
Pelayanan di hotel Cara Cara Inn ini sangat memuaskan, mereka semua menghormati Arka dan Kalista. Semua pelayannya sangat ramah dan humble.
Selesai pemotretan semua desainer, photographer, MUA, MO, Penata rambut dan yang lainnya Arka tlaktir makan di hotel ini. Arka tahu semua pelayan dan bahkan manager hotel ini sebenarnya hanya menghormatinya dan Kalista, tetapi sikap mereka pada desainer, photographer, MUA, MO, Penata rambut, sangat berbeda dan terkesan jutek.
Sore ini di hotel ini Arka makan bersama dengan mereka semua, tidak ada perbedaan harta maupun kasta diantara mereka. Bahkan Arka bisa bercanda tawa ditengah acara makan-makan ini.
"Sebenarnya usia kandungan ibu Kalista berapa bulan?" Desainer wanita itu tersenyum ramah pada Kalista.
"Mau tahu? Nanti kalau di kasih tahu pasti kaget." Celetuk Arka yang sedang menjejalkan buah apel kedalam mulutnya.
"Kaget? Emangnya kenapa? Sudah usia 9 bulan ya?" Make Up Artis profesional itu menimpali perkataan Arka.
"Kalau usia kandungannya sekarang 9 bulan, berarti dengan kata lain istri saya hamil di luar nikah gitu ya?" Arka memicingkan matanya seraya menatap tajam pada MUA itu.
"Bukan gitu maksud saya, saya hanya menebak saja. Bu maafkan perkataan saya." Suara Make Up Artis profesional itu sedikit berat dan bergetar, ada rasa takut di dalam dirinya.
"Terus maksudnya gimana nih? Pas saya nikahin istri saya masih perawan kok." Arka memutarkan bola matanya jengah, tetapi mulutnya masih terus mengunyah apel.
MUA itu sudah tidak bersuara, tidak bisa menanggapi ucapan Arka, bahkan dia menundukkan kepalanya. Bulir-bulir bening itu sudah terkumpul di kelopak matanya. Desainer dan yang lainnya pun sama sekali tidak berbicara, mereka pun menundukkan kepalanya.
Tawa Arka hampir saja meledak, baginya ini sangat lucu dan menggelikan. Sekumpulan orang-orang yang telah berjasa mensukseskan maternity shoot nya itu tidak bisa berkutik di hadapannya, semuanya seperti mati kutu.
"Nak lihat ayahmu, dia sangat jahil kepada semua orang yang telah berjasa ini." Kalista mengusap perutnya, kemudian menjewer telinga Arka.
"Hahaha." Arka sudah tidak bisa menahan tawanya, "Nggak usah takut sama saya mbak, saya nggak bakalan ngigit kok. Tapi kalau sama istri saya yang cantik ini, saya memang suka gemas, suka pengen gigitin dia terus.
"Serius dong!" Kalista mencubit pinggang sampai Arka meringis menahan sakit.
"Iya ini aku serius sayang, emang benar kan gigitin kamu adalah hobby ku setelah nikah." Arka mengedipkan sebelah matanya, genit sekali dia pada Kalista.
"Usia kandungan ku baru 5 bulan." Satu kalimat dari Kalista sukses membuat mereka semua melongo kaget, bahkan tatapan mata mereka langsung mengarah pada perut buncit Kalista.
"Serius 5 bulan? Gede banget?" Photographer memekik kaget, matanya masih membulat sempurna.
"Wah ini mah kayanya isinya bukan satu, pasti kembar nih." Ucap desainer sambil memperhatikan perut Kalista.
Arka baru ngeh, selama ini dia mengira mungkin bayi di dalam perut Kalista berat badannya diatas rata-rata, walaupun sempat heran melihat perut istrinya yang gendutnya kaya bukan hamil 5 bulan, tetapi Arka tidak pernah berpikir tentang "Bayi kembar"
"Nak coba jujur sama ayah, sebenarnya kamu seorang diri, berdua atau bertiga?" Arka mengusap perut Kalista, manik matanya masih menatap tajam perut itu.
Tiba-tiba ada pergerakan dari bayi di dalam perut Kalista sehingga Kalista meringis sakit di bagian perut depan. Arka juga merasakannya, karena tangannya itu masih menempel di perut Kalista.
"Hey anak-anak ayah dan mama, jangan nakal sayang. Kasian loh mama nya kesakitan, yang tenang ya di dalam perut mama, jangan sampai membuat mama kesakitan." Arka mengecup perut Kalista, perlahan-lahan tendangan si bayi pun menghilang.
"Kayanya iya deh bayi kembar, bahagia banget aku langsung punya dua." Arka meneteskan air mata bahagia, dan langsung mendekap Kalista di pelukannya.
