masing-masing.


Arka dan Kalista sudah bergabung dengan kerumunan orang-orang yang sedang berdansa. Music melow dan sangat romantis ini mengalun menggema di pelaminan ini.


Tangan Arka memegang pinggang Kalista, Kalista pun tak mau kalah dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Arka. Lambat laun Kalista dan Arka pun sudah berdansa, Arka cukup paham bahwa istrinya sedang mengandung, maka dari itu Arka pun mencoba menyeimbangi gerakan dansa dengan sangat pelan dan hati-hati.


Entah kenapa Arka melihat Kalista begitu sangat menggairahkan, istrinya terlihat sangat cantik malam ini. Tiba-tiba lampu utama di matikan, dan hanya ada beberapa lampu kecil yang menyala dan berkelap-kelip. Music pun ganti, suasana menjadi sangat ramai seperti sedang disko di diskotik.


Senyum seringai muncul di wajah Arka, cahaya remang-remang ini membuat dirinya menjadi berani mencium bibir Kalista. Awalnya Kalista menolak, tetapi Arka memaksa. Ciuman yang awalnya biasa saja, kini menjadi ciuman yang sangat liar dan memburu.


"Gabung yuk sama mereka." Evan mengulurkan tangannya, mengajak Tiara untuk bergabung dengan kerumunan muda-mudi yang sedang menikmati alunan music sambil memadu kasih.

__ADS_1


"Nggak bisa dansa." Tiara menggelengkan kepalanya.


"Gue ajarin!" Evan pun langsung menarik tangan Tiara dengan paksa.


Evan mulai memegang pinggang Tiara, Tiara hanya menatapnya diam dan tidak mengerti. Evan pun langsung saja mengalungkan tangan Tiara di lehernya. Tiara yang memang lebih pendek dari Evan, hanya bisa menatap Evan sambil mendongakkan kepalanya.


Pandangan mata Evan menyipit, di tatapnya gadis cantik yang kini berada di hadapannya. Manik mata mereka berdua bertemu, saling tatap dan tanpa berkedip.


"Cup." Evan mencium kening Tiara. Tiara kaget dan membelalakan matanya.


"Kak jangan gitu!" Raut wajah Tiara sudah berubah menjadi merah seperti tomat.


"Lihat tuh!" Evan mengarahkan pandangannya pada Arka dan Kalista. Mereka berdua sedang bercumbu dengan sangat liar dan panas, pasangan suami istri itu sama sekali tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya.


Tiba-tiba lampu kembali di nyalakan. Pose Tiara dan Evan sangat romantis bagaikan sepasang kekasih. Andy dan Riko yang sedang duduk pun memperhatikan Tiara dan Evan.


Satu menit kemudian, suara gemuruh tepuk tangan langsung terdengar. Semua orang menatap Kalista dan Arka yang masih saja bercumbu dengan mesranya.


Kalista langsung membenamkan kepalanya di dada Arka. Kalista baru saja menyadari bahwa semua orang memperhatikannya.


"Nggak usah malu! Kita kan sah di mata hukum dan agama." Arka mengusak pelan rambut Kalista, kemudian mengajak Kalista kembali lagi ke tempat duduknya.


Tiba di penghujung acara, sekarang pengantin pria dan wanita sudah membelakangi para tamu. Bunga akan segera di lempar.


Arka, Kalista, dan Tiara tidak ikutan, mereka hanya memperhatikan saja dari tempat duduknya.


1.. 2.. 3.. bunga pun terlempar!


Semua orang berebutan untuk mendapatkan bunga itu, tapi.. satu tangan pria berhasil menangkap bunga itu.


Riko?


"Jadi lu bakalan nikah duluan? Wah parah gue keduluan!" Gerutu Evan sambil berjalan kembali ke tempat duduknya.


"Emang benar kata Kalista, tuhan selalu punya rencana indah untuk hambanya. Buktinya Riko yang tadi ngeluh nggak punya doi, sekarang malah dapat bunga. Oke fixs dia nikah duluan." Ucap Andy.


