SUN FLOWER

SUN FLOWER
CURHAT GINA PADA MAMA


__ADS_3

"Dari situ kita putus! Tapi jujur mah, Gina menyesal. Gina ingin memutar balikan waktu, tetapi itu sangat tidak mungkin. Dari situ diantara juga berdua mulai ada jarak pemisah, seperti ada dinding tebal yang selalu memisahkan kita. Gina yang menyesal ini sempat meminta maaf dan meminta untuk balikan, mungkin saat itu Gina sepeeti seorang wanita yang tidak punya harga diri. Sudah minta putus tapi masih minta balikan." Ujarnya dengan tangis yang masih sesenggukan. Gina benar-benar menceritakan bagaimana awal mulainya putusnya hubungannya dengan Andy.


"Tanggapan mama gimana mengenai hal ini?" Gina mendongakkan kepalanya.


"Mama nggak mau menanggapi yang terlalu gimana gitu, karena kalian berdua sudah sama-sama dewasa, mama sangat yakin kalian berdua pasti bisa menyelesaikan kembali masalahnya. Andy memang berbohong, tapi maksud dari kebohongannya itu baik. Andy tidak mau Gina berpikir hal yang macam-macam, sedangkan Andy memang hanya sekedar nongkrong saja. Menurut mama Gina salah, kenapa salah? Marah itu wajar, tapi jangan terlalu berlebihan. Keputusan yang diambil ketika sedang marah sering kali menjadi keputusan terbodoh dan paling di sesali, seperti Gina yang memutuskan Andy dengan amarah yang memuncak, akhirnya Gina kembali tersadar dan tidak mau kehilangan Andy. Tetapi apa mau di kata, nasi sudah menjadi bubur. Nak, ketahuilah betapa sakitnya hati Andy ketika Gina mengatakan semua itu tepat di hadapan para sahabatnya dan sahabat Gina. Andy pasti merasa harga dirinya di injak-injak, di rendahkan begitu saja. Apakah mama nyalahin Gina? Tidak juga, mama tahu semua orang pasti pernah berbuat salah. Mendingan Gina perbaiki sikap, dan kalau masih ada waktu kembali lagi meminta maaf atas apa yang telah Gina lontarkan kepada Andy. Meminta maaf ya, bukan meminta balikan. Karena kalau Andy masih mencintai Gina, tanpa di minta pun Andy akan datang sendiri ke rumah ini." Nasihat dari mama Gina ini cukup panjang, suara lembut dan tangannya tidak henti-hentinya mengusap kepala Gina yang di rebahkan di pahanya.


"Andy udah nggak cinta sama Gina! Semuanya udah nggak mungkin ma." Suaranya semakin lirih, terdengar semakin lemah.


"Kata siapa? Belum tentu loh. Apa yang ada di hati seseorang kita kan nggak pernah tahu sayang".


"Andy udah nggak cinta sama Gina, mungkin Gina juga tidak pernah diakuinya pernah singgah di hatinya. Ma.. tadi ketika Gina kerumahnya yang buka seorang wanita, cantik imut, rambutnya acak-acakan, cuma pakai celana pendek plus tang top doang. Sedangkan di rumah itu hanya ada mereka berdua, mereka pasti udah tidur bareng kan ma?" Tangis Gina kembali pecah, kali ini sesenggukannya lebih parah.


"Mama nggak bisa percaya gitu aja! Mama memang baru beberapa kali bertemu dengan Andy, tapi mama bisa pastikan Andy tidak akan melakukan hal tidak senonoh seperti itu. Mama yakin Andy itu orangnya baik, mama bisa menilai dari sikap dan penampilannya. Jangan kan bertindak asusila seperti itu, kalau ngomong sama kamu ada sopan banget. Sangat tidak mungkin Andy meniduri wanita menikahinya terlebih dshulu. Mama nggak percaya ah." Mama Gina membantah pernyataan dari Gina, mama Gina merasa Andy bukan lah seperti yang Gina katakan barusan.


