
"Kok bete gitu sih mukanya?" Evan mencolek dagu Tiara. Kemudian menatapnya lekat-lekat, manik matanya terlihat sangat indah.
"Diam deh!" Jawab Tiara dengan jutek, kemudian menepis tangan Evan.
"Nah kan benar marah! Baru juga jadian udah marahan aja nih, mana sub masalahnya atas dasar nama si mantan pula." Andy tertawa terbahak-bahak, sesuai dengan prediksinya dari awal, Tiara bakalan marah, dan itu terbukti.
"Diam deh! Pacar lu tuh segala ngajak main jujur-jujuran sih." Evan menatap Andy dengan jengah.
"Terus kalau nggak tes kejujuran! Kak Evan mau bohongin Tiara gitu ya? Wah parah nih udah punya niatan mau bohongin Tiara." Sekarang Gina ikut-ikutan manas-manasin Tiara.
Evan menatap Andy dan Gina dengan sangat jengah, menarik napas kemudian membuangnya dengan kasar. "Kalian tuh bahagia banget ya, lihat gue sama Tiara marahan." Evan berbicara dengan nada sewot.
"Iya senang banget!" Jawab Andy dan Gina bersamaan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bujuk dong bro, masa iya Tiara dibiarkan begitu aja, lihat dong itu bibirnya manyun kaya donald bebek." Ledek Arka.
"Kalau gue pribadi, kalau Kalista marah kaya gitu, makan aja udah bibirnya." Imbuhnya lagi sambil mendekap Kalista, Arka terlalu terang-terangan menunjukan kemesraannya.
"Ide bagus." Ucap Evan dengan mata berbinar, kemudian menarik Tiara dengan sangat kasar ke pelukannya.
Detik berikutnya, Evan sudah berhasil menerobosnya lidahnya kedalam mulut Tiara, Tiara meronta-ronta karena malu dan ingin segera di lepaskan. Namun sayang, lidah Evan lebih dulu membelit lidah Tiara.
"Udah, aku nggak marah." Dengan napas tersenggal-senggal Tiara berusaha mendorong bahu Evan. Bibir mereka baru saja terlepas.
"Nah gitu dong, masa lalu biarlah menjadi masa lalu dan berlalu. Yang terpenting saat ini dan seterusnya, dan masa depan adalah aku selalu bersamamu." Evan mengecup puncak kepala Tiara.
"Enak nggak ra? Kurang lama ya?" Tanya Kalista sambil cengir cengengesan.
"Nggak! Lebih enak yang kemarin di apartment." Ujar Tiara sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Pas di apartment kan cuma ada kalian berdua, nggak ada yang ganggu sama sekali. Ya pasti enak lah, tangan Evan juga nggak bakalan diem aja." Terdapat sebuah sindiran dari kalimat Andy, Andy bahkan tersenyum sinis menatap Evan.
"Betul banget bro! Gimana tangan gue mau diam, Tiara datang ke apartment gue pake baju crop yang mengekspos perutnya, roknya juga super mini. Apalagi saat itu gue baru selesai mandi, otomatis gue lagi kedinginan dong. Pas banget nih wanita cantik datang, gue jadi anget deh."
Evan berbicara terang-terangan, tanpa ada sensor sedikitpun.
"Btw, udah larut nih. Balik yuk." Ajak Gina pada Andy.
"Yuk, bahaya juga nanti mama kamu melototin aku. Serem banget tahu." Andy bangkit dan langsung menggandeng tangan Gina.
"Iya gih pada balik sana, gue udah nggak tahan mau bobo sama istri gue." Arka malah sibuk mengendus-endus wangi rambut dan leher Kalista.
"Otaknya kayanya cuma bisa mikirin seputaran pangkal paha." Celetuk Evan yang langsung berdiri dan mengambil kunci mobilnya.
"Biarin aja! Toh gue udah halal." Menjawab tanpa memandang Evan, kemudian menjilat pelan leher Kalista.
"Ish, masih ada mereka." Kalista meringis dan langsung menghindari Arka.
"Yuk balik yuk!" Ajak Evan yang masih berdiri di ruang tamu.
"Balik-balik aja, tapi masih pada berdiri di situ." Bibir Arka mencebik seraya memandang malas mereka-mereka yang katanya mau balik tapi masih saja belum keluar dari apartment Kalista.
"Yaelah nggak sabaran banget sih, dasar rakus lu." Gerutu Evan, bibirnya mencebik.
"Mau balik kemana ra? Rumahmu atau ke apartment gue?" Ya ampun Evan, mana bisa kaya gitu. Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu dengan menaik turunkan sebelah alisnya.
"Anterin pulang ke rumahnya! Kalau di bawa ke apartment lu berarti besok gue bawain penghulu!" Andy menumpuk pelan kepala Evan.
"Siap!" Jawab Evan pasrah.
"Happy birthday, I wish, always God bless you." Tiara memeluk Kalista sebelum keluar dari apartment itu.
"Selamat ulang tahun nyonya Arka, sehat terus dan semoga persalinannya nanti lancar." Ujar Gina yang ikutan memeluk Kalista.
"Amin, terimakasih ya kalian sudah ikut andil dalam acara ini. Terimakasih juga kadonya." Ucap Kalista berterimakasih.
