
"Duduk dulu." Arka menyuruh Kalista duduk.
Khusus untuk Kalista kursinya sangat berbeda dengan kursi-kursi yang lain. Kursinya sih sama, cuma bedanya kursi Kalista di hias secantik mungkin.
Hari ini Kalista benar-benar menjadi tuan putri yang sesungguhnya. Perlakuan Arka, dan para tamu yang lain benar-benar membuatnya merasa bahagia sekaligus terharu.
Di tangannya sekarang ada pisau kue yang ia sodorkan pada Kalista. Tangan Kalista terulur menerimanya, lalu memotong kue itu.
Satu potongan yang sangat besar Kalista berikan untuk Arka, kemudian ayah, Oma dan yang lainnya.
"Kamu juga makan dong sayang! Ini kan kue hasil buatan aku sendiri." Ujar Arka.
Satu potongan kue, Arka masukkan kedalam mulut Kalista. Kalista memejamkan matanya sekilas, mengunyah blackforest tersebut dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan. Bahkan mungkin ekspresi wajahnya terlihat sangat flat.
"Nggak seenak bikinan aku." Ucap Kalista santai sedikit nyeleneh, tetapi dengan pipi yang dihiasi senyum mengembang. Kalista ini sangat jujur dengan rasa kuenya.
"Tapi ini enak kok, soalnya bikinnya pakai cinta." Lanjutnya lagi, kemudian Kalista kembali memeluk Arka, dan mencium pipi Arka berkali-kali.
"Enak apaan sih nak? Ini kuenya bantet, ya walaupun sedikit." Cibir Oma sambil terkekeh.
"Tapi, sesungguhnya ini adalah kue bikinan aku yang paling sempurna. Ya walaupun menurut istriku ini masih banyak kekurangan. Maaf hehe." Arka menatap Kalista.
"Nggak apa-apa, kamu sudah berusaha dengan sangat keras sayang." Tangan Kalista mengusap pipi Arka lembut.
"Kalau mau bercinta silahkan di kamar sana! Perut gue udah laper banget nih, cacingnya mungkin lagi demo minta jatah makan." Cibir Riko dengan mulut mencebik, tangannya sibuk mengusap perutnya yang terasa sangat keroncongan.
Arka menatap Riko dengan kedua alis terangkat. "Sialan banget lu! Tahu gitu gue nggak ngundang lu deh! Terlalu merusak moment romantis gue." Ucap Arka dengan wajah cemberut.
"Kalau mau bikin momen, mendingan di kamar aja, tapi nanti kalau kita udah pulang. Lagian bapak CEO ini kenapa jadi bucin banget sih?" Ledek Evan dengan tersenyum menyeringai.
"Elu tuh nggak punya istri, makanya nggak ngerasain gimana enaknya punya istri, di manjain, di masakin, stelan kerja di siapin. Apa-apa istri yang nyiapin, maknyus deh pokonya." Jawab Arka sambil memamerkan enaknya mempunyai seorang istri.
"Bro! Itu istri lu apa pembantu?" Ledek Andy dengan menaik turunkan sebelah alisnya.
"Tahu nih! Uangnya banyak! Tapi peran istri kaya pembantu." Evan kembali menimpali ucapan Andy.
"Uang banyak! Pelayan di rumah juga banyak kok. Cuma, aku lebih senang aja gitu, nyiapin pakaian kerja, masak, tapi masaknya jarang sih kalau lagi hamil gini, soalnya nggak kuat berdiri lama-lama. Aku bahagia menikmati peran sebagai seorang istri, gimana ya cara menjelaskan atau mendeskripsikannya? Pokonya gitu deh! Suamiku ini orang punya, uangnya banyak, aku aja di kasih kartu tanpa limit, tapi aku nggak ambil. Aku mikir gitu, buat apa menggunakan kartu tanpa limit? Toh selama ini kalau ngemall, shopping, ke supermarket, beli make up ini itu dan kemana-mana pun selalu bareng sama suami, yang bayarin juga suami. Terus kartu tanpa limit itu buat apa? Palingan cuma jadi pajangan di dompet aku doang." Ujar Kalista menjelaskan panjang lebar.
"Lagipula, aku maunya di manja dengan sikap dan perlakuan. Bukan di manja menggunakan uang, toh nanti juga ketika anakku lahir aku tidak akan memanjakannya pakai uang, aku akan mengajarkan anak-anakku bagaimana caranya meraih sesuatu dengan kerja keras. Kalau di suapi uang terus, yang ada nanti kelakuannya jadi semena-mena, dan mempunyai mental tempe. Karena apa? Nanti anak-anak mikirnya, orang tua gue kan banyak uang, buat apa sih gue kerja keras, toh apa-apa juga bisa di sumpel pakai uang. Hal kaya gitu tuh nggak baik, dan malah akan merusak pemikirannya." Lanjutnya lagi.
Arka yang berada di sampingnya, menatap Kalista dengan tatapan kagum dan penuh cinta. Benar-benar tidak salah dalam memilih istri, Kalista begitu cerdas dan luar biasa. Anak yang di perutnya belum terlahir saja, Kalista sudah memiliki planning dalam mengurus anak.
"Yang terpenting dari hubungan suami istri adalah hak dan kewajiban. Kewajiban aku sebagi istri adalah melayani suami dengan sebaik-baiknya, dan memenuhi apa yang telah menjadi haknya." Kalimat terakhir dari ucapan Kalista membuat Arka terpancing untuk mengatakan sesuatu hal yang ambigu.
