
"Good Morning."
Bibir mungil nan tipis itu sibuk mencium pipi suaminya, dari pada bilang mencium sepertinya sih lebih tepatnya adalah mengendus-endus. Setiap inci dari lekuk wajahnya di telusuri, menelisiknya, dan di tatap lekat-lekat.
Suaminya masih tertidur pulas, matanya sepertinya enggan untuk terbuka. Sepertinya dia lelah, setelah tadi malam menyiapkan begitu banyak hadiah yang sangat mengejutkan.
Tidak ada respon, tubuhnya hanya menggeliat pelan. Semalaman Arka tertidur menyamping dan tengkurap. Pasti Arka pegal, tapi mau bagaimana lagi? Arka nggak mungkin tidur telentang dengan luka yang masih basah di punggungnya.
Kelopak mata itu masih sangat asyik tertutup, Kalista sudah tidak tega membangunkannya. Posisi Arka sekarang tidurnya menyamping, dengan Kalista di depannya. Jari jemari lentik itu menempel di dada Arka, membuat sebuah guratan-guratan tidak jelas. Terkadang kepalanya di sandarkan di dada itu, dada bidang itu selalu membuat Kalista merasa sangat nyaman.
"Hey, nggak ngantor?" Menepuk pelan pipi sang suami. Jarum jam sudah menunjukan pukul 07:45 WIB. Bahkan, sang Surya saja telah keluar dari persembunyiannya, sudah aktif dengan tugasnya yang khusus menerangi alam semesta.
"Nggak ngantor?" Tanyanya sekali lagi. Jangan sampai kali ini suaminya tidak bersuara lagi.
Arka mendengus pelan, deruan napas yang tadinya teratur kini malam menjadi helaan napas pasrah. "Ayah masih capek bun, ayah nggak ke kantor. Lagipula, punggung ayah kan masih sakit." Bibir seksi milik suaminya itu meracau dengan kelopak mata yang masih terpejam. Bahkan tadi helaan nafasnya terdengar pasrah, atau mungkin malas.
Oke, Kalista paham. Suaminya itu masih lelah plus kecapean. Setalah satu Minggu mendiamkannya, ternyata satu Minggu itu pula suaminya sangat sibuk menyiapkan berbagai macam kejutan yang memang mampu membuat Kalista terkejut. Tadi malam Kalista benar-benar menjadi ratu sejagat, Kalista tidak pernah meminta hadiah apapun dari Arka. Tetapi, Arka si laki-laki sangat peka dan sangat mesum itu pun tahu semua apa yang Kalista mau.
Menginjak angka usia 23, malah seperti semakin mendekati menjadi kandidat seorang ratu. Di manja dalam segala hal, baik itu sikap, perhatian, dan bahkan materi pun tidak pernah berkekurangan. Kalista yang tadinya selalu hidup pas-pasan, bahkan upahnya bekerja pun harus di bayarkan ke RS, atas dasar tunggakan kematian orang tuanya.
Roda kehidupan itu ternyata memang benar berputar, yang tadinya di bawah bisa jadi berada di atas. Yang tadinya diatas bisa saja besok-besok menjadi ada di bawah. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi hari esok, yang pasti kita harus selalu bersyukur atas apa yang telah terjadi hari ini. Kita juga harus siap menerima hari esok, dan hari-hari kedepannya.
Jika di pikir-pikir semesta itu cukup baik pada Kalista, setelah lima tahun melawan kerasnya dunia dan berusaha untuk tetap hidup, akhirnya sekarang bisa merasakan hidup tanpa kekurangan alias berkecukupan. Entahlah, ini semesta yang sangat baik kepadanya, atau memang Dewi Fortuna sedang menghampirinya.
Jarum jam terus saja bergerak sesuai porsinya, jika jarum jam di kasih nyawa, mungkin dia akan berkata "Saya lelah! Setiap hari berputar mengitari angka yang sama." Tapi, mau bagaimana lagi? Tugasnya memang untuk mengitari deretan angka dari 1 sampai 12, baik siang ataupun malam.
