
Jarum jam menunjukan angka 20:00 WITA. Arka, Kalista, Tiara dan Evan sedang berkumpul di halaman depan villa.
Angin malam berhembus menebus tulang, Arka bahkan memakaikan baju hangat pada tubuh Kalista. Angin malam memang dingin, tetapi Kalista sangat menikmati angin malam yang menurutnya sangat segar.
Hamparan bintang di langit terlihat sangat indah, lampu kerlap-kerlip menyala-nyala di sepanjang jalanan depan villa. Villa yang Arka miliki berada di tengah-tengah kawasan penduduk, bukan di kawasan kota. Arka sengaja memilih kawasan ini, karena Arka sangat menginginkan suasana tentram, damai, dan tentunya udara yang belum tercampur polusi udara.
Tadi sore Arka sempat pergi sebentar mencari minimarket terdekat, mencari Snack dan berbagai macam minuman kemasan. Arka paham bahwa istrinya sangat suka ngemil, dan di kulkas sama sekali tidak ada cemilan apapun. Babymoon ini sangat mendadak, Arka sampai tidak sempat mengabari bibi pelayan, kalau saja Arka mengabari terlebih dahulu, sudah bisa di pastikan kulkas akan penuh. Sayur mayur pun bakalan lengkap berada di kulkas.
"Pelan-pelan makanya!" Arka melihat Kalista asyik menikmati siip Snack kesukaannya.
"Enak sih." Ujarnya, mulutnya seakan tidak di beri istirahat karena sangat sibuk mengunyah.
Arka menggelengkan kepalanya, kemudian tersenyum melihat tingkah istrinya. Istrinya itu selalu menggemaskan. "Iya tahu itu enak, tapi pelan-lelan sayang makannya. Tenang aja nggak bakalan ada yang ngambil kok." Arka mencubit gemas pipi istrinya yang sekarang sudah membesar karena berat badan Kalista naik terus seiring bertambahnya usia kandungannya.
"Biasanya di rampas Tiara, cuma malam ini Tiara agak kalem soalnya jaga image karena ada Evan." Ledek Kalista.
Tiara yang mendengar ucapan Kalista, langsung menatap Kalista. "Sebenarnya bukan jaga image karena ada kak Evan, tapi lebih ke nggak berani aja ngerebut cemilan punya istrinya boss. Gini-gini juga gue masih punya etika." Ujar Tiara.
"Mau ra? Yu beli! Sekalian cari angin malam." Ajak Evan yang langsung saja merangkul bahu Tiara.
Tiara melepaskan rangkulan tangan Evan. "Besok-besok aja kali ya, hari ini lumayan melelehkan, lagi pula ini mata udah berat banget. Ngantuk." Tiara berusaha tersenyum, sebenarnya sih Tiara kaget karena Evan main rangkul-rangkul aja.
"Oke." Jawab Evan singkat, senyum masih terukir di bibirnya.
"Karena hari ini memang cukup melelahkan, semuanya ayo istirahat." Arka bangkit dari duduknya, membersihkan beberapa kemasan siip snack yang berantakan.
"Betul! Ngantuk aku juga." Kalista bangun dan merentangkan kedua tangannya karena merasa pegal.
"Jangan dulu tidur! Kamu harus nemenin aku melek sambil beraktifitas, jangan lupa tujuan utama kita kesini adalah babymoon sekaligus honeymoon." Arka menjawil hidung Kalista, senyum seringai itu cukup membuat Kalista merinding.
"Jangan siksa aku dan bayi di perutku." Ujar Kalista mencoba membela diri, karena sebenarnya Kalista tidak mau melakukannya hari ini.
"Alasan!" Arka menatap Kalista jengah.
"Babymoon adalah honeymoon kedua, berhubung kita waktu itu belum sempat melakukan honeymoon, jadi sekarang babymoonnya harus ekstra, dua kali lipat gitu." Arka menaik turunkan alisnya, menggoda Kalista.
