
Sinar mentari masuk menyeruak melalui celah-celah gorden yang terbuka sedikit. Hari ini langit begitu cerah, matahari memancarkan sinarnya dengan sempurna. Arka bangun dan langsung menyingkap gorden, membuka jendela untuk membiarkan udara segar masuk mengisi ruang kamar tidurnya.
Di lihatnya istrinya itu masih tertidur pulas, posisi tidurnya begitu nyaman, deru napasnya begitu damai dan tertata. Wajah cantik yang sekarang pipinya membulat itu terlihat memancarkan aura indah seorang bumil. Arka memperhatikannya dengan intens, hatinya terasa adem melihat wajah istrinya itu.
Sebenarnya hari ini menjadi hari yang cukup penting, karena hari ini akan dilaksanakan acara tasyakuran tujuh bulanan. Tapi Arka tidak tega membangunkan istrinya, karena Arka tahu bahwa setiap malam istrinya susah tertidur karena susah menemukan posisi yang tepat dan nyaman. Setelah subuh barulah istrinya bisa terpejam.
Indonesia adalah sebuah negara dengan berbagai budaya dan agama yang diyakini oleh setiap masyarakatnya. Ada yang beragam Islam, Kristen, Hindu, Budha, maupun Konghucu. Hal tersebut diantaranya menyebabkan pertukaran budaya dan adat istiadat, maupun penyesuaian adat yang biasanya di selipkan dengan hal-hal yang berbau keagamaan. Seperti halnya upacara tujuh bulanan, saat dimana usia kandungan seorang ibu hamil mencapai usia 7 bulan kehamilannya.
Menurut pandangan medis, kehamilan di usia 7 bulan, bayi dalam kandungan mengalami banyak perubahan perkembangan yang lebih pesat daripada usia 4 bulan, karena usia kandungan 7 bulan adalah usia persiapan awal menuju ke proses lahiran, dimana usia dan berat bayi bertambah dan perubahan tersebut berdampak terhadap kondisi sang ibu yang biasanya menjadi lebih sering merasakan nyeri di pinggang karena ukuran bayi yang di kandung semakin membesar dan semakin memberikan tekanan pada organ dalam seperti sembelit dan jadi lebih sering buang air kecil.
Selain ukuran dan berat bayi dalam kandungan yang semakin membesar dan proporsional, kulit janin juga mulai di lapisi oleh sebuah zat lemak yang akan membuat bayi merasa lebih hangat saat berada di dalam kandungan. Di usia kandungan 7 bulan ini jugalah darah mulai mengalir di jaringan kulit bayi sehingga kulit yang tadinya keriput akan berangsur-angsur menjadi semakin halus.
Tidak hanya itu, mata dan telinganya juga sudah mulai berfungsi bahkan mulai bisa menerima rangsangan yang kemudian di kirimkan ke otak, karena pertumbuhan otak diusia kandungan ke 7 bulan ini juga sangat pesat.
Namun, menurut pandangan Islam 7 bulanan sebenarnya tidak di wajibkan, tetapi ada juga yang mengatakan Sunnah, atau boleh-boleh saja di lakukan asalkan kegiatan yang di lakukannya bersifat positif. Arka, Kalista serta keluarga menjadikan acara 7 bulanan ini sebagai salah satu upaya untuk mendoakan janin di kandungan yang akan lahir sekitar dua bulan lagi, dan mengundang tetangga, karyawan kantor, anak yatim piatu dan ustadz, dengan tujuan mendapatkan banyak doa agar persalinan berjalan dengan lancar.
Arka bergegas masuk ke kamar mandi, membersihkan badannya yang terasa lengket. Aroma sabun mandi yang di pilih Kalista memang selalu membuat Arka betah berlama-lama di kamar mandi. Eits, betah karena aromanya menyegarkan, bukan betah yang anu-anu ya!