"Mungkin kamu salah paham sayang, mungkin saja wanita itu adiknya, sepupunya, atau saudaranya. Mungkin saja kan dia sedang menginap, hanya melihat penampilannya yang masih muka bantal bukan berarti mereka habis tidur bersama. Apakah Gina masuk ke rumahnya? Mama yakin kok mereka pasti tidur terpisah." Ujar mama Gina.


"Tapi wanita itu bernama Karin, dan kak Andy pernah bilang sudah memiliki pacar baru bernama Karin. Bahkan ketika kak Andy mengantarkan Gina pulang, wanita bernama Karin itu menelpon kak Andy, dan mereka mengobrol santai, mesra gitu, bahkan Karin sangat manja pada kak Andy. Namanya orang pacaran, lagi kasamran gitu kan seatap berdua, apakah mungkin tidak melakukan apapun? Ketika dua orang laki-laki dan perempuan sedang berduaan, apakah setan akan diam saja? Justeru setan akan mendorong mereka ke lembah dosa." Emosinya kembali tersulut, Gina berkata menggunakan nada tinggi.


Melihat anak gadisnya yang begitu terpuruk tentang cinta, mama Gina kok malah bahagia. Mama Gina malah menatap Gina dan memberikan senyum merekah.


"Mamaaaaaaaa.. kok senyum-senyum? Mama meledek Gina ya?" Kedua telapak tangan itu terangkat menutupi wajahnya.


"Sejak kapan anak mama jadi bodoh? Apakah Gian tidak merasa bahwa sebenarnya Andy sedang memanas-manasi Gina? Andy sedang berusaha membuat Gina terbakar api cemburu? Dengan cara seperti ini Andy bisa menilai apakah ada cinta di diri Gina untuk dirinya?" Senyum itu merekah, hanya dengan penjelasan yang Gina ucapkan, mama Gina langsung bisa mengambil kesimpulan.


"Nggak mungkin! Kak Andy aja cuek banget sama Gina, dingin banget. Selalu menghindari Gina, mana mungkin dirinya berbuat seperti itu. Udah deh mama jangan coba-coba memberikan harapan pada Gina. Gina tahu semuanya udah terlambat, udah telat, udah nggak bisa di perbaiki lagi. Mulai saat ini Gina akan melupakan Andy, Gina tahu semua itu bakalan susah, tapi Gina yakin Gina pasti bisa melewati itu semua." Gina pun tersenyum dengan wajah sembapnya.


"Iya! Anak gadis mama harus bangkit dan kembali menatap hidupnya, menatap lurus ke depan dengan masa depan yang cerah. Jika memang Gina dan Andy makan berjodoh, sesulit apapun keadaannya kalau akan di persatukan. Tetapi jika tidak jodoh, percayalah akan ada laki-laki yang lebih baik dari Andy yang masih di rahasiakan oleh semesta khusus untuk Gina." Ujar mama Gina.


Kalimat mamanya yang ini cukup menenangkan Gina, hatinya terasa lebih baik. Gina memeluk mamanya erat, awalnya Gina pikir mamaknya bakal kecewa pada dirinya. Tetapi justeru mamanya lah penguat hatinya.


"Tapi sekarang usia Gina sudah memasuki 25 tahun, batas akhir usia perempuan untuk menikah. Jodoh Gina kapan datang? Gina takut keburu tua." Wajah itu kembali sendu, Gina terlalu cemas mengkhawatirkan masa depan.


"Jodoh itu bisa datang kapan saja, bisa sekarang, bisa besok, bulan depan, tahun depan, atau mungkin dua tahun lagi. Menikahlah ketika kamu sudah siap, siap dalam segala hal dan kondisi. Menikah tidak berpatokan dengan usia, di luaran saja juga banyak perempuan yang menikah di usia lewat dari kepala 3."


"Iya ma Gina tahu, tapi kan mah kalau kepala 3 itu ketuaan. Menikah usia 27 tahun aja menurut Gina ketuaan." Bibir itu mencebik.


