SUN FLOWER

SUN FLOWER
Episode 4


__ADS_3

Vino terdiam melihat lantana yang kini menatapnya kesal. tak lama ia memangil salah satu sekurity dan menyerahkan kunci mobilnya agar sekurity itu mengambilkan mobilnya.


Vino membawa tangan Lantana ke teras depan untuk menunggu mobilnya. tak lama mobil Vino sampai dan sekurity yang tadi membawa mobil Vino keluar dan mempersilahkan tuannya.


Vino berjalan mengitari mobilnya dan membukakan pintu penumpang untuk Lantana, Lantana pun masuk dan duduk dengan tenang. Vino berlari kecil ke arah kemudi setelah menutup pintu mobil untuk Lantana. dan mobil mewah itu pun merangkak dengan anggun meninggalkan area perkantoran.


di sepanjang jalan, Vino tak henti-hentinya memperhatikan Lantana. Ternyata yang di perhatikan menyadari kelakuan lelaki di sampingnya.


"tuan Vino, kenapa ngeliatin saya terus?? apa ada yang aneh di muka saya?" Tanya Lantana polos


"iya, di wajahmu ada sesuatu yang aneh. makanya saya ngeliatin kamu terus.." jawab Vino terkekeh geli dengan tingkahnya sendiri


"apa itu?? apa seseatu yang mengerikan??" Lantana buru m-buru mengeluarkan cermin dari tasnya dan memeriksa wajahnya dengan panik "ya ampun..! wajah saya ancur banget? aduuhh.. ini make up nya sampe ancur semua begini??"


Vino yang melihat tingkah lantan mengerutkan kulit di jidatnya tanda heran. karena dia tidak merasa kalo Lantana pakai make up. karena sejak sebelum nangis dan sesudah nangis, tidak ada sedikitpun yang berbeda darinya kecuali hidung merah dan mata sembab. "kamu pakai make up??" tanya Vino penasaran


"engga.." jawab Lantana acuh sambil membenarman rambutnya dengan tangan kirinya


Lagi-lagi Vino tak mampu berkata-kata lagi dibuatnya. hingga akhirnya dia mengalihkan pembicaraan "kamu mau makan apa??"


"nasi padang kayanya enak, tapi saya mau makan nasi goreng yang di warung perempatan sana aja deh" Jawab Lantana


"terus apa hubungannya dengan nasi padang??" Vino terheran heran


"iih kan saya bilang 'kayaknya', tapi saya kan lagi gak mau makan nasi padang" Lantana memasukkan kembali cerminnya


Vino berhenti berbicara karena sudah mulai kesal. beberapa menit kemudian, mobilnya tiba di perempatan. di sana ada sebuah lahan yang cukup luas dan juga terdapat banyak pedagang kaki lima berjualan berbagai jenis makanan. banyak juga mobil dan motor terparkir di sekitarnya. Vino menepikan mobilnya di tempat yang orang gunakan untuk memarkir kendaraan. Lantana langsung membuka pintu ketika terdengar bunyi kunci terbuka.


sebelum turun Lantana sempatkan untuk melihat wajah bosnya. Lantana menggeleng karena lelaki itu menatap warung2 itu dengan tatapan ngeri.


"ayo turun..!" Lantana menarik tangan Vino guna menyadarkannya


"kamu yakin mau makan di sini?? saya bawa kamu ke restoran delima aja ya, di sana juga ada nasi goreng ko" ajak Vino dengan menunjukkan raut wajah yang khawatir


"iih.. gak mau. udah sampe sini masa pergi sih? enggak ayo turun" ajak Lantana semangat


"Tapi.." Vino masih ragu


"tenang aja tuan Vino. saya tau ko apa yang ada di dalam kepala cerdas tuan. Tuan pasti merasa jijik kan dengan tempatnya? tenang aja, badan BPOM selalu memeriksa tempat ini setiap 3 bulan sekali. mereka yang tidak terjamin kehigienisan makanannya tidak dibiarkan berjualan. lagian mereka buka cuman malem aja ko, jadi gak ada bau keringat karena kerja seharian" Lantana menjelaskan


Lantana masih melihat raut tidak yakin di wajah bosnya.