Sekarang Kalista sedang berada di posisi harus bagaimana? Mau bangun dan langsung mandi, tapi nggak ada baju ganti, karena di lemari yang ada di apartment ini semua bajunya berubah menjadi mengecil. Eh salah deh, maksudnya perut Kalista yang semakin buncit itu membuat bajunya terlihat menciut, bahkan tidak muat lagi untuk dapat melekat di tubuhnya. Mau kembali terpejam, namun kelopak mata itu sudah tidak mau.
Manik mata itu menatap langit-langit kamar, tiba-tiba pikirannya melayang ke hari dia bertemu Arka di kantor Anggara. Seorang pria berwajah tampan, namun dingin dan sangat sombong. Arka yang awalnya sempat Kalista benci, kini malah menjadi suaminya. Suami tersayang yang bahkan Kalista tidak akan pernah sanggup jika melihat Arka dengan wanita lain.
Sudut bibirnya terangkat sempurna, garis bibirnya itu kini malah membentuk lengkungan indah. Pikiran Kalista masih berkelana pada hari-hari di mana Arka baru saja menginjakkan kakinya menjadi CEO, waktu itu Kalista harus rela tahan banting dengan sikap dan perlakuannya. Lambat laun seiring berjalannya waktu, sikap Arka berubah menjadi lebih baik. Banyak sekali pengalaman yang telah Kalista dan Arka ciptakan, walaupun terdapat unsur drama di dalamnya. Hingga pada akhirnya mereka duduk bersama di pelaminan, hidup seatap dalam ikatan janji suci sebuah pernikahan.
"Ngapain senyum-senyum sendiri? Awas loh kalau lagi mikirin mantan." Cibir Arka, tangannya terulur dan menekan-nekan pipi Kalista dengan sangat pelan. Tetapi tetap saja kelopak mata itu masih terpejam.
Kalista tersenyum, berarti dari tadi suaminya memperhatikannya. Sekarang malah muncul dalam benaknya, untuk segera menjahili suaminya. "Aku ngidam sayang." Ucapnya sedikit mengeluh, bibirnya manyun dan wajahnya terlihat agak sedikit sendu.
Ngidam? Sebuah kata yang baru saja terlontar dari mulut Kalista itu pun sukses membuat kepolak Arka terbuka dengan sempurna, bahkan Arka langsung terduduk. "Ngidam apa sayang? Kamu mau apa?" Manik matanya menatap Kalista snagat lekat dan intens.
Ya ampun ingin rasanya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi yang Arka berikan. Tetapi Kalista harus tahan, agar actingnya berjalan mulus. Kalista berpura-pura berpikir sejenak. "Aku mau di cium manja, perut aku juga maunya di usap-usap lembut." Kalista tertunduk, matanya di buat sesendu mungkin.
Senyum sumringah atau lebih tepatnya senyum seringai muncul begitu saja menghiasai pipi Arka. Dengan terburu-buru dia langsung menempelkan bibirnya pada Kalista, tangannya sudah bersiap-siap akan mengelus perut buncit yang berisi buah hatinya.
Kalista mendorong bahu Arka sekuat tenaga, dan menjauhkan tangan Arka dari perutnya. "Tapi, bukan sama kamu!" Ucap Kalista sedikit takut.
Apa katanya barusan? TAPI, BUKAN SAMA KAMU! Arka speechless dong ya tentunya, bahkan Arka sempat berada dalam mode bengong kaya orang beg*. Kalimat yang keluar dari bibir mungil istrinya itu cukup berputar-putar di sekitaran kepalanya.
"Bukan sama aku?" Arka tersadar dari lamunannya, dan kini bertanya untuk memastikan apakah telinganya salah mendengar, atau gimana sih maksudnya?
"Iya." Jawab Kalista pelan.
Arka kembali harus berpikir, dan mencerna kembali semua kata-kata Kalista. Apa-apaan ini? Arka bahkan sedikit pusing, sampai jari jemarinya memijit-mijit pelan dahinya. "What the fu*k! Bini gue salah makan apa gimana nih? Nggak mau di cium gue, terus mau di cium siapa?" Batinnya terus saja memikirkan itu.
"Terus sama siapa?" Bola mata itu memutar dengan sangat jengah. Wajahnya masam dan kecut, bahkan bibirnya mencebik.
