
"R I K O ? ? ? ? ?" Ucap mereka semua secara bersamaan.
Semuanya kaget dan bahkan masih berusaha memahami tentang apa yang mereka lihat di dalam sana. Satupun tidak ada yang bersuara, mereka hanya memandang Riko dan managernya dengan tatapan tajam menusuk, mulut mereka semua menganga sempurna. Speechless untuk beberapa saat, dan memang nggak tahu juga apa yang harus di ucapkan sekarang.
Di sofa di dalam sana, tepat di hadapan kursi kerja Riko. Riko dan managernya yang bernama Risa itu tengah melakukan hubungan suami istri. Baju-baju mereka berserakan di lantai, tubuh mereka terlihat polos tanpa ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh mereka. Bergulat di atas sofa di sore hari, bahkan Riko dengan bebasnya merangkak naik ke tubuh Risa.
Entah apa yang terjadi sebenarnya? Namun kegiatan memabukkan yang sedang mereka lakukan, kini sudah di ketahui oleh Arka, Evan, Andy, Kalista, Gina dan Tiara.
Para pria malah sibuk menutup mata para gadisnya, mereka tidak membiarkan kekasih hati mereka melihat tubuh telanjang milik Riko. Tapi mereka dengan bebas malah bisa melihat dan menikmati tubuh Risa yang tidak tertutup apapun.
Risa dengan wajah merah padam berusaha menutupi tubuhnya. Air mata berjatuhan begitu saja, bahkan Isak tangisnya sudah terdengar. Riko malah tampak frustasi, dia terdiam dengan menjambak rambutnya.
"Gue kasih waktu kalian 10 menit untuk membereskan semua ini, pakai baju kalian! Setelah itu kita akan masuk lagi ke sini." Ucap Arka tegas. Kemudian dia membalikkan badannya dan menuntun Kalista untuk segera keluar dari ruangan ini. Yang lainnya juga mengikuti arahan Arka.
Para wanita sangat shock, namun mulut mereka tetap terkunci rapat.
Saat ini banyak sekali pertanyaan di benak mereka, namun mereka urungkan begitu saja. Waktunya belum tepat, lagipula mereka lebih memilih instruksi dari Arka, karena mereka telah menganggap Arka lah yang paling dewasa dalam hal kaya gini, mengingat status Arka yang telah menjadi suami dan lebih mengetahui hal-hal seperti ini.
Waktu terus berjalan, sepuluh menit itu telah berlalu. Kini Arka kembali membuka pintu ruangan Riko, yang lainnya mengikuti. Riko sudah rapih kembali dengan pakaiannya, begitu juga dengan Risa. Hanya saja wajah Risa terlihat sangat merah karena menahan malu, matanya semebap dan hidungnya memerah tanda orang habis menangis.
Tangan Risa sibuk memilin ujung roknya, duduknya gelisah, bahkan pandangannya selalu tertunduk. Riko? Terlihat dari raut wajahnya sih sebenarnya dia merasa malu, hanya saja dia pintar menyembunyikannya raut wajahnya itu.
"Kebelet nikah lu?" Tanya Arka santai, tetapi raut wajahnya sangat serius.
Arka duduk di sofa, di sebelahnya ada Kalista. Di hadapan mereka duduk lah Riko dan Risa. Karena sofa di ruangan ini hanya ada dua, dan satu sofa hanya mampu menampung dua orang saja, jadi yang lainnya beridiri saja sambil bersiap mendengarkan penjelasan dari Riko.
Ruangan ini sangat hening, bahkan pertanyaan Arka saja belum di jawab oleh Riko. Entah belum di jawab atau emang sengaja tidak mau menjawab. Riko hanya diam saja.
"Bro, lu sadarkan yang lu lakuin itu dosa. Kalau lu kebelet nikah, kan masih ada jalan halal dengan cara akad nikah terlebih dahulu." Imbuhnya lagi, ini benar-benar terasa sunyi seperti sedang ada interview lamaran kerja.
"Gue nggak cinta sama Risa, bahkan gue nggak punya perasaan sedikit pun padanya." Jawab Riko, suaranya terdengar enteng sekali tidak ada rasa bersalah sedikitpun.