Setelah mengakhiri ritual bersih-bersihnya Arka kini mencari baju Koko yang akan di kenakannya. Menyemprotkan parfum ke badan dan bajunya. Menyisir rambut lalu menggunakan peci.
"Ganteng banget gue, kaya pak ustadz." Arka bergumam sendiri dan terkekeh kecil seraya memperhatikan dirinya melalui pantulan cermin.
Arka berjalan mendekat ke ranjang, membangunkan Kalista dengan sangat pelan agar Kalista tidak merasa kaget atau bayinya yang akan merasa kaget.
"Sayang..., Udah siang loh ini. Hari ini kan ada tasyakuran 7 bulanan. Di ruang tengah udah ramai banget. Kayanya tamu-tamu juga udah pada datang deh." Tangan Arka tidak henti-hentinya mengusap rambut Kalista, kemudian menyibakkan selimutnya.
Kalista mengerjapkan matanya, kemudian mengucek kedua bola. Manik mata itu membulat seraya menatap Arka sang suami. "Kok suamiku makin tampan ya?" Tanyanya dengan ekspresi yang menggemaskan dengan muka bantalnya.
Arka tidak bisa menahan mulutnya untuk terkekeh, senyum hangat menghiasi wajahnya. "Dari lahir juga udah tampan, hati-hati ya mbaknya nanti suaminya jadi rebutan wanita-wanita diluaran sana." Arka duduk di sebelah Kalista, lalu memeluknya.
"Siapa yang merebut suamiku? Akan ku keluarkan bola matanya dari kelopak matanya." Oh my God, bahasa ibu hamil cukup mengerikan ya?
"Maaf nggak tertarik! Istriku cantik banget, mana bisa mata ini melihat wanita lain." Satu kecupan mesra mendarat di bibir Kalista, namanya juga kecupan pastinya frekuensi waktunya juga sebentar.
"Ih aku belum mandi tahu!" Tangan itu mendorong bahu Arka, agar segera menjauh dari tubuhnya.
"Iya tahu kok! Gih sana mandi dulu, jangan lama-lama tamu udah pada datang." Arka mengusak puncak kepala Kalista.
Kalista masuk ke kamar mandi, bergegas menyelesaikan ritual mandinya. Sementara menunggu Kalista mandi, Arka bergegas ke luar dari kamarnya. Begitu pintu kamar terbuka, hilir mudik lalu lalang orang di rumahnya sudah banyak, tamu-tamu sudah berdatangan tetapi masih belum lengkap.
Ruang tamu ini sudah di sulap menjadi sangat berbeda dari sebelumnya. Arka memang meminta ruang tamunya di dekor menjadi tempat untuk acara tasyakuran. Anak-anak yatim yang Arka undang pun sudah duduk rapi di tempatnya. Ditangannya terdapat Al Qur'an kecil.
"Istrimu mana nak?" Oma menepuk bahu Arka dari belakang.
"Masih mandi! Soalnya dia menjelang subuh baru tidur. Katanya susah mencari posisi tidur yang nyaman. Soalnya kan tahu sendiri lah perut buncitnya itu luar biasa, karena isinya dua hehe." Arka berbicara di selingi dengan kekehan kecil.
"Yasudah sana kamu tungguin, ibu hamil jangan di tinggalin sendirian." Oma mendorong Arka agar masuk kembali ke kamarnya.
Sedangkan Oma dan pak Anggara sibuk memastikan bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencananya. Oma mengecek dapur memastikan pelayan dan koki panggilan memasak banyak. Arka sengaja tidak delivery ataupun memesan makanan nasi kotak, atau lainnya. Karena Kalista maunya semua makanan, minuman, ataupun cemilan semuanya di buat di rumah ini. Entah apa alasannya, Arka hanya berusaha menurutinya saja.
Pak Anggara memeriksa setiap bungkusan souvernir, semuanya lengkap dan malah sengaja di lebihkan. Bahkan mungkin nanti anak yatim bisa kebagian satu orang dapat dua bingkisan souvernir.
