SUN FLOWER

SUN FLOWER
KEPO


__ADS_3

Di hari ketiga itu Arka benar-benar tidak bisa tinggal diam saja, tidak bisa terus berbaring dengan selang dan jarum infus yang menancap di tangannya. Bahkan sudah berapa ratus kali mulut Arka memanggil-manggil nama Kalista dan kedua anaknya.


Mata itu telah sangat sembap, diam-diam Arka berjanji jika dirinya bertemu dengan Kalista dia akan langsung meminta maaf, dia juga siap menerima hukuman apapun dari Kalista kecuali perceraian. Arka sangat yakin, jika nanti bertemu dengan Kalista perceraian itu tidak akan terjadi. Lagi pula Kalista itu tidak akan memutuskan sesuatu dengan gampang. Kalaupun memang ingin cerai dia pasti akan meminta cerai ketika Nathan dan Nayla sudah berusia kira-kira 6 tahunan. Anak masih berusia enam bulan menuju tujuh bulan, dia mana sanggup meninggalkan dan tidak mengurusnya. Kalista juga sudah pernah bilang tidak akan rela jika Nathan dan Nayla diasuh oleh baby sitter, apalagi sama orang lain.


Setiap satu tetes cairan infus yang masuk ke tangan Arka terasa sangat lamban, Arka merasa tidak betah berbaring. Arka mencabut paksa jarum infus itu, Arka juga langsung bangun dan mengambil kunci mobilnya.


Beberapa hari ini dirinya tidak merasa tenang, tidak merasakan tidur nyenyak, bahkan tidak bisa mengunyah makanan apapun itu. Arka terus menuruni satu persatu anak tangga, Arka sama sekali tidak memperdulikan pergelangan tangannya yang meneteskan darah segar.


Beberapa orang pelayan mencegah dan berteriak kepada Arka, bagaimana mereka tidak melarang, untuk berjalan saja Arka sempoyongan, bahkan para pelayan bisa memastikan dalam waktu dua jam kedepan Arka akan jatuh pingsan.


Arka masuk ke mobilnya, mengendari mobilnya dengan cepat. Satu orang pelayan yang sangat dekat dengan Kalista, langsung memerintahkan salah satu sopir untuk mengikutinya. Dia selalu ingat dengan kata-kata Kalista, Arka ini seorang CEO dari perusahaan ternama, mana mungkin ada berita kecelakaan. Jika di usut dengan tuntas nanti media akan mengetahui hubungan rumah tangganya.


Sore itu cuaca sedang cerah, jalan juga tidak padat seperti hari Sabtu menjelang malam. Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Tentunya sopir yang memang mengikuti Arka juga menggunakan laju kecepatan yang sama, kalau tidak mungkin nanti bakalan kehilangan jejak.


Setelah menempuh perjalan yang sangat memicu adrenalin, akhirnya mobil Arka langsung masuk ke salah pelayan rumah yang lumayan luas. Sopir itu langsung mengucap alhamdulilah, dan mengusap dadanya dengan tenang. Ternyata Arka pergi ke rumah mamanya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Arka langsung berjalan ke pintu utama, dan memencet bel, tapi tidak ada yang buka. Setelah lima kali memencet bel dengan beruntun, akhirnya pintu terbuka. Di ambang pintu itu berdiri seorang wanita paruh baya, memandang Arka dengan tatapan sendu.


Arka langsung berhambur memeluknya, menangis tersedu-sedu di bahunya. Tubuh Arka merosot di lantai, karena tubuhnya yang lemas itu. Mama Lisa langsung memapahnya untuk berjalan, dan mendudukannya di kursi ruang tamu.


Salah satu art langsung berlari dan membantu mama Lisa, lalu art yang lain juga langsung mengambilkan air mineral. Untuk duduk saja Arka sama sekali tidak mampu, kini Arka tiduran di paha mamanya.


Mama Lisa tidak tega melihat kondisi anaknya sekarang, Arka yang memiliki bentuk tubuh bagus itu kini kurus kerempeng. Matanya yang sembap dengan lingkar mata yang menghitam, hidungnya yang merah, rambutnya yang kini sudah memanjang menjadi gondrong, sekarang ini Arka menjadi tidak keren dan tidak ada karisma di dirinya.


"Ada apa nak?" Tanya mama Lisa yang berpura-pura tidak tahu menahu mengenai kabar anaknya, mama Lisa terus menerus mengusap rambut Arka.


