
"Makan dulu yuk!"
Semuanya langsung berbalik badan tatkala mendengar suara Oma, Oma sedang beridiri di ambang pintu.
"Wah ternyata banyakan, kirain tadi para wanita saja." Ucap Oma sambil tersenyum ramah.
Evan, Andy dan Riko langsung berdiri dan menghampiri Oma, mencium punggung tangan Oma sambil menanyakan kabar Oma.
Setelah itu semuanya berkumpul di meja makan, semua pelayan sibuk menata kembali makanan yang di hidangkan. Karena tamu hari ini lumayan banyak, dan tidak akan cukup jika semuanya duduk di kursi, Oma memerintahkan beberapa pelayan untuk menggelar karpet.
Semuanya makan lesehan, makan rame-rame bareng-bareng, entah mengapa makan seperti ini malah rasa nik'matnya bertambah. Ada sensasi rasa yang tidak bisa di dapatkan jika mereka makan masing-masing. Sensasi rasa yang sangat menghangatkan suasana.
"Kalista nggak makan Bu?" Tanya pak Anggara yang baru saja duduk bergabung untuk makan bersama.
"Nggak, katanya dia belum laper. Lagian dia lagi menyusui dede Nayla." Ujar Oma.
Makan sore itu terasa sangat indah, ada rasa nik'mat dan istimewa. Padahal menu makannya adalah menu biasa yang selalu di sajikan oleh para pelayan.
Andy, Evan, dan Riko menikmati makan dengan sangat lahap, mereka bertiga adalah orang-orang yang jauh dari orang tua. Biasanya mereka di apartment selalu makan sendirian, palingan kalau makna bersama juga kalau lagi nongkrong aja. Tidak berbeda dengan mereka bertiga, Tiara juga merasakan hal yang sama. Entah sudah berapa lama Tiara tidak merasakan kehangatan keluarga, entah kapan terakhir kali Tiara duduk dan menikmati makan bersama keluarga? Intinya, hari ini Tiara merasakan sebuah kehangatan keluarga.
Kenapa Andy tidak merasa sedih atau kecewa? Jangan berpikiran seperti itu, semua orang punya caranya tersendiri untuk mengekpresikan rasa sedihnya. Andy itu tipikal orang yang jarang memperlihatkan kesedihan, kegundahan maupun kegelisahan hatinya. Andy seolah baik-baik saja, tetapi Andy juga tahu sendiri bagaimana keadaan hatinya sekarang.
Gina?
Gina sih palingan kalau makan berdua doang sama mamanya, kalau tidak berdua dengan mamanya, palingan juga makan berdua sama Andy. Saat ini Gina masih merasa kecewa terhadap Andy, tetapi kata putus yang di ucapkannya entah sudah di sadari atau tidak, lagi pula secara tidak langsung dia juga sudah merendahkan Andy.
Acara makan sore sudah usai, para wanita membantu pelayan untuk membereskan bekas makan, sedangkan pada pria duduk santai di ruang tamu sambil bercanda tawa gurau bersama pak Anggara.
Setelah puas mengobrol banyak hal dengan pak Anggara, lalu mereka kembali lagi ke kamar Nathan dan Nayla. Karena Oma dan pak Anggara pun sudah kembali lagi kepada rutinitasnya masing-masing. Pak Anggara pergi ke ruang baca yang di jadikan ruang kerjanya, sedangkan Oma pergi ke taman belakang untuk merawat berbagai macam tanaman bunganya.
"Udah sore nih, balik yuk." Ajak Gina pada Tiara.
"Yuk balik." Risa juga langsung bangun dan mengambil tas kecilnya.
"Kita juga balik yuk!" Evan langsung mengajak para pria untuk pulang.
"Gue bawa mobil, gimana kalau gue nganterin kalian dulu para cowok!" Ajak Riko, sebenarnya Riko itu agak pemalas, tetapi kali ini entah mengapa Riko sangat antusias ingin mengantar para wanita.
"Boleh aja sih lu kalau mau anterin para wanita! Tetapi, wanita yang pertama harus lu antar sampai selamat ke rumahnya adalah Risa. Setelah itu terserah deh lu mau nganterin Tiara ataupun Gina, gue khawatir banget kalau lu anterin Risa belakangan, nanti yang ada bukannya di anterin pulang ke rumahnya, malah lu culik dulu ke apartment lu." Ujar Arka terang-terangan, memang hal itu yang Kalsita cemaskan juga.
