SUN FLOWER

SUN FLOWER
UPAYA MENJODOHKAN


__ADS_3

"Aku ngantuk yang, temenin ya." Arka tiduran berbantalkan paha Kalista.


"Iya." Kalista mengusap-usap pelan kepala Arka, Arka merasa tenang dan langsung terpejam.


Setelah memastikan Arka sudah terlelap, Kalista mengendap-endap keluar dari kamar. Karena jika terus-terusan berada di kamar, Kalista merasa bosan.


"Wadaw main gila di jam kerja." Celetuk Evan yang melihat Kalista baru saja keluar dari kamar.


"Main gila apaan? Tuh isi otak pikirannya mesum terus kali ya." Jawab Kalista.


Kalista langsung saja keluar dari ruangan suaminya, dan berjalan menuju kantin, menghampiri sahabatnya itu.


"Eh bumil, mau pesan apa? Gue pesanin sama bu kantin." Tiara langsung berdiri begitu Kalista duduk di sampingnya.


"Nggak usah, gue bawa ini ko." Kalista mengeluarkan salad buah dari dalam tasnya.


"Gue gabung ya." Evan tiba-tiba duduk di hadapan Tiara dan Kalista.


Kalista dan Tira sibuk dengan makanan mereka masing-masing, Evan di depannya hanya memperhatikan saja. Tiba-tiba pandangan Evan terhenti di Tiara, dilihatnya gadis itu tak kalah cantik dengan Kalista. "Cara makannya lucu." Evan bergumam dalam hatinya, tiba-tiba ide jahil berlarian di sekitar kepalanya.


"Awwwww." Tiara terlonjak kaget, ada yang menendang kakinya.


"Kenapa lu?" Tanya Kalista bingung, karena sejak tadi Tiara hanya sibuk makan, kok tiba-tiba meringis?


"Ah nggak ada apa-apa! Swear deh." Tiara berkilah, di depannya Evan sedang memperhatikannya dengan senyum menyeringai.


Kalista tidak bertanya lagi, dia lebih memilih melanjutkan makannya. Tiara pun melanjutkan makan, tetapi kali ini lebih canggung karena pria di depannya itu menatapnya tanpa berkedip. Dari mulai senyum manis, bahkan kedipan mata pun Evan berikan pada Tiara. Tiara semakin bergidik ngeri melihat sikap Evan.


Setelah 15 menit berlalu, terdengarlah bunyi bel kantor, itu menandakan bahwa jam istirahat telah selesai. Tiara pamit terlebih dahulu untuk kembali ke ruangannya.


"Kalau mau dekatin Tiara ya dekatin aja! Gue izinin kok, tapi ingat ya awas aja kalau macam-macam sama sahabat gue! Gue hajar lu sampai bonyok!" Tegas Kalista pada Evan.


"Bumil emang bisa nonjok?." Bukannya takut, Evan malah terkekeh mentertawakan ucapan Kalista.


"Ada yang lucu?" Kalista berubah wajahnya menjadi mode galak.


"Sorry sorry. Btw emang boleh nih gue deketin Tiara?" Tanyanya serius sambil berjalan menuju ruangan Arka.


"Boleh! Tapi gue nggak tahu dia masih nutup hatinya atau nggak? Intinya pdkt aja dulu, nggak usah buru-buru! Tiara pernah di kecewain sama kekasihnya, gue rasa dia bakalan sulit buat buka hati. Kalau lu emang benar-benar serius sama Tiara, ya lu yakinkan dia! Gue dukung lu 100%." Ucap Kalista.


"Udah cape hubungan main-main doang, gue iri juga sama Arka. Arka udah punya bini yang cantik macam lu, enak aja gitu sih punya support system, ada yang ngurusin ini dan itu, sweet juga kayanya di pakein dasi sama istri hehe." Ujar Evan.


"Kalau Tiara mau sama gue, mau langsung gue lamar aja! Soal orang tua gue sih nggak masalah, nanti mereka balik ke Indonesia. Mereka nggak akan ikut campur, wanita manapun yang jadi pilihan hati gue, mereka akan setuju." Imbuhnya lagi.


"Baguslah kalau gitu. Walaupun Tiara pada akhirnya menerima lu, masih ada tantangan buat lu, yaitu orang tuanya Tiara, mereka kasih izin apa nggak? Dengar-dengar sih dulu katanya Tiara pernah akan di jodohkan sama pengusaha sukses."


"Selama janur kuning belum melengkung, tikung menikung masih bisa gue lakukan."


"Pepet terus!" Lalu Kalista dan Evan dan pun tertawa, berjalan sambil mengobrol, tahu-tahu sekarang mereka sudah ada di ruangan Arka.


"Ngomongin apa? Kok kaya senang gitu?" Tanya Arka yang ternyata sudah bangun, dan sedang berkutat dengan setumpuk dokumen di mejanya.


"Rahasia." Evan mengedipkan sebelah matanya pada Kalista.