Arka terlihat seperti anak manja yang sedang patah hati. Menangis sesenggukan dengan terus menerus menyebut nama istri dan kedua anaknya.


"Kalista mau cerai sama Arka ma." Ujarnya dengan tangis yang semakin kencang, Arka merasakan rasa sesak yang hebat di dadanya.


Cerai?


Mama Lisa juga shock mendengarnya, sejak kapan Kalista mengajukan gugatan cerai? Tiga hari ini Kalista berada di rumah ini sama sekali tidak kemana-mana, adapun sekarang pergi ke luar itu pun bersama dengan Dino. Entah mengapa mama Lisa merasa curiga dengan semua ini, apakah ada pihak ketiga yang menginginkan kehancuran rumah tangga anaknya? Bukannya langsung merespon perkataan Arka, sekarang mama Lisa malah mempunyai pikiran buruk itu.


"Cerai? Jangan main-main dengan pernikahan nak!" Bentak mama Lisa setelah beberapa saat terdiam, intonasi suara itu keluar begitu saja, padahal mama Lisa ingin sekali mengucapkannya dengan lembut, tapi saking kagetnya intonasinya itu sama sekali tidak terkontrol.


"Arka juga nggak mau cerai ma, tapi Kalista sendiri yang menggugat Arka." Ujar Arka semakin terisak, ingusnya saja bahkan ikutan keluar.


"Kok bisa? Emang kalian ada masalah? Kamu selingkuh? Berantem? Atau kamu kdrt?" Tanya mama Lisa, mama Lisa mencoba memancing Arka untuk menceritakan semuanya. Mama Lisa ingin Arka segera menyadari kesalahannya dan ingin Arka bersikap lebih dewasa.


Arka terdiam, mama Lisa bertanya seperti itu otomatis kembali mengingatkannya kepada sikap dan perlakuannya selama ini. Mata itu terpejam, tetapi masih mengalirkan air matanya. Saat ini Arka sangat membenci dirinya sendiri.


"Arka jahat ma, Kalista jadi nggak suka sama Arka. Udah tiga hari Kalista kabur dari rumah, tahu-tahu aja sekarang ada surat gugatan cerai, pasti Kalista sudah bertemu laki-laki lain, pasti laki-laki ngajak Kalista nikah. Nggak mau ma, Arka nggak mau cerai." Ujarnya dengan suara seperti anak kecil yang sedang merajuk manja pada mamanya. Ini lah sosok Arka yang tidak banyak di ketahui orang, yang tahu sikap manja Arka hanya alm. Oma, alm. Ayah Anggara, Kalista dan mama Lisa.


"Sebenarnya sejak Oma dan ayah meninggal, Arka sama sekali tidak mengajak Kalista berbicara, Arka juga mendiamkan si kembar. Saat itu Arka benar-benar terpuruk, Arka benar-benar hancur, Arka sakit hati. Arka merasa dunia Arka sangat gelap. Dan Arka sempat menyalahkan Kalista kalau Kalista lah yang sebenarnya menjadi penyebab meninggalnya ayah dan Oma, karena saat itu Kalista memang meminta oleh-oleh apel malang. Arka sama sekali tidak terpikir tentang hari ini, saat itu Arka benar-benar terpuruk sehingga menjadi seorang pemalas dan suami yang tidak bertanggung jawab. Ma, bisa tolong putar balikan waktu nggak? Arka nggak mau kehilangan Oma dan ayah, Arka juga tidak bercerai dengan Kalista. Ma tolong Arka." Akhirnya Arka menceritakan masalah rumah tangganya, Arka duduk sambil memandang mamanya seraya bercerita. Bahkan meminta mama Lisa untuk memutar balikan waktu, sungguh sebuah permintaan yang tidak akan pernah bisa di wujudkan.


"Nak, waktu sama sekali tidak bisa di putar. Tetapi kamu masih bisa memperbaikinya jika ada kesempatan." Mama Lisa begitu tenang menghadapi anaknya yang sedang patah hati ini, anak laki-lakinya yang sudah dewasa sedang menyesali perbuatannya.


"Kalau sudah tidak ada kesempatan gimana? Nanti Arka cerai terus status Arka jadi duda? Arka nggak mau, kalau seperti itu hidup Arka akan hampa, Arka sama sekali tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini, bahkan mungkin Arka akan kehilangan selera untuk hidup." Punggung tangannya terangkat sembari mengusap sisa-sisa air matanya, Arka mengacak rambutnya frustasi, wajahnya terlihat sangat gusar.


