
Semakin malam malah semakin ramai tempat hiburan seperti ini. Kerlap-kerlip lampu disko, hingar bingar musik. Semua orang berjoget bergembira. Seolah-olah tidak ada beban di hidupnya. Bahkan ada yang mulai tepar karena mabuk dari minuman yang di minumannya.
"Diam disini cuma minum jus, lebih baik di Coffee shop nya si Riko. Suasananya enak, tempatnya nyaman. Penyanyinya juga cakep, apaan di tempat ini Dj nya kaya mau renang." Cibir Andy sambil menggoyang-goyangkan gelas jus di tangannya.
Dj di tempat ini memang seperti akan berenang. Baju crop minim banget, dada bagian atasnya terlihat menyembul. Daripada di bilang baju lebih tepatnya sih kaya beha. Celananya super duper pendek banget, kaya cd.
"Yaudah yuk minum aja! Terus joget-joget kaya dulu lagi." Evan menaik turunkan sebelah alisnya.
"Ogah! Gue mau jadi orang benar, biar Gina nggak kecewa. Biar kaya Arka, sekalinya nemuin wanita yang memang di cintainya, hidupnya langsung berubah total. Berubah menjadi lebih baik." Andy.
"Iman lu kayanya lumayan kuat, gue masih suka goyah dikit. Gue juga mau berubah, mau lepas dari tempat-tempat kaya gini, tapi ya semua juga butuh proses, nggak bisa langsung instan." Evan meneguk jus kiwi pesanannya.
"Yo'i bro! Sedikit demi sedikit aja, dengan perlahan-lahan nanti juga bisa lepas dari tempat ini. Seiring bertambahnya usia kita, kita malah semakin memikirkan hal-hal dewasa, hal-hal yang berhubungan dengan masa depan." Tangan itu menepuk-nepuk pundak Evan, berusaha menyemangatinya agar berubah menjadi lebih baik.
"Btw, tuh cewe cakep juga ya!" Evan menunjuk salah satu cewe yang sedang berjoget, kelihatannya sih sudah mabuk. Di sisinya ada pria botak dengan perawakan tinggi besar yang berusaha menggodanya, berkali-kali tangannya seperti ingin menjamah tubuh wanita itu, namun wanita itu menolak. Tangan bakal itu berkali-kali mencoba membuka kancing kemeja wanita itu, namun wanita itu selalu menepis tangannya.
"Masih pakai baju kantor? Gila sih dia pulang ngantor langsung ke sini." Evan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau Gina kaya gitu mau lu apain?" Imbuhnya lagi
"Gue bimbing biar nggak kaya gitu, lagian kan minum-minum kaya gitu tuh nggak baik buat rahim cewek." Jawab Andy sangat keras, bahkan mungkin hampir berteriak. Hingar bingar musik yang sedang di putar membuat telinga mereka seolah-olah tuli, sehingga mereka mengobrol dengan suara keras.
"Good! Tapi kalau gue sih kayanya tinggalin aja sih!" Jawab Evan santai. Sesekali dia berkaca melalui pantulan layar ponselnya.
"Kalau Tiara kaya gitu lu tinggalin gitu maksudnya? Yakin?" Tanya Andy penuh selidik. Bagaimana mungkin langsung di tinggalkan begitu saja, siapa tahu kan nanti Tiara juga berubah.
"Iya! Karena gue yakin Tiara nggak mungkin kaya gitu." Mengedipkan sebelah matanya pada Andy.
Sudah tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Keduanya sedang sibuk dengan ponselnya masing-masing. Bahkan mereka berdua pun sama sekali tidak menyadari ketika wanita berpakaian kantoran itu sudah ada di mejanya.
"Cantik, minum sedikit saja." Laki-laki botak dengan perawakan tinggi besar itu berusaha membujuk si wanita itu agar meneguk minuman yang di berikan di tangannya.
Wanita itu menunduk, tangannya menepis tangan pria itu. Tetapi si pria sangat memaksa, dengan mengerahkan segala tipu daya rayuan maut dari mulutnya, dia berhasil membuat wanita itu meneguk sedikit minumannya.
