
Malam akhir pekan ini Lantana masih berkutat khusuk di layar monitornya. Pekerjaannya sebenarnya sudah selesai sekitar jam 3 tadi siang. Tapi dikarenakan Tomi, tiba-tiba sakit setelah makan makan siang yang terlalu pedas. Alhasil pekerjaannya jadi Lantana yang harus menanggungnya
Jam digital di atas meja sudah bersinar membentuk angka 8. Lantana masih bergulat dengan layar komputer yang menyala menunjukkan deretan angka dan di tangannya berlembar kertas berisi susunan angka dan data pula. Lampu ruangan sudah mati tinggal satu lampu yang bergantung dibatas meja Lantana yang masih menyala. Satu orang terakhir yang berkerja lembur menawari Lantana pulang basa basi. Lantana hanya mengacungkan ibu jari sembari bergumam "mmm"
Angka di jam digital milik lantana telah menunjukkan angka 30 di belakang angka 8. Suasana sepi dan sunyi di tambah udara yang semakin dingin. Bahkan Steva dan Didi - sebagai tangan kanan dan kiri tuan es - sudah pulang sekitar dua jam lalu. Lantana meregangkan tangannya karena tegang setelah setengah hari duduk mematung menatap layar komputer. Penampilannya kini terlihat sangat menyedihkan. Dengan beberapa helai rambut yang mencuat dari kuncirannya, dengan lepek khas orang yang belum mandi. Kacamata anti radiasi bertengger di hidungnya yang mungil. Gelas kopi tergeletak tak berdaya di atas mejanya. Badannya sudah merasa sangat tidak nyaman, tapi kerjaannya masih tersisa satu pertiga bagian lagi
Lantana semakin memfokuskan pandangannya kepada layar monitor. Dengan jari telunjuknya yang lentik menyusuri setiap data yang tercetak di atas kertas. Tiba-tiba sebelah tangan terulur ke hadapannya dari samping kanan dengan gagang cangkir di atasnya yang terhubung dengan cangkir yang berisi latte dengan asap yang masih mengepul
AAAARRRGGGGHHH...!!!
Lantana menjerit kaget karena kaget. Ya.. dia tidak mendengar suara orang mendekat karena pendengarannya terblokir lagu yang diputar di androidnya yang terhubung dengan noise cenceling di telinganya. Diangkatnya kepalanya dan matanya langsung menemukan sorot tajam mata seorang pria yang tengah kaget karena aksinya. Lantana segera melepas earphone dan meminta maaf
"Oh?? Maafkan saya, tuan. Saya tidak mendengar tuan mendekat" kata Lantana penuh penyesalan
Vino meng-rileks kan kembali wajahnya alih-alih menjawab Lantana.
"Tu.. tuan kenapa belum pulang??" Tanya Lantana masih dengan nada merasa bersalah
"Kamu sendiri??" Vino balik bertanya
"Em? I.. ini.. saya masih ada kerjaan. Dan saya ingin kerjaannya selesai malam ini juga" jawab lantana menunjuk layar monitor di hadapannya
"Hm.." gumam Vino
"Apa tuan akan segera pulang?" Lantana bertanya dengan penasaran
"Kamu?" Vino kembali melempar pertanyaan
Lantana mendengus kesal "tuan kenapa sih? saya tanya malah balik nanya.. pertanyaan itu untuk di jawab tuan, bukan untuk di kembaliin"
"kamu aja belum pulang, gimana saya bisa pulang" jawab Vino santai
"tuan suka nungguin karyawan yang lembur?"
"nah, karena kamu aja yang lembur. makanya saya tungguin. kalo yang lain mah ogah"
"hm.. seandainya sepatu saya tidak ringan, saya yakin saya sudah terbang mendengar gombalan tuan"
Vino tanpa sadar tertawa keras "emangnya badan kamu seringan apa?? sampe bisa terbang segala?"
"hmm.. saya heran deh, kenapa teman-teman kok takut banget sama tuan? Padahal tuan ini gak menakutkan, tapi nyebeliiin.."
