
Sore itu kediaman mama Lisa menjadi ramai, karena Andy, Evan dan Riko datang berkunjung sekaligus menjenguk Arka yang katanya sedang sakit.
Sementara Kalista sibuk bermain dengan kedua bocah kembarnya, Kalista masih enggan untuk berdekatan dengan Arka. Kalista ingin Arka meminta maaf kembali dengan lebih serius atau lebih tegas. Atau setidaknya Arka merasa berdosa atas kelakuannya selama dua bulanan ini.
"Sembuh dong bro! Beberapa hari lagi gue akad loh." Riko menepuk bahu Arka kencang. Riko akan merasa sangat sedih jika akad nikahnya tidak di hadiri oleh Arka.
"Besok juga gue sembuh kok, tapi gue khawatir nggak bisa bawa istri dan kedua anak gue ke akadnya elu. Tahu sendiri kan, istri gue masih dalam mode jutek, marahnya belum reda." Ujar Arka dengan sendu.
"Emang lu nggak minta maaf?" Tanya Andy sambil menatap tajam manik mata Arka.
"Gue udah minta maaf, tapi nggak di maafin." Lagi-lagi raut wajah Arka terlihat sendu.
"Syukurin lah! Siapa suruh coba mentelantarkan istri selama kurang lebih dua bulan? Wajar dia marah! Sekarang dia cuekin lu udah berapa lama? Palingan satu mingguan doang atau masih dalam hitungan hari, rasanya gimana? Enak nggak? Nggak enakan di cuekin tuh?" Cibir Evan sambil tersenyum sinis menatap Arka.
"Jadi pada intinya, Kalista sedang membalikkan keadaan. Tujuan sebenarnya ya simple, biar lu ngerasain apa yang dia rasain, biar lu nyesek juga." Andy menimpali ucapan Evan.
"Terus gue harus gimana sekarang?" Tanya Arka bertanya pada ketiga sahabatnya itu.
"Serius lu nanya gue? Itu kan hubungan rumah tangga lu, ngapain gue yang harus mikirin? Yang berumah tangga kan elu berdua, jangan melibatkan orang luar." Riko mendelikkan matanya jengah, Riko merasa kepengen memukul kepala Arka. Seharusnya Arka berusaha mencari caranya sendiri, bukan malah bertanya kepada orang lain.
"Iya-iya nanti malam gue pikirin deh! Ngapain sih gue sahabatan sama kalian bertiga? Percuma kalian semua nggak bisa bantu gue disaat gue lagi susah." Sekarang malah Arka yang mencibir dan menggerutu.
"Wah parah lu bro." Ujar Evan menatap Arka tidak suka.
"Bukannya nggak mau bantuin! Tapi kalau di bantuin terus nantinya malah kebiasaan. Gue pribadi menilai sikap lu tuh belum sepenuhnya dewasa, berkali-kali gue ingatkan jangan membahas masalah rumah tangga pada orang lain. Orang lain tuh belum tentu respect, siapa tahu dia cuma mencuri dengar untuk di buatkan gosip. Lu harus tahu deh, istri lu sama sekali tidak suka kalau lu ceritain masalah rumah tangganya pada orang lain." Siapa lagi yang berbicara seperti ini, pastilah Andy yang mempunyai sikap kalem dan dewasa.
"Gue cerita cuma sama kalian doang! Kalian itu sahabat gue loh, bukan orang lain. Emang kalian bakalan ceritain masalah gue juga pada orang lain lagi?" Sarkas Arka dengan suara tinggi.
"Iya kita memang bersahabat! Tapi nggak selamanya menjamin kita bakalan setia dan jaga mulut. Jika suatu hari satu diantara kita berselisih paham, bisa saja kan dia langsung mencari cara untuk menjatuhkan. Dia bisa saja membeberkan rahasia rumah tangga lu, atau mungkin rahasia perusahaan lu." Ujar Andy dengan suara yang tak kalah tingginya.
"Gue kok merasa suatu hari nanti lu bakal mengkhianati gue! Suatu hari nanti lu mau nusuk gue dari belakang kan? Elu mau umumin ke media kalau gue tuh pernah begini, pernah begitu, atau mungkin selain menghancurkan rumah tangga gue, lu juga mau menghancurkan perusahaan gue." Teriak Arka sambil mencengkram kerah kemeja Andy.
