
"Terimakasih." Ujar mama Lisa, tetapi suaranya terdengar lirih karena di mulutnya terdapat makanan yang barusan Arka suapi.
Arka menatapnya dengan senyum hangat, sudut bibir itu terangkat naik membuat sebuah garis lengkungan yang indah.
"Sama-sama ma." Ujar Arka santai, senyumnya masih tersungging dan belum menghilang.
Mata mama Lisa memanas, berkaca-kaca antara bahagia dan terharu. Bahagia sekali rasanya Arka kembali memanggilnya mama, sangat terharu bocah kecil yang pernah meringkuk di rahimnya itu kini sudah dewasa, bukan hanya dewasa melainkan sudah akan menjadi ayah, tinggal menunggu waktunya saja.
Hati mama Lisa menghangat seperti mentari memancarkan sinarnya di pagi hari, jika bunga mawar sedang kuncup, mungkin saat ini malah bermekaran dengan tiba-tiba, tetapi mekarnya sangat sempurna.
Satu sendok suapan yang Arka berikan, berisi nasi dengan rendang, tetapi rasanya begitu berbeda, terasa sangat maknyus dan lezat, mama Lisa sampai tidak tega untuk menelan makanan itu.
"Enak banget ya ma?" Tanya Dino dengan senyum merekah, setelah sekian lama senyum itu menghilang, kini telah kembali lagi. Walaupun Dino tahu, alasan tersenyum mama Lisa bukanlah dirinya.
Marcelino menatapnya acuh tak acuh. Bahkan dia hanya mengaduk-aduk makannya saja. Sepertinya memang benar, tujuan utama kedatangannya kesini bukanlah untuk makanan, melainkan untuk membuntuti Arka dan Kalista.
"Aku mau dong suapin mama mertua." Kalista menyendokkan nasi dengan rendang, kemudian menyuapi mama Lisa.
Mama Lisa tentu saja menyambutnya dengan senang hati, menantunya ini adalah wanita terbaik pilihan Arka. Mama Lisa mengetahui beberapa hal tentang Kalista, apalagi akhir-akhir ini semenjak Arka sering muncul di media, apapun rahasia mengenai Kalista pasti bakalan jadi konsumsi publik, siapapun pasti mengetahuinya. Bahkan menantunya ini sangat terkenal di media sosial, selain parasnya yang cantik otaknya juga sangat menumpuni. Sangat selaras antara paras dan pendidikan.
"Anggara kenapa nggak nikah lagi?" Tanya Marcelino dengan wajah meledek.
Arka meletakkan sendok dan garpu, kemudian menatap Marcelino. "Karena ayah saya bukan tipe pria kucing garong." Jawab Arka santai sambil tersenyum mengejek.
"Pasti belum bisa move on dari Lisa." Celetuknya tanpa rasa bersalah, dari celetukannya terkandung unsur sebuah ledekan.
Ya ampun, Arka benar-benar di uji kesabarannya. Berbincang dengan manusia berhati setan itu benar-benar memerlukan banyak energi, harus pintar-pintar mengatur emosi.
"Wajar saja! Mama Lisa cinta pertama ayah saya, namun mama Lisa pernah salah melangkah. Ayah saya kenapa nggak nikah lagi? Itu kan urusan ayah saya, kenapa anda yang repot bapak Marcelino? Apakah sekarang anda kurang kerjaan? Apa sudah tidak ada niatan lagi untuk merebut perusahaan yang saya pimpin?" Tanya Arka dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Cinta pertama? Dia masih nunggu Lisa? Bodoh banget nggak sih?" Marcelino terekeh dengan sangat menyebalkan. "Merebut perusahaan yang kamu pimpin? Ya ampun Arka, sebegitu buruknya kah image saya? Saya tidak pernah sedikit pun mempunyai niatan untuk mengakuisisi perusaan yang kamu pimpin, toh kamu anak tiri saya, otomatis semua aset kamu berhubungan dengan saya." Lalu Marcelino tertawa terbahak-bahak, tawanya menggelegar di rumah makan Padang ini, bahkan sampai ada beberapa pengunjung yang memperhatikannya tanpa berkedip.
"Yang bodoh itu anda, merebut istri orang. Nggak tahu diri! Pebikor." Arka tersenyum kecut, wajahnya benar-benar sangat jengah, merasa jengkel dan kesal.
"Aset saya otomatis aset anda juga? Cih!" Arka berdecih sebal, "Anda siapa? Punya hak apa terhadap saya? Menginginkan aset saya? Bangun dong ini udah siang loh, jangan mimpi terus ya pak tua." Arka mencibir sekaligus menyindirnya.
"Tapi aset kamu kayanya bakal jatuh ke tangan saya deh." Marcelino tersenyum menyeringai.
