
"Arrrrghh sialan! Kalian kerjanya ngapain aja sih?" Teriak Arka dengan geram sekaligus frustasi.
Arka panik sekaligus khawatir, rasa cemas dan gelisah sangat dominan menguasai dirinya. Arka pergi ke kamar Nathan dan Nayla, Arka membuka lemari Kalista dan lemari anak-anak. Beberapa potong baju tidak ada di sana. Arka semakin takut, takut Kalista benar-benar pergi meninggalkannya.
Arka memeriksa rekaman cctv, rekaman itu merekam seluruh kegiatan Kalista. Mulai dari memasukan beberapa potong baju kedalam tas, dan memperlihatkan Kalista memainkan ponselnya seperti sedang menghubungi seseorang.
Arka berlari ke halaman depan, berusaha mendapatkan rekaman cctv yang letaknya ada di halaman depan, dan di dekat gerbang. Kamera cctv di sana mati! Sepertinya Kalista mengetahui Arka memasang beberapa kamera cctv, sehingga Kalista mematikan kamera cctv tersebut. Arka kembali mengacak rambutnya, melayangkan bogem mentahnya pada dinding tembok, Arka sama sekali tidak merasakan sakit di tangannya, karena yang sakit itu adalah hatinya.
Di pikiran Arka saat ini adalah, kemana Kalista pergi dan bersama siapa? Arka sangat mengharapkan kehadirannya. Arka langsung menghubungi ketiga sahabatnya, mereka merespon dengan cepat, dan mereka juga langsung siap siaga membantu mencari keberadaan Kalista.
Riko bahkan langsung menghubungi beberapa hotel, takutnya Kalista di bawa kabur oleh lelaki hidung belang, dan di bawa ke hotel untuk di nikmati tubuhnya. Andy juga membantu mencari, mendatangi beberapa kafe dan restoran, meminta di tunjukan rekaman cctv, takutnya Kalista pergi makan malam. Namun sayang, hasilnya juga nihil. Evan juga sangat gencar mencari Kalista, namun sama saja, tidak ada hasil yang menunjukan keberadaan Kalista.
Arka menghubungi Gerry, Gerry bilang dia tidak tahu keberadaan Kalista. Gerry bilang dirinya sedang berada di luar negeri, dan sama sekali tidak tahu kabar kalista. Gerry malah memarahi Arka, menurut Gerry Arka itu sangat bodoh, karena tidak bisa menjaga istrinya sendiri. Gerry juga sama sekali tidak kontekan dengan Kalista.
Air mata mengalir begitu saja membasahi pipi Arka, malam itu Arka benar-benar cemas dan khawatir, Arka merasakan sesak di dadanya. Arka sudah mengendarai mobilnya menyusuri jalanan ibu kota, namun Arka sama sekali tidak bisa menemukan Kalista.
Arka juga telah menghubungi ibu kost, Arka berbasa-basi menanyakan kabar ibu kost, ibu kost malah menyuruh Arka dan Kalista untuk main ke kampung halamannya. Oh oke, berarti Kalista Tidak ada di sana. Setelah berbasa-basi dan meminta maaf karena telah mengganggunya tengah malam, Arka langsung mematikan teleponnya.
Sebenarnya masih ada cara cepat untuk menemukan Kalista, cara yang paling efektif dan terjamin ampuh. Tapi Arka tidak bisa melakukan itu, Andy telah melarang dan mewanti-wanti. Arka bisa saja mengumumkan berita hilangnya kalista, dan itu akan mempercepat proses di temukannya Kalista. Tapi, jika Arka menggunakan cara itu, publik tidak akan tinggal diam. Publik akan mengerahkan segala cara agar mengetahui konflik apa yang terjadi diantara Arka dan istrinya? Lalu lambat laun publik juga akan mencium dan mengetahui akar permasalahan tersebut.
Apakah semuanya sudah selesai? Belum! Semua ini akan berimbas pada perusahaan. Saham? Sudah pasti akan merosot drastis, mungkin beberapa kerja sama yanh terjalin bakalan dibatal. Atau mungkin hal yang paling sadisnya adakah perusahaan Anggara terpaksa golong tikar. Andy bahkan ngeri banget jika hal itu terjadi. Ini semua demi kebaikan Arka juga.