Andy tersenyum sinis menatap Arka, sebuah senyum yang sangat mengejek. Andy bahkan terkekeh memperhatikan Arka yang mulai emosi. Perdebatan kali ini sungguh lucu dan menggelikan, bahkan Evan dan Riko juga tersenyum sinis pada Arka.
"Wajar nggak sih istri lu marah? Kalau lu kaya gini terus lama kelamaan Kalista bakalan minggat loh, jangankan Kalista si perempuan perasa, gue sebagai laki-laki aja merasa sikap lu tuh ya ampun, nggak asyik deh." Andy masih bertahan dengan senyum sinisnya.
"Kalau mau melayangkan bogem mentah, ya silahkan saja. Gue sama Evan cuma jadi penonton setia, tapi kalau Andy kalah gue sama Evan akan langsung maju membantunya." Ujar Riko yang sama seperti Andy, tersenyum sinis penuh ledekan.
"Drama banget nggak sih! Udah lah lepasin tuh kerah kemejanya si Andy, mendingan lu istirahat jaga stamina biar cepat pulih dan nggak lemas ataupun lemah. Daya imun tubuh lu tuh lagi nggak bagus, jangan banyak mengeluarkan emosi nanti merasa cepat lelah." Riko menepuk pelan bahu Arka.
"Otak lu kemana sih? Kok mendadak jadi beg* ya? Atau mungkin raga lu ketinggalan di rumah lu?" Evan menoyor pelayan kepada Arka, tidak hanya menoyor tetapi memukulnya juga secara pelan.
"Jadi begini ya, sejatinya hubungan rumah tangga itu pahit manisnya di telan berdua. Selesaikan secara baik-baik dengan kepala dingin, jika tidak ada jalan keluarnya barulah lu boleh minta pendapat mama lu. Mama lu dulu ya, jangan langsung ke kita. Kita memang bersahabat, tapi tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti akan terjadi kesalahpahaman. Kita tidak ada yang tahu hitam putihnya hati seseorang itu kaya apa? Tapi, gue pribadi sih berharap kita selalu kompak, jika ada kesalahpahaman langsung di bicarakan secara terbuka saja." Ujar Riko.
"Paham nggak?" Tanya Evan pada Arka.
"Paham!"
__ADS_1
"Bagus kalau paham! Kalau masih nggak paham, tadinya gue mau lemparin piring ke kepala lu, takutnya kepala lu bermasalah kan?" Saut Andy sambil terkekeh.
"Gue udah bilang ke mama tentang masalah ini, sekarang gue mau bilang ke kalian bertiga. Gue tahu kalian bertiga itu mulutnya nggak bakalan ember, dan bisa gue percaya. Gue pusing banget, masalahnya bukan hanya kemarahan Kalista saja, tapi dia juga melayangkan gugatan cerai." Ujar Arka pada mereka bertiga.
"Nggak mungkin! Gue tahu banget gimana pintarnya istri lu itu, kalau pun dia minta cerai nggak bakalan sekarang, dia pasti nunggu anak-anaknya gede dulu. Gue nggak percaya, dia kan orangnya pemikir dan penuh pertimbangan." Andy langsung merespon ucapan Arka barusan, bagaimana pun juga Kalista pernah bekerja di kantor sebagai sekretaris, dan Andy pun tahu bagaimana sikap Kalista.
"Kok gue merasa ada seseorang yang mencoba masuk ke rumah tangga elu sih?" Ujar Riko.
Speechless.
Semuanya hening dan terdiam, apa yang barusan di katakan oleh Riko patut untuk di pikirkan secara matang. Arka tiba-tiba juga merasa bahwa hubungan rumah tangganya sedang di masuki oleh orang lain.
"Hati-hati lu! Berarti orang lain ada yang tahu mengenai renggangnya hubungan rumah tangga lu dan Kalista. Dan dia juga berusaha mencari celah untuk menghancurkan rumah tangga kalian." Ucap Evan.
"Brengsek! Keparat! Pasti ini ulahnya si Andre." Teriak Arka dengan geram.