Ucapan Riko barusan sangat menohok, bahkan sampai memporak porandakan hati Risa. Risa menang tidak berharap Riko mempunyai perasaan padanya, dan tidak berharap juga Riko mencintainya. Tapi, mendengar kalimatnya yang barusan, cukup membuat hatinya terasa sakit seperti di remas-remas dan seperti tertusuk ribuan belati.
Bukan hanya Risa saja yang kaget, bahkan semua yang ada di ruangan ini saja mulutnya sampai menganga. Kalista juga merasa geram, sebagai sesama perempuan Kalista cukup bisa merasakan apa yang sekarang Risa rasakan. Gina dan Tiara juga merasa shock, kok bisa Riko seperti itu?
"Udah lu tidurin, tapi lu nggak punya perasaan sedikitpun padanya? Ko, gue heran banget sih. Gue nggak percaya lu kaya gini." Andy angkat suara, bahkan Andy sampai geleng-geleng kepala dengan sorotan mata yang tajam.
"Gini deh, sebagai sesama pria kalian juga pasti tahu. Pria bisa meniduri banyak wanita tanpa ada perasaan sedikitpun pada wanita itu, ini tuh naluri pria normal, pria punya kebutuhan biologis, nafsunya gede, jadi kaya gini wajar aja sih menurut gue." Celetuk Riko, mimik wajahnya juga biasa saja, Riko sama sekali tidak memperdulikan Risa.
"Lagian ya, gue ngelakuin ini juga atas permintaan Risa. Gue juga nggak semena-mena nidurin dia, gue bayar dengan nominal yang fantastis kok." Imbuhnya lagi, Riko sangat blak-blakkan membicarakan itu.
Air mata Risa semakin meleleh membasahi pipinya, punggung tangannya berkali-kali mencoba menahan laju air matanya, namun tidak bisa, air matanya tetap jatuh seperti semestinya. Sakit hati, dan malu juga tentunya, Risa sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Risa juga tidak tahu kedepannya harus gimana?
Mengapa Riko sangat keterlaluan?
"Gue nggak gitu! Sebejat- bejatnya gue cuma sampai di bercumbu dan meraba-raba aja, gue nggak kaya gitu Riko. Bahkan gue melakukan segalanya dengan bini gue, dengan dasar perkawinan yang sah, gue udah halal secara hukum dan agama. Oke lu tahu gue sering minum, sering mau ke bar, sering clubbing, tapi gue nggak pernah kebablasan kaya lu." Sengit Arka, Arka tidak terima kalau Riko menyamaratakan semua sikap laki-laki.
"Gue nggak setuju dengan statement yang lu katakan. Gue pribadi bahkan tidak bisa meniduri wanita hanya karena nafsu tanpa melibatkan perasaan, jadi kalau gue ngelakuin apa yang tadi lu lakuin, itu artinya gue melibatkan perasaan. Gue juga pria normal, gue juga punya kebutuhan biologis. Gue punya pacar, tapi gue nggak mungkin ngerusak pacar gue. Jadi senafsu-nafsunya gue, gue masih bisa nahan diri sampai status gue dan Gina berubah menjadi halal." Andy juga berusaha menanggapi ucapan Riko.
"Gue juga nggak setuju! Kirain di antara kita berempat, gue yang paling mesum dan bejat. Tapi ternyata.... Gue emang senang doyan banget godain wanita, tapi gue nggak sampai nidurin juga sih. Bahkan gue sekarang sedang dalam proses menjadi pria yang lebih baik lagi daripada pribadi gue yang sebelumnya, bahkan kadang gue masih suka kepikiran gue pantas nggak sih sama Tiara? Gue cocok nggak? Gue juga ngerasa Tiara itu terlalu berlian untuk gue yang kotor ini. Tapi demi bisa bersanding dengan dia, gue akan merubah semua sikap hal buruk yang ada pada diri gue. Sebenarnya bukan berubah karena Tiara juga sih, tapi ini lebih ke diri gue sendiri ingin menjadi pria baik seperti semestinya. Senakal-nakalnya gue, gue nggak sampai nidurin wanita sih." Ucap Evan panjang lebar.