"Nah benar banget tuh apa yang di katakan istri gue. Istri gue ini benar-benar wanita terbaik, dia melayani gue dengan sangat baik, dan dia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Dan tentunya, gue selalu mendapat hak yang seharusnya gue dapatkan." Sudut garis bibir Arka terangkat sempurna menjadi sebuah lengkungan.
"Hak seorang suami apa sih?" Tanya Evan dengan tersenyum menyeringai, pinggang Evan bahkan menjadi sasaran empuk cubitan tangan Tiara.
"Awwwwwwww, sakit dong. Mbak tangannya nakal banget." Evan tersenyum menyeringai menatap Tiara.
"Hak suami apaan ra? Kayanya lu tahu deh." Kini Kalista malah menggoda Tiara.
"Eh... Apaan? Mana gue tahu! Kan elu yang udah nikah." Ucap Tiara sewot, salah tingkah dan wajahnya berubah merah.
"Apaan ra?" Evan juga malah ikut-ikutan memojokkan Tiara.
"Nggak tahu!" Jawab Tiara gelagapan dengan suara yang terdengar nyaring.
Semua orang yang berada di ruangan itu pun langsung terkekeh mentertawakan ekspresi gugup dari wajah Tiara.
"Jadi mau debat terus apa gimana nih? Nanti makanannya keburu basi gimana hayo? Nanti juga malah semakin malam, dan malah mengganggu jam tidurnya bumil nanti." Ujar Oma.
"Untuk menghemat waktu, ayo semuanya, mari kita menikmati masakan hasil jerih payah tangan chef Arka." Pak Anggara langsung mengambil piring, dan memasukkan nasi kedalam piring tersebut.
Arka juga mengambilkan untuk Kalista, bukan cuma mengambilkan sih tapi untuk dirinya juga. Satu piring akan di habiskan berdua.
"Enak nih, ternyata pak CEO bisa masak juga ya." Ucap Bimo.
Bimo?
Ya ampun sudah berapa lama Bimo tidak membuka mulutnya. Emang nih si bocah kampret ini kalau diajak kumpul sama Arka dan sahabat-sahabat Arka yang lain, mulutnya yang selalu berkicau pun mendadak bisu dan sama sekali tidak ikut terlibat percakapan dengan Arka. Baik Bima maupun Bimo, keduanya malah asyik memasang telinga dan menajamkan pendengarannya ketimbang harus ikutan bersuara.
Begitulah ban bemo, mereka selalu bilang sama Kalista, mereka terlalu kaku untuk bergabung dengan Arka. Bahkan mereka sempat merasa minder karena mereka berbeda Kalista dengan Arka. Arka yang levelnya atas, sedangkan mereka berada di level bawah.
"Kirain lu bisu bim, dari tadi baru kedengaran suaranya." Tiara menyenggol lengan Bimo.
"Yaelah ra, gugup tahu! Gue kadang merasa minder harus kumpul bareng orang-orang besar kaya gini." Ucap Bimo yang langsung di benarkan oleh Bima.
"Nggak usah sungkan, nggak usah malu, nggak usah minder. Kalian berdua kan merupakan teman dekatnya menantu saya, kalau kalian sopan kami juga sopan. Kalau lagi kumpul kaya gini, nggak usah mikirin kasta. Toh semua manusia sama rata kok di hadapan sang pencipta." Ucap pak Anggara.
"Iya pak." Jawab Bima dan Bimo tersenyum hangat. Mantan bossnya di kantor itu sangat ramah.
Semuanya pun kembali makan. Masakan Arka? Ya berada di garis tengah lah, di bilang enak, nggak sesuai dengan standar enak di lidah Kalista. Di bilang nggak enak? Ya masih bisa dan layak di makan.
Overall, semuanya cukup menikmati masakan Arka. Begitu juga dengan Kalista, tidak ada komentar pedas dari mulut Kalista, walaupun masakan arka terkesan biasa saja untuk Kalista, tetapi masakan itu sangat lezat karena terdapat sebuah usaha, kerja keras penuh perjuangan dan bumbu-bumbu cinta.
"Sebenarnya masakannya biasa saja." Cibir Riko yang baru saja selesai menghabiskan satu porsi makanan yang di ambilnya.
"Iya sih biasa saja." Evan menimpali.
"Biasa saja? Tapi piringnya pada bersih ya? Satu butir nasi pun tidak ada?" Cibir Gina, sambil memperhatikan piring yang di hadapan Andy.
"Mulut kamu tuh, benar aja kalau ngomong." Jawab Andy sambil terkekeh, kemudian Andy mencubit pelan pipi Gina.
"Oma nggak bisa berlama-lama di sini, betah sih disini, cuma Arka melarang Oma untuk nginap di sini. Takut banget Oma gangguin ya?" Tanya Oma yang sudah menyelesaikan makannya, kemudian bangkit berdiri.
"Kamu kok gitu? Oma mau nginap loh." Kalista meminta penjelasan Arka.
"Oma nginap aja, ini juga sudah malam kan. Lagipula apartment ini kan ada dua kamar." Ucap Kalista.
"Nggak tahu aja kamu nak, tadi anak ayah ngelarang keras Oma dan ayah tidur di sini." Pak Anggara juga sudah menyelesaikan makannya.
"Oma dan ayah memang harus pulang. Lagi pula ini acara kalian para anak muda. Selamat ulang tahun sayang, semoga panjang umur dengan kesehatan yang sempurna, semoga menjadi bunda yang hebat." Oma mengecup puncak kepala Kalista, kemudian memeluknya sekilas.
"Semoga hidup kalian selalu di berkahi, bahagia di dunia maupun di akhirat. Semoga cinta kalian kekal abadi sampai maut memisahkan." Pak Anggara juga memeluk Kalista, tangannya mengusap pelan punggung Kalista.
