
Tok tok tok..
Bunyi pintu diketuk dari luar. Vino memerintakhannys masuk. Seorang lelaki paruh baya dengan rambut yang sempurna memutih namun wajahnya masih terlihat muda muncul dari balik pintu. Ia segera membungkuk dihadapan Vino
"Tuan Mancess.. Apa yang akan kau lakukan dengan demonstran di bawah?" ucap Vino
"Saya sudah memerintahkan staff saya untuk menenangkan massa. Sayangnya wartawan sudah ada yang berkumpul dan banyak peserta demonstrasi yang bukan mantan buruh perusahaan kita menambah ricuh suasana.." jelas tuan Mancess
"Bawa perjanjian kontrak dari departemen SDM, bacakan di depan massa dan media.. Katakan juga, perusahaan ini tidak butuh karyawan yang tidak setia.." Vino memberi arahan. "Oh iya.. Jangan katakan bahwa yang memimpin perusahaan ini saat ini adalah saya, mengerti?" ucap Vino
Tuan mancess mengangguk faham dan bergegas keluar demi menunaikan perintah Vino.
Aksi demonstrasi terus berjalan hingga seorang manager humas meminta pimpinan demontran maju dan mengajukan kelesalan dengan merincikan kesalahan perusahaan. Namun semua tuntutannya ditolak, bahkan dipatahkan oleh pihak perusahaan.
Mereka mogok kerja karena uoah yang tidak dibayar. Tapi kini mereka berujuk rasa setelah menerima surat pemutusan kontrak. Tim humas tidak mengatakan bahwa mereka punya pemimpin baru, namun mereka terus mengutarakan kemungkinan terburuk dari masa depan perusahaan.
Pemilik perusahaan tengah koma, wakil ceo melarikan diri, dan penerus lain tengah dipenjara. Sedanh investor telah melarikan diri bersama saham mereka. Akhirnya para denomstran beranggapan bahwa diputusnya kontrak mereka karena perusahaan akan segera gulung tikar.
Berita menyebar ke seluruh penjuru negeri. Tak terkecuali ke dalam penjara dan rumah sakit. Semua saluran televisi menyiarkan berita ini dan membuat spekulasi tak pasti. Mereka juga menanyakan keberadaan dan tanggung jawab Alex dalam kasus ini. Bahkan beberapa menambahkan isu yang membuat berita semakin panas.
Walt hanya tersenyum ketir mendengar berita itu. Dia sangat menyayangkan kakaknya yang melarikan diri tak bertanggung jawab. Padahal selama ini mereka selalu berperang memperebutkan jabatan di perusahaan itu. Walt sempat teringat dengan Vino. Namun harapannya mungkin tidak ada padanya. Mengingat dia tidak pernah memberi kabar kepada keluarga semejak kepergiannya ke katulistiwa. Belum lagi peristiwa Ross membuatnya depresi, ditambah mamanya yang bersikeras menjodohkannya dengan Aurelly di saat Vino patah hati membuat bocah itu pergi bahkan mengganti kewarganegaraan.
Walt terkekeh, menyimpulkan kemungkinan ia akan berakhir dipenjara seumur hidup. Bahkan jika dia keluarpun, dia hanya akan jadi gelandangan. Walt mengepalkan tangannya kuat dan merutuki nasibnya sendiri. Ia juga menyesali perbuatannya yang tidak berguna, telah tergoda skandal seorang model. Padahal ia tau bahwa model itu hanya ingin meningkatkan popularitasnya dengan menyebabkan skandal. Sialnya Walt menjadi korban keegoisan model itu.
__ADS_1
Begitu pula di rumah sakit. Rachel, mama Vino hanya bisa menangis sesegukkan di depan televisi. Ia tidakenyangka bahwa kehidupannya bisa sampai seperti ini. Ia juga kecewa kepada Vino yang tidak menepati janjinya. Bahkan sampai sekarang ia belum melihat kehadiran Vino di Amerika. Tubuh Rachel semakin kurus, ia bahkan tidak berani ke perusahaan. Karena terakhir kali ia ke sana, ia diserang dengan tumpukkan dokumen dan ocehan para direksi yang meminta solusi.