"Oke." Jawab Riko dengan mata jengahnya.
"Tapi mana bisa kaya gitu! Mobil gue kapasitas muatannya hanya 4 orang. Berarti gue anterin para wanita terlebih dahulu ya." Riko mengambil kunci mobilnya, lalu akan beranjak keluar kamar.
"Nggak bisa gitu dong! Gue kan mau pulang bareng Tiara, ada yang harus gue bicarakan soalnya." Sarkas Evan yang langsung menggandeng erat pergelangan tangan Tiara.
"Nggak bakalan cukup bro! Mendingan kalian berdua deh pesan taksi online aja." Saran Riko pada Evan.
"Cukup! Lu yang nyetir, Evan duduk di sebelah lu. Nah tiga wanita ini duduknya di belakang, cukup lah buat mereka tiga karena badannya juga ramping-ramping kan." Kali ini Andy yang memberikan saran terbaiknya, sebuah saran yang sangat pas dan tidak ribet.
"Elu gimana?" Tanya Riko dan Evan bersamaan sambil menatap intens Andy.
"Gampang gue mah! Taksi online banyak, lagipula gue mau pulang cepat aja sih, soalnya gue belum beres-beres apartment, cucian numpuk belum di bawa ke laundry, mungkin nanti lama-lama lemari gue kosong semua baju malah pindah ke keranjang cucian." Andy terkekeh mengingat kondisi apartmentnya tadi pagi, apa yang barusan Andy ucapkan memang benar adanya.
"Makanya gunain jasa art dong!" Celetuk Kalista.
"Eh bener juga, enak sih pakai jasa art. Tapi gue nggak mampu, gue ngirit banget soalnya rupiah demi rupiah gue kumpulin buat modal nikah, tau sendiri kan nikah jaman sekarang mah mahalnya astagfirullah." Ujar Andy, pandangannya tetap terfokus pada layar ponsel.
"Emang mau nikah?" Ledek Riko sambil terkekeh geli.
"Nggak jadi! Uang mau gue gunain buat biaya pendidikan adik gue aja." Andy juga terkekeh menanggapi ledekan Riko.
"Pikirin sekali lagi deh! Emang nggak ada yang mau lu bicarakan pada Gina?" Evan menatap Andy dengan tatapan serius, wajar Evan berkata begitu, karena di sini yang sangat merasa bersalah adalah Evan.
"Apa yang mau di omongin? Gina sudah berbicara dengan jelas, Gina juga udah nggak mau sama gue. Terus gue harus gimana? Maksa dia buat stay terus sama gue? Dia nggak bakalan bahagia kalau gitu. Gina udah mutusin gue di hadapan kalian, kalian semua dengarkan? Sebenarnya gue malu sih, gue juga udah tahu kedepannya gue pasti jadi bahan ejekan kalian." Andy tersenyum simpul.
"Udah deh ah! Gue balik duluan! Taksi online udah ada di depan gerbang tuh." Andy pamit pada semuanya, terakhir dia pamit pada Gina sambil mengusak puncak kepalanya, tidak lupa Andy juga memberikan seutas senyum.
Semuanya juga tahu ini sangat berat untuk Andy, Gina terlalu marah sampai dia mencela Andy, dan mengatakan bahwa dia akan pergi bersama pria tajir. Bahkan Arka langsung terdiam, Arka lah yang paling banyak mengetahui tentang kehidupan Andy.
Andy bukan berasal dari orang punya, kehidupannya sederhana. Tetapi Andy merupakan pria pekerja keras, rajin bekerja, dan selalu gigih dalam segala hal. Beberapa tahun ini kondisi perekonomiannya memang sudah membaik, tetapi kalau di bandingan dengan para sahabatnya perekonomian Andy memang masih tetap berada di bawah mereka.
Beberapa pasang manik mata itu masih setia memperhatikan punggung Andy yang perlahan kian menghilang. Diantara manik mata itu terdapat manik mata Gina yang masih setiap menatap, walaupun punggung itu sudah tidak terlihat lagi.