"Teman-teman kamu takut sama saya?" Tanya Vino tertarik. Ia menarik salah satu kursi karyawan yang berada tidak jauh dari tempat dia berdiri. Kemudian dia duduk menghadap Lantana dengan tangan yang satu ia sandarkan ke meja.
__ADS_1
"Hmm.. emm.." Lantana menyeruput latte yang tadi di sodorkan Vino sambil mengangguk
"Bangai mana mereka takut dengan saya??" Vino makin penasaran
"Emmmm....!!! ini enak banget...!!!" Mata lantana berbinar setelah menyesap latte dan meneguknya beberapa tegukan. Kakinya menghentak lantai dan bibir bawahnya menjilat bibir atas yang terdapat sisa latte di atasnya
TAKKK
Suara nyaring dihasilkan dari pertemuan antara jari tengah Vino yang sebelumnya membentuk O dengan menyatukan bersama ibu jari, dengan jidat mulus milik Lantana setelah tidak menjawab pertanyaannya
"Aaawwww...!!" ringisan Lantana menyusul bunyi nyaring tadi. Lantana lantas mengelus jidatnya yang terasa perih dengan satu tangan, Sementara tangan lain masih setia dengan gagang cangkirnya "isshh sakit tau.." bibir Lantana berubah menyerupai bibir itik dengan mata yang menyipit
"Lagian, saya bertanya loh.." dengus Vino. Ada rasa kasihan juga gemas melihat ekspresi Lantana saat ini. Apa lagi bibirnya yang ia majukan beberapa centi. Itu.....
"Mhhmm.. jadi gimana cara merka mengatkan saya ini menakutkan??" Tanyanya lagi
"Hmm.." Lantana mengangkat bahu sebelum melanjutkan "mereka selalu mengatakan 'tuan es itu serem loh' atau'iihh ada tuan es' kalo enggak 'tuan es semakin meyeramkan' kadang 'eh tuan es.. tuan es..' katanya.." Lantana menjelaskan dengan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. "mereka pun akan secara alami bersembunyi kocar kacir atau purapura sibuk setiap kali tuan menampakkan wujud tuan ke permukaan" jelas Lantana santai lalu menuyeruput kembali latte di tangannya
TAKKK
Bunyi sentilan terdengar kembali di jidat Lantana. Lantana meringis sambil mengelus lagi kepalanya dengan mata berkaca-kaca "ssssshh... sakit tau gak?? Tadi nanya, di jawab malah di sentil. Zebelll..!" Lantana memeletkan lidahnya untuk menekan huruf L
"Lagian bahasa kamu itu loh.. saya menampakkan wujud saya, emangnya saya makhluk apaan??" Vino terkekeh seraya tangannya mengelus jidat Lantana yang memerah karena ulahnya barusan. Sebenarnya Vino hanya gemas dengan tingkah manja Lantana yang cepat sekali merubah-ubah ekspresi di wajahnya.
"Apa saya semenakutkan itu??" Tanya Vino memecah keheningan
" Entah lah.. saya gak ngerti arah pandang mereka. Yang saya lihat sih, tuan es sama aja kayak orang biasa. Malah nyebelin bukan nakutin" jawab Lantana setelah meletakkam cangkirnya kembali ke atas meja dan meraih kantong kuwaci lalu mengambil satu dan memasukkannya ke mulut.
Vino masih terkekeh dengan tangan yang masih mengelus lembut jidat Lantana yang merah
"Mau??" Tanya Lantana sembari menyodorkan kantong pouch kuwaci yang berbahan plastik "ini rasa Vanilla, uncle saya kemarin habis pulang jalan-jalan dari bangkok dan dia ngasih oleh-oleh ini untuk saya" jelas Lantana
Vino mengangkat satu alisnya menatap kelakuan lantana yang memasukan biji kuwaci kemulut dan membuang cangkangnya dengan cepat ke tempat sampah kecil di mejanya
"Saya tidak habis pikir, kenapa sih kok kamu suka banget nyemilin hal seperti ini?" Vino bertanya dengan raut wajah penasaran
"Ini tuh cemilan yang gak bikin gemuk tau" Lantana masih asik memasukkan biji bunga matahari rasa vanilla itu ke mulutnya
"Kenyang enggak, bosen iya" cibir Vino
"Iya kali kalo harus fokus nyemilin nih biji bunga, kan ini di makan ketika lagi suntuk aja. Biar gak boring banget pala" bela Lantana "nih, tuan es yang dingin kali-kali harus nyobain makan ini, kalorinya rendah ko.. malah bagus buat diet..!" Lantana menyodorkan satu biji bunga matahari ke arah mulut Vino. Vino terlihat memundurkan kepalanya menghindari suapan Lantana, namun gadis di depannya tidak menyerah dan malah bengkit berdiri memaksakan biji bunga itu agar masuk ke mulutnya.
