
Pagi harinya Arka Kemabli di buat penasaran. Pagi-pagi buta Kalista tengah sibuk sarapan. Lalu Kalista juga menyuapi kedua anaknya.
Arka telah bangun, tetapi belum mandi. Arka menyaksikan semua itu di monitor di kamarnya, entah mengapa gelagat Kalista sepertinya sangat mencurigakan, Arka merasa was-was dan cemas. Itulah sebabnya Arka kembali mengaktifkan kamera cctv di rumahnya. Bahkan Arka juga memasang cctv hampir di setiap sudut rumahnya.
Tepat ketika Arka sedang sarapan, Kalista kembali turun dengan penampilan yang berbeda. Celana pendek yang mungkin panjangnya hanya sekitaran 20cm diatas lutut, kaos putih polos sangat pas membentuk tubuh Kalista. Topi putih menutupi kepalanya, tidak lupa Kalista juga memakai sepatu sport berwarna putih.
Hanya dengan melihat penampilan Kalista, semua orang pun pasti bisa menebak bahwa Kalista ingin pergi jogging. Kalista juga mendorong stroller bayi, kalista memilih stroller yang mempunyai kapasitas untuk menampung dua bayi. Sehingga Kalista tidak merasa repot, hanya dengan mendorong stroller itu.
"Hati-hati non. Nanti cerita tentang hari ini ya ke bibi." Salah satu pelayan yang usianya cukup tua berujar seperti itu.
"Siap bi." Kalista mengacungkan ibu jarinya.
"Oh iya, nanti siapin jus alpukat ya. Taruh ada di kulkas biar dingin." Pinta kalista yang langsung di iyakan oleh bibi pelayan.
Kalista segera pergi dari rumah ini, berjalan-jalan santai di pagi hari dengan udara segar cukup membuat otak dan pikirannya merasa fresh dan rileks.
Tidak jauh, bahkan mungkin hanya melewati beberapa rumah saja, Kalista sudah sampai di taman. Taman ini sangat bersih, rumputnya juga berwarna hijau sangat menyejukkan mata.
Karena ini bukan hari weekend, jadi taman tidak seramai biasanya. Tetapi menurut Kalista ini malah lebih bagus, karena dirinya bisa lebih leluasa mengajak Nathan dan Nayla mengelilingi taman tersebut.
"Hallo, boleh kenalan?" Tanya seorang pria yang rupanya juga sedang jogging. Wajahnya lumayan tampan, perwakannya bagus. Tetapi jika ditanya lebih tampan mana sama Arka? Tentu saja Kalista tidak bisa berbohong, ketampanan Arka masih berada di level atas.
Kalista membalikan badannya, celingak-celinguk kesana kemari, mencoba memastikan apakah pria itu sedang berbicara dengan dirinya atau dengan orang lain.
"Ke saya?" Tanya kalista sambil mengarahkan telunjuknya tepat ke wajahnya.
"Iya lah ke kamu, yakali saya ngomong sama angin." Ujarnya sambil terkekeh, sepertinya ini orang lumayan humoris.
Setelah Kalista perhatikan lagi, iya juga sih apa yang di katakannya. Soalnya tempat dimana Kalista berdiri sekarang, sama sekali tidak ada orang selain dirinya, pria itu dan kedua bocah kembarnya.
"Boleh kenalan?" Tanyanya lagi, di bibirnya ini terukir sebuah senyum yang tulus, bukan senyum palsu ataupun senyum di paksakan.
Sepertinya kenal? Tapi dimana? Kok berasa familiar banget ya? Itulah yang sebenarnya sedang Kalista pikirkan.
Karena Kalista lebih banyak diam dan minim sekali di mulutnya itu keluar kata-kata atau kalimat. Pria itu malah meminta Kalista untuk duduk di bangku taman, dirinya juga duduk di sebelah Kalista.
"Tempo hari saya meeting di mall, sambil menikmati makanan di restoran yang terdapat di mall tersebut. Saya nggak sengaja melihat cewe cantik, lagi nongki cantik bersama dua balita kembar." Pria itu menjeda ucapannya sebentar, melirik Kalista dengan senyum mengembang.
"Waktu itu sebenarnya saya pengen kenalan, tapi cara saya salah. Sehingga wanita itu merasa ketakutan dan kabur, mungkin sebenarnya risih kali ya bukan ketakutan." Tuturnya lagi.
Sekarang Kalista baru ingat, jadi pria ini yang waktu itu sedang meeting yang sesekali matanya melirik Kalista, bahkan ketika Kalista hendak pulang dirinya malah mebgekori langkah Kalista dengan tergesa-gesa. Wajar saja Kalista langsung kabur, toh pria itu ngikutinnya kaya orang jahat.
Masih tidak ada respon dari Kalista, hati Kalista terlalu condong pada Arka. Tindakan seperti ini jika Arka tahu, bisa menimbulkan api permasalahan, sebuah kesalahan pahaman.
Kalau sama Gerry, Kalista bisa akrab tanpa takut di tuduh selingkuhan, karena memang Gerry itu adalah Kaka seniornya yang paling dekat dengannya. Bahkan Kalista sudah menganggapnya sebagai Kaka kandungnya.
"Ibunya si balita kembar ini kemana? Padahal kamu cantik loh, kok milih profesi jadi baby sitter? Kalau jadi model juga karir kamu bakalan bagus dan melonjak loh." Pria itu masih mencoba berinteraksi dengan Kalista, walaupun dia tidak tahu kapan Kalista akan merespon ucapannya.