"Belum tentu dua kan, jangan terlalu bahagia dulu. Nanti kita buktikan dengan USG." Kalista berusaha memperingati Arka, agar nanti ketika USG dan bayinya hanya satu, Arka tidak kecewa.
"Tapi kayanya emang kembar bu, baru 5 bulan saja sudah segede ini, bahkan maaf tadi saya sempat mengira usia kandungan ibu 9 bulan." MUA itu menyetujui ucapan Arka dan memberikan argumennya.
Lalu mereka pun melanjutkan makan, Arka bahkan menyuruh mereka nambah karena mereka pasti kelelahan seletah seharian penuh bekerja dengan Arka. Dan Arka pun sangat-sangat bersyukur bisa bekerja sama dengan orang-orang hebat dan profesional seperti mereka.
Setelah selesai makan semuanya pamit pulang. Arka bilang sudah mentransfer honor mereka beserta bonus-bonusnya. Semuanya sudah tidak terikat kerjasama lagi dengan Arka, yang masih mempunyai kerjaan hanya photographer karena harus mengedit semua foto. Photographer itu berkata akan mengedit dengan sempurna dan akan mengirimkan filenya secepatnya.
Selain memberikan bayaran tinggi pada desainer, Arka juga memberikan bayaran yang fantastis pada sang photographer. Menurut Arka photographer ini sangat berjasa untuk pemotretan hari ini, walaupun Arka dan Kalista sering kali melenceng dari pose yang di perintahkan, tetapi photographer ini sama sekali tidak banyak mengeluh, dan berusaha menuruti apa yang Kalista mau.
"Capek?" Arka menarik dagu Kalista, kalau menatap manik matanya tajam.
"Capek banget." Kata Kalista.
Setelah selesai pemotretan yang terakhir, Kalista sudah tidak sanggup lagi untuk ganti baju. Baju pemotretan terakhir pun masih melekat di tubuhnya, dress selutut dengan bagian perut ngepress tetapi bagian lututnya sangat lebar sempurna. Berwarna-warni seperti pelangi dan terlihat sangat cerah. Untuk make up-nya sendiri Kalista meminta make up bold.
Arka langsung membawa Kalista ke mobilnya, hari ini Arka tidak membawa sopir pribadinya. Jadi Arka lah yang menyetir.
"Mau makan dulu nggak? Atau gimana gitu?" Tanya Arka, takut-takut kalau Kalista ingin cobain makanan di pinggir jalan atau pun di kafe-kafe yang telah di lewati sepanjang jalan tadi ketika menuju ke hotel Cara Cara Inn.
"Gofood aja nanti! Sekarang maunya cepat-cepat sampai villa, pengen mandi badan udah lengket banget ini." Kalista meraba bagian punggungnya, di bagian itu lah yang sangat terasa lengket.
"Oke." Arka tersenyum, tangannya terus menerus mengusap punggung tangan Kalista.
Musik klasik mengalun selama perjalanan, Arka sengaja menyetelnya soalnya musik klasik dapat membuat kondisi bayi dalam janin Kalista menjadi tenang. Kalista menyenderkan punggungnya pada kursi mobil, sesekali matanya terpejam tanda kelelahan, namun mulutnya masih bawel untuk berkata "Hati-hati jangan ngebut!"
Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil telah sampai di villa. Angin semilir begitu dingin menusuk tulang, langit sudah hampir gelap, karena ini sudah masuk jam magrib.
Kalista merentangkan kedua tangannya, meregangkan otot-otonya yang sakit. Bahkan Kalista merasa punggungnya sakit karena terlalu lama duduk di kursi mobil. Arka dengan telaten memijit-mijit pelan punggung istrinya itu.
Mereka berdua masuk ke dalam villa, Arka menggandeng terus tangan Kalista. Begitu membuka pintu pemandangan utama yang di lihatnya di ruang tamu adalah Tiara dan Evan yang sedang bercumbu dengan posisi yang lumayan hot.
Tiara terbaring di sofa, tubuh Evan menindihnya. Sedangkan mulut mereka sudah bersatu, kadang-kadang suara racauan itu keluar dengan sendirinya dari mulut mereka.
Kalista dan Arka memilih untuk berdiam sejenak. Kalista tidak ingin mengganggu mereka. Namun Arka si cowok mesum itu malah tidak bisa menahan gejolak di tubuhnya ketika melihat dua manusia yang sedang bercumbu diatas sofa.
Arka berbalik badan dan memeluk tubuh Kalista sangat erat, pelukannya itu sebenarnya terhalang oleh perut Kalista. Arka mencium paksa bibir Kalista, namun Kalista melepaskannya dan membisikan sesuatu di telinganya.
Arka menurut, kini dirinya malah mengeluarkan ponselnya dan merekam adegan tersebut. "Breaking News sedang terjadi pergulatan diantara gadis cantik yang bernama Tiara, dan prianya bernama Evan." Arka benarkan merekam kegiatan yang sedang dilakukan Evan dan Tiara.
