SUN FLOWER

SUN FLOWER
SUAMI SIAGA


__ADS_3

"Permisi pak ada yang bisa saya bantu?" Tanya karyawan supermarket yang bingung melihat Arka memasukkan begitu banyak susu ke trolli.


"Tidak ada." Jawab Arka datar.


"Yaampun sayang buat apa susu sebanyak ini?" Tanya Kalista bingung.


"Istri aku kalau pagi suka mual, takutnya kamu nggak suka susu yang ini, berarti masih ada yang ini. Antisipasi dong." Jawab Arka sambil mengangkat susu yang satu, dan susu yang satunya lagi.


Wajar saja jika karyawan supermarket bertanya, dan Kalista juga bertanya, karena Arka memasukkan Anmum Materna, Lactamil rasa stroberi, Frisomum Gold rasa vanila, SGM Bunda rasa jeruk, Prenagen Mommy, Enfamama. 5 merek susu ibu hamil Arka masukkan ke dalam trolli.


"Aku tuh suami yang sangat pengertian, nih buktinya aku ngambil Anmum Materna yang rendah lemak, tapi jangan salah paham ya! Aku ngambil yang rendah lemak tuh bukannya nggak mau lihat kamu gemuk, tapi aku tahu kok gimana paniknya istriku kalau berat badannya nambah." Arka mendorong trollinya sambil berbicara dengan Kalista.


"Tapi tapi tapi.. karena lagi hamil, selama sembilan bulan itu berat badan kamu pasti akan naik, karena di perut kamu ada tumbuh kehidupan lain. Jadi nanti kalau kamu gemukkan jangan panik ya!" Arka berhenti sejenak kemudian mencium pipi Arka.


"Iya." Kalista tersenyum manis.


Setelah itu mereka membeli beberapa macam buah, Arka hanya mengambilkan saja, sedangkan yang memilihnya itu Kalista. Arka memasukkan buah sesuai dengan yang Kalista mau, diantaranya jeruk, mangga, apel merah, apel hijau, manggis, salak, anggur, kiwi, stroberi dan semangka. Arka tak tanggung-tanggung memasukkan buah ke trolli, tidak dilihat dari harga dan satuan kg'nya, dia memasukkan buah dalam jumlah banyak sekaligus. Bahkan Kalista juga mengambil banyak cemilan, dan berbagai macam es krim.


"Semuanya jadi Rp. 2.485.000." ucap mbak kasir yang sedang sibuk membungkus semua belanja mereka, bahkan mbak kasirnya sampai di bantu oleh beberapa karyawan lainnya, karena saking banyaknya belanjaan Arka dan Kalista.


"Kenapa nggak pakai uang cash aja yang?" Tanya Kalista yang sedang sibuk menikmati es krim.


"Uang cash buat beli jajanan dan makanan di pinggir jalan, kan kamu akhir-akhir ini maunya jajanan yang di pinggir jalan terus, kalau ke ngemall atau ke supermarket/minimarket/Alfamart bayarnya pakai ATM aja! Lagian aku belum tarik uang cash lagi." Jawab Arka yang masih menunggu belanjaannya belum selesai di bungkus.


"Itu uang cash masih banyak, lagian di dompet aku juga masih banyak kok uang cash." Tunjuk Kalista ke dompet Arka.


"Duh bumil bawel juga ya! Uang cash di dompet kamu itu buat keperluan kamu!"


"Pak ini sudah selesai." Mbak kasir menyudahi perdebatan Arka dan Kalista.


"Bantu bawa sampai ke depan ya, di depan sopir saya sedang menunggu."


Ternyata di depan mang Ujang sedang menunggu. Mang Ujang adalah sopirnya pak Anggara, Arka sengaja menelpon dan menyuruh mang Ujang kemari, hanya untuk membawakan semua belanjaannya. Lagian pak Anggara sedang libur, dan Kalista bilang setelah selesai berbelanja masih ada tempat yang mau di kunjunginya.


"Kenapa nggak saya saja tuan yang membawa semua belanjaan tuan dan nyonya?" Tanya pak Jaka.


"Masih ada tempat yang harus di kunjungi, repot kalau belanjaan ikut serta." Jawab Arka.


Mobil melaju ke suatu tempat yang telah di sebutkan Kalista, di tengah jalan Kalista membeli beberapa jenis bunga petik dan satu buket. Pak Jaka cukup kaget ketika mobil telah sampai ke alamat yang telah di sebutkan Kalista.


"Tunggu dulu di sini saja ya pak." Ujar Kalista yang turun membawa kantong bunga petik, dan satu buket besar bunga matahari.


Arka pun turun dan menggandeng tangan Kalista, Kalista berjalan menuju batu nisan bunda dan ayahnya.


