SUN FLOWER

SUN FLOWER
KALISTA (POV)


__ADS_3

Kalista kembali tertidur dengan mata bengkaknya. Entah emang ngantuk karena habis menangis, atau memang pengaruh obat yang dokter berikan.


Hari sudah mulai sore, sekarang di kediaman Anggara ada Evan, Andy, Tiara dan Gina. Tadi juga sebenarnya ada Bima dan Bimo, namun mereka pulang duluan karena menunggu Kalista tidak kunjung bangun.


Oma sudah meminta pelayan untuk memasak bubur, karena Oma sangat paham dengan sikap Kalista. Jika ada sesuatu hal yang membuatnya sedih, atau suatu masalah yang lumayan mengguncang batinnya, nafsu makan Kalista akan turun drastis dengan sendirinya. Mau di paska dengan cara apapun juga Kalista tetap menolak untuk makan, maka dari itu Oma membuatkan bubur ayam khusus untuk Kalista. Berharap Kalista mau memakannya.


Arka tetap setia berada di kamar menemani Kalista yang masih tertidur. Sedangkan Andy, Evan, Tiara dan Gina berada di ruang tamu dengan Oma. Tadi juga Arka sempat bilang ke ayahnya mengenai rumah Marcelino. Ayahnya setuju sepenuhnya pada Arka, lagipula pak Anggara juga sudah memaafkan mantan istrinya.


Gina gelisah dalam duduknya, manik matanya terus menerus melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Pulang yuk." Gina merengek pada Andy.


"Ngapain? Nanti dulu deh nunggu Kalista bangun, minimal setor muka dulu lah." Andy mengusak puncak kepala Gina, sehingga beberapa rambutnya berantakan.


"Takut di marahin mama." Gina masih merajuk manja pada Andy.


"Resiko pacaran sama anak mama." Ledek Evan sambil menyikut lengan Andy pelan.


"No problem! Gue sih it's oke aja! Justru pacaran sama anak mama tuh enak banget, gue nggak perlu terlalu khawatir menerka-nerka, kira-kira Gina pergi kemana? Sama siapa? Gina dimana? Toh mamanya aja masih mantau semua kegiatannya, gue juga malah sering banget nanyain Gina ke mamanya." Jawab Andy sambil merangkul Gina, tangan sebelahnya mengetikkan beberapa pesan di ponselnya.


"Aku juga enak sih, biasanya mama doang yang perhatian sekarang malah nambah satu cowo yang perhatian dan lumayan posesif sama aku." Gina menjawil pelan hidung Andy.


"Posesif? Kalau menurut aku posesif itu tanda sayang loh." Kini giliran Andy yang menjawil hidung Gina.


Sepasang kekasih itu nampak selalu rukun dan harmonis, kemesraan mereka selalu di tunjukan dengan hal-hal positif dan sewajarnya. Cium pipi saja jarang mereka tunjukan ke hadapan publik, bukan jarang sih lebih tepatnya emang nggak pernah.


Manik mata Tiara masih sibuk memperhatikan dua sejoli yang sedang bercanda tawa gurau di hadapannya. Ada sedikit rasa iri di hati Tiara.


"Kenapa?" Evan meraih rahang Tiara, wajah Tiara tepat berhadapan langsung dengan Evan. Evan terus menerus memperhatikan arah pandangan Tiara yang selalu tertuju pada Andy dan Gina.


Gina mengerutkan dahinya. "Apanya?" Pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan yang Evan ajukan.


"Hey..." Tangan Evan malah sibuk menekan-nekan pipi Tiara.


"Iri aja gitu. Kenapa ya hidup aku nggak pernah seberuntung Kalista ataupun Gina." Suaranya terdengar lirih, pandangannya tertunduk.


Andy, Gina, dan Oma sontak saja langsung menatap Tiara dengan intens. Terdengar dari suaranya saja sudah beda, sepertinya Tiara tidak baik-baik saja.


"Kalista dulu selalu merasa kesepian karena orang tuanya meninggal, dan hidup sebatang kara. Lalu ada ibu kost di hidupnya, tidak lama setelah itu ada Arka. Kemudian menikah, bertambah lagi orang yang menyayanginya, ada Oma dan pak Anggara." Ucapannya terjeda sejenak, punggung tangannya terangkat menepis bulir kristal yang akan terjatuh.