Mungkin sebentar lagi tiba saatnya dia harus menjual perusahaannya kepada orang lain, dan menerima kenyataan kalau dia akan jatuh miskin. Rachel berjalan ke arah jendela, dan melihat penampakan kota new york yang ramai. "Kelak tidak akan ada lagi yang mengenal Rachel Stevenson" gumamnya
*
Setelah demonstran bubar, keadaan area perusahaan menjadi tenang. Para pekerja menjadi jauh lebih baik dan kembali ke aktifitas mereka. Bagaimanapun saat ini mereka tengah sibuk mengertakan projek mereka, jadi tidak ada kesempatan mereka untuk pusing mengurusi urusan luar.
Hari menjalar semakin sore. Karyawan yang masih bertahan Vino biarkan pulang lebih awal karena perencanaan tender mereka sudah hampir selesai, tinggal besok diselesaikan oleh karyawan Vino dari indonesia.
Meski halamam sudah sepi dari massa. Ternyata masih ada beberapa wartawan yang mengumpulkan informasi di sana. Tak lama berita kembali mengabarkan bahwa karyawan Stevenson Company tinggal sedikit tersisa dan pulang lebih awal. Kemungkinan kebangkrutan tidak lagi bisa dihindarkan.
Para pekerja yang membaca atau mendengar berita itu hanya tertawa. Karena dunia luar benar-benar tidak tau apa yang terjadi. Mereka juga tidak sabar mengejutkan dunia dengan terobosan baru mereka. Yang paling penting, bos mereka jauh lebih hebat dan penuh kejutan.
"Ide bagus.. Tapi kita tidak boleh mabuk malam ini.. Besok bantuan tuan muda akan datang, dan kita tidak boleh tidak produktif" jawab yang lain
"Benar, rasanya aku iri pada pekerja dari negaranya.. Memiliki bos setangguh itu, pasti perusahaannya sangat kuat. Tak tanggung-tanggung.. Tuan muda juga menyuntikan dana yang sangat besar, kedepannya dia bisa benar-benar jadi bos besar kita" sanjung yang lain
Para karyawan itu pergi ke restiran untuk merayakan kerja mereka.
"Aku akan berkerja jauh lebih keras lagi demi tuan muda.."
"Aku juga.. Dia seperti godfather yang menyelamatkan hidup kita.."
__ADS_1
"Hidup tuan muda.."
*
Vino menyelesaikan pekerjaannya dan pergi makan malam di restoran terdekat. Meski wartawan banyak yang melihatnya keluar dari perusahaan, tapi mereka tidak terlalu memperhatikan. Mereka tidak kenal dengan Vino, jadi mereka menganggap Vino adalah salah satu karyawan juga. Vino kembali ke perusahaan saat wartawan sudah pergi, karena mereka mengira sudah tidak akan ada orang lagi di malam hari.
Vino duduk di kursinya. Vino melakukan panggilan pada bunda Lantana, setelah sebelumnya mengirimkan pesan menanyakan bunda ada waktu atau enggak. ia melepas jasnya agar terlihat tidak terlalu formal. Rambutnya sedikit dia kacaukan dan wajahnya tersenyum menatap layar ponselnya. Saat ini di Indonesia masih pagi, itulah kenapa Vino memutuskan untuk melakukan panggilan di jam segini.
"Selamat pagi, Bunda!" sapa Vino dengan suara lelah
"Pagi, Nak Vino.." bunda tersenyum di dalam layar
"Bagaimana kabar di sana, bun?" Vino dengan suara yang lemah lembut
"Kabar ayah dan bunda baik, Lantana juga semalam sudahenggerakan jari-jarinya.. Dokter bilang lantana sudah bangun, namun dia belum berani membuka matanya.." jelas Bunda dengan wajah bersemangat
"Syukurlah.. Jadi, apa dia bisa mendengarkan percakapan kita?" ucap Vino
"Sayangnya tidak.. Ana baru saja tertidur satu jam lalu.." jawab Bunda merasa bersalah
"Yaaahh... Saya telat dong.. Padahal saya sudah kangeeeennn banget sama dia.. Kapanlah putri bunda itu akan bangun.. Saya ingin membawa Ana ke sini.. Biar menemani saya.." ucap Vino manja
Pada saat ini Mike masuk dan akan melaporkan sesuatu. Melihat tingkah manja tuan mudanya ke layar telpon, Mike menganga hampirerasa dikhianati oleh penglihatannya. Tuan muda yang dingin dan arogan terlihat sangat rapuh dan manja di depan layar ponselnya. Mike menebak-nebak siapa yang ada di sebrang panggilan. Biar begitu, Mike tersenyum dan tidak berani mengganggu tuannya.
__ADS_1