"Sebelum aset saya jatuh ke tangan anda, bagaimana kalau aset anda terlebih dahulu yang jatuh ke tangan saya? Gimana tuh? Setuju nggak?" Arka juga tersenyum menyeringai membalas Marcelino.
Jangan pikir Arka bakalan kalah, intinya jangan terlalu meremehkan. Bisa saja kan, besok Arka langsung menjadi the winner. Marcelino sebenarnya pintar, namun dia terlalu agresif dan tergesa-gesa, kata lainnya sih ceroboh. Padahal sikap ceroboh itu tidak baik.
"Tidak bakal semudah itu!" Marcelino terkekeh geli, dia tidak takut sama sekali terhadap ancaman Arka. Dimata dan pikirannya Arka hanya seorang bocah, mana mungkin bisa melewatinya.
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, jika yang maha kuasa berkehendak, apapun bisa terjadi. Lagi pula saya juga tidak bisa sembarangan menjatuhkan anda, untuk mencari bukti-bukti kesalahan yang anda perbuat saja, saya kesusahan, karena ada beberapa akses yang sengaja di tutup. Anda bergabung dengan lembah hitam, menggunakan cara ilegal, bahkan saya sampai curiga jangan-jangan Anda bergabung dengan geng mafia." Sorot mata Arka menatapnya tajam, senyum sinis tersungging di bibirnya. Arka sama sekali tidak takut pada Anggara, mungkin kemarin ia lengah, sampai-sampai masuk ke dalam perangkap yang Marcelino siapkan, namun kali ini Arka tidak akan memberikan celah sedikit pun.
"Haha, tidak semudah itu! Saya harap, bocah kecil seperti kamu jangan bermain api dengan saya, bahaya nanti kamu bisa terbakar." Sebuah kalimat sederhana, namun di dalamnya terdapat sebuah ancaman.
"Anda masih menganggap saya bocah kecil?" Tanya Arka dengan menautkan sebelah alisnya.
"Sayang, apa aku terlihat seperti bocah?" Sekarang Arka bertanya pada Kalista, Kalista hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Bocah kecil ini sudah akan mempunyai dua bocah, apakah kedua bocah kecilku harus memanggilku bocah? Anda ini lucu sekali. Barangkali anda lupa karena faktor usia yang sudah tidak muda lagi, maklum ya pak tua, jadi usia saya itu DUA PULUH TUJUH TAHUN, dan sebentar lagi saya akan mempunyai DUA BOCAH KEMBAR, bahkan orang gila sekalipun akan mengetahui bahwa saya akan menjadi ayah." Arka berkata dengan penuh penekanan, Arka tidak suka di anggap bocah oleh seorang tua bangka yang tidak lain adalah Marcelino.
__ADS_1
"Di mata saya, anda tetap masih bocah." Ledek Marcelino.
"Mungkin mata anda bermasalah!" Cibir Arka, bola matanya memutar dengan jengah. Bahkan sekarang nafsu makannya sudah berkurang drastis.
"Mulut seorang bocah ternyata lebih tajam daripada sebilah pisau."
"Lebih baik mulut yang tajam, karena tajamnya juga hanya kepada anda. Daripada perbuatan anda yang tidak mencerminkan seorang manusia. Saya jadi ragu, jangan-jangan Anda sebuah jelmaan setan, atau titisan iblis. Kok ngeri ya." Setelah sekian menit hanya menjadi pendengar dan terus saja menikmati makanannya, kali ini mulutnya tertarik untuk mengeluarkan suara.
Kalista sangat geram, dari tadi Marcelino selalu meremehkan Arka. Parahnya Arka di sebut bocah, padahal kan Arka sudah dewasa. Sudah bisa menjadi imam yang baik, dan calon ayah yang baik untuk kedua bocah yang ada di perutnya.
"Wow sekarang istrinya ikutan membela, dua bocah yang sama-sama keras kepala." Tangannya memijit-mijit dahinya, sosoan pusing menghadapi dua bocah.
"Tidak usah di hiraukan! Dia memang gila, lebih baik kalian lanjut makan saja." Dino berkata dengan sangat tegas, bahkan dia sempat melirik Marcelino sekilas, terlihat jelas dari sorot matanya itu menyiratkan sebuah kebencian yang amat luar biasa.
"Dino!" Marcelino memandangnya geram, tapi Dino tidak menghiraukannya, dia malah semakin asyik menikmati makanannya bareng mama Lisa, Arka dan kalista.
Mereka asyik menikmati makanan, Arka sibuk menyuapi Kalista, Dino sibuk terlibat percakapan dengan Arka, sesekali mama Lisa dan Kalista juga menanggapinya.
Marcelino sama sekali tidak menyentuh semua makanan yang ada di meja, Arka semakin yakin pada instingnya, bahwa Marcelino datang ke sini memang untuk membuntutinya. Tangannya sibuk menari-nari di layar ponselnya, begitu lincah dan aktif mengetikkan huruf demi huruf, hingga menjadi kata bahkan menjadi sebuah kalimat.