Tidak lama setelah itu, Bima dan Bimo pun pamit pulang karena besok harus ngantor. Namun sebelum pulang, Bima dan Bimo mengatakan bahwa mereka hanya mampu memberikan Kalista kado yang sederhana dengan harga yang miring, tapi semoga Kalista suka.
Setelah selesai makan, Gina dan Tiara membereskan meja makan itu. Dan menaruh piring-piring kotor pada wastafel. Mereka berdua cukup tahu diri, selain menumpang makan mereka berdua juga membersihkan dan mencuci piring-piring tersebut.
"Aku mau bukain kado." Ucap Kalista pada Arka.
"Nggak boleh! Nanti dong buka kadonya, kalau kita udah pulang. Malu gue." Ucap Tiara yang langsung menanggapi ucapan Kalista.
"Malu-malu amat sih? Aku aja ngado obat kuat nggak malu tuh." Celetuk Evan.
"Ngapain kasih bini gue obat kuat, bini gue tuh emang udah kuat banget." Ucap Arka dengan meledek Kalista.
"Obat kuat mah mendingan kasih gue deh." Celetuk Riko.
"Punya lu lembek? Cielah kasian banget deh, nanti istrinya merasa kurang paus." Ledek Andy dengan mulut mencebik.
"Puas beg*, bukan paus!" Celetuk Evan.
"Sosoan minta obat kuat, kaya yang punya betina aja." Ujar Arka.
"Punya lah! Punya gue nggak lembek sih, cuma pengen ngerasain yang lebih dahsyat aja." Ujar Riko sambil tertawa renyah.
Apa-apaan barusan? Cuma pengen ngerasain yang lebih dahsyat aja! Hah? Serius? Jadi Riko sudah pernah tidur sama cewe?
"Kok gue ngerasa kayanya lu udah pernah ngebobol cewe ya?" Tanya Andy dengan menautkan sebelah alisnya.
"Weeeeeeeh mana pernah! Gue cuma lihat di blue film doang kok." Riko buru-buru menjawab dengan wajah tidak santai, mencari pembelaan untuk dirinya.
"Gue balik dah, di sini kalian pada punya do'i. Gue ngenes banget bro, jomblo sendirian." Riko beringsut bangkit, dan langsung menyambar kunci mobilnya. Setelah sebelumnya berpamitan, dan kembali mengucapkan selamat ulang tahun pada Kalista.
"Kalian nggak pulang?" Tanya Arka, yang sebenarnya mengusir Andy, Gina, Evan, dan Tiara agar segera meninggalkan apartment Kalista.
Bukan maksud mengusir sih, tapi saat ini Arka sangat ingin bermesraan dengan Kalista. Arka sudah menjauhi Kalista selama satu Minggu, tidak ada pelukannya, tidak ada morning kiss, tidak ada cumbuan hangat, dan Arka sangat ingin mencium harum tubuh Kalista.
"Gila bro! Kita di usir." Bibir Evan mencebik, lalu menyenggol lengan Andy.
"Apa-apaan sih? Yakali gue di usir. Bentaran lah numpang pacaran dulu." Andy langsung merangkul Gina, dan mencium pipinya.
"Iya apaan sih kamu ngusir mereka? Biarin aja biar rame." Kalista menyenggol pelan lengan Arka.
"Enaknya ngapain ya? Nonton drakor kayanya seru nih rame-rame gini." Kalista.
__ADS_1
"Iya bakalan seru tuh." Jawab Tiara dan Gina bersamaan dan sangat antusias.
"Btw, ra lu pacaran sama Evan?" Tanya Kalista penasaran.
Evan yang mendengar pertanyaan Kalista, langsung menajamkan pendengarannya dan menatap Tiara secara intens. Evan sangat penasaran, kira-kira Tiara bakalan menjawab seperti apa? Apakah statusnya dengan dirinya diakui atau tidak?
Tiara tertunduk gugup, tangannya memilin ujung dressnya. "Iya gue pacaran." Jawabnya pelan.
Bagaimana dengan Evan? Tentu saja Evan sangat senang mendengar Tiara menjawab seperti itu.
"Aaaaaaah congrats sayang, gue senang dengarnya. Semoga lu bahagia sama Evan." Kalista langsung memeluk Tiara erat.
"Tenang saja bumill, gue bakalan bahagiain dia kok. Nanti kita honeymoon bareng ya." Saut Evan dengan tersenyum menggoda.
"Nikahin dulu aku!" Tiara merajuk manja pada Evan.
"Iya di nikahin dulu kok." Evan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Tiara. Tatapan mereka bertemu dan saling mengunci.
"Akhmmm.. yakin nih mau live streaming di hadapan kita?" Ujar Gina yang masih memperhatikan mereka berdua.
Pendengaran Tiara langsung menangkap jelas ucapan Gina, Tiara berusaha mencerna arti dari kalimat itu, kemudian Tiara langsung mendorong Evan agar menjauh darinya. Saat ini Tiara benar-benar merasa sangat malu.
"Tahan iman! Tahan godaan!" Andy langsung merangkul Evan, lalu menepuk-nepuk pundak Evan.
"Setannya dahsyat, makanya gue pengen cepat-cepat halalin Tiara, biar setannya gue ketawain." Ujar Evan sambil terkekeh, Evan kelihatan lebih santai di banding Tiara yang masih merasa malu.
"Tinggal satu lagi nih sahabat gue yang belum menemukan belahan jiwanya." Arka.
