
"Kenapa sih kalian kepo banget? Kalian itu masih kecil, jangan banyak tanya soal pernikahan deh." Cibir Arka, bibirnya mencebik seraya meledek Gina, Tiara, dan Risa.
"Justeru istri bapak lebih muda daripada kita." Gina menjulurkan lidahnya pada Arka.
"Eh, emang Risa usianya berapa tahun?" Tanya Tiara.
"Aku 23." Jawab Risa.
"Seumuran dong sama Kalista, pantasan aja mukanya masih imut-imut gitu, ternyata baru 23 tahun toh." Gina menatap Risa, selain polos ternyata Risa juga memang masih muda.
"Kalian hebat banget ya, usia mulai dewasa tapi muka masih loli gitu. Apalagi ini nih si bunda anak dua, kalau jalan ke mall sendirian pasti di kira masih ABG, hati-hati loh pak." Celetuk Tiara, memang benar Kalista itu awet muda. Usia boleh 23 tahun dengan status bunda anak dua, tapi wajahnya masih kaya remaja 17 atau 18 tahunan. Kalaupun cerai dengan Arka, masih laku juga sama brondong.
"Maka dari itu, saya tidak mengizinkan istri saya ngemall sendirian, ke supermarket sendirian, pergi ke restoran atau ke kafe sendirian. Kemanapun dia pergi saya harus ikut, atau minimal dia pergi bawa anak deh. Biar nggak ada yang ganggu atau godain gitu. Bahaya dong, gue nggak mau ya jadi duda." Arka mengendus-endus pipi Kalista.
"Ish diam deh! Aku lagi repot nih." Kalista menjauhkan wajahnya dari Arka.
"Ya ampun pak, baru aja seminggu. Tahan dong." Celetuk Tiara sambil terkekeh geli. Memang benar kata orang-orang, kalau di kantor Arka sangat serius dan dingin, giliran dekat sama Kalista sikap manjanya muncul.
"Gimana nggak tahan coba? Udah lahiran aja badannya masih bagus, seksi banget malah." Kali ini Arka berhasil mengambil cium pipi Kalista.
Nayla sudah tertidur di box bayi, Nayla merupakan anak yang baik, walaupun ini di kamarnya lagi ramai tetap saja dia tidurnya pulas dan nyenyak.
"Dasar gombal! Jadi begini ya bapak Arka, saya juga tidak ingin menjadi janda. Saya tidak siap kehilangan uang belanja kebutuhan dapur, uang shopping, uang perawatan, ATM tanpa limit, uang ini dan uang itu. Segalanya yang berhubungan dengan uang, aku nggak siap kehilangannya." Kalista menjeda sejenak kalimatnya, sengaja karena ingin melihat ekspresi Arka saat ini.
Wajah tampan itu terlihat kecut dan mengkerut, masam dan menyebalkan. Wajah itu terlihat sangat jengah, istrinya sama sekali tidak takut kehilangannya, istrinya hanya takut kehilangan ATM berjalan yang selama ini di cukupinya.
"Untung Nathan dan Nayla udah pada bobo, kasian soalnya sekarang ada aura-aura suram dan menakutkan." Celetuk Gina sambil menggeser duduknya lebih mepet ke Tiara.
Tiara sudah cengar-cengir saja melihat CEO kantor Anggara berubah ekpersi wajahnya, sedangkan Risa hanya menyaksikannya saja, Risa belum banyak berbicara dan berinteraksi, karena dia juga baru mengenal Kalista, Arka, Gina, dan Tiara baru seminggu yang lalu.
Risa bersyukur bertemu dengan mereka yang di anggapnya sebagai orang baik, coba saja kalau tidak bertemu mereka, sudah bisa di pastikan sampai saat ini juga Risa masih melayani keinginannya Riko sesuai dengan persyaratan.