Nathan menangis, Kalista memberikannya susu formula. Kalista juga mengajaknya bermain, agar mood Nathan kembali bagus.
"Orang tua jaman sekarang ya, bukannya memberikan asi malah di ganti susu formula. Dimana peran mereka sebagi orang tua? Jangan-jangan lahirannya juga milih di belakang perutnya? Wanita itu nggak sempurna kalau lahirannya tidak normal." Di akhir kalimatnya pria itu malah tersenyum pada Kalista.
"Dengan body bagus dan pakaian yang minim seperti ini apakah majikan kamu tidak tergoda? Kalau saya pribadi jujur, saya sangat tergoda. Kalau kamu kerja di tempat saya, mungkin kamu sudah jadi penghangat saya diatas tempat tidur. Apapun yang kamu mau bakalan saya berikan." Dia terkekeh, manik matanya tertuju pada dada Kalista yang ukurannya lebih besar daripada biasanya, karena Kalista masih dalam masa menyusui, sehingga dadanya terlihat membesar atau bengkak.
Kalista mendelikkan matanya jengah, bukan sekali dua kali dirinya bertemu dengan pria yang selalu membahas kemolekan bodynya. Menang benar ya atau elangnya seorang pria itu sangat tajam, baru nyapa aja udah sosoan berani mengomentari fisik. Padahal Kalista nggak respon, tetapi mulutnya itu terus saja berceloteh bagikan bagikan burung beo.
"Warna rambut kamu bagus." Tangannya terangkat dan bersiap mengusap rambut Kalista, secepat kilat Kalista langsung menghindarinya.
"Kebutuhan wanita jaman sekarang itu meninggal loh, facial mahal, nyalon mahal, tas branded juga mahal. Kebutuhan hidup seorang wanita itu makin tinggi, apa gaji seorang baby sitter mampu untuk mencukupi kebutuhan itu?" Tanyanya, pria ini mulutnya terus saja berbicara tanpa merasa capek.
"Sebenarnya kalau kamu mau jadi wanita saya, semua yang kamu mau bakalan saya berikan. Apapun itu tanpa terkecuali, kamu mau shopping setiap Minggu, mau nyalon tiap, atau kamu mau beli barang-barang mewah juga silahkan." Tawarnya dengan sangat percaya diri.
Kalista langsung menatapnya, pria itu tersenyum. Dia kira Kalista terpancing oleh apa yang iming-imingkannya.
"Jadi wanita saya juga tidak sulit, kamu hanya perlu menemani saya tertidur. Itu saja kok." Kali ini tatapan matanya sangat berbinar, seolah-olah Kalista akan menerima tawaran itu dengan hati riang.
"Tentu saja bukan hanya sekedar tidur, benar begitu bukan?" Tanya Kalista dengan seksama, Kalista geram sekali. Seenak jidat pria ini menyamaratakan harkat derajat seorang wanita.
"Betul! Ya, beraktifitas sebentar sebelum tidur lah." Ucapannya sangat mesum, jangan-jangan sekarang dia sedang membayangkan tidur bersama Kalista.
"Sayangnya saya tidak tertarik sedikitpun kepada anda." Kalista tersenyum sinis.
"Tidur sama saya itu enak kok, sama sekali nggak capek. Yang ada nantinya kamu bakalan ketagihan." Ucapannya begitu meyakinkan, tetapi Kalista malah menilainya sebagai seorang pria yang sedang menjual dirinya.
"Saya tidak tertarik! Karena saya telah terbiasa membuat suami saya berkeringat di malam hari. Sejauh ini sih suami saya yang selalu minta duluan, berarti suami saya dong yang ketagihan."
"Saya ini seorang istri sekaligus ibu dari kedua bayi kembar ini. Saya tidak tertarik dengan pria yang menjual tubuhnya kepada saya, karena suaminya telah membeli saya sebagai pendamping hidupnya. Semua kebutuhan saya di cukupinya, baik itu kebutuhan batin dan kebutuhan finansial saya. Apapun yang saya mau dia berikan, bahkan kalaupun saya mau shopping setiap hari juga dia tidak keberatan. Mau beli tas branded sebanyak apapun juga dia nggak keberatan, hartanya juga nggak bakalan habis hanya karena saya gila shopping. Sayangnya saya masih waras, shopping seperlunya saja! Karena di lemari saya banyak tuh baju yang belum terpakai. Suami saya selalu memanjakan saya, tugas saya hanya melayaninya dengan sebaik-baiknya, termasuk mematahkan urusan ranjangnya. Apakah dia puas atau tidak?" Imbuhnya lagi, berbicaa panjang lebar ternyata membuat tenggorakan Kalista terasa kering.
"Permisi!" Kalista langsung pergi sambil mendorong strollernya.
"Gila jutek banget! Bagusnya dia jadi pendamping hidup gue! Gue bakal merebutnya, nggak peduli siapa suaminya, dia harus jadi milik gue." Menatap punggung Kalista yang semakin menghilang.
Kalista memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya, karena Kalista yakin pasti Arka sudah berangkat ke kantor. Kalista hanya ingin memanas-manasi Arka saja, ingin seidikit membuatnya cemburu dan memberinya pelajaran. Tetapi Kalista tidak mau kalau dia selingkuh beneran.