"Hati-hati di jalan! Para cowok jagain para bidadari ya!"
"Siap! Tidak akan di biarkan lecet sedikitpun. Aman deh pokonya!" Andy dan Evan mengacungkan jempolnya.
Setelah mereka pulang, suasana kini menjadi lebih sunyi. Di apartment ini hanya ada Arka dan Kalista, jarum jam menunjukan waktu pukul 22:15 WIB, pantas saja sudah sunyi senyap, yang terdengar hanya ada dentingan jarum jam yang terus menerus bergerak tanpa lelah.
"Kangen sayang." Arka memeluk erat tubuh Kalista yang sekarang lebih gemuk daripada dulu. Bibir Arka sibuk mengendus-endus wangi tubuh Kalista.
"Suruh siapa cuekin aku? Tersiksa kan? Biasanya tidur ada yang ngelonin, eh tiba-tiba cuma peluk guling. Rasain tuh!" Kalista menjawil pelan hidung Arka.
"Aku juga sebal banget! Meluk guling nggak enak, guling mah penurut. Beda sama kamu, kamu mah di peluk terasa anget, kadang-kadang berontak nggak bisa diem." Arka mengecup pipi Kalista, tubuh Kalista masih terus berada dalam dekapan Arka.
"Anak-anak ayah! Ayah kangen banget sayang." Arka mengelus perut buncit itu, kemudian mencium mesra perut yang berisi dua bocah kembar.
"Lepasin dulu ayah, bunda mau bukain kado." Kalista berkata sangat lembut, jari-jari tangannya mengusap lembut dada bidang Arka.
"Iya bunda, ayah lepasin kok." Arka tersenyum sambil melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Kalista.
"Btw, senang banget di panggil ayah, berasa dua bocah kecil sudah ada di dunia." Garis bibir itu tertarik sehingga menjadi sebuah garis berbentuk lengkungan.
Kalista menanggapinya hanya dengan senyum sumringah.
Beberapa kado dengan bungkus yang sangat unik dan ciamik tertumpuk di meja ruang tamu. Ada bungkusan kecil dan bungkusan besar.
"Happy birthday selamat ulang tahun nyonya Arka yang selalu menjadi istri kebanggan Arka, sehat terus ya. Semoga kadonya bermanfaat." Isi notenya seperti itu.
Dengan sangat penasaran Kalista langsung merobek bungkus kado itu. Di dalamnya ada sebuah kotak kecil berwarna simpel.
"Arrrrghh dasar gila." Begitu kotak itu terbuka, manik mata Kalista terbelalak dan langsung melemparkannya ke sudut ruangan.
"Ada apaan?" Tanya Arka bingung sekaligus penasaran, karena barusan Arka baru saja kembali dari dapur.
Arka berjalan ke sudut ruang tamu, mengambil kotak itu lalu tersenyum menyeringai. "Dasar Evan! Tapi di simpan saja sayang, lumayan nanti kita pake kalau si kecil sudah lahir." Arka mengedipkan sebelah matanya menggoda Kalista.
"Ih dasar mesum!"
"Biarin aja! Aku nikahin kamu, agar ketika aku lagi mesum ada pelampiasan atau dalam kata lain bisa tersalurkan gitu loh."
"Apa-apaan kaya gitu? Menikah harusnya menyempurnakan agama, menghindarkan diri dari zina..,"
"Iya sayang, intinya sih gitu! Barusan aku becanda loh." Arka langsung menyela ucapan Kalista, Arka menyadarinta jika mereka berdebat sudah bisa di pastikan perdebatannya pasti bakalan memanjang.
Kalista sudah tidak menghiraukan ocehan yang keluar dari mulut Arka, dia malah sibuk dengan kotak kado berwarna ungu. Tertulis di atasnya dari Tiara.
"Dasar pasangan mesum! Cowoknya ngasih kado obat kuat, cewenya ngasih lingerie jumbo. Gesreknya sebelas dua belas nih." Ketus Kalista sambil bergidik ngeri.
"Sengaja beli yang jumbo, agar muat di pake bumil. Nggak kebayang gue betapa seksinya tubuh lu memakai lingerie berwarna merah ini, gue yakin deh kayanya pak Arka bakalan melotot lebih nafsu melihat tubuh gendut lu dalam balutan lingerie. Sengaja gue juga milih warna merah, soalnya warnanya cerah menggoda aduhay deh pokonya, kuat banget iman suami lu kalau sampai nggak tergoda. Btw, happy birthday sahabat gue satu-satunya." Arka baru saja selesai membacakan note yang di tinggalkan Tiara dari bungkus kadonya.
"Hmmmmm, ide bagus! Jadi pengen cepat-cepat lihat kamu pakai lingerie ini." Raut wajahnya sudah terlihat sangat mesum, satu tangannya mengangkat lingerie itu.
"Ini dari ayah." Kalista dengan sangat tidak sabaran langsung merobek bungkus kadonya. "Wow daster, baju bayi, berbagai macam mainan bayi juga." Ujar Kalista sambil mengeluarkan satu-satu isi dari kotak tersebut. (Ayah yang Kalista maksud adalah pak Anggara)
"Ini bukan hadiah mewah, tetapi ini di sulam langsung oleh tangan Oma." Manik mata Kalista membulat sempurna ketika membaca tulisan tersebut, kemudian langsung membuka kotak kadonya, isinya adalah baju rajut satu set, untuk Arka, Kalista, dan dua baju rajut kecil untuk si bocah yang masih meringkuk di perut Kalista.