"Halah pakai rahasia-rahasiaan." Cibir Andy yang sedang fokus menatap layar komputer di depannya.


"Yaampun sayang, kalau mau selingkuh cari yang gantengnya diatas aku dong! Yakali sama botol kecap kaya gitu." Arka menunjuk Evan.

__ADS_1


"Botol kecap? Yaampun bro mulut lu tuh pedas kaya cabe jablay! Segini gue tampan, si Andy mah kalah." Ujar Evan santai.


"Berisik!" Sarkas Andy.


"Sayang pulangnya nanti aja bareng aku, pas jam pulang ngantor. Kalau laper bilang aja, nanti aku gofood. Nonton drakor nih di kamar." Arka memberikan laptop dan menyuruh Kalista nonton drakor agar tidak bete.


Wanita dan drakor? Tentu saja tidak bisa di pisahkan. Kalista anteng sekali tiduran sambil menonton drakor. Sesekali dirinya menikmati Snack yang diambil dari kulkas di kamar itu. Kalista orangnya lumayan perasa, jika filmnya sedih maka ia akan menangis, Kalista sangat mudah terbawa suasana.


Entah sudah menonton berapa episode, Kalista sama sekali tidak merasa bosan. Bahkan ketika ada aktor pria yang tampan muncul, dia langsung mengelus perutnya. Berharap anaknya nanti mirip orang Korea.


Arka berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, tetapi apa daya? Kerjaannya memang sangat banyak.


Setelah 3 jam akhirnya pekeejaan Arka selesai juga, itu pun Evan ikut membantu. Evan? Ya Evan masih ada di kantor Anggara, dia belum pulang karena ingin melihat Tiara.


"Aku udah selesai." Arka membuka pintu kamar di ruangan kerjanya.


Kalista sama sekali tidak menoleh, matanya masih fokus menatap layar laptop yang sedang menampilkan film Korea. Arka membaringkan tubuhnya di samping Kalista, dan memeluk Kalista.


"Eh udah selesai?" Kalista langsung menutup laptopnya.


"Udah." Jawab Arka sambil terus memeluk Kalista.


"Ayo pulang! Aku pengen masak." Kalista bangkit, dan langsung menggandeng tangan Arka.


Kalista dan Arka sedang menunggu pak sopir yang sedang mengambil mobilnya di parkiran. Disana juga ada Gina dan Tiara yang sedang berjalan hampir beriringan.


"Pulang sama gin?" Tanya Kalista pada Gina.


"Sendiri bu, nunggu taksi aja." Jawab Gina sambil tersenyum.


"Oh gini aja, saya dan suami ada sopir. Pak Andy tolong anterin Gina sampai rumahnya ya! Kasian jam segini susah taksi." Kata Kalista yang langsung berbicara ketika mobil Andy dan mobil Evan mendekat.


Akhirnya Andy mengantar Gina, dan Evan mengantar Tiara. Kalista tersenyum memandang mobil mereka yang perlahan menjauh.


"Upaya menjodohkan?" Arka menatap istrinya dengan alis sedikit terangkat.


"Semoga aja." Jawab Kalista sambil tersenyum.


*****


Waktu menunjukan pukul 21:00 WIB, Kalista sedang tiduran sambil memainkan ponselnya. Arka yang di sebelahnya terus menerus memeluk Kalista, bahkan bibirnya sudah mengecup pipi Kalista berkali-kali.


"Geli ih." Kalista menghindari Arka, agar tidak di cium.


"Aku mau yang." Arka mengiba dengan wajah sendunya.


Sejak tahu Kalista hamil, Arka sama sekali tidak pernah melakukan aktivitas ranjang, karena larangan dari dokter. Dan itu sangat menyiksa dirinya.


"Kata dokter nggak boleh, kan kamu tahu." Kalista mengusap pelan wajah Arka.


"Aku baca di google boleh kok, asal pelan-pelan, aku juga nggak bakalan nyakitin dede bayi kok." Ujar Arka yang memperlihatkan ponselnya, Arka membuka sebuah artikel di majalah online yang membahas tentang bumil.


"Kamu mana bisa pelan-pelan." Ketus Kalista.


"Bisa kok." Arka mulai melayangkan ciuman ciuman kecil ke leher Kalista.


Akhirnya Kalista dan Arka malah saling bercumbu mesra, mereka berdua saling menikmati. Tepat ketika Arka akan membuka kancing baju Kalista__

__ADS_1


"Nanti ya kalau check kandungan lagi, aku tanya ke dokter Fani." Kalista menghentikan gerakan tangan Arka yang akan membuka kancing piyamanya.


Arka menatap Kalista dengan wajah sendu, dirinya merasa kecewa, tetapi setelah dia berpikir kembali, itu semua demi kebaikan Kalista dan calon anaknya.


"Aku mandi dulu deh." Deruan napas Arka terasa berat dan pasrah, sebelum turun dari ranjang Arka sempat mengacak rambutnya frustasi.