"Babymoon adalah travelling atau berekreasi ataupun bertamasya bersama pasangan di lakukan sebelum buah hati lahir. Dalam kata lain babymoon adalah menghabiskan waktu berduaan, bermesraan, happy-happy, huru hara, intinya waktu lebih intim aja. Tahu sendiri kan nanti kalau si bayi sudah lahir, otomatis kamu di kuasai si bayi, dan aku berada di urutan nomor 2." Sambungnya lagi. Arka mengerucutkan bibirnya, wajahnya sedikit cemberut.
Kalista mengangguk-anggukan kepala tanda paham. Mungkin memang benar waktunya untuk berduaan dengan Arka semakin menipis dan akan semakin berkurang. Jika nanti si kecil lahir, fokus Kalista akan lebih condong ke si bayi daripada Arka.
"Habiskan malam indah ini dengan penuh cinta!" Evan menepuk bahu Arka.
"Benar tuh! Silahkan kalian segera menikmati masa-masa berduaan, repot nanti kalau si kecil udah lahir, karena si kecil bakalan lebih rewel daripada suami." Ucap Tiara.
Arka langsung saja menggandeng tangan Kalista, menuju kamarnya. Begitu sampai di kamar Arka benar-benar sudah tidak sabar untuk menikmati pergulatan cinta malam ini. Di bawah sinar lampu kamar yang remang-remang (karena lampu utama Arka matikan, diganti dengan lampu kecil).
Malam ini benar-benar akan menjadi malam yang sangat panjang untuk Kalista dan Arka. Pasangan suami istri yang selalu romantis ini kini sedang bercumbu dengan sangat mesra, deruan napas yang saling bersahutan. Keduanya berlomba-lomba mencari celah untuk menghirup udara.
Malam ini Arka sangat agresif, karena di benak Arka ini adalah honeymoon pertamanya, Arka ingin mengulang kenikmatan yang ia lakukan di malam pertama. Namun Arka tahu di perut istrinya ada kehidupan lain, jadi Arka lebih berhati-hati, lebih pelan dan lembut. Walau bagaimana pun Arka tidak akan membayakan istri dan calon buah hatinya.
Pakaian berserakan di bawah ranjang, Kalista berada di bawah Kungkungan tubuh Arka, tubuh tegap atletis milik suaminya itu sangat mempesona, wangi parfum maskulin seakan menjadi candu bagi Kalista.
Telinga dan leher Kalista menjadi sasaran empuk untuk Arka. Gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan bekas itu memenuhi leher Kalista.
Pergulatan cinta itu terjadi hingga beberapa kali, sampai larut malam hingga Kalista tertidur karena kelelahan. Sebelum Arka ikut tertidur, ia terlebih dahulu mengecup kening Kalista, menyelimuti tubuh istrinya, hingga dirinya pun tertidur sambil memeluk tubuh istrinya yang sekarang sudah bengkak karena gendutan.
Matahari sudah menampakan dirinya, setelah sekian jam bersembunyi di tempat persembunyiannya. Sinarnya itu masuk melalui celah-celah gorden tepat mengenai wajah Arka.
Arka mengerjapkan matanya karena silau dari cahaya matahari, mengusak kedua bola matanya lalu matanya terbuka sempurna. Ia bangkit dan segera menarik tirai gorden, lalu membuka jendela. Mencondongkan wajahnya keluar jendela, menghirup udara segar di pagi hari.
Kemudian dia menatap istrinya yang masih tertidur pulas. Wajah cantik itu sedang beristirahat, mungkin masih lelah setelah menghabiskan malam penuh cinta. Arka tersenyum menyeringai, leher istrinya kini telah berubah menjadi macan tutul. Arka kemudian mengingat betapa buasnya dirinya tadi malam. Tubuh istrinya memang tiada duanya, selalu menggoda dan menggairahkan.