"Hidup aku nggak seberuntung Kalista, dan nggak seberuntung Gina. Gina orang tuanya bercerai, tetapi mamanya sangat perhatian, terus ada Andy juga di hidupnya." Suaranya hampir tidak terdengar karena sekarang Tiara menangis terisak.


Oma langsung mengusap punggung Tiara, berusaha menenangkan kegelisahan hatinya.


Gina langsung merangkul Tiara. "Bukannya hidup kamu nggak beruntung ra, sebanarnya kamu juga sangat beruntung, hanya saja kamu tidak menyadarinya. Justru aku selalu iri melihat kamu mempunyai sahabat seperti Kalista, persahabatan kalian real banget, bukan sahabat lagi kalian malah terlihat seperti saudara kembar. Kamu nggak sendirian ra, kamu punya Kalista, ada aku juga, ada Evan juga loh." Ucap Gina, tangannya masih setia merangkul Tiara.


"Oma juga dulu kesepian! Ketika Anggara berusia 20 tahun, suami Oma meninggal dunia. Saat itu Oma merasa dunia Oma telah hancur, Oma yang tidak biasa berkegiatan dan selalu mengandalkan uang dari suami Oma, tiba-tiba di hadapkan pada dunia yang kejam. Anggara sedang kuliah, dan membutuhkan biaya banyak. Mau tak mau Oma harus bekerja untuk menyambung biaya hidup, dan untuk biaya perkuliahan Anggara. Saat itu Oma cukup kesulitan, kesepian juga iya. Oma merasa terpuruk dan jatuh ke lubang yang sangat dalam, tidak mudah menjalani hidup dalam dulu, apalagi Anggara juga kuliahnya di luar kota. Alhamdulilah Anggara lulus kuliah, terus bekerja, tidak lama setelah itu menikah dan terlahirlah Arka. Pada saat itu Oma merasa sangat bahagia, namun ternyata semesta masih belum memberikan Oma kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika Arka berusia 10 tahun, Anggara bercerai dengan istrinya. Tidak hanya itu, tanpa sepengetahuan Oma ternyata Arka juga sering kali kena amukan mamanya, bahkan sampai main fisik. Dulu ketika suami Oma meninggal, semesta memaksa Oma untuk bekerja keras demi Anggara. Kini Anggara bercerai, semesta kembali memaksa Oma untuk mengurus Arka, memberikan semua kebahagiaan masa kecilnya yang tidkw tersalurkan oleh mamanya__" Oma menjeda kalimatnya, tangannya meraih satu gelas air mineral, kemudian meneguknya. Oma merasa tenggorokannya sangat kering karena berbicara panjang lebar.

__ADS_1


"Perlu bertahun-tahun untuk bangkit dari keterpurukan. Anggara bekerja dengan giat setiap hari, banting tulang tanpa rasa lelah demi Arka. Hingga pada akhirnya bisa membangun sebuah perusaan atas namanya sendiri. Apakah sudah bahagia ketika sampai di tahap ini? Belum! Anggara masih terus berusaha mencari investor untuk menanam saham di perusahaannya, dan itu tidak mudah. Karena perusaan ini baru berdiri, dan Anggara juga belum mempunyai pengalaman yang dominan. Tapi, lambat laun seirig berjalannya waktu, perusaan Anggara pun berkembang pesat. Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Anggara melakukan semua ini demi Oma dan Arka. Mungkin orang lain berasumsi bahwa 'Enak ya Arka terlahir dari orang kaya. Enak ya Arka jadi pewaris tunggal perusaan Anggara. Enak ya Arka tidak perlu banting tulang untuk menafkahi istrinya.' tidak seperti itu ya! Perusaan Anggara memang di wariskan untuk Arka, tetapi Arka juga tidak semena-mena. Pusat perbelanjaan yang kalian kenal milik Anggara itu sebenarnya Arka yang membangun, memang benar pakai uang Anggara, tetapi semuanya Arka yang urus. Sampai sesukses ini pun itu semua berkat Arka. Arka tidak semena-mena kok, bahkan Arka juga membawa perusaan Anggara ke puncak kejayaan. Arka tipe orang pekerja keras, bahkan diam-diam dia juga sedang merancang sebuah bisnis untuk anaknya kelak." Ucap Oma panjang lebar.