"Nyari apa bu? Matanya jelalatan banget kaya lagi nyari brondong." Arka mentertawakan Kalista yang sedang sibuk memilah dan memilih baju di lemarinya.
"Aku pakai baju apa? Iiiiiiiiiiiiih kok bisa lupa ya, padahal kemarin seharusnya aku beli baju untuk di pakai hari ini." Bibir itu manyun dan mengerucut karena merasa bete pada dirinya sendiri.
"Suruh siapa nggak beli? Sekarang gimana coba? Tamu udah pada datang, beli dulu? Nggak keburu kayanya, nanti waktu baiknya malah terlewat." Bukannya memikirkan solusi, Arka malah semakin membuat Kalista cemas dan merasa kurang persiapan.
Mata bulat nan indah itu berubah warna menjadi merah, berkaca-kaca. Raut wajahnya terlihat sangat sedih. Arka tidak tega melihat istrinya, karena ini juga ulah darinya.
Arka melangkah menuju sudut kamar, disana tergantung satu buah longdress dan lengannya pun panjang. Sangat sopan dan tertutup. Longdress berwarna putih dengan aksen bunga-bunga yang tentunya berwarna putih juga. Dan satu kerudung berwarna nude.
"Pakai ini bu, jangan nangis nanti cantiknya luntur." Arka mencubit gemas pipi Kalista, kemudian mengecup keningnya.
Kalista langsung merampas longdress di tangan Arka, dan langsung memakainya. Kemudian mengapkikasikan make up natural di wajahnya. Kerudung berwarna nude itu sangat cocok menutupi kepala dan rambut Kalista.
"MasyaAllah bidadarinya aku sungguh cantik luar biasa, bukan hanya cantik luarnya tetapi hatinya juga cantik." Arka berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap melalui pantulan cermin Kalista yang sedang memoleskan lipcream di bibirnya.
"Eh aku baru nyadar, baju kita couple ya? Punya kamu hiasannya bordir, kalau aku aksen bunga-bunga. Cakep juga nih baju." Senyum hangat sumringah terseungging di bibirnya, Kalista pun menatap Arka melalui pantulan cermin.
"Iya dong! Ini di jahit dalam waktu singkat oleh desainer yang karyanya mendunia, dan tentunya jam terbangnya juga tinggi." Jawab Arka.
"Pasti mahal!" Kalista memutar kursi duduknya, berbalik badan dan menatap Arka.
"Uang itu nggak masalah! Habis? Masih bisa di cari! Karena membahagiakan seorang istri membuat rezeki suami semakin lancar."
Kalimat yang keluar dari mulut Arka cukup membuat Kalista menarik garis bibirnya. Suaminya itu memang selalu bisa membuatnya bahagia dan merasa menjadi wanita paling beruntung di muka bumi ini.
Berfoto selfie menjadi hal yang sangat wajib untuk Arka selama beberapa bulan ini. Arka ingin mengabadikan setiap momen kehamilan Kalista. Dan selalu di unggah di feed Instagram. Setiap satu postingan selalu di banjiri oleh komentar netizen, 97% komentarnya positif, bahkan netizen yang berbaik hati itu tak jarang melontarkan kata-kata berupa doa untuk Kalista. Namun, ya namanya manusia pasti ada yang menyukai dan tidak menyukai. Begitu halnya dengan Arka, diantara postingan itu selalu saja ada 3% komentar negatif, kata-katanya selalu menohok terkadang membuat sakit hati. Namun Arka dan Kalista tidak ambil pusing dengan hal itu, Arka selalu berpesan agar Kalista mengabaikan kata-kata yang kurang enak di baca dan dengar.