Keisengan ini harus bagaimana? Niat awalnya saja cuma berbohong, sekarang di tanya mau sama siapa? Maksudnya tuh mau di cium sama siapa gitu ya? Kalista bahkan harus berpikir terlebih dahulu, kira-kira mau di cium siapa ya? Laki-laki ganteng yang di temuinya cuma Arka seorang, maklum selama ini Kalista sibuk bekerja bekerja dan bekerja.
"Mau di cium sama orang yang ada di apartment lantai bawah, apartment paling pojok." Jawab Kalista asal.
Karena suatu ketika Kalista pernah bertemu dengan seorang pria yang perawakannya lumayan bagus, wajahnya juga lumayan ganteng, tapi tingkat ke gantengnya masih di bawah Arka sih. Pria itu berada di atap yang sama, hanya saja dia menempatkan apartment lantai dasar, nggak tahu tapi apartmentnya yang mana, waktu itu sih Kalista melihat dia berjalan ke apartment paling pojok.
"Nggak boleh! Nggak boleh ada yang mencium kamu selain aku! Nggak boleh ada yang nyentuh perut kamu selain aku dan dokter!" Telapak tangan Arka menangkup tepat di pipi Kalista. Pipi yang berubah chubby itu sekarang malah terlihat semakin buat.
"Nanti anak kita ngeces gimana?" Kalista merajuk manja.
"Nanti kita bawa ke dokter! Kita tanya baiknya gimana? Lagian dia kan anak kita, anakku dan kamu. Yang beraktivitas juga kita berdua, ngapain kamu maunya di cium pria lain sih?" Arka mulai terpancing emosi, namun emosinya masih tetap terkontrol dengan baik.
__ADS_1
"Kamu jahat! Suruh siapa sih hamilin aku?" Kalista mulai meneteskan air mata palsunya. Actingnya lumayan bagus.
Arka meremas rambutnya geram dan frustasi. Kalista yang berada di sampingnya terus menerus menangis, Arka bingung harus bagaimana? Dia nggak bakalan mungkin rela melihat istrinya bercumbu dengan pria lain.
"Yaudah ayo!" Arka bangkit dari tempat tidur, langsung bangun dan mengulurkan tangannya pada Kalista.
Senyum sumringah nan merekah itu telah hadir menghiasi wajah Kalista. Bahkan dirinya sempat joget-joget kecil diatas kasur, lagi-lagi actingnya berhasil.
"Terimakasih suamiku yang paling pengertian." Satu kecupan mesra mendarat di pipi Arka. Tangan Kalista juga sudah melingkar di leher Arka.
Arka segera menepis tangan Kalista, punggung tangannya mengusap pipinya yang basah karena di cium. Bahkan dia keluar dari apartment Kalista lebih dulu. Kalista mengekornya dari belakang, masuk ke lift dan langsung menekan angka 1.
Dalam hati Kalista bersorak bergembira, setelah satu Minggu Arka mengerjainya, sekarang gantian dong giliran Kalista yang mengerjai bapak CEO dingin ini.
Begitu keluar dari lift. Orang yang Kalista maksud pun ada disana, sedang duduk santai tepat di depan apartmentnya.
Arka mengernyitkan dahinya, serius itu pria yang Kalista bilang tampan? Pria yang tingginya sama dengannya, berkulit sawo matang, lengannya berotot gede, rambutnya sedikit berantakan. Sedang duduk santai, ngeteh sambil baca koran. Mirip banget kaya bapak-bapak pensiunan!
"Itu?" Tanya Arka dengan raut wajah meremehkan.
"Iya!" Kata Kalista sambil menahan tawa.
"Serius?"
"Banget?"
"Emang dia masuk dalam kategori pria tampan?" Tanya Arka dingin, manik matanya menatap lekat manik mata Kalista.
"Iya!" Kalista mengangguk-anggukan kepalanya, kali ini tawanya hampir saja meledak.
"Kulitnya eksotis gitu, badannya kekar, dan lengannya berotot. Kebayang nggak sih betapa nikmatnya seranjang sama pria macam dia." Ujar Kalista santai, dalam hatinya sih Kalista bilang amit-amit sambil tangannya sibuk mengelus-elus perutnya.