*****
Hari ini Arka kerjanya dengan emosi, Andy dan Gina bahkan sudah berapa kali kena marah. Tadi juga ada rapat mingguan, semua karyawan kena semprot kemarahan Arka. Padahal mereka semua sama sekali nggak ada yang berbuat salah.
Gina merasa harus banyak membaca istighfar, berkali-kali jantungnya hampir copot karena mendengar teriakan Arka. Hanya karena kopi tumpah setetes aja, Arka langsung naik pitam.
Arka benar-benar tidak bisa mengontrol emosi yang, tangannya selalu memukul meja, bahkan dia memukul tembok juga.
"Lama-lama karyawan pada kabur, kalau ceo-nya ngamuk terus. Makanya baikan sama istri, sosoan cuekin istri. Giliran istri bening dikit, lu juga takutkan dia di rebut pria lain. Hati-hati kalau pria itu lebih tajir dari lu, ada kemungkinan Kalista siap ninggalin lu." Ujar Andy dengan jengah.
Andy sangat capek dengan sikap Arka beberapa hari ini, terutama puncaknya hari ini. Andy melihat beberapa karyawan seperti bekerja di bawah tekanan. Bahkan Andy melihat hal itu pada diri Gina.
Semalam Arka menceritakan tentang Kalista kepada Andy via WhatsApp. Termasuk Kalista dengan penampilan barunya, dan semua maninan Nathan dan Nayla yang entah siapa yang membelikannya?
"Bodomat! Gue nggak peduli! Ini bukan karena Kalista, tapi gue nggak paham, kenapa gue nggak bisa ngontrol emosi?" Ucap Arka dengan pasrah, dalam keadaan seperti ini saja Arka sama sekali tidak ingin mengakui bahwa dirinya sedang galau.
Andy menyuruh Arka untuk tidur saja di ruangan pribadinya, toh keberadaannya di sini sama sekali tidak membantu Andy dan Gina meringankan pekerjaannya.
Sudah lama Arka tidak memantau media sosial milik istrinya, ketika Arka akan log ini, tiba-tiba tidak bisa. Kemungkinan Kalista sudah mengganti password atau mungkin email-nya.
Arka kembali di buat pensaran, banyak sekali postingan terbaru dari istrinya itu. Kalista terlihat lebih centil dalam berpose, rambutnya yang pendek itu terlihat sangat cantik. Arka membuka kolom komentar, disana seketika perkumpulan para pria genit. Kalista banyak sekali mendapat komentar yang bersisi pujian. Bahkan disana ada beberapa orang dalam dunia bisnis yang ikutan berkomentar. Padahal mereka semua itu tahu bahwa Kalista merupakan istrinya Arka, tetapi dengan tidak tahu malunya mereka bilang Kalista cantik dan sangat seksi.
Kalista tidak egois dengan hanya memposting fotonya saja, Kalista juga memposting foto si kembar. Bahkan foto ketika tadi pagi dirinya jogging juga ada disana, Arka pikir Kalista di fotokan oleh pria yang jogging dengannya. Padahal Kalista meminta di fotokan oleh seorang ibu yang juga sedang jogging bersama anaknya.
Banyak sekali yang gagal fokus pada celana pendek yang menampilkan paha mulusnya Kalista dengan jelas, banyak juga yang salah fokus pada dadanya yang terlihat besar dengan perut yang sangat ramping. Bajunya itu cukup memperjelas lekuk tubuh Kalista yang sebenarnya. Banyak juga kaum emak-emak anak dua atau tiga yang komen kagum karena Kalista masih bisa mempunyai perut ramping walaupun sudah mempunyai dua anak.
Arka memijat-mijat pelan dahinya yang terasa pusing. Napasnya terdwngar gusar, kali ini Arka sangat khawatir istrinya di rebut oleh orang lain. Mulai besok juga Arka akan memata-matai Kalista, Arka sangat penasaran bersama siapa kalista pergi?
Masuk satu notif chat, Arka membuka chat terebut. Ternyata satu Andre, salah satu rekan bisnisnya yang satu bulan ini baru saja mengajak kerja sama. Dalam kurun waktu dua bulan itu juga, Arka dan Andre juga menjadi akrab.
"Sibuk nggak bro? Gue lagi gabut, kalau lu nggak sibuk nongkrong yuk di restoran Jepang." Begitulah isi chatnya, Arka langsung mengiyakannya.
Nongkrong? Ini adalah waktu yang tepat untuk meredam pikirannya yang mulai panas memikirkan Kalista.
"Handle kerjaan kantoe. Gue ada urusan sebentar." Titahnya pada Andy, Andy langsung menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Arka mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja. Lalu berjalan dengan langkah panjang.
Gina menguap dadanya, menghembuskan napasnya. Setelah hampir stress karena bekerja di bawah tekanan, setidaknya kali ini dirinya bisa bekerja lebih tenang.
"Nggak ada Arka, bukan berarti kamu bisa malas-malasan." Celetuk Andy.
Gina langsung melotot pada Andy, merasa tenang bukan berarti Gina akan kerja malas-malasan. Mengapa sih Andy menjadi jutek pada Gina? Padahal dulu Andy sangat menyukainya.
Urusan kantor sudah Arka serahkan pada Andy, Andy langsung menghandle semuanya dengan baik dan benar. Sementara itu Arka sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Jika terjebak macet, Arka akan memukul kemudi setirnya.