"Live streaming nih, kaya tutorial gitu guys. Lumayan untuk pembelajaran kalian yang masih pemula." Kalista cekikikan sambil bertepuk tangan.
Tiara langsung memebelalakkan matanya, tangannya dengan sekuat tenaga langsung mendorong tubuh Evan. Tangannya sibuk mengancingkan baju bagian atasnya. Wajahnya merah, bibirnya sedikit bengkak.
Tiara juga memukul punggung Evan dengan sangat keras, cairan bening sudah berkumpul di kelopak matanya, lalu terjatuh lah karena sudah tidak bisa di tahan lagi. Tiara melipat menekuk kedua kakinya, kemudian membenamkan wajahnya di antara lututnya, tangannya menutup wajahnya, lama kelamaan terdengar isak tangis.
Evan panik dan berusaha menenangkan Tiara, Arka dan Kalista juga jadi merasa bersalah. Namun tangis Tiara tak kunjung reda, dan malah semakin kencang.
"Ra jangan nangis, apa-apaan sih lu gini aja sampai nangis bombay kaya gitu? Kaya anak kecil banget lu nangis." Kalista mengusap rambut Tiara.
Tangan yang dipakai untuk menutup wajahnya itu kini sudah berpindah jadi memeluk Kalista, wajahnya merah, matanya bengkak, dan hidungnya pun merah. "Gue malu! Tapi sumpah itu bukan maunya gue, kak Evan maksa banget." Suaranya serak dan masih sesenggukan.
"Iya gue yang maksa, gue salah. Gue minta maaf ra." Ujar Evan dengan setulus hati.
"Evan yang maksa, dan juga Tiara menikmatinya. Intinya Kalian berdua memang sama-sama menginginkannya." Celetuk Arka dengan senyum menyeringai .
Evan langsung tersenyum mendengar statement dari Arka.
FLASHBACK
Setelah Evan pamit pulang, Evan langsung tancap gas menuju villa. Evan takut kalau Tiara merasa bosan sendirian di villa. Begitu mobil sampai di halaman depan villa, Evan melihat Tiara sedang duduk di bangku taman belakang. Evan mau menghampirinya tapi takut Tiara malah menjauhinya, jadi Evan lebih memilih memperhatikannya diam-diam dari kejauhan.
Tiba-tiba Tiara melihat Evan, dan pandangan mata mereka pun bertemu. Tiara segera bangkit dan langsung masuk ke kamarnya, sebenarnya Tiara juga tidak mau dengan keadaan seperti ini, namun diantara mereka memang ada rasa canggung yang sulit untuk di jelaskan.
Lama berdiam diri di kamar, Tiara pun merasa bosan. Lagi pula perutnya keroncongan, cacing-cacing itu seakan-akan demo minta jatahnya.
Tiara berjalan ke dapur, mengambil buah pir dari kulkas, memakannya di ruang tamu sambil tangannya sibuk bermain ponsel. Evan yang melihat Tiara sedang menikmati buah pir di ruang tamu, lalu punya inisiatif untuk duduk juga di sofa ruang tamu menemani Tiara.
Awalnya keduanya tidak saling membuka mulut, mereka malah sibuk dengan ponselnya masing-masing. Tapi ketika Tiara akan bangkit dan meninggalkan ruang tamu, Evan mencekal pergelangan tangannya. Evan jelasin semuanya yang terjadi di kafe tadi malam, dan Evan pun meminta maaf.
Tiara sudah memaafkannya, namun entah setan apa yang telah bersarang di tubuh Evan. Sehingga dirinya tanpa permisi langsung ******* bibir Tiara.
"Kak jangan, jangan di sini nanti ada yang lihat." Ucap Tiara dengan terengah-engah karena mendapat serangan mendadak dari Evan.
"Nggak akan ada yang lihat! Bibi pelayan sudah pulang, satpam dan memang sopir lagi ada di depan, dan nggak akan melihat apa yang kita lakukan."
Terjadilah cumbuan panas itu, awalnya mereka melakukannya dalam posisi duduk dan berhadapan. Tapi lama-lama malah jadi berbaring dengan posisi Tiara di bawah dan Evan diatasnya. Bahkan tangan Evan mulai nakal mencopot kancing baju bagian atas Tiara.
__ADS_1
Pandangan matanya terfokus pada gundukan daging sintal itu. Cumbuan ya telah berhenti dan berpindah ke dada bagian atas Tiara.
Namun tiba-tiba terdengar Breaking News sedang terjadi pergulatan diantara gadis cantik yang bernama Tiara, dan prianya bernama Evan." Suara Arka menggelegar dan membahana di ruang tamu, sehingga aktifitas yang sekarang Evan lakukan pun harus berhenti.
