SUN FLOWER

SUN FLOWER
KESEDIHAN TIARA


__ADS_3

Mobil telah sampai di depan gedung pencakar langit, Arka segera turun dan menggandeng tangan sang istri. Semua karyawan kantor yang sedang berlalu lalang di lantai dasar, menoleh kepada CEO nya itu. Karena melihat iring-iringan mobil yang mengawal tuan dan nyonya nya.


"Selamat siang pak bu." Sapa resepsionis, senyum sumringah ia tampilkan untuk menyambut sang CEO dan Istrinya.


"Siang." Jawab Kalista tak kalah ramah. Arka sih boro-boro menjawab, dirinya malah sibuk menggenggam tangan istrinya.


Arka masuk kedalam ruangannya. Andy tampak sibuk bersama Gina sedang menyusun dokumen-dokumen yang ada di meja kerja Arka.


"Selamat siang pak bu." Ucap Gina, kemudian tangannya kembali sibuk berurusan dengan sejumlah dokumen yang menumpuk.


"Gimana kabarnya calon ponakan?" Andy menghentikan sejenak aktivitas nya, lalu menoleh pada Kalista.


"Sehat." Jawab Kalista.


Arka dan Kalista lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Arka sibuk mengutak-atik ponselnya, lalu matanya membelalak dan menatap Kalista dengan senyum seringainya.


"Bagus, aku pesan ah." Arka menarik Kalista ke pelukannya, lalu menyuruh Kalista untuk melihat layar ponselnya.


Kalista melotot dan mencubit pinggang Arka. "Nggak mau! Awas aja kalau pesan, aku nggak bakalan mau tidur sama kamu!" Ketus Kalista sambil mendelikkan matanya, di layar ponsel Arka terdapat bikini warna merah. Ternyata Arka sedang membuka aplikasi belanja online.


Arka terkekeh geli, padahal 2 menit yang lalu dirinya sempat membayangkan Kalista memakai bikini itu. "Iya nggak sayang." Arka mencubit gemas pipi Kalista.


"Aku belum makan!" Ujar Kalista sambil mengusap perutnya itu. "Kasian dede bayi baru sempat minum susu doang."


"Aku juga belum makan." Ujar Arka dengan santainya, kemudian dia mengeluarkan ponselnya yang baru saja masuk ke kantung celananya.


"Mau makan apa? Delivery aja ya hehe."


"Mekdi ya!" Jawab Kalista antusias. "Tapi bentar, aku mikir dulu." Kata Kalista sambil mengetuk-ngetuk dahinya dengan jari telunjuk, ciri khas orang sedang berpikir.


"Aku mau triple burger with cheese, McNugget, minumnya orange juice aja." Jawab Kalista, rasanya detik ini juga Kalista ingin segera menikmati makanannya itu.


"Siap ibu negara." Arka kalau memesan apa yang telah Kalista sebutkan, Arka juga menambahkan beberapa makanan untuk dirinya.


Selesai memesan delivery, ponselnya kembali di letakkan di meja. Arka lalu menatap Kalista, senyum hangat selalu terukir di bibirnya.


Arka berjongkok di hadapan Kalista, mengusap perut Kalista dengan sangat lembut dan hati-hati "Anak ayah kelaparan ya? Maaf ya nak, tapi ayah sama mamamu juga lapar." Arka menghentikan sejenak ucapannya, menatap manik mata istrinya sekilas.


"Jadilah anak yang baik, bantu ayah jagain mama ya sayang." Arka mengecup perut Kalista, bukan hanya sekali namun sampai sepuluh kali.


Sementara menunggu pesanan datang Kalista sibuk memainkan game online di ponsel Arka. Arka sibuk menandatangani sejumlah berkas, karena hampir setiap hari berbagai macam berkas selalu menumpuk di meja kerjanya.


Kalista merasa kantung kemihnya telah terisi penuh, dirinya langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di kamar ruangan itu.


Begitu Kalista keluar dari kamar mandi, Arka telah menunggunya di tepian kasur.


"Nungguin aku?"


"Iya, khawatir sama istriku takut terpeleset. Yaudah ayo, mekdi telah sampai."


Kalista memakan triple burger cheese dengan sangat lahap, belum sampai lima belas menit semua makanannya pun telah habis. Padahal Arka baru menghabiskan satu cheese burger miliknya.