Acara buka membuka kado benar-benar membuat Kalista merasa bahagia. Di tahun-tahun yang lalu, jika Kalista ulang tahun palingan hanya mendapat dua kado rutin. Satu dari Tiara, satunya lagi dari dokter Rian, kalau dari ibu kost biasanya memberikan donat yang di tengahnya di kasih lilin putih biasa.
"Kado dari suamiku apa?" Tiara yang baru saja selesai membuka semua bungkusan kado itu pun langsung menatap Arka secara intens.
"Masih mau kado dari aku? Semua ini yang telah aku lakuin nggak kamu anggap kado?" Tanya Arka dengan tatapan yang tak kalah intens nya juga.
"Ih, masa kaya gini doang?" Tanyanya lagi, bibirnya mencebik dan manyun.
"Emang istriku mau di kasih kado apa dari suamimu ini?" Tanya Arka dengan sangat lembut.
"Nggak mau! Nggak usah, untuk urusan kado saja kamu nggak peduli." Membuang muka, dan memilih menatap sudut ruangan daripada harus melihat Arka.
"Kok marah?" Arka berusaha menangkup Kalista dan berusaha menatapnya.
"Diam deh!" Jawabnya sewot.
"Mau kado apa sayangku?" Arka masih berusaha mencoba bertanya.
"Aku mau kejutan!" Jawabnya masih sewot, jutek dan suaranya sedikit meninggi.
Alih-alih bukannya memberikan kado, Arka malah membuat Kalista semakin kesal dan geram. Tapi, sebenarnya Arka sangat menyukai moment-moment seperti ini, melihat wajah jutek istrinya, duh nggak kebayang deh nanti ketika kedua bocah kembar telah lahir, yang cewe tabiatnya pasti sama seperti Kalista, dan yang cowo tabiatnya pasti nggak kalah jauh dari Arka. Semoga sifat mesumnya Arka nggak turun tuh ke bayi cowok mereka.
Arka yang sedang duduk di sofa pun mencoba untuk bangun dan berdiri, perih di punggunya semakin terasa, Arka tetap tersenyum mencoba membuang rasa sakit dan perih itu. Arka tidak mau membuat Kalista khawatir.
"Ke kamar yuk!" Arka mengulurkan tangannya, mengajak Kalista pergi ke kamar.
"Ngapain sih?" Tanyanya masih sewot.
"Bobo sayang." Jawab Arka dengan enteng, matanya berkedip sebelah.
"Nggak mau! Dasar mesum."
__ADS_1
"Kamu marah-marah terus gara-gara nggak aku kasih kado, dari dulu aku selalu tawarin kartu tanpa limit, kamunya nolak terus. Coba kalau kamu terima, kamu mau beli ini itu aja tinggal beli, nggak usah tuh nunggu-nunggu aku yang bayarin. Dikasih enak nggak mau, maunya malah yang ribet-ribet." Arka menggerutu, kilatan matanya menyorotkan seolah-olah dia sedang marah beneran, padahal sih sebenarnya dia hanya pura-pura.
"Nurut deh sama suami!" Kata Arka lagi, tetapi kali ini bicaranya lumayan lembut.
Dengan wajah yang geram, kusut dan masam, Kalista bangun dan berdiri. Mengikuti langkah Arka dari belakang, hingga kini sampai lah di depan pintu kamar.
"Bukain pintunya sayang." Perintah Arka.
Kalista menatap Arka jengah, buka pintu aja harus Kalista yang lakuin. Nggak bisa apa ya sehari ini saja Kalista benar-benar di manjain, di spesialin, atau di istimewakan. Semua wanita kan maunya merasa happy dan dan bahagia di hari pergantian usianya.
Tatapan Kalista fokus ke depan. Pintu telah terbuka, dan alangkah terkejutnya Kalista melihat kamarnya sudah berubah menjadi sangat cantik. Ada lilin yang menyala di sekitaran kamar membentuk angka 23, kelopak-kelopak bunga mawar merah yang membentuk love. Satu buket besar bunga matahari. Di dinding kamar ada balon huruf yang membentuk kalimat "Happy Birthday my Wife❤"
Mata Kalista masih saja terbelalak dan membulat sempurna, masih melongo menatap kamarnya yang sudah berubah di sulap jadi sangat cantik. Masih berdiri mematung di depan pintu dengan lelehan air mata yang sudah tidak terbendung sedikitpun, air mata kebahagiaan itu semakin banyak dan deras membasahi pipi cantik seorang bumil.
Langkah kaki Arka membawanya masuk ke dalam kamar itu, tangannya mencoba meraih satu buket bunga matahari yang ukurannya benar-benar jumbo, bahkan badan Kalista saja bisa tertutup oleh buket itu.