"Selingkuh? Cari wanita lain? Sorry, gue punya penghangat ranjang yang super hot." Gumam Arka sambil tersenyum simpul memperhatikan lekat-lekat wajah cantik itu.
Ketika beranjak akan ke kamar mandi, Arka sempat melihat dirinya sendiri dari pantulan cermin. Punggungnya penuh dengan bekas cakaran, begitulah Kalista ketika sedang bercinta punggung Arka selalu menjadi korban.
Guyuran air terasa sangat menyegarkan untuk tubuh Arka, tubuh yang tadinya lengket di penuhi keringat kini telah berubah menjadi di penuhi oleh busa sabun.
Setelah dirasa cukup bersih, Arka pun segera menyudahi aktifitas mandinya. Handuk melilit tubuh bagian bawahnya, rambutnya berantakan dan masih basah.
Kalista sudah membuka matanya, posisinya sudah berubah. Yang tadinya tiduran sekarang sedang menyender di bahu tanjung. Selimut tentunya saja melilit tubuh indahnya, karena pakaian Kalista masih berserakan di bawah sisi ranjang.
"Istri cantikku sudah bangun?" Arka memainkan rambut basahnya seraya menghampiri Kalista.
"Belum! Masih tidur!!" Ketus Kalista seraya menatap tubuh tegap atletis itu.
Arka terkekeh pelan, kemudian menghampiri istrinya. Mengecup keningnya istrinya, memberikan ciuman singkat di bibirnya. Lalu menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya dengan paksa. Daging sintal itu kini terlihat sangat menantang, Arka mengecupnya sebentar.
Kalista shock dan membelalakan matanya. Kalista tidak sanggup kalau pagi ini harus melayani suaminya kembali.
"Aku nggak minta lagi kok, tenang aja." Ujar Arka, seolah-olah Arka tahu apa yang ada di benak Kalista.
"Atau emang kamu yang mau lagi?" Sambungnya lagi, senyum seringai muncul kembali, Arka bahkan mengedipkan sebelah matanya.
Kalista menatap kesal pada suaminya itu. Bagaimana mungkin setelah semalaman menghabiskan waktu untuk bercinta, sekarang suaminya itu juga masih saja mesum.
Kalista masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sedangkan Arka sibuk mempadupadankan baju yang akan di kenakannya. Akhirnya Arka memilih celana pendek berwarna krem, hoddie berwarna putih. Rambutnya di tata rapi tapi kesannya malah rambut ABG gaul.
Setelah 15 menit, Kalista pun telah selesai membersihkan badannya. Dia keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan dress rumahan yang terlihat sangat sederhana, namun you know lah dress itu di buat oleh desainer terkenal.
__ADS_1
Kalista mengaplikasikan make up natural di wajahnya, lipstik berwarna nude itu terlihat sangat cantik di bibirnya. Setelah itu Kalista mengeringkan rambutnya di bantu oleh Arka, lalu rambut bagian bawahnya di curly. Rambut berwarna hitam dan ungu itu terlihat sangat cantik.
"Selamat Pagi tuan dan nyonya." Ujar pelayan yang berada tepat di depan pintu kamar Kalista. Pelayan itu baru saja akan membangunkan Kalista dan Arka, karena dikira masih tidur.
"Pagi." Ujar Arka dan Kalista bersamaan.
"Sarapan telah saya siapkan di meja makan." Ujar pelayan.
"Terimakasih bi." Ucap Kalista.
Pelayan itu langsung pergi ke dapur, Arka dan Kalista berjalan ke meja makan. Di meja makan telah ada Tiara dan Evan sayang sudah duduk di kursinya masing-masing namun malah sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Arka menarik kursi untuk di duduki Kalista. Lalu dirinya duduk di kursi di sebelah Kalista. "Terimakasih sayang." Kalista menatap Arka dengan tatapan manja.