Awalnya Andy dan Evan tidak menggubrisnya, manik mata mereka terlalu asyik menatap layar ponselnya. Bahkan Evan sudah larut dengan game online. Tetapi saat pria itu mencoba menyentuh bagain tubuh si cewe, si cewe membentaknya dengan sangat kasar, bahkan dari mulutnya itu pun terdengar kata-kata makian.
Evan terlonjak kaget dan segera mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara wanita itu, menatap wanita cantik di hadapannya. Manik mata itu membulat sempurna, emosinya mendidih di ubun-ubun kepalanya.
"Lepasin tangan lu dari cewe gue!" Evan berteriak sama pria botak dengan perawakan tinggi besar itu.
Andy kaget, dan langsung memasukan benda pipih ditangannya itu kedalam saku jasnya. Kemudian menatap wanita cantik di hadapannya, wanita itu sudah tidak sadar. Bahkan dia menempelkan pipinya di meja. Sepertinya dia sudah terlalu mabuk, sudah tidak ada energi dalam tubuhnya.
Wanita itu adalah Tiara, entah bagaimana ceritanya kenapa Tiara tiba-tiba datang ke tempat seperti ini? Bahkan sampai minum.
"Cewe lu? Sejak kapan? Kalau memang dia cewe lu, kenapa dia datang sendirian?" Ujarnya santai, bahkan ekspresi wajahnya sangat menyebalkan. Tanpa rasa malu sedikitpun, dia duduk dan segera memeluk pinggang Tiara.
Evan sudah tidak bisa mengontrol emosinya, pria itu benar-benar telah membuat emosinya bergejolak, berkumpul di ubun-ubunnya. Evan membabi buta, tangan Evan mengepal, dan langsung saja melayangkan bogem mentah pada perutnya.
Terjadi baku hantam di club malam itu, Evan menyerahkan Tiara pada Andy. Andy pun ikut membantu membenahi tas dan ponsel Tiara yang tergeletak di meja.
Beberapa petugas keamanan di club malam itu berusaha melerai perkelahian itu. Namun tidak bisa, Evan sudah kemasukan setan sehingga tidak bisa di hentikan. Bahkan pria botak itu sudah terkapar di lantai, wajahnya babak belur penuh luka lebam. Ujung bibirnya sobek dan mengeluarkan darah segar.
"Udah! Dia bisa mati kalau lu hajar terus, kalau kasus ini di usut, lu bisa di jebloskan ke penjara! Sekarang mendingan lu urus Tiara!" Teriak Andy pada Evan, tindakan Evan sangat kriminal dan masuk dalam pasal penganiayaan.
Andy menyerhakan Tiara agar di papah oleh Evan. Evan segera membawa Gina keluar dari tempat itu, dan membawanya masuk ke mobil. Sebelum benar-benar pergi Andy merusak semua cctv yang terpasang di club malam ini, tidak ada satu pun yang tersisa. Andy bahkan merampas ponsel beberapa orang yang sempat merekam adegan baku hantam itu, walau bagaimanapun Andy tidak ingin Evan terlihat dalam sebuah kasus, apalagi sampai berurusan dengan polisi. Hal itu tidak boleh terjadi. Andy bahkan mengancam semua orang yang berada di club malam, siapapun yang membuka mulut tentang kejadian ini, bisa di pastikan nyawanya akan melayang. Itu hanya gertakan saja, tidak mungkin juga kan Andy menghabisi nyawa orang dengan cuma-cuma.
"Kemana nih?" Tanya Andy yang baru saja masuk ke mobil. Jika tadi pas datang ke tempat ini Evan yang menyetir, kini gantian Andy yang menyetir. Evan berada di kursi belakang, dengan Gina yang sedang mabuk di sebelahnya.
"Nggak tahu! Bingung gue." Jawab Evan sambil mengusap lembut rambut Tiara.
"Hotel aja lah!" Andy berkata nyeleneh dengan cengir kudanya.
"Enak aja! Gue bukan cowok brengsek!" Sergah Evan sambil mendelikkan matanya jengah.