Arka menarik bahu Kalista, berhadapan langsung dengan Kalista sambil terus menatap manik matanya. "Kamu gila apa gimana sih? Atau kamu kesurupan setan apa? Bisa-bisanya kamu berpikir tidur sama dia, enakan juga sama aku!"
"Sana samperin!" Ketus Arka, Arka yang memang masih ngantuk itu pun menyenderkan punggungnya pada tembok apartment lantai dasar.
"Hallo." Tiba-tiba pria yang menjadi target atas dasar keisengan Kalista itu pun mendekat pada Kalista. Menyapanya hangat seraya mengulurkan tangannya.
Speechless! Kalista mematung di tempatnya berdiri. Belum juga mikir selanjutnya mau bagaimana? Eh si Abang berkulit eksotis ini malah menghampirinya duluan.
"Boleh kenalan?" Tanyanya lagi, tangannya melambai-lambai di hadapan wajah Kalista.
Arka hanya memperhatikannya saja. Menatap dua insan di hadapannya dengan sangat jengah, pria normal mana yang rela melihat istrinya di sentuh laki-laki lain? Apalagi ini istri kesayangannya.
"Boleh!" Jawab Kalista tersenyum manis. Bahkan jika Arka boleh berprotes, Arka ingin sekali melarang Kalista tersenyum di hadapan laki-laki ini.
Kalista menyambut uluran tangan itu, menjabatnya pelan, lalu "Kalista." Jawabnya ramah.
"Nama yang cantik, seperti orangnya." Ucapnya tak kalah ramah. Bahkan dia masih menggenggam erat telapak tangan Kalista. "Gue Rio." Katanya memperkenalkan diri.
Tuhan tolong, jika saja membunuh itu halal dan tidak ada undang-undangnya. Pastilah pria eksotis itu sudah Arka bunuh, bahkan akan Arka mutilasi terlebih dahulu, memotong beberapa anggota tubuhnya menjadi beberapa bagian. "Dasar nggak tahu malu! Memuji istri orang tepat di hadapan suaminya." Batin Arka, bahkan puncak kepalanya terasa mendidih dan bergejolak.
Kalista buru-buru melepaskan jabatan tangan si pria itu. "Yang ini suami saya, namanya Arka." Menarik Arka untuk mendekat, lalu tangan Kalista langsung melingkar di perut Arka.
Arka membelalakan matanya, serius ini Arka di akuinya sebagai suaminya? Bahkan tangan Kalista pun melingkar di perut Arka.
"Serius ini suaminya? Kok kaya malas-malasan gitu, nggak cocok banget sama wanita cantik kaya kamu." Ujarnya santai bahkan terkesan sangat nyeleneh dan meremehkan.
Arka kembali membelalakan matanya. "What? Nggak cocok? Terus yang cocok siapa? Elu gitu? Iiiiiiiih gila-gila. Jangan mimpi lu!" Gumam Arka dalam hatinya.
Duh ini si Abang eksotis minta di tabok pipinya, mulutnya perlu di sumpel pakai sandal jepit, bahkan perutnya perlu di kasih bogem mentah nih kayanya.
"Sembarangan banget mulut lu!" Ujar Arka sinis.
"Dia tuh tipe pria pekerja keras, cuma hari ini memang sengaja izin nggak masuk karena mau menemani saya kulineran. Semalam saya baru saja merayakan ulang tahun ke-23, dan dia sukses memberikan semua hal yang mengejutkan." Kalista menatap Arka sekilas, tersenyum sumringah pada suaminya.
__ADS_1
"Gue tuh bukan malas-malasan! Emang asli banget ini mata masih ngantuk. Gimana nggak ngantuk coba, setelah di berikan hadiah yang mengejutkan, eh pas mau tidur dia juga minta servis yang memuaskan. Bro, pikir deh! Pria normal mana yang mampu menolaknya? Apalagi wanitanya secantik bini gue ini, untung status kita sah, jadi halal-halal aja kan sampai subuh juga." Arka mencolek dagu Kalista, berusaha memamerkan kemesraan di depan Abang eksotis.
"23 tahun? Masih muda banget, segar-segar gimana gitu lihatnya." Ucapnya gamblang tanpa rasa bersalah sedikitpun, padahal masih ada Arka di samping Kalista.