"Emang mama kamu kemana? Mama kandung kamu udah mati? Kok bisa kamu menganggap hidup kamu akan hampa dan tidak punya siapa-siapa lagi? Ini nih yang membuat kamu mempunyai dosa besar, kamu sama sekali tidak menganggap mama kamu masih hidup." Celetuk mama Lisa dengan nada tinggi, mama Lisa merasa Arka tidak menganggap seorang ibu kandung itu sangat penting.


"Karena mama tidak pernah mengurus arka dengan benar? Waktu kecil mama sering berlaku kasar, bahkan berani main tangan sama Arka." Teriak Arka dengan lantang, beberapa pelayan mendengar teriakkan itu.


Air mata mama Lisa mengalir dengan deras, mama Lisa menangis sesenggukan. Kejadian itu sudah lama, tetapi Arka masih mengingatnya, itu artinya Arka sama sekali tidak bisa melupakan kejadian buruk itu. Mama Lisa kembali lagi mengingat dirinya yang dulu, seorang wanita kejam yang rela meninggalkan anak dan suaminya hanya demi pria kaya. Mama Lisa menyadari begitu rendah dan hina dirinya saat dulu.


Melihat mama Lisa yang terdiam dengan air mata yang terus menerus mengalir membasahi pipinya, Arka menjadi teringat dengan kata-katanya yang barusan di lontarkan begitu saja.

__ADS_1


"Maaf ma, bukan maksud Arka kaya gitu." Arka menggenggam erat jari jemari mamanya, Arka merasa bersalah karena telah menyinggung sikap dan perhatian mamanya sewaktu kecil. Arka tahu, mama Lisa yang sekarang sudah sangat berbeda, mama Lisa bahkan sudah meminta maaf kepada Arka berkali-kali.


"Tidak apa-apa nak. Apa yang barusan kamu ucapkan itu semuanya benar, memang sikap dan perlakuan mama saat dulu itu begitu. Semua itu mungkin menjadi mimpi buruk untuk kamu sampai saat ini, bahkan kamu juga tidak akan pernah bisa melupakannya. Kalaupun kamu nggak sayang sama mama, mama tidak masalah. Yang terpenting kamu harus tahu, mama sangat menyayangi kamu sampai kapan pun juga, mengenai perilaku mama yang dulu, mama benar-benar sangat meminta maaf, jika mama di berikan kesempatan untuk memutar waktu, mama juga sangat ingin memperbaiki semuanya. Tetapi itu mustahil, jarum jam tidak akan pernah bergerak kearah kiri. Semuanya memang telah berlalu, tetapi kita bisa memulai lagi dari awal. Nak, misalnya kamu beneran cerai dengan istri kamu, kamu harus tetap hidup untuk kedua anakmu. Hidupmu itu terlalu berharga untuk diakhiri begitu saja, kamu harus tetap hidup, biarkan mama aja yang mati. Mama ikhlas kok." Ujar mama lisa sembari terus menangis, mama Lisa mengusap bahu Arka dengan lembut.


"Arka sayang mama. Maaf Arka terlalu emosi sehingga menyinggung hal buruk. Mama benar, waktu memang tidak akan pernah bisa di putar, tapi Arka tetap akan memperbaiki diri demi Kalista dan anak-anak, Arka sama sekali tidak akan mendatangani surat cerai itu sampai kapan pun. Arka masih ingin hidup, Arka juga mama ada di samping Arka bersama Kalista dan kedua anak-anak, sama Dino juga. Maaf Arka sama sekali tidak berniat untuk menyinggung mama." Arka langsung memeluk mamanya yang masih menangis itu, mengusap punggung mamanya yang bergetar dengan hebat.


"Nak, terimakasih sudah menyayangi mama." Mama Lisa masih mendekatnya dengan erat.


"Nak, kok kamu kurusan? Makan ya, mama masakin makanan yang bergizi untuk kamu." Memegang bahu Arka sambil memperhatikan tubuh anaknya yang telah kehilangan beberapa kilo daging di badannya, penampilan Arka yang jelek saja terlihat jelas di mata mama Lisa.


"Aku kurusan ya ma? Tapi aku nggak mau makan sebelum baikan sama istri, dan ketemu sama bocah kembarku juga." Ucapnya dengan mata yang nanar.


