SUN FLOWER

SUN FLOWER
THE WEDDING


__ADS_3

3 hari lagi menjelang hari H. Arka sudah tidak boleh lagi bertemu dengan Kalista, mereka sedang di pingit. Hanya boleh telponan atau WhatsApp'an aja. Arka merasa tersiksa oleh rindu, sedangkan Kalista merasa bosan terus-terusan berada di apartment tanpa kegiatan. Pingitan itu benar-benar membuat Kalista dan Arka tersiksa oleh rindu. Biasanya ketemu setiap hari, sekarang malah nggak boleh ketemu 3 hari.


Tiara, Bima, dan Bimo bukannya tidak mau menemani Kalista, tetapi mereka pun sibuk dengan tugas kantor. Karena pak Arka sudah mengambil cuti, semua pekerjaannya di handle oleh pak Andy. Andy menekankan pada semua karyawan untuk bekerja lebih giat, karena nanti pada hari H nya pernikahan Arka, semua karyawan akan di liburkan.


Kini ibu kost ada di apartment Kalista, menemani Kalista yang sebentar lagi akan menikah. Ibu kost pun sering menasehati dan memberikan wejangan-wejangan seputar pernikahan. Syukurlah, karena keberadaan ibu kost, Kalista tidak kesepian lagi.


"Makan dulu nak." Ibu kost menyuruh Kalista makan. Kalista dari tadi pagi belum makan, malah hanya tidur-tiduran saja di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Nggak mau, belum laper. Lagian takut gendut ah, nanti baju pengantinnya nggak cukup." Kalista tertawa renyah sambil memamerkan deretan giginya.


Ting, suara pesan masuk. Kalista langsung meraih ponselnya diatas meja.


CEO Mesum Nyebelin👻❤


10:00


Siap-siap pergi ke spa, sopir dalam perjalanan. 15 menit lagi sampai!


(Kalista)


10:01


Ngapain ke spa? Repot-repot banget nyiapin sopir.


CEO Mesum Nyebelin👻❤


10:02


Calon pengantin harus melakukan treatment, biar body nya fresh, makin cantik dan makin kinclong😍


(Kalista)


10:05


Emang gue nggak cantik ya?


CEO Mesum Nyebelin👻❤


10:07


Lu tuh cantik! Cantik banget malah❤ gue beruntung bisa dapatin istri kaya lu, aiylapyou😘


(Kalista)


10:08


Masih calon loh!


CEO Mesum Nyebelin👻❤


10:10


3 hari lagi jadi istri! Ayo siap-siap! Ajak ibu kost, awas aja pergi ke spa sendirian.


(Kalista)


10:11


Iya bawel😘


CEO Mesum Nyebelin👻❤


10:12


Selamat bertemu di pelaminan sayang😘😘😘😘😘


Tidak berselang lama, suara klakson mobil sudah terdengar dari gerbang apartment. Kalista dan ibu kost langsung turun dan menaiki mobil tersebut.


Mobil melaju ke tempat yang cukup terkenal, wajar lah Arka mana mungkin membiarkan Kalista ke spa yang murahan atau spa yang kualitasnya biasa saja.


Kedatangan Kalista di sambut ramah oleh para pekerja spa tersebut, Kalista melakukan sauna, body wrap, pemijatan, facial, manicure dan pedicure. Tubuh Kalista menjadi lebih fresh.


"Hii, tuh kan benar kita tuh jodoh! makanya ketemu lagi." Lagi-lagi Kalista bertemu dengan pria yang di coffee shop dan di studio foto waktu itu.


"Hii, mohon maaf saya buru-buru tidak ada waktu untuk berbincang-bincang dengan anda." Kalista tersenyum paksa, dan menepis tangan pria itu.


"Nak kamu tunggu di ruang tunggu aja, mama facial sebentar doang ko." Wanita paruh baya itu memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Iya ma." Jawab pria itu.


"Loh kamu?" Si ibu tersenyum ramah pada Kalista.