"Gina kebelet nikah? Gina mau jadi mama muda?" Sarkas mama Gina.


"Bukan gitu! Tapi... Ah sudahlah." Hembusan napas di akhir kalimat menandakan Gina pasrah dengan semuanya.


"Kayanya untuk beberapa hari ini Gina mau ambil cuti aja deh, Gina belum siap kalau harus ketemu Andy. Belum siap menata hati, nggak lucu dong ma nanti Gina nangis di depan kak Andy."


"Lakukan apa yang menurutmu terbaik, apapun tindakan kamu selama itu dalam konteks positif mama mendungkumu. Teruslah hidup dengan bahagia, bangkit dari keterpurukan, karena hidup bukan hanya soal cinta. Hidup terlalu berharga untuk di sia-siakan."


"Tapi dalam Gina cuti kerja, mama Harau temani Gina jalan-jalan, nonton, shoping, makan di luar, dan lain sebagainya." Pinta Gina.


"Iya mama temani anak gadis mama yang akan berusaha melupakan pria yang di cintainya. Semangat move on sayang."


"Terimakasih mama, terbaik banget sih." Gina memeluk mamanya, mencium kedua pipinya.


"Mendingan sekarang mama mandi dulu, atau kalau nggak, ganti baju dulu aja. Mama pasti jijik dong baju mama kena ingus Gina. Gina juga mau ke kamar, sekalian mau mandi juga."


"Ngapain ke kamar sih? Udah disini aja ngobrol sama mama, mama tahu kok nanti di kamar kamu pasti nangis." Tebak mama Gina.


"Mama lanjutkan aja beraktivitas, Gina lagi mau sendiri dulu." Jawabnya sambil tersenyum, kemudian masuk ke kamarnya.


Setelah Gina masuk ke kamarnya, mama Gina meneteskan air matanya. Mama Gina memang tidak pernah menunjukan sisi sedihnya di depan anak gadis kesayangannya yang hanya satu-satunya itu. "Ya Allah berikan anak hamba kebahagiaan yang tiada tara, jauhkan dia dari segala macam marabahaya, yang terpenting tolong kasih dia jodoh yang terbaik menurut versiNya, jangan sampai anakku mengalami apa yang aku alami." Ujarnya dalam hati, tetapi air matanya masih tetap menetes membasahi pipinya.


*****


Tadi kata mamanya Gina nggak boleh nangis di kamar. Iya Gina menurutinya, karena Gina masih harus turun ke bawah untuk makan malam, menonton bersama mamanya dan aktivitas lainnya. Gina tidak mungkin kan memperlihatkan kantung matanya yang membengkak, mata memerah dan hidung yang sama merahnya.


Gina berpura-pura tidak terjadi apa-apa, Gina masih bisa tertawa cekikikan. Gina bisa melewati siang hingga malam dengan normal. Semuanya Gina lakukan demi mamanya, Gian tahu jika dirinya terus menangis mamanya pasti akan ikut sedih.


Mama Gina sudah tertidur di kamarnya. Kini Gina sedang rebahan sambil menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali melayang mengingat kebersamaanya yang begitu membahagiakan bareng Andy. Tidak terasa manik matanya basah. Air mata terus menerus berjatuhan, walaupun Gina bilang akan move on dan bangkit dari keterpurukannya, tetapi hatinya sama sekali tidak bisa di bohongi.


"Apakah masih bisa kita kembali seperti dulu lagi?" Tanya Gina sambil memandangi dirinya telah di depan meja rias. Memandangi wajahnya yang terlihat jelek dari pantulan cermin.


"Tidak Gina! Semuanya sudah terlambat! Kamu terlalu bodoh dalam mengambil keputusan. Gina kamu harus sadar, Andy sudah mempunyai kekasih hatinya. Wanita itu cantik, imut dan masih muda. Berbeda sekali dengan dirimu yang sudah beradalam batas usia dewasa." Gina menjawab pertanyaannya sendiri, seolah-olah dirinya membelah diri menjadi dua seperti amuba.