"Kalian tuh nggak tahu sih gimana rasanya bercinta diatas ranjang." Celetuk Riko dengan ekspresi yang sangat nyeleneh.
"Gue tahu lah! Secara gitu gue udah resmi menikah, gue tahu kok rasanya bercinta itu emang banget. Bahkan beberapa orang mengatakan bercinta itu merupakan surganya dunia. Tapi lu harus tahu deh bro, bercinta lewat jalur halal itu lebih nikmat ketimbang lewat jalur maksiat." Ujar Arka.
"Maaf ikutan nimbrung, nggak kuat nahan mulut gatal banget pengen ngomong. Kenapa ya Riko kok ngomongnya enteng banget? Kesannya tuh kaya merendahkan wanita banget. Tolong garis bahwa kalimat 'gue ngelakuin ini juga atas permintaan Risa' Sejatinya wanita itu gengsinya tinggi, semau-maunya wanita dia nggak mungkin merendahkan harga dirinya, keculai dalam tanda kutip. Pasti ada sesuatu hal yang membuat dirinya nekat mengambil jalur terlarang itu. Wanita juga punya nafsu, gue nggak munafik kok, bahkan gue juga kadang seiring banget minta duluan sama suami gue. Gue yakin, sebenarnya Risa adalah perempuan baik-baik, dan ada alasan besar di balik ini semua." Deru napas Kalista sangat memburu, berkata dengan sangat tegas dan penuh penekanan. Kalista berbicara seperti ini bukan berarti dia membela Risa ataupun membenarkan apa yang Risa lakukan, hanya saja Kalista cukup menyadari ada suatu alasan besar di balik tindakan yang Risa lakukan.
"Sejak kapan kalian melakukan hubungan terlarang ini?" Tanya Arka.
"4 bulan yang lalu." Jawab Riko santai.
Risa benar-benar hanya menjadi pendengar saja, dari mulutnya itu sama sekali tidak keluar satu patah kata pun. Risa merasa semua ini terlalu memalukan.
"Hah 4 bulan?" Andy dan Evan memekik kaget, mereka tidak menyangka ternyata Riko merusak anak gadis orang sudah selama itu.
"Sudah selama itu juga belum ada rasa? Lu mati rasa atau sebenarnya lu itu gay? Kok gue jadi curiga sekaligus ngeri ya." Tanya Evan sambil menepuk bahu Riko.
"Si beg*, nggak mungkin gay lah. Toh dia udah nidurin gadis di sebelahnya selama 4 bulan." Andy menepuk kepala Evan, bagaimana mungkin Evan menyangka Riko gay, sedangkan beberapa menit yang lalu mereka semua menyaksikan betapa hebatnya Riko meniduri wanita.
"Gue mau dengar cerita versi Risa." Pinta Kalista, dari tadi yang buka mulut hanya Riko saja. Kalista benar-benar penasaran banget bagaimana awal mulanya sehingga mereka melakukan hubungan terlarang itu. Kalista sangat yakin, pasti ada alasan yang sangat mendesak di balik kejadian semua ini.
Kalista memberikan kesempatan untuk Risa berbicara, karena mereka semua juga sangat ingin tahu dari sudut pandang Risa.
FLASHBACK
__ADS_1
Pagi itu Risa mendapatkan kabar dari pihak Rumah Sakit bahwa ayahnya butuh donor jantung secepatnya. Risa merasa pusing sekaligus bingung, uang darimana untuk mendapatkan donor jantung? Sedangkan uangnya simpanan di atmnya sudah terkuras habis untuk biaya pengobatan ayahnya selama ini.
Hal yang paling membuat Risa pusing, yaitu dia tadi biaya donor jantung. Biaya donor jantung itu tidak ada yang mudah, semuanya sangat mahal.
Kalau boleh jujur, Risa sebenarnya merasa lelah dengan semua ini. Penyakit ayahnya membuat dirinya semakin merasa pusing dan tertekan. Selama ini saja uang yang Risa hasilkan selalu di berikan kepada ibunya. Bahkan Risa juga sampai harus mencari pekerjaan sampingan, agar dapur rumahnya bisa selalu mengepul.