Satu menit setelah Arka mengunggah foto dirinya bersama Kalista, dengan menggunakan baju Koko dan peci, Kalista yang menggunakan longdress dengan perpaduan hijab berwarna nude. Dengan caption "Putih bersih, suci dan bersinar, seperti kedua putra dan putri kami yang masih berada di perut istriku, dua bulan yang akan datang bayi kembar kami akan launching ke dunia." Tidak lupa Arka juga memberikan emoticon love berwarna-warni, terdapat emoticon kiss juga diantara emoticon love-love tersebut.
Beragam komentar positif pun membanjiri kolom komentar. Dengan hanya membaca caption pun netizen sudah bisa menebak bahwa hari ini Arka dan Kalista sedang melaksanakan acara tasyakuran tujuh bulanan. Bahkan ada beberapa netizen yang ingin sekali datang menghadiri acara tersebut, namun acara ini lumayan ketat, hanya tamu yang mendapat undangan saja yang boleh masuk.
__ADS_1
Arka keluar dari kamar, Kalista mengikutinya dari belakang. Begitu Kalista sampai di ruang tamu yang sudah di sulap itu, beberapa anak yatim berlari menghampirinya, mengecup punggung tangannya, bahkan ada yang mengusap lembut perutnya.
Kalista merasa senang dan bahagia, bahkan matanya berkaca-kaca. Walau bagaimana pun Kalista juga anak yatim piatu sama seperti anak-anak itu.
Kalista duduk tepat di sebelah ibu ustadzah, Arka di sebelah pak ustadz. Tamu undangan itu cukup banyak, mulai dari karyawan kantor, teman-teman Kalista, teman-teman Arka, dan bahkan tetangga teman-teman arisannya Oma.
Acara di mulai dengan sambutan dari pak ustadz dan ibu ustadzah, lalu mengaji bersama, dzikir dan do'a pun di panjatkan bersama. Ini hanya acara tujuh bulanan biasa saja, Kalista tidak ingin yang ribet-ribet, intinya sih mengaji dan doa bersama saja. Tidak ada acara pecah telor, dimandikan, atau pun serangkaian acara mitoni Jawa.
Arka dan Kalista mengaminkan do'a-do'a tersebut, Arka berkali-kali mengusap perut Kalista. Oma dan pak Anggara juga tampak sangat bersemangat. Setelah acara intinya selesai. Kini semua tamu di jamu dengan acara makan-makan, makan bersama ini sungguh terasa nikmat. Semua tamu berkumpul dan berbaur tanpa ada batasan kasta.
Bahagia, senang, dan ceria terpancar dari wajah anak-anak yatim. Ada yang duduk-duduk di tangga, ada yang berebutan cupcake, dan bahkan ada yang keliling-keliling memperhatikan bangunan rumah megah ini. Pak Anggara maupun Oma sama sekali tidak mempermasalahkan semua kelakuan mereka, mereka cukup paham dan mengerti terhadap tingkah laku mereka.
Kalista memakluminya, selama ini mereka hidup dan tumbuh besar di panti. Dengan keterbatasan dalam segala hal, baik itu tempat tinggal, ataupun makanan. Mereka makan enak jika memang ada orang baik yang mengirimkan makanan, jika tidak ada ya mereka makan sederhana saja. Bukannya ibu panti tidak mau memberikan makanan enak kepada mereka, hanya saja ibu panti lebih berpikir untuk jangka panjang. Jika hari ini menghabiskan sejumlah uang untuk makan enak, lalu bagaimana dengan hari esok? Apakah akan selalu ada donatur yang menjaminnya? Ada, tapi tidak setiap hari bahkan mungkin hitungan bulan.
Sebelum pulang, Kalista memberikan angpau dan bingkisan souvernir pada anak-anak yatim, wajah itu terlihat sangat sumringah dan bahagia. Menurut mereka kegiatan seperti ini bisa dianggap sebagai hiburan atau pun rekreasi.
"Cape?" Arka bertanya, sambil menuntun Kalista agar duduk di sofa.