"kamu panggil saya apa?" Vino meraih tangan Lantana yang menaksa memasukkan biji bunga matahari ke mulutnya
__ADS_1
"ayolah tuan es.. coba dulu satu..!! all right.. all right tuan Vino, coba dulu satu" Lantana tidak menyerah
Vino mengalah dengan membuka mulutnya, sehingga biji bunga matahari itu berhasil mendarat di lidahnya. Seketika sensasi manis yang samar dan aroma vanilla yang menyeruak, memenuhi indera penciumannya. Hm.. tidak buruk pikir Vino
Lantana terkekeh melihat tingkah Vino yang sedang menikmati kuwaci di mulutnya. "Tuan, bukan gitu cara makannya" Lantana cekikikan
"Kanapa? Gini enak ko.." Vino membela diri karena dia memang tidak tau cara makan biji kuwaci
"Gini nih, tuan. Biar cepet dan bersih.." Lantana menunjukkan cara memakan kuaci ala dia sendiri. Menggigit ujung biji dengan gigi depan hingga belah kemudian meletakan bijinya ke atas lidahnya kemudian lagi membuang kulitnya ke dalam cup yang sudah terisi banyak cangkang kuwaci
Vino mengikuti arahan Lantana. Dan matanya membulat gembira ketika dia berhasil melakukannya. Mereka tertawa mengabaikan bahwa di dalam gedung yang menjulang tinggi itu, mereka hanya berdua yang menempatinya saat ini. Sekurity hanya berjaga di ruang cctv dan di gerbang depan. Lantana melupakan setumpuk berkas yang belum selesai ia catat. Sedang asik tertawa sambil makan kuwaci, tiba-tiba ponsel Lantana bergetar hebat tanda satu buah panggilan meminta di jawab. Lantana melihat layar yang berkedip dan menunjukkan Id ayahnya yang sedang memanggil
Lantana lantas menyeret tombol hijau untuk menjawab panggilan
"Iya ayah??" Tanyanya setelah waktu panggilan berjalan dan dia menekan tombol loudspeak
"Halo? Ana? Sayang? Kamu masih di mana sayang? Ini sudah larut ko kamu belum pulang?"Nada khawatir seorang lelaki yang berat dan lembut di sebrang sana menyanyakan keberadaan Lantana
"Ana lembur ayah.. bentar lagi selesai kok.. nanti kalo sudah selesai Ana langsung pulang, oke? Jawab Lantana
"Mau ayah temenin?" Tawar sang ayah
"Oh? Tidak tidak, ayah..! Tidak perlu. Ana di sini sama teman kok, yah!" Jawab Ana cepat
"Temennya Cewek Laki??" Ayah
"Laki ayah.." Ana mulai malas dengan introgasi ayahnya
"Ini kan akhir pekan? Kamu...??!! Pacaran yaa...??!" Goda sang ayah
Tbc
***
segitu aja dulu yaa.. awalnya mau up kemarin, malah pas mau di serahkan malah hilang teks nya 😢😢 tak kuasa ku menahan sedih.. ahirnya bikin ulang dari awal dengan mengumpulkan ingatan yang masih tersisa.
belajar dari pengalaman, ahirnya buat draft nya dulu di memo. eh gak bisa do copy paste ðŸ˜ðŸ˜ ahirnya download keyboard yang ada fitur copy pastenya.. baru bisa up deh..
semoga terhibur dengan chap yang ini..
see ya!!
__ADS_1