SUN FLOWER

SUN FLOWER
HARUS PUASA


__ADS_3

HARUS PUASA


Ibu hamil biasanya suka merasakan malas yang berlebihan, dan juga akan merasakan morning sickness. Tetapi tidak semua hamil akan merasakan hal tersebut, ada yang merasakan ada yang tidak. Morning sickness adalah musuh utama para ibu hamil. Seperti halnya dengan Kalista, pagi-pagi buta Kalista terbangun dan langsung muntah-muntah, perutnya terasa mual, kepalanya pusing. Semua isi perut itu sudah di keluarkan, bahkan Kalista merasa perutnya kosong. Kalista pun terbaring lemah di ranjang, selimut tebal menyelimuti tubuhnya. Arka merasa panik dan tak tega melihat keadaan istrinya, bahkan sampai meneteskan air mata karena sedih.


Oma dengan setianya menemani Kalista sambil memijat keningnya. Karena kasihan sama menantunya, pak Anggara pun memanggil dokter ke rumah. Namun pak Anggara lupa tidak menyebutkan bahwa menantunya sedang mengandung, jadi yang datang bukan dokter kandungan melainkan dokter umum. Arka tidak mengizinkan dokter umum untuk memberikan obat apapun, karena takut membahayakan janin di kandungan istrinya. Akhirnya dokter itu hanya memberikan sebuah obat yang membuat Kalista tidak merasa mual dalam sementara waktu. Tenang saja obat itu aman kok untuk bumil dan janinnya.


Kalista mengerjapkan matanya, jarum jam menunjukan angka 09:00 WIB. "Pasti suamiku sudah berangkat ke kantor." Gumam Kalista seraya menyibakkan selimutnya.


Beberapa orang art sedang sibuk menata makanan diatas meja makan.


"Diam dulu disana!" Arka yang sedang duduk di meja makan pun langsung berlari menaiki tangga. Kalista dengan patuhnya diam tepat diatas tangga.


"Ada apa?" Pak Anggara berlari tergopoh-gopoh dari arah ruang tamu.


"Kamu kan sedang hamil, harus hati-hati ya, setiap turun dan naik tangga harus ada yang menemani, aku takut kamu jatuh atau terpeleset." Arka menuntun Kalista, berjalan menuruni tangga sangat hati-hati.


Kalista menurut dan tidak banyak protes. Manik mata Kalista menangkap beberapa wajah baru di rumah ini. "Ini adalah para art baru, mereka semua akan mengurus rumah ini dan akan membantu kamu dalam segala hal." Arka seperti mengetahui pikiran Kalista, kemudian Kalista berbisik di telinga Arka.


"Udah bangun sayang?" Oma menarik kursi agar Kalista duduk. Kalista hanya tersenyum saja dan langsung duduk.


Semua orang baru yang Arka bilang art itu sedang berkumpul di dekat meja makan. Jumlahnya kurang lebih ada 10 orang. "Ini cucu menantu saya, dia sedang hamil muda, usia kandungannya baru berusia 6 minggu. Saya minta bantuan kalian semua untuk menjaga dan mengurus segala keperluan yang di butuhkan oleh Cucu menantu kesayangan saya, saya harap kalian lebih berhati-hati dalam bekerja jangan sampai ada sesuatu hal yang membahayakan cucu menantu saya dan janinnya." Pinta Oma.


"Mengerti bu." Jawab semua art.


Setelah itu Oma kembali duduk di kursinya, dan para art pun segera kembali ke dapur. Kembali kepada rutinitasnya lagi.


Arka, Oma, dan pak Anggara sudah mengisi piring mereka dengan makanan yang tersedia diatas meja.


"Mau makan apa? Aku ambilin." Arka mengambil piring istrinya, namun Kalista hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalian makan duluan saja." Kata Kalista dengan senyum menghiasi pipinya.


"Ohiya lupa, salad buah." Arka mengambil ponsel dan langsung memesan gofood salad buah.


"Aku mau pentol bakar pakai saus dan mayones yang banyak." Ucap Kalista, Arka akan pesan gofood lagi.... "Tapi aku maunya suami aku yang buat." Kalista memandang ke arah Arka dengan tatapan memohon.


"Baiklah, demi istri dan anakku." Arka berjalan ke dapur. Ada beberapa art yang membantunya.