Arka mengelap sisa-sisa makanan yang terdapat di sudut bibir Kalista. "Mau lagi nggak? Nih makan punya aku, atau mau delivery lagi juga boleh." Arka menunjukan chicken muffin miliknya yang masih utuh sama sekali belum tersentuh.


"Udah istirahat dulu, ini udah masuk jam istirahat loh." Ujar Kalista, karena Gina dan Andy masih sibuk berkutat dengan sejumlah dokumen dan berkas-berkas.


"Iya istirahat! Tubuh kalian juga butuh nutrisi, silahkan makan dulu! Mau pesan gofood silahkan, nanti gue yang bayar."


"Beneran? Wah asyik nih, sering-sering tlaktir ya pak, lumayan pengiritan uang makan." Gina sangat antusias, kemudian dirinya langsung pesan gofood. Beberapa makanan yang memang sangat ingin ia cicipi namun ia enggan untuk membeli karena harganya fantastis cukup menguras kantong. Kali ini Gina memesannya, toh boss nya yang akan bayarin jadi bisa pesan sepuasnya.


Kalista melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju kantin, ia celingak-celinguk memperhatikan setiap orang di bangku kantin. Ketiga sahabatnya itu belum berada di kantin.


"Nyari gue ya." Bimo menepuk pundak Kalista dari belakang, sehingga Kalista memekik karena kaget.


Kalista melotot pada Bimo "Ngagetin gue, nggak ingat lu gue kan lagi hamil, nanti kalau anak gue ikutan kaget juga gimana coba?" Kalista mendelikkan matanya jengah.


"Nah loh bahaya ibu boss marah, nanti gaji lu sebulan di potong." Bima meledek Bimo, dan menuntun Kalista untuk duduk di salah satu bangku kantin.


Dari tadi Bimo meminta maaf terus menerus pada Kalista, Bimo tidak ingin sahabat sekaligus ibu boss nya ini marah. Padahal Kalista hanya kaget, dan marah sekilas, tapi Bimo meminta maafnya sampai puluhan kali.


"Udah gue maafin, santai dong." Kalista menoyor kepala Bimo. "Btw, Tiara mana?" Kalista masih tidak menemukan batang hidung sahabatnya itu.


"Nggak tahu, mungkin masih di ruangannya kali." Sahut Bima.

__ADS_1


"Nah panjang umur tuh bocah." Bimo menunjuk gadis cantik yang sedang berjalan, namun raut wajahnya terlihat sendu.


"Ra... sini." Kalista melambaikan tangannya, Tiara menoleh lalu menghampirinya.


"Beb muka lu kenapa? Kusut banget kaya baju belum di setrika." Bima menatap Kalista secara intens.


"Ah nggak apa-apa, perasaan lu aja kali." Seketika Tiara langsung merubah ekspresi wajahnya, yang tadinya sendu sekarang menjadi lebih ceria. Namun keceriaan itu masih terlihat sendu di mata Kalista, jangan harap Tiara bisa membohongi Kalista.


"Kalian pesan aja apapun yang kalian mau, gue yang bayar!" Ucapan Kalista langsung disambut sukacita dan gembira oleh dua ban bemo.


"Serius? Wah enak nih perbaikan gizi." Bima dan Bimo langsung bergegas memesan berbagai macam makanan.


"Elu juga ra, sana pesan! Makan yang banyak badan lu kurus banget." Kalista menatap sahabatnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, sahabatnya itu tampak kurus dan sedikit berantakan.


"Bukan gue yang kurus, elunya aja lagi berbadan dua. Makanya lihat gue jadi kaya ngelihat tiang listrik ya." Tiara terkekeh pelan, namun lagi dan lagi Kalista mengetahui bahwa kekehan itu hanya sebagai kekehan untuk menutupi keadaan hati dan batinnya.


Bima dan Bimo memesan berbagai macam makanan dan memakannya dengan lahap, Kalista sampai heran dan bingung bagaimana cara mereka berdua menghabiskan makanan sebanyak itu.


Tiara hanya memesan nasi goreng dan teh manis. Diam-diam Kalista memerhatikan Tiara yang sedang menikmati nasi gorengnya, tatapan matanya kosong, kerutan di dahinya menunjukan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.