"Nggak nyangka istriku matre! Mungkin besok-besok kalau ketemu om-om gendut tapi banyak duit, dan perusahannya berada di seluruh mancanegara, walaupun om itu gendut, pendek, dekil, kumel, kumisnya tebal, kepalanya cepak, kamu masih tetap mau? Ya ampun cantik-cantik gelap mata." Arka memutar bola matanya jengah, kini Arka merebahkan dirinya di kasur lantai di dekat box bayi, manik matanya menatap langit-langit kamar Nathan dan Nayla.
Kalista tersenyum penuh kemenangan, tangannya masih sibuk mengancingkan baju di bagian dadanya. Berjalan mendekati Arka, lalu berbisik pelan di telinganya. "Ayah cemburu? Kok mukanya jadi jelek sih?" Tanya Kalista, setelah selesai mengucapkan kalimat terakhirnya, kalista sedikit nakal dengan menghembuskan napasnya secara pelan dan perlahan.
"Bunda ya ampun." Arka membalikan badannya, menatap Kalista dengan tatapan penuh cinta dan penuh gejolak kehangatan.
"Apa sih?" Tanya Kalista pura-pura tidak tahu, dan dia juga malah menghindari tatapan Arka yang tajam menusuk.
"Nggak bertanggung jawab!" Arka mencolek punggung Kalista.
"Bodoamat! Soalnya aku mau mencari om-om, nggak apa-apa, pendek, item, dekil juga yang penting moneynya tebal." Kalista mengedipkan sebelah matanya, tetapi jauh di lubuk hatinya sebenarnya Kalista mengucap amit-amit.
"Istighfar Bun ih, Nathan dan Nayla dengar loh."
"Iya ih amit-amit, aku tuh bercanda. Lagi pula aku mana sanggup kehilangan roti sobek kaya kamu. Kamu itu sosok suami yang sangat berarti bagi aku, bonusnya kamu memiliki tampang yang tampan dan mempunyai banyak duit." Kalista tercengir sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
"Dan kamu beruntung memilikiku, dan aku pun beruntung memilikimu. Sepasang suami istri yang sama-sama beruntung, lalu di anugerahi putra dan putri yang tampan dan cantik, lengkap sudah kebahagiaan rumah tangga kita." Arka mengecup puncak kepala Kalista sampai beberapa kali.
"Sayang banget sama suamiku." Kalista mengalungkan tangannya di leher Arka, saling menatap dan tersenyum mesra.
"Sayang banget sama istriku, bunda dari anak-anakku, panjang umur Bun, kan kita mau nambah anak lagi." Arka tercengir kuda.
"Mau ngajak nambah anak, tapi kamu baru lahiran seminggu. Ya ampun aku harus nunggu sampai 2 bulan, bunda gimana ini? Kalau ayah nggak tahan, nanti ayah jajan di luar loh." Di akhir kalimat Arka sengaja memancing emosi Kalista.
"Amit-amit, jangan sampai deh! Apa kata Nathan dan Nayla nanti? Ayah mereka ternyata seorang hidung belang." Kalsyta mendelikkan matanya jengah, menatap Arka dengan tatapan jengkel.
"Becanda, udah punya istri cantik kaya gini ngapain jajan di luar? Bodoh banget dong aku, lagi pula kamu kan masih punya dua tangan, bisa kali bantuin aku." Arka menaik turunkan kedua alisnya, ada maksud terselubung yang terselip di kalimat terakhirnya.
__ADS_1
Mereka berdua terlalu asyik mengobrol, mulai dari hal-hal romantis, sampai rencana nambah anak pun mereka bahas. Keduanya saling merangkul dan berpelukan, kecupan demi kecupan telah mendarat di pipi mereka masing-masing. Saking asyiknya mengobrol, mereka berdua sampai tidak sadar, bahwa di ruangan ini masih ada Gina, Tiara dan Risa.
"Kita ini hanya jadi penonton, dan pendengar. Menonton pasangan suami istri yang bucinnya melebihi anak baru gede." Cibir Tiara, habisnya Tiara merasa kesal. Kalista dan Arka selalu memamerkan kemesraan di depan umum.