Setelah 15 menit berlalu, akhirnya pentol bakar pesanan Kalista pun sudah matang, dan salad buah pun sudah ada di meja makan.


"Pentol bakar telah siap untuk disantap wahai istri kesayanganku." Arka membawa sepiring pentol bakar, dan meletakkannya di hadapan Kalista.


"Lho kalian belum makan?" Tanya Arka yang melihat piring Oma dan pak Anggara masih terisi penuh dengan makanan.


"Mau makan bareng-bareng katanya." Ucap Kalista.


"Eh kalian nggak makan nasi?" Ujar Kalista yang mulutnya penuh sedang mengunyah sosis bakar.


"Nggak, kan istriku mual kalau mencium aroma nasi, jadi... Kita semua sepakat untuk tidak mengkonsumsi nasi sampai masa mualmu selesai." Ucap Arka sambil membelai pelan kepala istrinya.


"Kita makan kentang rebus sebagi ganti nasi, sama-sama kenyang kok." Ujar pak Anggara.


"Maafin aku." Raut wajah Kalista berubah sendu.


"Nggak usah minta maaf sayang, ini semua keinginan kami. Jangan merasa bersalah ya! Kami semua ingin yang terbaik untuk wanita kesayangan Arka." Ucap Oma dengan wajah berbinar.


Kalista tersenyum, akhirnya Kalista mempunyai keluarga yang sangat menyayangi dirinya. Dulu selalu berpikir bahwa Allah begitu tidak adil menciptakan takdir untuknya, tetapi setelah menikah dengan Arka, Kalista sangat-sangat merasa beruntung, rasa syukur selalu ia panjatkan pada yang maha kuasa.


Arka hari ini mengambil cuti, karena istrinya akan periksa kandungan trimester awal. Ia ingin selalu mendampingi Kalista selama hidupnya, terutama pada saat-saat seperti ini.


Arka (POV)

__ADS_1


Gue sedang duduk di kursi dekat meja makan. Para art sedang sibuk menyiapkan makanan. Saat gue sedang sibuk menatap layar ponsel, tiba-tiba gue melihat istri gue baru bangun tidur dan akan menuruni tangga.


"Diam dulu disana!" Gue langsung berlari menghampirinya, semenjak gue tau istri gue hamil, gue selalu insecure, bawaan selalu takut! Takut akan keselamatan istri gue.


Istri gue tidak mengatakan apapun, dia menurut dengan perintah gue. Tapi gue tahu dia bingung dengan segala perlakuan gue. Ketika menuruni tangga, istri gue menatap tajam pada orang-orang baru yang sedang berkeliaran di sekitaran meja makan. "Ini adalah para art baru, mereka semua akan mengurus rumah ini dan akan membantu kamu dalam segala hal." Dia berbisik di telinga gue. "Terlalu lebay nggak sih?" Oke, mungkin menurutnya ini agak sedikit lebay, tapi ketahuilah sayangku bahwa semua ini kami(Arka, Oma, dan pak Anggara) lakukan untuk menjaga keselamatan kamu dan calon anak kita.


Satu hal yang harus gue catat dan tidak boleh lupa, istri gue selama hamil makannya salad buah!


"Aku mau pentol bakar pakai saus dan mayones yang banyak." Ucapnya! gue sebagai suami yang pengertian langsung mengambil ponsel dan akan memesan gofood sosis bakar. "Tapi aku maunya suami aku yang buat." Istri gue menatap gue dengan tatapan memohon. Sebenarnya gue udah sangat lapar, tetapi lihat tatapan memohon dari istri gue, ya langsung saja gue buatkan sosis bakar spesial untuk bumil, lagian gue juga nggak mau kalau sampai nanti anak gue ngeces.


Untungnya di kulkas ada pentol, coba kalau nggak ada? Mungkin gue harus pergi dulu ke supermarket. Tapi kalau istri gue maunya pentol yang ada di pasar? Berarti gue harus ke pasar? Ribet juga ya.


Cuma pentol bakar saus mayones aja istri gue makannya lahap banget. Ternyata bahagia itu sederhana ya, lihat istri tersenyum dan makan dengan lahap apa yang gue masak, itu saja sudah membuat hati gue tenang. Alhamdulilah akhirnya perutnya terisi juga, setelah tadi pagi muntah-muntah dan mengeluarkan semua isi perutnya. Jujur aja tadi pagi gue merasa tersiksa melihat istri gue dengan keadaan lemah, hamil itu selain membuat perut buncit, tetapi lumayan membuat istri gue menderita. Tapi dengan senyum manisnya dia selalu mengatakan "Aku baik-baik saja, nggak usah khawatir."