Pikiran Tiara melayang kembali pada pagi tadi. Ketika sedang berada di jalan menuju kantor. Tiba-tiba ponselnya berdering, terdapat satu pesan WhatsApp dari maminya. "Mami sama papi mau cerai, papi selingkuh. Sekarang terserah kamu mau tinggal sama mami atau papi, atau mau tinggal di rumah juga silahkan. Rumah itu memang untuk kamu." Begitulah isi pesan WhatsApp dari maminya.


Bagaikan tersebar petir di pagi hari, hati Tiara seketika hancur berkeping-keping. Selama ini Tiara selalu mengira bahwa mami dan papinya harmonis dan baik-baik saja, mereka selalu bersama-sama kemana pun mereka pergi, bahkan Tiara saja hampir tidak di perhatikan oleh mami dan papinya itu.


Tiara menangis tersedu-sedu, banyak orang yang berlalu lalang di jalanan memperhatikannya, ada yang menatapnya iba dan ada pula yang menatapnya bingung. Tiara merasa hidupnya tidak seberuntung orang-orang, takdir seperti mempermainkannya. Setelah sekian lama selalu di tinggalkan oleh mami papinya, kini dirinya pun bebas untuk memilih antara mami dan papinya, ironisnya tinggal sendiri pun silahkan. Mami dan papinya seperti tidak mempunyai perasaan.


Tidak terasa sebutir air bening yang sudah berkumpul di pelupuk matanya itu lolos keluar melewati pipinya. Kalista tanpa banyak omong segera mengusap pipi sahabatnya itu, kemudian memeluknya. Tanpa kata dan tanpa suara, namun pelukan itu cukup dan mampu menguatkan hati Tiara.


Arka berlari-lari kecil menuju kantin, matanya langsung menelisik seluruh ruangan kantin, dia sedang mencari keberadaan istrinya. Setelah mengetahui dimana istrinya sedang duduk, Arka pun menghampirinya.


"Sayang, ada klien yang mendadak ngajak ketemu. Nggak bisa di wakilkan atau pun di cancel, kamu jangan kemana-mana ya! Pokonya tunggu di kantor ini sampai aku kembali!" Arka mengusap-usap punggung tangan istri tercintanya itu.


"Tiara, nitip istri saya ya! Nanti kalian berdua nonton drakor atau pesan makan atau apa kek terserah, pokonya kalian berdua tunggu di ruanganku ya."


"Iya pak." Ucap Tiara, hati Tiara terasa lega, karena sejak pagi ini dirinya tidak fokus bekerja, nah sekarang malah di titipi Kalista, selain nggak usah kerja Tiara pun bisa curhat sama sahabatnya itu.


"Tunggu aku, jangan kemana-mana! Satu langkah pun kamu nggak boleh keluar dari kantor ini." Arka masih memberikan wejangan pada Kalista, padahal Kalista sudah paham dan mengerti namun ucapan itu terus menerus di ulang-ulang.


"Aku berangkat ya sayang, nak bantu ayah jaga mama. I love you." Arka mengecup perut Kalista, kemudian pipi kiri kanan dan kening Kalista, dan yang terakhir mengecup puncak kepala Kalista.


"Semangat kerja, hati-hati di jalan." Kalista mengecup pipi Arka.


Tiara menatapnya dengan senyuman sinis, pemandangan barusan seperti sedang mengejeknya, hatinya makin terasa seperti sedang di iris. Kalista yang selalu mengeluh hidup sebatang kara kini telah menemukan belahan jiwanya, yang sangat menyanyinya. Namun dirinya juga merasa senang bahwa sahabatnya kini hidup berbahagia, semoga suatu saat dirinya pun bisa bahagia.


"Ya ampun ta, suami lu kaya mau berpisah satu bulan aja." Ledek Bima.


"Ya begitulah suami gue, posesif." Ujar Kalista.


"Bersyukur ta, miliarder loh. Eh btw makasih ya tlaktirannya ibu boss, sering-sering ya!" Ucap Bima dengan cengir kudanya.


"Thank banget bu boss, kita balik lagi ya keruangan, udah masuk jam kerja. Bahaya nanti di pecat sama suaminya ibu boss yang cantik ini." Bimo meledek lalu kemudian berjalan menuju ruangannya bersama Bima.