Pagi itu langit yang sangat cantik dengan hangatnya sinar mentari tidak mampu menghangatkan hati Risa, di hati dan pikiran Risa semuanya terlihat mendung. Kicauan burung yang berterbangan di langit saja tidak mampu menghibur hatinya yang sedang lara.
Kemana Risa harus mencari uang dalam waktu yang sangat singkat? Pinjam ke bank? Apa jaminannya? Mau pinjam ke boss di tempat kerjanya? Nggak mungkin kayanya, mengingat Risa baru saja masuk kerja dua hari yang lalu.
Risa baru saja mendapatkan pekerjaan dengan salary yang lumayan cukup tinggi. Baru sekejap Risa merasa senang, sekarang hatinya kembali di buat kalut. Sedih, merana, gelisah dan resah bercampur menjadi satu. Ingin sekali rasanya teriak di jalanan ini, namun nanti semua orang pasti mengiranya stress, atau mungkin di sebut orang gila.
Walaupun dalam keadaan genting seperti ini, Risa masih tetap harus berangkat kerja. Tidak mungkin jika sekarang ia izin, karena dia masih karyawan baru, nggak lucu kalau sampai di pecat. Dan belum tentu juga di izinkan.
Hati dan pikiran sama sekali tidak bisa sinkron, tidak bisa fokus terhadap kerjaan. Bagaimana jika tidak menandatangani surat persetujuan donor jantung hari ini juga, sudah bisa di pastikan ayahnya bakalan tutup usia. Jika menandatangani surat itu pun butuh uang dalam jumlah banyak, darimana dapat uang dengan nominal yang fantastis dalam waktu beberapa jam? Jika boleh jujur, saat ini rasanya Risa ingin sekali mengakhiri hidupnya, kepalanya bahkan sampai terasa mau pecah. Tetapi jika mengakhiri hidup, itu artinya kedua adiknya terlantar dan tersendat biaya sekolahnya. Dalam keadaan kalut pun Risa masih memikirkan masa depan kedua adiknya.
Lalu, tiba-tiba Risa berniat meminjam uang pada Riko selaku pemilik coffee shop tempatnya bekerja. Risa juga sempat berpikir berulang kali, apakah nanti tidak di katakan tidak tahu malu? Sudah tidak ada cara lain lagi selain meminta bantuan Riko.
Dengan langkah gontai Risa melangkahkan kakinya menuju ruangan Riko. Berkali-kali Risa mencoba meyakinkan dirinya bahwa pak Riko itu baik, dan pasti akan meminjamkan uangnya.
Tok..tok..
"Permisi pak." Ucap Risa sambil membuka knop pintu ruangan Arka.
"Ya, ada apa?" Tanya Riko yang masih sibuk menatap layar laptopnya.
"Saya mau pinjam uang." Ucap Risa, kepalanya tertunduk. Tangannya sibuk memilin ujung roknya. Sangat gampang mengucapkan kalimatnya barusan, namun Risa juga merasa malu karena terlalu lancang dan berani.
"Berapa?" Riko mendongakkan kepalanya berusaha menatap lawan bicaranya.
"1 M." Ucap Risa dengan suara bergetar, Risa tahu pasti bakalan di tolak mentah-mentah. Lagipula boss mana sih yang mau pinjamin uang dengan nominal tinggi? Apalagi Risa hanyalah karyawan baru.
"1 M? Nggak kebanyakan tuh? Mau perawatan atau apa sih?" Tanya Riko, sebenarnya Riko juga kaget dengan nominal yang Risa sebutkan.
Selama ini beberapa karyawan memang ada yang sering minjam yang padanya, terutama karyawan yang kepepet untuk biasa sekolah anak atau adiknya. Riko meminjamkannya, tetapi nanti gaji bulannya di potong. Tetapi jumlahnya tidak banyak, dan tidak se-fantastis dengan nominal yang Risa ucapkan barusan.
"Ayah saya lagi terbaring di rumah sakit, harus melakukan transplantasi jantung, dan itu membutuhkan biaya yang sangat besar." Suaranya terdengar lirih, air mata telah membasahi pipinya. Pikirannya selalu tertuju pada ayahnya yang sedang terbaring lemah.
