SUN FLOWER

SUN FLOWER
Episode 19


__ADS_3

Pagi menjalar menerangi seluruh penjuru kota. Cahaya putih mengusik tidur nyenyak Vino. vino mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya bangun dan pergi membersihkan diri. Setelah siap dengan pakaian formalnya, Vino memerintahkan beberapa maid untuk menyiapkan kamar tamu. Dia akan tinggal di kamar itu sampai kamarnya selesai di benarkan.


"Maid.. Kemasi barang saya di kamar, dan buang semua yang sudah saya kemas sesuai petunjuk yang saya tulis.. Nanti siang akan ada arsitek yang merenovasi kamar saya, biarkan saja.. Dan jangan sampai ada yang hilang terutama biji bunga matahari saya.. Mengerti??" ucap Vino pada seorang maid yang ia temui


Maid itu cukup muda, dia tersentak kaget saat melihat Vino berbicara padanya. Dia tidak tau kalau Vino ada di rumah ini. Karena dia tidak melihat kedatangan Vino tadi malam.


"Ba.. Baik tuan,, akan saya laksanakan.." ucap maid itu masih kaget


Vino mengangguk dan meninggalkan mansion. Mike sudah setia menunggu di dalam mobil, dan segera menjalankan mobil saat Vino memasukinya.


"Mike, bagaimana kondisi Walt?" tanya Vino memindai jadwal hari ini. Dia harus menyusun jadwal dan menjalankannya sendiri, karena sekretaris Stevenson company mogok kerja dan sudah Vino pecat.


"Walt masih baik-baik saja tuan muda.." jawab Mike.


"Jadi saya tidak perlu mengeluarkannya kan?" ucap Vino


"Bu.. Bukan begitu, tuan.. Tuan Walt baik-baik saja kondisi fisiknya.. Mentalnyapun tidak memburuk.. Dia bersikeras bahwa dia tidak bersalah, jadi dia tidak menganggap ditahannya ia sebagai beban" jelas Mike


"Hmm.." gumam Vino. "Siapa penggugatnya?" tanya Vino lagi


"Model yang tengah naik daun, dan perusahaan otomotif swasta milik Jeffery Quanfeng dari taiwan.. Hukuman belum dijatukan, karena belum ada pembela untuk tuan Walt" jawab Mike


Vino hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Apa perlu kita sewakan pengacara, tuan??" tanya Mike setelah menyingkirkan keraguannya


"Apa kau punya banyak uang??" tanya Vino sarkas. Mike menggelengkan kepalanya.


"Apa kau tau keadaan perusahaan?" Vino masih dengan nada sarkas. Mike mengangguk.


"Apa kau ada pernah tanya kepadanya soal menyelesaikan masalah perusahaan?" ucap Vino. Mike menggeleng lagi

__ADS_1


"Lalu apa dia pernah memberi saran untuk perusahaan?"


"Ti.. Tidak, tuan muda.. Tuan Walt angkat tangan untuk masalah yang terjadi di perusahaan.. Dia menyerahkan tanggung jawab pada tuan Alex.." jelas Mike


"Apa Alex ada memberi kabar??" tanya Vino sinis


"Tidak, tuan.. Tuan Alex bilang dia sibuk dengan urusan perusahaannya di Tokyo.. Jadi dia tidak pernah menghubungi atau mengatur perusahaan lagi sejak saat itu.." ucap Mike dengan nada kecewa


"Bagus.. Jangan pernah kasih tau Walt dan juga Alex jika saya sudah mengambil alih perusahaan.. Berikan kabar terburuk saja jika mereka menanyakannya.. Mengerti?" perintah Vino


"Mengerti, tuan.." Mike hanya berani mengikuti perintah tuan mudanya. Diapun belum sempat menghubungi keluarga Stevenson karena sibuk sehari semalam kemarin.


Selang beberapa menit, mereka memasuki area perusahaan. Vino bergegas memasuki kantornya.


Para staff dan direksi yang melihat penampilan formal Vino, dengan jas dan celana yang licin dan lurus, rambut tertata rapi, wajah serius, sepatu mengkilap, dan langkah yang pasti, semuanya tercengang dan menundukkan kepala saat Vino melintas. Bahkan beberapa staff wanita termasuk penjaga front office melongo sampai lupa mengedipkan mata hingga Vino tak lagi mengisi penglihatannya.