Arka memukul-mukul kemudi setir dengan keras, potongan-potongan ingatnya berputar, bagaimana dirinya memperlakukan Kalista setelah Oma dan ayahnya meninggal. Arka mengemis kepada sang ilahi, Arka ingin bisa memutar waktu pada dua bulan yang lalu. Arka ingin memperlakukan Kalista dengan baik.
Arka menangis tersedu-sedu, tangisannya sangat menyayat hati. Arka tiba-tiba teringat wajah si kecil, wajah-wajah polos tak berdosa yang telah ia telantarkan. Arka sangat merindukan mereka berdua.
__ADS_1
Tiba-tiba Arka menemukan satu cahaya terang. Masih ada satu harapan, dan Arka benar-benar menggantungkan harapannya kali ini. Arka juga berharap sang ilahi akan ikut campur tangan. Masih ada dokter Rian yang belum Arka hubungi, Arka sangat yakin Kalista berada di sana.
Dengan semangat empat lima, Arka mengendarai mobilnya dengan hati gembira. Entahlah mengapa Arka sangat yakin Kalista berada di rumah dokter Rian. Tetapi, kedatangan Arka di sana malah semakin membuat dokter Rian merasa geram. Kalista tidak ada disana, Arka malah mendapatkan bogem mentah dari dokter Rian, dan mendapatkan kemarahan dari dokter Fani istrinya dokter Rian.
Pupus sudah harapan Arka, Arka kembali masuk ke mobilnya. Arka kembali menangis, bukan karena skait di kasih bogem mentah oleh dokter Rian. Arka bahkan sama sekali tidak menyalahkan dokter Rian, karena semua ini terjadi memang atas kesalahannya.
Arka kembali pulang ke rumahnya, turun dari mobil dan berjalan dengan sangat gontai. Dengan pandangan mata kosong, Arka masuk ke kamar Nathan dan Nayla. Arka mencium box bayi mereka, Arka bahkan mencium wangi baju Kalista dari lemari.
"Kangen kalian bertiga." Ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca, Arka bahkan menatap lekat-lekat foto Nathan dan Nayla yang sedang di gendong Kalista. Di foto itu Kalista terlihat sangat kerepotan, tetapi senyum manis itu masih terukir di bibirnya.
Semalaman itu Arka tidak bisa memejamkan matanya, sebenarnya mata itu sudah lelah dan mengantuk. Arka hanya diam dan merenung, suara gerak dari jarum jam yang menemaninya malam itu. Arka sama sekali tidak mempunyai selera untuk beraktifitas, bahkan sekedar ke kamar mandi pun Arka sangat malas.
Pagi telah datang, bulan telah menghilang dan di gantikan oleh matahari yang bersiap untuk menerangi bumi. Arka langsung turun ke bawah, Arka bertanya kepada semua pelayan. Apakah Kalista dan kedua anaknya sudah pulang? Semua pelayan hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu diam membisu.
Padahal tadi malam Andy pergi mengecek ke kediaman mama Lisa. Kebetulan mama Lisa dan Dino telah terlelap dalam mimpinya. Kebetulan sekali Kalista yang membuka pintu, Andy langsung menjelaskan semuanya, termasuk bagaimana panik dan khawatirnya Arka. Kalista berbicara pada Andy, Kalista hanya ingin menyadarkan Arka tentang arti dari kehilangan. Kalista melarang Andy agar tidak memberitahukan keadaanya, dan Andy pun setuju. Menurut Andy cara ini cukup bagus, nantinya juga akan terlihat apakah Arka masih mencintai Kalista atau tidak?
Seharian ini Arka kembali mencari keberadaan Kalista, melajukan mobilnya kesana kemari, berharap Kalista bisa langsung muncul begitu saja di hadapannya saat ini juga. Arka tidak sempat mandi, Arka kehilangan selera untuk sarapan ataupun makan. Lingkar matanya menghitam karena semalaman tidak tertidur.
Arka tidak masuk kantor, bahkan Arka membatalkan salah satu meeting yang akan membahas suatu kerja sama yang sangat penting. Arka sama sekali tidak perduli jika harus kehilangan semua uangnya, yang Arka butuhkan saat ini adalah Kalista dan kedua anaknya untuk menemaninya seumur hidupnya.