"Jaminannya apa? Kalau tidak ada jaminan saya tidak mau memberikan pinjaman?" Rio berkata sambil menatap Risa.
"Rumah? Nggak sebanding dong dengan nominal yang kamu pinta. Lagipula kalau saya pinjamkan kamu uang 1 M, kamu kapan gantinya?" Tanya Riko dengan memainkan pena di tangannya.
Risa memikirkan ucapan yang barusan di lontarkan oleh Riko, jika di kasih pinjam pun kapan bisa mengembalikannya? Itu nominalnya sangat besar, bekerja dua tahun pun tidak akan cukup melunasi hutang itu.
"Iya juga sih!" Jawab Risa dengan lirih, wajahnya terlihat pucat pasi. "Saya juga nggak ada jaminan lain, karena barang berharga cuma rumah aja. Saya pamit undur diri pak, maaf sudah menganggu jam kerja bapak." Imbuhnya lagi, suaranya sangat pelan. Risa segera membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Risa.." panggil Riko. Risa kembali membalikkan badannya, karena di panggil oleh Riko.
Riko menatap Risa dari ujung kepala hingga ujung kaki, manik matanya menatap seperti sedang menelisik seluruh tubuh Risa. Tiba-tiba senyum menyeringai muncul menghiasai wajahnya, sebagai pria dewasa Riko telah menemukan ide brilian di otaknya.
"Masih ada satu cara." Ujar Riko dengan sangat santai, bahkan kini menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya.
"Apa pak?" Tanya Risa dengan antusias, Risa yang baru saja putus asa seperti kembali menemukan setitik cahaya terang di keadaan gelap gulita ini.
"Tubuh kamu." Riko kembali tersenyum menyeringai.
"Maksud bapak?" Tanyanya, Risa sama sekali tidak mengerti apa arti dari kalimat yang telah Riko lontarkan.
"Saya bisa berikan uang 1 M, dengan syarat berikan tubuh kamu." Riko berkata nyeleneh, santai banget pembawaannya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Risa mencoba mencerna kalimat yang keluar dari mulut Riko barusan, tubuhnya bergetar hebat, seperti ada petir yang menyambarnya di siang bolong. Air matanya meleleh, Risa memang butuh uang, tapi Risa juga tidak mau menempuh jalan pintas namun haram seperti ini.
"Saya tidak bisa mengambil syarat itu." Risa mengusap sisa-sisa air mata di pipinya, kemudian berlalu meninggalkan ruangan Riko. Bagaimana mungkin Risa menyerahkan tubuhnya begitu saja tanpa ada ikatan suci pernikahan.
Pikirannya terus menerus berkecamuk, bergulat dengan setumpuk dokumen dan berkas di mejanya ternyata tidak cukup membuat hatinya merasa tenang. Gundah gulana, resah dan gelisah itu masih bercampur aduk. Ingin sekali menjerit atas kejamnya dunia ini padanya. Kenapa dunia tidak berpihak kepadanya? Mengapa ekonomi serba pas-pasan dan bahkan kekurangan?
Risa memutuskan untuk mencuci muka terlebih dahulu, untuk menyamarkan mata sembapnya yang tidak berhenti mengeluarkan air mata. Risa memandang wajahnya sendiri melalui pantulan cermin yang berada tepat diatas wastafel. Wajah cantiknya itu sudah menghilang, wanita dalam pantulan cermin itu terlihat sangat tertekan dengan kehidupannya yang sedang susah.
"Kata dokter bapak harus segera melakukan transplantasi jantung, sudah ada donor yang cocok. Jika menunggu hari esok, kemungkinan hal buruk bisa terjadi. Apakah kamu sudah menemukan pinjaman uang nak?"
Lagi-lagi petir itu menyambar tubuh Risa,
Satu pesan WhatsApp dari ibunya cukup menohok, keadaan ini cukup membuat batinnya terguncang hebat. Bumi gonjang ganjing mengguncang kehidupannya, beginilah rasanya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Untuk bisa hidup sehat saja harganya sangat mahal.