__ADS_1


"Mengapa aku begitu bodoh?" Tanyanya, tatapannya kosong melompong sambil memperhatikan pantulan dirinya sendiri, cermin itu sama sekali tidak berbohong, dia menampilkan Gina yang apa adanya.


Malam semakin larut, mata Gina sama sekali tidak bisa terpejam. Gina membuka jendela kamarnya, membiarkan angin malam yang sangat dingin menusuk tulang itu masuk ke kamarnya. Gina berdiam mematung, memandangi langit malam yang di penuhi oleh taburan bintang.


Gina (POV)


Ketika gue lagi buka Twitter, tiba-tiba gue nemu sebuah thread yang membahas pernikahan. Gue tertarik buat baca, tapi ketika gue baca, gue malah nyesek. Di thread itu ada batasan usia untuk menikah, aja thread itu mengambil batas akhir usia 25 tahun. Tetapi thred itu juga memberikan penjelasan, bahwa patokan umur tidak di permasalahkan, bahkan jika ada yang minat menikah muda ya silahkan saja.


Lama-lama jadi kepikiran tentang nikah, dari suku juga sudah menargetkan akan menikah usia dua puluh lima tahun. Sekarang sudah usia dua puluh lima tahun, tapi jodohnya belum terlihat. Tiba-tiba keingat Andy lagi, dulu Andy pernah bilang akan menikahi gue secepatnya.


Gue sadar, itu hanya dulu. Berbeda sekali dengan sekarang, jarak dan tembok pemisah diantara kita menjulang tinggi. Setalah gue berpikir lama, nggak ada salahnya juga kan gue mencoba mendekatkan diri lagi. Walaupun gue tahu ada Karin, tapi selama gue belum melihat wujud nyata Karin, gue nggak akan percaya begitu saja. Insting gue juga mengatakan Karin itu bukan pacarnya Andy, Andy tidak mungkin mencari pacar secepat itu.


Mau berkunjung ke rumahnya tapi tidak tahu alamatnya dimana? Gue tahu alamat apartmentnya aja, kalau rumahnya gue kurang tahu. Tapi sekarang apartment itu sudah di jual dan menjadi milik orang lain.


Oh iya gue kan sekretaris pribadi, gue cari aja data pribadinya kan Andy. Oke ketemu, sekarang gue tahu alamat rumahnya. Tetapi untuk lebih spesifiknya gue dapatin info itu dari Tiara.


Pagi-pagi buta gue udah bangun, berusaha menyibukkan diri di dapur. Rencanya hari ini mau berkunjung ke rumah Andy sambil membawakan makanan. Ini kan weekend, kak Andy juga biasanya kalau makan selalu delivery, jarang masak soalnya malas. Dulu sih katanya gitu.


"Loh ini weekend loh, tumben banget sudah sibuk di dapur? Biasanya kalau weekend bangunnya siang?." Tegur mamanya Gina.


Tiba-tiba mama muncul dan menegur, maklum biasanya gue kalau weekend suka bangun siang. Kecuali kalau ada yang ngajak jalan, tapi biasanya kak Andy yang ngajak, tetapi kan sekarang hubungannya sudah berbeda.


Malu rasanya pagi-pagi sibuk berperang di dapur hanya untuk membuat masakan untuk kak Andy. Padahal kalau di rumah gue jarang masak, mama yang masak gue mah tinggal makan aja.


Mama nggak masalah gue masak buat Andy, mama juga belum tahu mengenai hubungan gue dengan Andy. Hubungan gue dengan kak Andy sudah berakhir beberapa bulan yang lalu, tapi gue nggak berani curhat karena gue masih berpikir mungkin hubungan gue dengan kak Andy akan membaik, mungkin kita akan bersatu kembali. Malu rasanya jika cerita ke mama hubungan gue sudah berakhir, lalu pada akhirnya kita tetap bersama. Gue merasa mama nggak perlu tahu.