"Kalau ngomongin soal cinta dan masa depan tuh suka lupa sama kalian sih, asyik banget dunia serasa milik berdua, kalian tuh cuma ngontrak." Arka tertawa terbahak-bahak, bukan karena ucapannya yang baru saja di lontarkan. Tetapi Arka teringat tentang rencananya nambah anak yang tadi di bahas bersama Kalista, otomatis mereka dengar semua dong.
"Bucin banget ya bapak CEO ini." Ledek Tiara yang langsung di sambut gelak tawa oleh mereka semua.
"Btw, pasangan bucin kalian mana?" Tanya Arka, Arka baru nyadar ternyata mereka hanya bertiga, biasanya Evan dan Andy selalu ikut serta.
"Nggak tahu tuh! Mendadak nggak bisa di hubungi." Lirih Tiara, lalu Tiara mengambil ponselnya dan menatap layar ponsel itu. Sudah beberapa jam ini Evan masih belum menghubunginya.
"Nggak di kasih minum nih kita? Orang kaya tuh gimana sih?" Celetuk Gina meledek Arka dan Kalista, semenjak dari tadi mereka datang sama sekali tidak di suguhi minuman ataupun cemilan.
"Minum dan cemilan sudah di siapkan oleh pelayan di ruang tamu, karena kamar ini harus selalu bersih dan steril, yakali nanti ada sisa-sisa makanan di sini." Jawab Kalista.
"Oh begitu!"
"Hati-hati loh! Mungkin aja kan sekarang Evan dan Andy sedang bermain wanita, biasanya sih ya pas gue juga masih single kalau weekend gini tuh nongkrong di kafe, karena kira-kira tuh tampannya maksimal, cewe-cewe tuh pada nyamperin sendiri. Bahkan sampai ada yang ngajak check in ke hotel, keren banget kan pesona kita." Arka berusaha membuat suasana hati Tiara dan Gina menjadi panas terbakar api cemburu, sesekali membuat hubungan mereka menimbulkan percikan api tidak masalah lah ya.
Tiara dan Gina terdiam untuk beberapa detik, keduanya masih berusaha mencerna semua ucapan Arka barusan. Bisa jadi apa yang dikatakan Arka itu benar, soalnya Tiara dan Gina juga tidak tahu menahu gimana kelakuan para kekasihnya jika tidak bersamanya.
"Ih kebiasaan deh, jangan di komporin! Biasalah ya suami gue tuh emang hobi banget ngerjain kalian, nggak usah di pikirin." Kalista mencubit pelan pinggang Arka, kemudian berusha menenangkan Tiara dan Gina. Gina sih sudah dewasa, pasti pikirannya positif thinking aja. Sedangkan Tiara, dia pasti bakalan kepikiran, toh dia juga udah pernah di khianati dan cintanya berakhir begitu saja.
"Nggak usah bengong deh, gitu aja langsung kepikiran. Lemah banget sih." Kalista berusaha merangkul Tiara, dan menenangkannya.
"Risa, gimana kerjaan? Betah nggak?"
Risa yang memang sedang bengong dan tidak terlibat dalam percakapan yang terjadi beberapa menit yang lalu itu cukup kaget. "Ah betah banget pak, terimakasih sudah memberikan saya kesempatan untuk bekerja di kantor bapak." Jawabnya gelagapan, karena lagi bengong tiba-tiba di tanya.
"Santai aja, nggak usah kaget ataupun panik. Bapak CEO ini baik kok." Gina menepuk-nepuk punak Risa. Risa tersenyum dan langsung menganggukan kepalanya.
"Cemburu? Merasa di duain? Atau jadi nggak ada waktu buat pacaran di kantor? Makan bareng berduaan di kantin? Kangen ya sudah satu pekan ini terhalang kerjaan, padahal kalau di pikir-pikir kalian kan satu ruangan, masa iya masih kangen aja." Tiara mencolek dagu Gina sambil berusaha menggodanya, Gina emang dewasa tapi soal cemburu dia sama sekali tidak bisa menyembunyikannya.