Mobil telah sampai di restoran Jepang tersebut, Arka memarkir mobilnya di basment. Kemuduan Arka langsung masuk dan manik matanya bergerak kesana-kemari, mencari keberadaan Andre.
Andre melambaikan tangannya, dimeja itu telah penuh dengan berbagai makanan. Sepertinya kali ini Arka di tlaktir oleh Andre.
"Kusut amat muka lu? Kenapa?" Tanya Andre terkekeh, pasalnya Arka itu terkenal dengan muak juteknya, tetapi kali ini Arka malah terlihat kusut karena galau.
"Capek gue kerjaan kantor numpuk banget." Arka berbohong, karena tidak mungkin juga kan Arka menceritakan apa yang terjadi dengan hubungan rumah tangganya.
"Karyawan banyak! Asisten pribadi ada, repot-repot amat sih. CEO mah tinggal terima gaji aja, toh uang lu juga banyak. Nggak bakal habis tujuh turunan kayanya." Kata Andre, Andre menang mengetahui keuangan perusahaan Anggara selalu berada diatas perusahan-perusahaan lain.
"Mana bisa kaya gitu, gue tetap harus bisa memantau semuanya song. Asisten pribadi juga nggak bisa sepenuhnya diandalkan, kalau kaya gitu sih yang ada nanti banyak tikus-tikus kantor di perusahaan gue." Arka melonggarkan dahinya, menggulung tangan kemeja dan jasnya.
"Gila gila gila, pantesan ratting perusahaan elu selalu teratas. CEOnya juga sangat teliti, kinerja lu bagus banget bro!" Andre memuji Arka, dalam hati Andre juga membandingkan dirinya dengan Arka. Perbedaan diantara mereka berdua terlalu jomplang dan sangat kentara.
"Terlalu memuji juga tidak bagus, btw lu gabut kenapa?" Tanya Arka to the point.
Andre bilang dirinya gabut, tetapi Arka melihat raut wajahnya malah telihat sumringah dan sangat bersemangat.
"Nggak lama lagi kayanya gue bakal nikah bro." Ujarnya dengan senyum sumringah, ekspresi wajahnya terlihat sangat bahagia.
"Bagus dong! Nggak jadi jomblo tua, berarti mempunyai kesempatan untuk di berikan keturunan. Terus gabutnya dimana bro?" Tanya Arka, sesekali Arka menyeruput minumannya yang telah di pesan oleh Andre.
Andre menatap Arka sekilas, manik matanya terlihat sendu. Barulah kali ini Arka percaya bahwa Andre menang sebagai gabut.
"Soal keturunan mah gampang, malahan gue langsung punya dua. Sepasang pula, cowo cewe tamfan dan cantik. Masalahnya tuh cewe jutek banget, cueknya masyaAllah, mana dingin banget lagi kaya kutub es." Andre berujar dengan hembusan napas gusar.
"Eh bentar deh, langsung dapat dua sepasang? Jangan bilang calon istri lu itu janda anak dua." Arka menatap Andre dengan tatapan yang menusuk.
"Bukan janda sih, statusnya masih istri orang." Andre tersenyum kikuk sembari menampilakan deretan gigi putihnya.
"Eh buset dah, nggak waras ya lu? Lu ke RSJ deh, siapa tahu kan kejiwaan elu terganggu." Arka terlihat jengah, bagaimana mungkin seorang Andre menargetkan istri orang lain untuk menjadi istrinya?
"Gue normal! Gue sehat! Gue nggak sakit jiwa, dan kejiwaan gue juga masih berfungsi sebagaimana mestinya. Tapi swear deh, kali ini gue beneran jatuh cinta banget sama tuh cewe. Cantik, bodynya mantap, ekspresi jutek dan dinginnya malah semakin membuatnya mempesona." Manik mata Andre berbinar-binar ketika menceritakan wanita itu, bahkan senyum sumringah berkali-kali tersungging di bibirnya.
"Gila banget sih lu bro! Jiwa pebikor yang sangat meronta-ronta, bahkan lu sangat antusias sekali." Tutur Arka.
"Apaan tuh pebikor?" Andre mengernyitkan dahinya, pebikor? Baru kali ini dirinya mendengar istilah itu.
"Perebut bini orang! Yakali lu nggak tahu, padahal elu sekarang sedang akan masuk dalam golongan orang-orang pebikor." Arka menjelaskan tentang apa itu pebikor, Arka tidak tahu dirinya mengetahui istilah itu dari siapa? Arka hanya membalikkannya saja dari kata pelakor.
"Hati-hati lu di ciduk polisi gara-gara merebut istri orang. Bukannya bahagia, yang ada nanti perusahaan elu malah kena imbasnya." Imbuhnya lagi, Arka mencoba memperingati Andre tentang keputusan Andre untuk jadi pebikor.
"Duh serem juga! Tapi tekad gue sudah bulat, bagaimanapun caranya gue harus mendapatkan cewe itu!" Andre bertekad dengan sungguh-sungguh, mempunyai ambisi yang sedemikian hebatnya itu bagus kalau untuk hal-hal positif, tapi urusan ini Arka rasa sangat negatif.
"Secantik apa sih tuh cewe? Gue jadi penasaran." Arka mengetuk-ngetuk telunjuknya pada ujung meja.