"Marcelino itu kalau di depan orang terlihat kalem, kesannya kaya orang baik. Padahal itu semua hanya topeng, aslinya sih dia seorang b*jingan. Apalagi kalau ada salah satu dari misinya gagal, dia akan mengamuk seperti kemasukan iblis tingkat neraka ke tujuh." Dino berkata dengan gamblang, sama sekali tidak ada rasa takut dalam dirinya. Padahal Marcelino masih ada di meja yang sama.
"Feeling gue juga kaya gitu kok." Ucap Arka sambil tersenyum pada Dino, kemudian dia menyendokkan nasi dan pop chicken ke dalam mulutnya.
"Mama pernah di apain aja? Di siksa terus ya? Kalau memang ada kdrt, mama harus bilang dong, jangan diam aja! Mama berhak bahagia." Lirih Arka pelan, karena mulutnya masih penuh dengan makanan.
"Mana mungkin di siksa, Lisa ini adalah istri kesayanganku." Marcelino merangkul pundak mama Lisa dan mencium pipinya.
Mama Lisa hanya diam saja, ingin sekali dirinya mengatakan pada Arka bahwa dirinya sering kali menjadi samsaknya Marcelino ketika salah satu misinya gagal, pukulan demi pukulan sering mendarat di punggungnya, bahkan tamparan sangat keras pun kerap kali mendarat di pipinya.
"Apa kamu sudah ke dokter? Sebagai ayah yang baik saya tegak harus memerhatikan kamu, walaupun kamu hanya anak tiri." Marcelino berusaha memberikan perhatian pada Arka.
Oh God, Marcelino ini memang benar-benar pandai bersandiwara, pandai acting bagai seorang aktor, kini dia sosoan perhatian pada Arka.
Kalista menautkan sebelah alisnya, dia menghentikan aktifitas makannya. "Ke dokter ngapain?" Tanya Kalista bingung, di kepalanya ada beberapa argumen yang membuatnya sangat penasaran.
"Punggung Arka kan terluka, loh kamu nggak tahu? Gimana sih? Kamu kan istrinya!" Beberapa kalimat beruntun terlontar dari mulut Marcelino.
"Saya tahu suami saya terluka, yang bikin saya bingung adalah *bagaimana anda bisa tahu bahwa suami saya terluka?" Tanya Kalista dengan tatapan. yang tetap mengarah pada Marcelino.
Dino dan mama Lisa langsung terdiam, bahkan mereka berdua bisa langsung berpikir bahwa Marcelino lah orang di balik semua kejadian yang membuat Arka terluka.
"Ah itu, saya lihat di berita." Jawab Marcelino sedikit gugup.
"Berita? Kalau ada berita berarti ada yang melihat kejadian itu, ada yang mengambil gambarnya juga dong. Tetapi, kenapa cctv di jalan itu tidak berfungsi? Seperti sudah di setting dengan sangat sempurna." Ujar Arka sambil memperhatikan wajah Marcelino yang tiba-tiba berubah kikuk.
"Ah itu...."
"Ah itu.. apa maksudnya? Maksudnya anda dalang dari semua itu? Benar begitu bukan?" Kalista kini malah semakin menyudutkan Marcelino.
"Memang benar kata anda pak tua, bermain api dengan anda bisa membuat saya terbakar. Namun Tuhan masih menyelamatkan saya dari si jago merah yang siap melahap saya, hanya saja punggung saya saja yang terluka terkenal pecahan kaca." Sorot mata Arka masih tertuju pada Marcelino.
"Saya tahu dari teman." Marcelino masih berusaha berkilah sebisa mungkin, namun gelagatnya terlalu mencurigakan.
__ADS_1
"Teman? Orang suruhan kamu kali, kamu kan niat banget ingin melihat saya hancur." Ledek Arka.
"Image saya kayanya terlalu buruk di mata kamu, btw selamat ulang tahun ya Kalista." Berusaha mengalihkan pembicaraan, tetapi malah semakin terjebak di kalimat yang baru.
Marcelino mengucapkan selamat ulang tahun pada Kalista? Jadi, Marcelino tahu bahwa kemarin Kalista bertambah usia? Luar biasa mata-matanya tajam sekali seperti elang. Marcelino sadar nggak sih dengan ucapannya? Malah semakin terlihat bahwa dialah dalang dalam semua rangkaian kejadian di hari kemarin.
"Arka kan banyak uang, masa iya merayakan ulang tahun istri tercinta hanya di apartment? Ajak holiday kemana kek? Luar negeri atau dalam negeri, nginep di hotel bintang lima, atau merayakan ulang tahun romantis di kafe atau restoran merah. Sebagai istri kamu berhak meminta sesuatu hal yang berhubungan dengan materi, jangan terlalu ngirit." Ucap Marcelino dengan tersenyum.
