
Arka mengerjapkan matanya karena diakui dari cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Arka bangun dan merasakan sakit di kepalanya.
Tangannya memukul-mukul pelan kepalanya, kemudian dia melirik Kalista yang masih rebahan di sampingnya. Manik mata Arka menangkap luka lebam di pipi Kalista, sudut bibirnya sepertinya terluka.
"Sudah bangun sayang? Ada yang sakit?" Oma masuk ke kamar, menghampiri Kalista lalu mengecup keningnya.
Oma menyuapi Kalista sarapan, menu sarapan kali ini bubur, sengaja di buat khusus oleh Oma untuk Kalista. Menyuapi dengan telaten, dan sama sekali tidak menghiraukan Arka.
Arka menatap Oma dan Kalista dengan tatapan penuh tanya. Ada apa dengan Kalista? Kenapa pipinya lebam? Ketika pikiran Arka bertanya-tanya, kepalanya malah semakin terasa pusing dan nyut-nyutan.
Pak Anggara masuk, wajahnya menatap Arka murka. Berbeda sekali dengan tatalannya untuk Kalista, sangat lembut dan hangat. "Cepat sembuh ya nak, biarkan orang jahat kesakitan." Pak Anggara mengusap pelan rambut Kalista. Duduk di sisi Oma sambil memperhatikan kaki Kalista.
"Aku mau ke kamar mandi." Ucap Kalista.
Pak Anggara membawakan kursi roda, memindahkan Kalista dari kasur ke kursi roda. Kemudian Oma mendorongnya masuk ke kamar mandi.
Arka melihat kaki Kalista, lagi-lagi Arka kaget. Apa yang terjadi dengan istrinya? Arka kini melayangkan tatapan penuh tanya pada ayahnya, namun ayahnya malah pergi meninggalkannya.
"Pelayan!" Teriak Arka.
Satu pun tidak ada pelayan yang datang menghampirinya, Arka marah-marah. Kemudian muncul salah satu pelayan membawakan susu untuk Kalista.
"Bawakan saya sarapan, dan susu." Ujar Arka.
"Maaf tuan, nyonya besar dan tuan besar melarang seluruh pelayan melayani tuan, jika tuan menginginkan apapun, silahkan tuan ambil sendiri." Pelayan itu pun berlalu pergi dari kamar.
"Apa-apaan sih?" Gumam Arka dalam hatinya, pikirannya terus saja bertanya-tanya, ada apa dengan Kalista? Ada apa dengan ayah dan Oma?
"Oma, kenapa pelayan tidak mau melayani perintah Arka? Oma, kepala Arka sangat sakit dan terasa berat." Arka mengiba, karena saat ini memang kepalanya sangat sakit.
Oma dan pak Anggara sepertinya kompakan untuk mengabaikan Arka hari ini sampai Arka menyadari kesalahannya.
Kalista memanggil pelayan, menyuruhnya membawakan bubu dan segelas susu.
Tidak berselang lama pelayan datang membawakan apa yang Kalista suruh. Kalista memberikan bubur dan susu itu pada Arka. Arka menerimanya, manik matanya masih menatap menelisik pipi Kalista. Tanpa di sadari kini matanya berkaca-kaca.
Pak Anggara yang menyaksikan semua itu, sangat-sangat di buat terharu. Setelah di perlakukan kejam oleh Arka tadi malam, bahkan pagi ini saja Kalista masih berbaik hati memberikan bubur dan segelas susu pada Arka. Wanita lain mana mungkin seperti ini? Pak Anggara meneteskan air matanya, dia takut akan kehilangan menantunya. Takut kalau Arka beneran selingkuh, dan Kalista meminta pisah atau cerai.
Selama makan pun, Arka berusaha mengingat kejadian tadi malam. Tali ingat itu begitu susah, kesadarannya hanya sebatas sampai di club malam.
"Enak sarapan bubur dan segelas susu yang di berikan oleh wanita yang beberapa hari ini kamu abaikan?" Pak Anggara bertanya dengan serius, wajahnya masih menunjukan wajah juteknya.
Arka hanya mengangguk saja! Pak Anggara sangat jengkel, sampai hari ini pun Arka tidak berusaha meminta maaf kepada Kalista. Pak Anggara dan Oma mengetahuinya, mereka berdua memaksa Kalista untuk menceritakan semuanya.