"Ayah bunda kalian apa kabar? Kalian bahagia kan di sana? Maaf Kalista baru mengunjungi ayah dan bunda lagi, Kalista ada kabar bahagia, Kalista hamil. Sebentar lagi ayah dan bunda akan punya cucu, ayah dan bunda senang kan? Kalian akan jadi kakek." Kalista berbicara sambil terisak, tangannya sibuk mengusap batu nisan ayah dan bundanya.


Arka tetap setia di samping Kalista, berjongkok dan merangkul Kalista. Kemudian Arka menaburkan bunga petik seraya berbicara. "Ayah bunda mertuaku, kalian disana tenang saja ya, Arka akan selalu membuat Kalista bahagia, Arka akan menjaga Kalista seumur hidup Arka, terimakasih ya telah melahirkan wanita sehebat Kalista. Kalista sedang mengandung anakku, ayah dan bunda do'akan Kalista ya agar selalu sehat dan di jauhkan dari hal-hal yang membahayakan." Sekantong bunga petik telah selesai Arka tabur.


Kalista masih terus saja menangis, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya itu. Tangannya tak henti-hentinya mengusap batu nisan.


"Ayah bunda, maaf ya jika nanti perut Kalista semakin membesar, Kalista tidak bisa rutin menjenguk kalian, kalian mengertikan? Kalista sayang banget sama ayah dan bunda, do'akan Kalista, dede di perut, dan suami Kalista sehat selalu ya." Sebutir air bening lolos kembali dari mata Kalista.


"Ayah bunda, Kalista pulang ya." Kalista mengusap batu nisan itu, kemudian Arka mengusap sisa-sisa air mata Kalista.


Ketika Arka dan Kalista berjalan menuju mobil, tiba-tiba langkah Kalista menjadi sempoyongan. Arka segera menggendong Kalista dan membawanya ke mobil.


"Pak buka pintunya." Arka tergopoh-gopoh menggendong Kalista.


Pak Jaka langsung membuka pintu mobil. "Nyonya kenapa tuan?" Tanya pak Jaka dengan cemas.


"Nggak apa-apa, kecapean aja." Kata Kalista yang kini sudah duduk di dalam mobil.


"Ngebut aja pak nggak apa-apa, aku ngantuk." Ujar Kalista yang tangannya masih di genggam oleh Arka, selama perjalanan Arka tak henti-hentinya mengusap wajah Kalista.


Mobil telah sampai di kediaman pak Anggara, Arka segera turun dan menggendong Kalista.


"Kenapa nak? Ko pada kotor?" Pak Anggara berlari menghampiri, wajahnya terlihat sangat mencemaskan menantunya itu.


"Nggak apa-apa, tadi dari makam ayah bundanya Kalista, sekarang dia ngantuk sama kelelahan juga." Jawab Arka.


"Ayo baringkan Kalista di kasur, kamar kalian sekarang pindah ke sini." Oma membuka pintu kamar yang letaknya di lantai dasar dekat dengan tangga.


Semenjak kepergian Arka dan Kalista tadi, Oma dan pak Anggara langsung menyuruh beberapa pelayan untuk membersihkan kamar itu, dan memindahkan segala sesuatu yang berada di kamar atas ke kamar yang di dekat tangga. Ini sebenarnya sudah pak Anggara dan Oma rencanakan dari semalam, karena mereka mencemaskan Kalista yang sedang mengandung kalau harus bulak balik ke kamarnya menaiki dan menuruni tangga.

__ADS_1


Arka membaringkan Kalista, mengambil handuk kecil dan mengelap tangan dan kaki Kalista yang kotor. Kemudian menggantikan baju Kalista.


"Kamar Arka kenapa pindah ma?" Tanya Arka, kemudian ikut duduk di samping Oma.


"Istri kamu kan sedang mengandung, ayah dan Oma khawatir kalau Kalista harus bolak balik naik dan turun tangga." Ujar pak Anggara.


"Iya sih." Arka tersenyum simpul.


"Oh iya nak, beli buah banyak banget buat apaan?" Tanya Oma.


"Kalista yang mau, lagian kan dia sekarang selalu makan salad buah, jadi nanti suruh beberapa pelayan buat salad buah aja, buat stock cemilan Kalista. Kalau susu bumil Arka sengaja belinya beberapa merk, soalnya kalau nanti Kalista merasa nggak enak atau mual, jadi bisa pilih mau susunya yang mana?" Jelas Arka.