"Oh bagus!" Andy mengacungkan jempolnya, padahal tangannya lagi sibuk mengendalikan kemudi mobil.
"Berterimakasih lu sama gue! Gue udah hancurkan rekaman cctv barusan, merampas ponsel-ponsel nakal yang merekam streaming baku hantam yang lu lakukan, bahkan gue mengancam semua orang yang berada di sana." Ujar Andy yang menatap Evan melalui kaca yang tergantung di bagian depan mobil.
"Cih dasar! Lagian ngapain di hancurkan? Emang gue bakal kena kasus, jika iya gue juga bisa nyerang balik kali. Gue kasih lihat lah rekaman cctv ketika si botak berusaha menyentuh bagian tubuh Tiara, si botak juga maksa banget kan." Bibirnya itu mencebik, Evan sangat tidak terima melihat Tiara di perlakukan seperti tadi.
"Kalau dia nyerang duluan? Lu yakin bisa dapatin rekaman cctv sebelum lu baku hantam? Otomatis dia kan yang minta rekaman cctv itu duluan, namanya orang dendam pasti akan mengerahkan segala cara agar dirinya menang. Jadi pada intinya, rekaman cctv yang sebelumnya pasti akan di manipulasi, jangan-jangan nanti di edit seolah-olah Tiara yang menggodanya lebih dulu. Pintar dikit napa, otak lu dangkal banget sih." Andy merasa kesal, kenapa sih Evan otaknya begitu jongkok.
"Hmmm iya juga sih. Kok gue mendadak beg* ya sampai nggak berpikiran kaya gitu. Untung ada lu Andy, iya oke gue akui gue harus berterima kasih banget sama lu." Ucap Evan dengan sungguh-sungguh.
"Btw, gimana bro? Masih ingatkah dengan percakapan kita ketika di club malam tadi? Perihal pertanyaan yang telah gue ajukan?" Tanya Andy.
"Pertanyaan apaan sih?" Evan sudah melupakan percakapan itu, percakapan yang dianggapnya hanya angin lalu saja. Evan malah sibuk mengatur dan memposisikan kepala Tiara agar bersandar di bahunya, agar Tiara merasa nyaman.
"Itu loh! Yang tadi, yang kata lu 'kalau Tiara kaya gitu, mau di tinggalin' sekarang gimana? Katanya mau di tinggalin tapi lo malah ngehajar tuh si botak sampai tepar." Ledek Andy.
"Ralat! Mana bisa gue ninggalin wanita yang gue cintai" Evan dengan berani mengecup puncak kepala Tiara.
"Woy ah! Sadar woy! Belum halal jangan cium-cium!" Cibir Andy.
"Khilaf gue! Lagian gue nggak tega banget lihat keadaannya lagi kaya gini. Lagi ada masalah kayanya, tapi kenapa harus datang ke tempat kaya gitu sih? Kan bisa cerita sama gue." Evan menatap lekat-lekat wajah gadis cantik yang sedang terkapar di sebelahnya.
__ADS_1
"Alamat rumah Tiara dimana?" Tanya Andy yang masih memfokuskan pandangannya ke depan.
"Gue nggak mungkin bawa pulang ke rumahnya, apa kata orang tuanya? Gue nggak mau ya citra gue rusak di hadapan calon mertua gue!" Sarkas Evan.
"Ya terus lu mau bawa Tiara kemana? Anak gadis orang nggak di pulangin, yang ada nanti citra lu malah makin jelek. Benar-benar beg* banget sih lu!" Andy ingin sekali memaki Evan untuk saat ini.
"Nggak tahu!" Evan bingung harus membawa Tiara kemana. Benar kata Andy, kalau Tiara nggak di pulangin yang ada citra dirinya makin jelek, tapi kalau di pulangin nanti apa kata orang tuanya? Apa mereka akan percaya jika Evan mengatakan menemukan Tiara di club malam seorang diri. Nggak mungkin deh, pasti mereka mengira Evan lah yang mengajaknya.