"Riko? Nggak tahu kenapa feeling gue mengatakan Riko udah punya do'i deh. Cuma dia masih sembunyi-sembunyi gitu, nggak mengenalkannya pada kita." Cetus Andy.
"Jangan-jangan cewenya wanita malam, makanya dia nggak berani kenalin ke kita." Celetuk Evan.
"Astagfirullah mulut ka Evan." Gina geleng-geleng kepala sambil menatap Evan.
"Tahu tuh si Evan, mulutnya mantul banget." Andy tersenyum simpul.
"Mumpung lagi ngumpul kaya gini, daripada nonton drakor, kok gue malah lebih milih tes kejujuran ya!" Gina berbicara sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.
"Setuju banget!" Tiara langsung merespon dengan sangat antusias.
"Iya gue juga setuju! Emang banyak banget nih yang mau gue tahu dari suami gue." Kalista langsung menatap Arka dengan tersenyum menyeringai, kemudian memberikan Arka tatapan menyeramkan.
"Duh ngeri banget gue! Nggak usah tes kejujuran deh! Nanti kalau jujur istri gue marah gimana? Nggak lucu dong istri gue marah-marah di hari ulang tahunnya?" Bibir Arka mencebik, istrinya pasti bakal nanya yang macam-macam.
"Harus tes kejujuran pokonya! Aku curiga deh kayanya kamu punya rahasia besar." Mata Kalista menyipit, menatap Arka sorotan mata tajam.
"Kamu yang ngajak kan? Nanti kalau aku jawab jujur pokonya kamu nggak boleh marah." Arka merasa cemas dan was-was, sekarang telapak tangannya terasa dingin.
"Gimana cara mainnya gin?" Tanya Tiara pada Gina.
"Hmmmmm, nggak ada caranya juga sih. Ini kan tes kejujuran, ya langsung di tanyain aja! Tapi berputar dan bergiliran gitu ya nanyanya!" Ujar Gina sambil menepuk-nepuk dahinya.
"Nggak usah deh! Di mulai dari gue aja kali ya, banyak yang harus gue tanyain sama pacar baru gue ini." Tiara tersenyum sinis pada Evan.
"Siap-siap bro! Baru jadian aja udah langsung marahan, mantap banget wkwk." Andy mentertawakan Evan, karena Andy tahu Evan menjalin kasih sampai bertahun-tahun dengan Shafa, dan tentunya banyak hal yang telah mereka lalui.
"Sialan bro! Kampret banget mulut lu tuh, panas kaya kompor." Evan menoyor kepala Andy karena merasa sangat kesal.
"Aku mau nanya nih! Jawab jujur!" Tiara berkata ketus, nadanya terdengar sangat jutek.
"Iya apa?" Kata Evan.
"Punya mantan kan?" Tanya Tiara, Evan langsung menganggukan kepalanya. "Selama pacaran ngapain aja?"
Wadidaw jiwa! Pertanyaan simple yang gampang di jawab, namun akan menimbulkan percikan api permasalahan yang akan membuat hubungan mereka jadi renggang.
Evan melipat bibirnya dalam. Memang benar ini pertanyaan sangat gampang di jawab, tetapi Evan harus berpikir seribu kali lipat untuk menjawabnya. Di jawab bohong, Tiara pasti curiga. Di jawab jujur, Tiara pasti akan marah. Pilihan yang sangat sulit.
"Lalu tiba-tiba Evan pun menjadi bisu." Celetuk Andy yang langsung di sambut gelak tawa oleh Arka dan Gina. Sedangkan Tiara masih menatap Evan, dan sangat penasaran dengan jawaban yang bakalan keluar dari mulutnya.
Evan kembali berpikir sejenak, masih mencari tahu bagaimana caranya menjawab jujur tapi Tiara tidak akan marah padanya. "Namanya orang pacaran, palingan gitu-gitu aja." Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Tangannya sibuk memijit-mijit pelan dahinya, karena merasa pusing memikirkan jawaban dari pertanyaan Tiara.
"Gitu-gitu aja gimana nih maksudnya? Main di apartemen? Atau main ranjang-ranjangan?" Arka ikutan mengajukan pertanyaan. Ya ampun dasar Arka, bukannya membantu sahabatnya untuk menjawab, dia malah semakin membuat Tiara semakin merasa panas.
"Sahabat gue yang paling bangs*t! Kampret lu mulut ember." Evan melemparkan bantalan sofa.
"Gimana apanya Ara sayang? Kenapa manggil Evan sih? Kemarin aja di apartment manggilnya Evan sayang, malah sosoan berlaga nyosor duluan pula." Evan mengusap lembut rambut Tiara, berusaha mengalihkan sedikit perhatian Tiara.
"Jadi, Tiara sudah main ke apartment Evan?" Tanya Kalista sambil tersenyum simpul.
"Pas di apartment Evan, kira-kira ada adegan mesumnya nggak ya?" Celetuk Arka, yang semakin membuat Tiara kikuk.
Andy dan Gina hanya geleng-geleng kepala saja melihat pasangan suami istri dan pasangan yang baru jadian itu. Karena di antara ketiga pasangan itu yang paling benar otaknya adalah Andy dan Gina.
"Aku kalau pacaran nggak aneh-aneh kok, cuma sebatas cium pipi, dahi, peluk, jalan bareng, nonton, cium bibir juga sih." Evan sedikit ragu-ragu untuk mengatakan kalimat terakhirnya.
Wajah Tiara perlahan berubah, kini wajahnya terlihat sangat jengah dan sedikit badmood. "Cium bibir tuh maksudnya bercumbu gitu ya?" Tanyanya sinis, ekspresinya wajahnya sudah terlihat sangat judes.