"Andre siapa? Lu tahu? Atau emang sebelumnya kalian terlibat dalam masalah?" Tanya Andy penasaran.
"Andre yang baru-baru ini menjalin kerja sama dengan perusahaan gue, itu loh klien kita yang perawakannya hampir sama kaya gue. Jadi begini, beberapa waktu lalu gue sempat makan sambil ngobrol-ngobrol gitu kan, dia tuh cerita lagi naksir sama seseorang. Awalnya ketemu di mall saat dia sedang meeting, terus ketemu lagi di taman yang berada di kawasan perumahan yang gue tinggali. Pokonya si Andre tuh kagum sekaligus naksir gitu sama cewe itu, cantik, tubuhnya bagus, rambutnya bagus, dia cerita yang bagus-bagus deh. Dia bilang juga kapan-kapan mau main ke rumah gue gitu kan, sangking pengen ketemunya dengan wanita cantik itu, tapi si wanita itu jutek banget, dingin pula. Si Andre kan izin ke toilet, terus ponselnya menyala. Wallpaper ponselnya bikin gue terlonjak kaget, layar ponselnya menampilkan gadis cantik yang sedang mendorong stroller, dan itu istri gue. Gila nggak sih, mana dia bilang akan menikahi gadis cantik dan akan menyayangi kedua anaknya itu pula." Arka menceritakannya dengan napas ngos-ngosan, ubun-ubunnya terasa mendidih.
"Emang lu nggak ngejelasin kalau wanita itu adalah Kalista istri lu?" Tanya Evan.
"Nggak! Soalnya dia juga nggak tahu gue lihat wallpaper ponselnya, saat itu gue keburu geram. Terus dia langsung cabut gitu aja, saat gue pulang ke rumah. Pelayan bilang Kalista juga baru beberapa menit berangkat dari rumah. Gue paham banget pasti ini tuh kelakuan si Andre." Arka mengepalkan tangannya, giginya menggertak.
"Belum tentu! Menuduh tanpa bukti tidak akan menang, jangan gegabah sabar dulu deh." Andy berusaha menenangkan Arka.
"Gue rasa Kalista jalan sama si Andre sialan itu deh." Imbuhnya lagi.
"Belum tentu! Kemungkinan itu bisa saja benar, dan bisa saja salah. Tapi elu harus ingat point utama dari ceritanya si Andre, wanita itu sangat jutek dan dingin. Itu artinya Kalista tidak meresponnya dengan ramah, kemungkinan lainnya berarti ada pria selain Andre di hubungan rumah tangga kalian." Andy berusha menganalisa permasalahan yang sedang menimpa Arka.
"Lu nggak bisa nyalahin Andre karena belum ada bukti, tapi lu harus segera mencari tahu kebenaran surat gugatan cerai tersebut, apakah dari Kalista? Jika bukan, Fiks sih, ada yang mencoba menghancurkan rumah tangga kalian." Ucap Riko.
"Sekarang mendingan pikiran dulu, bagaimana caranya berbaikan dengan istri lu. Selanjutnya cari tahu siapa yang mengirimkan surat gugatan cerai itu, selanjutnya lagi lu undang deh Andre ke rumah lu, kenalin ke bini lu. Bikin si Andre speechless, terkejut, terbengong dan terheran-heran." Evan mencoba memberikan saran kepada Arka.
"Mendingan gini deh, nanti malam lu bikin drama apa kek gitu, biar Kalista khawatir atau cemas gitu. Selanjutnya lu bicarakan mengenai surat gugatan cerai itu, lebih cepat lebih baik bro!" Ujar Andy.
Lalu mereka bertiga pamit undur diri pada Arka dan mama Lisa. Tidak pamit pada Kalista karena Kalista berada di kamarnya dengan kedua bocah kembar itu.
*****
Arka termenung sambil menatap langit-langit kamarnya, mencoba memikirkan argumen-argumen dari sahabatnya, dan Arka juga mulai memikirkan saran dari mereka bertiga.
Kalista juga memang masih marah padanya, buktinya dia tidak masuk dan menghampiri Arka setelah tadi sore menyuapi bubur. Kalista sibuk berada di kamarnya, itulah mengapa sekarang Arka terpikir untuk mencabut jarum suntiknya. Arka akan menghampiri Kalista dan mengatakan kangen pada anak-anak, walaupun sebenarnya Arka juga sudah bosan hanya berbaring di ranjang.