Semua tamu undangan telah pulang, yang tersisa hanya ada teman-teman Kalista dan temannya Arka saja yang belum pulang.
"Pegal, gerah juga." Kalista memegang pinggangnya, membuka kerudungnya, kepalanya bersandar di bahu Arka.
"Kipasin dong pak suami, kasian loh istrinya kegerahan." Evan ikut bergabung duduk di sebelah Arka.
"Lagi malas, gue juga gerah." Ucap Arka dengan jengah, bukannya tidak perhatian sama istri, namun untuk sekarang Arka juga sama lelahnya seperti Kalista.
"Nggak sayang istri!" Celetuk Riko.
"Sayangnya janda di lampu merah." Saut Andy yang disambut kekehan oleh mereka semua.
"Mulut lu! Yaampun mau gue sumpel pake kaos kaki?" Arka menoyor kepala Andy.
Tiara, Bima, dan Bimo juga ada, bergabung dengan mereka semua. Bima dan Bimo yang bisanya selalu receh kalau lagi ngumpul dengan Kalista, mendadak pendiam jika diajak ngumpul dengan teman-teman Arka. Mereka berdua merasa canggung, karena teman-teman Arka kan levelnya beda lah.
"Berisik banget sih kalian tuh! Mending bantuin bibi dan koki di dapur, nyuci piring kek, nyapu ruang tamu kek, atau ngepel lantai gitu." Ucap Kalista sambil memijit-mijit pelan dahinya.
"Gila.., sadis banget cuy. Yakali gue udah tampan gini nyuci piring. Nggak level!" Evan mencibir dengan bola mata memutar jengah.
"Gue nyuci piring deh!"
"Gue nyapu lantai!"
Tiara dan Gina bersuara dalam waktu bersamaan. Dan dalam waktu bersamaan juga Evan dan Andy langsung mencekal pergelangan dua gadis cantik itu.
"Nggak usah sayang! Duduk manis aja di sebelah aku, kan di rumah ini juga banyak pelayan." Andy berkata sangat lembut, tangannya menyampirkan beberapa rambut Gina yang menjuntai ke dahinya, dan menyelipkannya ke belakang telinganya.
"Menyebalkan! Gue merana sendirian." Riko menatap mereka berdua dengan tatapan tidak suka.
"Tenang pak, saya juga jomblo kok." Mulut Bimo yang terkunci rapat itu akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Saya juga pak. Ayo berpelukan sambil nangis bareng-bareng." Ucap Bimo dengan wajah sendunya.
"Jangan berpelukan, mending kita pergi ke club malam aja, kita clubbing joget-joget, happy-happy sekalian nyari cewe." Riko.
"Ide bagus! Kita nyari wanita satu malam." Jawab Bima antusias.
"Pikirin masa depan! Jangan terbawa pergaulan orang kaya." Kalista mengetuk pelan kepala Bima dan Bimo bergantian.
"Hehe iya nyonya." Jawab Bima dan Bimo bersamaan. Kemudian Bima dan Bimo pamit pulang, karena walaupun hari ini kantor di liburkan, tetapi mereka semua tetapi work from home. Apalagi kondisi perusahaan saat ini memang sangat sibuk-sibuknya.
"Nak, nanti kalau mereka sudah pulang, kamu langsung tidur saja ya. Jaga kesehatan ibu dan bayinya." Oma mengecup kening Kalista. Oma telah berganti baju, dan telah mandi juga. Bisanya Oma kalau sudah berkegiatan sepeti ini, dia langsung istirahat.
"Ayah pergi dulu, jaga istri kamu." Mengusak pelan puncak kepala Kalista, lalu pergi ke tempat tujuannya. Pak Anggara ini walaupun sudah tua, tetapi dia masih sibuk di luaran sana, karena dia mengurus bisnisnya yang lain.