"Iya ra, kaya yang kita lakuin pas di apartment gue." Ucap Evan dengan gamblang.
"Diam! Jangan bawa-bawa hubungan kita dulu! Pacaran berapa lama?"
"Kurang lebih selama 7 tahun." Jawab Evan dengan sangat jujur.
"Siapa namanya?"
"Shafa."
"Masih sayang nggak sama dia? Hal apa yang nggak bisa di lupain dari dia?" Tanya Tiara, hatinya sudah berusaha di tabahkan ketika nanti mendengar jawaban yang keluar dari mulut Evan.
"Kalau di bilang masih sayang sih nggak, cuma memang lagi berusaha melupakan aja. Hal yang paling nggak bisa di lupain? Ya masa-masa pacaran itu, wajar sih pacaran sampai 7 tahun, banyak hal yang telah kita lewati dari suka maupun duka, panas hujannya cuaca pancaroba, bolak-balik nganterin dia pemotretan, kenalin dia ke beberapa agensi terkenal, ngoprek dapur bareng-bareng, nonton, jalan-jalan, shopping, dan lain sebaginya. Tapi ternyata 7 tahun menjalin hubungan sama gue, dia juga jadi teman tidurnya teman gue selama 5 tahun. Miris banget kan kisah asmara gue." Evan menjawab sangat jujur dan detail, semuanya di ceritakan begitu saja tidak ada satu pun yang di tutupinya.
"Alah bro, bilang aja emang susah move on. Masih keingat-keingat terus bibir manisnya Shafa yang biasa di lahap setiap kali nganterin pemotretan, ataupun syuting suatu brand." Celetuk Arka yang semakin membuat Tiara merasa panas terbakar api kecemburuan.
Evan memberikan tatapan galak pada Arka, menyuruh Arka diam menggunakan bahasa isyarat yang di tunjukan oleh matanya.
Tiara speechless, belum bisa memberikan respon apapun. Saat ini, otaknya masih berusaha mencerna semua yang Evan katakan. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyusup ke dalam dadanya, dirinya baru beberapa hari ini menjalin kasih dengan Evan, sedangkan Evan sudah 7 tahun menjalin kasih dengan wanita yang berprofesi sebagai model itu. Apakah Evan sudah benar-benar-benar melupakannya? Tiara juga jadi teringat hari ketika di apartment Evan, Evan memintanya untuk memasak, padahal Tiara sudah bilang tidak bisa masak. Apakah itu tandanya Evan lagi kangen Shafa? Banyak sekali pemikiran-pemikiran aneh yang sekarang bercabang di benak Tiara.
"Are you okey?" Karena tidak ada respon dari Tiara, akhirnya Evan melambaikan tangan di depan wajah Tiara. Evan sudah sangat cemas, Tiara pasti marah besar padanya.
"Ah iya." Jawabnya datar dengan ekspresi muka yang sama datarnya.
"Sekarang gue yang nanya ya!" Evan mengusap lembut rambut Tiara. "Punya mantan berapa? Namanya siapa? Pacaran ngapain aja?" Evan memberikan pertanyaan beruntun.
"Satu, namanya Adit. Gue kalau pacaran nggak pernah macam-macam sih, jalan-jalan, kulineran, shopping, pergi ke tempat wisata. Udah gitu doang." Jawab Tiara jutek.
"Serius? Nggak ada hal-hal mesumnya? Atau kamu pernah di ciuman bagian apa atau apalah gitu?" Tanya Evan sangat penasaran, masa iya pacaran Tiara hanya sebatas itu doang.
"Adit pernah minta yang agak aneh, tapi aku menolak dengan tegas." Jawab Tiara.
"Yakin?"
"Yakinlah, emang gue wanita apaan? Gue punya harga diri, nggak murahan jual diri demi uang ataupun profesi." Tiara mendelikkan matanya sangat jengah.
"Bagus dong, wanita kaya gini nih yang gue suka." Evan akan mengecup puncak kepala Tiara, tapi Tiara bergeser menghindarinya.
"Elu sih maunya yang polos lugu gitu ya? Sendirinya gimana? Main sosor-sosor aja kan?" Andy menyikut lengan Evan.
"Diam deh! Nggak liat apa Tiara sudah berubah menjadi bete? Udah deh nggak usah di lanjut, kita ganti ke Andy aja." Ucap Gina.
"Eh bentar dong! Gue mau nanya Evan dulu. Gimana awal mulanya lu sama Tiara bisa pacaran?" Tanya Andy penasaran.
"Kok lu nanya gue? Berarti nanti gue bisa nanya lu juga ya?" Evan malah berbalik tanya.
"Bisa!" Jawab Andy cepat.
"Awal mulanya ya? Hmmm, sore itu Tiara datang ke apartment gue, dia mau minta maaf gitu deh, sekaligus mau mengucapkan terimakasih karena udah gue tolongin. Tapi karena gue bete, kesal, dan dongkol karena di tuduh main gila sama wanita liar, jadi gue sosoan jutek, cuek, dan dingin gitu. Tapi, sebenarnya pas hari itu gue sangat terpesona oleh penampilan Tiara. Gimana nggak terpesona coba, dia cakep banget woy, pakai stelan korea gitu, bajunya crop, roknya tempel kotak-kotak super mini, rambutnya di gerai indah. Saat itu gue juga baru selesai mandi tuh pas buka pintu, gue tahu kok saat itu Tiara juga pasti sangat terpesona oleh tubuh bagian atas gue yang terbuka alias telanja..."
"Ish, kepedean banget sih." Tiara menyela ucapan Evan, memutar bola matanya jengah, wajah masih masam seperti tadi.