Arka mencabut jarum infus itu, dan segera menjauhkan selangnya. Bangkit dari ranjang dan langsung berjalan keluar dari kamarnya.
"Mau kemana? Kenapa selang infus di copot?" Tepat ketika Arka membuka pintu, munculah wajah mama Lisa di sana. Bahkan mama Lisa sampai melotot pada Arka, mama Lisa merasa Arka tidak menurut padanya.
__ADS_1
"Syut ah! Jangan berisik." Arka menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya.
"Lagi berusaha mendapatkan perhatian dari istri." Arka berbisik pada mamanya, Arka juga tersenyum sembari menampilkan deretan gigi putihnya. Mama Lisa bahkan sampai geleng-geleng kepala.
"Kalista berada di kamar yang mana?" Tanya Arka masih dengan berbisik. Mama Lisa menunjukannya.
Arka berjalan dengan gontai, mengacak rambutnya agar terlihat berantakan. Bahkan Arka menampar-nampar pipinya terlebih dahulu, agar terlihat pucat dan merah seperti orang sakit pada umumnya.
"Nathan dan Nayla mana? Aku kangen banget." Arka membuka pintu kamar itu, melenggang masuk dengan gontai, di pergelangan tangannya juga mengalir darah segar.
Kalista membelakkan matanya dengan sempurna, menggendong Nathan dan Nayla secara bersamaan.
"Ikut aku!" Ucapnya dengan tegas.
Kalista berjalan dengan cepat, menuju kamar yang di tempati oleh Arka. Arka mengikutinya dari belakang, begitu masuk kalista langsung membaringkan Nathan dan Nayla.
Kalista menyuruh Arka untuk berbaring di ranjang, memasangkan kembali selang infus itu. "Kamu itu masih sakit, coba nurut dulu deh! Emang mau nggak sembuh-sembuh?" Kalista mengomel sambil terus mengelap sisa-sisa darah segar di pergelangan tangan Arka.
"Aku bosan berbaring, lagian aku juga kangen banget sama Nathan dan Nayla. Kamu di kamar terus sih, coba kalau kamu tungguin aku di sini sama Nathan dan Nayla, aku nggak bakalan bosan." Ujar Arka lirih.
"Iya aku disini! Kamu berbaring aja." Kalista langsung duduk di sisi sebelah ranjang, sambil menjaga Nathan dan Nayla agar tidak terjatuh.
Arka merasa senang karena ternyata Kalista itu masih perhatian padanya, tetapi Arka juga merasa kesal karena Kalista sibuk sekali dengan Nathan dan Nayla, Kalista tetap masih jutek pada dirinya.
"Bun.." Arka berbicara sembari mencoba meraih pergelangan tangan Kalista.
Boro-boro merespon, Kalista malah menepis tangan Arka dengan kasar.
"Nanti kalau aku udah sembuh! Nathan dan Nayla les renang lagi ya, biar mereka cepat bisa." Arka masih mencoba berbicara pada Kalista, walaupun Arka tahu Kalista pasti tidak akan meresponnya.
"Aku tahu aku tuh salah, aku sudah minta maaf, dan aku juga sudah berniat memperbaiki semuanya. Tolong kasih aku kesempatan, please!" Arka mencoba kembali meraih pergelangan tangan Kalista, kali ini Kalista tidak menepisnya.
"Aku nggak mau cerai! Kalau kamu maksa pun, aku punya beberapa syarat untuk itu. Aku juga mau hak asuh anak jatuh ke tangan aku." Arka berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
"Emang laki-laki itu lebih tampan dari aku ya? Kamu kok tega sih cerai sama aku demi dia." Arka menatap Kalista dengan tatapan sendu. Berharap Kalista menjelaskan sesuatu.
Kalista dari tadi hanya mendengarkan saja, bahkan Kalista berkali-kali mengerjapkan matanya ketika Arka mengucapkan kata cerai, hak asuh anak.
"Kamu tuh kenapa sih? Siapa yang mau cerai?" Sengit Kalista dengan nada tinggi.
"Jadi, gugatan cerai itu?"
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