Setelah selesai berbincang-bincang dengan pak Anggara dan Oma, Arka menyempatkan diri ke kantor sebentar, mumpung istrinya sedang tidur. Oma langsung menyuruh beberapa karyawan untuk membuat salad buah, dan masak udang asam pedas. Karena akhir-akhir ini Kalista suka makanan yang pedas-pedas. "Semoga saja Kalista suka." Ujar Oma sambil berlalu dari dapur.


Setelah 40 menit berlalu, Arka kembali pulang dari kantor. "Istriku sudah bangun?" Tanyanya sambil mengambil minuman dingin dari kulkas.


"Belum, jangan di bangunin. Kamu mandi terus istirahat." Oma berlalu meninggalkan Arka.


Boro-boro mandi, 5 menit setelah merebahkan dirinya di sofa Arka langsung terlelap bergelut dengan mimpinya.


*****


Kalista terbangun, jarum jam menunjukan angka 19:00 WIB. "Aku tidur lama banget." Gumamnya, kemudian mandi.


Selesai mandi, Kalista langsung mengenakan piyama, memoles bedak tipis ke wajahnya, lalu berjalan ke luar kamar. Manik mata Kalista menangkap sosok suaminya itu sedang tertidur pulas di sofa.


Kalista berjalan mendekati Arka, kemudian duduk di sebelahnya. "Bangun, udah malam nih." Kalista menepuk-nepuk pipi Arka. Arka tak kunjung bangun, tubuhnya hanya menggeliat-geliat saja. "Aku laper banget, pengen makan tapi bareng suami aku." Kata Kalista. "Yaudah kalau nggak mau bangun, jangan salahin aku kalau nanti dede bayi'nya ngeces." Kalista tersenyum menyeringai, pasti cara ini cukup ampuh untuk membangunkan suaminya.


Arka langsung bangun, dan kemudian mencium perut Kalista sambil mengusapnya pelan "Dede sayang, bentar ya ayah mandi dulu, bersabar sebentar ya anak ayah, jangan nakal kasian mama." Setelah itu Arka mencium kening Kalista, kemudian langsung pergi mandi.


"Senjatanya dede di perut ya sekarang." Lalu Oma dan Kalista tertawa.


Ting.. tong.. suara bel.


Oma bangkit dari duduknya.


"Bu, biar saya yang buka pintu." Kepala pelayan berjalan ke depan, untuk membuka pintu.


Begitu pintu di buka, orang-orang yang memencet bel akan langsung melangkahkan kakinya, tetapi dihalangi oleh kepala pelayan.


"Ketemu Arka lah." Ujar Andy dengan sewot.


Mereka yang memencet bel adalah Andy, Evan, dan Riko.


"Bentar saya pang...."


"Siapa bu? Kok nggak di suruh masuk?" Kalista menghampiri kepala pelayan.


"Hii bumil, bawa sesuatu nih buat bumil, di jamin deh pasti suka." Evan mengangkat kantung kresek yang berada di tangannya.


"Wah apaan tuh?" Kalista mengambil kantung kresek di tangan Evan.


"Ayo masuk! Mereka tuh sahabatnya suami saya bu." Kata Kalista.


"Maaf den, saya pelayan baru di sini, jadi tidak tahu." Kepala pelayanan membungkukkan badannya.


"Tidak apa-apa bu." Jawab mereka serempak kemudian masuk ke dalam rumah.


"Wah ramai nih." Seru Oma yang sedang duduk di sofa. Mereka semua langsung menyalami Oma dan pak Anggara yang memang sedang duduk di sebelah Oma.


"Ayo makan malam."


Mereka semua sudah duduk di kursi di depan meja makan, tetapi diantara mereka semua belum ada yang mengambil nasi, karena masih menunggu Arka.


"Suami kamu lagi luluran ya? Katanya mandi, tapi belum keluar juga." Bisik Riko di telinga Kalista.


"Heh kompor, ngapain lu bisik-bisik ke telinga istri gue." Arka tiba-tiba datang dan langsung menjewer telinga Riko.


"Widih ganteng banget nih yang udah luluran." Evan terkekeh meledek Arka.


"Berisik banget, ngapain sih kalian ke sini? Merepotkan tau nggak!" Arka memandang Riko, Andy, dan Evan.


"Tapi tadi gue beli buah gohok khusus untuk nyonya Arka loh, nggak suka lihat bini lu senang?" Andy menatap Arka tajam dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


"Galak amat sih bro, kita kesini tuh cuma mau silaturahmi sama pak Anggara dan Oma, sekalian main dan bawakan sesuatu untuk bumil yang cantik." Ucap Evan, kemudian melirik Kalista sekilas.


"Nggak usah lirik-lirik bini gue!" Tegas Arka.


"Kalau punya anak sebanyak ini seru ya bu, ramai." Kata pak Anggara.