"Iya gue cemburu! Sebal juga sih kerjaan terus, biasa pulang bareng juga sekarang gue malah sering pulang diantar Abang taksi online." Gerutu Gina dengan bibir manyunnya.
"Tuh protes sama bapak CEO, bapak CEO itu kan yang buat do'i lu jadi banyak kerjaan." Ya ampun dasar Tiara kompor, dia sekarang malah nyalahin Arka.
"Nggak berani, takut di pecat." Ujar Gina dengan cengir kudanya, kemduain mereka semua tertawa.
"Besok gue masuk kerja kok, Andy nggak bakalan terlalu sibuk, dan Risa juga besok bisa di arahkan sesuai dengan kemauannya di bidang apa gitu." Ujar Arka sambil memainkan ponselnya.
"Tapi, sebenarnya kalau boleh memilih sih gue malas ngantor, maunya di rumah aja menemani istri ngurus Nathan dan Nayla." Imbuhnya lagi, ponsel telah di jauhkan dari genggamannya, sekarang Arka malah memeluk mesra Kalista.
"Loh katanya mau jadi suami sekaligus ayah yang baik dan bertanggung jawab, masa iya buat masa depan Nathan dan Nayla aja kamu malas-malasan, apa kata anak-anakmu nanti?" Celetuk Kalista, Kalista sekarang sedang mempermainkan rambut Arka.
"Iya bunda, tapi nanti sering-sering video call ya, atau minimal kirim foto bunda dengan Nathan dan Nayla, soalnya pasti bakalan kangen banget." Arka merajuk manja pada kalista, Arka memang sifatnya begini jika berada di rumah bersama istrinya, tidak peduli ada sahabatnya ataupun ada sahabatnya Kalista.
Hening beberapa saat, Kalista Arka sibuk mengobrol, sedangkan Tiara, Gina dan Risa malah sibuk melihat-lihat baju di online shop, mereka sepertinya berdiskusi mengenai warna bajunya, mungkin mereka akan membeli baju samaan.
Sedangkan Nathan dan Nayla bibinya nyenyak banget, bersikinya Arka, Kalista, Tiara, Gina, dan Risa sama sekali tidak mengganggu aktivitas tidurnya, mereka berdua mah bobo nyenyak aja terus, pulas banget.
"Jangan sibuk ngurusin anak, mendingan nongkrong di kafe anggrek, seru nih lagi ada live musik, banyak cewe-cewe cakep pula." Arka membaca salah satu pesan WhatsApp dari Evan.
"Chat dari siapa?" Tanya Kalista swmbil meautkan sebelah alisnya. Tiara dan Gina saja merasa penasaran.
"Dari Evan." Jawab Arka datar dan singkat, tangannya sudah sangat lincah menari-nari diatas tombol keyboard di ponselnya.
Tiba-tiba Tiara merasa hatinya panas, kepalanya bergejolak dan menindih. Ingin sekali mengumpat dan berkata kasar, namun Tiara masih bisa menahannya, karena tahu diri juga sedang dirinya sedang bertamu di rumah bossnya.
__ADS_1
"Mau tahu yang lebih lagi? Gue telpon mereka nih, tapi kalian jangan berisik deh. Biar kalian tahu juga gimana sih kelakuan pacar-pacar kalian kalau di luaran." Ujar Arka, Tiara langsung mengangguk dan mengiyakan dengan antusiasme tinggi.
Arka berusaha menghubungi Evan, tapi masih belum di angkat juga. Mungkin mereka telah sibuk atau mungkin sedang fokus menonton live musik, atau jangan-jangan mereka sedang merayu seorang wanita?
"Ada apaan?" Tanyanya di sebrang telepon, nada suaranya ketus banget, kaya yang ke ganggu gitu.
"Lagi dimana?" Tanya Arka tak kalah ketusnya.
"Kafe anggrek bro! Nongkrong bareng Andy dan Riko." Jawabnya santai.
Mendengar nama Andy di sebut dan sedang bersamanya di kafe anggrek, Gina langsung mendekat dan berusaha menajamkan pendengarannya.