"Kamu juga mau facial ya, ayo bareng! Nak sana tunggu di ruang tunggu." Ibu itu menarik tangan Kalista masuk ke ruang facial. Si ibu meminta waktu menyuruh semua karyawan untuk meninggalkan ruangan tersebut, karena si ibu akan berbicara penting pada Kalista.


"Ada apa ya bu? Saya buru-buru, sopir sudah menunggu." Kata Kalista.

__ADS_1


"Kamu calon istrinya Arka?" Si ibu memegang tangan Kalista.


"Iya." Jawab Kalista singkat.


"Kapan ijab qobul sama resepsinya?" Bulir bening lolos dari pelupuk mata si ibu.


"3 hari lagi." Ibu itu langsung memeluk Kalista, dengan air mata yang meleleh tak henti-hentinya berjatuhan membasahi pipi ibu itu.


"Semoga semuanya lancar ya, saya selalu berdo'a yang terbaik untuk Arka. Semoga pernikahan kalian selalu di warnai sukacita dan kebahagian."


"Amiin, terimakasih ya bu." Kalista mengusap punggung ibu itu.


"Kamu nggak tanya siapa saya?" Si ibu langsung menatap Kalista.


"Nggak, tapi kalau ibu mau menceritakan sesuatu saya bisa mendengarkan." Kalista tersenyum ramah, kemudian memegang erat jari jemari mama Lisa.


"Saya mamanya Arka, untuk saat ini sepertinya waktunya nggak akan cukup untuk menceritakan, terlebih lagi jadwal saya keluar rumah selalu di batasi oleh suami saya. Intinya saya menyesal atas apa yang telah saya lakukan kepada Arka, hiks hiks hiks saya sangat ingin sekali menemui Arka, tetapi jika suami saya tahu, saya bakalan disiksa. Selama ini pun hidup saya terkekang dan penuh tekanan." Pecah kembali air mata si ibu, menangis tersedu-sedu hatinya bagai tersayat oleh silet. Kalista pun meneteskan air matanya, lalu memeluk erat.


"Waktu saya bertemu Arka di studio foto, saya merasa bahagia dan sedih. Bahagia karena anak saya baik-baik saja, sehat dan akan menikah. Tetapi sedih, saat hari terpenting dalam hidupnya pun saya tidak bisa menemaninya. Selama ini saya selalu memperhatikan Arka dari jauh, saya tidak berani mendekatinya. Bukannya saya nggak mau, tetapi suami saya yang selalu melarang dan mengancam akan membunuh saya jika saya menemui Arka. Arka pastinya sangat membenci saya. Mungkin ini karma atas perbuatan saya." Tangis si ibu semakin kencang.


"Kenapa suami ibu mengancam ibu untuk bertemu dengan anak ibu?"


"Susah untuk dijelaskan." Tangannya menyeka sisa-sisa air mata.


"Saya paham, semoga hidup ibu selalu disertai kebahagiaan." Kalista pamit pulang, dan mencium punggung tangan si ibu.


"Saya cium punggung tangannya, karena ibu adalah calon mertua saya." Kalista tersenyum, si ibu kembali lagi berkaca-kaca setelah mendengar kalimat itu dari mulut Kalista. " Terimakasih telah melahirkan Arka ke dunia ini, saya bangga akan menjadi istrinya." Kalista pun kembali tersenyum, kali ini senyumnya sangat hangat.


"Terimakasih sudah menganggap saya sebagai ibu mertua kamu, semoga pernikahan kalian lancar, sakinah mawadah, warahmah, selalu disertai kebahagiaan, cepat dapat momongan, dan berjaya."


"Terimakasih do'anya, saya pamit pulang. Sehat terus ya bu." Kalista pamit pulang setelah memeluk si ibu sekilas, lalu mengecup pipi si ibu. Tangisnya kembali pecah, karena bahagia mendapat perlakuan lembut dari Kalista.


"Udah sayang?" Tanya ibu kost ketika melihat Kalista menghampirinya, sebelumnya ibu kost melihat Kalista mengusap sisa-sisa air mata. Ibu kost sebenarnya ingin sekali bertanya, namun ia mengurungkan niatnya. Kalista bakalan cerita apapun, jika itu pantas untuk di ceritakan.