*****


"Periksa kandungan harus secantik itu kah?" Arka masuk ke kamar, dilihatnya Kalista sedang duduk di depan meja rias. Bersolek dan mempercantik dirinya.


"Harus dong! Siapa tahu nanti ketemu dokter ganteng." Celetuk Kalista.


"Hey ingat ya kamu itu bumil, dan sedang mengandung anakku." Arka berisik di belakang Kalista, dan memperhatikannya dari pantulan cermin.


"Iya tahu kok, aku nggak pernah lupa dengan statusku sebagai nyonya Arka." Kalista mengedipkan sebelah matanya. "Yuk berangkat sekarang." Kalista Menggandeng tangan Arka.


Ketika menuruni tangga, seperti biasa Arka akan menggandeng tangan Kalista dengan erat, dan sangat hati-hati.


"Duh cantiknya bumil, jalan pelan-pelan sayang." Ucap Oma.


"Tenang aja Oma, ada Arka semuanya akan aman." Arka menyombongkan dirinya.


Oma dan pak Anggara mengantarkan Arka dan Kalista ke depan rumah.


"Pak Jaka nyetirnya jangan ngebut, jangan ngelamun, jangan sampai ngantuk, pokonya harus hati-hati, cucu dan menantu saya harus selamat." Cecar Oma dengan tegas.


Mobil melaju dengan kecepatan rendah sesuai dengan permintaan Kalista. Dari kediaman Anggara menuju RS memang memakan waktu cukup lama.


"Ayo turun sayang." Arka menuntun Kalista, pak Jaka segera melajukan mobilnya menuju parkiran.


Arka dan Kalista masuk ke rs, ke resepsionis terlebih dahulu, setelah mendapat nomor antrian kemudian mereka berdua duduk di ruang tunggu. Hari ini yang periksa kandungan cukup banyak, sehingga mereka harus mengantri.


"Kamu pegal nggak? Nih duduknya gantian." Ucap Kalista sambil memandang Arka. Karena banyak sekali yang akan periksa kandungan sehingga Arka tidak kebagian kursi di ruang tunggu.


Arka berjongkok di hadapan Kalista, dan menatap Kalista secara intens. "Aku pegal sih, tapi kamu adalah yang terpenting! Kaki aku masih kuat sayang."


"Kasian boss besar nggak kebagian kursi." Kalista mencibir dan mengejek Arka.


Kalista menunggu antrian sambil makan salad buah, tadi pagi Arka gofood salad buah banyak, dan untungnya Arka inisiatif membawa salad buah itu, jaga-jaga kalau Kalista lapar. Dan ternyata benar, karena lama mengantri Kalista menjadi lapar.


"Calon mama tapi makannya masih berantakan." Arka mengusap sisa-sisa makanan di sudut bibir Kalista.


"Masih lapar?" Tanya Arka.


"Udah kenyang."


Ibu Kalista pasien nomor 48..


Kalista dan Arka langsung bangkit ketika mendengar panggilan itu, ya Kalista mendapat nomor antrian 48. Kalista masuk di temani Arka. Ternyata dokter yang bertugas hari ini adalah dokter laki-laki.


Dokter itu sama sekali tidak berkedip menatap Kalista, Kalista heran dan seperti mengenalinya, tapi dimana? Siapa?


"Saya mau istri saya di periksa oleh dokter perempuan! Terutama dokter Fani." Tegas Arka dengan sangat tegas.

__ADS_1


"Udah nikah?" Dokter dengan name tage Reyhan itu malah bertanya pada Kalista, dan sama sekali tidak mengindahkan protesan Arka.


"Kalau belum nikah ngapain kesini? Duh pinter dikit lah." Ketus Arka. Kalista langsung menggenggam erat jemari Arka. "Nggak boleh gitu, nggak sopan tahu!" Kata Kalista.


"Ternyata sudah nikah, padahal pas masih SMA aku tuh naksir loh sama Tata." Dokter itu tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. Arka sudah menunjukan wajah emosinya.


