SUN FLOWER

SUN FLOWER
UCAPAN GUE?


__ADS_3

"Saya boleh pindah tempat duduk nggak?" Tanya Kalista pada mereka yang sedang berada di satu meja.


"Kenapa?" Tanya Riko dan Andy barengan.


"Sesak nafas saya kalau mencium asap rokok, saya nggak kuat!" Kalista menutup hidung dan mulutnya sambil terbatuk-batuk kecil.


"Boleh!" Riko mengizinkan Kalista pindah.


"Lebay!" Desis Arka dengan pandangan sinis.


"Lu juga pria lebay yang nggak berani merokok!" Ledek Riko sambil menyeringai.


"Sialan lu!" Arka melemparkan bungkusan rokok yang ada di meja.


Setelah janji temu dengan klien yang berlangsung hanya sebentar itu, karena Arka menolak dan memutuskan secara sepihak, sehingga kini mereka mampir ke coffee shop milik sahabatnya itu.


Coffee shop ini selalu ramai oleh muda-mudi berseragam putih abu. Ada yang sekedar nongkrong, diskusikan tugas, dan ada juga yang memadu kasih. Kalista menajamkan penglihatannya pada sepasang pria dan wanita yang kira-kira usianya sekitar 20 tahun, mereka duduk berhadapan dan saling menyuapi cake pesanan mereka, romantis! Kalimat itu lah yang sekarang bersarang di pikiran Kalista.


"Boleh duduk!" Seorang laki-laki yang usianya mungkin dibawah Arka, tetapi terlihat lebih dewasa, laki-laki itu menarik kursi di hadapan Kalista, lalu duduk tanpa dipersilahkan terlebih dahulu.


"Kalau di jawab nggak boleh pun situ sudah duduk." Sindir Kalista sambil memutarkan bola matanya jengah, lalu memainkan ponselnya.


"Kamu makin cantik ya kalau cemberut, apalagi kalau merajuk manja pasti sangat manis." Laki-laki itu tersenyum sumringah memperhatikan gadis cantik dihadapannya itu.


"Bola mata yang indah."


"Bulu mata yang lentik."


"Bibir mungil yang menggemaskan!"


Laki-laki itu masih terus berbicara sambil mengomentari setiap inci yang ada di wajah Kalista.

__ADS_1


"Kamu cantik!" Itu lah inti kalimat yang sebenarnya ingin diucapkan laki-laki tersebut.


"Bosan!" Jawab Kalista malas dan datar.


"Kenal aja belum, masa udah bosan?" Tanya laki-laki itu sambil terkekeh.


"Saya bosan dibilang cantik! Kali-kali bilang saya jelek atau apa kek!" Celetuk Kalista tanpa memandang lawan bicaranya, karena Kalista sedang asyik mempermainkan ponselnya.


"Kamu menarik! Dan saya suka!" Ungkapan dari laki-laki itu cukup membuat mood Kalista jelek dan mengakhiri bermain ponselnya.


"Hadeuh nih cowok rese banget! ganteng aja kaga sosoan deketin gue!" Batin Kalista, lalu pindah duduk ke semula, meninggalkan laki-laki itu tanpa pamit.


"Balik lagi lu! Kenapa? dia kurang tajir?" Sindir Arka dengan nada sangat mengejek. Mentang-mentang ini bukan di kantor, panggilnya aja gue elu!


"Iya kurang tajir! Gue belum nemuin pria sekaya lu!" Ucap Kalista datar.


"Tapi sayang beribu sayang, itu yang kaya bukan lu, tapi bokap lu! Gue mau deh jadi nyokap tiri lu!" Sarkas Kalista tajam yang sebenarnya sedang mengejek Arka.


"Mantap bro, Mahmud!" Riko ikut memanas-manasi.


"Dia jadi nyokap gue? Haha jangankan jadi nyokap gue, jadiin dia pembokat di rumah gue aja gue sama sekali nggak sudi! Menjijikan sekali rasanya rumah gue diinjak oleh dia." Arka berkata terang-terangan, sebenarnya kata-kata itu berlawanan sekali dengan hati dan perasaannya yang mulai tertarik padanya.