"Nggak gitu juga sih! Siapa tahu bunga ini mitos." Ujar Riko.


"Mitos atau bukan, yang pasti sudah banyak kok orang yang ketularan nikah cepat gara-gara dapat bunga yang di lempar." Sahut Evan.


"Daripada debat, mendingan kita sekarang samperin pengantinnya deh, dari tadi kita belum ngucapin selamat ataupun bersalaman nih." Ucap Kalista.


Acara telah selesai, sebagian tamu undangan sudah pulang, dan sebagain lagi masih menikmati jamuan yang di suguhkan.


"Happy wedding pak dokter bu dokter." Kalista mengucapkan selamat, lalu memeluk dokter Rian dan dokter Fani bergantian.


"Makasih bumil." Ucap dokter Rian dan dokter Fani.


"Happy wedding bro! Jangan lupa kejar target hamilin istri lu!" Arka merangkul bahu dokter Rian.


Begitupun juga dengan Riko, Andy, Evan, dan Tiara mereka mengucapkan selamat kepada dokter Rian dan dokter Fani. Tidak lupa mereka pun menyempatkan foto bersama. Bukannya pada pulang mereka semua malah asyik mengobrol bareng pengantin di pelaminan.


"Semoga dokter Fani cepat hamil!" Ujar Kalista dengan senyum ramah mengembang di pipinya.


"Aamiin." Jawab Fani.


"Yuk pulang yuk! Kasian pengantinnya mau mantap-mantap malah keganggu sama kita." Celetuk Andy.


"Gue pms." Kata dokter Fani.


"Wah-wah nggak bisa langsung." Evan langsung mentertawakan seraya menepuk-nepuk punggung dokter Rian.


"Puasa dulu bro! Nggak apa-apa Kalista juga dulu gitu, pas udah malah langsung jadi janin." Sahut Arka.


"Ngomong apa sih, nggak ngerti gue." Riko.


"Nggak ngerti? Really? Tapi koleksi film Jepang paling banyak, so polos nih bocah." Andy mengikuti lengan Riko.


"So tahu!" Ketus Riko.


"Tiara kapan ngundang?" Ucap dokter Rian.


"Hah? Kok nanya gitu ke aku?" Jawab Tiara gelagapan.


"Nanti kalau udah gue lamar, tenang aja secepatnya kok, gue lagi menyiapkan segala sesuatunya. Lagian ortu gue belum balik ke indo." Jawab Evan dengan sangat mantap.


"Ikat dulu aja! Bahaya kalau sampai kabur atau dapat sama orang lain." Ujar dokter Fani.


"Emangnya apaan sih di ikat? Sayuran?" Celetuk Evan.


"Maksudnya tuh tunangan dulu gitu! Otak lu kok lemot banget ya!" Andy mencoba memijit-mijit kepala Evan.


"Udah yuk pulang! Kasian pengantin baru mau istirahat dulu."


Mereka semua pun keluar meninggalkan pelaminan, Arka menggandeng erat tangan Kalista. Sembari berjalan keluar pun mereka terus saja saling bercanda tawa.


Evan melepaskan jasnya, lalu memakaikannya pada Tiara. "Angin malam kan nggak bagus, punggung kamu kedinginan, bahaya ntar masuk angin." Evan tersenyum ramah.


"Nggak usah kak, lagian gue juga udah mau pulang!" Tiara akan mencopot Kemabli jas yang telah Evan sampaikan di bahunya.


"Iya kan gue yang nganterin!"


"Ih nggak usah, repot loh nanti."


"Lebih repot lagi kalau kamu di rebut orang lain." Evan mengedipkan sebelah matanya.


"Ampun dah ah si bucin!" Celetuk Andy.


"Sirik aja lu!" Evan mendelikkan matanya.


"Udah ra nggak apa-apa lu dianterin kak Evan aja, gue jamin lebih aman." Kata Kalista.


Evan pun membukakan pintu mobilnya, di persilahkan lah Tiara masuk ke mobilnya. Evan memakaikan safety belt pada Tiara. Mobil pun mulai melaju dengan perlahan.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2