Setelah berpikir sangat lama, dan mempertimbangkan segala hal. Akhirnya Risa mmemutuskan untuk menerima tawaran dari Riko. Tetapi Risa juga berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa dirinya tidak akan menikah seumur hidupnya.
__ADS_1
"Tidak ada jalan lain lagi." Ucap Risa frustasi, rambutnya sudah terlihat acak-acakan karena di Jambak oleh dirinya sendiri. Keputusan Risa sudah bulat karena WhatsApp dari mamanya.
Dengan langkah gontai ia kembali lagi ke ruangan Riko. Membuka pintu tanpa mengetukyna terlebih dahulu.
"Saya setuju dengan syarat yang bapak ajukan, tapi saya ingin uangnya sekarang juga." Risa berbicara to the point dan sangat blak-blakkan.
Risa saat ini sedang menjual harga dirinya sendiri, bukan atas kemauannya. Tapi apa daya? Dunia sedang menghimpitnya tanpa belas kasih sedikit pun. Risa mengorbankan dirinya demi ayahnya, jika menurut semua orang ini adalah dosa besar, tapi Risa ikhlas asalkan ayahnya bisa mendapatkan perawatan yang kayak dan bisa sembuh seperti sedia kala.
Riko segera mengalihkan pandangannya dari laptop dan tumpukan berkas, sehingga menjadi menatap Risa. Gadis itu sudah memutuskannya, dan wajahnya terlihat tegar.
"Baik! Uang akan saya transfer setelah kamu menyerahkan tubuh kamu." Ujar Riko santai, Riko sama sekali tidak terlihat bersalah sedikitpun.
"Waktunya sudah mepet pak, saya butuh uangnya sekarang." Risa menangis sesenggukan sambil memohon pada Riko.
Ibunya sedang menunggu dengan cemas, bagaimana mungkin uangnya tidak di transfer sekarang? Yang ada nanti perawatan ayahnya semakin tertunda, atau mungkin ayahnya keburu di panggil yang maha kuasa.
"Saya tidak percaya! Yang saya takutkan setelah saya transfer kamu malah kabur."
"Saya tidak akan kabur pak, demi apapun saya nggak akan kabur. Bahkan bapak mempunyai data-data saya lengkap berserta alamat rumah." Punggung tangan itu kembali terangkat berusaha menghentikan laju air mata.
"Hubungi pihak RS, tanda tangani surat persetujuan itu. Saya langsung transfer pada pihak rumah sakit." Sekarang Arka malah sibuk menatap layar ponselnya.
Risa mengangguk, dia langsung menghubungi ibunya. Suaranya itu terdengar lega, Risa bahkan bisa membayangkan betapa bahagia dan tenangnya ibu dan adik-adiknya. Tidak dapat jalan lain lagi selain menyetujui syarat yang Riko berikan, Risa mengorbankan tubuhnya demi ayah, ibu dan adik-adiknya.
"Sudah saya transfer." Riko meletakkan kembali ponselnya.
"Tapi baru setengahnya, saya yakin sebenarnya biaya transplantasi jantung nggak segitu. Tapi kamu berusaha memilih jalan aman, untuk biaya perawatan dan lain-lainnya benar begitu bukan?" Imbuhnya lagi, Risa langsung menganggukan kepalanya.
"Setelah kamu menemani saya tidur, sisanya akan saya transfer." Ucap Riko.
Riko kemudian mengambil pena dan menulis sesuatu di atas kertas kosong. Risa sama sekali tidak bertanya, saat ini Risa merasa cukup lega karena ayahnya sudah bisa di pastikan akan selamat. Riko masih asyik menulis, sedangkan Risa masih setia menunggu.
"Nih baca!" Tangan Riko mengulurkan secarik kertas yang tadinya ksoing itu kini sudah ada guratan pena.
Risa mengambilnya, matanya membelalak melihat satu kalimat dengan tulisan huruf kapital.
PERSAYARATAN ANTARA RIKO DAN RISA, ATAS DASAR HUTANG 1M.