"Yuk balik yuk!" Riko langsung pamitan pada ayah dan bunda baru, langkah Riko langsung di ikuti oleh semuanya.
Sesuai dengan perintah Andy, Riko yang menyetir, Evan di sampingnya. Di kursi belakang di duduki oleh tiga wanita, untung saja mereka bertiga mempunyai badan ramping, sehingga ketiganya tidak merasa sempit.
Mobil melaju dengan perlahan, jalanan cukup padat karena ini weekend sore, banyak sekali muda-mudi yang sedang berbincang. Biasalah ya anak muda, nongkrong sambil pacaran.
Riko mengantar Risa terlebih dahulu, Riko juga bertanya di mana alamat Risa, hari ini lah untuk pertama kalinya Riko mengetahui alamat rumah Risa, Riko juga mengetahui yang mana rumah Risa. Sebenarnya sih Riko ingin ngobrol terlebih dahulu, namun Evan memantau segalanya sesuai dengan perintah Arka.
Setelah mengantar Risa, kini Riko mengantar Gina. Begitu sampai di depan rumahnya, mama Gina bertanya dimana Andy? Semuanya terdiam, karena mereka semua memang tidak harus menjawab pertanyaan dari mana Gina, biarkan saja nanti Gina yang menjelaskan. Tetapi, ketika di dalam mobil Tiara sudah berbicara panjang lebar pada Gina, Tiara berharap Gina dan Andy kembali bersama, karena sedikit banyak Tiara tahu tentang Andy yang sedang berusaha menabung untuk biaya pernikahan. Tidak hanya itu Andy juga bekerja semakin giat, bahkan Andy sudah punya planning kedepannya bakal ngapain aja.
__ADS_1
Terakhir, Riko mengantar Tiara sampai di depan rumahnya. Yang turun bukan hanya Tiara, Evan juga ikutan turun. Dari jarak 1 meter, Riko telah melihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri di depan gerbang, raut wajahnya terlihat cemas dan gelisah. Riko berpikir mungkin itu mamanya Tiara, Riko langsung putar arah dan balik ke kediamannya.
"Darimana? WhatsApp mami nggak di balas? Seharian ini kemana aja? Kenapa nggak kasih tahu bibi kamu pergi kemana?" Cerocos maminya Tiara, lalu dia segera memeluk erat putrinya satu-satunya itu.
"Tengokin bayi, sahabatku sudah lahiran, bayinya kembar, cantik, ganteng, lucu, imut, dan menggemaskan. Ponsel aku lowbat mami, aku pergi buru-buru tapi aku sudah meninggalkan note di kulkas, bibi nggak baca kali ya, atau mungkin notenya lepas." Jawab Tiara dengan beruntun juga sesuai dengan pertanyaan maminya.
"Lain kali kalau pergi ponsel nggak boleh lowbat, kabari mami setiap saat!" Sang mami langsung mencubit gemas pipi dan hidung Tiara.
"Iya mami." Tiara kembali memeluk sang mami, pelukan yang sangat erat, bahkan Tiara enggan untuk melepaskan pelukan itu. Tiara merasakan kangen yang luar biasa.
"Tulis nomor kamu!" Maminya Tiara langsung menyerahkan ponselnya pada Evan. "Biar mami gampang nyari Tiara." Imbuhnya lagi sambil tersenyum ramah.
Evan mengambil ponsel itu dan langsung mencatat ponselnya, tentu saja Evan sangat bahagia, karena maminya Tiara sudah menganggapnya sebagai calon suami Tiara. Bahkan maminya Tiara juga sudah menyetujui hubungannya.
"Tadi turun dari mobil siapa? Kenapa nggak mobil?" Tanya maminya Tiara sambil menepuk bahu Evan.
Seketika Evan langsung teringat, bahwa dirinya belum menyapa maminya Tiara, bahkan belum salaman juga. Sehingga Evan langsung mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Di mobil teman, tadi pagi Evan nggak bawa mobil. Soalnya pergi bertiga ke mall nyari kado buat bayi." Jawab Evan sambil tersenyum kikuk, karena dia bukan hanya nyari kado tetapi setelahnya ikutan nongkrong.