"Ma, anak mu ini sudah banyak membebankan Kalista selama dua bulan lebih ini. Kalista menghandle urusan kantor bersama asisten pribadi Arka. Kalista menjadi anak sibuk, bekerja, rapat rutin, meeting di luar, bertemu dengan klien. Belum lagi pas pulang langsung mengurus Nathan dan Nayla. Kalista sudah sangat lelah dengan semua itu." Arka menjeda kalimatnya sejenak, Arka perlu mengatur napasnya yang memburu.


"Mungkin di mata Kalista Arka ini bagikan monster yang sangat menyeramkan, dan sangat dingin. Beberapa hari yang lalu Arka bersikap seolah Arka tidak punya hati, waktu itu figura yang menggantung diatas pintu jatuh mengenai dahi Kalista, dahi itu terluka dan mengeluarkan darah. Tapi Arka sama sekali tidak menolongnya, bahkan malam itu juga Kalista mencoba menyakiti dirinya sendiei dengan cara berdiam diri dibawah guyuran shower, sampai pingsan juga. Mungkin Kalista juga sudah sangat membenci Arka." Tangisnya kembali pecah, suaranya bahkan sampai terdengar ke dapur. Beberapa pelayan yang mendengar ada yang tersenyum, kemarin dirinya sempat mendengar percakapan Kalista dan mama Lisa. Sekarang mendengar Arka, pelayan itu merasa sebenarnya mereka berdua masih sangat mencintai.


"Nak, dengarkan mama. Sekarang kamu memang salah, kamu harus minta maaf bagaimanapun caranya juga. Nanti setelah hubungan kalian membaik, kamu harus berjanji pada mama, kamu tidak akan menyakitinya baik fisik maupun batin, kamu tidak akan mentelantarkannya, kamu tidak akan mendiamkan dan mencuekan dirinya. Tanggung jawab kamu sebagai suami itu sangat besar! Kamu harus ingat, kamu mempunyai dua bocah. Keluarga kamu harus bahagia dan harmonis." Mama Lisa memberikan beberapa petuah.


"Namanya juga rumah tangga, nggak ada yang berjalan mulus. Semuanya pasti pernah terombang ambing dalam masalah. Jika diantara kalian terjadi perdebatan dan kesalahpahaman, satu diantaranya harus mengalah! Jangan egois dua-duanya. Jika ada yang harus di bicarakan, lebih baik bicarakan terlebih dahulu, ingat kesampingkan emosi dan ego, perempuan itu sensitif dan mudah sekali tersinggung." Imbuhnya lagi.


"Iya ma, makasih ma sarannya." Ujar Arka sambil mencoba tersenyum.


"Tapi ma, sekarang Arka nggak tahu Kalista dan anak-anak berada dimana? Nomornya tidak aktif, Kalista juga tidak membawa satu pun kartu yang Arka berikan. Apakah sekarang mereka sudah makan? Sekarang mereka lagi ngapain ya? Arka kangen banget sama mereka. Emang ya ma penyesalan itu datangnya di akhirnya." Arka tersenyum sinis, kalau saja dulu dirinya tidak terpuruk hingga jatuh kedalam lubang kegelapan, mungkin saat ini hubungannya dengan Kalista masih baik-baik saja.


"Mereka pasri baik-baik saja. Percaya deh, ini tuh cobaan sekaligus ujian buat kamu. Agar kamu menjadi laki-laki yang lebih dewasa, segala sikap dan perlakuan itu perlu di kontrol. Mama rasa masalah rumah tangga kamu kali ini merupakan hal yang bagus, ada pelajaran yang bisa di petik di dalamnya." Mama Lisa tersenyum sembari mengusap punggung Arka.


"Sebenarnya akhir-akhir ini juga Arka merasa curiga sama Kalista, kok Kalista tiba-tiba merubah penampilan, sering pergi dan pulang sore, bahkan mainan anak-anak juga bertambah banyak. Bukan mainan murah, semua mainan itu dari brand ternama. Yang bikin Arka anehnya, sama sekali tidak ada tagihan ke kartu Arka, itu artinya Kalista tidak menggunakan uang Arka. Lalu uang darimana?" Arka merasa bingung sekaligus penasaran dengan semuanya.


"Arka harus lapor polisi sekarang, biar Kalista segera di temukan." Arka langsung bangkit, dan mencoba jalan dengan sempoyongan.