"Gina mau masak buat kak Andy, sekalian Gina mau minta izin mama. Nanti agak siangan Gina mau kerumahnya kak Andy." Dengan gugup dan malu akhirnya gue minta izin mama.


"Boleh! Tapi kenapa ya Andy kok sudah lama nggak main ke sini? Waktu itu juga anterin kamu pulang tapi nggak mampir, biasanya kan Andy mampir walaupun sebentar, nggak mau nyapa mama gitu ya?"


Jujur saat mama nanya itu gue bingung, si satu sisi gue nggak berbohong, tapi di sisi lain juga gue belum siap cerita yang sebenarnya. Maaf banget ma, Gina udah bohongin mama. Gue beralibi dan mengatakan Andy sedang sibuk masalah kerjaan, dan kadang kerjaan di bawa kerumahnya. Gue juga nggak sepenuhnya berbohong, karena Kaka ndy juga emang beneran lagi sibuk sama kerjaannya.


Setelah bercakap-cakap dengan mama, gue kembali bertempur dengan wajah dan minyak panas. Mencoba membuka nasi liwet bakar, ikan asam pedas, capcay, dan tumis kangkung. Gue nggak tahu ya makanan gue itu enak atau enggak, yang jelas gue sudah berusaha dan mengerahkan segala kemampuan gue. Masak pun selesai, aja makanan tersebut sudah berpindah ke kotak makanan.


Yang namanya mau bertemu dengan seseorang yang masih spesial, walaupun gue udah nggak ada hubungan, tetapi gue tetap mesti tampil cantik dan kece kan? Gue mau tampil beda, maka dari itu gue sudah menyiapkan sebuah dress cantik yang beberapa hari yang lalu baru gue beli. Sumpah gue beli dress ini tuh emang khusus di pakai kalau ketemu Kak Andy.


Setelah selesai melakukan ritual bersih-bersih. Gue pun langsung mengenakan dress tersebut, dress hitam dengan motif angsa kecil. Bagian yang tidak akan pernah gue lewatkan adalah make up, gue ingin Andy terpana dan terpesona melihat gue. Rambut juga gue Curly, agar terlihat lebih hidup.


"Cantik benar anak mama."


Tuh kan? Mama gue aja muji gue cantik, apalagi kak Andy nanti. Dia pasti bakal terpesona. Tapi gue juga nggak mau terlalu percaya diri, karena ekspektasi kadang tidak sesuai dengan realita.


Tahu nggak sih gimana rasanya di katakan cantik oleh mama, tetapi mama tahu kita akan berkunjung ke rumah pria yang kita suka. Asli sih malu banget, jadi kaya ke-gep sama mama. Gue nggak tahu tuh muka gue semerah apa? Apakah semerah tomat atau semerah blush on yang di templokin ke muka?


Karena udah dapat izin dari mama, akhirnya gue memutuskan untuk segera berangkat. Kotak makan juga udah tersusun rapi dan cantik, di tentang di tangan kiri. Tangan kanan sibuk sama ponsel, karena tadi pesan taksi online.


Tapi hati ini tidak tenang, segala macam perasaan terkumpul di sana. Ada rasa cemas, gelisah, gundah gulana, lebih takutnya gue di tolak. Gue nggak bisa ngebayangin gimana jadinya hidup gue tanpa Andy? Sampai detik ini pun gue masih berharap, bahkan nama Andy masih sering gue sebut di sujud terakhir ketika gue sholat.


Taksi online telah datang, gue langsung naik dan duduk. Untuk menetralisir segala macam rasa di hati gue, gue pun memilih untuk memainkan posel. Daripada bete dan hanya celingak-celinguk menatap jalanan kan? Tetapi justeru karena ponsel itu gue malah semakin merasakan kecemasan yang luar biasa. Ada salah satu folder yang isinya khusus foto dan video kebersamaan gue dengan Andy. Satu bulir bening kristal pun jatuh membasahi pipi, jarak pemisah itu begitu kejam. Otak ini begitu lancang dan tidak sopan memutar ulang semua kenangan yang telah di lalui bersama.