"Sudah sampai sejauh ini Oma baru beruntung dari segi materi. Keberuntungan yang berhubungan dengan kebahagiaan belum Oma rasakan. Diam-diam Oma merasa cemas, gelisah, sedih dan khawatir. Cucu Oma satu-satunya itu selaku memang wajah cuek, sikap dingin dan datar. Sama sekali tidak pernah berbicara soal wanita, bahkan dia sampai bilang tidak mau menikah. Kehidupan ini bakal berujung sebuah kematian, ketika ajal datang menjemput kita tidak bisa menolak. Oma berpikir, jika nanti Oma dan Anggara telah tiada, Arka akan hidup bersama siapa? Apakah seorang diri? Oma tidak mau hidup Arka kesepian, setidaknya jika nanti Oma dan Anggara sudah di jemput ajal, ada seseorang yang menemani hidup Arka, baik dalam suka maupun duka. Sang Pencipta itu maha baik, dia kirimkan Kalista untuk Arka. Lambat laun sikap Arka berubah menjadi pribadi yang hangat dan lebih baik lagi. Kalista itu bukan hanya membawa kebahagiaan untuk Arka, tetapi untuk Oma dan Anggara juga. Kami semua baru merasakan keberuntungan itu ketika Kalista datang di kehidupan kami." Oma tersenyum, matanya terlihat berkaca-kaca ketika menceritakan itu semua, berusaha mengingat semua kenangan masa lalu yang lebih banyak pahitnya ketimbang manis.


"Nak, hidup kamu bukannya belum beruntung tetapi keberuntungan yang kamu inginkan itu belum datang. Kamu merasa tidak beruntung sedang? Kamu salah sayang, kamu itu beruntung karena memiliki Kalista di samping kamu. Walaupun kalsuta sudah menikah, dia tetap menjadi sahabat kamu. Bahkan dia juga menceritakan segala hal tentang kamu, dan kami harus tahu kamu adalah salah satu bintang penerang milik Kalista ketika dia merasa kesepian. Kamu nggak sendirian sayang, dan bukan hanya Kalista yang sayang sama kamu. Oma sayang sama kamu seperti Oma sayang pada Kalista. Sudah berapa kali Oma bilang, anggap saja Oma ini adalah orang tua kalian. Jangan sedih, masih ada banyak orang yang menyayangi kamu, suatu saat nanti kedua orang tua kamu bakal menyadari kesalahannya kok, sekalipun kamu merasa kedua orang tua kamu tidak peduli, tapi sebenarnya jauh di lubuk hatinya mereka sangat merindukan anak gadisnya." Oma memeluk Tiara dengan sangat erat, memberikan energi pada Tiara agar tidak merasa sepi.


Disaat Gina dan Oma sedang menenangkan Tiara. Evan malah hanyut dalam pikirannya, pikirannya itu melayang begitu saja. Evan merasa sudah sejauh ini tetapi Tiara masih belum menganggap keberadaannya. Dalam hati kecilnya Evan merasa kecewa.


"Eh beg*, do'i lu lagi sedih tuh! Malah ngelamun, support lah." Andy menyikut lengan Evan dengan kasar.


Evan malah menatap Tiara acuh tak acuh. Rasa kecewa di hatinya membuatnya enggan untuk membuka mulut.


"Aku merasa kesepian, akhir-akhir ini Kalista jarang menghubungi aku. Aku tahu, Kalista sudah menikah, dan aku tidak boleh egois, dunia Kalista tidak hanya sebuah sahabat, Kalista juga mempunyai peranan sebagai seorang istri. Benar kata kalian, aku tuh sebenarnya beruntung tetapi aku nggak menyadari hal itu. Masih ada kalian yang sayang banget sama aku, dan masih ada kak Evan yang selalu ada buat aku. Terimakasih banyak ya." Ucap Tiara sembari mengusap laju air matanya, tangannya kini malah meraih jari jemari Evan, lalu menggenggamnya erat.


Tiara hampir saja melupakan Evan, untung saja dirinya langsung menyadari. Evan kan orangnya baperan, nanti yang ada dia malah semakin meragukan hati Tiara.


"Terimakasih sudah selalu ada." Tiara langsung memeluk lengan Evan, dan menyenderkan kepalanya di bahu Evan.