Evan berpikir sejenak, memijit-mijit pelan dahinya. Sudah lima menit pun Evan masih belum menemukan solusinya. Tiba-tiba Evan tertarik untuk melihat-lihat isi ponsel Tiara, ponselnya itu pakai kunci. Namun Evan si bucin itu sudah pasti bisa membuka kuncinya, gampang kok kuncinya tanggal lahirnya Tiara.
Yang pertama kali Evan jelajahi adalah WhatsApp. Semua terlihat normal, hanya ada beberapa rincian chatting dari teman-temannya, dan tentunya chatting dari Evan di sematkan menjadi yang paling atas. Evan baca dengan detail satu persatu, semuanya masih terlihat normal, sama sekali tidak ada yang janggal ataupun mencurigakan.
Eh bentar deh, Tiara belum pulang ke rumah tapi tidak ada satu pun pesan dari orang tuanya yang menyuruhnya pulang. Aneh! Bahkan dahi Evan pun berkerut, karena terakhir kali Tiara chattingan dengan mami dan papi itu sudah lama banget. Mungkin sebulan yang lalu.
"Seburuk itukah komunikasi antara Tiara dan mami papinya?" Gumam Evan dalam hatinya.
"Mau di bawa ke mana? Ke apartmentnya lu? Atau kemana? Keburu malam bro, gue butuh istirahat." Andy melihat Evan sekilas, kemudian kembali fokus pada kemudi setir.
"Gue bingung harus bawa kemana! Nggak mungkin ke apartment gue, soal nya apartment gue ketat banget bro! Nggak ada buku nikah resmi mana bisa masukin wanita, apalagi nginap." Evan mengacak rambutnya frustasi, saat-saat seperti ini malah tidak ada yang bisa di andalkan.
"Gimana kalau kita titipin Tiara di rumah Gina." Tiba-tiba Evan tersenyum, sepertinya dia menemukan titik terang untuk masalah ini.
"Nggak bisa! Apa kata mamanya Gina nanti? Yang ada gue di cap jelek, apa-apaan nitipin wanita yang sedang mabuk di tengah malam kaya gini. Kalaupun kita bicara yang sejujurnya, tetap aja kayanya susah buat percaya." Sergah Andy.
"Ya terus gimana?" Teriak Evan frustasi.
"Apartment nya Arka aja lah!" Ucap Andy.
"Bentar gue kontak Arka dulu." Imbuhnya lagi.
Andy mencari kontak Arka, kemudian menekan satu tombol panggilan. Tersambung namun tidak di angkat, Andy mencoba kembali menghubungi Arka.
"Nggak tahu waktu, ini sudah larut malam." Sarkas Arka di sebrang telepon, sangat terdengar jelas dari suaranya bahwa Arka merasa terganggu di hubungi tengah malam.
"Sorry bro! Ini nih Evan katanya mau pinjam apartment lu, boleh nggak?" Tanya Andy, ada kekehan kecil di ujung kalimatnya. Andy menebak jangan-jangan Arka sedang ena-ena.
"Pakai aja!" Ucap Arka datar.
"Oke thank you!" Evan mencoba ber-terimakasih, suaranya tidak terdengar jelas karena dia berada di kursi belakang.
"Suara lu berisik parah! Kalian berdua tuh mengganggu banget, gue baru aja terpejam. Bini gue lagi tidur, nggak boleh di ganggu. Gue tutup ya!"
Tut.. Tut.. Tut.. sambungan telepon langsung di putus begitu saja secara sepihak.
"Kenapa sih gue nggak sebahagia kalian? Hiks hiks hiks." Kalimat itulah yang terdengar pertama kali, lalu dia menangis tersedu-sedu.
"Gue pengen banget bahagia."
"Gue kesepian."
Mulutnya terus menerus mengucapkan kalimat-kalimat yang sepertinya memang sedang di rasakan oleh hatinya.
"Lanjut! Biar cepat sampai." Perintah Evan.
Sepanjang perjalanan Tiara terus menangis, dari mulutnya selalu keluar kalimat 'Ingin bahagia, kesepian, ingin kasih sayang' untuk saat ini Evan tidak paham apa yang terjadi dengan Tiara. Tapi Evan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mencari tahu semuanya.
