
"Udah selesaikan foto prewedding nya?" Arka mengusap lembut pipi Kalista, mereka sedang berada di studio foto, mereka baru saja menyelesaikan pemotretan.
Pemotretan di lakukan 3 hari berturut-turut, di tempat yang berbeda. Sebenarnya Arka merasa malas, tetapi ini semua permintaan Kalista, Arka sama sekali tidak mau membantah sedikitpun, karena apapun yang Kalista mau semuanya akan Arka turutin.
Lagian sebenarnya Arka merasa bersalah banget, waktu fitting baju Arka tidak bisa menemani Kalista. Saat itu Arka sedang ada kerjaan yang sama sekali tidak bisa ditinggalkan, dan tidak bisa di wakilkan oleh Andy. Bayangkan saja, seorang wanita yang akan menikah melakukan fitting baju pengantin sendirian tanpa di temani sang pria? Untung saja Kalista tidak mengamuk atau pun protes pada saat itu.
"Udah, maaf ya jadi repot 3 hari ini." Kalista menatap Arka dengan rasa bersalah.
"Repot? Ya nggak apa-apa dong. Yang mau nikah kan kita berdua, yakali lu doang yang repot." Arka menyentil hidung Kalista.
"Ganti baju sana, udah ini gue harus balik ngantor, banyak banget kerjaan yang belum kelar." Imbuhnya lagi, Kalista langsung menuju ruang ganti.
Ketika Kalista keluar dari ruang ganti, Arka sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Kalista mengambil ponselnya akan menghubungi arka.
"Bruuuk." Kalista terjatuh tertabrak oleh seseorang. "Awwwwww sakit." Kalista meringis dan memegang kakinya yang terasa sakit.
"Sorry gue nggak sengaja." Katanya sambil mengusap kaki Kalista.
"Eh elu kan? Wah ketemu lagi nih kita, jodoh nih pasti." Ya, dia pria yang di coffee shop waktu itu.
"Lepasin tangan lu, jangan pernah sentuh calon istri gue." Arka menepis tangan pria itu, dan membantu Kalista bangun.
"Maaf, anak saya sedikit ceroboh." Wanita paruh baya yang berdiri di samping pria itu meminta maaf.
"Baru calon kan? Masih bisa gue pepet dong." Pria itu tersenyum menyeringai menatap Arka.
"Nggak laku lu? Sampai berniat merebut bini orang. Cih ngelawak, dasar nggak waras." Arka mencibir, kemudian mencium pipi Kalista sekilas.
Wanita itu tertegun menatap wajah Arka, matanya berkaca-kaca, mulutnya terkatup. Hatinya bergetar hebat, air mata sudah jatuh membasahi pipinya.
"Ibu kenapa?" Kalista bertanya, karena dirinya melihat si ibu menangis dan tangannya bergetar memegang dadanya. Arka langsung melihat ibu itu, tiba-tiba dirinya langsung tersenyum sinis.
"Dia anak lu? Pantes sama gila nya kaya lu!" Arka tersenyum sinis pada wanita paruh baya itu. Si wanita itu akan memegang tangan Arka, tapi Arka langsung menepis tangannya.
"Tutup mulut lu! Jangan pernah bicara kaya gitu terhadap mama gue." Pria itu mengepalkan tangannya, geram terhadap perkataan Arka.
"Nggak boleh ngomong gitu sama orang tua, nggak sopan tahu." Kalista menutup mulut Arka.
Sekarang si ibu itu malah menangis tersedu-sedu, seperti sedang merasakan kesedihan yang mendalam.
"Lu tuh nggak tahu aja perlakuan gila dia tuh kaya gimana? Lu wanita satu-satunya yang nggak pernah mandang gue dari materi, terimakasih sudah menjadi wanita terbaik, makin cinta deh." Arka melepaskan tangan Kalista dari mulutnya, kemudian dirinya memeluk Kalista.
"Bu maaf ya, perkataan pacar saya kurang sopan." Kalista mencoba meminta maaf, sedangkan Arka melihat wanita tersebut dengan tatapan acuh tak acuh.
"Kaki lu sakit? Ke dokter dulu ya! Nggak lucu dong nanti pas resepsi kaki istri gue pincang." Arka memperhatikan kondisi kaki Kalista.
"Nggak usah, nanti di pijit pake baby oil juga sembuh. Langsung balik kantor aja ya, kerjaan lu kan masih banyak. Semangat ya calon bapak." Arka yang mendengar kalimat 'Calon Bapak' langsung tersenyum sumringah, kalimat itu membuat hatinya terasa seperti berbunga-bunga.
Si ibu itu masih saja menangis ketika Arka dan Kalista keluar dari studio foto. Air matanya semakin deras membasahi pipinya. Di otaknya berbagai macam memori sedang menari-nari. Penyesalan yang sangat terlambat.
"Ma udah dong ah jangan nangis, ngapain sih nangisin orang brengsek kaya gitu." Pria itu mengusap sisa-sisa air mata di wajah si ibu paruh baya.
"Aku ke toilet dulu ya ma." Pria itu langsung menuju toilet, meninggalkan si ibu yang baru saja berhenti menangis.