"Cantik banget deh pokonya! Bahkan gue yakin di dunia ini wanita cantik cuma cewe itu doang. Badannya tinggi, kulitnya putih, dadanya besar, telurnya ramping, kakinya jenjang, rambutnya sebahu warnanya tuh campuran gitu antara grey dan purple gitu deh. Cantik banget deh pokonya, cewe limited edition deh kayanya." Andre sangat antusias dalam mendeskripsikan wanita yang di targetkan bakal menjadi istrinya.
"Tapi gue yakin sih, cewe yang lu maksud nggak bakal melebihi kecantikan istri gue. Istri gue sempurna banget, perutnya bahkan sangat ramping padahal sudah melahirkan. Istri gue satu-satunya wanita cantik sebateri jagat raya, atau bahkan hanya ada satu di dunia." Setelah sekian lama, baru kali ini Arka kembali memamerkan Kalista.
"Kita nggak usah debat siapa yang paling cantik diantara cewe yang lagi gue taksir dan istri lu di rumah. Intinya cantik versi gue dan versi lu tuh berbeda." Andre berkata tegas, Andre berpikir sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.
"Gue lagi meeting nih sama klien di restoran yang ada di mall kawasan xxx, tidak jauh dari meja gue itu ada tuh cewe itu lagi menyuapi kedua anaknya. Nggak dan siapa-siapa di sampingnya. Saat itu gue terpesona, bahkan gue ke gep saat diam-diam melirik dan memperhatikannya." Andre menjeda sebentar kalimatnya, karena terdapat salah satu chat masuk ke ponselnya.
"Saat itu gue baru pertama kali melihat ada seorang wanita begitu hebat dan tangguh. Berada di pusat perbelanjaan, tetapi dia sangat piawai membawa kedua balitanya, sama sekali tidak di temani oleh siapapun. Gue merasa tersihir terkana terhipnotis gitu deh." Andre terkekeh geli, untuk urusan perempuan baru kali ini dirinya selebay itu dalam menceritakan.
"Saat itu rambutnya hitam panjang indah gitu deh. Saat itu selesai meeting gue mau mengajaknya berkenalan, tetapi karena sikap gue terlalu arogan dan terkesan sangat tidak santai, wanita itu langsung kabur deh. Dia takut gue nyulik anaknya kayanya."
Arka belum merespon apapun, karena Arka tahu Andre belum selesai bercerita, bahkan mungkin ceritanya baru seperempatnya.
"Tadi pagi gue ketemu lagi! Gila banget deh, sumpah bodynya cakep banget. Gue lagi jalan-jalan santai sambil menghirup udara segar di pagi hari, tiba-tiba manik mata gue tertuju pada wanita berpakaian minim layaknya wanita yang akan berolahraga gitu deh." Andre menyeruput minumannya.
"Kali ini begitu cantik, penampilan barunya cukup membuat gue terpesona dan tetap jatuh cinta. Rambut pendek berwarna grey purple, kaos yang sangat press banget di tubuhnya, dan celana pendek. Dia cakep banget, sumpah gue nggak bohong."
Arka termenung, entah mengapa dirinya sekarang malah mengingat Kalista yang tadi pagi peegi dengan pakaian yang super minim.
"Gue mencoba berinteraksi dengannya, beneran dong jutek banget. Tapi gue melakukan satu kebodohan yang sangat fatal, gue malah menawari dia mengenai materi. Eh dia malah marah-marah ke gue, dia bilang suaminya itu mampu membiayai kebutuhan hidupnya, bahkan dia bilang soal materi dia tidak akan kekurangan, mau shopping tiao hari pun suaminya no problem, mau beli tas branded setiap bulan juga harta suaminya nggak bakal habis-habis katanya. Oke, dia memang dijamin dan berkecukupan oleh suaminya. Tapi ada satu point penting yang bisa menjadi celah untuk gue bisa masuk ke hatinya, hubungannya dengan suaminya sepertinya tidak berjalan baik, sepertinya suaminya itu tidak ada waktu untuk memanjakannya apalagi bermain dengan anak-anaknya." Ujarnya dengan senyum sumringah, tebakan Andre menang benar, tetapi belum tahu kan wanita itu akan menyukainya juga.
"So tahu banget lu bro!"
"Feeling gue aja sih, soalnya waktu di mall dia tuh ngeliatin satu keluarga yang lagi ngemall gitu, terutama manik matanya itu tertuju pada seorang pria yang menggendong anaknya. Matanya berubah menjadi sendu, kayanya sih suaminya bermasalah gitu sih." Ujarnya.
"Sebegitunya lu naksir sama bini orang? Jangan terlalu masang ekspektasi tinggi, kalau dia nggak mau sama lu repot nanti. Jangan terlalu gunain perasaan, rumit nantinya." Arka mencoba memberikan nasihat kepada Andre, Arka bukannya ingin ikut campur tapi kalau wanita itu statusnya masih sebagi istri. Andre terlalu berisiko mengenai semua ini.
Andre langsung mempersiapkan Arka untuk makan. Semua makan yang terasa adalah makanan Jepang, maklum Andre lama si Jepang, dan sudah terbiasa juga makan-makanan khas Jepang. Maka dari itu sesekali Andre berkunjung ke restoran ini, hanya untuk makan atau sekedar melepas lelah.
Arka mengunyah sushi itu, tetapi pikirannya melayang pada Kalista. Kalista kan cantik, bagaimana kalau di luaran sana ada yang naksir padanya? Bukan ada, pastinya juga banyak. Entah mengapa Arka jadi kepikiran mengenai cerita Andre yang tadi, jangan-jangan di luaran sana juga ada yang naksir dan mendambakan Kalista seperti Andre yang sangat tergila-gila pada istri orang.