"Udahnya nongkrong dulu, sekalian godain cewek, katanya mau nyari yang bening." Celetuk Tiara yang langsung berjalan masuk mendahului maminya dan Evan yang sedang mengobrol.
Maminya Tiara langsung menghentikan langkahnya, menatap Evan dengan tatapan yang menusuk. "Benar apa yang Tiara katakan? Kamu nggak serius sama Tiara?" Tanyanya intonasi tinggi dan tatapannya tetap menusuk.
Evan langsung merutuki kebodohannya, untuk mendapatkan Tiara saja dirinya harus susah layan, apalagi mendapatkan restu maminya Tiara. Tadi pagi Evan malah nongkrong-nongkrong nggak jelas, ngajak beberapa cewe kenalan. Walaupun itu hanya iseng, tetapi jika maminya Tiara sampai tahu semuanya, sudah bisa di pastikan bahwa dia gagal nikah.
"Tadi pagi teman Evan ngajak nyari kado, di mall gitu. Dia jemput Evan ke apartment, jadi Evan nggak bawa mobil. Setelahnya kita makan di kafe sambil nongkrong sebentar, hanya makan, nggak main cewe kok. Evan juga serius banget sama Tiara, cuma ya gitu Tiara itu suka tiba-tiba manja, tapi Evan sayang banget kok sama Tiara. Tante harus setuju pokonya kalau Evan lamar Tiara." Ujar Evan sedikit berbohong, nggak mungkin dong kalau Evan ngaku, dan mengatakan yang sejujurnya. Tetapi kalimat terakhir Evan mengatakannya dengan penuh keseriusan.
"Tergantung sih, kamu seserius apa pada Tiara? Kalau cuma main-main dong mah lewat deh! Mami maunya Tiara mendapatkan calon suami yang baik dalam segala hal, baik perangainya, baik tutur katanya, baik sikapnya, dan memperlakukan istrinya dengan baik dan mengistimewakan istrinya. Dan yang lebih utamanya, laki-laki yang bertanggung jawab dan setia terhadap satu wanita. Laki-laki yang bisa berkomitmen, dan ucapannya dapat di pegang. Laki-laki yang bisa membuat keluarganya selalu harmonis, cekcok itu pasti ada, tetapi mami menginginkan satu laki-laki yang marahnya diam, dan tidak main tangan pada anak mami." Mami Tiara mengatakan keinginannya unruk kriteria calonnya Tiara, maminya Tiara tidak ingin Tiara merasakan dan mengalami kehidupan rumah tangga yang menimpa dirinya.
"InsyaAllah Evan bisa, Evan akan selalu memperlakukan Tiara dengan sebaik mungkin yang Evan bisa." Jawab Evan dengan wajah yang sangat menyakinkan, Evan berharap dirinya bisa menjadi sosok laki-laki yang maminya Tiara mau.
"Halah bulshit!" Celetuk Tiara yang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka berdua.
"Kalian ada masalah?" Tanya maminya Tiara sambil menatap Tiara dan Evan bergantian.
"Yang ada masalah itu sahabat Evan, bukan Evan dan Taira." Jawab Evan secara spontan, Evan takut sekali Tiara membongkar ulahnya tadi pagi.
"Iya mam, maka dari itu Tiara mau mendiskusikan masalah itu sama Evan. Nah berhubung mami ada di sini, boleh dong mami buatkan pudding mangga kesukaan Tiara." Tiara merengek manja pada maminya, Tiara juga bergelanjut manja di tangan maminya.
"Iya, nggak salah kata pacar kamu, kamu itu masih suka manja-manja gitu." Maminya Tiara mengusak puncak kepala Tiara.
"Ih ngadu-ngasu ke mami." Tiara langsung mencubit lengan Evan, bukan cubitan pelan tetapi cubitan yang sengaja dan cukup membuat Evan tersenyum menahan sakit.
Tiara langsung menarik tangan Evan, Evan menurut saja, Evan sudah pasrah terhadap apapun yang bakalan Tiara lontarkan. Feeling Evan mengatakan bahwa Tiara kan mengamuk dan marah besar.
Tiara membawa Evan ke taman yang letaknya lumayan jauh dari halaman utama, duduk di bangku taman sambil menikmati semilir angin sore, bahkan langit sudah hampir berwarna oranye, sunset sebentar lagi akan terlihat.