Si ibu langsung masuk, dan menanyakan perihal kedatangan Arka dan Kalista.
"Mas, maaf numpang tanya. Pria dan wanita yang barusan keluar dari ruangan ini..."
__ADS_1
"Oh pak Arka dan Bu Kalista ya? Mereka baru saja melakukan sesi foto prewedding." Photographer memotong ucapan si ibu, dan menjelaskan perihal Arka dan Kalista.
Ada rasa senang sekaligus sedih yang si ibu rasakan. Senang bahwa Arka akan menikah, tetapi sedih bahwa dirinya tidak akan pernah ada di hidupnya Arka. Sebutir air bening lolos begitu saja dari mata si ibu.
Arka melajukan mobil dengan perlahan, tetapi dirinya seperti sedang kacau.
"Gue yang nyetir ya." Tanpa persetujuan Arka, Kalista langsung saja menukar posisi duduknya.
Sebenarnya Kalista sudah merasakan ada sesuatu yang berbeda pada diri Arka, ketika bertemu dengan wanita paruh baya itu. Sorot mata Arka terlihat sendu, dan tubuhnya sedikit bergetar.
"Semuanya akan baik-baik aja." Kalista mengusap punggung tangan Arka, menatap Arka sekilas lalu kemudian fokus lagi mengemudi.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Arka sama sekali tidak melepaskan tangannya dari jemari Kalista. Dirinya merasa tenang, karena kini dan seterusnya akan selalu ada wanita yang menemani hidupnya.
Arka masih tetap saja menggenggam erat jemari Kalista, padahal kini sedang berada di kantor, menuju ruangannya. Semua karyawan sudah biasa menyaksikan hal itu. Kalista pun menjadi biasa saja, karena hampir tiap hari di kantor Arka selalu memperlakukan dirinya dengan istimewa.
"Pucat banget bro, kenapa?" Andy melihat wajah Arka yang tidak seperti biasanya.
"Nggak apa-apa." Kalista langsung menempelkan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan Andy untuk diam.
"Minum dulu." Kalista memberikan segelas air mineral yang langsung di teguk oleh Arka.
"Jangan pernah tinggalin gue, jangan pernah tergoda oleh materi yang di miliki pria lain diluaran sana. Apapun yang gue punya semuanya milik lu." Arka memeluk Kalista dengan mata berkaca-kaca, tidak lama setelah itu air mata itu tumpah membasahi pundak Kalista.
"Nggak akan, susah senang hidup gue bakalan sama lu terus." Kalista mengusap punggung Arka.
"Terimakasih sudah hadir di hidup gue." Arka masih meneteskan air mata, Kalista tersenyum sambil menepis air mata yang keluar dari mata Arka.
"Nggak gengsi nih nangis depan gue." Kalista meledek Arka sambil tersenyum simpul.
"Mana ingusnya meler lagi, jyjyk gue." Andy bergidik ngeri sambil mencibir Arka.
"Lu sahabat macam apa coba? Nggak sopan juga lu sama boss besar, gue tendang dari sini kelar dah hidup lu!" Arka menoyor kepala Andy.
"Duh ngeri deh kalau udah ngomong kaya gitu." Andy merapatkan kedua tangannya, kemudian membungkuk seraya menghormati Arka. "Mohon maafkan hamba, paduka raja." Kalista dan Arka tertawa melihat kelakuan konyol Andy.
"Gue ke kantin dulu ya, ketemu sahabat gue. Mau makan apa?"
"Apa aja deh, yang penting enak."
"Okey, santai aja kerjanya, honeymoon bisa di tunda." Kalista menepuk pundak Arka, kemudian keluar dari ruangan itu.
Ketika Kalista keluar dari ruangan itu, Andy langsung menghampiri nya "Kenapa Arka? Gue lihat mukanya tadi kacau banget." Andy berharap Kalista menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Arka.
"Tadi ketemu wanita paruh baya, usianya sekitar 50an lah, kayanya sih mama nya Arka." Ujar Kalista.
"Feeling gue juga pasti mamanya, apapun yang terjadi lu harus tetap berdiri di sampingnya, temani hidupnya. Lambat laun lu juga bakalan tahu lika-liku kehidupan Arka." Andy memberikan petuah pada Kalista.
"Pastinya." Kalista tersenyum simpul, kemudian meninggalkan Andy, menuju kantin.
"Kirain gue calon manten udah ngambil cuti." Tiara menatap Kalista yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Calon manten? Kalista mau nikah." Dilihat dari raut wajahnya, Rangga tampak kaget mendengar kata 'calon manten'.
"Yaelah, kemana aja lu bro? Bahkan dia 2 Minggu lagi akan resmi menjadi istri nya miliarder." Bima menepuk pundak Rangga.
"Hari ini terakhir gue kerja, bukan cuma cuti, tapi gue resign." Kalista menyeruput es jeruk Tiara tanpa permisi.
__ADS_1
"Nggak usah kerja lah, toh jadi istri miliarder. Buat apaan lagi kerja? 2 minggu kemudian kehidupan lu berubah jadi nyonya muda kaya raya." Celetuk Bimo yang sedang menikmati soto ayam.