🎶Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan s'lalu memujamu🎶
Arka kembali menyanyikan satu bait dari lagu sempurna. Walaupun suaranya fals, tetapi tetap tidak mengurangi sisi romantisnya. Berusaha memberikan buket bunga matahari itu pada Kalista, dengan posisi jongkok di hadapan Kalista. Mirip seperti anak muda jaman now yang sedang menyatakan cinta dengan mengulurkan satu tangkai mawar merah, bedanya ini buket ukurannya sangat jumbo.
"Selamat ulang tahun kesayanganku." Tersenyum ramah dan sumringah bahkan mungkin wajah Arka terlihat manis dan ketampanannya meningkat pesat.
Sudah tidak kuat lagi menahan gejolak yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. Kalista buru-buru mengambil buket bunga di tangan Arka, lalu memeluk dan mendekap Arka dengan sangat erat. Air matanya tentu saja terus meleleh, dan nggak habis-habis.
"Terimakasih." Ucapnya lirih bahkan hampir tidak terdengar, karena suaranya serak.
"Aku masih punya kejutan lainnya sayang." Garis bibir itu kembali melengkung, bibirnya mendarat secepat kilat di dahi Kalista. "Duduk dulu ya!" Arka mendudukan Kalista di tepian ranjang.
Arka mengambil kotak besar berwarna pink, dengan pita merah. Kotak itu besar, namun tidak terlihat berat sama sekali.
"Kejutan yang pertama!" Arka memberikan kotak besar itu.
Kalista dengan sangat tidak sabaran langsung membuka kado itu. Di dalamnya ada sebuah gaun berwarna merah muda dengan desain yang sangat cantik. Gaun tanpa bahu itu terlihat cantik dan cukup seksi, bagian dadanya sedikit rendah, dan bagian belakangnya mengekspos punggungnya. Jika di pakai oleh Kalista maka punggung putih bersih miliknya itu akan terlihat sangat sempurna.
Kalista mencoba mengeluarkan gaun tersebut dari kotak besar itu, mengangkatnya lalu manik matanya kembali terbelalak ketika melihat gaun itu secara utuh. Panjang gaun hanya sebatas mata kaki, tetapi jika di pakai dengan menggunakan petikot, tentu saja gaun ini menjadi semakin cantik dan terlihat lebih hidup mengembang seperti gaun Puteri di negeri dongeng.
Menatap Arka dengan tatapan penuh cinta sekaligus terharu, Kalista bahkan sudah bingung harus mengucapkan apa? Dia hanya bisa kembali memeluk Arka. Kejutan kecil yang pertama ini ternyata, sebuah gaun indah yang pernah di tempel oleh Kalista di kamarnya nya ketika Kalista masih kuliah di Harvard university. Waktu itu Kalista benar-benar iseng saja, di sela-sela jam istirahatnya semasa kuliah dia menemukan sebuah majalah yang isinya putera-puteri di negeri dongeng. Iseng Kalista gunting gambar gaun itu kemudian menempelkannya di kamar. Karena Kalista memang sangat menyukai gaun-gaun Disney.
"Masih ada kejutan lainnya loh." Mengusak gemas puncak kepala Kalista.
Arka kembali memberikan kotak kado, kali ini kotaknya tidak terlalu besar. Kotaknya berwarna merah maroon.
Sepertinya kali ini kejutan dari Arka pun akan kembali berhasil. Kalista pasti akan kembali meleleh dan semakin mencintainya
"Ini? Kok bisa? Ini aku yang desain, kok bisa pakai merk KBP'bags?" Manik itu kembali terbelalak, sorotan mata kagum itu masih tertuju pada sebuah tas tenteng kecil berwarna hitam, desainnya lumayan lucu, unik, dan sangat ciamik. Tas imut (kecil) yang cocok banget di pakai buat kondangan.
"KBP perushaan tas ternama ya?" Tanya Kalista dengan sorot kagum dan berbinar.
"Bisa dong! Tas ini kamu desain sendiri, lalu ada keterangan di bawahnya *Andaikan aku punya perusahaan tas ternama dan mengeluarkan tas dengan desain seperti ini, pasti bakalan laku keras dengan harga yang mencapai langit tingkat ke-7* benar begitu bukan? Aku berusaha mewujudkan impian istriku ini, aku meminta tolong kepada orang yang sangat ahli di bidang ini. Lalu, memberikan logo KBP demi membuat impian istriku menjadi kenyataan, dan kamu harus tahu! Tas ini diberi nama KBP.
"Tahu nggak KBP itu kepanjangan dari apa?" Tanya Arka, namun Kalista segera menggelengkan kepalanya.
"K adalah Kalista, B adalah Bunga, P adalah Pratiwi. Jadi kalau kamu mau, aku bisa membangun sebuah perusahaan yang memproduksi tas, kamu tinggal bikin desainnya aja. Tapi jangan dulu deh, nanti saja kalau si kembar sudah besar, aku takut anakku tidak terurus." Arka menjawil pelan hidung Kalista. Kalista segera memeluk Arka, suaminya ini sangat luar biasa hebatnya.
"Jangan dulu nangis, jangan dulu mengucapkan terimakasih. Aku masih mempunyai kejutan lainnya sayang."
Arka kembali ke hadapan Kalista dengan membawa satu kotak yang ukurannya sedang, bungkusnya berwarna kuning terang dan terlihat sangat manis.
"Di dalam kotak ini ada suatu benda yang akan membuatmu bahagia." Satu kedipan genit pun kembali Arka berikan.