"Maaf." Evan langsung memeluk Tiara dengan erat, raut wajah Evan sudah terlihat sendu. Evan takut Tiara akan mengambil langkah yang sama seperti Gina. Bahkan Evan sampai tidak habis pikir, hubungan Andy dan Gina yang selalu terlihat harmonis dan dewasa itu seketika kandas begitu saja.
"Kenapa sih kamu nggak berubah? Kasih aku alasan yang masuk akal!" Tiara melepaskan Evan dari pelukannya, dan langsung menatap Evan dengan kilatan api yang menyala-nyala, bahkan Tiara merasakan puncak kepalanya terasa panas dan bergejolak.
"Iseng doang!" Jawab Evan lirih, entahlah kenapa Evan mengucapkan kata iseng, Evan saja sampai bingung bagaimana memilih diksi dan kosakata yang tepat. Sepintar apapun Evan beralibi, Tiara pasti bakalan menyalahkannya. Toh memang ini semua salahnya.
"Iseng? Kamu tuh anggap aku pacar kamu atau bukan sih? Evan, please gue butuh pengakuan." Sengit Tiara, walaupun Tiara dalam keadaan emosi, tetapi Tiara masih bisa mengontrol suaranya agar tidak terdengar oleh maminya.
Bola mata Tiara memanas, genangan air sudah terkumpul di sana. Bahkan bulir-bulir air itu sudah berjatuhan membasahi pipinya.
"Maaf ra." Evan berjongkok dan segera menepis aliran air mata itu. "Maafkan kebodohan aku, aku tau ra, aku salah, aku bodoh telah menyia-nyiakan kamu." Evan menatap Tiara dengan tatapan mata sendu dan mengiba.
"Aku selalu tahu kamu itu pacar aku, aku selalu ingat itu! Jujur saja aku ini memang genit pada wanita, tetapi aku serius banget sama kamu. Aku sayang kamu ra, kan kamu juga tahu sendiri, aku selalu ngajak kamu nikah. Bukan karena aku mau menikmati tubuh kamu, bukan mau mantap-mantap doang, aku mau membawa hubungan kita ke jenjang yang serius, aku mau berumah tangga. Tapi kamunya selalu menolak dengan alasan belum siap, bahkan aku sampai berpikir sepetinya sampai sejauh ini kamu masih nggak percaya sama aku." Evan masih berjongkok di hadapan Tiara.
"Aku memang belum siap, bukan berarti aku nggak mau nikah sama kamu. Tetapi, untuk saat ini hubungan aku dan papi belum membaik, kalaupun kamu minta izin buat nikahin aku, papi pasti nggak bakalan menyetujui. Soalnya papi juga punya niat mau jodohin aku." Ucap Tiara dengan suara serak karena habis menangis.
"Kenapa nggak ngomong dari dulu? Aku kan jadi salah paham?" Evan mengusap lembut tangan Tiara.
"Maafin semua kesalahan aku hari ini, sumpah aku nggak bakalan kaya gitu, aku nggak bakalan ngulangin itu lagi. Aku mau fokus sama kamu, karena kamu adalah wanita terbaik. Mungkin kesalahan aku hari ini bakalan agak susah buat kamu lupakan, tapi perlahan demi perlahan kamu pasti bisa melupakannya. Kita perbaiki hubungan kita ya, kita mulai dari awal lagi. Kamu harus tahu aku serius banget sama kamu, aku nggak main-main, dan aku bakalan berusaha untuk meyakinkan papi kamu, agar menyetujui dan merestui hubungan kita." Evan langsung memeluk erat Tiara, tidak tahu Tiara percaya apa tidak pada semua perkataannya.
Evan juga tahu, tidak mudah bagi wanita untuk percaya begitu saja kepada pria yang beberapa jam lalu hampir saja mengkhianatinya.
Tiara sesenggukan di pelukan Evan, menangis tersedu-sedu sampai membasahi baju Evan.
"Ara sayang, jangan nangis lagi dong! Udah ah, nanti mami ngiranya aku macam-macam, nanti aku bakal di suruh mundur sebagai calon suami kamu." Evan terkekeh pelan, jari jemarinya masih setia mengusap lembut puncak kepala Tiara.