"Sama-sama." Arka mengecup pelan puncak kepala Kalista.
Evan memicingkan matanya, sorot tajam tatapannya tertuju pada noda-noda merah di leher Kalista. "Widih segar banget nih yang udah honeymoon, suaranya kencang banget sampai ke dengar ke kamar sebeleh." Ledek Evan dengan tawanya.
"Bukan segar lagi, itu namanya kenikmatan yang haqiqi! Surga dunia banget." Jawab Arka antusias.
"Mau ngelakuin setiap hari juga no problem! Malah makin cinta sama istri, makin sering aktivitas nya di lakuin, berarti makin banyak juga ibadah kita. Nikah makanya, mantap-mantap tuh itungannya ibadah kalau sudah sah, bukan dosa!" Sambungnya lagi.
"Nyonya Arka, gimana? Kewalahan tidak melayaninya? Leher sampai bonyok kaya gitu, ngeri banget dah ah. Nggak kebayang juga itu di gigit berapa ratus kali." Evan tersenyum menyeringai karena memperhatikan leher Kalista yang sudah berubah bagaikan macan tutul.
"Kepo!" Ucap Kalista datar. Kalista menatap Evan dengan tatapan jengah. Kemudian tersenyum simpul. "Kalau punya suami hebat tuh kita seperti mendapat tantangan, jadi ya di nikmati aja! Lagian di gigit kaya gini juga nggak kerasa sakit, yang ada malah enak banget." Kalista mengedipkan sebelah matanya pada Arka.
Tiara yang dari tadi hanya menjadi pendengar, kini kupingnya sudah tidak tahan lagi mendengar celotehan mereka. "Sudah-sudah-sudah mendingan kita sarapan, tidak baik membicarakan hal yang tabu di depan meja makan." Ucapnya sambil mengambil satu lembar roti dan selai strawberry.
"Nggak tahan ya mbaknya! Cepat nikah makanya." Ledek Kalista sambil menyenggol lengan Tiara.
"Mulutmu! Sembarangan banget kalau ngomong." Tiara pun menyenggol lengan Kalista.
"Btw Tiara koleksi film Jepangnya banyak loh! Berbagai macam gaya juga dia udah hafal." Kalista berniat menjahili temannya, karena sebabnya Tiara hanya mengoleksi serial drama Korea.
Tiara langsung menghentikan tangannya yang sedang mengolesi selai, matanya terbelalak sempurna menatap Kalista. Tiara akan buka suara namun kalah cepat oleh suara Arka.
"Wah nggak nyangka nih, kirain cewe nggak bakal koleksi begituan. Tiara calon istri yang penuh kesiapan nih." Ujar Arka sambil tertawa terbahak-bahak.
Evan menyadari raut wajah Tiara yang sudah memerah sempurna, sorotan matanya penuh api berkobar menyala-nyala. "Udah udah nggak apa-apa jangan di dengar ucapan mereka." Evan berusaha menenangkan Tiara sambil mengusap punggung tangannya.
"Tapi aku suka kok! Bagus kan kalau kamu udah sering nonton, jadi pas praktek memang sudah tahu." Evan menatap Tiara dengan senyum menyeringai.
"Bruuuuuuuuuuukkk!" Tiara menggebrak meja, saking kesalnya Tiara sampai lupa bahwa di meja makan ada pak Arka bossnya di perusahaan.
"Gue nggak punya koleksi film-film gitu! Di pikir gue cewe apaan suka nonton film-film panas! Gue memang banyak koleksi film, tapi bukan Jepang! Melainkan serial drama Korea! D R A K O R!!!" Setiap kata yang keluar dari mulutnya sangat tajam dan lebih penekanan!
Arka, Kalista, dan Evan pun terdiam dan terperangah melihat kemarahan Tiara. Kalista tahu betul biasanya Tiara kalau marah nggak sampai kaya gini.