END
"Jadi gitu ceritanya." Evan sudah menjelaskan dari awal sampai akhir, sampai kejadian di kafe pun Evan ceritakan secara detail.
"Diam-diam doyan juga ya lu ra." Kalista menoyor pelan kepala Tiara, senyum menyeringai telah ia tampilkan untuk Tiara.
"Normal gue!" Tiara berkata tegas.
"Gimana enak bro?" Tanya Arka pada Evan.
"Enak banget bro! Mau lagi padahal, elu sih gangguin gue pas lagi enak-enak nya." Evan mendelikkan matanya, Evan sangat merasa jengkel karena aktifitas hasratnya terganggu.
"Ada yang lebih enak dari itu, tapi hanya bisa di lakukan setelah menikah." Arka menjulurkan lidahnya.
Kemudian Arka langsung mencium bibir Kalista, ciumannya itu sangat lihay dan mahir. Bahkan Kalista tahu bagaimana caranya mengatur napas dan mencari udara tanpa harus melepaskan pagutannya di bibir Arka.
"Nah gimana? Hebat kan istri gue?" Arka melepaskan bibirnya, tangannya mengelap bibir Kalista yang basah. Kemudian menuntun Kalista menuju kamarnya tanpa menghiraukan tatapan melotot dari Tiara.
"Kok bisa gitu ya?" Tiara melongo ketika melihat Arka dan Kalista sedang bercumbu mesra.
"Bisa karena terbiasa, mau di biasain nggak? Latihan sehari 5 kali juga pasti bakalan lebih mahir dari Kalista." Ujar Evan sambil menaik turunkan alisnya.
"Maunya kak Evan itu mah!" Tiara langsung bangkit dan masuk ke kamarnya. Evan masih memperhatikannya sampai punggung Tiara menghilang.
Di kamar Kalista sedang sibuk membersihkan make up di wajahnya. Bahkan sampai menghabiskan banyak kapas, Kalista takut kalau tidak bersih maka nantinya bakalan timbul jerawat, kulit wajahnya sangat sensitif.
Arka keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah. Kalista menatapnya jengah, berkali-kali Kalista bilang setelah selesai mandi rambutnya di lap dulu sama handuk. Namun kata-kata itu seperti lewat begitu saja, Arka jarang menurutinya.
Kalista masuk ke kamar mandi, mandi dengan guyuran air hangat di shower. Karena sudah hampir malam jadi Kalista tidak keramas, ia hanya menggosok badannya saja. Lagi pula Kalista merasa dingin, jadi durasi mandinya sangat minim.
"Mau makan apa? Aku mau gofood nih." Ujar Arka yang sibuk melihat-lihat menu di ponselnya.
Kalista berjalan mendekat, merebut ponsel Arka untuk melihat daftar menu. Saat ini Kalista tidak tahu mau makan apa, jadi dia perlu melihat daftar menu.
"Ikan asap sambal matah, nasi ayam kedawetan, sate lilit. Minumnya nggak usah beli, kan banyak di kulkas, lagipula aku mau bikin jus kiwi." Ujar Kalista sambil mengembalikan ponsel Arka.
Arka berjalan menuju lemari, mengambilkan baju untuk Kalista. "Pakai baju dulu, nanti masuk angin loh."
Setelah selesai ganti baju Kalista langsung pergi ke dapur, mengupas buah kiwi di bantu oleh Arka. Kalista memang keseringan bikin jus sendiri, soalnya kalau jus dalam kemasan itu rasa buahnya sudah tercampur oleh bahan-bahan lainnya, sudah tidak murni lagi rasa kiwinya.
"Permisi, ini pesanan tuan." Pak satpam langsung meletakkan bungkusan makanan itu di meja dapur.
"Terimakasih." Kalista tersenyum ramah, tangannya sibuk menuang jus kedalam gelas.
Mereka berdua pun asyik memakan pesanan mereka, tidak menawari Tiara ataupun Evan. Kata Arka biarin aja, kalau Tiara mau biar Evan yang berjuang untuk membelikannya. Lagipula dua orang itu sedang mengobrol santai di taman belakang.
Karena kelelahan akibat maternity shoot tadi siang, ditambah lagi sekarang kekenyangan sehingga Arka dan Kalista sudah tertidur pulas. Padahal jarum jam masih menunjukan angka 20:00, tapi mereka sudah terlelap bersama mimpinya.
*****
Tidak terasa ini sudah hari ke-6 Arka dan Kalista menjalani babymoon di Bali. Besok rencananya akan pulang sore hari. Jadi Arka akan mengajak Kalista untuk berkeliling Bali hari ini, dan akan mengunjungi beberapa tempat wisata.
Arka juga tidak ingin melewatkan momen kebersamaan ini begitu saja, Arka bahkan sudah menyiapkan beberapa kamera untuk mengabadikan kegiatan hari ini.