"Ada apa sama kalian selama tiga hari kemarin?" Pak Anggara sengaja bertanya menggunakan kata 'kalian' insting pak Anggara mengatakan bahwa Arka akan menjawab nyolot dan masih belum menyadari kesalahannya.
"Nggak tahu tuh Kalista! Tiba-tiba cuek, nggak nyapa, nggak melayani dan nggak menyiapkan berbagai macam kebutuhan Arka." Arka menjawab sangat tegas, sesuai insting pak Anggara.
"Arka?" Oma meneriakinya, Oma juga sama seperti pak Anggara. Merasa kesal, sangat kesal dan jengkel.
"Ayah nanya, kamu mau mingkem terus? Jawab lah!" Arka menyikut lengan kalista.
Kalista menatap Arka, matanya memerah dan berkaca-kaca. "Kamu sama sekali tidak menyadari kesalahan yang telah kamu lakukan?" Air mata itu sudah terjatuh membasahi pipi Kalista.
"Emang aku salah apa?"
Satu kalimat yang keluar dari mulut Arka itu mampu meremas-remas hati Kalista, bahkan remasannya itu bisa meremukkan dan menghancurkannya.
__ADS_1
"Plaaaaaak!" Pak Anggara mendaratkan tangannya di pipi Arka. "Kamu beg*, bodoh, atau memang nggak punya otak?" Pak Anggara naik pitam, rasanya ingin sekali meninju Arka saat ini juga.
"Ayah ini apa-apaan, sejak kapan ayah main tangan sama anak ayah?" Teriak Arka.
"Sejak kapan anak ayah memukul pipi istrinya, bahkan melukai kaki istrinya? Ucap pak Anggara.
Arka melotot, kemudian menatap Kalista yang sedang menangis di sampingnya. "Nggak mungkin, Arka sayang banget sama Kalista! Mana mungkin Arka melakukan hal semengerikan itu?" Arka menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian mengusap pipi Kalista.
"Pelayan bawa laptop kesini, dan perlihatkan rekaman cctv tadi malam." Oma menyuruh pelayan.
Pelayan datang memberikan laptop pada Arka, Arka sangat fokus menonton rekaman cctv itu, bahkan dia sampai menangis. Bagaimana mungkin dirinya tadi malam bisa berkelakuan seperti monster. Menampar kalsita, memencet pipinya, bahkan menendang guci yang pecahannya sampai menusuk di kaki Kalista.
Arka menangis sesenggukan, ketika dia akan memeluk Kalista. Oma segera menariknya. "Setelah kamu siksa sekarang kamu mau memeluknya? Punya otak? Mikir!" Oma mendelikkan matanya jengah.
"Arka nggak sadar yah, kondisi Arka lagi mabuk." Ucapnya sambil tertunduk.
"Mabuk? Hebat banget pergi ke club malam, clubbing? Joget-joget sama wanita seksi? Sadar nggak istri di rumah lagi hamil?"
"Ayah kira kamu sudah dewasa, ternyata masih bocah, bahkan lebih terlihat kaya berandalan! Setelah apa yang semalam kamu lakukan, kamu pikir Kalista akan diam saja? Dia bisa lapor polisi dan kamu bakalan mendekam di penjara, lebih parahnya dia akan trauma dan takut sama kamu sehingga meminta kamu menceraikannya. Kamu pilih yang mana A R K A ?"
"Aku nggak mau cerai! Aku nggak mau di penjara! Kalau aku di penjara nanti siapa yang akan menemani istriku lahiran? Aku nggak mau anakku lahir nggak punya ayah, seperti aku yang tumbuh tanpa seorang ibu. Aku mau anakku memiliki keluarga yang lengkap." Ucap Arka, kepalanya masih tertunduk soalnya takut melihat wajah murka ayahnya.
"Sekarang baru ingat keluarga?" Oma mencibir, kata-kata keluarga yang di ucapkan Arka begitu sangat menggelikan terdengar di telinga Oma.
"Sampai sekarang juga kamu masih belum tahu dimana letak kesalahan kamu? Istri kamu cuek pasti ada sebabnya? Kalau kamu memang sama sekali nggak tahu salah kamu apa, kan kamu bisa menegurnya?" Pak Anggara benar-benar bingung harus kaya gimana lagi untuk menyadarkan Arka akan kesalahannya.