Evan langsung memeluk Tiara, beberapa menit yang lalu Evan merasa kecewa. Tapi kekecewaan itu telah lenyap, dia malah semakin menyayangi Tiara. Memang benar Tiara itu kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya, maka dari itu Evan selalu memperhatikannya dalam segala hal.


"Jangan pernah merasa kesepian ra, lu buka mata deh dunia ramai. Lu pergi ke taman hiburan aja kalau weekend, disana ramai parah, bahkan malah lebih sesak." Cibir Andy dengan senyum menyeringai.


"Bukan kaya gitu bang! Momen kaya gini malah di buat ajang bercandaan." Gina menoyor pelan kepala Andy.


Tiba-tiba Arka keluar dari kamarnya. Langkah kakinya berjalan menuju dapur, mimik wajahnya sangat serius. Tidak lama kemudian dia kembali lagi membawa baki, ada mangkuk dan satu segelas susu di Bali itu. Mereka semua langsung mengira pasti Kalista sudah bangun.


"Makan dulu ya." Ujar Arka sambil menyuapi Kalista. Arka takut Kalista terlalu larut dalam kesedihan.


Kalista mengunyah bubur ayam itu, kesedihan apapun yang Kalista rasakan sama sekali tidak boleh menggangu tumbuh kembang bayi di perutnya. Kalista tidak boleh egois, walaupun dirinya merasa tidak nafsu makannya, tetapi bayi di rahimnya itu memerlukan asupan nutrisi dan makanan.


Arka tidak banyak omong, dia terus menyuapi Kalista sambil tersenyum. Tidak lama kemudian para sahabatnya itu masuk ke kamarnya.


"Kenapa nangis?" Manik mata Kalista menatap Tiara intens. Walaupun hatinya sedang merasa sedih, tetapi Kalista masih sempat-sempatnya memperhatikan Tiara.


"Takut terjadi apa-apa sama sahabat gue, jangan banyak pikiran! Lu harus kuat demi suami dan bayi di perut lu." Tiara beringsut maju dan memeluk Kalista dengan erat. Tiara juga merebut mangkuk bubur di tangan Arka, mengambil alih peran yang sedang Arka lakukan yaitu menyuapi Kalista.


"Sudah enakan?" Tanya Oma sambil mengusap puncak kepala Kalista.


Kalista menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, Kalista tidak ingin membuat semua orang mengkhawatirkannya. Kalista juga bertanya mengapa semuanya pada datang menjenguknya, padahal Kalista merasa dirinya tidak apa-apa. Tapi, Kalista juga merasa bahagia karena di kelilingi orang yang menyayanginya.


Salah satu hal yang kini membuatnya bahagia adalah Arka, menikah dengan Arka merupakan pilihan yang tepat. Arka merupakan salah satu sosok segalanya untuk Kalista, jika tidak menikah dengan Arka mungkin sampai saat ini pelaku pembunuhan orang tuanya tidak akan ketemu.


KALISTA (POV)


Manik mata ini sebenarnya masih enggan untuk terbuka. Namun dari arah kamar mandi terdengar suara guyuran air, gue kira ini sudah siang, ternyata masih pagi sekali.

__ADS_1


Tidak biasanya suamiku mandi di pagi buta. Bahkan matahari saja belum keluar dari tempat persembunyiannya. Gue segera bangun melawan rasa kantuk ini, dan segera menyiapkan stelan kerja suami gue.


"kok sudah bangun?" Tanya suami gue yang baru saja keluar dari kamar mandi.


What? Nanya gue? Kebalik nggak sih? Seharusnya gue kan yang nanya? Kok malah dia yang nanya?


Feeling gue mengatakan pasti ada sesuatu hal yang mencurigakan, sorry gue orangnya insecure. Ketika di tanya mau kemana? Jawabnya ada meeting mendadak, di kantor ada sedikit masalah. It's oke gue tahu suami gue sedang berbohong! Tapi, gue nggak bisa marah, karena gue belum tahu maksud kebohongannya ini tuh apa?


Gue tanya mau sarapan? Katanya mau! Tapi kalau gue masih ngantuk, tidur lagi aja! Terus dia malah pamit berangkat kerja. Lah sarapannya? Katanya tadi mau sarapan?