Gelagat Kalista berubah akhir-akhir ini, Kalista menjadi lebih feminim, Kalista merubah penampilannya, dan Kalista juga menjadi lebih sering memoles wajahnya. Walaupun repot dan sibuk oleh si kecil, tetapi Kalista selaku punya waktu untuk mengurus badannya.
Jujur saja, saat ini Arka menjadi insecure. Arka takut Kalista akan berpindah haluan dan menjadi milik orang lain. Arka takut Kalista akan pergi meninggalkannya? Lalu akan bersama siapa Arka hidup di dunia ini? Oma dan ayahnya sudah pergi dengan tenang, mama Lisa memang masih ada, tetapi tetap saja Arka sangat ingin menghabiskan waktunya dan seluruh hidupnya dengan Kalista dan kedua anaknya.
"Ngapain bengong?" Andre menyenggol lengan Arka.
"Jangan bilang lu masih memikirkan kerjaan, gila banget sih lu tuh punya cita-cita mau jadi miliarder ya?" Imbuhnya lagi, Andre langsung saja tertawa mentertawakan Arka.
"Raga gue memang ada di sini, tapi kayanya nyawa gue ketinggalan di kantor deh." Arka juga ikutan tertawa.
"Alamat rumah lu dong, kali-kali kan gue pengen berkunjung dan berkenalan dengan istri lu." Andre ingin tahu alamat rumah Arka, karena menurut Andre, Arka ini orangnya sangat asik.
"Perumahan XXXX." Jawab Arka singkat, suaranya lirih karena mulutnya masih sibuk mengunyah.
"Hah, perumahan XXXX. Serius lu?" Andre membulatkan matanya dengan sempurna Arka hanya mengangguk saja.
"Tadi gue ketemu wanita cantik itu di taman dekat perumahan XXXX, wah mantap dong, kalau gitu nanti gue main deh kerumah lu. Siapa tahu kan nanti gue ketemu sama si jutek nan mempesona itu." Andre merasa begitu senang tatkala mendengar rumah Arka berada di kawasan itu. Andre merasa jalannya untuk mendapatkan wanita itu semakin dekat.
Arka mengiyakan tentang keinginan Andre untuk berkunjung ke rumahnya. Arka juga memberikan alamat lengkapnya. Setelahnya mereka kembali makan sampai semua makanan yang ada di meja itu habis semua.
Andre mengusop perutnya yang membuncit karena kekenyangan. Andre juga menyandarkan punggungnya pada tembok. Itulah mengapa Andre selalu memilih tempat yang paling ujung dan berada di sudut. Karena ini lah salah satu alasannya, agar bisa bersandar ketika selesai makan.
"Gue ke toilet dulu sebentar." Andre bangun dan langsung berjalan tergesa-gesa menuju toilet.
Tiba-tiba ponsel Andre yang berada diatas meja itu menyala, ada satu notid chat dari seseorang yang kontaknya dijalankan gebetan. Yang membuat Arka kaget, wallpaper ponsel Andre adalah Kalista yang sedang berdiri sambil mendorong stroller. Walaupun itu fotonya menyamping, Arka dapat mengetahuinya karena itu adalah stelan Kalista tadi pagi.
Arka menjadi geram, jadi yang tadi di ceritakan oleh Andre itu Kalista, yang merupakan istri dari Arka sendiri. Ubun-ubun Arka menjadi panas, Arka juga tidak akan memberi celah untuk Andre merebut Kalista.
"Eh ponsel gue nyala." Andre langsung mengambil ponsel yang tergeletak diatas meja tersebut, karena memang sekarang ponselnya kembali menyala karena notif chat itu kembali bertambah.
"Gue pergi dulu, jemput gebetan." Andre terkekeh dan langsung menyambar kunci mobilnya.
__ADS_1
Arka yang di tinggalkan seorang diri kini malah menjambak rambutnya, Arka merasa sangat frustasi. Bagaimana mungkin istrinya itu sangat di inginkan oleh teman bisnisnya sendiri.
"Ah sial! Brengsek!" Arka menggebrak meja sangat kencang, saat ini hati dan pikirannya selalu tertuju pada kalista. Ketakutan Arka pada Kalista semakin menjadi-jadi.
Beberapa orang yang berada di restoran Jepang tersebut, menatap dan memperhatikannya. Seorang pria dengan stelan jas lengkap dengan dasi dan pantofel terlihat sangat frustasi.
Arka langsung mengabari Andy dirinya tidak akan kembali ke kantor. Arka langsung keluar dari restoran tersebut, berlari dengan tergesa-gesa mengambil mobilnya di parkiran basement. Melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, Arka sama sekali tidak menghiraukan keselamatannya. Yang Arka pikirkan adalah bagaimana dirinya bisa sampai di rumah dengan cepat.
Jarak restoran Jepang ke rumah Arka membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit, tetapi agak bisa sampai dengan hanya tiga puluh menit saja. Arka membunyikan klakson dengan beruntun, sehingga pada security merasa kaget.
Keluar dari mobil, menutup pintu mobilnya dengan sedikit membantingnya, dan langsung melenggangkan kakinya ke dalam rumah tersebut.
"Kalista mana bi?" Tanya Arka sambil celingak-celinguk menatap semua sudut rumahnya.