"Arka nggak tahu kesalahan Arka di mana? Arka juga nggak negur, karena mengira semua ini kesalahan Kalista." Ucapnya lemah.
"Boleh jelaskan salah aku apa? Aku mohon." Air bening itu lolos dari matanya.
Kalista juga menangis, sakit sekali rasanya suaminya itu tidak menyadari kesalahannya. Bahkan suaminya itu harus bertanya terlebih dahulu.
"Maaf, waktu itu akan lagi kecapean, tugas kantor menumpuk, dan ada sedikit masalah juga. Bukannya aku melarang kamu datang ke kantor, hanya saja mengingat kondisi kamu sedang berbadan dua aku takut dan sangat mengkhawatirkannnya kondisi kamu dan janin anak kita."
"Tapi aku menyadarinya, cara aku salah! Nggak seharusnya aku membentak kamu di hadapan Andy dan Gina. Seharusnya aku berbicara baik-baik dan menjelaskan semuanya. Maaf telah membentak dan membuatmu malu di kantor." Suara Arka bergetar, karena berbicara sambil menangis itu cukup menguras emosi.
"Terus ketika aku pulang, kamu malah sudah tidur. Aku kira kepulangan aku di rumah akan di sambut, ternyata nggak. Dari situ aku mulai jengkel, kenapa sih udah tahu aku capek kamu malah cuekin aku."
Oma dan pak Anggara benar-benar hanya menjadi pendengar setia. Mendengarkan Arka dan Kalista yang saling terbuka.
"Aku tidur karena kecapean, karena aku pulang dari kantor jam setengah enam sore. Dokumen dan berkas yang menumpuk di meja kerja kamu itu semua aku yang mengerjakannya. Karena aku tahu hari itu suamiku lagi banyak kerjaan. Lagi pula malam itu kamu pulang malam, padahal lemburnya hanya sampai magrib."
Arka membelalakan matanya, Arka kira yang mengerjakan semua dokumen-dokumen dan berkas di mejanya adalah Gina, tidak disangka ternyata di selesaikan oleh Kalista.
"Kenapa nggak langsung pulang aja, aku bahkan sampai mengira itu dikerjakan oleh Gina."
"Sudah kubilang, suamiku kerjaannya banyak dan aku berusaha membantunya."
"Terimakasih." Arka maju dan akan mencium kening Kalista, tapi Kalista beringsut mundur.
"Malam kedua kamu pergi kemana? Bersama siapa?" Tanya Kalista, hal yang sangat di dengar dan di ketahui kebenarannya adalah di bagian ini.
Oma dan pak Anggara pun telah bersiap memasang telinganya dengan baik-baik. Jika benar Arka selingkuh, pak Anggara tidak akan segan-segan membunuhnya saat ini juga.
"Aku pergi ke kafe XX, menyelesaikan tugas kantor sambil makan sekaligus cari suasana yang nyaman." Ucap Arka dengan sejujurnya.
"Bersama siapa?"
__ADS_1
"Sendirian!"
"Kamu bohong!" Kalista menangis dan menjerit-jerit, sampai di titik ini suaminya itu masih berbohong soal parfum.
"Demi tuhan! Aku sendirian!" Jawab arak tegas.
"Arka, jangan bohong! Jawab jujur!" Pak Anggara akan menampar Arka, tetapi tangannya di tahan oleh Kalista.
"Ayah Arka nggak bohong!" Jawab Arka bingung, karena semuanya menyangka dirinya berbohong.
"Lalu parfum wanita mana yang menempel di bajumu? Sepertinya kalian berpelukan dengan erat, sehingga wanginya tercium sangat pekat."
"Wanita? Aku nggak selingkuh, dan aku juga bertemu dengan wanita manapun."
