SUN FLOWER

SUN FLOWER
Episode 18


__ADS_3

Hari sudah sore, baru saja Vino selesai rapat membahas rencana apa kedepannya untuk menyelatkan perusahan Stevenson setelah sebelumnya masing-masing divisi melaporkan semua yang terjadi.


Vino membuat sebuah program baru dan meluncurkan produk baru. Awalnya produk ini akan diluncurkan di perusahaan milik Vino, namun karena perusahaan papanya sedang dalam ambang kehancuran, Vino menjual produk ini di sini. Mengingat produk yang ia buat adalah produk yang sedang banyak di cari di pasaran.


Para peserta rapat tidak berani mengambil nafas lega meski rapat sudah selesai. Mereka masih harus berkerja lembur untuk merancang program baru mereka.


"Tuan muda, kita kekurangan modal cukup besar untuk peluncuran produk baru. Belum lagi kita kekurangan sumber daya manusia untuk menyusun program.. Para pekerja banyak yang mogok kerja karena gaji mereka belum dibayar" ucap seorang direktur keuangan.


"Ada berapa kas kita?" tanya Vino datar


"Ada $*** milyar dolar, tuan!" jawabnya


"Cukup untuk membayar buruh yang mogok kerja berikut pesangonnya?" Vino masih mempertahankan ekspresi dinginnya


"Cu.. Cukup tuan.. Tapi kita masih butuh uang itu" ucap direktur keuangan ragu


"Berikan gaji mereka berikut pesangonnya.. Putuskan kontrak dengan mereka dan rekrut karyawan baru!" tegas Vino


"Ha...? Ta-tapi tuan?"


"Saya tidak akan mengulangi perintah saya dan saya tidak terima bantahan.. Atau saya ganti semua staff di perusahaan ini?"

__ADS_1


"Ti-tidak, tuan.. Baik.. Saya akan segera melaksanakan perintah tuan.. Tapi.. Bagaimana kita akan memulai rencana baru kita jika kita tidak punya modal?" ucap direktur keuangan lagi


"Berapa modal yang dibutuhkan?" tanya Vino


"Se-sekitar USD $ *** milyar tuan.. Jika modal kita dikurangi untuk bayar karyawan mogok kerja, kita masih punya modal sebesar USD $ *** milayar, dan sisanya kita perlu USD $ *** milyar.." rinci sang direktur.


"Kurangi juga dengan gaji karyawan yang masih berkerja" lanjut Vino


"Staff yang masih berkerja total ada *** ratus orang.. Gaji mereka yang belum dibayarkan sampai bulan ini sebesar USD $ *** ratus juta.


"Saya akan menanam modal sebesar USD $ *** milyar.. Dan lusa akan ada pekerja bantuan dari perusahaan saya dari Indonesia.. Mereka sudah mengenal program dan produk yang kita bahas tadi.. Kalian tinggal kerjakan tugas kalian dengan benar.." ucap Vino kemudian bangkit meninggalkan ruang rapat.


Beberapa direksi yang belum keluar dari ruang rapat merasa lega dengan apa yang baru saja diucapkan bos mudanya. Dia lebih berwibawa dan bertanggung jawab dibandingkan kedua kakaknya. Kesan pertama mereka kepada Vino cukup bagus meski Vino tidak berlaku sopan kepada siapapun di sana.


"Didi.. Siapkan uang sebesar IDR *** triliun untuk dikirimkan ke rekening Stevenson company.. Saya akan meminta Mike mengirimkan akunnya" ucap Vino. Jam segini adalah jam masuk kerja di Indonesia.


[Baik tuan.. Saya akan siapkan sebentar lagi] ucap Didi di sebrang panggilan


"Dan siapkan beberapa staff departemen pemasaran, staff perencanaan, staff keuangan, staff humas, dan beberapa staff lagi yang mengerti tentang projek kejora dan lounching produk YY.. Atur mereka bersiap untuk pergi ke Amerika untuk beberapa bulan.. Untuk perencanaan bulan depan di perusahaan kita, siapkan projek sky dan lounching produk &&.. Saya akan mengadakan rapat virtual dua jam lagi.." perintah Vino


Didi menyetujui semua perintah Vino dan Vino menyelesaikan panggilannya. Setelah itu, Vino memilah sisa dokumen sebagin ditandatangani dan beberapa di tolak. Dua jam kemudian dia melakukan rapat video dengan staff .

__ADS_1


Rapat berlangsung berjam-jam, sampai akhirnya selesai menjelang dini hari di tempat Vino. Vino beranjak keluar ruangan dan melihat banyak staff yang masih sibuk dengan komputernya.