"Tahu darimana kemarin saya berulang tahun?" Sebelah alis Kalista tertaut, sorotan matanya masih menatap Marcelino tanpa berkedip. Lagi-lagi pertanyaannya selalu mengintimidasi Marcelino.
"Tahu darimana juga saya merayakan ulang tahun di apartment? Saya tahu suami saya banyak uang, tetapi saya cukup bahagia merayakan ulang tahun secara sederhana, acara ulang tahunnya memang sederhana, tetapi semua hadiahnya mewah, mahal, dan sangat mengejutkan." Imbuhnya lagi.
Marcelino terdiam, mulutnya kaku untuk bersuara. Atas kecerobohannya sendiri, kini dia malah terlihat semakin bodoh.
"Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa Marcelino seharian kemarin membuntuti saya, membuat saya kecelakaan dan dia masih memantau kegiatan saya sampai malam. Tidak hanya sampai situ, hari ini dia juga kembali membuntuti saya hingga ke rumah makan ini. Lihat saja, kalau bukan karena membuntuti saya dia mana mau makan di tempat ini? Toh dia juga sama sekali tidak tertarik dengan makannya." Arka berusaha menyimpulkan tentang kejadian kemarin yang emang ada hubungannya dengan Marcelino.
"Tapi sayang saya tidak mempunyai bukti untuk mengusutnya kepada pihak berwajib." Arka mendesah pasrah, membuang napasnya kasar.
"Selama tidak ada bukti, kamu tidak akan bisa menyalahkan saya." Marcelino berdecih kemudian tertawa geli.
"Sekarang memang tidak ada bukti, tapi cepat atau lambat saya anda akan jatuh, dan perusaan anda pun pasti akan berada di tangan saya. Mungkin cctv bisa di setting, tapi Tuhan tidak tidur, dia pun melihat segalanya." Arka berkata santai. Ternyata memang benar Marcelino lah dalang di balik semuanya.
"Benar-benar manusia iblis!" Ucap Kalista geram.
"Sayang, jangan lupa ucap amit-amit." Arka merangkul pundak Kalista, mengecup puncak kepalanya. Tangan Kalista mengusap perut buncitnya sambil berkata amit-amit, menurut pada perintah Arka.
Tiba-tiba datang seorang wanita cantik, usianya mungkin sekitar 35tahunan, perawakannya bagus seperti model. Jalannya berlenggak lenggok anggun, kesannya terlihat sangat centil.
"Sayang, kangen." Ucapnya manja, memeluk Marcelino dari belakang, kecupan demi kecupan pun telah mendarat di pipi Marcelino, bahkan suaranya terdengar sangat seksi dan di manja-manjakan.
"Sayang? Kangen?" Mama Lisa, Dino, Arka dan Kalista pun langsung melongo. Sepertinya ubun-ubun Arka kembali mendidih, Arka tidak bisa melihat mamanya di khianati. Mungkin ini karma untuk mama Lisa, namun seharusnya tidak seperti ini. Toh Arka sangat yakin bahwa mama Lisa sudah bertaubat.
"J*lang! Saya tidak kenal dengan anda." Mendorong tubuh wanita itu hingga terjatuh terjerembab, Marcelino menatapnya penuh emosi dengan jilatan api di matanya.
"Nggak kenal? Biasanya kamu selalu meminta kehangatan padaku." Ucapnya sinis, kemudian perempuan itu segera menjauh karena merasa tidak terima di perlakukan seperti itu oleh Marcelino.
Dengan melihat sekilas saja, Arka bisa langsung menyimpulkan bahwa wanita tersebuta adalah sekarang teman kencannya Marcelino, atau mungkin wanita simpanannya.
"Mama saya kurang apa? Anda mengkhianatinya? Diam-diam bermain dengan seorang j*lang? Dasar pria hidung belang." Arka menggebrak meja, "jangan macam-macam sama mama saya!" Sekarang Arka menggertak Marcelino.
Bangkit dari duduknya, sembari menggandeng erat tangan Kalista. Arka dan Kalista berpamitan pada mama Lisa, sebelum benar-benar keluar dari rumah makan ini. Bahkan Arka juga meraih tangan mama Lisa dan mengusapkannya pada perut Kalista, mama Lisa benar-benar merasa sangat bahagia.
"Bro, nitip mama gue ya! Jangan sampai bokap lu yang kerasukan iblis itu menyiksanya." Arka menepuk bahu Dino. Dino pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Arka menatap Marcelino dengan tatapan menggertak dan mengintimidasi, lalu benar-benar melangkah pergi dari rumah makan Padang tersebut.
----------------------------------π»π»
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanππ€
Find Me On Instagram : @halloimas13β€
__ADS_1