"Udah, ayo pulang." Ajak Kalista.


"Anaknya bu? Pas hamil makan apa bu? Anaknya cakep banget dah!" Si pria itu tersenyum sambil memandang ke arah kalista.


Kalista tidak memperdulikannya, ia langsung menggandeng tangan ibu kost untuk keluar dari tempat spa itu. Di pikirannya Kalista pria itu pasti adik tirinya Arka, soalnya dia pun memanggil mama kepada ibu itu yang ternyata mamanya Arka.


*****


Entah sudah berapa lama MUA professional mendadani Kalista, kini Kalista sedang terduduk gelisah dikamar hotel yang telah di booking oleh Arka, dengan wajah yang begitu cantik seperti Barbie karena sudah di make up dengan sempurna, balutan gaun putih yang terlihat sangat elegan dan cantik sangat pas di tubuhnya. Kalista lebih memilih gaun daripada kebaya untuk acara akad, karena Kalista ingin pernikahannya seperti putri di negeri dongeng. Bahkan ketika kecilpun Kalista memang sangat ingin memakai apapun yang berhubungan dengan negeri dongeng.


Kalista melirik jam yang tergantung di kamar hotel, angka menunjukan pukul 15:45 WIB. Ijab qobul akan dilaksanakan jam 16:00, dan resepsi jam 19:00 - 23:00 WIB.


"Puteri dari negeri dongeng." Kini Tiara mencolek dagu Kalista, ikut-ikutan menggoda seperti dokter Rian. Tiara bahkan sampai pangling melihat Kalista yang semakin mirip Barbie.


"Lu Kalista? Gila kali gue nggak kenal." Bima tiba-tiba masuk diikuti Bimo di belakangnya.


"Ternyata di dunia nyata juga ada Barbie ya? Pangling banget gue lihatnya." Bimo menatap Kalista dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Bisa aja nih si jomblo, Kalista kan emang udah cantik dari lahir." Ucap Tiara sambil meledek Bimo.


"Kamu juga cantik ra, semoga dapat jodoh yang baik ya." Dokter Rian mengusap kepala Tiara, sehingga wajah Tiara menjadi merah merona.


"Mikir apaan lu, dokter Rian udah punya pasangan." Bimo menoyor kepala Kalista.


"Ish nanti riasan rambut gue rusak! Gue tuh bukan mikir yang aneh-aneh, tapi gue terharu ada seorang cowok yang perhatian sama gue. Gue juga kaya Kalista, menganggap dokter Rian itu seperti Kaka. Gue kan kurang kasih sayang dari orang tua gue." Mata Tiara sudah berkaca-kaca.


"Jangan nangis dong, lu kan mau jadi Bridesmaids. Cengeng banget sih lu." Kalista menggenggam erat jemari Tiara.


"Kita semua ini keluarga, jangan pernah merasa sendirian dan merasa kesepian." Entah datang darimana dokter Fani, tiba-tiba masuk mengusap bulir bening dari pelupuk mata Tiara, dan merangkulnya dengan hangat.


"Kalian tuh berisik banget sih, gue nervous nih." Protes Kalista dengan wajah cemasnya.


"Jangan nervous, rileks aja sayang." Tiara memeluk Kalista untuk mengurangi rasa tegang yang Kalista rasakan.


"Pernikahan kita bisa dipercepat nggak? Iri banget nih sama Kalista." Dokter Fani merajuk manja pada dokter Rian.


"Aduh Bu dokter kebelet nikah nih." Celetuk Bima, tiba-tiba semuanya menjadi tertawa. Kalista tentunya bahagia dikelilingi orang-orang yang sangat sayang padanya.


"Daripada berkumpul disini, mendingan kita turun untuk menyambut kedatangan besan. Dokter Rian jadi wali Kalista kan? Bima dan Bimo ayo ikut sambut besan juga. Yang tinggal di kamar ini biarkan dokter Fani dan Tiara saja, untuk menemani mempelai wanita." Pinta ibu kost seraya tersenyum menatap Kalista.


