
Kalista berhenti berjalan ketika melihat abang bakso yang sedang mendorong gerobaknya. Kalista menghampirinya.
"Bakso bang 2 porsi, super pedas ya!" Kalista duduk di bangku plastik yang disediakan oleh si abang bakso.
Tidak menunggu lama bakso pesanan Kalista pun sudah siap untuk di santap, itu karena tangan si abang sangat cekatan. Kalista menyantap 2 porsi bakso dengan lahap.
Tak terasa kaki Kalista melangkah, langit sudah hampir gelap. Malam segera tiba. Kalista terus berjalan tanpa arah, hingga kini dirinya menginjakkan kakinya di taman.
Duduk termenung di bangku taman, menatap langit malam yang berhias bintang-bintang bertaburan, cahaya bulan mampu menyinari taman ini. Banyak muda-mudi yang sedang memadu kasih di taman ini, hal itu membuat hati Kalista semakin miris.
Berada di keramaian, namun hatinya terasa sangat sepi. Tidak terasa pipi Kalista basah, matanya berkaca-kaca. Kalista memikirkan nasib hidupnya, kini Kalista hanya mempunyai ibu kost seorang.
Semenjak hari kematian orang tuanya, Kalista merasa hidupnya sangat menderita. Orang pertama yang membangkitkan semangat hidupnya adalah dokter Rian, dokter yang menangani dan merawat Luna, bunda Kalista.
"Semoga hidup pak dokter bahagia! Penuh kasih dan sukacita." Kalista bergumam sambil terus memandangi langit malam.
Arloji ditangannya menunjukan angka 22:00, tidak terasa Kalista sudah duduk di bangku taman selama 4 jam. Kalista beranjak dari taman tersebut, tetapi sebelum benar-benar keluar dari taman, Kalista menyempatkan diri membeli permen kapas yang berukuran besar.
Berjalan berjam-jam menggunakan hills membuat kaki Kalista pegal, Kalista mencopot hills nya dan memasukannya ke dalam tas. Kini Kalista berjalan bertelanjang kaki.
Pandangan mata Kalista menyipit, dari jarak lima meter Kalista melihat seorang pria yang bersiap meloncat dari atas jembatan, di bawah jembatan tersebut adalah sungai dengan ketinggian enam belas meter dari jembatan itu.
Kalista panik dan berlari ke jembatan menghampiri pria tersebut, pria itu sekarang sedang bergelantung tangannya memegang pagar jembatan, pandangan matanya kosong.
Tepat ketika Kalista sampai di jembatan, pria itu melepaskan tangannya, tetapi Kalista berhasil meraih salah satu tangan pria itu, sehingga pria itu tidak terjatuh ke sungai dan masih bergelantungan.
"Mau bunuh diri? Punya masalah sebesar apa sih?" Kalista berteriak dengan nafas ngos-ngosan.
"Lepasin tangan gue! Biarkan gue mati!" Pria itu berteriak tak kalah kencang dari Kalista, matanya menatap Kalista tajam.
"Lu tuh nggak usah sosoan nolongin gue, gue pengen mati!"
"Percuma lu nolongin gue! Gue udah nggak punya harapan buat hidup!"
"Lu nggak tahu kan apa yang gue rasain? Lepasin gue beg*!"
"Lu punya telinga nggak sih? Lu budeg ya?"
"Jalang lepasin gue!"
__ADS_1
Pria itu terus saja mengoceh minta tangannya dilepasin dari cengkraman Kalista.
"Lu punya otak nggak sih? Emang bunuh diri bisa nyelesain masalah? Mikir dikit lah, beg* banget sih jadi orang!"
"Lu mau mati hah? Punya orang tua nggak lu? Udah ngebahagiain mereka? Heh pria beg* dengerin gue! 'Orang tua lu cape-cape merawat lu dari kecil sampai sebesar ini, cape juga orang tua lu ngajarin lu jalan waktu kecil! Lu belajar jalan sampai jatuh bangun kan? Kalau lu lagi terpuruk ya elu bangkit lah! Pria macam apa ya lu tuh punya mental tempe banget! Lembek pula kaya tahu'." Sarkas Kalista sambil sesekali meringis karena tangannya sakit dipake nahan tangan si pria itu.
"Iya gue beg*! Makanya gue pengen mati sekarang! Percuma deh lu nggak bakalan ngerti sama masalah hidup gue." Bentak si pria itu.
"Wanita yang gue cintai, yang sangat-sangat gue sayangi, dia khianati gue, dia ninggalin gue, gue nggak bisa hidup tanpa dia! Lebih baik gue mati."
Mata Kalista membulat sempurna ketika mendengar kata-kata dari pria itu, Kalista berdecih sebal, dan senyum mengejek pun memancar dari wajahnya.
"Cuma karena wanita yang lu cintai pergi ninggalin lu, terus lu berniat mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Oh my God otak lu dimana sih? Heran gue pria ganteng macam lu ko bisa sebeg* itu sih!"
"Lu buka mata lebar-lebar! Lihat dunia ini luas! Wanita berserakan dimana-mana! Dan lu terpuruk hanya karena satu wanita? Tuhan tolong lah.. ini menggelikan sekali." Kalista terkekeh geli karena pria yang sedang dipegang erat tangannya itu, ingin mengakhiri hidupnya hanya karena cintanya di khianati.