Dan benar saja, Kalista kembali terperangah ketika melihat isi dari kotak tersebut. Sebuah high hells berwarna putih bersih, high hells yang pernah Kalista lihat di sebuah kartun Puteri dan Kalista memang sangat menginginkannya. Tetapi Kalista tidak menyangka, high hells itu bakalan ada di dunia nyata, dan itu di wujudkan oleh Arka sang suami.
Tangan Kalista langsung mengambil high hells tersebut, dan akan memasangkannya ke kaki indahnya.
"Jangan dulu di coba! Kamu boleh pakai nanti ketika dua malaikat kecil kita telah lahir, ingat kata dokter ya sayangku, tidak boleh memakai sesuatu hal yang dapat membahayakan diri sendiri dan kedua malaikat yang sedang meringkuk di perut kamu." Arka mengambil kembali high hells tersebut dan memasukkannya kedalam kotak.
"Iya." Jawab Kalista pasrah.
"Terimakasih, semuanya benar-benar mengejutkanku." Ucapnya dengan suara riang, tangannya semakin erat mendekap Arka.
"Namanya juga kejutan sayang, kalau nggak mengejutkan berarti aku gagal dong hmmm." Arka mencubit pelan dagu Kalista.
"Iya. Hari ini kamu telah membuat aku bahagia. Aku semakin bangga dan merasa seperti wanita yang paling beruntung di muka bumi ini. Aku sangat-sangat ber-terimakasih kepada semesta karena telah di pertemukan denganmu, dan aku sangat bahagia menjadi istrimu. Sayangku, terimakasih sudah memanjakan aku dengan segala genap kasih sayangmu. Aku mencintaimu sampai kapanpun, dimana pun dan dalam kondisi apapun." Mulut mungil itu terus menerus berbicara panjang lebar perihal ucapan terimakasih yang tiada terkira.
Tidak ada suara, keduanya sibuk berpengaruh. Deruan napas yang membuat dada naik turun, bahkan ketika ada celah mereka berdua berusaha dan berlomba-lomba memasok oksigen.
"Awwwwwwww." Arka meringis menahan sakit di punggungnya, entah mengapa posisi mereka yang tadinya meringkuk saling berhadapan kini malah Arka di bawah dengan Kalista di atasnya.
Secepat kilat Kalista langsung menghentikan aktifitas lidahnya. Menatap Arka dengan tatapan sendu, memperhatikan wajah Arka dengan sangat lekat. "Kamu sakit apa?" Tanya Kalista, manik matanya seperti sedang menelisik seluruh tubuh Arka dari bawah hingga atas kepala.
Kalista langsung menyadari ada yang tidak beres dari suaminya itu. Suaminya yang biasanya sangat aktif ketika di hadapkan dengan hal-hal mesum, kali ini sedikit berbeda. Ya, ada yang berbeda dengan suaminya, dan Kalista baru saja menyadarinya.
"Aku nggak apa-apa, tapi maaf sayang tubuh kamu terasa berat ketika menindihku hehe." Arka berkilah, di ujung kalimatnya masih bisa terkekeh pula.
"Sayang jujur dong!" Pinta Kalista.
"Eh sayang, ya ampun lupa. Ayo matiin semua lilinnya, aku nggak suka yang terang ketika di malam hari, karena aku masih mau melakukan kegiatan bikin anak, aku juga masih mau nambah anak lagi, aku juga masih ma..,"
"Apaan sih sayang?" Tanya Kalista menyela ucapan Arka, dari tadi Arka kebanyakan berbicara masih mau, masih mau, mau apa gitu loh?
Akhirnya Arka sendiri yang mematikan kedua puluh tiga lilin tersebut, karena Kalista merasa malas. Lagi pula Kalista berpikir hari ini adalah hari ulang tahunnya, boleh lah ya Kalista minta di manja.
Kalista?
Hanya melihatnya saja, dengan kondisi perut yang semakin membuncit tentu saja Kalista tidak bisa berjongkok, bisa sih bisa tapi sakit dan terasa sesak.
Arka berjongkok meniup lilin tersebut, Arka berusaha tersenyum dan terlihat bahagia. Padahal ketika berjongkok Arka merasakan rasa sakit di punggungnya, rasa sakit yang teramat menyiksa, tapi Arka bisa menahannya untuk Kalista.
"Tadinya sih biar kaya di film-film gitu, ini lilinnya juga angka 23 loh sayang, tepat seperti angka usiamu." Ujar Arka sambil menaik turunkan kedua alisnya. Kemudian mengumpulkan lilin-lilin yang sudah tidak menyala.
Arka dan Kalista terkekeh bersama, tidak hanya meniup lilin, Arka juga sekalian membereskan kamar ini. Kelopak-kelopak mawar juga Arka bersihkan, bahkan Arka memastikan bahwa diatas kasur susah bersih dan steril. Buket bunga matahari berukuran besar itu Arka simpan di sudut kamar tepat diatas wadah yang dalamnya diisi air dan tissue, tujuannya agar bunga tidak mudah layu.
"Romantis ini ternyata tidak mempan untukmu." Arka berusaha melemaskan otot-otot nya yang terasa kaku dan keram.