"Evan menarik tubuh Tiara ke dekapannya, mencoba untuk menenangkannya." Tiara pun mendekap Evan dengan erat. Tangisnya berhenti, mungkin dia mulai tenang.
Tiba-tiba "Uuuweeeeeekkkkk." Tiara muntah tepat mengenai kemeja yang di kenakan Evan. Andy mentertawakannya sangat puas.
Begitu sampai di apartment Arka, Evan langsung menggendong tubuh Tiara. Karena tubuh itu terlihat lemah dan tidak bertenaga.
"Kodenya?" Evan melotot pada Andy, karena tidak menanyakan kode pintu apartment Arka.
"Ulang tahun Kalista! Begitu juga sebaliknya." Andy menekan beberapa angka, lalu pintu apartment itu terbuka.
Evan meletakkan Tiara di kasur, kemudian dia mencari pakaian ganti di kemari Arka, Andy mengambil satu kaos polos lalu mengenakannya.
"Gue pinjam mobil lu! Gue perlu istirahat karena besok harus kerja, gue percayakan Tiara sama lu, jaga iman! Jaga godaan! Jangan sampai anak gadis orang lu rusakin sebelum di halalin." Sebelum benar-benar pergi meninggalkan apartment, Andy memberikan beberapa petuah dan wejangan pada Evan.
Oke cukup paham dengan nasihat-nasihat yang Andy berikan. Evan mengangguk, namun hatinya juga tidak bisa berbohong dan tidak bisa menjamin sepenuhnya. Bayangkan satu laki-laki dewasa bersama wanita dewasa berduaan dalam satu ruangan? Tentunya syaitonnya juga dahsyat ya.
Evan memperhatikan Tiara, menatapnya dengan sangat lekat. Wajah cantik itu terlihat sendu, matanya sedikit bengkak dan hidungnya merah. Bajunya terlihat sangat acak-acakan, malahan baju itu telah basah oleh keringat.
Tiba-tiba terpikir oleh Evan untuk pindah ke apartment Kalista. Karena Evan yakin, apartment Kalista pasti lengkap dalam segala hal. Apartment Arka ini sepertinya kurang nyaman untuk Tiara, isinya hanya seadanya saja. Mungkin karena sudah lama tidak ditempati, terdapat banyak debu juga di beberapa bagian.
Seperti yang Andy katakan, kode pintu apartemen Arka adalah ulang tahun Kalista. Berarti kode pintu apartemen Kalista salah tanggal ulang tahunnya Arka. Begitu pintu terbuka, Andy langsung membopong tubuh Tiara masuk, kemudian menidurkannya di tempat tidur Kalista. Mengambil baju piyama di lemari Kalista, namun Evan tidak tahu bagaimana cara memakaikannya? Seorang laki-laki normal pasti tidak akan tahan godaan melihat tubuh mulus seorang gadis, apalagi keadaannya sekarang sangat mendukung, hanya berduaan saja.
Evan tidak jadi menggantikan baju Tiara, Evan memilih duduk di kursi yang menghadap ke meja rias. Mengambil salah satu novel milik Kalista, Evan mencoba membunuh waktu dengan membaca novel.
Tiba-tiba Tiara bangkit, dan menghampirinya. Memeluknya sangat erat, dan menciumi lehernya. Ada rasa aneh yang sangat nikmat meneyelusup di dalam tubuh Evan.
Evan speechless, dan tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa. Kecupan itu kini berubah menjadi gigitan-gigitan kecil, mengigit leher Evan seperti sedang menggigit permen kesukaannya. Tangan Tiara mulai nakal dan bergerilya di tubuh Evan, meraba dada bidang Evan dan tangan sebelahnya menyusup ke dalam celana Evan.
Ini gila! Ini di luar dugaan, dan bahkan mungkin di luar kendali. Evan tidak bisa berdiam diri saja, bahkan celananya kini terasa sesak. Evan terbawa suasana, tiara benar-benar membangkitkan gairahnya.
__ADS_1
Evan memberikan kecupan mesra di bibir Tiara, tapi Tiara ingin yang lebih dari itu. Dia menjejalkan lidahnya kedalaman mulut Evan, dan menarik lidah Evan dengan sangat ganas. Awalnya hanya kecupan lama-lama malah menjadi sebuah pagutan.