"Wanita-wanita murahan kaya lu gini nih, di hujamkan pedang di bayar lima juta rupiah aja udah pasti sumringah. M U R A H A N!!!" Arka semakin merendahkan Kalista dengan penekanan di akhir kalimatnya.


Kalista terdiam cukup lama untuk mencerna semua perkataan yang Arka lontarkan untuknya. Ulu hati Kalista terasa nyeri sekali seperti sedang di cabik-cabik dan hancur luluh lantak. Berkali-kali Kalista menguatkan hatinya agar tabah menerima celotehan Arka, dan memastikan bahwa bulir-bulir bening jangan sampai terjatuh dihadapan Arka, Riko dan Andy.


"Semurahan itu ya diri saya? Sakit banget loh saya di cap murahan seperti itu." Ujar Kalista sambil tersenyum palsu.


"Saya balik duluan deh, orang-orang kaya seperti kalian pasti malu duduk semeja dengan gadis murahan ini." Ucap Kalista lagi-lagi dengan senyuman palsu itu. Kalista lalu berjalan keluar dari Coffee shop itu.


"Lu sadar nggak? Apa yang udah lu lakuin?" Asisten Andy berteriak pada Arka.

__ADS_1


"Nyakitin dia lu bro!" Sarkas Riko tajam.


"Kalau lu suka sama dia, lu ungkapin! Jangan malah nyakitin perasaannya!" Andy berkata dengan volume tinggi.


"Gue suka sama dia? Gila nggak sih itu mimpi buruk!" Arka membantah perkataan Andy.


"Nggak usah munafik! Gue lihat dengan kepala gue sendiri saat lu meluk Kalista tadi, gue kenal lu udah lama, dan gue bisa membedakan mana tatapan nafsu dan mana tatapan penuh perasaan. Bahkan kalau gue boleh jujur, lu natap kang Yoora dengan nafsu, sedangkan di peluk Kalista lu merasa tenang. Bener kan? Udah lama man, jangan bohongi perasaan lu!" Andy berbicara panjang lebar dan sedikit menasehati Arka. Arka termenung mendengar semua ucapan Andy.


"Kerasukan apaan sih lu ndy?" Tanya Arka santai.


"Elu yang kerasukan setan!" Ujar Andy dan Riko barengan.


"Gini nih kalau manusia diciptakan tanpa hati, nggak punya perasaan." Umpat Andy.


*****


Waktu menunjukan pukul sembilas belas empat puluh lima menit delapan detik, Kalista berjalan di lorong apartment. Rambut acak-acakan, bertelanjang kaki dengan telapak dan jari-jarinya sangat kotor, rok dan baju yang sama kotornya seperti kaki. Berjalan dengan perlahan sambil menenteng hills nya. Penampilannya kusut sekali, berbeda dengan tadi siang yang sangat anggun dan elegan.


Keluar dari Coffee shop kalista pergi ke taman. Menangis dan berteriak, bertanya kenapa tuhan menuliskan garis takdir hidupnya sepelik ini? Merasa tidak diberikan ketidakadilan dalam hidup. Kalista menangis dan terus menangis tanpa mengingat waktu, dan bahkan Kalista tertidur di taman, hingga gemericik air kecil-kecil yang turun dari langit itu pun menyadarkan dirinya.


Kalista berjalan gontai, wajahnya pucat pasi. Aliran-aliran air mata membekas di pipinya, matanya bengkak dan hidungnya merah. Penampilannya cukup mengenaskan!


Arka mengintip dari balik gorden jendela apartnya, ia memperhatikan penampilan Kalista yang sangat kusut dan acak-acakan itu. Perempuan yang menghuni apart tepat di depannya itu berbeda sekali dengan perempuan yang sering ia temui dikantornya.


"Sebegitu buruknya kah dampak dari ucapan gue?" Arka merasa bersalah pada Kalista, dan terus menatap punggung Kalista yang sudah menghilang seiring dengan ditutupnya pintu apart.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2