"Bayi di perut gue sampai shock banget lihat aunty nya marah udah kaya singa yang siap menerkam mangsa, ganas banget." Kalista mengusap-usap perutnya.
Tiara segera kembali ke mode sadar. Dia mengusap dadanya. "Sorry gue kelewatan, abisnya kalian sih jahil sampai segitunya." Tiara menundukan kepalanya karena merasa kalau oleh Arka dan Evan.
"Elu juga sahabat macam apa sih malah mau jatuhan harkat martabat sahabatnya sendiri." Tiara memutarkan bola matanya jengah, menatap Kalista sangat kesal.
"Yo yo ayo semuanya sarapan! Kasian calon anak gue udah minta asupan makanan,, baru kali ini mah sarapan aja sampai ada drama-drama dulu." Kata Arka sambil terkekeh.
Arka mengambil selembar roti, lalu mengoleskan selai cokelat. Roti itu untuk Kalista. Setelahnya baru untuk dirinya. Kalista hanya duduk rapi, karena sarapannya di suapi oleh suaminya itu. Pemandangan itu sangat manis, namun diam-diam Tiara merasa iri. Iri karena ingin mempunyai pasangan yang seromantis Arka.
Kalau di rumah biasanya Oma atau pak Anggara menyebutnya sarapan dengan penuh cinta. Bagaimana tidak di katakan seperti itu coba, setiap pagi Arka dengan telaten menyuapi Kalisat sarapan. Hingga beberapa lembar roti itu habis di kunyahnya.
"Lagi?" Arka bertanya pada Kalista, karena Kalista telah menghabiskan empat lembar roti.
"Udah kenyang."
"Yaudah nih minum dulu susunya!" Arka menyodorkan susu bumil, Kalista langsung meneguknya hingga habis tidak tersisa satu tetes pun.
"Lama-lama gue depresi nih ngelihat kelakuan kalian berdua makin hari makin romantis, salah gue juga sih ngintilin kalian sampai ke Bali. Berasa ngenes banget gue." Evan menjambak pelan rambutnya.
"Makanya kalau ada cewe tuh di seriusan, buka di baperin doang!" Kata Tiara yang baru saja menghabiskan segelas susu. Lalu dia bangun dari duduknya, dan berjalan ke halaman villa.
"Kode tuh! Jangan lama-lama karena surga dunia itu nikmat!" Jawab Arka yang tidak ada nyambung-nyambungnya.
Sarapan telah selesai, pelayan sibuk membersihkan meja makan. Arka berpesan pada pelayan agar tidak usah masak, karena rencananya makan siang maksiat ingin di restoran Laci milik chef Arnold. Chef yang sangat terkenal di Indonesia.
Tiara sedang menikmati suasana di Bali. Diam-diam dia keluar dari villa dan berjalan-jalan ke dekat rumah penduduk. Ternyata masyarakat Bali ramah-ramah, sepanjang Tiara berjalan dan melihat-lihat banyak sekali yang menyapa.
Arka, Kalista, dan Evan sama sekali tidak menyadari bahwa Tiara keluar dari villa. Setelah selesai sarapan Arka dan Kalista sibuk menikmati pemandangan di taman belakang. Di taman belakang ada pohon sawo yang lagi berbuah. Makanya Kalista sangat betah berada di taman belakang, tangannya sibuk memetik buah sawo dan sibuk pula memakannya. Arka bahkan sampai kewalahan mencucinya.
"Tinggal di sini enak banget kayanya." Ucapan Kalista tidak terdengar sempurna, karena mulutnya sibuk mengunyah. Kalista sedang duduk di tikar telat di bawah pohon sawo.
Pemandangan indah ini seperti sedang piknik. Cuaca cerah, udara segar, bunga-bunga bermekaran semakin membuat Kalista betah berada di villa ini.
"Mau tinggal disini?" Tanya Arka yang sedang tiduran berbantalkan paha Kalista.