"huuhhh.." Lantana menghembuskan nafasnya kesal. "di sana juga sebenarnya banyak orang dari kalangan orang kaya loh tuan.. hanya mereka membaur aja jadi masyarakat biasa. makanan di sini enak-enak semua ko.. saya jamin. dan nasi goreng di sini adalah nasi goreng paling enak se City J. yu ah turun.." Lantana mulai menurunkan satu kakinya.

__ADS_1


dilihatnya lagi bosnya masih memegang setir dengan mata mengawasi sekelilingnya. "yaudah, kalo tuan tidak mau turun juga gak apa-apa. saya aja yang turun. tuan bisa tinggu saya di sini"


Lantana sudah menurunkan kedua kakinya dan bersiap untuk melompat. tiba-tiba gerakannya terhenti karena tangannya di tahan oleh Vino.


"tunggu..!! saya ikut" akhirnya Vino mengambil keputusan


"yaudah buka jas dan dasinya. kalo gak mau jadi pusat perhatian di sana" kata Lantana yang dituruti oleh Vino begitu saja tanpa ah ih uh lagi.


Lantana menunggu bosnya dengas sabar. sampai Vino selesai melepas jas dan dasinya kemudian melipat kemejanya hingga ke sikut. Lantana dengan iseng mengacak rambut Vino yang akhirnya mendapat dengusan tak suka dari Vino.


Lantana bergegas keluar dari mobil dan berlari ke arah penjual nasi goreng. Vino bergegas mengikuti dari belakang, dengan pandangan tidak lepas dari punggung Lantana. Lantana berbalik menatap Vino sambil melambaikan tangan pertanda agar Vino bergegas.


"Tuan mau makan apa?" tanya Lantana setelah Vino mendekat


Vino menarik lengan Lantana dan mendekatkan mulutnya ke telinga Lantana "bisa gak kalo lagi jalan berdua di luar jangan panggil saya tuan?" tanya Vino langsung


Lantana mengerjapkan matanya dan mengulangi pertanyaannya "ka.. kamu mau makan apa??" tanya Lantana


"Good girl!!" jawab Vino sambil tersenyum dan mengacak rambut Lantana "samakan aja dengan mu" lanjutnya santai


"Bang Mael, nasi goreng yang seperti biasa 2 yaa.." pesan Lantana sembari mengacungkan jari tangannya


"baik, neng Ana.. sebentar lagi siap" jawab penjual yang Ana panggil sebagai 'bang Mael'


"kamu terlihat akrab sama penjualnya" tanya Vino dengan nada judes


"kenapa?? hampir tiap hari aku beli nasi goreng di sini jadi wajar dong akrab" tanya Ana acuh. "mau minum apa? es jeruk? jus buah, es kelapa atau apa?" tanya Ana selanjutnya


"emang di sini gak di kasih minum?" tanya Vino heran "kenapa gak pesan minumannya sekalian?"


"aduuhh.. kayaknya bos ku ini gak pernah jadi rakyat jelata deh.. yaudah deh minum apa aja boleh yah" Ana bergegas pergi meninggalkan Vino


"lah emang aku gak pernah jadi rakyat jelata kan?" Vino heran dengan tingkah Lantana


tak lama Lantana kembali membawa 2 gelas es buah di tangan kanan dan kirinya. kemudian menyodorkannya satu gelas ke hadapan Vino. "Nih, yang ini sudah di bayar" kata lantana sambil terus menyesap minumannya "tenang saja, semuanya higienis ko. dicuci dengan air mengalir jadi pasti bersih" Lantana meyakinkan Vino


Vino dengan ragu memasukkan es buah di hadapannya menuju mulutnya. dia akui, dia cukup haus karena sejak Lantana nangis sampai saat ini dia belum minum apapun. Vino menikmati es di hadapannya ketika butiran halus es itu berselancar riang di tenggorokannya. "aaahh..!!" desah Vino setelah menyesap es buahnya


tak lama bang Mael mengantarkan 2 porsi nasi goreng ke meja Ana dan pasangannya. "neng Ana, tangannya kenapa di perban itu teh?" tanya bang Mael seraya meletakkan piring di hadapan Ana dan Vino. tak lupa dengan 2 gelas teh hangatnya.


"oh? ini?? gak apa apa ko.." jawab Ana sambil menerima piring nasi gorengnya "makasih bang Mael" Lantana memasang wajah manisnya lagi dan lagi. entah mengapa hal itu membuat seseorang merasa sebal.