"Menurut pandangan mata gue, kayanya lu orang tajir ya?" Kalista berdiam sejenak memperhatikan penampilan pria itu, walaupun sudah kusut dan acak-acakan tetapi tetap saja kesan mewah dari barang-barang yang dipakai nya masih terlihat.
"Dulu gue sering dengar 'katanya kalau pria punya banyak duit, mau wanita yang seperti model, aktris, penyanyi, wanita karir, pokonya wanita seperti apapun gampang' tapi menurut penglihatan gue ya emang benar sih gampang, lu mau kencan sama model? It's oke kencan satu malam, bayar terus kelar! Tapi itu cuma buat senang-senang doang, dan kayanya wanita itu nya juga mau karena melihat unsur materi. Akan tetapi, jika mencari wanita untuk dijadikan teman hidup memang agak susah, harus tahu dulu babat bibit bobot nya, nggak boleh sembarang." Kata Kalista.
"Awwww..." Kalista memekik, karena tangannya sakit dan sepertinya sekarang tangannya malah lecet, karena tidak mampu lagi menahan bobot badan pria tersebut.
"Naik dulu sini, duduk bareng gue. Gue siap jadi pendengar, dan gue mau ajarin lu caranya balas dendam!" Ujar Kalista, tapi pria itu malah menatap jengah pada Kalista.
"Nanti kalau lu udah ceritain semuanya ke gue, lu boleh kalau mau loncat tuh ke sungai."
"Atas dasar apa gue harus cerita sama cewe urukan dan bawel kaya lu." Sengit pria itu.
"Anggap aja sekarang gue sedang jatuh cinta sama lu, jadi gue adalah seseorang yang sedang mensupport lu untuk bangkit."
"Banyak cingcong ya lu, udah lah mau naik atau terjun nih ke sungai, tangan gue sakit beg*." Kalista berteriak, karena kali ini tangannya sudah tidak kuat lagi dan terasa sangat perih.
Pria itu naik dengan susah payah, tetap masih bertumpu pada tangan Kalista. Berkali-kali suara ringisan keluar begitu saja dari mulut Kalista.
"Minum dulu nih." Kalista menyodorkan botol minum yang ia ambil dari dalam tasnya, dan pria itu pun menerima tawaran Kalista, dan meneguknya.
"Gue menjalin kisah asmara sudah 7 tahun, wanita itu bernama Shafa. Dia cantik banget, impiannya pengen jadi model." Pria itu mulai menjelaskan masalahnya tanpa Kalista suruh.
"Karena gue cinta banget sama dia, sayang banget pokonya! Apapun yang dia mau lakuin selama itu positif ya gue dukung. Sekarang dia udah jadi model juga berkat gue, gue ketar-ketir kesana-kemari kenalin dia ke orang-orang penting biar jalan dia untuk jadi model semakin terbuka lebar. Tapi apalah daya..." Kalimatnya terjeda, terdengar helaan nafas pasrah keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Selama 7 tahun pacaran sama gue, ternyata Shafa menjalin kasih dengan teman gue, dan mereka sudah tidur bersama selama 5 tahun." Tiba-tiba bulir-bulir bening itu keluar dari kelopak matanya.
"Disaat itu juga gue merasa dunia gue sudah hancur, Shafa adalah acuan semangat gue. Ternyata 5 tahun gue di khianati bukan cuma sama pacar gue, tapi sama teman gue juga! Mengapa semesta kejam sekali terhadap gue? Kenapa?" Pria itu berbicara dengan emosi yang mulai meledak-ledak.
"Apa kurangnya gue? Selama ini gue setia! Gue selalu ada buat dia, gue selalu siap ketika di butuhkan, biaya kuliah dia gue tanggung semua, apartment gue yang bayar khusus buat dia, uang jajan gue kasih, perawatan ini itu gue bayarin, shopping, make up, skincare, semua dari gue. ATM gue kasih, kartu kredit dia juga tagihannya gue yang bayarin."
"Tapi semua itu, malah Shafa pake hura-hura dengan teman gue. Gila ya gue se-beg* itu." Pria itu tersenyum miris seperti sedang mengejek dirinya sendiri.
"Kenapa dulu lu nggak ketemu sama gue aja sih? Mantap banget kalau gue jadi Shafa." Kalista tersenyum simpul pada pria yang sedang duduk di sampingnya itu.
"Lu mau jadi kaya Shafa?" Pria itu mengernyitkan dahinya.
"Kalau gue jadi Shafa, ya gue bersyukur banget lah. Kehidupan terjamin banget dari do'i." Ujar Kalista lagi.
"Yaudah yu nikah sama gue!" Pria itu sudah mulai bisa tersenyum pada Kalista.
"Kaga mau lah! Lu ngajak nikah karena kesepian. Berarti gue cuma di jadikan pelampiasan gitu? Ih ogah banget gue." Kalista bergidik ngeri.
"Tadi katanya lu sedang jatuh cinta sama gue? Hayo loh?" Pria itu mulai memasang senyum menyeringai.
"Ceritanya itu mah." Sarkas Kalista.
"Haha jadi lu mau bunuh diri hanya karena masalah cinta? Sialan banget nggak sih lu, bucin parah!" Kalista mengejek pria itu.
"Lu punya orang tua?" Tanya Kalista.
"Punya lah!" Jawab pria itu datar.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
Hii readers🤗 monmaap 5 hari tidak update. Author sakit🤒 benar-benar drop parah😷
Terus support SUN FLOWER ya, terimakasih❤❤❤❤
__ADS_1