Kalista langsung mengajak Tiara untuk masuk ke ruangan kerja suaminya. Tiara menatap takjub ruangan boss nya itu. Ini pertama kalinya Tiara bisa masuk ke ruangan ini, dalamnya luas sekali. Meja kerja pak Arka tampak sangat rapi, begitu pula dengan meja kerja asistennya. Ada sofa untuk tamu, ada kamar pribadi, bahkan ada dapur dan kamar mandi juga di ruangan ini.


Kalista masuk ke kamar dan mengeluarkan beberapa cemilan dan minuman dari kulkas, meletakkannya di atas meja.


Tiara mengajaknya nonton drakor, awalnya Kalista ingin menolak, karena Kalista ingin Tiara segera mencurahkan isi hatinya. Namun apa daya? Kalista juga tidak akan tega untuk menolak ajakan sahabatnya ini. Mereka menonton sampai 10 episode, namun Arka masih belum kembali juga.


Laptop Kalista letakkan diatas meja, tangan Kalista segera merangkul bahu sahabatnya itu. Kalista sangat paham bahwa saat ini Tiara sedang butuh bahu untuk bersandar, dan butuh orang untuk diajak bergelut dengan rasa di hatinya.


Kalista bukan tipe orang yang langsung ngajak ngomong, namun Kalista lebih ke menenangkan terlebih dahulu, membiarkannya menangis sampai puas, barulah nanti di tanya perihal masalahnya.


Bagikan anak yang sedang menangis di pangkuan ibunya, Tiara menangis sambil memeluk Kalista. Diusapnya rambut Tiara secara perlahan, kemudian mengusap-usap punggung Tiara. Tiara menangis tersedu-sedu, hatinya terasa sakit, pilu, dan mencekam.


Hampir 30 menit Tiara menangis, bahkan kini baju Kalista telah basah oleh air matanya itu. Setiap tetesan air mata Tiara, mewakili perasaan sedih dan luka yang amat pedih di hatinya.


Mata Tiara membengkak akibat menangis terlalu lama, mata dan hidungnya merah. Kalista masih setia berada di sisinya, menenangkannya.


"Kalau belum bisa bercerita, gue nggak akan maksa ra. Tapi gue mohon satu hal sama lu, jangan pernah merasa terpuruk! Ingat ya gue ini adalah sahabat lu, kapan pun lu butuh gue, gue akan selalu ada." Ujar Kalista sambil mengelap sisa-sisa air mata di pipi Kalista, namun tetap saja air mata itu masih belum berhenti berjatuhan.


Tiara masih saja mengeluarkan air matanya, tangannya meraba saku balzzer nya, mengeluarkan ponsel lalu memperlihatkan pesan WhatsApp dari maminya.


Mata Kalista membulat sempurna ketika membaca pesan WhatsApp tersebut, Kalista merasa geram pada kelakuan papinya Tiara, lebih geram lagi ketika membaca kalimat terakhir dari pesan tersebut.

__ADS_1


Kalista kembali memeluk Tiara, kini Kalista bisa membayangkan rasa sedih dan pedih yang sedang Tiara rasakan. "Lu kuat ra, gue yakin lu bisa melewati ini semua."


Tiba-tiba pintu terbuka, munculah Evan di depan pintu. Tiara menoleh sekilas lalu membenamkan wajahnya di bahu Kalista.


Evan menatap Kalista bingung, dan meminta penjelasan, namun Kalista tidak bisa menjelaskan sekarang. Lalu Evan berpura-pura menumpang kamar mandi yang yang berada di ruangan ini.


"Sakit banget ra, setelah sekian lama nggak di perhatiin sama orang tua, kini mereka malah mau bercerai, lebih parahnya lagi nggak ada satupun dari mereka yang peduliin gue." Ucap Tiara di sela-sela tangisnya, suaranya terasa serak dan berat.


Evan di balik pintu kamar sedang mencuri dengar, Evan merasa simpati pada Tiara. Andaikan Tiara itu kekasihnya, mungkin Evan bisa mendekap sekaligus menenangkannya.


"Tuhan lagi siapin rencana indah buat hidup lu! Jangan terlalu terpuruk, ingat ya pelangi selalu muncul selepas hujan."


Tangis Tiara mulai mereda, Kalista terus menerus menguatkannya.