"Kangen banget! Kalau kita tidak bisa bersatu, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu yang lain. Tetapi aku tidak akan sanggup melihat kamu bersama yang lain." Entah mengapa secara spontan gue malah bergumam seperti itu. Seolah-olah gue sudah mengetahui bahwa kita memang tidak akan bisa bersatu seperti dulu lagi.


Karena ambisi gue untuk mendapatkannya Gina itu lumayan cukup besar, gue pun mencoba menepis pemikiran barusan dan berusaha berpikiran positif.


Buru-buru gue mencari cermin di tas yang gue bawa, tanpa sadar gue malah menangis, gue takut make up gue rusak. Gue mencoba men-touch up kembali, dan mematikan semuanya terlihat normal.


Mobil melaju sesuai dengan apa yang gue sebutkan, dan kini mobil telah sampai. Gue segera turun dan membayar ongkos taksi online tersebut. Gue yang notabene nya belum pernah datang ke daerah ini, merasa ragu dan takut nyasar. Apakah ini benar alamatnya? Rumahnya yang mana? Gue harus melangkah ke arah mana?


Berada di tempat baru membuat gue harus menatap ke segala penjuru arah. Gue benar-benar bingung sekaligus pusing, rumahan Andy sebelah mana? Gue hanya berjalan mengikuti kemana kaki ini melangkah?


Ini weekend, jalanan aja macet parah. Kok bisa ya perumahan ini sepi banget? Gue sama sekali tidak berpapasan dengan satu orang pun. Normalnya perumahan yang lain biasanya weekend seperti ini ramai, ada yang main di taman, sepedaan, dan lain sebagainya.


Oke, sekarang gue mulai celingak-celinguk mencari rumah nomor 10. Gue nggak tahu alamat rumah Andy beneran nomor 10 atau bukan? Kata Tiara sih beneran nomor 10, Tiara juga tahu dari Evan. Perumahan ini cukup luas, dan gue cukup kesulitan mencari rumah Andy.


Rumah dengan nomor 10 sudah ketemu, sekarang gue malah hanya berdiri dan diam di depan pintu rumah tersebut. Gue mencoba berpikir dan menyiapkan narasi, untuk sekedar jaga-jaga jika nantinya di bertanya to the point. Rasa gelisah itu kembali hadir, mau pencet bell tapi masih ragu, gue kembali lagi berkaca, menampilkan penampilan gue dan segala macamnya sebelum gue memencet bell.


Dengan tangan yang gemetaran gue pun memencet bel, kaki gue nggak bisa diam dan malah mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung sneaker. Rumah ini juga terlihat sepi, seperti tidak berpenghuni. Padahal hanya ada dua option, di dalam tidak ada orang atau yang punya rumah masih terlelap dalam tidur.


Gue pun kembali memencet bell, berharap kali ini ada yang bukain pintu. Sumpah gue udah pegal banget berdiri lama, mana ini juga di tangan berat banget.

__ADS_1


"Cari siapa?"


Mendengar suara pintu terbuka dan ada suara perempuan, sontak gue langsung membalikan badan. Gue speechless dan sama sekali tidak bisa ngomong apa-apa tetapi mulut gue menganga tanpa di minta. Diambang pintu itu berdiri seorang wanita berwajah imut, perawakannya bagus, rambutnya terlihat berantakan, muka bantal juga masih melekat di wajahnya. Hanya memakai celana pendek dan tang top, sebuah pakaian yang memang sangat nyaman di gunakan untuk tidur.


Sebagai wanita normal yang otaknya masih berfungsi, gue paham betul wanita tersbeut baru bangun tidur, mungkin sisa-sisa iler juga masih menempel di pipi atau di sudut bibirnya. Gue mencoba menatap dan memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala, manik mata gue menatapnya tidak melewatkan satu inci pun dari perawakannya. Kesimpulannya wanita itu memang imut.


"Hallo, mbak cari siapa?"