"Pergi bersama dede Nathan dan Nayla." Jawab bibi itu dengan bingung, bingung karena melihat ekspresi panik dan gusar di wajah Arka.
"Kemana? Kapan? Sama siapa?" Tanyanya lagi dengan beruntun.
"Tidak tahu, nyonya tidak bilang. Pergi sekitar lima belas menit yang lalu, tidak tahu juga di jemput siapa. Pria itu memarkir mobilnya di dalam gerbang, jadi saya tidak melihat wajahnya." Ucapnya.
"Arghhhh!" Arka langsung saja menonjok gambut.
Yang ada di pikiran Arka saat ini adalah Kalista pergi bersama siapa? Apakah pergi bersama Andre? Pergi sekitar lima belas menit yang lalu, jika saja tadi dirinya langsung pulang, dia tidak akan kehilangan Kalista. Arka semakin merutuki kebodohannya sendiri.
Arka melemoar sepatu, dasi, dan jasnya secara asal. Dirinya merebahkan tubuhnya di sofa, tetapi pikirannya tertuju pada Kalista.
Jika waktu bisa di putar, Arka berjanji tidak akan melakukan hal yang bodoh seperti ini. Apakah ini semua karma karena dosanya? Arka memang terpuruk, tetapi keterpurukannya malah membuat dirinya semakin terpuruk dan terbenam sangat dalam.
Arka ingin bangkit, tapi semuanya seperti terlambat. Arka menyesal, Arka juga menangani di ruang tamu itu.
Semua pelayan yang awalnya sangat geram pada sikap Arka pun, sekarang malah tidak tega melihat Arka yang menangis. Arka sama sekali tidak mau kehilangan Kalista, cukup ayah dan Oma saja yang meninggalkan Arka, jangan sampai Kalista juga.
Arka mencoba menghubungi Kalista, tetapi nomornya tidak aktif. Arka pergi ke lantai dua, masuk ke kamarnya Nathan dan Nayla. Disana Arka merebahkan tubuhnya diatas kasur lantai yang biasanya menjadi alas Kalista untuk tertidur. Arka mencoba menghirup aroma wangi tubuh Kalista, Arka sangat merindukan tubuh istrinya.
Lelah menangis, lambat laun kelopak mata itu lelah dan menutup dengan sempurna. Arka tertidur sembari memeluk guling di kamar Nathan.
Waktu terus berjalan, jarum jam sudah bergerak entah melewati berapa angka. Arka terbangun karena mendengar suara hujan deras yang si sertai petir yang menyala-nyala.
Arka menutup jendela kamar. Kemudian turun ke bawah dan kembali bertanya pada beberapa pelayan, apakah Kalista sudah pulang? Teenyata Kalista masih belum pulang juga, Arka semakin cemas dan gusar.
Arka mondar mandir terus seperti sektrikaan, berjalan ke luar rumah dan keruang tamu terus menerus. Arka sangat gelisah dan khawatir.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada satu pesan WhatsApp dari nomor tidak di kenal. Arka semakin membelalakan matanya, ada beberapa kiriman foto yang memperlihatkan Kalista sedang di peluk pria lain. Pria itu juga merangkul Kalista dengan erat.
"Brengsek! Bodoh, sialan, kepastian!" Arka melemparkan ponselnya, Arka merasa ubun-ubunnya semakin panas. Emosinya memuncak, kemarahannya kali ini sama sekali tidak bisa di redakan.
Gerry mengantar Kalista smabim ke halaman depan. Kalista menggendong Nathan dan Nayla dan langsung masuk ke dalam ruang. Karena Kalista sangat takut dengan petir. Gerry juga langsung pulang.
Tadi Gerry mengajak Kalista untuk pergi ke tempat gym, Gerry juga bilang katanya punya sesuatu untuk Kalista, tetapi sampai Kalista pulang ke ruang pun Kalista sama sekali tidak tahu sesuatu yang Gerry maksud itu apa?
Gerry mengajak Kalista pergi ke tempat gym, katanya biar tubuh Kalista semakin terbentuk. Disana juga Kalista benar-benar nge-gym, dan Gerry lah yang mengasih Nathan dan Nayla.
Gerry juga menyueuh Kalista untuk berpakaian seksi, pakaian untuk olahraga tetapi sangat minim. Kalista tidak tahu apa maksud dari semua ini? Tapi Kalista langsung menyetujuinya saja. Gerry juga bilang hari ini terakhir dirinya berada di Jakarta, besok harus kembali lagi pada pekerjaan dan rutinitasnya.
Banyak sekali hadiah yang Gerry berikan untuk Nathan dan Nayla, Gerry juga membelikan Kalista beberapa dress-dress cantik.
"Sejak kapan kamu suka pergi ke tempat gym? Mana pakaiannya minim banget lagi?" Ujar Arka dengan tegas, Arka melotot karena melihat penampilan Kalista yang bisa membangkitkan gairah sekarang pria.
Kalista menatap Arka dengan senyum sinis. "Sejak aku tahu bahwa aku memiliki body ramping, dan mempunyai wajah cantik. Anugerah terindah yang Tuhan berikan ini tidak boleh di sia-siakan dan harus di rawat." Kalista mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu pergi sama siapa?" Tanya Arka masih dengan tatapan yang menusuk.
"Dengan calon ayah sambung Nathan dan Nayla." Kalista bahkan bisa berbicara mengenai hal ini dengan santai dan tidak ada rasa takut sedikitpun.