Bercumbu mesra di kasur apartment Kalista, Evan telentang dengan Tiara di atas tubuhnya. Tiara benar-benar menguasai tubuh Evan, bagaikan seorang wanita yang haus akan kenikmatan.
Tangan Tiara mulai turun pada bagian tubuh bawah Evan, Evan berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya. Ini tidak boleh terjadi, ini bukan Tiara, pasti ada yang salah dengan tubuhnya. Evan berusaha bangkit dan mendorong Tiara dengan sekuat tenaga, tetapi dorongannya tetap terjaga agar tidak melukai Tiara.
Berlari ke kamar mandi dan mendudukkan Tiara di bath up. Guyuran shower membuat Tiara lebih tenang, gairah dalam dirinya yang sangat menggebu-gebu itu perlahan dengan perlahan hilang. Lambat laun matanya seperti tidak kuat menahan kantuk, tetapi kesadarannya masih belum pulih.
"Pasti si botak brengsek itu yang telah menaruh obat birahi di gelas Tiara." Evsn berpikir seperti itu.
"Arrrrrrrrrrrrrgggggggghhhhhhh sialan!" Mengerang frustasi sambil menonjok tembok. Evan sangat-sangat tidak terima, bahkan berniat memberinya pelajaran.
Menggantikan baju Tiara dengan piyama Kalista. Evan harus kuat dan menahan godaan hawa nafsunya, ada gadis cantik di hadapannya dengan tubuh mulusnya tanpa tertutup satu helai benang pun. Jakunnya naik turun, bahkan Evan harus berkali-kali menelan salivanya. Sangat sulit rasanya untuk berusaha setenang mungkin, gairah di dalam dirinya saja masih belum hilang. Sesak di celananya malah semakin terasa sakit.
Bayangkan guys gimana rasanya jadi Evan? Setelah mendapat serangan yang memabukkan, kini dirinya juga harus membantu memakaikan piyama pada tubuh gadis yang di cintainya. You know lah ya gimana sesaknya sesuatu di dalam celana Evan.
Untuk pertama kalinya Evan melihat tubuh tanpa sehelai benangpun, sangat mulus dan bahkan lekuk tubuhnya terlihat indah sempurna. Evan sampai deg deg ser ketika memakaikan beha Tiara, bohong dong kalau bilang nggak ke sentuh. Munafik juga dong kalau bilang nggak sengaja, intinya sih selain nggak sengaja memang ada sedikit yang di sengaja.
Evan masuk ke kamar mandi, berusaha menuntaskan sesuatu dalam dirinya yang belum selesai. Cukup lama berada di kamar mandi. Lalu keluar dengan rambut yang sangat berantakan, sisa-sisa air masih menetas di rambutnya.
Ketika bercermin Evan sangat terkejut, terdapat banyak sekali noda merah di lehernya. Noda merah yang di berikan oleh Tiara, Evan memperhatikannya lalu tersenyum.
*****
Keesokan paginya Evan terbangun lebih dulu, mencuci mukanya kemudian delivery beberapa makanan dan minuman untuk sarapan dan makan siang.
Membuka pintu kamar, dilihatnya gadis cantik yang di cintainya itu masih tertidur pulas. Evan tadi malam memutuskan untuk tidur di sofa, bukannya tidak mau menjaga Tiara, namun Evan takut imannya tidak kuat dan akan kebablasan.
Ting Tong suara bell, Evan segara membuka pintu. Delivery makanannya telah sampai, kurirnya tersenyum kikuk lalu pergi setelah Evan menerima beberapa bungkusan makanan itu. Evan menatapnya heran dan aneh.
Sinar mentari yang masuk melalui celah gorden, mengenai wajah Tiara yang masih tertidur. Mata itu mengerjap secara perlahan, kemudian terbuka lebar. Manik matanya menjelajahi setiap sudut kamar, aneh dan sangat terasa asing.
