SUN FLOWER

SUN FLOWER
Episode 17


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Vino tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia pergi ke rumah Lantana, karena ia yakin ayah sudah pulang dinas jam segini. Benar saja, setelah mobil Vino memasuki halaman Lantana, ia melihat ayah sedang menyiram kebun bunga matahari milik putrinya.


"Selamat sore ayah.." sapa Vino


"Eh,, nak Vino.. Ada apa ini??" sambut ayah ramah. "Sini sini sini.." ayah menghentikan aktifitasnya dan mengajak Vino ke kursi yang ada di teras. Vino  mengikuti ayah dan duduk di kursi sebrang ayah.


"Ada apa, nak?" tanya ayah. "Sebentar ayah ambilkan minum dulu.."


"Eee... Ayah!! Tidak perlu ayah.. Vino hanya sebentar kok.." cegah Vino


"Oh.. Baiklah.." ayah kembali duduk di kursinya.


"Ayah, saya mau pergi ke Amerika.. Berapa lamanya, saya tidak pasti.. Ayah saya kena serangan jantung, kakak saya lagi kena masalah, perusahaan papa juga terancam bangkrut.." Ucap Vino.


"Oh ya Tuhan.. Lalu bagaimana kondisi papamu saat ini, nak..!" ucap ayah dengan nada khawatir.


"Papa masih belum sadar,, makanya mama nyuruh saya cepat-cepat pulang.." ucap Vino. Kemudian ia diam sejenak, raut wajahnya terlihat tengah memikirkan sesuatu. "Ayah,," Vino menghadap ayah dengan wajah serius. "Saya ingin menikahi putri ayah.. Saya tau putri ayah belum sadar saat ini,, saya juga ingin menunggu dia sampai sadar.. Ayah setuju kan?


"Ayah.. Ayah tidak bisa memutuskan.. Nanti kalau Ana sudah sadar, ayah akan bicarakan ini dengan dia.." jawab ayah


Vino merasa lega namun juga cemas. Ia lega karena ayah memberi harapan, cemas karena takut Lantana akan menolak.


"Ayah.. Apa Lantana menyimpan biji bunga matahari untuk bibit?" tanya Vino setelah beberapa saat hening.


"Ada ada.. Di gudang ada nanyak.. Bahkan gudangpun setengahnya jadi tempat penyimpanan biji bunga matahari Lantana.. Sebentar ayah ambilkan untukmu.." ayah beranjak dan pergi ke dalam rumah


Vino mengamati kebun Lantana. Bunganya mekar dan besar pertanda bunga mendapatkan perawatan yang baik. Tak lama ayah datang dengan satu stoples biji bunga matahari di tangannya.


"Ini dia.. Nak Vino akan tanam di mana?" tanya ayah


"Saya akan tanam di rumah papa saya di amerika.. Sepertinya akan bagus juga seperti di sini" Vino tersenyum menerima stoples itu. "Sepertinya saya juga harus segera membeli lahan unyuk menanam biji bunga ini juga".

__ADS_1


Ayah terkekeh. Baru kali ini ayah melihat seorang pemuda yang begitu gigih mengejar putrinya. "Kamu begitu bersungguh-sungguh.. Tapi, apa kamu beneran menginginkan anak ayah?"


"Tentu saja ayah.. Saya yakin dengan keputusan saya" ucap Vino tegas


"Tapi kan anak ayah sangat manja, dan dia banyak kekurangnnya.."


"Ayah jangan khawatir.. Saya tidak peduli dengan kekurangannya,," ucap Vino


"Baiklah.. Ayah tidak akan menghalangi.." ayah tersenyum penuh wibawa


"Baik, ayah.. Vino harus pergi, sebentar lagi jam keberangkatan Vino ke amerika.. Jangan lupa hubungi Vino kalau Lantana sudah bangun.." Vino bangkit dari duduknya dan pamitan


"Baiklah.. Kamu hati-hati di jalan.." ucap ayah sembari salaman dengan Vino


"Titip salam buat bunda juga, yah" Vino melambaikan tangan dan berjalan menuju mobilnya kemudian meluncur meninggalkan pekarangan Lantana.


Ayah menggelengkan kepala sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam rumahnya.