"Bangun! Ayo mandi kita kita jalan-jalan hari ini." Arka mengecup kening Kalista, menyibakkan selimut itu agar tidak melilit di tubuh istrinya.
Tirai gorden di tarik di kesampingkan, jendelanya di buka sehingga udara segar itu pun masuk memenuhi ruang kamar. Matahari juga sudah keluar dari tempat persembunyiannya, bersiap untuk menerangi dunia hari ini.
Kalista mengerjapkan matanya, sinar matahari tersorot ke wajahnya, sehingga dia menutup wajahnya karena terlalu silau.
"Aku mau jus boleh nggak sih, bosan aja pagi-pagi harus minum susu bumil terus." Ujar Kalista yang ternyata sudah selesai mandi, bahkan sekarang wajahnya terlihat sangat fresh.
"Boleh, tapi bukan pagi ya! Siangan dikit, kalau pagi wajib minum susu bumil. Aku tahu kok istri aku bakalan sayang banget sama janinnya." Arka mengecup puncak kepala Kalista.
"Perhatiin gerak gerik mereka ra, belajar tutorial kehidupan rumah tangga." Evan menepuk pelan bahu Tiara.
"Pagi-pagi cium puncak kepala istrinya, atau mau sekarang kita praktekkan Ra?" Evan menatap Tiara dengan tatapan menggoda.
"Kak Evan." Tiara mencubit lengan Evan.
"Berisik woy! Gue dan istri mau sarapan, kalau masih mau berisik silahkan keluar!" Arka mendelikkan matanya, kemudian mengambilkan roti untuk Kalista.
"Gue hari ini mau eksplor Bali, mau mengunjungi berbagai tempat wisata dan utamanya adalah mau surfing." Ucap Arka.
"Hati-hati lu ketelan ombak, lu kan udah lama nggak surfing sapa tahu lu lupa cara ngendaliinnya." Ejek Evan.
Kalista yang sedang mengunyah roti panggang selai cokelat itu pun langsung menatap Arka. "Jangan surfing! Aku nggak mau kamu celaka." Tatapan mata Kalista meyendu, berharap Arka tidak melakukan keinginannya itu.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku sayang." Arka mencium kening Kalista, dan kedua pipinya.
"Tapi aku tetap mau surfing!" Arka mengedipkan sebelah matanya.
"Tenang aja, Arka udah pro banget kok, pokonya hebat dalam mengendalikan ombak. Gue ingat banget nih 5 tahun yang lalu kita juga liburan di Bali, dan pada waktu itu kita melakukan surfing. Mau tahu nggak gimana reaksi orang-orang lihat Arka surfing? Beuh ciwi-ciwi pada heboh teriak histeris, minta di pacarin, minta kencan, minta kontaknya, pokonya semua ciwi-ciwi jatuh cinta dan terpesona." Evan menceritakan kejadian 5 tahun yang lalu.
"Beneran?" Kalista menatap Arka, meminta jawaban yang mutlak dari mulut Arka.
"Beneran sayang."
"Yaudah jangan surfing!" Ketus Kalista.
"Kenapa?" Arka menatapnya heran.
"Nanti ciwi-ciwi jatuh cinta sama kamu! Ingat ya kamu milik aku doang." Kalista memutarkan bola matanya jengah.
"Posesif! Tapi aku suka." Arka mengecup bibir kalista.
"Pamer terus!" Cibir Evan.
"Nikah makanya!" Ujar Kalista dan Arka berbarengan sambil menjulurkan lidahnya.
"Kompak." Kata Tiara.
Setelah selesai sarapan, Arka langsung mempersiapkan alat-alat yang akan di pakai untuk surfing, dan memasukannya ke bagasi mobil.
Arka mengajak Evan, tapi Evan tidak bisa karena sudah punya planning untuk hari ini, katanya sih mau quality time with Tiara. Karena cuma berduaan doang, jadi Kalista menolak untuk mengunjungi banyak tempat wisata.
Kalista menggunakan dress pantai dengan tali bahu yang sangat kecil, berdada rendah. Dress itu motifnya khas baju pantai pantai banget, berwarna peach, panjangnya hanya sebatas lutut, tapi karena perut Kalista sedang buncit, ketika di pakai bajunya menjadi lebih pendek, 15 cm diatas lutut. Alas kakinya hanya menggunakan sandal jepit biasa. Penggunakan topi pantai berwarna mocca membuat wajahnya semakin mempesona. Kulit putihnya ter-ekpose, laki-laki manapun yang melihatnya pasti bakalan terpesona. Bahkan Kalista membawa kacamata hitam, karena kalau di pantai sangat panas dan akan menyilaukan mata.