Wanita itu melambai-lambaikan tangannya tepat di depan muka gue. Mungkin karena guenya kelamaan bengong dan tidak menjawab pertanyaannya.


Gue nggak bisa menjawab, mulut ini terkunci rapat. Tetapi mata ini mulai berkaca-kaca. Kepala gue pusing banget di penuhi beragam pertanyaan. Wanita ini siapa? Apakah Andy meniduri wanita ini? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Bukan tidak mungkin Andy melakukan hal tidak senonoh, tetapi kalau mereka hanya berdua di rumah ini, itu bisa saja terjadi!


"Rin, ada siapa?"


Suara ini gue hafal banget milik siapa?


"Bruuuuuuuuukk!" Semua makanan yang gue masak dengan susah payah itu pun terjatuh di lantai, isinya tumpah dan berserakan.


Rin? Apakah wanita yang di hadapan gue ini adalah Karin yang katanya pacar Andy? Jadi selama ini Andy dan Karin tinggal bareng? Mengapa? Mengapa? Mengapa? Kepala gue serasa mau pecah karena di paksa untuk berpikir mengenai itu semua.


"Ada tamu ya Rin? Kok nggak di izinkan masuk sih?"


Yang bertanya dan pemilik suara itu pun keluar dan menghampiri Karin. Ya, dia adalah Andy. Andy masih bermuka bantal, hanya memakai kaos dalam dan celana pendek. Andy menatap gue dan memberikan senyuman terbaiknya. Gue tahu senyum itu adalah senyum mengejek dan meledek. Andy berasa pamerin pacarnya depan gue.


Gue nggak bisa terus menerus berdiri di sini, gue juga nggak mau terlihat lemah di hadapan mereka. Gue nggak bisa menyaksikan pria yang gue cintai bersama dengan perempuan yang dicintainya. Tanpa kata, tanpa ucapan, tanpa kalimat sedikitpun gue segera membalikan badan dan berjalan setengah berlari. Mencoba menjauh dari mereka berdua.


Hati gue sakit, hancur berantakan. Sakitnya itu real, mereka tinggal seatap dan tidur bersama.


Air mata gue sama sekali tidak bisa di bendung. Sakitnya di hati tapi mata juga ikutan perih. Gue menangis terisak dan sesenggukan, pengen teriak dengan kencang. Tapi gue sadar, ini masih area perumahan dan pastinya akan menggangu banyak orang. Gue merasa nggak mampu untuk jalan, gue terduduk di tepi jalan dengan hati yang masih teriris. Ribuan belati seperti menancap di ulu hati gue, hati gue rusak, hancur, saja terkoyak dengan sempurna.


Gue nggak peduli terhadap orang-orang melihat dan memperhatikan gue. Gue hanya berharap ini semua hanya mimpi, tetapi sayang beribu sayang semua ini nyata. Apa yang gue takutkan menjadi kenyataan, Karin ini nyata adanya.


Kalau gue nggak bisa dapatkan Andy, mendingan gue nggak usah nikah aja seumur hidup. Ini semua konyol dan terdengar gila. Tapi hati dan pikiran gue mengatakan hal seperti itu. Gue akan mati rasa terhadap semua pria kecuali Andy. Sekarang gue bingung dan nggak tahu harus apa? Sejujurnya di saat-saat seperti ini gue membutuhkan bahu untuk bersandar seorang pendengar yang baik yang akan mendengarkan semua keluh kesahnya Gina. Tidak ada Kalista, tidak ada Risa, dan tidak ada Tiara. Mereka semua sedang berbahagia dengan hidupnya, dan gue nggak pantas mengganggu nya.


Gue nggak punya banyak, karena mama selalu melarang untuk bermain. Ada teman hanya beberapa orang, tetapi tidak akrab dan tidak dekat. Apakah gue harus menceritakan semuanya pada mama? Ini nggak mungkin, gue nggak mau mama bersedih gara-gara gue.