"Tunggu! Kamu nggak bisa semena-mena lapor polisi, kamu ini CEO dari perusahaan ternama, jika publik tahu mengenai masalah rumah tanggamu. Itu artinya saham di perusahaan kamu.akan menurut, vendor dan beberapa klien bakal menjauh, berita buruknya lagi kemungkinan perusahaanmu akan bangkrut." Mama Lisa mencengkram baju bagian belakang Arka.


"Kalau kamu nggak peduli dengan hak itu, itu artinya kamu tidak mempunyai apa-apa lagi. Apa jaminan untuk masa depan anak-anakmu? Kamu mau anak dan istri kamu menderita? Yang ada nantinya istri kamu akan berpaling dan berpindah haluan kepada laki-laki yang lebih bisa diandalkan." Ucap mama Lisa dengan tegas, bagaimana mungkin Arka yang dingin dan cuek ini akan bertindak gegabah? Bahkan nanti musuh-musuh bisnisnya akan tertawa terbahak-bahak.


Arka beringsut di lantai, yang di katakan mamanya itu ada benarnya juga. Arka semakin benci pada dirinya sendiri, Arka benci kepada identitasnya yang seperti mengekangnya untuk beraktifitas dengan bebas. Arka kembali menangis, kedua telapak tangannya terangkat menutupi wajahnya.


"Tangan kamu kok berdarah?" Tanya mama Lisa dengan panik, mama Lisa melihat darah segar mengalir dari pergelangan tangan dan ke sikunya.


"Ini bekas infus? Sebenarnya kamu lagi sakit? Pantas saja jalan kamu sempoyongan. Kamu istirahat dulu ya, nanti mama panggil dokter." Mama Lisa dengan lembut dan sabar langsung membantu Arka untuk berdiri.


Mama Lisa baru menyadarinya, ternyata darah Arka sudah menetes dari semenjak dirinya datang. Di sofa, di bajunya Arka, di baju mama Lisa semuanya terdapat noda bercak darah itu.


Dengan susah payah Arka mencoba untuk berdiri, tubuhnya benar-benar lemas karena memang tidak ada asupan makanan.


Brukk.. Arka jatuh pingsan di lantai dengan darah yang masih mengucur di tangannya.


"Tolong!" Teriak mama Lisa dengan panik.


*****


Menjelang adzan magrib, Kalista dan Dino baru saja kembali ke rumah. Kalista menggendong Nathan, Dino menggendong Nayla. Di belakangnya ada beberapa pelayan yang sedang membawakan barang belanjaan mereka, barangnya sih sedikit, tetapi tadi Kalista pergi dulu ke supermarket, membeli beberapa makanan pokok, sayuran, dan buah. Kalista juga membeli susu formula dan banyak sekali cemilan untuk dirinya.


Dino bahkan tersenyum melihat kalsuta yang terlihat bahagia, dari awal Kalista datang wajahnya selalu terlihat sendu dan murung. Di hari ketiga ini Kalista barulah merasa bahagia, dia bisa tersenyum, bahkan tertawa riang dengan kedua anaknya.


"Mama, ini loh bubur ayam yang mama pesan, tanpa kecap dan tanpa sambal." Kalista mengacungkan satu kotak yang isinya bubur ayam. Bubur ayam ini memang sengaja Kalista pegang dari tadi.


"Iya sayang! Berikan Nathan dan Nayla kepada pelayan, biar mereka di bersihkan badannya. Setelah itu nanti mereka diajak main sama Dino ya. Soalnya ada beberapa hal yang mau mama sampaikan pada kamu sayang." Ujar mama Lisa sembari menuntun Kalista ke kamarnya.

__ADS_1


Di kamar itu mama mama Lisa memperlihatkan rekaman cctv kepada Kalista. Kalista duduk dan terdiam sembari mendengarkan percakapan Arka dan mama Lisa. Rumah ini memang ada cctvnya, rekaman ini murni bukan rekayasa ataupun mengada-ngada.


Tidak terasa mata Kalista berkaca-kaca, Kalista tidak sanggup melihat penampilan Arka walaupun daru pantulan rekaman cctv. Arka begitu jelek dan tidak terurus.


"Mama kasih tahu aku ada di sini nggak?" Tanya Kalista, air matanya terus-terusan terjatuh.


"Kok mama nggak bilangin aku ada di sini tuh? Nanti suami aku nyariin kemana lagi? Lihat kondisi badannya aja kayanya kurang sehat." Kalista berbicara dengan nada tingginya.