"Mau yang." Jawab Kalista antusias.
"Nanti di bicarakan dulu sama Oma, dan ayah. Lagian nanti harus mengalihkan pusat perusahaan ke sini, jadi agak repot. Tapi aku bakalan usahain."
"Hmmm repot juga ya? Nggak usah aja sayang."
__ADS_1
"Apa sih yang nggak buat istri tercinta." Arka mencium perut buncit Kalista.
Ketika Arka dan Kalista sedang menikmati suasana yang seperti piknik ini, tiba-tiba Evan datang dengan langkah yang tergesa-gesa. "Tiara mana?" Tanyanya panik, matanya celingak-celinguk menyapu seluruh taman ini.
"Bukannya tadi pas udah sarapan dia langsung duduk santai di halaman depan?" Ucap Kalista.
"Nggak ada!" Evan langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Tiara.
"Palingan juga di kamarnya kali." Arka.
"Nggak ada juga!" Ucapnya datar.
"Nyambung! Tapi nggak di angkat. Gue khawatir jangan-jangan dia marah gara-gara candaan kalian ketika sarapan." Evan langsung berlari ke halaman depan, Evan menyadari bahwa Tiara tidak berada di villa ini.
Berlari sekencang mungkin keluar dari villa, Evan langsung menyapu seluruh jalan depan villa. Saat ini Evan sangat panik, di benaknya berpikir mungkin Tiara kabur. Evan bertanya pada penduduk sekitar sambil memperlihatkan foto Tiara, namun sayang beberapa penduduk yang Evan tanya barusan memang tidak melihat Tiara.
Pikiran Evan makin berkecamuk, di usapnya wajahnya gusar. Kemudian dia berlari ke jalan kecil yang menuju rumah penduduk yang agak terbelakang. Ternyata di kiri-kanan jalan itu di penuhi oleh sawah.
Setelah kurang lebih Evan berjalan 3km, manik matanya menangkap sosok gadis yang sedang berbincang dengan seorang ibu petani di bawah pohon rindang. Rasa lega pun akhirnya Evan rasakan.
"Gue pikir lu kabur, atau di culik! Lain kali bilang-bilang dong kalau mau keluar." Evan langsung memeluk Tiara tanpa permisi, dan Tiara pun membiarkannya begitu saja.
"Jalan-jalan bentar! Mau lihat aktivitas penduduk di sini." Ujar Tiara.
"Pacarnya mas? Atau suaminya?" Tanya si ibu ramah dengan logat Bali.
"Calon suaminya bu." Jawab Evan.
"Evan." Evan mengulurkan tangannya mengajak si ibu berkenalan.
"Saya ibu Sumi, penduduk di sini. Tadi saya lihat si cantik lagi jalan-jalan di sekitar sini, jadi saya ajak berbincang-bincang." Ujar Bu Sumi.
Setelah menemukan keberadaan Tiara, Evan malah ikutan berbincang-bincang dengan bu Sumi.
Sementara Kalista dan Arka pun sama paniknya. Arka berkali-kali menghubungi Evan, tetapi ternyata ponsel Evan tergelak di halaman depan villa. Sudah 30 menit berlalu dan Evan masih saja bum kembali. Kalista sangat mengkhawatirkan keadaan Tiara.
"Diam kaya gini mana ada hasil? Ayo cari deh!" Kalista menarik paksa tangan Arka.
"Kamu tunggu aja sayang, biar aku yang cari. Ingat loh kamu lagi hamil, nggak boleh capek!" Bantah Arka.
"Aku mana bisa cuma duduk manis, aku harus ikut! Ayo kita cari."
Akhirnya Kalista dan Arka pun keluar dari villa. Mereka berjalan sambil celingak-celinguk, berkali-kali bertanya pada penduduk sekitar. Namun mereka hanya mengetahui garis besarnya saja. Setelahnya tetap saja Arka dan Kalista menemukan jalan buntu.