"Siap Bu." Tiara dan dokter Fany mengacungkan ibu jari secara bersamaan.


Benar saja, rombongan besan pun sudah datang, terdapat beberapa mobil mewah yang mengiringi mobil pengantin, tidak heran sih Arka kan seorang CEO yang sukses membuat perusahaan Anggara semakin maju. Mereka semua langsung disambut oleh ibu kost, dokter Rian, Bima dan Bimo.


Mereka semua mulai melangkah masuk, bersiap mengantarkan Arka ke meja akad. Arka berjalan di tengah, karena di sisi kiri dan kanannya ada Oma Weny. Andy, Riko dan Evan mengikutinya dari belakang, serta kerabat-kerabat yang ikut menghadiri acara ini.


Hal yang pertama kali Arka lihat adalah ruangan hotel yang sudah berubah berkat tangan ajaibnya WO, bak negeri dongeng, ada pelaminan dengan background istana negeri dongeng, wedding cake pun sangat cantik mengusung tema princess, semuanya di sulap seperti negeri dongeng sungguhan. Kalista sengaja memilih tema negeri dongeng, dengan warna putih dan gold mendomisili semua ruangan akad dan resepsi. Kalista juga memilih bunga matahari yang di padukan dengan bunga mawar putih. Semua dekoran ini Kalista yang menentukan, Arka hanya mengiyakan saja.


Evan menepuk bahu Arka, dimulut ya sama sekali tidak keluar sepatah katapun. Tetapi terlihat dari raut wajah Evan, sepetinya Evan sedang meledek Arka, bahkan senyumnya juga menyeringai. Bukan mengejek, lebih tepatnya sih menggoda.


"Apaan sih? Lu bisu?." Sangkal Arka berusaha merilekskan hati dan pikirannya.

__ADS_1


Pak Anggara menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya, sebuah istrata agar Evan dan Arka tidak berdiam. Pak Anggara bahkan sampai geleng-geleng kepala, masa iya Arka sama sekali tidak terlihat tegang.


Karena rombongan besan sudah datang, MC pun segera membuka acara, lalu di lanjutkan dengan serangkaian acara yang di lakukan sebelum ijab qobul. Semuanya mengikuti rangkaian acara itu dengan khidmat.


Kini Arka tengah duduk di kursi yang memang di siapkan untuk acara akad, berhadapan dengan dokter Rian yang akan menjadi wali Kalista. Penghulu sudah siap dengan segalanya, pak Anggara juga sudah duduk di kursinya. Bima dan Bimo bertugas menjadi saksi pernikahan ini.


MC menyuruh Kalista untuk segera turun dan duduk di kursi akad yang telah di persiapkan. Kalista turun dan di gandeng oleh dokter Fani dan Tiara. Dengan langkah pelan dan rasa gugup yang menyelimuti dirinya, tetapi Kalista masih menyempatkan untuk menampilakan senyum lebarnya. Semuanya menatap Kalista, mereka semua terpesona oleh Kalista yang seperti putri di negeri dongeng. Gaun dan riasannya nampak cantik, mewah dan sangat elegan. Arka bahkan sampai membukatkan matanya dengan sempurna ketika menatap Kalista, entah dia terpesona atau dia sedang memikirkan malam setelah pernikahan itu usai.


Tiara dan dokter Fani memakai gaun putih yang panjangnya hanya sebetis, mereka memakai baju kembaran karena mereka menjadi Bridesmaids. Sedangkan ibu kost dan Oma Weny memakai kebaya putih dengan motif yang sama.


Kalista duduk di sampingnya Arka, Kalista merasakan jantungnya berdegup kencang, Kalista merasa sangat gelisah, gelisah takut Arka tidak lancar mengucapkan ijab qobul.