Sudah banyak tempat yang Arka kunjungi, bahkan Arka sampai datang ke tempat les renang Nathan dan Nayla, Arka tetap tidak menemukan Kalista di sana. Entah sudah berapa banyak tempat yang Arka kunjungi hari ini, tidak ada satupun petunjuk keberadaan Kalista.
Arka mencoba kembali menghubungi Kalista, ponsel itu tetap tidak aktif. Arka mengerang frustasi, lagi-lagi air matanya terjatuh membasahi pipinya. Bola mata memerah, gurah kelelahan terlihat jelas di wajah Arka. Arka memutuskan untuk kembali pulang kerumahnya, siapa tahu kalista sudah pulang.
Beberapa pelayan pun menangis, mereka tidak mengira Kalista pergi meninggalkan rumah ini. Pelayan mengira Kalista hanya akan menginap di rumah kerabat atau saudaranya, tetapi sampai saat ini juga Kalista tidak kunjung menampakan batang hidungnya. Beberapa pelayan itu juga berdoa, agar Kalista segera pulang keruang dalam keadaan sehat walafiat.
__ADS_1
Arka sama sekali tidak mempunyai gairah untuk hidup. Kegiatan Arka sore hari ini adalah bengong sambil memandangi foto kedua anaknya. Tidak ada satu sendok pun makanan yang masuk ke tubuhnya, Arka hanya minum air mineral saja. Lambungnya terasa perih, disana tidak ada proses pencernaan makanan. Pelayan bahkan sudah membujuk Arka, dan Arka memang tidak membutuhkan asupan makanan, yang Arka butuhkan hanya Kalista dan kedua anaknya.
"Begini ya rasanya kehilangan?" Arka tersenyum getir, bulir-bulir bening kembali terjatuh. Mata itu tidak berkedip memandangi foto istri dan anak-anaknya.
"Maafin ayah ya bunda, Nathan dan Nayla. Ayah bodoh banget ya telah mentelantarkan kalian bertiga, ayah ceman banget nih nggak bisa hidup tanpa kalian. Kalian pulang dong! Ayah kanan banget, kalian bertiga sehat kan?" Arka terlihat seperti orang gila, berbicara pada foto. Arka bahkan mencium foto itu berkali-kali.
Sudah satu hari Kalista menghilang, Arka melewati hari itu dengan sangat berat. Malamnya Arka tertidur karena kelelahan, tetapi tidurnya tidak nyenyak. Sebentar-sebentar kebangun, dan saat itu pula Arka meneriaki nama istri dan kedua anaknya.
Ini adalah hari kedua hilangnya kalista. Hari ini Arka pergi ke pemakaman ayah dan omanya. Arka mencurahkan segala isi hatinya diatas gundukan tanah tempat dimana ayah dan omanya di semayamkan. Arka meminta doa kepada mereka berdua agar Kalista kembali pulang ke rumahnya. Arka bersimpuh dan menangis, tangannya setia merangkul batu nisan itu. Arka meminta omanya mendatangi Kalista dalam mimpi, dan membisikan kepada Kalista bahwa dirinya sangat merindukannya.
Di hari kedua itu juga sama sekali tidak ada kabar, kondisi Arka semakin tidak karuan. Baju yang kotor karena habis dari pemakan, bola matanya terlihat seram. Seharian itu juga Arka kembali menangis.
Tepat di hari ketiga, sesuatu yang mengejutkan terjadinya. Jarum jam menunjukan angka 08:00 WIB, Arka sedang duduk sambil memeluk foto istri dan anaknya. Tiba-tiba ada yang memencet bel, katanya ada surat khusus untuk Arka.
Pelayan menyampaikan surut itu kepada Arka, ketika mendengar kata khusus Arka langsung bersemangat. Energi di tubuhnya tiba-tiba terkumpul, semangat itu kembali berkobar.
Dengan sangat antusias Arka membuka surat tersebut. Tiba-tiba manik matanya membulat sempurna, Arka membaca satu persatu kata dalam surat tersebut. "Gugatan cerai." Arka menangis histeris, berteriak seperti orang gila. Arka langsung menyobek surat tersebut, kalimat demi kalimat terus menerus berpusat di pikiran Arka. Yang mengajukan gugatan cerai ini adalah Kalista sendiri.
----------------------------------🌻🌻
Maaf sedikit, hari ini lumayan sibuk. Jangan dulu pada emosi ya, besok masih ada kelanjutannya🙏
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