"Ngapain ke situ? Tiara nggak mungkin ke situ deh kayanya! Mendingan ke ikutin alur jalan ini saja!" Arka tidak yakin Kalista berjalan melewati jalanan super kecil ini, lagi pula Arka tahu bahwa jalan ini membawanya ke sebuah persawahan.
"Feeling aku mengatakan Tiara ke sini!" Bantah Kalista.
"Tapi itu jalan ujung-ujungnya pergi ke sawah sayang." Arka berusaha menenangkan kepanikan istrinya.
"Pokonya kesini!" Bentak Kalista.
"Yaudah iya!" Arka mengikuti langkah Kalista dari belakang. Karena jalan ini cukup sempit dan hanya bisa di lewati oleh satu orang saja. Arka terus menerus menggenggam erat jemari Kalista.
Tanpa Kalista sadari jalanan ini lumayan curam dan berbahaya. Kiri kanannya sawah, Arka takut Kalista terpeleset dan terjatuh.
"Yaampun Kalista ngapain ke sini? Jalannya aja lumayan licin, nggak takut terpeleset apa ya?" Tiara mengerutkan dahinya, bingung aja gitu melihat Kalista sedang berjalan ke arahnya.
Evan menjitak pelan kepala Tiara. "Sadar nggak? Kalista keisni karena panik lu nggak ada di villa, dan gue berstetment mungkin lu marah gara-gara candaan sebelum sarapan tadi."
Tiara melongo, diam-diam dirinya malah membuat mereka kepanikan.
Kalista sampai di hadapan mereka dengan keringat membasahi dahinya. Karena ini sudah jam 08:30 WITA dan matahari pun telah memancarkan sinarnya dengan sempurna.
Arka berkali-kali mengusap dadanya, napasnya tersengal-sengal dan ngos-ngosan.
"Bikin panik aja lu!" Kalista langsung menghibur kepelukan Tiara.
"Sorry." Tiara merasa bersalah, selain merepotkan Evan, Tiara juga hampir saja membahayakan Kalista dan kandungannya. Terlebih ya lagi Tiara merasa malu pada Arka.
"Aduh nak kenapa harus lewat jalan itu, berbahaya loh." Ibu Sumi menepuk pelan punggung Kalista.
"Duduk dulu nak, istirahat. Kamu kayanya capek banget." Bu Sumi mempersilahkan Kalista duduk, memang di bawah pohon rindang ini terdapat sebuah saung.
"Lu nggak bisa apa ya diam aja di villa jagain istri! Malah ikut-ikutan ke sini, berbahaya banget buat bumil." Evan mengikut lengan Arka.
"Lah si beg*, gue kesini karena lu nggak balik-balik, bini gue panik takut sahabatnya kabur. Kalian berdua tuh ngerusak moment gue! Segala nggak bawa ponsel pula!" Arka kesal sampai menoyor kepala Evan.
Kalista di beri minum oleh Bu Sumi. Arka dan Kalista pun akhirnya berkenalan, ternyata bu Sumi adalah penduduk sini.
"Ada jalan alternatif yang jauh lebih aman dari sini nggak bu? Saya nggak berani ambil resiko bawa istri jalan kecil itu." Ujar Arka berharap di daerah sini masih ada jalan yang lebih layak lagi untuk di lewati.
"Ada nak, nanti kalian lewat sana saja! Jalannya gede dan aman, namun agak jauh!" Bu Sumi menunjuk salah satu jalan yang nantinya bakal Arka lewati.
Mereka pun akhirnya berbincang-bincang dengan bu Sumi. Bu Sumi adalah ketua RT di sini, dan beliau juga menawarkan Arka, Kalista, Tiara dan Evan untuk mpir ke rumahnya. Bu Sumi sangat ramah, bahkan beliau mendoakan untuk kelancaran lahiran Kalista.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