"Mau ku bantu?" Tanya Kalista.


"Boleh." Jawab Arka semangat.


"Eh males deh, kayanya nggak boleh nih, dilarang bayi di perutku." Kalista menjulurkan lidahnya, mengejek Arka.


Arka sudah tidak menanggapi ucapan Kalista, kecewa karena tidak bisa mendapatkan jatah, dan merasa di permainkan juga oleh Kalista. Arka segera menyelesaikan mandinya. Hal yang paling menyiksa dirinya adalah ketika harus mandi malam hari, dinginnya air seperti menusuk tulangnya, tetapi mau tak mau ini harus di lakukan.


Arka keluar dengan handuk melilit tubuh bagian bawahnya. Istri tercintanya sudah tertidur pulas. Perutnya sudah sedikit membuncit, tidurnya telentang. Deruan napasnya sangat teratur, Arka menarik selimut, untuk menyelimuti istrinya.


"Cantik." Arka memandang wajah Kalista sekilas, kemudian mengecup keningnya.


Waktu terus berputar, kini jarum jam menunjukan angka 03:30 dini hari. Arka sama sekali tidak bisa tidur. Bahkan belum terpejam walau satu menit pun. Pikirannya cemas, hatinya gelisah, semacam ada perasaan takut dan tidak enak. Arka kepikiran terus soal rencana Marcelino. Walaupun sekarang dirinya telah mengerahkan banyak penjaga di rumah, bahkan beberapa body guard yang selalu di suruh mengikuti Kalista, tapi tanpa sepengetahuan Kalista.


Tubuhnya terus saja bergerak-gerak kesana kemari, sesekali ia pandangi wajah istrinya yang sedang tertidur pulas. Arka mencoba memejamkan matanya sambil memeluk Kalista, namun kecemasannya begitu hebat sehingga tidak bisa membuatnya terpejam dengan tenang.


Kalista terbangun karena tubuh Arka menggeliat kesana kemari, sehingga ranjangnya itu pun ikutan bergerak.


Kalista menatap manik mata suaminya, terdapat lelah dan kantuk di sorot matanya itu. "Nggak bisa tidur? Mimpi buruk?" Kalista bangun dan segera menyenderkan punggungnya di senderan ranjang.


Kalista memberikan segelas air mineral, setelah minum Arka membaringkan tubuhnya. Kalista menemaninya sambil mengusap-usap lembut kepalanya. Lambat laun Arka pun tertidur sambil memeluk Kalista.


Matahari telah keluar dari persembunyiannya, sinarnya masuk melalui celah gorden. Kalista mengerjapkan matanya. Ketika akan terbangun, seperti ada tangan kokoh yang sedang merangkulnya. Ternyata Kalista dan Arka tidur dalam posisi berpelukan.


Kalista berusaha melepaskan tangan Arka, sangat pelan dan berhati-hati, agar Arka tidak terbangun. Karena Kalista tahu Arka baru terpejam jam 04:00 subuh.


Kalista segera membersihkan mukanya. Setelah selesai langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Kalista membuat roti bakar selai cokelat kesukaan suaminya, dan segelas susu. Lalu membawanya ke kamar.


"Aku nggak di bangunin?" Arka berdiri di belakang Kalista, matanya menatap jarum jam yang menunjukan pukul 09:00 WIB.


"Nggak tega, suamiku kan baru tertidur tadi subuh." Ucap Kalista.


"Selamat pagi ya." Kalista langsung mencium pipi kiri dan pipi kanan Arka.


"Duh enaknya, pagi-pagi bangun tidur langsung dikasih kiss." Arka memeluk Kalista, mencium pipi dan keningnya, lalu terakhir mencium perut Kalista.


Arka segera membersihkan dirinya, baju kerja telah Kalista siapkan. Setiap pagi Kalista selalu memakaikan dasi. Arka selalu merasa bahagia atas perlakuan istrinya.


Bahkan kini dirinya sedang melahap sarapannya, roti bakar selai cokelat dan segelas susu. Sarapan di kamar, berduaan dengan istri tercinta. Bahkan setelah selesai sarapan, Arka meminta kiss pada Kalista, terjadilah cumbuan itu selama 5 menit.


"Aku berangkat kerja dulu sayang, baik-baik ya di rumah. Jangan kemana-mana! Kalau pun mau keluar rumah harus izin terlebih dahulu sama aku." Arka berpesan pada Kalista, lalu pamit berangkat kerja.


Bahkan sebelum berangkat kerja, Arka telah menasehati beberapa pelayan dan memintanya untuk selalu menjaga Kalista.


Semua security pun telah Arka ingatkan untuk menjaga rumah Anggara seketat mungkin, jika ada yang mencurigakan harus segera melaporkannya.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


Guys silahkan berikan author saran untuk alur kedepannya! Komen saran sebanyak-banyaknya ya! Terimakasih🤗


__ADS_2