"Yap, betul! Emang segar banget punya bini masih muda. Bangun tidur langsung lihat wajahnya, jadi agak malas pergi ke kantor soalnya nggak tega ninggalin si cantik, dan selalu ada morning kiss juga." Ujar Arka.
"Naik yuk sayang! Sudah cukup kan jalan-jalannya bumil cantik." Kata Arka, tangannya masih memeluk pinggang Kalista erat.
"Gue naik ke atas dulu bro! Kasian bini gue takut pegal gara-gara berdiri terlalu lama, apalagi dengan kondisi perut buncitnya, btw ini hasil reproduksi kita berdua isinya juga dua. Do'akan ya semoga persalinannya lancar, dan si cantik ini semakin cinta kepada suaminya." Arka terkekeh geli ketika mengucapkan kalimat itu, tangannya malah sibuk mengelus perut Kalista.
Menggandeng erat Kalista, berjalan beriringan kemudian kembali masuk ke dalam lift. Arka tersenyum merekah, bahagia sekali rasanya istrinya memperkenalkannya pada si eksotis itu.
"Katanya mau di cium sama siapa itu tadi namanya? Katanya mau seranjang sama dia? Jadi gimana ibu? Masih mau sama dia?" Ujar Arka yang melipat tangannya di depan dada.
Mata itu melotot, bahkan tangannya sudah di tempelkan di perut, mengusapnya sambil berkata amit-amit.
"Lah kok amit-amit? Tadi katanya mau?" Arka semakin meledek Kalista.
"Iiiiiiiih nggak mau! Aku tuh tadi cuma isengin kamu aja, abisnya tidur mulu kaya kebo!" Kalista mengdengus kesal.
"Bilang aja dari tadi! Kenapa harus sedramatis ini coba? Jadi kan tangan kamu ini di pegang tuh sama si kulit sawo matang." Bibir Arka mencebik seiring dengan kalimat yang di lontarkannya.
Kalista tersenyum bahagia, suaminya itu ternyata bisa cemburu juga.
"Cie cemburu." Ledek Kalista.
"Iya cemburu. Nggak rela banget istri cantikku di pegang oleh orang lain." Cibir Arka.
"Serius kaya dia itu ganteng?" Tanya Arka lagi, kini dia menjeda langkahnya yang baru saja keluar dari lift, menatap Kalista terlebih dahulu.
"Nggak lah! Gantengan juga kamu." Kalista cengir kuda sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Langkahnya juga terhenti.
"Nah itu benar!" Arka menjawil pelan hidung Kalista. Lalu mereka kembali melanjutkan jalan karena barusan masih berada di depan lift.
"Lagian ya, pria kaya gitu tuh pemalas. Apa-apaan coba pagi-pagi gini nongkrong depan apartment, ngeteh sambil baca koran. Mirip banget kaya bapak-bapak pensiunan. Pemalas banget nggak sih? Ngantor dong! Setidaknya bekerja untuk masa depan." Berjalan menuju apartmentnya, tangannya masih tetap menggandeng Kalista.
"Masa depan suram." Celetuk Kalista.
"Belum tentu!"
"Kenapa?"
"Siapa tahu dia berubah." Ujar Arka.
"Iya sih."
"Kamu suka cowok eksotis? Kalau kamu suka besok-besok aku berjemur deh sampai kulit aku berubah jadi gosong."
"Jangan! Nanti kamu item, nanti jelek. Aku nggak suka, nanti aku malah melirik CEK dari perusahaan lain yang lebih ganteng, lebih muda dari kamu, lebih tajir lah ya intinya mah." Ucap Kalista.
"Aku nggak akan berjemur! Aku akan selalu olahraga, mau makan makanan sehat. Biar aku selalu sehat dan terlihat awet muda. Bila perlu aku operasi plastik deh."
"Niat banget." Kalista terkekeh geli.
----------------------------------π»π»
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Serius nanya, karena bulan-bulan ini bakalan banyak kesibukan. Jadi kalian maunya gimana nih? Mau up tiap hari tapi pendek, atau 2 hari sekali tapi panjang?
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanππ€
Find Me On Instagram : @halloimas13β€
__ADS_1