"Gue juga balik dulu deh! Lupa belum ngabarin manager juga buat ngehandle coffee shop." Riko beralasan seperti itu, padahal sih sebenernya Riko merasa jones aja bergabung disini, apalagi Andy dan Evan telah mempunyai pasangannya masing-masing.
"Alasan! Bilang aja kangen Bu manager coffee shop." Ucapan Kalista sangat enteng, tetapi cukup membuat ekspresi wajah Riko berubah tersenyum menyeringai.
"Nah betul." Jawabnya sambil terkekeh, kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu.
"Btw ta, ibu kost nggak datang?" Tiara sama sekali tidak melihat kehadiran ibu kost di acara tasyakuran tujuh bulanan ini. Aneh aja gitu, ibu kost kan paling dekat banget sama Kalista. Bahkan Kalista juga telah dianggap seperti anaknya sendiri.
"Ibu kost kan udah lama balik ke kampungnya, katanya dia mau ngurusin yang sakit entah sodaranya atau siapa deh, gue lupa. Tapi dia udah nelpon gue tadi malam, dan memberikan do'a-do'a terbaiknya." Jawab Kalista.
"Aduh." Tiba-tiba Kalista meringis, sambil memegang perutnya. Bayi di dalam perutnya sepertinya sedang bermain sepak bola, perut Kalista di tendang-tendang.
Arka mengusap perut itu dengan sangat lembut, sambil berkata "Putra dan putri kesayangan ayah, jangan nakal ya nak, kasian loh mamamu sampai meringis kesakitan karena tendangan dari kalian berdua." Baby twins itu memang selalu menurut kepada ucapan Arka, buktinya sekarang saja setelah Arka mengusap lembut perut Kalista dan memberikan petuahnya, tiba-tiba mereka terdiam kembali.
"Eh bro, beneran tuh perut isinya dua?" Evan bertanya sambil memperhatikan perut Kalista.
"Gue aja kaget banget tadi pas dengar!" Andy pun ikut menimpali perkataan Evan.
"Iyalah benar! Gue juga baru tahu kemarin! Senang banget gue langsung punya dua anak." Arka mengecup pipi Kalista.
__ADS_1
"Mantap! Sekali tembak langsung dua. Congrats bro!" Andy merangkul bahu Arka, begitu juga dengan Evan.
"Aku juga mau punya bayi kembar, gimana sih caranya bisa punya bayi kembar? Tapi tidak mempunyai keturunan dari gen bayi kembar?" Tanya Gina.
Andy yang berada di dekat Gina, malah memperhatikan wajah Gina dari samping.
"Iya benar tuh! Aku juga mau punya bayi kembar." Tiara pun ikutan nimbrung.
"Yuk bikin sayang." Andy merangkul bahu Gina. Wajah Gina langsung bersemu merah karena malu.
"Iya sayang kita juga bikin, atau bikinnya mau bareng-bareng aja sama Andy dan Gina." Taira langsung menepis tangan Evan, dan menempelkan jari telunjuknya di bibir Evan. Dasar Evan si mesum, jari Tiara malah di jilatin. Hal tersebut semakin membuat Tiara merasa malu dan gugup.
"Bikin..bikin...bikin.. enteng banget tuh mulut bilang bikin! Sana deh halalin dulu, biar sah di mata hukum dan agama." Ucap Kalista.
"Nah benar tuh! Kalau udah sah mah enak, mau lu tidurin di pinggir jalan juga oke. Kalau ada yang negur, yang lu kasih aja buku nikah." Celetuk Arka di sertai kekehan-kekehan kecil.
"Ya nggak di pinggir jalan juga kali, tubuh istri gue hanya boleh dilihat oleh gue." Sungut Evan.
"Istri? Hellow sudah nikah? Sudah sah? Sudah halal?" Cibir Kalista.
"Ya belum sih, tapi nanti kan mau di halalin." Evan mengedipkan sebelah matanya pada Tiara.