Menurut gue suami gue hari ini sedikit aneh, dan sedang menyembunyikan sesuatu hal yang besar. Pernikahan sudah hampir menghasilkan produksi dua bocah, masih mau bohong sama gue? Mana bisa, gue udah paham banget sama gerak-geriknya suami gue. Oke, gue masih sabar menunggu hasil dari kebohongannya. Gue nggak banyak tanya, nggak protes juga, bukannya gue nggak peduli, tapi gue lebih memilih menunggu hasilnya saja. Gue paham, apa yang suami gue kerjakan sepenuhnya buat gue, jadi bisa dikatakan jika hari ini suami gue berbohong mungkin saja sedang menyembunyikan atau merencanakan sesuatu buat gue.


Awas aja kalau kalian bilang gue kepedean! Jadi begini ya guys, gue kasih tahu nih! Suami gue itu katanya terbuka dan jujur mengenai apapun itu. Dari mulai hal penting sampai hal nggak penting sekalipun selalu bicarakan dengan gue. Jadi, kalau ada sesuatu yang di sembunyikan olehnya bisa jadi itu merupakan suatu kejutan buat gue.


Tapi nggak baik juga terus menerus berasumsi yang tidak-tidak mengenai suami gue. Gue memutuskan untuk menyibukkan diri dengan packing keperluan bayi yang nanti harus di bawa ketika lahiran. Bukan cuma packing aja sih, gue juga malah menata kembali semua barang-barang di kamar gue. Berharap menemukan suasana yang baru dan menyenangkan.


Ternyata bukan cuma gue yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada suami gue, Oma dan ayah juga menyadarinya. Oke, berarti ini bukan kejutan buat gue, melainkan kejutan untuk kita bertiga.


Setalah beberapa jam menyibukkan diri dengan kegiatan yang berguna, sampai jalan-jalan di teras depan. Pasukan cacing di perut sudah demo meminta jatah makannya. Setelah selesai makan, kok gue baru ngeh ya, ponsel gue nggak ada? Sumpah demi apapun ini aneh, gue biasanya nggak pernah lupa nyimpan ponsel.


And than, bukan Arka dong yang aneh, Oma dan ayah gue swdikit aneh dan berbeda hari ini. Feeling gue mengatakan Oma dan ayah seperti menjauhkan gue dari televisi. Gue kembali insecure, kayanya mereka berdua juga tersangka di balik hilangnya ponsel gue. Tapi tapi tapi, bukan pelayan semuanya juga seperti sedang memantau dan mengawasi gerak-gerim gue. Ya ampun gue salah apa sih? Atau ada apa gitu sama gue? Heran gue sumpah!


Kebiasaan gue setalah makan ada berjalan-jalan sebentar, sambil menunggu proses pencernaan di perut gue mengenai makanan yang barusan baru masuk. Setelahnya gue terbiasa meminum jus lalu duduk santai sambil menonton televisi.


Ketika televisi menyala, hampir di semua channel sedang menanyakan berita yang sama. Manik mata ini membulat dengan sempurna. Tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa ayah dan bunda yang sudah berlalu 5 tahun itu sedang di tayangkan dalam saluran berita.


Ingatan ini kembali melayang pada tragedi itu, dada ini terasa sesak dan sangat sakit hati. Potongan memori ketika mobil itu terbakar, ketika melihat tubuh ayah terbakar setengahnya, dan mama yang penuh luka sehingga di larikan ke rumah sakit.


5 tahun sudah berlalu, tapi melihat rekaman cctv itu hari ini kembali mencelos, sesak, sakit hati, bagaikan ada ribuan belati yang menusuk hati ini. Rekaman cctv yang tidak pernah terungkap itu pun akhirnya tersebar luar di semua berita dan media Indonesia.


Sudah tidak kuat untuk menonton berita itu, hingga pada akhirnya pandangan ini semakin buram dan buram, lalu akhirnya pandangannya ini terasa kabur dan gelap.


Hanya ada satu kata TERIMAKASIH untuk suamiku tercinta, ini kan yang kamu maksud kejutan besar? Dan kamu berhasil sayang.


----------------------------------🌻🌻


Maaf kalau banyak typo, karena nulisnya ngebut. Tapi nanti di edit lagi kokπŸ™


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❀ tambahkan favorit πŸ™πŸ€—


Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanπŸ™πŸ€—


Find Me On Instagram : @halloimas13❀

__ADS_1


__ADS_2