"Sayang, bersihkan make up mu dan ganti pakaian! Ini sudah larut malam, kita harus beristirahat. Apalagi kamu lagi mengandung, nggak baik dong bergadang." Ucap Arka lembut.
"Oke." Jawab Kalista singkat, kemudian mencari piyama di lemarinya.
"Aku ngambil baju dulu di apartment ku." Langkah kaki Arka langsung menabuh, dan secepat kilat Arka telah lenyap di hadapan Kalista.
Mencari piyama di lemari yang berada di apartment? Apa? Jelas ada! Tetapi, piyamanya tidak ada yang muat satupun, karena piyama yang berada di lemari ini adalah piyama milik Kalista ketika masih gadis. Sedangkan sekarang perut Kalista sedang buncit, berat badannya saja bertambah.
Kalista kebingungan harus menggunakan apa? Baju dengan big size saja Kalista tidak punya, ada sih tapi besarnya tetap tidak muat di badannya.
"Ah tahu gitu gue bawa baju dari rumah!" Kalista yang telah mengobrak-abrik lemarinya itu pun mendumel karena merasa bete.
Kalista segera keluar dari apartmentnya, langkah kakinya berjalan menuju apartment Arka. Dengan wajah kusut karena badmood tidak ada baju yang muat untuk di kenakannya sekarang, Kalista membuka pintu apartment Arka tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Kesannya malah mengendap-endap seperti mau maling saja.
Di hadapan cermin itu, suaminya sedang berdiri memandang cermin. Wajahnya terlihat jelas sekali sedang menahan sakit. Di punggung kekarnya itu terdapat luka yang cukup besar, bahkan darahnya saja sampai merembes.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa terluka." Kalista berlari menghampiri Arka, wajahnya terlihat sangat panik.
Arka yang ke gep, sama sekali sudah tidak bisa menghindari Kalista. Lagipula Kalista juga sudah melihat kondisi punggungnya saat ini, mulutnya tiba-tiba kelu, mau berkilah namun tidak bisa.
"Nggak apa-apa sayang, luka kecil! Jangan khawatir." Raut wajah yang tadi senang menahan sakit itu kini telah berubah menjadi sangat tenang, Arka berusaha menyimpan rasa sakitnya dan menampilkan wajah cerianya.
"Berbaring sekarang!" Ucap Kalista tegas
Kini Kalista mengambil kotak obat dan perban. Perban yang telah basah oleh darah yang merembas itu pun segera Kalista ganti. Kalista membalurkan perban yang baru, setelah sebelumnya mengobati kembali luka di punggung Arka. Bukan hanya mengobati, Kalista juga mengamagi luka punggung dengan ukuran yang lumayan besar itu.
Di pergelangan tangan dan siku Arka juga terdapat luka yang sama seperti di punggungnya. Dari tadi Arka menggunakan stelan jas, maka dari itu lukanya tidak terlihat.
"Terimakasih sayang." Arka langsung bangun ketika merasa Kalista telah selesai mengobatinya.
"Kamu kecelakaan?" Tanya Kalista menelisik raut wajah Arka.
"Iya." Jawab Arka pelan.
"Kapan?"
"Tadi, hampir sore deh."
"Dimana? Kenapa kecelakaan itu bisa terjadi?"
Kalista kalau sudah bertanya kasti menggunakan pertanyaan beruntun, lagipula kalau dirinya merasa ada yang janggal ataupun tidak beres, raut wajahnya akan sangat serius seperti sekarang detektif yang sedang memecahkan sebuah masalah besar.
"Kecelakaan ya kecelakaan aja, udah takdirnya kaya gini, masa bisa di hindari." Ucap Arka dengan sangat lirih dan pelan.
__ADS_1
"Jujur sayang." Ucapan Kalista sedikit melembut, pandangan matanya sangat sejuk menatap wajah milik suaminya itu.
Sekarang Arka merasa sangat bingung, berkata jujur akan membuat Kalista mengkhawatirkannya, jika berbohong Kalista juga tidak akan mempercayainya. Mengingat IQ Kalista yang lumayan tinggi, sepetinya Arka juga akan kesulitan jika berbicara ngawur.
"Ada yang sengaja nabrak aku waktu di jalan. Mobil aku terpental dan menambatkan pembatas jalan, tidak hanya itu, mobil aku juga nabrak pohon, lalu terbakar. Alhamdulilah aku cepat keluar dan langsung menyelamatkan diri." Ujar Arka.
"Tapi nggak usah khawatir sayang, aku tahu kok siapa dalang di balik semua ini? Mereka juga sudah mensetting karena cctv di jalan itu, walaupun tidak ada bukti yang mengarah ke situ, tapi bentar lagi juga orangnya bakalan aku bawa ke penjara." Arka berusaha berbicara setenang mungkin, lalu mengusap lembut bahu Kalista.
"Aku takut! Aku nggak mau kamu kenapa-napa, aku nggak ada hal buruk yang menimpa kamu, terlebih lagi aku nggak mau jadi janda." Satu bulir air bening itu lolos begitu saja keluar dari mata Kalista.
"Ya ampun sayang, siapa yang akan memberatkanmu menjadi janda. Lagipula ya kalau pun kamu jadi janda, kamu nggak usah takut, dengan wajah cantik dan usia masih belia kaya gini mah perjaka juga masih lada doyan." Arka terkekeh meledek Kalista sambil mencolek dagu istrinya.