"Aku berusaha menyakinkan hatiku agar kembali percaya pada semua ucapan kamu, tapi aku akan mengajukan satu syarat." Tiara wajah jeleknya sehabis menangis itu menatap Evan dengan manik mata yang sembap, hidung yang merah, dan pipi yang basah.
"Boleh, apa sayang?" Jawab Evan dengan lembut, apapun syarat yang Tiara ajaukan Evan akan langsung menyetujuinya, karena mungkin ini juga sebagai konsekuensi atas kesalahannya.
"Kalau sekali lagi aku tahu kamu godain wanita, aku minta putus, hubungan kita berakhir begitu saja, tidak hanya hubungan pacaran syarat ini juga berlaku kalau kita sudah nikah, berarti kita cerai." Tiara berkata tegas dan ketus.
"Setuju! Aku bakalan lebih serius berkomitmen dengan kamu." Evan langsung mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Tiara, berusaha berjanji dan semesta menjadi saksinya.
"Maaf ya Ara sayang." Kini Evan sudah terduduk di samping Tiara, memeluk Tiara dengan erat dan mesra, bahkan Evan sampai mengendus-endus rambut Tiara, menghirup aroma wangi dari rambut itu.
__ADS_1
"Sekarang kita berdua harus meyakinkan Gian agar kembali lagi pada Andy, karena aku tahu Andy berbohong karena takut Gina marah, tetapi kebohongannya malah menghancurkan hubungannya. Dan aku juga tahu, yang ngajakin Andy nongkrong pasti kamu." Tiara melepaskan tubuhnya dari dekapan Evan, kemdudian berbicara dengan serius.
"Iya! Aku sampai ngerasa bersalah banget, gara-gara aku, hubungan mereka langsung kandas begitu saja. Aku juga nggak nyangka, ternyata kekecewaan Gina pada Andy begitu dalam. Padahal aku tahu banget, Andy juga di sana nggak banyak tingkah, malah pikirannya tuh sellau terfokus pada Gina." Evan mendesah pasrah, hubungan Andy dan Gina menjadi tanggung jawabnya.
"Gina juga salah sih, walaupun dia emosi dan merasa geram pada Andy, tidak seharusnya ucapannya menjurus ke merendahkan, dan menjatuhkan mental Andy. Andy diam bukan berarti dia menerima keputusan Gina untuk mengakhiri hubungannya, Andy diam karena Andy tahu ekonominya emang biasa saja, apalagi jika di bandingkan dengan pria tajir. Andy merasa lemah di situ, dan aku hafal banget dengan sikap dan sifat Andy, dia nggak bakalan meminta wanita untuk terus berada di sampingnya, jika wanitanya sudah tidak mau." Evan berkata sambil menengadahkan wajahnya menatap langit.
"Seharusnya Gina bisa menjaga ucapannya, kenapa Gina harus berkata begitu sih?" Imbuhnya lagi, manik matanya masih menatap langit yang sama.
Tiara dan Evan sepakat untuk mendamaikan Andy dan Gina, kalau bisa sih mereka mau menyatukan kembali hubungan dua orang itu.
Sore itu mereka membicarakan banyak hal, mulai dari hal-hal penting dan hal yang nggak penting sekalipun.
Duduk di bangku taman menikmati indahnya suasana sore, melihat lalu lalang capung yang terbang kesana-kemari.
Lalu sunset itu datang, dan Evan segera mengabadikannya melalui ponselnya, tidak lupa Evan juga mengambil beberapa potret Tiara akan pose yang berbeda-beda. Evan juga membuat beberapa story di Instagramnya, mengunggah satu foto di feed dan tidak lupa men-tag Tiara.
"Masuk yuk! Sudah hampir gelap, mami juga pasti sudah selesai buat pudding." Tiara langsung menggandeng tangan Evan, sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, Tiara berkaca terlebih dahulu, mastikan bahwa wajahnya terlihat biasa saja, jangan sampai mata sembap, dan hidung yang memerah terlihat oleh maminya.
"Mendingan kalian mandi dulu deh!" Ujar mami Tiara yang bagus aja muncul di balik pintu.
"Nggak mau!" Jawab Evan dan Tiara bersamaan.