"Saudara ARKANA WILLIAM ANGGARA bin ANGGARA saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan adik saya KALISTA BUNGA PRATIWI binti Alm. DANIEL, dengan mas kawin berupa satu set berlian 38 karat seberat 88gram dan seperangkat alat salat di bayar tunai!" Ucap dokter Rian dengan tegas sembari menjabat tangan Arka.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya KALISTA BUNGA PRATIWI binti Alm.DANIEL dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Arka mengucapkannya dengan lancar dan tegas, tanpa rasa gugup sedikitpun. Tangannya juga masih menjabat tangan dokter Rian, walaupun Arka mengucapkannya dengan lancar dan tegas tetapi dokter Rian juga tahu apa yang sekarang Arka pikirkan, bahkan dokter Rian saja sampai merasakan dinginnya telapak tangan Arka.


"Bagaimana para sak...,"


"Saaaaaaahhhh." Semua orang bahagia dan gembira mengucap kata "SAH" secara serempak dan bersamaan. Semuanya menangis karena terharu, terutama ibu kost yang merasa bahwa ini tuh terlalu cepat untuk Kalista. Biasanya Kalista selaku bermanja-manja pada dirinya, tidak terasa sekarang statusnya sudah menjadi istri dari orang lain. Oma Weny juga merasa terharu, cucunya satu-satunya yang selalu bilang tidak ingin menikah dan tidak tertarik pada pperempua, akhirnya datang telah memiliki seorang istri.


Padahal pak penghulu belum menyelesaikan kalimatnya, tapi mereka dengan semangat 45 langsung mengatakan sah, antusiasme yang sangat tinggi.


Para photographer pun tak henti-hentinya memotret kebahagian Kalista dan Arka, setiap moment selalu mereka abadikan. Kalista dan Arka telah berjanji, bahwa pernikahan hanya sekali seumur hidup. Maka dari itu semua hal yang terjadi hari ini harus di abadikan dalam bentuk foto maupun video. Kelak nanti semuanya akan di perlihatkan kepada anak-anaknya.


Do'a telah di bacakan oleh pak penghulu, semua orang mengamininya. Setelah itu kalista dan Arka langsung menandatangani buku nikah. Tidak lupa acara penyematan cincin di jari manis Arka maupun di jari manis Kalista sebuah cincin yang menandakan bahwa mereka sudah resmi menikah. Para photographer pun masih sibuk memotret Kalista dan Arka dari berbagi macam sudut. Arka bahkan mencium dahi Kalista berkali-kali, Arka juga selalu menggandeng erat Kalista.


Acara selanjutnya yaitu sungkeman, Arka dan Kalista untuk meminta do'a kepada para orang tua masing-masing. Biasanya dalam bahasa Jawa acara meminta do'a di sebut juga sungkeman, tidak hanya adat Jawa saja, adat Sunda juga biasanya ada sungkeman. Karena Kalista sudah tidak mempunyai orang tua, jadinya sungkem kepada ibu kost, dan dokter Rian. Acara sungkem tersebut berlangsung dengan khidmat dan penuh tangis haru.


"Bahagiakan lah Kalista, manjakan dan perlakuan dengan baik. Semoga pernikahan kalian dipenuhi dengan kebahagiaan, sukacita dan mempunyai momongan yang banyak." Dokter Rian memeluk Arka, dulu juga dokter Rian sangat ingin sekali mempersunting Kalista. Namun pada akhirnya Arka lah yang memenangkan hati Kalista.


"Iya." Arka pun membalas pelukannya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Semoga hidupmu selalu bahagia nak, ayah sayang dan sangat bangga padamu. Laki-laki jagoan ayah yang sangat hebat." Pak Anggara memeluk Arka dengan air mata yang semakin meleleh. Anak semata wayangnya kini telah sudah berubah status menjadi suami. Anak yang dingin dan tidak tertarik pada wanita karena trauma itu pun kini sudah berstatus suami dari wanita yang di cintainya. Pak Anggara juga mengucapkan banyak-banyak Terimakasih pada Kalista, kalau bukan karena Kalista mungkin sekarang Arka masih tidak mau menikah.