"Ih aku serius!" Ketus Kalista.
"Iya-iya, aku bisa jaga diri aku sebaik mungkin. Aku nggak akan membiarkan kamu menjadi janda cantik, enak aja istri gue jadi janda, gue aja masih doyan sama tubuhnya." Arka tersenyum menyeringai seraya menggoda Kalista.
"Lagi sakit juga bisa-bisanya memikirkan hal mesum." Kalista mencubit pelan pinggang Arka.
"Biarin aja! Udah kodratnya aku terlahir mesum, mau gimana lagi kan?" Arka mengedikkan bahunya.
"Oh iya, aku takut deh yang. Tadi sore ada orang yang datang ke rumah katanya mau jemput aku..,"
"Masa takut, itu kan orang suruhan aku. Kamu juga kesini diantar mereka kan?" Belum sempat kalanya mengakhiri kalimatnya, Arka langsung menyelanya begitu saja.
"Aku belum selesai ngomong! Makanya dengerin dulu dong! Jadi gini, tadi sore ada yang datang jemput aku. Badannya tinggi tegap gede gitu, pakaiannya serba hitam dan memakai kacamata hitam. Orangnya gede nyeremin gitu, katanya dia di suruh jemput aku, jadi dia narik tangan aku maksa gitu buat naik ke mobilnya. Aku ngerasa ada yang tidak beres, aku sama bibi curiga. Karena kalau orang suruhan kamu nggak mungkin dong sekasar itu memperlakukan aku? Tidak lama kemudian datang deh orang suruhan kamu, dan dia langsung kabur." Kalista berusaha menjelaskan kejadian yang dialaminya tadi sore.
"Arrrrgh brengsek!" Tangan Arka mengepal, dia juga memukul ranjang dengan sangat keras.
Untung ranjang, jadi empuk. Coba kalau tembok, udah berdarah tuh tangan si Arka.
Ubun-ubun Arka terasa mendidih, ternyata orang itu tidak hanya menyerang dirinya saja. Dia juga malah mencoba menyerang dan akan melukai Kalista. Arka naik pitam, wajahnya sudah sangat sulit di artikan. Tapi dirinya juga tidak akan bisa memberitahukan Kalista semuanya sekarang, Arka takut kalau at merasa khawatir dan cemas.
"Ciri-cirinya orang itu gimana sayang?" Arka berusaha tetap tenang di hadapan Kalista.
"Orangnya tinggi gede gitu deh, nyeremin. Nanti lihat aja di rekaman cctv di rumah." Ujar Kalista.
"Hmmm iya deh. Jangan takut, di manapun kamu berada aku akan selalu melindungimu." Arka memeluk Kalista dan mengecup puncak kepalanya.
"Aku udah ngantuk sayang, bobo yuk." Ajak Kalista yang langsung menggandeng tangan Arka menuju apartment nya.
Arka masih saja kepikiran apa yang barusan di ucapkan oleh Kalista. Lantas saja tadi sore pelayan menelpon dan meminta ciri-ciri orang yang Arka suruh untuk menjemput Kalista. Kalau saja orang suruhannya telah datang, pasti sekarang Kalista sedang tahanannya si brengsek. Dia sengaja mengincar Kalista, karena Kalista merupakan kesayangan sekaligus kelemahan Arka dalam segala hal.
"Pintar juga tuh si keparat, bisa mengelabui beberapa orang-orang di rumah gue." Gumam Arka dalam batinnya.
"Kok melamun?" Tanya Kalista smabik melambaikan tangannya di hadapan wajah Arka. Sejak masuk ke kamar apartment Kalista, Arka malah melamun.
"Kamu nggak ganti baju sayang?" Tanya Arka sambil memperhatikan Kalista yang masih menggunakan dress merah itu.
"Nggak, soalnya aku tidak mau melepas dress ini. Dress ini sangat cantik, mewah dan sangat elegan melekat di tubuh aku." Kalista memutar-mutarkan badannya pelan.
Memang benar apa yang di katakannya. Dress ini sangat cantik dan sangat pas di tubuhnya. Tadinya sih Kalista mau meminta bantuan Arka untuk menyuruh orangnya membawakan satu daster piyama, tapi melihat kondisi Arka yang sekarang seperti itu Kalista justeru tidak tega.
"Hmm, yasudah kalau gitu."
Arka berjalan menuju lemari Kalista, tangannya seperti sedang mencari-cari sesuatu. Kalista mengernyitkan dahinya dalam, Arka sedang mencari apa sih di dalam lemari miliknya?
Lama Kalista perhatikan, namun tangan Arka juga masih belum berhenti bergerak. Bahkan kepalanya saja seperti mau di masukkan kedalam lemari itu.
"Nyari apa?" Tanya Kalista ketika melihat Arka berbalik badan.
"Kepo." Arka tersenyum, kedua tangannya tertarik ke belakang.
"Menyebalkan!" Kalista mendelik jengah, kemudian menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Arka menghampirinya, kemudian duduk di sisi ranjang sebelah Kalista. "Buka selimutnya bu." Arka menepuk pelan badan Kalista.