Vino menyuapkan nasinya ke mulutnya dengan perasaan emosi. hal yang mengejutkannya adalah nasi goreng ini sangat enak. Tanpa sadar Vino membulatkan matanya menikmati nasi goreng di hadapannya. Ana pun makan dangan tenang menggunakan tangan kirinya. karena ia tidak mau menyentuh tangan kanannya sama sekali, dan lagi tangan itu sekarang sangat sulit digunakan.

__ADS_1


Vino dengan cepat menghabiskan makanannya dan kemudian menyeruput teh hangatnya sampai tandas. "erree... aaahhh" Vino memanjangkan perutnya dengan melengkungkan tubuhnya ke belakang sembari bersendawa dan memegang perutnya yang mulai kekenyangan.


diperhatikannya Lantana yang makan dengan pelang menggunakan tangan kiri. "ko makannya pakai tangan kiri??" tanya Vino


"hm?? susah.." Ana menggerakan tangan kanannya


"biar saya suapi?" tawar Vino


"tidak perlu, bentar lagi beres ko. kamu kalo mau nyari makanan lain, nyari aja.. enak-enak ko" kata Lantana santai


Vino terlihat menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan untuk tetap diam memperhatikan Lantana makan sambil menyesap es buahnya yang masih tersisa setengah. dilihatnya pipi Lantana yang menggembung karena kepenuhan, gadis itu terlihat menikmayi makanannya hingga tersisa tinggal satu suapan lagi di piring. Ana kembali menyuapkan suapan terakhirnya dan mengunyahnya dengan semangat. Vino tersenyum melihat tingkah konyol Ana.


Ana meneguk teh angetnya dan membersihkan mulutnya dengan tisu di hadapannya. "setelah ini mau makan apa lagi??" tanya Ana pada lelaki di hadapannya


"ada lagi yang ingin kamu makan?" Vino malah berbalik nanya


"hmm.. gak ada, saya mau pulang aja udah malem.." jawab ana seraya menggelengkan kepala dengan mulut yang masih menyedot es buah


"baiklah.. ayo aku antar kamu pulang" Vino berdiri dan mengulurkan tangannya


"bayar dulu lah nasi gorengnya!!" suruh Ana


Vino terlihat kikuk dan menarik kembali tangannya. kemudian Vino berlalu ke arah bang Mael dan dua temannya


"berapa bang?" tanya Vino seraya mengeluarkan dompetnya dari saku celana


"30 ribu mas!" jawab bang Mael


"dua??" tanya Vino heran


"iya, mas. dua porsi 30 ribu" jawab bang Mael lagi dengan sopan


Vino mengambil uang 50 ribu dan bang Mael mengambilnya kemudian memberi kembalian 20 ribu. Vino masih tidak percaya dia makan malam ini hanya mengeluarkan budget kurang dari 50 ribu itupun untuk dua orang.


Vino menghampiri Lantana yang sudah berdiri di samping mobilnya menunggu Vino. Vino membuka kunci mobil melalui remot kontrol dan membukakan pintunya untuk Lantana. Lantana pun masuk dan duduk dengan manis. Vino mengitari mobilnya dan masuk ke belakang stir. mobil Vino pun merangkak anggun lagi meninggalkan jejeran warung kaki lima dan membelah jalanan yang mulai lengang.


Lantana menunjukkan jalan dengan tenang sesekali menguap karena kekenyangan. setelah memasuki kompleks perumahan dan masuk ke beberapa kelokan, akhirnya mobil Vino berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan gaya modern dan sekelilingnya penuh dengan tanaman kecil dan ada pohon merambat yang menjadi tudung untuk taman di bawahnya.


Lantana membuka pintu mobil setelah bunyi kunci terbuka. dan menunduk kembali ke arah Vino seraya berterima kasih. Vano balas mengangguk dan menyuruh Lantana masuk ke rumahnya. setelah badan Lantana menghilang di balik pintu rumahnya dan kamar di lantai 2 lampunya menyala, Vino menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melajukan mobil itu dengan pelan.


Lantana masuk ke kamarnya, kemudian mandi dan berganti pakaian dengan piama dan beraiap tidur. tanpa Lantana ketahui bahwa pria yang barusan mengantanya pulang, kembali ke tempat nasi goreng untuk memesan satu porsi nasi goreng lagi untuk dibawa pulang.


***

__ADS_1


Happy Reading 😇😊


__ADS_2