Tangis ibu kost semakin pecah ketika Kalista memeluknya, begitu pun dengan Oma Weny. Kalista memeluk Tiara, Bima, dan Bimo, mereka pun menangis. Menangis karena bahagia, salah satu dari mereka telah sold out duluan, dan telah resmi menjadi istri dari CEO perusaahan Anggara.


"Makan dulu ya."


"Nggak mau, masih ada resepsi."


"Makan dulu dikit aja nggak apa-apa ko, aku nggak mau kamu sakit." Arka langsung memasukan sesendok makanan kedalam mulut Kalista.


Kalista menatap Arka heran "Aku kamu?" Kalista mengernyitkan dahinya, lucu juga kalau Arka berbicara menggunakan aku kamu, biasanya juga elu gue.


"Iya, udah nikah loh kita udah resmi udah sah! Jangan elu gue lagi ya." Arka tersenyum.


Setelah selesai makan, mereka langsung balik ke kamar, untuk ganti gaun dan touch up make up. MUA telah menunggunya di kamar.


Kalista memakai gaun tanpa bahu, berwarna gold dengan aksen manik-manik menghiasai bagian perut dan dadanya. Bahu dan punggungnya ter-ekpose, terlihat sangat sempurna. Awalnya Arka keberatan, karena nggak mau bagian tubuh istrinya terlihat oleh orang lain. Tetapi karena ini keinginan Kalista, akhirnya Arka menyetujuinya. Gaunnya memiliki ekor yang panjangnya 5 meter, serta mahkota yang melingkar diatas kepalnya.


Arka memakai jas berwarna senada dengan Kalista, disaku jasnya di isi oleh bunga kecil. Arka terlihat gagah sempurna.


Arka dan Kalista berjalan untuk sampai ke kursi pelaminan, Kalista menggandeng tangan Arka. Ditangan Kalista yang satunya terdapat buket bunga matahari. Sedikit aneh memang, umumnya pengantin membawa buket berwarna putih.


Ketika mereka berjalan berdampingan, benar-benar terlihat seperti putri dan pangeran di negeri dongeng. Apalagi melihat gaun Kalista yang ekornya lumayan cukup panjang.


Semua tamu menatap kagum pada Kalista dan Arka. Semua yang hadir kebanyakan adalah kerabat dan rekan kerja pak Anggara. Kalista hanya mengundang beberapa teman SMA nya.


Semua karyawan kantor Anggara diundang, kecuali Rangga. Arka sengaja tidak mau mengundang Rangga, karena menurut Arka, Rangga masih berambisi untuk mendapatkan Kalista.


"Selamat Anggara anakmu sudah menikah, sebentar lagi nimang cucu nih." Om Bayu memeluk pak Anggara.


"Alhamdulilah, duh tamu jauh nih." Ucap pak Anggara.


"Arka, selamat ya nak." Pak Anggara memeluk Arka.


"Terimakasih om." Arka tersenyum dan mencium punggung tangan Om Bayu.


"Selamat." Alvin merangkul Arka. Kemudian beralih ke Kalista "Selamat ya." Alvin salaman tetapi enggan melepaskan tangan Kalista, dirinya malah menatap Kalista.


"Ayah, mendingan temani om Bayu sama Alvin, tamu jauh loh yah." Arka melepaskan tangan Alvin dengan paksa.


"Iya, ayo." Pak Anggara pun menemani om Bayu dan Alvin.


Selepas kepergian om Bayu dan Alvin untuk menikmati perjamuan dengan pak Anggara, Arka langsung mengelap tangan Kalista menggunakan tissue. Arka sangat emosi ketika tangan Kalista di genggam oleh Alvin.


Kedatangan Alvin semakin membuat Arka ingin memamerkan kemesraan. Arka tak henti-hentinya mencium pipi Kalista, tangannya selalu mengenggam erat jemari Kalista.


Kalista dan Arka sedang berbahagia, sementara seorang ibu paruh baya sedang menangis tersedu-sedu karena di kurung di kamarnya oleh suaminya.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2