"Kamu lupa aku ini siapa hah? Kamu lupa dengan status kamu?" Arka berteriak kencang. Beberapa orang pelayan hanya melihat dan memperhatikan dari kejauhan saja.
Kalista mendekat pada Arka, mendudukan Nathan dan Nayla si stroller. Kalista meraba ada bilang Arka, membuat garis-garis tidak jelas lalu menatap Arka dengan pandangan mata sangat centil bagikan seorang perempuan yang haus akan sentuhan dan belaian.
"Aku tahu kamu adalah suamiku, dan aku juga masih istri sah kamu. Tenang aja, aku nggak akan selingkuh kok sebelum kamu menandatangani surat cerai itu." Kalista merangkulkan tangannya di leher Arka.
Arka mencoba memastikan bahwa telinganya tidak salah mendengar. Surat cerai ITU? Apakah Kalista sudah melayangkan surat cerai kepada kantor pengadilan agama? Arka semakin di buat frustasi olehnya.
Jarak diantara Kalista dan Arka sangat dekat, bahkan hembusan napas gusar Arka saja menerpa ke wajah Kalista.
Kalista segera menempelkan bibirnya tepat di bibir Arka, Kalista menelusuokan lidahnya, kuahnya mencoba menarik dan membelitkan lidah Arka.
Tidak hanya itu, Kalista juga mencoba menggerakkan tubuhnya secara sensual, sehingga sesuatu di bagian bawah Arka tegak berdiri.
Arka sudah mulai terpancing gairah oleh Kalista, Arka yang memang sudah merasa kangen sama tubuh istrinya itu, langsung saja mendekap tubuh Kalista dengan erat. Arka juga bersiap akan memainkan lidahnya.
Kalista mendorong badan Arka, menciftakan jarak di antaranya. Kalista juga tersenyum sinis mengejek, ini lah kelemahan Arka. Arka itu tidak akan tahan jika Kalista memancingnya dengan gerakan sensual.
Kalista langsung melepaskan selatan tangan Arka di tubuhnya secara kasar, Kalista langsung mengambil Nathan dan Nayla.
"Nathan dan Nayla biar sama pelayan dulu aja. Kamu ikut aku dulu sebentar." Pinta Arka sembari menarik pelan ujung kaos Kalista.
"Ngapain sama pelayan? Aku ini bundanya." Ucap Kalista dengan tegas.
"Aku juga ayahnya." Bentak Arka, suaranya menggema dan menggelegar mengahkan petir di langit.
Kalista menatap Arka bengis, senyum sinis dan menyeringai terdapat di wajahnya. "Apa katamu barusan? Kamu ayahnya? Aku yang hamil, aku yang mengandung, aku yang melahirkan, bahkan aku juga yang mengurusnya. Lalu kamu bilang kamu ayahnya? Peran dan tanggung jawab kamu dimana? Kok ngaku-ngaku jadi ayah sih?" Ucap Kalista yang sebenarnya senang menyindir Arka.
"Kamu juga kalau nggak aku hamilin, kamu nggak akan hamil. Please deh nggak usah egois." Arka mendelikkan matanya jengah.
"Oh jadi aku yang egois? Dua bulan ini kamu kemana aja? Kamu bilang aku ini istri kamu, kamu menafkahi aku lahir batin nggak dua bulan belakangan ini? Kamu menyapa dan mengasuh Nathan dan Nayla nggak? Coba deh pikirin lagi!" Kalista juga membantak Arka, kalista sudah sangat bosan di diamkan olwh Arka. Boleh lah sesekali Kalista melawan dan berontak.
"Sini Nathan dan Nayla biar aku yang mandikan." Arka mencoba mengambil Nathan dan Nayla dari pangkuan Kalista.
"Tidak usah, aku bisa sendiri. Bahkan aku bisa melakukan apapun itu tanpa kamu. Sosok kamu itu sudah tidak penting lagi di hidup aku." Bentakan itu lagi-lagi keluar dari mulut Kalista, dalam hati sih Kalista bilang amit-amit. Kalista hanya emosi karena ingin mencoba memberikan Arka pelajaran.
"Lagipula, aku sama sekali nggak sudi tuh kedua anakku di gendong oleh pria hidung belang, atau pria yang sudah beristri tetapi lupa akan statusnya. Apalagi sampai kedua anakku terkena parfum beracun dari wanita ****** itu." Cibir Kalista sembari berjalan menuju kamar Nathan dan Nayla.
Arka terdiam.
Arka langsung mengingat hari dimana dia makan siang bersama wanita itu, malam hari dimana Arka memutsuakka untuk menemani wanita itu menonton bioskop dan nongkrong di taman sambil menikmati langit malam.
Arka terdiam karena menyadari kesalahannya, Arka menjadi tidak bisa berkutik sama sekali. Tubuhnya kaku, Kalista mengetahui semuanya. Kalista pasti sangat membenci dirinya, tekad Kalista untuk meninggalkannya pasti semakin bulat.
Arka melemparkan gelas tangan dan si meja makan, Arka juga menendang guci hingga pecah. Arka benar-benar dibuat frustasi. Sekarang Arka malah bingung harus berbuat apa?
Kalista masuk ke kamar Nathan dan Nayla, dan langsung mengunci pintu karena takut Arka masuk, Kalista belum siap jika harus berbicara dengan Arka. Kalista memandikan Nathan dan Nayla, kedua anaknya kecapekan dan langsung tertidur.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1