"Hentikan kerjaan kalian.. Pulang dan istirahat,, besok harus kembali kerja dengan energi penuh" perintah Vino.


Para staff segera bangkit dan membereskan meja mereka. Vino juga menyuruh salah satu staff untuk mengumumkan pada departemen lain agar pulang dulu, agar besok bisa berkerja dengan baik. Mereka pulang dengan perasaan senang. Karena, selain mereka mendapatkan upah mereka, perusahaan tempat mereka berkerja kembali beroperasi dan dipimpin oleh bos yang bak malaikat.


Vino diantar Mike ke mansion Stevenson. Keadaan rumah sangat sepi dan hanya ada beberapa keamanan yang berjaga. Mansion ini masih sama seperti mansion yang ia tinggalkan beberapa tahun lalu. Halaman bunga masih dipenuhi pohon mawar merah yang tinggi sampai dua meter lebih. Pohon-pohon itu lebihbseperti pohon rindang dibanding dengan pohon mawar yang sering dijumpai.


Vino mengeratkan gengamannya dan ekspresinya tidak terbaca. Setelah memasuki mansion, tidak ada maid yang menyambutnya. Karena beberapa jam lagi fajar akan menyingsing. Vino pergi ke kamarnya, kamarnya masih sama dengan style alay ala dia waktu masih remaja. Poster band rock terkenal, poster super hero, album dia dan Ross, beberapa barang pemberian Ross dan banyak lagi yang membuat Vino mual ketika memasukinya.


Vino memijat pelipisnya, lalu kemudian pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Mike sudah meletakkan koper Vino di kamarnya beserta satu stoples biji bunga matahari di atas tempat tidur. Vino tersenyum ketika melihat stoples itu. Hatinya menghangat dan ia melangkah ke tempat tidur lalu duduk di ujungnya.


Vino menarik dan membuang nafas panjang menyingkirkan beban yang tersimpan di hatinya. "Coba kamu ikut,, semua beban saya pasti hilang setelah melihat senyum kamu.." ucap Vino pada biji bunga di tangannya


Setelah mencium stoples, Vino memakai pakaian dan membereskan kamarnya. Ia mengeluarkan semua pakaian di lemari dan mengganti dengan pakaian yang ada di kopernya. Vino memasukkan pakaian itu ke kotak pakaian kotor di kamarnya, kemudian menimpan di sudut ruangan. Kamarnya bersih dan nyaman dengan aroma yang sama dengan miliknya beberapa tahun lagi. Aroma remaja roman picisan. Vino menarik sebelah bibirnya tersenyum mengingat betapa alaynya dia dulu.


Poster band rock terkenal beserta puluhan kaset dvd tersusun di kabinet di bawah televisi besar yang menempel di dinding kamar. Vino tidak membuang mereka karena dia rasa itu bagus untuk dikenang.


Vino meraih album foto yang terletak di atas kabinet. Ia membuka perlahan dan melihat satu persatu fotonya. Dari bayi, anak-anak, remaja, sampai masa-masa kuliah. Banyak fotonya bersama Ross dan Jorge. Tangan Vino berhenti di sana dan mengeluarkan setiap foto yang ada Ross dan Jorgenya. Vino mengumpulkan mereka di sebuah kotak bekas, ternyata banyak juga fotonya. Vino juga mengemasi setiap benda yang berhubungan dengan Ross dan Jeorge. Sampai dua bok sedang benda itu terkumpul. Vino menulis di atas bok itu tulisan "bakar".


Setelah merasa tak ada lagi kenangan tersisa, Vino mengaktifkan komputernya dan mendisain ulang kamarnya menjadi lebih mirip dengan miliknya di Indonesia. Mengatur ulang tata letak barang dan bingkai gambar, juga mengatur agar dinding bagian balkon di buat dengan kaca sepenuhnya. Tak lupa ia juga menambahkan gambar pot bunga matahari dan beberapa ornamen bunga itu di hiasan dindingnya. Setelah memindai beberapa kali, Vino menyimpan gambar itu dan mengirimkannya pada e-mail temannya yang berkerja sebagai arsitektur dan menyisipkan beberapa pesan di sana.

__ADS_1


Tinggal beberapa jam lagi menuju pagi. Vino tertidur di kasurnya dengan stoples yang setia berada di pelukannya. Dia bahkan lupa kalau dia belum makan apapun sejak tiba di Amerika hingga saat ini.


__ADS_2