*


"Tuan muda, silahkan" ucap Mike seraya membungkuk membukakan pintu mobil untuk Vino.


Vino duduk di kursi belakang tanpa melepas sun glasessnya. Mike sudah duduk di kursi kemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan bandara.


"Tuan muda, nyonya ada di rumah sakit.. Apa tuan muda mau saya antarkan ke sana??" tanya Mike seraya melirik Vino melalui kaca spion tengah


"Bagaimana kondisi perusahaan??" tanya Vino datar


Mike menelan ludah karena pertanyaannya tidak ditanggapi dan tuan mudanya lebih mementingkan kondisi perusahaan dibandingkan keluarganya.


"Perusahaan sedang kacau, tuan.. Banyak karyawan yang mogok kerja karena gajinya tidak turun.. Para pemegang saham pun perlahan mulai menarik kembali saham mereka" jelas Mike

__ADS_1


" berapa persen pemegang saham yang masih bertahan??" tanya Vino lagi


"Hanya sekitar 40% tuan.. Kerugian terus terjadi meski masalahnya sudah di atasi" Mike


"Baiklah, ke perusahaan sekarang"


"Baik, tuan.." Mike mengikuti permintaan tuan mudanya dan meluncur menuju perusahaan milik tuannya.


Vino masuki gedung pencakar langit yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya atau bahkan di dengar kabarnya. Dia tidak pernah tertarik pada perusahaan ini karena kedua kakaknya selalu berebut ingin mengambil alih kepemimpinan jika papa mereka pensiun.


Vino langsung menyuruh semua direksi dan manager berkumpul di ruang rapat untuk mendengarkan laporan mereka. Beberapa direktur yang kebingungan segera membawa laporan yang mereka punya ala kadarnya dan terheran dengan kehadiran pemuda asing yang duduk di kursi pimpinan.


Vino memang tidak pernah memunculkan kehadirannya di perusahaan ini sejak remaja, jadi para direktur banyak yang tidak mengenalinya kecuali beberapa orang yang pernah bertemu dengannya di acara resmi bersama papanya.


"Anda siapa?" tanya seorang direktur yang seusia papanya


"Cepat laporkan apa saja yang terjadi!" ucap Vino dengan tangan bersedekap di dada


Beberapa direksi saling bertukar pandangan. Mereka mengenal Alex, wakil Ceo perusahaan dan Walt direktur pemasaran. Pemuda ini lebih muda dari Stevenson bersaudara. Terlebih pemuda ini tidak memakai pakaian formal sama sekali.


"Anak muda, seharusnya anda tidak ada di sini" ucap seorang manager senior


Vino hanya menatapnya dengan datar sebelum mengatakan "anda sudah siap dengan laporan anda? Segera laporkan apa saja yang terjadi" ucapnya masih dengan ekspresi datar


"Anda ke sini untuk berkerja? Tapi anda tidak pakai baju formal sama sekali" lanjut senior itu


"Apa penting saya mau memoerhatikan penampilan saya di saat perusahaan berada di ambang kehancuran??" tanya Vino sarkas.


Para direksi saling pandang lagi. Mereka ragu sekaligus hawatir, mereka mengira yang mengajak rapat adalah Alex yang sudah kembali dari Jepang. Namun siapa sangka dia adalah orang yang belum pernah mereka lihat di perusahaan. beberapa direksi takut orang ini adalah penyusup atau perampok yang akan mengambil alih perusahaan tanpa persetujuan pemilik asli. mengingat ketiga pemilik prusahaan sedang berada dalam masalah besar.


Seorang direktur yang pernah melihatnya bertanya dengan ragu. "Apa anda tuan Vino? Em.. Vino Stevenson anak ke tiga dari Austin Stevenson?" tanyanya. Ia pernah melihatnya, tapi dulu beberapa tahun yang lalu. Dan saat ini penampilan Vino sudah berubah

__ADS_1


"Memangnya ada orang lain yang diperbolehkan duduk di kursi ini selain pemilik perusahaan??" ucapnya penuh ketidak puasan.


Semua direksi segera mengerjap dan duduk di kursi yang tersedia. Mereka pun mulai melaporkan laporan mereka masing-masing departemen.


__ADS_2