Arka juga tidak kalah kerennya dari Kalista, memakai celana longgar seperti boxer atau kolor, tapi motifnya pantai banget. Baju kaos putih polos, topi, dan menggunakan kaca mata hitam. Lalu memakai sandal jepit seperti Kalista.
Tidak lupa mereka memakai sunblock terlebih dahulu, bahkan Arka sampai membeli sunblock dengan kualitas sangat bagus dan harganya pun tinggi. Arka tidak mau kulit istrinya terbakar sinar matahari, begitupun dengan kulitnya.
Setelah menempuh perjalan yang cukup memakan waktu, akhirnya mobil yang Arka kendarai itu telah sampai di Nusa Ceningan Bali, pulau kecil dengan sejuta pesona keindahan dan Destinasi Wisata.
Daerah ini merupakan salah satu dari tiga Nusa atau pulau kecil yang populer di Bali. Pulau kecil ini merupakan salah satu pulau yang terletak di bagian tenggara pulau Bali.
Keindahan alam yang sangat indah begitu memanjakan mata, suasana pantai dan tebing karangnya sangat menakjubkan. Keindahan alam yang di milikinya ini membuat para wisatawan lokal maupun mancanegara berbondong-bondong datang.
Arka memilih melakukan surfing di Secret Beach. Secret Beach merupakan sebuah pantai kecil dengan panjang mencapai 50 meter. Pantai ini memiliki hamparan pasir putih yang bersih dan halus. Terdapat beberapa area yang berhias batu karang dengan bagian kiri dan kanan ditumbuhi semak.
__ADS_1
Hanya saja pantai di Nusa Ceningan Bali ini mempunyai ombak yang besar, sehingga sangat berbahaya untuk berenang ataupun melakukan olahraga surfing. Tetapi Arka melihat ada beberapa orang yang sedang melakukan surfing, mungkin memang berbahaya untuk pemula tapi untuk yang sudah pro malah punya tantangannya tersendiri.
Arka segera berganti pakaian, dengan pakaian yang khusus untuk surfing. Tetapi hanya mengenakan celananya saja, Arka sengaja tidak mau memakai bajunya. Katanya biar Kalista melihat keindahan tubuh Arka yang sedang berselancar diatas ombak.
Sebenarnya Kalista sangat was-was, dan beberapa kali melarang Arka untuk melakukan surfing. Kalista tahu surfing merupakan olahraga ekstrim dan lebih beresiko.
"Aku tuh udah pro sayang, tenang saja! Aku nggak akan ninggalin kamu dan anak kita." Arka mengusak rambut Kalista, dari tadi Kalista memeluknya sangat erat dan tidak mau melepaskannya.
"Jangan lama!" Raut wajah Kalista berubah sendu.
"Iya." Arka mengecup puncak kepala Kalista.
"Kalau ada yang ngajak kenalan jangan mau! Bahaya juga ninggalin bini cakep kinclong gini sendirian di tepi pantai." Arka menjawil pelan hidung Kalista.
"Iya bawel!" Kalista mencium pipi Arka.
Sementara menunggu arka bermain surfing, Kalista menunggu di tepi pantai sambil menikmati air kelapa muda dan melihat pemandangan sekitar.
Hari ini suasana pantai ini sangat ramai, kebanyakan para wanita hanya memakai bikini saja. Dan banyak sekali yang berfoto, karena keindahan pantai ini memang sangat Instagramable.
Sesekali Kalista duduk di pasir pantai, tangannya sibuk membangun istana pasir. Walaupun Kalista sebentar lagi sudah mau menjadi seorang ibu, namun tetap saja bermain pasir pantai masih di lakukannya, Kalista masih seperti anak kecil.
Karena bosan terus menerus duduk, Kalista berjalan-jalan di sekitar tepi pantai itu. Angin yang berhembus cukup kencang membuat baju Kalista seperti berkibar-kibar layaknya bendera, rambutnya berkali-kali menghalangi wajahnya. Kulit putihnya bersinar sangat cerah.
Beberapa pria mulai menggodanya, ada yang mengajaknya berkenalan. Bahkan beberapa turis pun mengajaknya berkenalan. Namun Kalista tetap pada pendiriannya, menampilkan raut wajah jutek dan dingin. Meski pun begitu, ternyata beberapa turis itu lumayan nakal. Mereka tetap memperhatikan Kalista dari jarak yang tidak begitu jauh, diam-diam memotretnya.
"Wow, that is awesome!" Turis wanita berkulit eksotis membelalakan matanya lalu jarinya menunjuk ke tengah pantai.
"Looks cool, and so beautiful." Bahkan temannya si turis yang berada di sebelahnya sampai menganga melihat pria tampan yang sedang mengarungi ombak.
"The man should be mine." Turis yang lainnya pun ikutan berkomentar.
Kalista?
Masih sibuk menikmati air kelapa muda sambil bermain ponsel.