"Cerita lu terlalu panjang! Kalau gue dengerin semuanya bakalan kemalaman, gue mau dengar versi pendek dan intinya saja." Arka meminta Evan menceritakan lebih singkat tetapi tetap jelas.
"Tiara datang ke apartment gue, minta maaf dan mengucapkan terimakasih. Tapi, guenya masih cuek dan mendiamkannya, merasa tidak di dengar akhirnya Tiara berinisiatif mencumbu gue, tapi gue tolak. Gue mau berpagutan mesra ketika dia sudah resmi jadi pacar gue. Kita terlibat percakapan banyak, lalu kita sama-sama saling jujur dan mengakui perasaan masing-masing. Kita resmi pacaran, lalu sore itu kita menghabiskan waktu di dapur, memasak, lalu makan di balkon sambil menikmati sunset. Ketika sudah magrib, gue anterin Tiara pulang ke rumahnya." Kini Evan menjelaskan secara singkat.
"Lumayan epik dan sangat ciamik kisah cinta kalian berdua." Ucap Kalista sambil bertepuk tangan ria bergembira.
"Sekarang giliran Andy! Arka belakangan aja, soalnya banyak banget yang harus gue tanyain." Ujar Kalista.
__ADS_1
"Oke." Jawab Andy santai.
"Kapan mau nikahin aku?" Tanya Gina, manik matanya menatap manik mata Andy dengan lekat dan intens.
"Secepatnya dong sayang." Andy mengusak puncak kepala Gina, sehingga ada beberapa helai rambut Gina yang menjuntai ke depan.
"Seberapa cinta sih kamu sama aku?" Tanya Gina lagi.
"Cinta banget! Sampai aku nggak mau kamu dekat-dekat sama cowok lain. Cintaku padamu melebihi cintaku pada mantanku, intinya sekarang dan selamanya aku hanya butuh kamu sebagai pendamping hidupku." Andy berkata dengan yakin, bahkan Andy sampai menggenggam erat jemari Gina sembari menatap menelisik manik mata Gina.
"Hmmmmm." Gina meleleh mendengar jawaban Andy.
"Giliran aku ya. Perasaan kamu ke aku gimana sih gin? Kamu berharap aku menikahi kamu nggak?" Tanya Andy.
Sebelum membuka mulutnya dan menjawab pertanyaan Andy, Gina mengulas seutas senyum hangat miliknya. "Perasaan aku ke kamu? Gimana tuh maksud dan definisi pertanyaan kamu? Intinya sih perasaan aku ke kamu tuh perasaan cinta, sayang, perasaan yang hangat yang belum pernah aku miliki, perasaan yang ingin selalu memiliki, perasaan yang sangat terikat antara hati dan hati. Selama 24 tahun aku hidup, mama selalu mengekang aku atau dalam kata lain mama lebih selektif terhadap cowok yang deketin aku, tapi cuma kamu doang yang sangat berani dan berhasil meyakinkan mama."
Gina menjeda sejenak ucapannya. Gina perlu memasok oksigennya terlebih dahulu. "Untuk pertanyaan kamu yang kedua, jawabannya aku sangat-sangat berharap di nikahi kamu, kalau bisa sih secepatnya. Bukannya aku kebelet nikah, tapi kan lebih baik lebih bagus. Lagi pula, niat baik memang harus di segerakan." Lanjutnya lagi, Gina menjawab dengan sangat tenang, intonsinya jelas dan bahkan susunan kalimatnya enak di dengar.
"Sabar dulu ya, aku sedang berusaha kok." Andy menyentuh pipi Gina kemudian mengusapnya pelan.
"Adem benar dah liat pasangan yang satu ini." Kalista menopang dagunya, senyumnya mengembang membuat pipinya semakin terlihat bulat.
"Romantis tanpa nafsu kayanya nih." Saut Arka sambil memperhatikan Andy dan Gina.
"Btw gin, kenapa nanyanya gitu banget? Nggak penasaran apa sama masa lalunya Andy?" Kini Evan yang bertanya.
"Nggak sih, soalnya kita berdua sudah saling menceritakan kisah masa lalu, sebenarya bukan kita sih, lebih tepatnya Evan yang menceritakan. Soalnya kalau aku nggak punya mantan." Gina tersenyum kaku smabil memamerkan deretan gigi putihnya.
"Alhamdulilah kita sama-sama terbuka dalam hal apapun, jadi hubungan kita baik-baik aja, alhamdulialh juga sih Andy termasuk dalam kategori pria suka mendengarkan, aku hobinya cerita dari hal yang random sampai hal-hal penting pun aku ceritain semuanya." Lanjutnya lagi sambil menyenderkan kepalanya di bahu Andy.
"Selama pacaran pernah ngapain aja gin?" Tiara si muka badmood pun ikutan mengajukan pertanyaan.
"Kita pacarannya sehat kok, dan nggak melibatkan perihal nafsu. Nggak menampik juga sih, nafsu itu pasti ada tapi pintar-pintarnya kita aja sih berani ngasih celah atau nggak. Prinsip yang aku pegang adalah, jangan melibatkan bibir, dada, dan hal yang paling berharga di diri kita ketika kita pacaran. Selama belum ada ikatan suci pernikahan, belum tentu juga pacar kita bakalan menjadi suami kita." Luar biasa sekali, jawaban yang keluar dari mulut Gina sangat mantap dan lebih keyakinan.
"Jadi ya gitu sih pacaran nggak muluk muluk, pergi jalan-jalan, kulineran, makan lesehan, jogging, nemenin Gina masak di rumahnya sambil ngobrol sama calon mama mertua." Jelas Andy.