"Stop! Aku kan lagi nanya ibu Kalista mengenai bayi kembar, kenapa kalian pada debat sih." Gina melerai dan berusaha mengakhiri perdebatan diantara mereka semua.
"Oke!" Jawab Evan singkat.
"Mau tahu kenapa bisa kembar? Apa ya? Aku juga nggak tahu, soalnya sama sekali nggak ikut program baby twins, ini emang murni aja dikasih sama sang maha pencipta." Kalista saja bingung harus menjawab seperti apa? Karena ini memang tidak rencanakan oleh Arka dan Kalista.
"Duh beruntung banget sih sahabat gue." Tiara memeluk Kalista. "Sehat-sehat ya sayangnya onti." Imbuhnya lagi sambil mengusap perut buncit Kalista.
"Sebenarnya tips buat dapatin bayi kembar tuh gampang banget." Celetuk Arka.
"Wah gimana tuh? Kasih tahu tipsnya dong pak." Ujar Gina dan Tiara yang ngebet banget pengen tahu.
"Nanti pas malam pertama, ena-enanya dua ronde. Jadi nanti janinnya dua." Arka menaik turunkan alisnya smabil tersenyum menyeringai menatap Kalista.
Kalista menatap Arka jengah sekaligus ingin tertawa terbahak-bahak, tips macam apa itu yang di lontarkan oleh suaminya.
"Wah kalau begitu gue pengen punya anak kembar 4." Andy menatap Gina dengan tersenyum menyeringai.
"Gue mau kembar 5." Evan pun tersenyum menyeringai sambil memeluk Tiara.
"Halah si kutu kupret ini, itu sih maunya kalian! Bilang mau kembar 4, kembar 5, bilang aja mau 4ronde dan 5ronde. Yakin kuat? Palingan baru sekali aja udah encok, atau lutut berasa mau patah." Arka meledek Evan dan Andy.
"Kaga bakal! Gue kan mau olahraga sekalian mau minum vitamin penambah stamina." Ujar Evan dengan cengir kudanya.
"Bilang aja obat kuat! Nggak usah pake embel-embel vitamin penambah stamina." Andy memukul lengan Evan.
"Nah itu maksudnya." Evan.
"Apaan sih? Jadi pada ngaco gitu." Kata Tiara sambil melepaskan rangkulan tangan Evan.
"Giliran bahas ginian aja, otaknya tuh pada nyambung." Cibir Gina dengan memutarkan bola matanya jengah.
"Wajar dong normal! Bayangin kalau aku nggak normal, nanti kamu tidur sama akunya nggak puas." Andy menaik turunkan alisnya seraya menggoda Gina.
"Jijik!" Ucap Gina.
"Sekarang jijik! Nanti mah ketagihan, atau malah minta duluan." Andy semakin ingin menggoda Gina.
"B E R I S I K!" suara Kalista terdengar nyaring dan penuh penekanan!
"Aku nagntuk! Cape, sakit pinggang, ingin rebahan dan mengistirahatkan kaki yang pegal." Kalista merajuk manja sambil merangkul Arka.
"Ayo tidur!" Arka bersiap akan menggendong Kalista.
"Sedikit info nih! Bercinta siang hari juga enak kok." Arka sengaja berbicara seperti itu, dengan tujuan memanas-manasi Evan dan Andy.
"Gue mau otw KUA!" Celetuk Andy dan Evan.
Arka dan Kalista langsung tertawa terbahak-bahak, ya ampun dua sahabat Arka itu sepertinya sudah tidak tahan untuk melaksanakan kegiatan yang paling surgawi di dunia.
"Nanti sore ke makam ayah bunda ya, aku mau mendoakan mereka sekaligus meminta doa untuk aku, anakku, dan suamiku, intinya sih untuk keluarga kecil kita."
"Iya sayang." Arka mengecup kening Kalista, kemudian menggendongnya menuju kamar. Tubuh istrinya yang tadinya proporsional itu kini telah menjadi gemuk dan sangat berat.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1