"Waduh kompak! Serasi banget sih." Mami Tiara tersenyum hangat sambil menatap mereka berdua.
"Cocok banget kan kita?" Evan langsung mencubit gemas pipi Tiara.
"Iya cocok! Kalau bisa cepat-cepat nikah gih, mami pengen gendong cucu."
"Mami dulu aja nikah, gimana?" Bukannya menyetujui permintaan maminya, Tiara juga malah berbalik tanya pada maminya.
"Astagfirullah nak, mami sudah tua."
"Nikah gih sama pak Anggara ayahnya Arka, dia pemilik perusahaan Anggara, usianya mungkin hanya berbeda dua tahun atau tiga tahun dengan mami, wajahnya masih terlihat tampan, dan sepertinya masih perkasa mi." Celetuk Tiara sambil tersenyum menyeringai.
"Anak mami kenapa sih? Kok ngeri banget. Diajari apaan nih sama pacar kamu?"
"Diajarin masak sama nyuci baju tan." Evan langsung menyambar ucapakan maminya Tiara.
"Bagus tuh! Biar anak mami tidak manja."
"Ih mami." Tiara cemberut dan bibirnya manyun.
Mami Tiara menyuruh mereka ke ruang makan, menikmati pudding mangga pesanan Tiara. Semuanya tampak sibuk menikmati pudding itu, bahkan sampai tidak ada yang mengeluarkan suara.
"Tante, puddingnya enak banget." Evan baru selesai menghabiskan pudding itu, lalu dia mencoba untuk memberikan nilai.
"Ini adalah pudding kesukaannya anak mami." Ucapnya sambil tersenyum.
Tiara?
Masih menikmati puddingnya, karena ini pudding pesanannya Tiara jadi mami sengaja memberikan pudding dengan porsi jumbo, lagi pula Tiara sudah lama tidak memakan pudding mangga buatan maminya ini.
"Ra, terhitung mulai hari ini, mami akan tinggal di sini dan merawat anak anak gadis mami satu-satunya."
Apa katanya barusan? Tiara langsung menghentikan makan puddingnya, bahkan dimulut ya yang belum terkunyah saja sampai Tiara tekan dengan sengaja. Manik mata itu membulat sempurna, sudut bibirnya terangkat sehingga membuat sebuah garis lengkungan.
"Mami, ini beneran kan? Mami nggak bohongkan?" Tiara masih bertanya, takutnya maminya bercanda.
"Mami sungguhan sayang."
Tiara langsung menghambur ke pelukan maminya, memeluknya erat tetapi dengan air atau berlinang. Tiara merasa bahagia sekaligus terharu, sudah sekian lama tidak tinggal dengan maminya, sekarang lagi hidupnya tidak kan terasa hampa, dan akan ada orang yang selalu bawel di rumah.
Evan juga merasakan kebahagiaan, melihat Tiara bagaian tentu saja Evan pun akan bahagia. Syukurlah, mungkin sekarang Tiara bakalan bisa segala hal, tidak akan menjadi Tiara yang manja, dan senantiasa tidak bisa melakukan apapun selain masak air.
Waktu sudah semakin larut, Evan memesan taksi online. Sebenarnya sih maminya Tiara meminjamkan mobilnya, namun Evan tidak mau.
"Tante, terimakasih sudah melahirkan gadis cantik yang nanti akan menjadi istriku." Ucap Evan ketika pamitan dan mencium punggung tangan maminya Tiara.
"Sayang, aku pulang ya." Evan pamit pada Tiara, bahkan Evan sempat-sempatnya mencuri cium kening Tiara.
Wajah Tiara memerah, ini memang bukan peetama kalinya Evan mencium keningnya. Namun Tiara merasa malu, karena Evan mencium keningnya tepat dihadapan maminya.
"Haduh malah bengong! Nanti kalau sudah nikah, Evan bakalan mencium bagian lain di tubuh kamu. Lah kanak gadis mami ini baru di cium kening sudah terkesima, nanti kalau udah nikah jangan pingsan." Sang mami mencolek dagu Tiara sambil berusaha menggodanya.
"Arghhhh mami, Tiara malu!" Tiara berusaha menutupi wajahnya yang memerah.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1