"Jantungku...!!" pekik salah satu Cs


Senyum karyawan hari ini jauh lebih merekah dibanding kemarin, bagaimana tidak, gaji mereka sudah dibayarkan ditambah bos baru mereka jauh lebih berwibawa dan keren dibanding kedua kakaknya meski memiliki wajah yang hampir mirip. Aura pemimpin pada diri Vino jauh lebih pekat bahkan jika dibandingkan dengan Austin sekalipun.


Vino memasuki ruang CEO dan membereskan dokumen yang sempat terbengkalai. Vino kerepotan, karena kerjaannya hanya di bantu Mike, karena itu tadi dia belum punya sekretaris. Mike melakukan panggilan pada Didi, tak berselang lama, didi menjawab panggilan.


"Halo Didi,, bagaimana persiapan di sana??" ucap Vino memulai pembicaraan dengan bahasa Indonesia


"Kami sudah siap, tuan.. Saya juga sudah menyiapkan uang yang diminta tuan, dan para staff yang akan pergi ke newyork sudah berangkat jam satu siang tadi.." jawab Didi


"Baiklah..ada berapa staff yang akan berangkat?" tanya Vino lagi


"Ada dua puluh orang, tuan.. 10 laki-laki, dan 10 perempuan.." Ucap Didi


"Kerja bagus Didi" puji Vino

__ADS_1


Panggilan pun diselesaikan. Vino memanggil Mike agar masuk ke ruangannya.


"Mike, minta akun keuangan perusahaan sekarang.." ucap Vino


Mike embungkuk dan meninggalkan ruangan gunaemanggil direktur keuangan. Tak berselang lama, direktur keuangan memasuki ruangan Vino dan memberikan rekening perusahaan. Vino mengirimkannya ke e-mail perusahaannya.


"Tuan Wilson, tolong siapkan dana untuk menyewa apartmen wind sebanyak dua puluh unit untuk tiga bulan pertama.. Saya punya saham di sana, cantumkan saja nama saya beserta perusahaannya.. Nanti saya akan kirimkan surat perintahnya.." ucap Vino


Tuan Wilson mengangguk dan membungkuk setelah diperintahkan meninggalkan ruangan Ceo. Akan lebih mudah jika Vino membawa didi atau Steva ke sini. masalahnya, ia harus memimpin perusahaan papanya, bukan bisnis trip perusahaannya. Jadi dia tidak ingin uangnya dan uang papanya tercampur jadi satu.


Beberapa jam kemudian, rapat para pemegang saham diadakan. Vino memimpin jalannya rapat. Departemen keuangan menjelaskan bahwa Vino memegang 78% saham perusahaan dan sisanya dari investor.


Ada beberapa investor yang tidak terima Vino memimpin perusahaan meski dia pemegang saham terbanyak. namun dengan jawaban bijak dari Vino, orang-orang yang menentangnya jadi setuju. Rapat selesai sebelum jam makan siang. Beberapa kolega menyelamati Vino karena menjadi pemimpin baru Stevenson company, namun Vino menolak karena dia hanya akan menggantikan papanya beberapa hari saja sampai Austin bisa memimpin lagi.


Setelah makan siang, Vino memerintahkan Mike membeli beberapa pot bunga beserta tanahnya. Vino tidak mengatakan apapun mengenainpot itu. Tak lupa Vino juga menyuruhnya membeli pupuk tanan juga.


Ketika sedang serius memindai dokumen, Mike masuk bersama beberapa kuli yang membawa pot dan menata tanah beserta pupuknya di dalam ruangan. Mike menghampiri Vino dengan wajah yang sangat khawatir.


"Tuan..!" ucap Mike di depan meja Vino


"Hm..?" gumam Vino seraya mendongak menatap Mike


"Tuan.. Beberapa buruh yang mogok kerja dan semalam dibayarkan gajinya serta dipecat, mereka tengah berdemo di depan perusahaan.." lapor Mike


"Demo?? Masalah apa?" tanya Vino


"Mereka tidak terima karena mereka diputuskan kontrak kerja sepihak" ucap Mike


Vino mengerutkan keningnya saat mendengar ucapannya. Sebenarnya Vino tidak perduli dengan keadaan orang yang sudah ia pecat. "Suruh direktur humas menghadap saya" ucap Vino


"Baik, tuan.." Mike kembali meninggalkan ruangan Vino, tak lama pekerja yang menyusun pot Vino pun keluar.

__ADS_1


__ADS_2