(1M tidak akan jadi hutang, tapi dengan jaminan tubuh lu jadi milik gue selama dua tahun. Kapanpun gue ingin elu harus siap, tidak peduli itu di Coffee shop, hotel ataupun apartment gue. Kalau gue nggak puas sekali lu, berarti gue harus nambah, dan ku harus siap!)
Ini apa maksudnya? Ini benar-benar di luar kendali Risa, manik mata Risa membulat dengan sempurna, bahkan Risa juga sampai geleng-geleng kepala.
"Kenapa hanya ada keuntungan sepihak." Ucap Rika setengah berteriak.
"Emang iya hanya keuntungan sepihak! Yang untung itu elu doang, gue mah rugi udah ngeluarin uang 1 M. Bahkan gue berniat membayar biaya perawatan ayah lu sampai 2 tahun, lu tahu sendiri lah transplantasi jantung mahalnya kaya apa. Gue yakin banget biaya perawatan mengenai jantung akan memakan uang cukup cukup banyak. Harusnya bersyukur dan berterimakasih sama gue." Corosos Riko karena tidak suka Risa membantahnya.
"Yayaya." Risa berusaha menanggapi semua ucapan Riko. Tidak ada yang bisa Risa lakukan, semuanya benar-benar di luar kendali.
Risa mendelikkan matanya karena merasa jengah, lambat laun dirinya semakin terpeleset masuk dalam jurang hitam.
Riko juga menetapkan setiap berhubungan Risa harus menggunakan pengaman, agar Risa tidak hamil tentunya. Riko juga menyarankan dua pilihan, suntik KB atau pil KB?
Risa benar-benar dilema harus memilih yang mana? Suntik KB atau pil KB? Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya Risa tidak menginginkan semua ini. Risa merasa semua ini mendorongnya untuk menjadi seorang *******. Padahal Risa sangat menjaga kesucian tubuhnya untuk suaminya kelak, tapi semua itu harus sirna karena kebutuhan yang mendesaknya.
"Gue tuh nggak mau menabur benih di wanita yang asal usulnya tidak jelas, benih gue harus berkembang di rahim istri gue kelak." Riko berdecih sebal, kemudian dia melanjutkan kembali ucapannya. "Tenang aja, selain biaya perawatan ayah lu gue juga bakal ngasih uang buat lu, terserah deh kau di pake jajan, beli baju, perawatan atau apa lah. Intinya gue memberikan banyak keuntungan buat lu selama dua tahun itu."
Ada segelenyar rasa sakit yang membuat dadanya tiba-tiba sesak, matanya mulai memanas. Risa yang sering menanamkan sebuah statemen dalam dirinya, bahwa hubungan badan hanya boleh di lakukan atas dasar sebuah pernikahan yang sah. Kini dirinya terjebak oleh keadaan, keadaan menghimpit dan mendorongnya dalam lubang hitam yang begitu kejam.
"Kenapa diem? Nggak suka? Pikirin deh kondisi orang tua lu saat ini." Celetuk Riko.
"Gue tuh nggak mau punya anak dari hasil hubungan gelap, gue mau punya anak secara resmi dengan landasan sebuah pernikahan yang sah. Gue punya masa depan, tapi masa depan gue bukan sama lu. Gue punya kriteria wanita yang gue mau, yang akan gue jadikan istri gue. Lagian gue tuh sama sekali nggak punya perasaan sama lu, untuk menjadi pendamping hidup gue, dan menjadi ibu dari anak-anak gue, gue maunya wanita yang baik-baik, bukan wanita nggak benar." Ucapannya begitu enteng untuk di lontarkan, namun begitu lancip dan menohok pada ulu hati Risa.
Wanita nggak benar? Kalimat yang itu terus menerus menari-nari memutari dan mengelilingi kepala Risa. Tangannya gatal sekali ingin menampar pipi Riko, bahkan ingin melakban mulut Riko. Namun, Risa sadar bahwa dirinya sedikit demi sedikit telah melangkah ke jalan yang tidak benar. Bahkan sebentar lagi dirinya akan kotor dan hina.
Bersambung..
----------------------------------π»π»
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanππ€
Find Me On Instagram : @halloimas13β€
__ADS_1