"Cara pacaran lu enak banget ya, positif tapi meyakinkan." Ucap Arka dengan penuh rasa kagum.
"Nah sekarang giliran main kejujuran untuk pasangan pasutri ini." Gina dan Tiara langsung menunjuk Arka dan Kalista bersamaan.
"Gue lagi nggak mau basa-basi dan banyak bacot, intinya sih gue mau langsung menanyakan sesuatu hal yang sangat membuat gue penasaran aja." Suara bariton Kalista sudah terdengar.
"Punya mantan berapa?" Tanya Kalista, manik matanya menyorot manik mata Arka.
"Satu, Yoora doang."
"Kenapa bisa suka sama Yoora?"
"Karena dia cantik, tubuhnya proporsional, plusnya dia model ternama di Korea."
"Tapi, yang paling aku suka dari Yoora sih dadanya, gue jujur banget nih nggak bohong dan sama sekali nggak ada yang di tutupi." Ujar Arka santai, nggak tahu aja sekarang gimana perasaan Kalista, antara panas cemburu dan gedek. Arka orangnya memang gitu, ceplas-ceplos jujur.
"Oh." Respon Kalista sangat singkat dan datar, istri mana yang tidak cemburu mendengar suaminya memuji mantan kencannya.
"Pacaran sama dia ngapain aja?"
"Jalan, makan, pergi ke tempat wisata, kumpul ke club malam bareng teman-teman gue, pelukan, kiss-kissan kaya gitu mah biasa, Yoora juga suka ngasih dadanya dengan sukarela, ya gue embat aja sih. Walau bagaimana pun laki-laki normal di kasih hal yang begituan jelas tentu tidak bisa menolak." Ucapan Arka nyeleneh dan sangat santai. Nggak paham juga sih sama Arka, kenapa bisa ngomong dengan sangat gamblang?
Kalista menatap Arka dengan tatapan tidak suka. Apa-apaan ini suaminya? Bisa gitu banget ya? menceritakan kisah masalahnya dengan gamblang tanpa sensor sedikitpun.
"Dulu aku nggak pernah mikirin ke depannya gimana? Yang aku pikiran ya nikmatin aja! Lagipula, dulu aku tuh menjalin hubungan dengan Yoora, tanpa ada ikatan pacaran dan acara tembak-tembakan, hubungannya mengalir begitu saja. Aku tuh sama sekali nggak pernah punya pikiran mau jadiin Yoora istri aku, toh aku selalu ingat gimana jalangnya mama. Yoora itu hampir sama seperti mama, di kasih shopping aja sudah kegirangan, apalagi kalau gue kasih kartu tanpa limit. Langsung dikuras habis kayanya seluruh duit gue."
"Karena nggak ada embel-embel pacaran dan acara tembak-tembakan, berarti Yoora bukan mantan gue kan?" Tanya Arka kegirangan.
"Ya tetap saja mantan! Hubungan kalian udah sampai kiss-kissan gitu, mau di bilang apa? Teman tapi mesra? Cih geli." Cibir Andy dengan mendelikkan matanya.
"Jadi menurut kamu Yoora adalah yang terindah?"
"Bisa dikatakan begitu?" Jawab Arka tanpa sadar.
"Lalu aku apa?" Teriak Kalista, dirinya sangat tersulut emosi. Bahkan puncak ubun-ubunnya sudah terasa sangat mendidih.
Kenapa sih Arka masih mengingat Yoora? Please deh fokus saja sama istri! Jujur sih jujur, tapi kalau gini sih malah membuat Kalista merasa sakit hati.
"Yoora yang terindah? Benar begitu bukan? Mana ada yang terindah mencoba menusuk kamu dari belakang, sana samperin yang terindah di penjara, sekalian saja kalian mendekam dan membusuk di penjara." Wajah Kalista sangat jutek, bahkan bola matanya berkali-kali memutar jengah.
"Nggak mau! Bercinta di penjara kan nggak enak. Enak juga di rumah sama kamu." Arka menjawil pelan hidung Kalista, tapi kalista malah menghempaskan tangan Arka.
"Cemburu ya bu? Enak banget sih membuat bumil yang sedang bertambah usia ini cemberut, wajah cantiknya tiba-tiba menghilang menjadi masam dan kecut." Arka mencolek dagu Kalista.
"Dengerin ya istriku, Yoora itu hanya serpihan kecil dari masalalu. Aku sudah melupakannya sejak lama, dia juga bukan yang terindah. Dulu aku memang laki-laki brengsek yang menikmati tubuhnya, tapi aku nggak sebrengsek itu! Aku menjamah tubuh dia cuma sebatas dada, nggak pernah lebih dari itu. Sekarang fokus aku hanya ada pada istriku. Istriku, Kalista seorang! Satu dan selamanya sampai kapanpun, sampai maut memisahkan, kita menua bareng-bareng sampai rambut kita memutih, bercanda tawa riang, ngeteh di sore hari sambil menikmati matahari terbenam di temani oleh anak-anak kita. Lalu ketika aku sudah mulai pensiun, duduk di teras menikmati secangkir teh sambil baca koran." Jawab Arka, Arka sedang membayangkan kehidupannya nanti di masa tua.
"Nggak usah cemburu! Pandangan mata elang aku selalu tertuju padamu! Aku nggak butuh wanita seksi dan cantik di luaran sana, karena istriku ini juga sangat cantik dan bahkan seksi banget kalau pakai lingerie." Arka mengedipkan sebelah matanya, tersenyum menyeringai seperti sedang membayangkan Kalista memakai Lingerie yang telah di belikannya.