Gue sudah menumpahkan semua air mata gue, gue juga sudah berteriak dengan kencang dan lantang, berharap beban di pikiran gue sedikit berkurang. Untungnya taman sepi, benar-benar sepi seperti hati gue. Sehingga gue menangis dan berteriak secara bergantian pun tidak mengganggu siapapun.


Setelah dirasa hati ini cukup tenang. Gue pun memutuskan untuk pulang ke rumah, tetapi membenarkan penampilan gue terlebih dahulu. Mama tidak boleh tahu kalau gue habis menangis. Gue juga langsung mengaborsi semua foto dan video kebersamaan dengan Andy, ini memang cukup berat buat gue. Tetapi apa daya? Karin itu benar adanya, Karin itu nyata! Karin itu calon istrinya Andy. Gue bisa apa? Hanya bisa merelakan dan mencoba bangkit dari keterpurukannya. Hati ini sembuhnya akan lama, karena cinta gue pada Andy terlalu dalam dan melekat.


Sopir taksi online bahkan sampai menegur, karena gue malah melamun. Sebelum benar-benar masuk kedalam rumah, gue berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya, mengusap dada yang terasa sesak sembari menenangkan hati. Gue berjanji pada dirinya gue sendiri, serapuh dan sehancur apapun keadaan hati gue sekarang, gue tidak akan memperlihatkannya pada mama.


Gue bisa bernapas lega karena tidak menemukan mama di ruang tv. Gue berjalan mengendap-endap dan akan langsung melangkahkan kaki menuju kamar.


"Loh udah pulang sayang? Kok sebentar? Nggak main dulu?"


****** gue ******, gue kira gue akan selamat dan terhindar dari mama. Tapi ternyata mama ada dan mengetahui kalau gue sudah pulang.


"Iya ma sebentar aja, kak Andy lagi sibuk." Mau tidak mau akhirnya gue berbalik badan dan menjawab senormal mungkin.


Mama terdiam cukup lama, manik matanya terus menerus menatap wajah gue. Gue nggak tahu apa yang sekarang ada di pikiran mama, tapi feeling gue mengatakan sepertinya mama menyadari perubahan wajah gue.


"Gina."


Mama gue berkata sangat lembut, tidak seperti biasanya.


"Iya apa mama?" Jawab gue dengan lirih, gue juga memberikan senyuman.


Tiba-tiba mama gue langsung menghampiri gue dan merangkul gue, dan menyueuh gue duduk di sofa. Kalau perlakukan mama seperti ini, sepertinya gue nggak akan sanggup membendung air mata itu. Mama tidak berbicara sepatah katapun, tetapi kelakuannya sangat lembut. Puncak kepala gue di usap dengan lembut.


Gue nggak bisa lagi membsndung air mata ini, bendungan itu meluap dan meluber membasahi pipi gue dan membasahi baju dan bahu mama. Gue percis banget kaya anak kecil yang lagi nangis manja di bahu mama. Beban gue kali ini terlalu berat, tetapi dengan adanya pelukan dan perlakuan mama membuat gue merasa lebih tenang. Entah sudah berapa lama gue nangis di pelukan mama? Yang pasti tangis gue sudah mulai merasa dan gue perlu ngomong dan minta maaf sama mama.


Akhirnya gue lebih memilih jujur dan menceritakan semuanya pada mama, tetapi sebelumnya gue meminta maaf terlebih dahulu karena sudah membohonginya. Mukut gue kali ini sangat jujur, karena gue juga merasa saat ini hanya punya mama, dan mama satu-satunya orang yang bisa menampung curahan hati gue.


Gue jelaskan semuanya, gue sudah putus dengan Andy sejak beberapa bulan yang lalu. Gue jelaskan secara detail dan terperinci, putus karena gue yang terlalu emosian. Gue juga menceritakan tentang ucapan-ucapan gue yang cukup melukai hatinya. Gue juga bilang blak-blakan sama mama kalau gue sebenernya masih mencintai Andy dan meminta balikan. Bukannya gue nggak tahu malu ataupun sedang merendahkan harga diri gue sendiri, tetapi cinta gue pada Andy terlalu dalam.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2