"Gila-gila parah itu keren banget!"
"Body nya gila nggak masuk akal, cakep banget. Roti sobek gue." Wanita cantik yang memakai bikini merah itu berkomentar, bahkan sampai merekam aksi yang sedang dilakukan oleh si pria tampan itu.
Karena banyak wanita-wanita yang berteriak histeris kagum dan terpesona. Akhirnya Kalista pun tertarik untuk melihatnya.
Kalista kaget dan membelalakan matanya, pria taman yang sedari tadi jadi topik utama pembicaraan para wanita lokal maupun turis itu adalah suaminya.
Arka begitu mempesona, bermain surfing diatas ombak. Pemilihan spotnya nya pun sangat tepat. Aksinya begitu lincah dalam menaklukan ombak, bangun dan berdiri dilakukannya dengan sangat indah. Kalista bahkan sampai ngilu melihatnya, karena takut Arka terjatuh. Bahkan Kalista ikut menjerit histeris ketika Arka berbaring diatas papan surfing, Kalista takut Arka tidak bisa bangun dan menyeimbangkan tubuhnya.
"Real pro surfer." Wanita yang tadi menyebut Arka sebagai roti sobek itu masih asyik memperhatikan, bahkan mengaku-ngaku sebagai kekasihnya.
Arka masih lincah bermain diatas awan, Arka melakukan trik 360, dimana Arka melakukan lompatan berputar 360 ke arah kanan, trik lainnya juga ketika 360 itu di balik arahnya. Semua wanita semakin menjerit menjadi-jadi, semuanya begitu tersihir oleh pesona Arka.
Arka melakukan Noseriding, beridri diujung papan selancar sambil merentangkan kedua tangannya. Wajah tampannya terlihat sangat bahagia ketika menaklukan ombak.
Kalista mengusap dadanya, napasnya ngos-ngosan. Dia bahkan sampai lemas ketika melihat Arka melakukan gerakan KickFlip, sebuah gerakan papan selancarnya memutar di muka ombaknya. Sebuah gerakan yang lumayan menyusahkan dan beresiko tinggi. Jika surfer tidak memiliki keseimbangan dan kemampuan yang cukup maka bisa di pastikan akan terjatuh.
Rasa cemas dan gelisah masih menyelimuti hati Kalista, tapi lagi dan lagi Arka melakukan aksinya. Kali ini Arka melakukan gerakan Superman. Salah satu gerakan surfing yang cukup susah untuk di lakukan, aksi yang sangat mengerikan diatas ombak yang besar. Selanjutnya gerakan Ariel Moves.
Setiap Arka berganti gerakan, semua wanita yang sedang memperhatikannya di tepi pantai pada heboh, histeris bahkan sampai berteriak-teriak kagum. Kalista merasa jengah dan tidak rela suaminya itu menjadi rebutan wanita-wanita lokal maupun mancanegara.
Kalista menangis ketika Arka melakuakan gerakan Tube Ridding. Dimana tubuh Arka akan masuk kedalam gulungan ombak. Semua orang masih setia menunggu Arka apakah berhasil menaklukan dan keluar dengan selamat dari gulungan ombak?
Suara-suara pujian pun kembali terlontar dari mulut wanita-wanita ganjen itu, Kalista mengucap syukur berkali-kali. Karena Arka berhasil keluar dari gulungan ombak itu. Arka melakukan gerakan Tube Ridding dengan sangat sempurna, padahal gerakan itu sangat susah untuk di lakukan. Bahkan di dalam kompetisi pun akan mendapatkan nilai paling tinggi jika bisa melakukan gerakan Tube Ridding ini.
Arka sudah mulai menepi, punggung lebar dan bahu kekarnya itu terlihat sangat atletis dan mempesona, bahkan perut kotak-kotaknya terlihat mengkilat karena basah. Tidak heran kenapa semua wanita itu tergila-gila pada Arka.
Tangannya sibuk mengibas-ngibaskan rambut basahnya, tangan satunya lagi memegang papan seluncur. Berada tepat di bawah terik matahari menjadikan Arka semakin terlihat bersinar.
Ketika Arka berjalan akan menghampiri Kalista, beberapa wanita turis maupun lokal berusaha mengajaknya berbincang, bahkan ada yang berani meminta nomor kontak, alamat rumah, dan lain sebagainya, namun Arka sama sekali tidak memperdulikannya, Arka terus saja berjalan ke tepi pantai dimana istrinya sedang menunggu.
Yang membuat Kalista kesal adalah beberapa kali turis turis yang mengenakan bikini berusaha mencoba mencium Arka, untung saja Arka segera menjauhkan wajahnya.
Arka meletakkan papan seluncurnya, lalu meminum air kelapa muda yang telah di pesankan oleh Kalista.