"Aku cuma butuh kamu sekarang untuk menjadi pendamping hidupku. Tubuhku ini milikku, begitu juga dengan tubuhmu. Aku tidak perlu tubuh wanita lain, tubuh istriku saja sudah sangat menjadi candu untukku." Lanjutnya lagi sambil menatap Kalista.
"Bahkan, kalau boleh jujur. Selama seminggu ini aku sangat tersiksa karena berusaha menjauhimu, aku tidak bisa tidur sambil mendekap tubuh hangat dirimu, terlebih lagi aku tidak bisa merasakan sentuhan hangat tanganmu, tidak mendekatkan morning kiss darimu juga. Sayang seminggu ini aku tersiksa dan sangat menderita." Arka memeluk Kalista dengan erat.
"Ada yang mau di tanyain lagi nggak?" Arka membelai mesra puncak kepala Kalista.
"Kenapa bisa suka sama aku, dan kenapa bisa seyakin itu memilih aku untuk menjadi istrimu?"
"Karena kamu cantik! Buka cuma itu sih, kamu adalah wanita yang mempunyai segudang hal yang baik-baik. Cantik? Jelas! Rajin bekerja, pintar masak, pintar dalam bidang akademik, cekatan, bisa nyanyi, bisa main gitar, mempunyai hati baik, suka menolong orang lain, apalagi ya? Bingung deh, aku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Kenapa bisa yakin menjadikanmu istriku? Karena hati kecilku berkata, kamulah orang yang kucari selama ini. Terlebih lagi aku memang selalu mencari Bunga si gadis cantik yang selalu tersenyum di taman."
"Sosweet banget sih pasutri ini." Gina menatap Arka dan Kalista dengan tatapan kagum.
"Nggak nanya seputaran kisah asmara masalalu Kalista?" Tanya Evan pada Arka.
"Nggak! Karena sebelumnya Kalista nggak pernah pacaran, jadi dia nggak punya mantan. Lagipula, ciuman pertama Kalista aja gue yang nyuri, di kantor pula." Arka terkekeh, ingatannya seperti melayang pada hari itu, hari dimana ia langsung melahap habis bibir Kalista di ruangannya.
"Waduh main gila di kantor." Evan menatap Arka smabil geleng-geleng kepala.
"Oh gue tahu tuh! Itu kan saban hari yang lu kunci ruangan lu dari dalam, terus pas lu buka pintu penampilan Kalista lumayan acak-acakan." Ucap Andy.
"Betul!" Arka mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Setelah menikah, hal apa yang tiba-tiba kalian ketahui tentang pasnagan?" Tanya Tiara.
"Hal apa ya? Hmm, kalau aku sih tiba-tiba tahu ternyata istriku ini sangat manja, bahkan kadang-kadang kalau bangun tidur minta di gendong ke kamar mandi." Jawab Arka sambil terkekeh, padahal Kalista di sebelahnya cemberut tuh.
"Bucin itu mah!" Celetuk Tiara sambil menyenggol lengan Kalista.
"Biarin wlee, sama suami ini kan." Tangan Kalista langsung melingkar di badan Arka.
"Kalau aku sih, tiba-tiba menyadari bahwa Arka ternyata sangat mesum, mesumnya itu terlalu over deh gitu."
"Saking overnya, sampai kewalahan melayaninya. Benar begitu bukan nyonya Arka?" Celetuk Andy.
"Benar!" Ucap Kalista tersenyum memamerkan barisan giginya.
"Biasanya siapa nih yang tergoda duluan?" Ya ampun Evan super kepo, pakai segala nanya sesuatu hal yang ambigu.
"Arka lah! Gila kali dia kan mesumnya tingkat mancanegara, lihat gue pake piyama tertutup aja nafsu." Kalista mengedipkan sebelah matanya pada Arka, lalu tersenyum miring.
"Iya gue yang tergoda duluan! Gue emang nggak pernah tahan lihat tubuhnya yang aduhai. Tapi, ada tapinya nih! Setelah selesai ronde pertama, biasanya dia minta tambah lagi. Kadang-kadang ya, gue masih cape, masing ngos-ngosan, anu juga masih lembek, eh istri gue udah manjat aja ketubuh gue." Arka berbicara dengan mulut jujurnya, emang benar Kalista selalu begitu soal ranjang.
"Doyan juga ya lu." Bisik Tiara di telinga Kalista.
"Doyan banget gue! Kegiatan diatas ranjang tuh enak banget deh pokonya, top markotop deh! Lu juga bakalan ketagihan kalau udah tahu rasanya!" Kalista juga berbisik di telinga Tiara, Tiara bahkan sampai bergidik ngeri.
"Gimana rasanya malam pertama?" Pertanyaan yang tabu sekaligus ambigu itu keluar begitu saja dari mulut Gina. Semuanya langsung menatap Gina tidak percaya, kok bisa Gina bertanya seperti itu.
"Nanya aja! Siapa tahu ibu Kalista bisa share pengalamannya pada kita yang nantinya akan merasakan hal seperti itu." Gina berusaha membela diri, senyum kikuk juga terlihat jelas menghiasi wajahnya.
"Oh kalau itu rahasia kita berdua! Tidak akan di ceritakan pada siapapun." Arka langsung mengedipkan sebelah matanya pada Kalista.
----------------------------------π»π»
Akhir-akhir ini author sibuk banget, mepet ke malam baru bisa up. Ini juga ngetiknya maraton, buru-buru banget karena mata sudah lima wat. Maaf ya kalau banyak typo, nanti subuh typonya author benerin deh.π
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanππ€
Find Me On Instagram : @halloimas13β€
__ADS_1