"Sini lah nongkrong! Banyak yang bening di sini." Anaknya, terdengar dari suaranya sih ini suaranya Riko.
"Ogah! Di rumah punya bini cantik, bonusnya sekarang punya bocah ganteng dan cantik juga. Gue nggak doyan sama wanita-wanita seksi yang sering nongkrong di kafe, tapi pesannya cuma jus doang." Jawab Arka dengan tegas.
"Sesekali selingkuh nggak apa-apa bro! Jangan terlalu serius sama istri dan anak deh, apalagi sekarang istri kondisinya masih pemulihan pasca lahiran, mana bisa di ajak tidur. Kalau nggak kuat kan bisa nyari wanita satu malam di club." Lalu mereka bertiga pun terkekeh di seberang telepon.
Kalista langsung merebut ponsel yang di genggam Arka, dan menempelkan ke telinganya.
"Dengerin baik-baik ya wahai kalian pria-pria tidak baik, suami gue itu cinta banget sama gue, cinta mati deh pokonya. Cinta kita sejati, semakin di perkokoh dengan kehadiran si buah hati. Kalian ini kan belum menikah, mana paham gimana hubungan rumah tangga? Jangan ngajak suami gue biar nggak benar kaya kalian deh, dasar setan." Deru napas Kalista sangat memburu, karena kesal juga mendengar suaminya di ajak nongkrong dan di tawari yang bening.
"Emang gila tuh mereka." Ujar Tiara dengan wajah jengahnya.
"Arka juga nggak tergoda tuh sama wanita-wanita murahan kaya gitu, toh gue lebih cantik dan lebih segalanya. Bahkan Arka tidak akan sanggup hidup tanpa gue." Kalista masih memagari mereka via telepon, Kalista juga merasa ubun-ubunnya bergejolak, istri makan yang tahan ketika mendengar suaminya diajak selingkuh.
Arka?
Justeru sangat gemas dan hanya tertawa saja melihat istrinya sayang terpancing emosi, dan terbakar api cemburu. Itu semua menandakan bahwa istrinya juga sangat mencintainya.
"Serem kali ini ibu negara marah-marah." Riko langsung tertawa, tawanya terkesan meledek.
"Istri gue pasca lahiran nih, jangan di buat emosi lah."
"Kalian nggak ada niatan buat jenguk anak gue gitu? Gila sih kalau nggak lihat, nanti kalian menyesal seumur hidup. Soalnya anak gue itu MasyaAllah tabarakallah ganteng dan cantiknya."
"Ada! Rencananya sehabis norngrong juga bertiga ke rumah lu, mau bawa cewe cantik juga." Jawab Evan, telepon langsung di putus begitu saja, dan tidak memberikan kesempatan untuk Arka menanggapi kalimat terakhir yang di ucapkannya.
"Dasar gila!" Umpat Tiara dengan emosi yang memuncak.
*****
"Ke rumah Arka sekarang?" Tanya Andy, tetapi matanya tetap menatap layar ponselnya, dan jarinya sibuk berselancar menekan-nekan abjab di keyboard ponselnya.
"Nanti dulu lah! Gue masih betah nih, udah lama juga kan kita nggak nongkrong kaya gini." Jawab Evan, manik matanya masih celingak-celinguk menatap setiap sudut kafe ini, entah apa yang di carinya?
"Setuju tuh! Gue juga udah lama nggak nongkrong sebebas ini, kerjaan di Coffee shop kadang numpuk banget sampai menyita hampir semua waktu yang gue punya." Celetuk Riko yang memang masih ingin menikmati suasana kafe anggrek ini.
"Oke." Jawab Andy datar. Tangan dan matanya masih berfokus pada layar ponselnya. Entah berapa jam ponselnya di matikan, dan terdapat banyak pesan dari Gina. Mulai dari pesan yang biasa saja, sampai pesan yang marah-marah ohn ada, lengkap semuanya beserta jam dan tanggalnya.
Bersambung....
----------------------------------π»π»
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Minal Aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batinπ€
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13β€