Tata adalah panggilan Kalista sewaktu masih duduk di bangku SMA.


"Eh kenal aku kah?" Tanya Kalista bingung.


"Reyhan Kaka kelasmu yang pernah menjabat jadi ketua OSIS, nggak mungkin lupa kan? Hits banget loh aku." Katanya dengan senyum menggoda khas miliknya.


"Oh Kaka yang itu." Ujar Kalista sambil tersenyum, padahal Kalista masih mengingatnya. Spontan Arka menekan tombol darurat, dirinya merasa kesal terhadap perlakuan dokter itu pada Kalista.


Tidak lama kemudian pintu terbuka, munculah sesosok dokter Fani dengan nafas yang memburu, sangat ngos-ngosan. "Mana pasien darurat?" Ucapnya, keringat dingin membasahi dahinya. Dokter Reyhan memandang Arka sekilas, kemudian tersenyum mengejek.


"Dokter Fani, periksa kandungan istri saya." Tegas Arka.


"Okey, dokter Rey jadwalmu habis, sekarang giliran tugasku. Mana pasien gawat darurat coba? Hadeuh kalian tuh bikin gue sport jantung aja!" Dokter Fani mengusap dadanya.


"Ibu Kalista silahkan angkat baju anda." Kalista menyingkap bajunya, dokter Fani mengoleskan krim dingin di perutnya, kemudian menempelkan sebuah alat. Terlihatlah janin yang masih menggumpal itu di layar monitor. Arka merasa sangat bahagia.


"Janinnya sehat." Ucap dokter Fani.


"Jenis kelaminnya apa?" Tanya Arka penasaran.


"Itu akan kelihatan jika usia kandungannya sekitar 4 bulan ke atas."


"Perkembangan janinnya bagus, denyut jantungnya pun bagus." Imbuhnya lagi.


"Semuanya bagus dan terlihat normal, tekanan darah mu juga sudah di periksa. Nutrisi yang harus di penuhi di trimester 1 ini adalah, asam folat, kalsium, Vitamin D, Vitamin C, Omega 3, protein, dan zat besi." Arka dan Kalista hanya menganggukkan kepala saja, tanda mengerti.


"Vitamin hamilnya jangan lupa di minum, banyak berolahraga juga biar bumil dan janinnya sehat. Dan.. ingat ya jauh-jauh dari alkohol dan asap rokok!"


"Dan selama usia kandungannya belum lewat dari 5 bulan, kalian tidak boleh melakukan aktivitas suami istri di ranjang." Ucap dokter Rian yang tiba-tiba masuk.


"Kenapa?" Tanya Arka yang tidak bisa menerima pernyataan itu.


"Karena usia kandungannya masih muda, please deh lu jangan siksa istri lu." Ketus dokter Rey, yang ternyata masih ada di ruangan itu.


"Ngapain lu masih berdiri di situ? Keluar sana!" Arka menatap bengis dokter Rey, Arka kira dokter Rey sudah keluar, di pikiran Arka berarti dokter Rey dari tadi melihat perut Kalista ketika sedang di periksa.


"Dokter Fani itu beneran?" Tanya Arka, berharap dokter Fani memberikan jawaban yang berbeda.


Dokter Rian dan dokter Rey memberikan kedipan mata pada dokter Fani, sehingga dokter Fani pun mengatakan. "Iya, di tahan dulu ya." Jawab dokter Fani, sebenarnya dokter Fani tidak kuat ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Arka.


"Udah nggak apa-apa kali!" Ucap Kalista sambil mengusap pipi Arka.


"Nggak apa-apa gimana? 5 bulan loh sayang! Aku harus puasa selama 5 bulan? Mana tahan! Lihat kamu tidurnya semenggoda itu aja aku langsung mau..."


"Berisik." Kalista menempelkan telunjuknya di bibir Arka.


"Kemarin Kalista mengeluh sakit pay*dara, ini normal sih untuk ibu hamil. Nah berarti Arka nggak boleh sentuh pay*dara Kalista ya." Dokter Fani semakin ingin mengerjai Arka.


Arka keluar dari ruangan dokter Fani dengan wajah kesal. Bahkan Kalista tidak di gandengnya. sedangkan di dalam ruangan itu, dokter Fani, dokter Rian, dan dokter Rey sedang tertawa terbahak-bahak, mereka mentertawakan Arka.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2