"Nggak mau!" Jawabnya ketus.
"Yakin nggak mau? Aku punya kejutan yang terakhir nih." Kata Arka.
"Nggak mau! Kejutan kamu sudah berakhir tadi."
"Sayang.."
"Nggak mau!"
"Yasudah, aku buang aja kali ya."
Tepat ketika Arka bangun dari ranjang, Kalista menyibakkan selimutnya. Manik matanya kembali membulat melihat sebuah kotak perhiasan di tangan Arka.
"Nggak mau kan? Aku buang ya sayang." Ucap Arka sambil terus berjalan.
"Sayang.."
"Apa?" Kini gantian Arka lah yang berbicara ketus.
"Jangan di buang!" Kalista memohon sambil menampilkan senyum kudanya.
"Mau aku buang! Istriku nggak suka tuh."
"Sayang."
"Panggil aku dengan panggilan sayang yang sangat mesra, bila perlu ngomongnya pakai desahan deh." Arka tersenyum menyeringai, lagi pula dirinya juga kangen banget sudah lama tidak mendengar suara seksi milik Kalista yang biasanya di raucaukannya ketika tengah malam.
Bibir Kalista mencebik, menatap Arka dengan tatapan mata yang sangat jengah. Tapi mau tak mau Kalista harus menuruti permintaan dari Arka.
"Sayang, jangan di buang. Katanya kejutan, aku lagi ulang tahun loh, jangan buat aku kecewa dong." Ujarnya dengan suara yang sangat seksi, bahkan terdengar sangat genit seperti seorang perempuan nakal sedang menggoda lawan jenisnya.
"Lebih seksi lagi dong." Pinta Arka.
Lebih seksi? What? Ya ampun Arka mesum banget sih lu. Itu suara Kalista sudah sangat seksi, genit dan menggoda. Masih aja minta yangebih seksi.
Oke-oke! Kalista mencoba memikirkan suatu cara yang bakal membuat suaminya langsung nurut padanya.
Dengan susah payah, tangan Kalista berusaha mencoba menarik resleting gaunnya yang berada di terletak di punggungnya. Arka memperhatikannya dengan alis terangkat, Kalista buru-buru menurunkan dress itu sampai ke perutnya, terpampang lah dua gundukan daging sintal yang sangat Arka sukai itu.
"Sayang..." Suara yang sangat seksi, di tambah lagi dengan gestur tubuhnya yang terkesan menonjol-nonjolkan dua gundukan sintal itu.
Arka menelan saliva nya dengan sangat susah payah. Sesuatu di balik celananya tiba-tiba berontak Karena di suguhi pemandangan indah.
"Ini kejutan kecil yang terakhir dari aku." Arka langsung memberikan kotak perhiasan dengan desain yang teramat sangat mewah ke telapak tangan Kalista.
Kalista menerima kotak itu dengan hati yang sangat riang gembira. Ulang tahun yang mencapai angka dua puluh tiga ini sangat-sangat banyak kejutan, suaminya memberikan semuanya yang Kalista impikan. Sekarang liontin yang bertengger di kotak perhiasan itu pun adalah liontan yang pernah Kalista desain di bukunya, dan kini Arka mewujudkan semua impiannya.
"Ah... Terimakasih sayang." Ucap Kalista sambil membelai lembut rambut-rambut halus di kepala Arka.
Sudah tidak ada jawaban dari Arka, mulutnya tengah sibuk bermain di antara dua gundukan benda empuk nan sintal. Gigitan-gigitan kecil sudah di lakukannya sehingga menimbulkan beberapa beka noda merah.
Kalau sudah seperti ini, akan sangat sulit di hentikan. Apalagi Arka juga memang maniak sekali akan hal-hal mesum. Mencumbu dada saja bisa memakan durasi 20 menit. Dua puluh menit? Waktu yang lumayan lama.
Arka menarik kepalanya yang terbenam di dada Kalista. Tangannya sibuk akan melepas baju yang di kenakannya.
"Mau ngapain?"
"Mau sentuhan hangat." Jawabnya dengan genit.
"Tidak mau!" Ucap Kalista.
"Kamu lagi ulang tahun sayang, dan aku telah memberikan kamu banyak kejutan. Masa kamu tidak mau memberikan aku servis yang menghangatkan?" Tanya Arka sambil memandang lekat-lekat manik mata Kalista.
"Kapanpun suamiku mau, akan aku berikan. Karena ini juga memang hak kamu. Tapi..... Tentunya tidak sekarang sayang." Kalista mencoba menenangkan Arka yang sedang berada di puncak gairahnya.
"Kenapa?" Tanyanya heran.
"Karena punggung kamu masih sakit, tangan kamu juga terluka sayang."
"Aku kuat kok, nggak usah khawatir."
"Jika kamu terus menerus bergerak, punggung kamu akan kembali mengeluarkan darah. Nggak kering-kseing dong lukanya." Kalista mencoba menjelaksn, bukannya tidak mau memenuhi kewajibannya tapi kondisi Arka sedang tidak memungkinkan.
"Hmm." Arka mendesah pelan dan pasrah. Kemudian tidur memunggungi Kalista.
Kalista tidur di sebelahnya, tangannya menggenggam erat jari jemari Arka.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-teman🙏🤗
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