"Mama nggak bilang karena mama pengen Arka semakin menyadari bahwa kamu itu penting dan sangat berharga di hidupnya. Mama ingin menyadarkan Arka saja." Ujar mama Lisa.


"Tapi ma." Kalista masih kekeuh akan menyalahkan mama Lisa.


"Lihat dulu, sampai selesai." Perintah mama Lisa.


Kalista memutar kembali rekaman cctv itu, hingga tibalah Arka jatuh pingsan dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya. Dalam rekaman cctv itu mama Lisa terlihat sangat panik, dan beberapa pelayan langsung membopong tubuh Arka.


"Sekarang dimana ma?" Tanyanya dengan tegas, air mata itu meluber tumpah ruah di pipinya. Kalista bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Arka pingsan ketika mengendarai mobil.


"Ada di kamar tanu telat di depan kamar yang kamu tempati saat inu! Sudah beberapa hari ini dia mogok makan karena kangen istri dan anaknya. Dan mana menyuruh kamu membeli bubur tuh untuk suami kamu sayang. Gih sana suapin dia, mana sudah paksa di biar makan, tapi dianya nggak mau. Kalau sama kamu sih pasti mau, nanti kalau dia minta maaf, kamu cuekin dulu aja." Mama Lisa mengedipkan sebelah matanya.


Kalista mengusap sisa-sisa air matanya. Keluar dari kamar mama Lisa dan berjalan menuju kamar ruang tamu. Mama. Ketika Kalista membuka pintu, Arka masih terbaring lemah di ranjang dengan selang infus di tangannya.


Arka mengerjapkan matanya karena mendengar pintu terbuka. Ketika bola matanya terbuka, Arka masih tidak percaya apakah yang datang itu beneran Kalista atau cuma halusinasinya saja?


Kalista menyeret kursi dan duduk tepat di samping ranjang. Di tangannya ada mangkuk yang isinya bubur ayam yang mama pesan untuk Arka.


Arka mencoba untuk bangkit, dan mulutnya berusia akan berbicara.


"Diam! Jangan dulu bangun?" Bentak Kalista dengan tegas. Sesuai perintah mama Lisa, Kalista harus tegas dan galak.


"Makan dulu! Jangan nolak! Nggak usah so-soan mogok makan deh, kamu itu manusia, kamu terlaky menzolimi tubuh kamu sendiri." Ujar kalista dengan sewot, tetapi tetap sambil menyuapi Arka makan.


"Anak-anak kemana?" Tanya Arka dengan lirih.


"Kalau Nayla aku titipkan di panti asuhan, kalau Nathan aku jual untuk memenuhi biaya kebutuhan hidup. Abisnya feeling aku mengatakan bahwa Nathan lebih dominan ke gen ayahnya, itu artinya sikap Nathan juga akan seperti ayahnya. Malas aku ngurusnya juga." Kalista berucap seperti itu sebenarnya dalam hatinya mengucap banyak amit-amit.


"Kamu ngomongnya bisa serius dikit nggak sayang, masa iya kamu menceritakan perihal anak kamu kayaknya sebuah barang." Arka tersenyum, Arka hafal banget dengan tabiat Kalista yang jutek seperti ini. Bukannya Arka tidak khawatir dengan kedua anaknya, tetapi Arka sangat percaya bahwa anak-anaknya aman di bawah pengasuhan Kalista.


"Bunda semakin cantik dengan penampilan barunya." Arka mencoba memuji Kalista, biasnya muka Kalista langsung merah padam.


"Bunda? Siapa tuh? Gue masih cantik gini yakali di bilang bunda. Gini-gini juga gue kalau pasang tarif 1M /dua jam, masih laku gue." Berbicara dengan nada kecil dan juga sombong.


"Iya lah! Cantik itu harus, apalagi dimasa seperti ini, aku tuh wajib dapat pria yang lebih tajir dari kamu." Ujarnya dengan mata mendelik.


"Aku nggak cerai?" Arka menatap Kalista dengan sendu.


Sedangkan Kalista hanya terdiam saja, cerai? Apaan tuh? Kaget banget Kalista dengarnya.


"Beberapa hari yang lalu kamu sering pergi keluar dengan siapa? Mainan anak-anak juga banyak yang baru, siapa yang beliin? Siapa laki-laki yang berani mendekati kamu?" Arka menatap wajah kalista, kali ini Arka bertanya sangat serius.


"KEPO!" Kalista langsung menjejalkan satu sendok penuh bubur kedalam mulut Arka dengan paksa.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2