"Sudah bangun?" Kepala Evan muncul di balik pintu, kemudian masuk menghampiri Tiara
"Aku kok ada di sini?" Tanyanya bingung, tangannya memegang kepalanya yang masih terasa berat dan pusing.
"Ceritanya panjang!" Evan menjawil pelan hidung Tiara. "Sarapan dulu yuk!" Evan memberikan segelas susu hangat dan bubur pereda mabuk.
Tiara hanya bisa menurut, karena ingatannya belum sepenuhnya pulih. Lagi pula sakit dan pusing di kepalanya sangat menggangu.
Sambil sarapan, Tiara pun kepikiran mengapa dirinya mengenakan piyama? Kenapa bisa ada di apartment Kalista? Kemana baju kantor yang kemarin di kenakannya? Lebih penasaran adalah siapa yang menggantikan bajunya?"
Pikiran-pikiran itu berkecamuk dan berkeliaran di sekitaran kepala Tiara. Tetapi otaknya masih belum mampu untuk mencerna semua ini. Yang Tiara ingat adalah kemarin sore sepulang dirinya pergi ke taman, tiba-tiba memutusakan untuk pergi ke club malam. Hanya itu saja yang di ingatnya!
Manik mata Tiara membulat sempurna ketika melihat noda-noda merah di leher Evan. Ada rasa sakit di ulu hatinya, beberapa macam pertanyaan pun ingin sekali di lontarkannya. Satu bulir air bening itu lolos membasahi pipinya, dadanya terasa sesak.
Tiara berspekulasi dengan pikirannya, "Evan pasti main gila dengan wanita lain? Lalu selama ini gue dianggap apa? Dasar pemberi harapan palsu, buaya darat! Apa semua laki-laki di muka bumi ini tidak setia saja untuk satu wanita?" Batinnya.
"Stop Tiara! Sadar diri, diantara kita memang tidak ada ikatan apapun. Hanya saling dekat saja!" Imbuhnya lagi.
"Dikit banget makannya, ayo abisin." Ucap Evan, Evan akan menyelipkan beberapa rambut Tiara yang menjuntai menutupi wajahnya.
"Gue bisa sendiri!" Ujarnya sambil menepis tangan Evan. Nada suaranya terdengar sangat dingin.
"Oke." Jawab Evan pasrah.
"Btw, boleh nanya nggak?" Evan akan mencoba menanyakan permasalahan yang sedang di hadapi oleh Tiara.
"Apaan?" Katanya datar dan snagat ketus.
"Kalau ada masalah ceritain dong, jangan di pendam sendirian." Tangan itu menyentuh dan mengelus puncak kepala Tiara.
"Nggak usah sok baik!" Tiara menghempaskan tangan Evan, kembali berfokus pada sarapannya.
Dahi Evan terlipat dalam, ada apa dengan Tiara? Kenapa tiba-tiba menjadi mode jutek sih? Perasaan gue nggak berbuat kesalahan deh? Apa..., Jangan-jangan? Dia belum siap menceritakan keluh kesah kehidupannya?
Oke, tenang saja sayang! Setelah menikah denganku hidupmu akan selalu bahagia.
Menyelesaikan sarapannya lebih cepat, menarik kembali selimutnya kemudian meringkuk. Tiara merasa sangat kesal sama Evan, hanya gara-gara terdapat tanda kissmark di leher Evan.
"Masih ngantuk ya? Tidur lagi aja!" Evan mengusap pelan puncak kepala Tiara yang tertutup oleh selimut.
"Tidur yang tenang, nggak usah mikirin kantor, aku sudah urus izinnya." Imbuhnya lagi.
"Gimana gue bisa tidur tenang, gue lagi gedek liat tanda kissmark di leher lu! Hargain gue coba kak, gue ada rasa sama lu! Kenapa harus sesakit ini sih." Batinnya sangat merana, bahkan sambil menangis diam-diam.
"Setelah papi main gila dengan perempuan lain, sekarang lu juga main gila dengan perempuan lain? Sekarang gue tahu apa yang mami rasain, sakit yang teramat sakit, sakit yang tidak berdarah namun terasa sangat perih." Air matanya semakin deras.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1