"Hi, gila kan benar ini orang cakep benar dah." Wanita berbikini hitam itu menatap Arka secara intens.
"Arka." Wanita berbikini merah memekik kaget dan histeris, kemudian beringsut maju dan akan memeluk Arka. Namun Arka segera menepisnya sambil memicingkan kedua bola matanya.
"Gue Ashila, teman SMA lu. Ingat nggak? Yakali lupa lu kan waktu SMA ngebet banget pengen jadi pacar gue." Ashila terus aja mengoceh, bahkan mulutnya sampai menganga melihat Arka yang sekarang jauh lebih tampan daripada dulu.
"Sorry ya Ashila sepuluh tahun telah berlalu, dan gue bukan Arka yang dulu. Semasa SMA gue tuh cuma penasaran saja sama cewek kaya yang super sombong, gue nggak niat pacaran sama lu kok." Arka mengeringkan rambutnya menggunakan handuk yang di berikan oleh Kalista.
"Oh masih ingat gue berarti ya lu, ini Hilda si cewek yang selalu nempel sama gue pas SMA. Eh btw, lu tinggal di Indonesia ya sekarang?" Ucapannya terdengar sangat ramah.
"Iya gue tinggal di Indonesia, gue CEO perusahaan Anggara." Arka mendelikkan wajahnya jengah dengan kelakuan Ashila.
"Wow keren." Hilda mengeluarkan suaranya.
"Sekarang lu keren banget ya ka." Manik mata Ashila terlihat berbinar ketika menatap Arka.
"Nomor kontak lu dong." Ashila dengan tidak tahu malunya meminta nomor kontak Arka.
"Nggak semua orang bisa punya nomor kontak gue, lu tahu sendiri lah sekarang gue ini CEO perusahaan ternama di Indonesia, rekan kerja gue aja nggak semuanya punya nomor kontak gue. Apalagi wanita SMA yang katanya kaya raya tapi maaf kasta lu masih di bawah gue, jadi lu nggak berhak punya nomor kontak gue." Sarkas Arka, Arka sengaja berbicara gamblang pada Ashila, soalnya Arka ingat betul bagaimana Ashila memperlakukan orang-orang miskin di sekolah.
"Yakin? Lu kali nggak berhak dapat kontak gue." Ashila tertawa renyah, tetapi sebenarnya sedang menahan gejolak amarahnya.
"Haha kontak lu? Nggak penting!" Arka tertawa mengejek.
"Yakin?" Sekarang Ashila malah menggoyangkan tubuhnya, menari erotis di tepi pantai dengan menggunakan bikini merah. Laki-laki lain mungkin akan tergoda dan terbangkitkan gairahnya. Tapi Arka malah menatapnya jijik.
"A S H I L A lu nggak usah merendahkan harga diri lu, gue sama sekali tidak tergoda yang ada juga gue tuh jijik banget ngelihat lu kaya gini." Arka bergidik ngeri bahkan sampai memutarkan bola matanya, wajahnya terlihat jengah.
"Body lu yang rata kaya gitu, cuma modal dada gede doang sama sekali tidak ada apa-apanya di banding istri gue." Arka berkata tajam.
Ashila menajamkan pendengarannya, kemudian menatap Arka lalu dialihkan pandangan itu kepada wanita buncit yang sedang duduk di sebelah Arka. "Itu?" Ashila menautkan sebelah alisnya.
"Iya istri gue namanya Kalista, sekarang sedang mengandung anak gue. Gue nggak suka wanita seumuran, selera gue sekarang wanita muda, selain itu juga gue suka wanita yang pintar, cerdas, dan berwawasan luas. Kalista ini, istri gue ini nggak hanya punya paras cantik, dia juga wanita yang pintar dan mempunyai IQ diatas rata-rata, bahkan dia kuliah di Harvard university dengan program beasiswa full." Arka memperkenalkan istrinya, yang mana menurut Kalista itu sangat berlebihan. Bahkan Arka juga memamerkan kisah romantis dan rasa bahagianya.
"Sayang bagaimana tadi penampilan aku?" Arka bertanya sambil mendekap Kalista di pelukannya. Arka sudah tidak mempedulikan Ashila dan Hilda yang masih berada di hadapannya.
"Sukses banget buat aku sports jantung, bahkan sampai nangis ketakutan." Kalista mencubit hidung Arka.
"Ko nangis? Kirain terpesona." Arka menatap heran.
"Soalnya takut suamiku jatuh! Tapi ternyata suami adalah seorang pro surfer. Keren banget, mengagumkan bahkan ciwi-ciwi di tepi pantai saja sampai berteriak histeris." Ucap Kalista dengan wajah kesalnya.
----------------------------------🌻🌻
Nulisnya ngebut banget sampai panjang, semoga readers suka😊
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Tambahkan favorit juga! Terimakasih🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1