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Arka mengingat sesuatu. "Oh itu waktu Arka di kafe ada seorang wanita seksi menghampiri, meminta bergabung duduk. Arka tidak mengiyakan tapi wanita itu duduk begitu saja dengan sangat tidak sopan. Kami terlibat percakapan, Arka mengaku sebagai orang baisa dan pengangguran, wanita itu bahkan sampai memaki dan memandang rendah Arka. Setelah mengetahui Arka ini seorang CEO dia malah menawarkan dirinya untuk Arka, bahkan dengan lancangnya sampai akan melepas cincin pernikahan yang tersemat di jari Arka. Ketika Arka akan pergi, wanita itu sengaja menabrakkan tubuhnya pada tubuh Arka, berusaha mencari perhatian Arka. Mungkin ketika di menambrakkan dirinya itu lah aroma parfumnya menempel di baju Arka." Arka menjelaskan dengan sejujurnya, dan sangat detail.
"Sayang, kalau kamu masih nggak percaya, aku akan meminta rekaman cctv nya." Arka akan bangkit dari duduk nya, Kalista segera menariknya untuk tetap berada di kasur.
"Aku percaya." Ucap Kalista sambil menangis.
Tumpah lah sudah air mata Arka, istrinya bisa percaya begitu saja. Itu berarti istrinya memang memberikannya kepercayaan, sedangkan dirinya malah tidak peka pada bentakannya sewaktu di kantor.
Rasa haru ini sangat terasa, air mata berjatuhan begitu saja membasahi pipi Oma dan pak Anggara. Keduanya sangat bersyukur memiliki menantu seperti Kalsita.
"Maaf, aku sudah membentakmu." Arka memeluk kalista, tangisnya pecah di bahu Kalista.
"Maaf juga untuk kejadian tadi malam, aku nggak sadar dan berada di bawah pengaruh alkohol. Tapi kamu balas aku, sekarang!" Arka meraih gelas susu bekasnya tadi, mengepalkannya di tangan Kalista, menyuruhnya untuk memukul kakinya menggunakan gelas itu.
Kalista menjauhkan gelas itu. "Sudah aku nggak apa-apa, lain kali jangan kaya gitu lagi, jangan pergi ke club malam, dan jangan membentak aku. Dan kamu juga harus peka terhadap kesalahan yang kamu lakukan." Kalista memeluk Arka sangat erat, pelukan kehangatan yang telah menghilang selama beberapa hari ini, pelukan yang sangat di rindukannya.
"Terimakasih sudah memaafkan aku." Arka memeluk erat, bibirnya berkali-kali mengecup kening, pipi dan puncak kepala Kalista.
"Maaf." Kata itu puluhan kali bahkan sampai ratusan kayanya di ucapkan Arka dalam kurun waktu lima belas menit.
"Mau cerai apa lapor polisi? Kira-kira menurut bumil yang mana?" Tanya pak Anggara.
"Nggak mau dua-duanya! Ayah jangan sampai kejadian ini tersebar ke luar, dan jangan sampai Arka di penjara. Kalista sangat menyayangi suamiku ini ayah." Kalista mencium pipi Arka.
"Oma nggak mau melihat kamu berkelakuan seperti itu lagi, kamu lihat istri kamu. Dia begitu ikhlas memaafkan semua kesalahan kamu, padahal kamu juga melakukan penganiayaan padanya. Wanita hebat ini cuma ada satu di dunia, dikirim tuhan khusu untuk menemani kamu. Semoga kalian berdua saling mencintai sampai maut memisahkan, dijauhkan dari segala macam badai dan rintangan yang mendera." Oma memeluk Kalista dan Arka.
"Akur-akur ya! Sekarang kalian berdua silahkan istirahat, karena kalian berdua sedang sakit." Pak Anggara mengusak puncak kepala Arka dan kalsita, lalu meninggalkannya.
Arka menatap Kalista, manik matanya terus saja tertuju pada pipi lebam Kalista. Air matanya berjatuhan tatkala ia mengingat kejadian tadi malam. Bahkan Arka sampai menangis pilu melihat kondisi kaki Kalista yang lebih dengan perban. Bahkan Kalista sampai tidak bisa berjalan.
"Maaf." Arka masih mengucapkan kata maaf dengan lelehan air mata yang terus menerus keluar, bahkan sampai membasahi sprei di kasur.
"Udah aku nggak apa-apa yang terpenting kamu sudah menyadari semuanya dan meminta maaf." Kalista menyeka air mata yang terus keluar dari bola mata Arka.
"Kamu berhutang maaf sama Andy!" Ucap Kalista.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1