"Yaudah nanti Kalista suruh punya anak banyak, biar ramai." Jawab Oma.


"Kalau kalian masih mau debat pergi sana keluar! Ngumpul bareng debat, mau ngopi debat, mau makan juga masih aja debat lagi! Ngerti nggak sih aku tuh lapar, dede di perut aku perlu makanan dan nutrisi." Ucap Kalista penuh dengan emosi, mereka semua langsung terdiam.


"Iya-iya ayo makan." Arka mengambil salad buah untuk Kalista, kemudian mengambil kentang yang kedalam piringnya.


"Nasinya mana?" Tanya Riko bingung karena di meja makan ini tidak ada nasi, melihat Oma, pak Anggara, dan Arka malah mengambil kentang kukus yang di haluskan.


"Nggak ada nasi, Kalista mual kalau mencium bau nasi, jadi makanan pokoknya kita ganti pakai kentang kukus yang di haluskan." Ujar Oma.


"Kenapa? Takut nggak kenyang?" Cibir Arka dengan sinisnya.


"Nak makan udang asam pedas, enak loh." Oma mengambilkan udang asam pedas ke piring Kalista.


"Makasih Oma." Kalista tersenyum.


"Aku nggak mau kepala udangnya." Kata Kalista. Arka dengan sigap langsung memisahkan kepala udang dari badan udangnya. Kemudian menyuapi Kalista dengan perlahan, sambil dirinya juga makan.


Mereka semua makan cukup tenang, karena semenjak Kalista marah, mereka semua tidak ada lagi yang berani berdebat.


Setelah selesai makan, mereka semua langsung pergi ke ruang keluarga dan menonton bersama. Setelah 20 menit menonton, Oma dan pak Anggara pamit terlebih dahulu karena sudah merasa ngantuk.


Arka pergi ke dapur, membuatkan susu untuk Kalista. Tidak berselang lama Arka membawakan 5 gelas susu sekaligus.


"Ayo coba dicium dulu aromanya, sukanya yang mana." Arka meletakkan baki berisi gelas susu diatas meja.


"Hoek..." Kalista langsung merasa mual, dan kepalanya pusing ketika mencium aroma susu dari gelas pertama.


"Ini bau, ini eneg, ini aku nggak suka." Kalista mencium aroma susu di gelas kedua, ketiga, dan keempat.


"Ini enak, nggak bau, nggak bikin mual, dan terasa segar." Kalista langsung menyeruput habis segelas susu di gelas kelima.


Arka mengambil gelas susu dan mencium aroma susu yang isinya telah habis di minum Kalista. "Oke bumil cantik, Anmum Materna yang jadi pilihanmu." Arka mencium puncak kepala Kalista.


"Ini susu 5 gelas beda merk?" Riko mengernyitkan dahinya.


"Iyalah, antisipasi kan gue." Jawab Arka datar.


"Widih siap jadi ayah nih." Ujar Evan.


"Keren bro, suami siaga." Andy menepuk-nepuk pundak Arka.


Kalista menguap beberapa kali, kemudian dirinya mencolek dagu Arka. "Tidur yuk, udah malam tahu." Kalista merengek manja.


"Aku kan tadi baru bangun, jadi nggak ngantuk. Emang kamu udah ngantuk sayang? Tadi kamu tidur lama loh." Ucap Arka sambil mengelus puncak kepala Kalista.


"Aku belum ngantuk sih, cuma pengen rebahan di kasur aja." Jawab Kalista.


"Kamu belum ngantuk, aku juga belum ngantuk, kamu pengen rebahan? Kenapa nggak rebahan sambil beraktivitas di ranjang aja." Arka tersenyum menggoda Kalista.


"Heh mesum, nggak ingat tadi apa kata dokter?" Kalista mencubit pelan pinggang Arka.


"Yah harus puasa, kuat nggak kuat deh." Arka berkata lirih.


Tiba-tiba Kalista langsung mencium bibir Arka, entah bagaimana Kalista bisa se-agresif itu, Arka dan Kalista sangat menikmati ciuman itu sampai lupa kalau di ruangan ini masih ada 3 pasang mata yang menyaksikannya.


"Hot news, siaran langsung adegan panas CEO perusahaan Anggara dan istrinya." Celetuk Evan yang cukup mengagetkan Kalista.


Kalista langsung melepaskan bibirnya, dan menyembunyikan wajahnya di dada Arka. "Rebahan aja disini sambil nonton, nanti kalau ketiduran aku pindahin ko." Arka mencium puncak kepala Kalista dan mengusapnya pelan.


"Balik sana! Gangguin gue aja kalian." Kesal Arka karena adegan panasnya terganggu.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2