"Lebay banget lu!" Kalista menyenggol mangkuk soto nya Bimo.
"Awas aja lu nanti lupain kita pas udah nikah sama pak Arka." Ucapan Tiara sukses membuat Rangga tersedak, sehingga menjadi terbatuk-batuk.
"Minum!" Tiara memberikan jus mangga pesanan Rangga.
"Lupa sama kalian? Nggak mungkin lah. Gue nggak akan berubah, cuma status doang yang berubah." Kalista.
"Lu nggak makan di sini?" Bimo melihat Kalista membungkus pesanannya.
"Nggak, makan nya mau bareng calon suami, sekalian nemenin dia yang lagi banyak kerjaan." Kalista mengedipkan sebelah matanya, dan langsung berjalan menjauhi kantin.
"Ko bisa Kalista sama pak Arka?" Rangga meminta penjelasan dari para sahabat nya Kalista.
"Ya bisa lah, nggak bisa kenapa coba?" Bimo malah bingung dengan pertanyaan Rangga.
"Kenapa? Cemburu lu?" Tiara sedikit mencibir Rangga, karena Kalista sudah cerita semuanya tentang Rangga yang ingin Kalista jadi pacarnya. Kalista selalu cerita pada Tiara apapun yang dialaminya. Awalnya Tiara merasa kesal pada Kalista, tapi setelah dipikir kembali ngapain marah? Ngapain kesal? Toh Kalista sudah jujur dan menceritakannya. Dan Tiara pun sudah berhenti menaruh harapan pada Rangga, Tiara tidak mau mempunyai kekasih yang mencintai sahabatnya. Dan itulah alasan pak Arka tidak mau Rangga hadir diacara lamaran yang dilaksanakan di kota B pada waktu itu.
"Cemburu? Ya nggak lah! Gue heran aja ko tiba-tiba bisa mau nikah sama pak Arka? Setahu gue juga mereka nggak pacaran kan?" Rangga sok sok'an santai, padahal hatinya merasa teriris.
"Kalista adalah bunga yang selama ini dicari oleh pak Arka, dan pak Arka adalah Willi yang selama ini di cari Kalista." Bimo menjelaskan.
"Terus Kalista langsung mau nikah? Pak Arka banyak duit sih ya jadi pasti langsung mau." Rangga dengan entengnya mengucapkan kalimat itu.
"Jaga ya mulut lu! Kalista bukan cewe matre!" Sengit Tiara yang langsung angkat kaki meninggalkan mereka.
"Sembarang tuh mulut lu!" Bimo menatap Rangga tajam.
"Mulut lu pedas juga ya, nggak nyangka gue!" Bima menarik tangan Bimo untuk meninggalkan Rangga.
Rangga merasakan kepalanya mendidih ketika mendengar kabar Kalista akan menikah. Padahal dirinya sangat ingin memiliki Kalista. Sekarang tangannya mengepal, geram sekali pada Arka yang dianggapnya merebut Kalista.
"Makan dulu ya pak Willi." Kalista tersenyum muncul dari balik pintu.
"Ciyee dedek bunga." Arka mencolek dagu Kalista. "Suapin ya, nanggung nih kerjaan dikit lagi kelar."
"Iya ih bawel."
Kalista menyuapi Arka makan, dan dirinya pun makan. Makan dengan lahap, dan sangking asyiknya sampai lupa bahwa di ruangan ini ada Andy yang lagi sibuk sama kerjaannya.
"Gue iri banget nih sama kalian berdua, pamer kemesraan terus, jadi sebal kan gue." Andy menggerutu.
"Nggak usah iri, mending sekarang lu kumpulin semua karyawan di aula besar." Andy langsung keluar untuk menjalankan perintah dari Arka.
"Akhirnya kelar." Arka merentang kedua tangannya.
Arka langsung berjalan menuju aula besar sambil menggenggam erat jemari Kalista. Semua karyawan sudah berkumpul disana, mereka merasa heran mengapa di kumpulkan di aula besar.
"Selamat siang, mohon perhatian semuanya." Arka mulai berbicara "Hari ini Kalista Bunga Pertiwi selaku sekretaris pribadi saya, resmi resign dari pekerjaannya." Semua karyawan melongo mendengar kabar tersebut.
"Saya akan menikah dengan Kalista, kalian semua akan mendapatkan undangannya besok. Apa ada yang keberatan? Yang keberatan silahkan angkat kaki dari perusahaan saya! Saya tidak butuh restu dari kalian." Semua karyawan nampak antusias dan bergembira mendengar kabar tersebut, ada yang tersenyum ramah pada Kalista, dan ada pula yang menatap Kalista sinis. Bahkan ada sebagian karyawan yang menerka-nerka perubahan sikap pak Arka jadi lebih hangat, itu karena Kalista. Namun diam-diam Rangga mengepalkan tangannya dengan geram sambil terus menatap Arka tajam. Arka mengetahui hal itu, dan dirinya malah tersenyum sinis pada Rangga.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