Evan keluar dari kamar, Tiara menundukkan wajahnya. Malu kalau sampai terlihat oleh Evan, matanya bengkak sampai sipit, hidungnya dan matanya merah. Bahkan mungkin wajahnya terlihat jelek sekarang.


"Numpang kamar mandi." Tiara bangkit dan langsung masuk ke kamar mandi. Mencuci mukanya, berusaha mengembalikan matanya pada mode normal.


Evan duduk di sebelah Kalista. "Gue dengar semuanya, pengen banget gue peluk sahabat lu itu." Ucap Evan dengan pandangan sendu, seolah-olah ia pun merasakan kesedihan yang sedang mendera Tiara.


Selama ini Evan memang sedang mendekati Tiara, namun seperti ada dinding kokoh yang menghalanginya untuk masuk ke hati Tiara. Pergerakannya selama ini hanya sebatas ngobrol-ngobrol saja, bahkan nomor teleponnya pun sampai sekarang Evan masih belum punya.


Jam menunjukan pukul 16:00 WIB, bel telah berbunyi, menandakan bahwa jam ngantor sudah selesai. Namun Arka masih belum kembali juga.


Tiara keluar dari kamar mandi, bengkak di matanya masih terlihat. Kalista menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, menyuruh agar Tiara duduk.


Tiara tampak kikuk di perhatikan oleh Evan, Tiara takut mata bengkaknya terlihat oleh evan.


"Minum!" Evan menyodorkan sebotol jus mangga pada Tiara.


Tiara menerimanya dan meneguknya sampai habis, menangis terlalu lama ternyata cukup membuat tenggorokannya kering, bahkan energinya pun cukup terkuras.


"Ra, ini baju di beliin suami gue, khusus untuk gue. Tapi sama lu malah di tumpahin ingus, ih jijik gue! Tapi gue sayang elu."


"Sorry." Tiara merasa bersalah. "Terimakasih sudah sayang sama gue." Tiara memeluk Kalista dengan sangat erat, mereka berdua berpelukan bagaikan Teletubbies.


"Party nih? Ruangan gue sampai berantakan kaya gini." Ucap Andy yang berada di samping Arka.


"Gampang tinggal di bersihin." Ujar Evan santai.


"Sayang maaf, tadi ada sedikit masalah." Arka langsung mengecup pipi istrinya, Arka takut istrinya merasa bosan.


"Pulang yuk! Aku cape, lagian nanti malam aku mau minta jatah__" belum sempat Arka melanjutkan ucapannya itu, Kalista lebih dulu sudah mencubit pinggang Arka.


"Enak ya udah nikah, di kelonin terus." Andy memandang Arka dan Kalista. "Gin, nikah yuk!" Ucapan Andy itu sukses membuat Gina bingung sekaligus salting.


"Jangan becanda dong pak, kalau saya baper gimana?" Gina mendelikkan matanya.


"Saya serius gin." Andy menatap Gina intens.


"Jam kerja sudah berakhir, saya pamit pulang pak." Gina langsung melangkahkan kakinya keluar, Gina seperti sedang menghindari tatapan Andy.


"Ra, nginep di rumah gue yuk!" Ajak Kalista, karena Kalista tahu bahwa Tiara sendirian di rumahnya, hanya di temani oleh sang bibi saja. Kalista tidak mau Tiara semakin larut dalam kesedihan.


Arka menoleh pada Tiara, Arka baru menyadari bahwa mata Tiara bengkak. Kini Arka menatap Evan dengan tatapan mengintimidasi, Evan segera menggelengkan kepalanya.


"Ah nggak usah, gue pulang aja." Tiara bangkit dari duduknya.


"Nginap aja, di rumah banyak kamar kosong kok." Arka pun menawarkan.


Tiara masih kekeuh tidak menginap, Tiara beralibi takut merepotkan, padahal nggak enak aja kalau sampai nginap di kediaman bossnya.


"Yaudah Evan anterin Tiara pulang! Nitip sahabat gue jangan sampai lecet secuil pun."


"Iya baik nyonya Arka." Ucap Eva.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Tekan ❤ tambahkan favorit! Boleh minta vote nggak sih? Yang punya koin atau point boleh lah di sumbangin hehe😂 Terimakasih🤗❤ komen yang banyak dong biar author makin semangat nulis😂


Find Me On Instagram : @halloimas13❤

__ADS_1


__ADS_2